P. 1
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gonorrhoe

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gonorrhoe

|Views: 2,169|Likes:
Dipublikasikan oleh menk_

More info:

Published by: menk_ on Mar 02, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

A.

Konsep Dasar Gangguan Integumen (Gonorrhoeae)
• Definisi/Pengertian Gonorrhea adalah sejenis Penyakit Kelamin yang berjangkit melalui hubungan kelamin. Ia disebabkan oleh jangkitan bakteria Neisseria Gonorrhoeae, yaitu sejenis bakteria yang hidup dan mudah membiak dengan cepat di dalam saluran pembiakan/peranakan seperti pangkal rahim (cervix), rahim (uterus), and tiub fallopian (saluran telur) bagi wanita dan juga saluran kencing (urine canal) bagi wanita dan lelaki. Bakteria ini juga boleh membiak di dalam mulut, kerongkong, mata dan dubur.

Epidemiologi/insiden kasus
 Gonore merupakan penyakit yang

mempunyai insidens yang tinggi diantara penyakit menular seksual yang lain, penyakit ini tersebar di seluruh dunia secara endemik, termasuk di Indonesia. Pada umumnya diderita oleh laki-laki muda usia 20 sampai 24 tahun dan wanita muda usia 15 sampai 19 tahun.

Etiologi/penyebab
 - Penyebab pasti penyakit gonore

adalah bakteri Neisseria gonorrhea yang bersifat patogen.  Bentuk biji kopi, tersusun dua-dua: tunggal dan bergerombol  Pewarnaan Gram: kuman merah dengan latar belakang biru

Faktor predisposisi
 Hubungan seksual baik melalui anal,

oral, genital, homoseks, heteroseks.  Kurang menjaga kebersihan diri.  Kurang pengetahuan.

Klasifikasi
 Gonore terdiri dari 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2

yang mempunyai vili yang bersifat virulen  serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai vili yang bersifat nonvirulen, vili akan melekat pada mucosa epitel dan akan menimbulkan reaksi sedang.

Gejala klinis

-

Pada pria: Gejala awal gonore biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra kemudian diikuti nyeri ketika berkemih Disuria yang timbul mendadak, rasa buang air kecil disertai dengan keluarnya lendir mukoid dari uretra Retensi urin akibat inflamasi prostat Keluarnya nanah/cairan berwarna putih, kuning kehijauan, disertai rasa perih dan panas Ujung(mulut)uretra bengkak dan agak merah

Pada wanita: - Gejala awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi - Penderita seringkali tidak merasakan gejala selama beberapa minggu atau bulan (asimto matis) - Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Namun, beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat seperti desakan untuk berkemih - Nyeri ketika berkemih - Keluarnya cairan dari vagina - Demam - Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, indung telur, uretra, dan rektum serta

Pemeriksaan fisik
 TTV  Ada tidaknya nyeri saat BAK  Ada tidaknya nanah ( warna, volume,

bau )  Predileksi : Pada pria adalah pada uretra bagian anterior.  Pada wanita adalah pada servik uteri dan uretra.

Prognosis
 Rentan terhadap penyakit radang

panggul, kemungkinan kemandulan, infeksi mata pada bayi yang dilahirkan, bayi prematur, cacat pada bayi, kematian pada bayi, memudahkan penularan HIV

Pemeriksaan diagnostik/Penunjang
 Kultur  Tes Thomson  Pewarnaan Gram  Tes Fermentasi  Tes oksidasi  Tes Serologis

Therapy/tindakan penanganan
 Pasien yang mengidap gonorhoe harus diatasi

dengan tindakan medis. Namun, harus disertai vitalitas tubuh yang kuat. Biasanya pengobatan dengan suntikan tunggal atau dosis tungal ceftriaxona yang diminum. Jika infeksi  menular melalui darah biasanya pasien  dirawat untuk mendapat obat antibiotika melalui suntikan intravena.

Contoh obat
Dengan Komplikasi: Penicilline 5– 10 hari Thiamphenicol 10 – 14 hari Tetracycline 10 – 14 hari Tanpa Komplikasi Ampicillin: 3,5 g Amoxycillin: 3 g Cotrimoxazole:  4 tablet/ hari  5 hari  2 x 4 tab/ hari  2 hari

Penatalaksanaan
• Medikamentosa

Walaupun semua gonokokus sebelumnya sangat sensitif terhadap penicilin, banyak ‘strain’ yang sekarang relatif resisten. Terapi penicillin, amoksisilin, dan tetrasiklin masih tetap merupakan pengobatan pilihan.

Cont…
Nonmedikamentosa
 Memberikan pendidikan kepada pasien dengan

menjelsakan tentang : - bahaya penyakit menular seksual (PMS) dan komplokasinya. - pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan - cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya. - hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat dihindarkan - cara- cara menghindari infeksi PMS di masa depan.  Pengobatan pada pasangan seksual tetapnya.

 Diit = Nasi  Komplikasi

Apabila gonorrhea tidak diobati, bakteri dapat menyebar ke aliran darah dan mengenai sendi, katup jantung atau otak. Konsekuensi yang paling umum dari gonorrhea adalah Pelvic Inflammatory Disease (PID), yaitu infeksi serius pada organ reproduksi wanita, yang dapat menyebabkan infertilitas.

 Komplikasi pada

 Komplikasi pada

pria:
 Prostatitis  Cowperitis  Vesikulitis seminalis  Epididimitis  Cystitis dan infeksi

wanita:
Komplikasi uretra Bartholinitus Endometritis dan metritis Salphingitis

traktus urinarius superior

Asuhan Keperawatan
a. Data Subjektif  pasien mengatakan gatal  pasien mengatakan panas dibagian pendahuluan  pasien mengatakan nyeri saat kencing  pasien mengatakan keluar nanah yang kadang disertai darah saat kencing  pasien mengatakan nyeri saat ereksi  pada wanita pasien mengatakan terkadang sering kencing  pasien mengatakan nyeri punggung bawah  pasien mengatakan kencing tersendat-sendat

b. Data Objektif  uretitis  orifisum uretra eksternum eritematosa  edematosa  ektropion  duh tubuh yang mukopurulen  bau busuk pada area genetalia  lesi, makula

DIAGNOSA
 Nyeri b.d reaksi infeksi  Hipertemi b/d inflamasi  Perubahan pola eliminasi urin b.d proses

inflamasi  Cemas b.d penyakit
 Risiko penularan b.d kurang pengetahuan

tentang sifat menular dari penyakit
 Harga diri rendah b.d penyakit

Diagnosa dan Intervensi
Nyeri b.d reaksi infeksi Tujuan:
 Setelah dilakukan tindakan keperawatan,    

klien akan: Mengenali faktor penyebab Menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan Melaporkan nyeri yang sudah terkontrol

a) Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi. b) Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif. c) Gunakan komunikasi terapeutik agar klien dapat mengekspresikan nyeri d) Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga e) Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan (ex.: temperatur ruangan, penyinaran, dll)

Intervensi:

Cont…
f) Ajarkan penggunaan teknik non farmakologik (ex.: relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massage, TENS, hipnotis, terapi aktivitas) g) Berikan analgesik sesuai anjuran h) Tingkatkan tidur atau istirahat yang cukup i) Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan.

Hipertermi b.d reaksi inflamasi
Tujuan:  Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:  - Suhu dalam rentang normal  - Nadi dan RR dalam rentang normal  - Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

Intervensi:
a) Monitor vital sign b) Monitor suhu minimal 2 jam c) Monitor warna kulit d) Tingkatkan intake cairan dan nutrisi e) Selimuti klien untuk mencegah hilangnya panas tubuh f) Kompres klien pada lipat paha dan aksila g) Berikan antipiretik bila perlu

Perubahan pola eliminasi urin b.d proses inflamasi
 Tujuan:
 Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:  - Urin akan menjadi kontinens  - Eliminasi urin tidak akan terganggu: bau, jumlah, warna

urin dalam rentang yang diharapkan dan pengeluaran urin tanpa disertai nyeri

 Intervensi:
a) Pantau eliminasi urin meliputi: frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna dengan tepat b) Rujuk pada ahli urologi bila penyebab akut ditemukan

Cemas b.d penyakit
 Tujuan:  Setelah dilakukan tindakan    

keperawatan, klien akan: - Tidak ada tanda-tanda kecemasan - Melaporkan penurunan durasi dan episode cemas - Melaporkan pemenuhan kebutuhan tidur adekuat - Menunjukkan fleksibilitas peran

Intervensi:
 a) Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik    

pada tingkat kecemasan (takikardi, takipneu, ekspresi cemas non verbal) b) Temani klien untuk mendukung kecemasan dan rasa takut c) Instruksikan klien untuk menggunakan teknik relaksasi d) Berikan pengobatan untuk menurunkan cemas dengan cara yang tepat e) Sediakan informasi aktual tentang diagnosa, penanganan, dan prognosis

Risiko penularan b.d kurang pengetahuan tentang sifat menular dari penyakit
Tujuan:
 Dapat meminimalkan terjadinya penularan penyakit

pada orang lain

Intervensi:
 Berikan pendidikan kesehatan kepada klien dengan    

menjelaskan tentang: - Bahaya penyakit menular - Pentingnya memetuhi pengobatan yang diberikan - Jelaskan cara penularan PMS dan perlunya untuk setia pada pasangan - Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat menghindarinya.

 Tujuan:  Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien

Harga diri rendah b.d penyakit

akan mengekspresikan pandangan positif untuk masa depan dan memulai kembali tingkatan fungsi sebelumnya dengan indikator:  - Mengindentifikasi aspek-aspek positif diri  - Menganalisis perilaku sendiri dan konsekuensinya  - Mengidentifikasi cara-cara menggunakan kontrol dan mempengaruhi hasil

Intervensi:
a) Bantu individu dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan b) Dorong klien untuk membayangkan masa depan dan hasil positif dari kehidupan c) Perkuat kemampuan dan karakter positif (misal: hobi, keterampilan, penampilan, pekerjaan) d) Bantu klien menerima perasaan positif dan negatif e) Bantu dalam mengidentifikasi tanggung jawab sendiri dan kontrol situasi

evaluasi
 mencegah atau menurunkan resiko terjadinya      

penyebaran infeksi mengontrol nyeri dan mengusahakan kenyamanan pasien mempertahankan haluaran dan masukan urine kerusakan integritas kulit tidak terjadi tidak terjadi perubahan seksualitas menunjukan rentan normal dari perasaan dan berkurangnya rasa takut dan cemas mengungkapkan pemahaman tentang kondisi prognosis dan tindakan

Daftar Pustaka
 Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media  

    

Aesculapus: Jakarta. http://www.geogle.com http://makalah _kesehatan_online.blogspot.com/2009/01/gonore_kencin g_nanah.html. Jundul.wordpress.com/2008/11/20 www.betitajakarta.com/u_ind/berita_detail alamandacorner.com/showthread.php Brunner & Suddarth.2002. Keperawatan Medical Bedah.Jakarta :EGC Sylvia & Lorraine.2006.Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Vol. 2.Jakarta :EGC

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->