Anda di halaman 1dari 26

Tata Cara Shalat Sunnat Dhuha Beserta Keutamaan

Tata Cara Shalat Sunnat Dhuha Beserta Keutamaan Assalamualaikum, pada kesempatan kali ini saya akan membagikan
postingan/artikel yang berkaitan dengan Shalat Sunnat Dhuha. Mari
kita belajar bersama untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW
untuk meraih ridho Allah SWT.

Keutamaan :
Barang siapa shalat Duha 12 rakaat, Allah akan membuatkan
untuknya istana disurga (H.R. Tirmiji dan Abu Majah)
"Siapapun yang melaksanakan salat duha dengan langgeng, akan
diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di
lautan." (H.R Tirmidzi)
"Rasulullah bersabda di dalam Hadis Qudsi, Allah SWT berfirman,
Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan
empat rakaat salat duha, karena dengan salat tersebut, Aku cukupkan
kebutuhanmu pada sore harinya. (HR Hakim & Thabrani)
"Barangsiapa yang masih berdiam diri di masjid atau tempat salatnya
setelah salat shubuh karena melakukan iktikaf, berzikir, dan
melakukan dua rakaat salat dhuha disertai tidak berkata sesuatu
kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun
banyaknya melebihi buih di lautan. (HR Abu Daud)
"Dari Abi Zar r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda, Setiap pagi ada
kewajiban untuk bersedekah untuk tiap-tiap persendian (ruas). Tiaptiap tasbih adalah sedekah, riap-tiap tahlil adalah sedekah, tiap-tiap
takbir adalah sedekah, dan menganjurkan kebaikan serta mencegah

kemungkaran itu sedekah. Cukuplah menggantikan semua itu dengan


dua raka'at salat Dhuha. (HR Muslim)
Shalat Dhuha lebih dikenal dengan shalat sunah untuk memohon rizki
dari Allah, berdasarkan hadits Nabi : Allah berfirman : Wahai anak
Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat
pada waktu permulaan siang ( Shalat Dhuha ) niscaya pasti akan Aku
cukupkan kebutuhanmu pada akhir harinya (HR.Hakim dan
Thabrani).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Shalat Dhuha itu
dapat mendatangkan rejeki dan menolak kefakiran. Dan tidak ada
yang akan memelihara shalat Dhuha melainkan orang-orang yang
bertaubat. (HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan)
Beliau berwasiat kepadaku tentang 3 hal, yang sejak itu aku tidak
pernah meninggalkannya :
Pertama - Hendaknya aku tidak tidur sebelum mengerjakan SHALAT
WITIR
Kedua - Hendaknya aku tidak meninggalkan dua rakaat SHALAT
DHUHA (karena shalat DHUHA adalah shalatnya awwabin-orang
yg bertobat kepada ALLAH SWT serta meninggalkan maksiat)
Ketiga - Hendaknya aku BERPUASA 3 HARI setiap bulan - (HR.
Tirmidzi dan Nasai)
Siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 2 rakaat dia tidak akan
dicatat dalam kelompok orang-orang yang Lupa.
Siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 4 rakaat dia dicatat dalam
kelompok orang-orang yang Ahli Ibadah.
Siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 6 rakaat pada hari itu segala
kebutuhannya Dicukupi oleh Allah SWT.
Siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 8 rakaat maka Allah SWT
mencatatnya termasuk golongan yang TUNDUK dan menghabiskan
waktunya untuk Beribadah, Dan
siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 12 rakaat maka Allah SWT
membangunkan baginya sebuah istana indah dalam Surga. Tidak ada
dalam sehari-semalam kecuali Allah SWT pasti memberikan anugrah
serta sedekah kepada hambaNYA. (HR. Thabrani dan Abu Daud).

Manfaat :
Manfaat atau faedah salat duha yang dapat diperoleh dan dirasakan
oleh orang yang melaksanakan salat duha adalah dapat melapangkan
dada dalam segala hal terutama dalam hal rizki, sebab banyak orang
yang terlibat dalam hal ini.
Dr. Ebrahim Kazim -seorang dokter, peneliti, serta direktur dari
Trinidad Islamic Academy-menyatakan bahwa gerakan teratur dari
shalat menguatkan otot berserta tendonnya, sendi serta berefek luar
biasa terhadap sistem kardiovaskular.
Terlebih lagi shalat Dhuha tidak hanya berguna untuk mempersiapkan
diri menghadapi hari dengan rangkaian gerakan teraturnya, tapi juga
menangkal stress yang mungkin timbul dalam kegiatan sehari-hari,
sesuai dengan keterangan dr. Ebrahim Kazim tentang shalat, "Ada
ketegangan yang lenyap karena tubuh secara fisiologis mengelurakan
zat-zat seperti enkefalin dan endorfin. Zat ini sejenis morfin,
termasuk opiat. Efek keduanya juga tidak berbeda dengan opiate
lainnya. Bedanya, zat ini alami, diproduksi sendiri oleh tubuh,
sehingga lebih bermanfaat dan
terkontrol."[http://id.wikipedia.org/wiki/Salat_Duha]
Waktu Dan Raka'at :
Dari Zaid bin Arqam ra. Berkata, "Nabi SAW keluar ke penduduk
Quba dan mereka sedang salat dhuha. Ia bersabda,?Salat awwabin
(duha) berakhir hingga panas menyengat (tengah hari). (HR Ahmad
Muslim dan Tirmidzi)

Dari Ummu Hani bahwa Rasulullah SAW salat dhuha 8 rakaat dan
bersalam tiap dua rakaat. (HR Abu Daud)
Rasulullah bersabda di dalam Hadis Qudsi, Allah SWT berfirman,
"Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan
empat rakaat salat duha, karena dengan salat tersebut, Aku cukupkan
kebutuhanmu pada sore harinya." (HR Hakim & Thabrani)
Wahai anak Adam, cukupilah aku dengan melakukan empat rakaat
shalat dhuha pada pagi hari, maka aku akan mencukupi kebutuhanmu
pada akhir hayatmu" (HR Ahmad & Abu Yala).
Siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 2 rakaat dia tidak akan
dicatat dalam kelompok orang-orang yang Lupa.
Siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 4 rakaat dia dicatat dalam
kelompok orang-orang yang Ahli Ibadah.
Siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 6 rakaat pada hari itu segala
kebutuhannya Dicukupi oleh Allah SWT.
Siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 8 rakaat maka Allah SWT
mencatatnya termasuk golongan yang TUNDUK dan menghabiskan
waktunya untuk Beribadah, Dan
siapa yang mengerjakan shalat Dhuha 12 rakaat maka Allah SWT
membangunkan baginya sebuah istana indah dalam Surga. Tidak ada
dalam sehari-semalam kecuali Allah SWT pasti memberikan anugrah
serta sedekah kepada hambaNYA. (HR. Thabrani dan Abu Daud).
Dari Hadist-hadist diatas dapat disimpulkan Jumlah rakaat salat dhuha
minimal 2 rakaat dan maksimal 12 rakaat. Dan dilakukan dalam
satuan 2 rakaat sekali salam.
Tata Cara :
1. Niat

Ushalli sunnatadh-dhuhaa rak'ataini lillaahi ta'aalaa. Allaahu Akbar.


(Niat Pekerjaan Hati)
2. Raka'at Pertama membaca surah Al-Fatihah dan sesudahnya
Membaca Surah Lainnya yang sudah dihapal

3. Raka'at Kedua Sama halnya dengan Raka'at Pertama Membaca AlFatihah dan surah lainnya yang sudah di hapal.
4. Salam
NOTE : mengenai adanya bacaan" surah tertentu yang diwajibkan
dalam shalat dhuha, saya tidak mengutipnya karena hadist tentang itu
di anggap lemah. Wallahu A'lam.
Silahkan baca artikelnya disini :
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3032-apakah-ada-bacaansurat-tertentu-dalam-shalat-dhuha.html
http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalatdhuha/

Do'a
Tidak diwajibkan membaca doa tertentu.


.


ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL
BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL
QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA,
WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI
FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FAAKHRIJHU, WA INKAANA MUASARAN FAYASSIRHU,
WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA
BAIDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA
BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA
QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA IBADIKASH SHALIHIN.
Artinya: Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu
dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah
keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah
penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit

maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah,


apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh
dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai
Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada
hamba-hambaMu yang soleh.

#################################
######################

Solat Sunat Rawatib - Fadilat Dan Tatacara

Assalammu'alaikum kepada pembaca yang dirahmati Allah,


Perkataan Rawatib berasal daripada perkataan raatib yang
bermaksud berterusan. Oleh kerana itu Solat Sunat Rawatib dilakukan
beriringan secara berterusan sebelum dan selepas solat fardhu lima
waktu.

Solat Sunat Rawatib biasa juga disebut solat sunat Qabliyyah


(sebelum) dan sunat Badiyyah (selepas). Ia merupakan pendamping
atau pelengkap bagi solat wajib yang bertujuannya untuk mencari
keredaan Allah di samping menampung sebarang kekurangan ketika
melakukan solat fardhu.
Selepas azan Zuhur dianjur mengerjakan solat Qabliyyah dua rakaat.
Apabila cukup waktu kerjakanlah dua rakaat lagi. Setelah selesai solat
fardhu Zuhur, kerjakanlah solat Badiyyah dua rakaat pula, bila ada
masa tambahkanlah dua rakaat lagi.
Solat Rawatib ialah solat yang mengiringi solat-solat fardhu sama ada
sebelum atau selepas solat fardhu. Solat sunat Rawatib ini terbahagi
kepada dua bahagian:
Sunat Rawatib yang Muakkad
Sunat Rawatib yang Ghaira Muakkad.
Disamping itu Sunat Rawatib juga terbahagi kepada 2
kategori :
Qabliah (sebelum Solat Fardhu)
Badiah (selepas Solat Fardhu)
Sunat Rawatib yang Muakkad adalah 10 rakaat
seperti berikut :
1. 2 Rakaat sebelum Solat Subuh
2. 2 Rakaat sebelum Solat Zohor.
3. 2 Rakaat selepas Solat Zohor.
4. 2 Rakaat selepas Solat Maghrib.
5. 2 Rakaat selepas Isyak.

Sunat Rawatib yang Ghaira Muakkad pula adalah 12


rakaat seperti berikut :
1. 2 Rakaat sebelum Solat Zohor
2. 2 Rakaat selepas Solat Zohor.
3. 4 Rakaat sebelum Solat Asar.
4. 2 Rakaat sebelum Solat Maghrib.
5. 2 Rakaat sebelum Isyak.
DALIL TENTANG SUNAT MELAKUKAN SOLAT INI.
Sabda Rasulullah s.a.w :


( )
Maksudnya: Dari Abdullah bin Umar, katanya,
Saya mengingati (lafaz) dari Rasulullah s.a.w
dua rakaat sebelum Zohor, dua rakaat sesudah
Maghrib, dua rakaat sesudah Isyak, dan dua
rakaat sebelum Subuh. (Muttafaq alaih)
NIAT SOLAT RAWATIB
1. Sekiranya sebelum solat Fardhu di sebut:
2. Sekiranya selepas solat Fardhu di sebut:
Oleh yang
berikut :

demikian

niatnya

adalah

seperti


( /



/
/
)

/






)



(


/


Maksudnya : Sahaja aku menunaikan solat sunat
(Zohor / Asar / Isyak / Subuh) dua rakaat (Sebelum /
Selepas) kerana Allah Taala.

______________________________________
Pembahasan Solat Sunat Rawatib
Tanya:
Assalaamualaykum warohmatullahi wabarokatuh. Saya
baru belajar mendalami agama Allah yg sebenarnya, yg
mengikut al-Quran dan hadist dan sunnah para
sahabat dan imam. Ada yang ingin saya tanyakan?
Masalah solat sunat dalam menjalankan solat lima
waktu.
Ada yg boleh dikerjakan dan tidak. Maksudnya solat
sunat yang boleh dikerjakan waktu mengerjakan solat
wajib lima waktu: Yang mana boleh di kerjakan dan
mana yang tidak? Tolong diberi penjelasannya
Fauzan
Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Mungkin yang anda maksud adalah solat sunat rawatib
(yang berada sebelum dan setelah solat wajib). Ada
tiga hadits yang menjelaskan jumlah solat sunat
rawatib beserta letak-letaknya:
1. Dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu alaihi
wasallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda:











Tidaklah seorang muslim mendirikan solat sunat
ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat
selain solat fardhu, melainkan Allah akan
membangunkan baginya sebuah rumah di
surga. (HR. Muslim no. 728)
Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan
ke-12 rakaat tersebut. Beliau bersabda:

















Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan solat
sunat dua belas rakaat, maka Allah akan
membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu
empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat
setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua
rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum
subuh. (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no.
1772 dari Aisyah)
2. Dari Abdullah bin Umar radliallahu anhu dia
berkata:



Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu
alaihi wasallam berupa solat sunat sepuluh
rakaat yaitu; dua rakaat sebelum solat zuhur,
dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah
solat maghrib di rumah beliau, dua rakaat
sesudah solat isya di rumah beliau, dan dua
rakaat sebelum solat subuh. (HR. Al-Bukhari no.
937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)
Dalam sebuah riwayat keduanya, Dua rakaat
setelah
jumat.
Dalam riwayat Muslim, Adapun pada solat
maghrib, isya, dan jumat, maka Nabi r
mengerjakan solat sunatnya di rumah.
3. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda:








Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan
solat (sunat) empat rakaat sebelum Ashar. (HR. Abu Daud
no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430)
Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa solat sunat
rawatib adalah:
1- 2 rakaat sebelum subuh, dan sunnahnya dikerjakan
di rumah.
2- 2 rakaat sebelum zuhur, dan bisa juga 4 rakaat.
3- 2 rakaat setelah zuhur
4- 4 rakaat sebelum ashar
5- 2 rakaat setelah jumat.
6- 2 rakaat setelah maghrib, dan sunnahnya dikerjakan
di rumah.
7- 2 rakaat setelah isya, dan sunnahnya dikerjakan di
rumah.
Soal: Apakah hukum solat sunat setelah subuh,
sebelum jumat, setelah ashar, sebelum maghrib, dan
sebelum isya?
Jawab:
Adapun dua rakaat sebelum maghrib dan sebelum isya,
maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:
Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:













Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu
ada solat (sunat). Beliau mengulanginya hingga
tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau
bersabda,
Bagi
siapa
saja
yang
mau
mengerjakannya. (HR. Al-Bukhari no. 588 dan
Muslim no. 1384)
Adapun setelah subuh dan ashar, maka tidak ada solat
sunat rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk solat
sunat mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu
termasuk dari lima waktu terlarang.
Dari Ibnu Abbas dia berkata:











Orang-orang
yang
diridlai
mempersaksikan
kepadaku dan di antara mereka yang paling aku
ridhai
adalah
Umar,
(mereka
semua
mengatakan) bahwa Nabi shallallahu alaihi
wasallam melarang solat setelah Shubuh hingga
matahari terbit, dan setelah Ashar sampai
matahari terbenam. (HR. Al-Bukhari no. 547 dan
Muslim no. 1367)
Adapun solat sunat sebelum jumat, maka pendapat
yang rajih adalah tidak disunnahkan. Insya Allah
mengenai tidak disyariatkannya solat sunat sebelum
jumat akan datang pembahasannya tersendiri, wallahu
Taala alam.
__________________________
Sumber 1: http://al-atsariyyah.com/pembahasan-lengkap-shalatsunnah-rawatib.html
Sumber 2: http://www.e-mosque.com.my/ibadatsunat/srawatib.html
Sumber 3: http://shafiqolbu.wordpress.com/solat-sunat/solat-sunatrawatib
Anda mungkin juga meminati:
- See more at: http://waazin.blogspot.com/2013/02/solat-sunatrawatib-fadilat-dan-tatacara.html#sthash.EutXaqMp.dpuf

=================================
=====================

berikut ini adalah beberapa dalil hadits dan tatacara sholat qabliyah
dan ba'diyah maghrib dan isya', diantara shalat sunnah yang
dianjurkan (sunnah muakkadah) adalah dua rakaat sebelum shalat
magrib sebagai Sunnah Qabliyah dan dua rekaat setelahnya sebagai
Sunnah Badiyah. Begitu pula dengan shalat isya (dua rakaat
sebelumnya dan sesudahnya). Hal ini berdasar pada hadits riwayat
bukhari muslim
Bahwasannya Rasulullah saw shalat dua rakaat sebelum dan sesudah
dhuhur,dua rakaat sesudah magrib dan dua rakaat sesudah isya dan
dua rakaat setelah shalat jumah.
Adapun dua rakaat sebelum maghrib disunnahkan dengan dalil hadits
Rasulullah saw yang berbunyi:
"" " "
Shalatlah dua rakaat sebelum magrib demikian kata nabi hingga
tiga kali dan yang terakhir beliau tambahi bagi yang mau
Perkataan bagi yang mau adalah pertanda bahwa shalt itu tidaklah
wajib. Demikian pula untuk dalil dua rakaat sebelum isya. Qabliyah
magrib sebaiknya dilakukan dengan sesegera mungkin setelah adzan
berkumandang. Menimbang waktu shalat magrib sangatlah pendek.
Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda:


Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat
(sunnah). Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang
ketiga beliau bersabda, Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.
Dalam kitab nIhayatuz zain dijelaskan secara mendetail bacaan yang
disunnahkan untuk badiyah magrib. Yaitu pada rakaat pertama
setelah al-fatihah membaca surat al-Kafirun dan pada rakaat kedua al-

Ikhlash. Shalatlah dengan tenang dan agak lama sehingga para


jamaah yang lain telah bubar meninggalkan lokasi.
Adapun Niat Shalat Sunnah Qabliyah Maghrib


Usholli sunnatal maghribi rok'ataini qabliyyatan mustaqbilal qiblati
adaa-an lillaahi ta'aala.
Aku niat melakukan shalat sunat sebelum maghrib 2 rakaat, sambil
menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta'ala.
Niat Shalat Sunnah Badiyah Maghrib


Usholli sunnatal maghribi rok'ataini ba'diyyatan mustaqbilal qiblati
adaa-an lillaahi ta'aala.
Aku niat melakukan shalat sunat sesudah maghrib 2 rakaat, sambil
menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta'ala.
Niat Shalat Sunnah Qabliyah Isya


Usholli sunnatal 'isyaa-i rok'ataini qabliyyatan mustaqbilal qiblati
adaa-an lillaahi ta'aala.
Aku niat melakukan shalat sunat sebelum isya 2 rakaat, sambil
menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta'ala.
Niat Shalat Sunnah Badiyah Isya

Usholli sunnatal 'isyaa-i rok'ataini ba'diyyatan mustaqbilal qiblati


adaa-an lillaahi ta'aala.
Aku niat melakukan shalat sunat sesudah isya 2 rakaat, sambil
menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta'ala.
Demikian artikel tentang tatacara dan lafadz-lafadz niat dalam sholat
sunnah rawatib, semoga bermanfaat dan dapat diamalkan dengan
penuh keyakinan kepada Allah SWT

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
&&&

Banyak umat Islam yang ingin mengetahui tata cara, bacaan niat dan
doa sholat tarawih dan witir yang paling tepat. Seringkali, di lingkup

masyarakat tertentu, tata caranya berbeda dengan masyarakat yang


lain. Manakah yang benar? Manakah yang sesuai syariat? Apakah tata
cara, niat, atau doa yang selama ini kita tuturkan, ternyata salah?
Salat Tarawih
Salat Tarawih adalah salat malam yang dilakukan pada bulan
Ramadhan, yang pada bulan lain disebut salat tahajud. Hukumnya
sunnat muakkad, penting bagi muslim lelaki dan perempuan. Salat
tarawih ini dapat dilakukan sendiri, dapat pula berjamaah. Secara
umum, kita melakukannnya bada salat isya. Dalam ketentuan, salat
tarawih dapat dilakukan dalam rentang waktu sesudah isya hingga
terbit fajar (atau waktu subuh).
Jumlah Rakaat
Dalam praktik sehari-hari, kita kadang melihat ada jamaah yang salat
tarawih 20 rakaat, ada pula yang hanya 8 rakaat. Mana yang benar?
Tidak ada keterangan pasti tentang jumlah rakaat ini. Semua
dikembalikan pada keyakinan masing-masing. Tidak ada yang lebih
utama, antara yang 8 atau yang 20. Karena, yang dinilai Allah adalah
kekhusyukan kita dalam salat, bukan jumlah salat kita.
Mengenai berapa rakaat yang dilakukan dalam setiap salam, kita juga
sering melihat perbedaan. Ada yang dua rakaat salam, ada pula yang
empat rakaat salam. Kedua-keduanya diperkenankan. Namun, yang
lebih utama adalah yang dua rakaat salam, sesuai sabda Rasulullah
saw., salat malam adalah dua rakaat-dua rakaat (H.R. Bukhari dan
Muslim).
Niat Salat Tarawih
Niat salat tarawih cukup diucapkan di dalam hati saja. Tidak ada
anjuran untuk melafalkannya, apalagi bila pelafalan tersebut

mengganggu jamaah lain. Ingatlah, yang paling utama adalah niat


tulus beribadah karena Allah.
Adapun niat salat tarawih dua rakat adalah sebagai berikut:
Ushalli sunnatat taraawiihi rakataini
(mamuman/imaaman) lillahi taaalaaArtinya: Aku niat shalat Tarawih dua rakaat (menjadi mamum/imam)
karena Allah Taala.
Doa Salat Tarawih
Dzikir berjamaah di antara jeda salat tarawih, tidak ada tuntunannya
dari Rasulullah saw. Yang tepat, dzikir tersebut dilakukan
perseorangan, tanpa perlu ada yang memimpin. Mengenai doa setelah
tarawih atau di sela-sela tarawih, tidak ada tuntunan dari Rasulullah
tentang doa tersebut.
Salat Witir
Salat witir artinya salat dengan jumlah bilangan ganjil, yang
dilakukan sebagai penutup salat tarawih (atau salat lail pada
umumnya). Jumlahnya tidak memiliki ketentuan khusus, bisa satu
rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, atau hingga sembilan rakaat. Sabda
Nabi, Witir itu hak. Siapa yang suka mengerjakan lima, kerjakanlah.
Siapa yang suka mengerjakan tiga, kerjakanlah. Dan siapa yang suka
mengerjakan satu, kerjakanlah. (H.R. Abu Daud dan An-Nasai).
Adapun pada umumnya, kita melakukan salat witir sebanyak tiga
rakaat.
Niat Salat Witir
Niat salat witir adalah sebagai berikut,

Ushalli sunnatal witri . lillahi Taaalaa.


Artinya : aku niat shalat sunnah witir . rakaat karena Allah
Taaalaa
Doa Setelah Salat Witir
Doa setelah salat witir adalah sebagai berikut,


Ya Allah, aku berlindung dari kemurkaan-Mu melalui ridha-Mu, aku
berlindung dari hukuman-Mu melalui permaafan-Mu, dan aku
berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak bisa menyebut semua
pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.


Mahasuci Dzat yang Maha Menguasai lagi Mahasuci. (H.r. Abu
Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Doa ini dibaca tiga kali dan tidak perlu diberi tambahan, rabbul
malaikati war-ruh

Sejarah, Keutamaan dan Tata Cara Shalat Tarawih


Posted: Juli 31, 2011 in info, Iptek
Kaitkata:shalat, tarawih

25

5 Votes

Sejarah Shalat Tarawih

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, beliau menuturkan,


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan
Ramadhan sebanyak 8 rakaat lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya,
kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus
menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui
beliau dan bertanya, Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi
malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami. Beliau shallallahu
alaihi wa sallam menjawab, Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat
tersebut menjadi wajib bagimu. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [2012] dalam
kitab Shalatut Tarawih dan Muslim [761] dalam kitab Shalatul Musafirin.
Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan).
Dari Abu Salamah bin Abdirrahman radhiyallahu anhu, dia mengabarkan
bahwa dia pernah bertanya pada Aisyah radhiyallahu anha, Bagaimana shalat
malam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?. Aisyah
mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambah
jumlah rakaat dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam
shalat lainnya lebih dari 11 rakaat. (HR. Al-Bukhari [1147] dan Muslim
[738]).
Dari Ibn Abbas radhiyallahu anhu, beliau berkata, Shalat Nabi shallallahu
alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 rakaat. (HR. Al-Bukhari [1138] dan
Muslim [764]).
Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi
shallallahu alaihi wa sallam adalah 11 rakaat. Adapun dua rakaat lainnya
adalah dua rakaat ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa
sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini
dikatakan
oleh
Ibn
Hajar
dalam
Fathul
Bari
[4/123].
Ibn Hajar al-Haitsamiy mengatakan, Tidak ada satu hadits shahih pun yang
menjelaskan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan shalat
Tarawih 20 rakaat. Adapun hadits yang mengatakan Nabi shallallahu alaihi
wa sallam biasa melaksanakan shalat (Tarawih) 20 rakaat, ini adalah hadits
yang sangat-sangat lemah. (Al-Mawsuah Al-Fiqhiyyah Al-Quwaitiyyah
[2/9635]).

Ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu menjabat khalifah, beliau


melihat manusia shalat di masjid pada malam bulan Ramadhan, maka sebagian
mereka ada yang shalat sendirian dan ada pula yang shalat secara berjamaah.
Kemudian beliau mengumpulkan manusia dalam satu jamaah dan dipilihlah
Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu sebagai imam. (Lihat Shahih Al-Bukhari
pada kitab Shalat Tarawih).
Al-Kasaani rahimahullahu mengatakan, Umar mengumpulkan para sahabat
untuk melaksanakan qiyamu Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Kaab
radhiyallahu anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 rakaat. Tidak ada
seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma atau
kesepakatan para sahabat. (Lihat Al-Mawsuah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah
[2/9636]).
Ibn At-Tin rahimahullahu dan lainnya berkata, Umar menetapkan hukum itu
dari pengakuan Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadap orang yang shalat
bersama beliau pada malam-malam tersebut, walaupun beliau tidak senang hal
itu bagi mereka, karena tidak senangnya itu lantaran khawatir menjadi
kewajiban bagi mereka. Tetapi setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat,
maka dinilai aman dari rasa khawatir tersebut dan hal itu menjadi pegangan bagi
Umar, karena perbedaan dan menimbulkan perpecahan umat, dan karena
persatuan akan lebih mempergiat banyak para umat yang menjalankan shalat.
Mengenai penamaan Tarawih (istirahat), karena para jamaah yang pertama kali
berkumpul untuk qiyamu Ramadhan ber-istirahat setelah dua kali salam (yaitu
setelah melaksanakan 2 rakaat ditutup dengan salam kemudian mengerjakan 2
rakaat lagi lalu ditutup dengan salam). (Lisanul Arab [2/462] dan Fathul Bari
[4/294]).
Hukum Shalat Tarawih
Menurut Imam An-Nawawi rahimahullahu, yang dimaksud dengan qiyamu
Ramadhan adalah shalat Tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa shalat
Tarawih hukumnya mustahab (sunnah). (Syarh Shahih Muslim [6/282]). Dan
beliau menyatakan pula tentang kesepakatan para ulama tentang sunnahnya
hukum shalat Tarawih ini dalam Syarh Shahih Muslim [5/140] dan Al-Majmu
[3/526].

Al-Hafizh Ibn Hajar rahimahullahu memperjelas kembali tentang hal tersebut:


Maksudnya bahwa qiyamu Ramadhan dapat diperoleh dengan melaksanakan
shalat Tarawih dan bukanlah yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan hanya
diperoleh dengan melaksanakan shalat Tarawih saja (dan meniadakan amalan
lainnya). (Fathul Bari [4/295]).
Bahkan menurut ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat
Tarawih adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Shalat ini dianjurkan
bagi laki-laki dan perempuan.
Keutamaan Shalat Tarawih
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, Barangsiapa melakukan qiyamu Ramadhan karena iman dan mencari
pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (Diriwayatkan AlBukhari [1901] dalam kitab Ash-Shaum dan Muslim [760] dalam kitab Shalatul
Musafirin).
Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,
Siapa yang shalat (malam) bersama imam hingga ia selesai, maka ditulis
untuknya pahala melaksanakan shalat satu malam penuh. (Diriwayatkan oleh
Abu Dawud [1375] dalam kitab Ash-Shalah; At-Tirmidzi [806] dalam kitab
Ash-Shiam; An-Nasai [1605] dalam kitab Qiyamul Lail; dan Ibn Majah [1327]
dalam kitab Iqamatush Shalah. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan
shahih).
Berkenaan dengan hadits di atas, Imam Ibn Qudamah rahimahullahu
mengatakan, Dan hadits ini adalah khusus pada qiyamu Ramadhan (Tarawih).
(Al-Mughni [2/606]).
Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
Ibn Abdil Barr rahimahullahu mengatakan, Sesungguhnya shalat malam tidak
memiliki batasan jumlah rakaat tertentu. Shalat malam adalah
shalat nafilah(yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja
boleh mengerjakan sedikit rakaat. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan
banyak. (At-Tamhid [21/70]).

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Shalat malam
adalah dua rakaat dua rakaat. Jika engkau khawatir masuk waktu Subuh,
lakukanlah shalat Witir satu rakaat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Begitu pula anjuran Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk memperbanyak
sujud dalam sabda beliau, Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu)
dengan memperbanyak sujud (shalat). (HR. Muslim [489]).
Shalat tarawih 11 atau 13 rakaat yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi
wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan
jumlah rakaat shalat Tarawih ada beberapa pendapat. Ada sebagian ulama yang
membatasinya dengan 11 rakaat. Mayoritas ulama mengatakan shalat Tarawih
adalah 20 rakaat (belum termasuk Witir).
Ulama lainnya mengatakan lagi bahwa shalat Tarawih adalah 39 rakaat dan
sudah termasuk Witir. Juga ada yang mengatakan bahwa shalat Tarawih adalah
40 rakaat dan belum termasuk Witir. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal
melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullahu mengatakan, Semua jumlah
rakaat di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan
dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama
adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jamaah. Kalau
jamaah kemungkinan senang dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka lebih
bagus melakukan shalat malam dengan 10 rakaat ditambah dengan Witir 3
rakaat, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa
sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu,
demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jamaah tidak mampu
melaksanakan rakaat-rakaat yang panjang, maka melaksanakan shalat malam
dengan 20 rakaat itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak
dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 rakaat adalah jalan
pertengahan antara jumlah rakaat shalat malam yang sepuluh dan yang empat
puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 rakaat atau
lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan
para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad
dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat
malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi

shallallahu alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11
rakaat, maka sungguh dia telah keliru. (Majmu Al-Fatawa [22/272]).
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tarawih
Niat Shalat
Niat shalat Tarawih, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup diucapkan
di dalam hati, yang terpenting adalah niat hanya karena Allah Taala semata
dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan ridha-Nya, apabila ingin dilafalkan
jangan terlalu keras sehingga mengganggu Muslim lainnya.
Niat shalat Tarawih 2 rakaat adalah: Ushalli sunnatat taraawiihi rakataini
(mamuman/imaaman) lillahi taaalaa (Aku niat shalat Tarawih dua rakaat
(menjadi mamum/imam) karena Allah Taala).
Dan apabila mengerjakan shalat Tarawih 2 kali 4 rakaat masing-masing dengan
sekali salam setiap selesai 4 rakaat, maka niatnya disesuaikan menjadi arbaa
rakaataini.
Memanjangkan Bacaan Shalat
Setelah penjelasan mengenai jumlah rakaat shalat Tarawih di atas, tidak ada
masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 rakaat. Namun yang terbaik
adalah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan berdiri
yang agak lama. Dan boleh juga melakukan shalat Tarawih dengan 23 rakaat
dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas
ulama.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik shalat adalah yang
lama berdirinya. (HR. Muslim [756]).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu alaihi
wa sallam melarang seseorang shalat
mukhtashiran. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Sebagian ulama menafsirkan ikhtishar (mukhtashiran) dalam hadits ini adalah
shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thumaninah ketika membaca
surat, ruku dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Maram, Syaikh Athiyah
Muhammad Salim [49/3]).

Istirahat Tiap Selesai Empat Rakaat


Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan
shalat Tarawih empat rakaat. Inilah yang sudah turun
temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat
ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca doa tertentu ketika
melakukan istirahat. Inilah pendapat yang benar dalam madzhab Hambali.
(Lihat Al-Inshaf [3/117]).
Dasar dari hal ini adalah perkataan Aisyah yang menjelaskan tata cara shalat
malam Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
melaksanakan shalat 4 rakaat, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan
panjang rakaatnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat 4 rakaat lagi, maka
janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang rakaatnya. (HR. Al-Bukhari
[3569] dan Muslim [738]).
Salam Setiap Dua Rakaat
Para pakar fiqh berpendapat bahwa shalat Tarawih dilakukan dengan salam
setiap dua rakaat. Karena Tarawih termasuk shalat malam. Sedangkan shalat
malam dilakukan dengan dua rakaat salam dan dua rakaat salam.
Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Shalat malam
adalah dua rakaat dua rakaat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Ulama-ulama Malikiyah mengatakan, Dianjurkan bagi yang melaksanakan
shalat Tarawih untuk melakukan salam setiap dua rakaat dan dimakruhkan
mengakhirkan salam hingga empat rakaat. Yang lebih utama adalah salam
setelah dua rakaat. (Lihat Al-Mawsuah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah
[2/9640]).
Lebih Utama Mana Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri?
Dalam masalah ini terdapat dua pendapat:
Pendapat pertama, yang utama adalah dilaksanakan secara berjamaah. Ini
adalah pendapat Imam Asy-Syafii dan sebagian besar sahabatnya, juga
pendapat Abu Hanifah dan Imam Ahmad (Masaailul Imam Ahmad, hal. 90) dan
disebutkan pula oleh Ibn Qudamah dalam Al-Mughni [2/605] dan Al-Mirdawi
dalam Al-Inshaf [2/181] serta sebagian pengikut Imam Malik dan lainnya,

sebagaimana yang telah disebutkan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih


Muslim [6/282].
Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama (Al-Fath [4/297]) dan pendapat
ini pula yang dipegang Syaikh Al-Albani rahimahullahu, beliau berkata,
Disyariatkan shalat berjamaah pada qiyam bulan Ramadhan, bahkan ia
(shalat Tarawih dengan berjamaah) lebih utama daripada (dilaksanakan)
sendirian. (Qiyamu Ramadhan, hal. 19-20).
Selanjutnya beliau berkata, Apabila permasalahan seputar antara shalat
(Tarawih) yang dilaksanakan pada permulaan malam secara berjamaah dengan
shalat (yang dilaksanakan) pada akhir malam secara sendiri-sendiri maka shalat
(Tarawih) dengan berjamaah lebih utama karena terhitung baginya qiyamul lail
yang sempurna. (Qiyamu Ramadhan, hal. 26).
Ulama-ulama Hanabilah (pengikut madzhab Hambali) mengatakan bahwa
seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan
secara berjamaah. Karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu.
Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib (shalat yang
mengiringi shalat fardhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling
ditekankan dilakukan secara berjamaah adalah shalat kusuf (shalat gerhana)
kemudian shalat Tarawih. (Al-Mawsuah Al-Fiqhiyyah [2/9633]).
Pendapat kedua, yang utama adalah dilaksanakan sendiri-sendiri. Ini adalah
pendapat Imam Malik dan Abu Yusuf serta sebagian pengikut Imam AsySyafii. Hal ini sebutkan pula oleh Imam An-Nawawi. (Syarh Shahih Muslim
[6/282]).
Dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bersabda, Wahai manusia, shalatlah di rumah kalian!
Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang
dikerjakan di rumahnya kecuali shalat yang diwajibkan. (Muttafaqun alaih).
Dengan hadits inilah mereka mengambil dasar akan keutamaan shalat Tarawih
yang dilaksanakan di rumah dengan sendiri-sendiri dan tidak dikerjakan secara
berjamaah. (Nashbur Rayah [2/156] dan Syarh Shahih Muslim [6/282]).
Pengikut Imam Malik, bertanya kepadanya: Bagaimana beliau melakukan
Qiyamul Lail di bulan Ramadhan, lebih disukai yang mana berjamaah dengan

orang banyak atau dilaksanakan sendiri di rumah? Imam Malik menjawab:


Kalau dilaksanakan sendiri di rumah itu kuat dan lama. Saya lebih suka. Tetapi
kebanyakan kaum Muslimin tidak kuat dan malas melaksanakan shalat sendiri
di rumah.
Imam At-Tirmidzi dan Imam Rabiah melaksanakannya sendiri di rumah begitu
juga ulama-ulama lain.
Doa Setelah Shalat Tarawih
Tidak ada doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca setelah shalat Tarawih
yang bersumber dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang ada setelah
shalat Witir sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari Ubay bin
Kaab, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam shalat Witir
(pada rakaat pertama) membaca sabbihisma rabbikal ala dan pada rakaat
kedua membaca qul yaa ayyuhal kaafiruun dan pada rakaat ketiga membaca
qul huwallahu ahad, beliau tidak melakukan salam kecuali pada rakaat terakhir.
Dan setelah salam beliau mengucapkan subhanal malikil quddus, tiga kali.
(HR. An-Nasai [1683]).
Wallahu alam bish-shawab.