Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jepang merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kira-kira 4000
pulau besar dan kecil dengan luas wilayah sekitar 370.000 km2. Kepulauan Jepang
terletak di sebelah utara belahan bumi, yang membujur dari selatan mulai dari daerah
kepulauan Okinawa yang berbatasan dengan Taiwan dan di sebelah utara berbatasan
dengan kepulauan Rusia. Kemudian di sebelah barat adalah Laut Cina dan di sebelah
timur adalah Samudra Pasifik (Situmorang, 2009: 1).
Pada akhir Perang Dunia II, selain perekonomiannya hancur, kota-kota
besarnya menjadi puing-puing dan wilayahnya diduduki tentara asing. Setelah perang
usai, Jepang masih diwajibkan membayar pampasan perang kepada negara-negara
yang telah dirugikan akibat agresi yang dilakukannya. Namun dalam kurun waktu
kurang dari empat puluh tahun, Jepang telah bangkit menjadi salah satu negara
adidaya dalam industri dan perdagangan.
Keberhasilan pertumbuhan ekonomi Jepang merupakan salah satu hasil kerja
keras dengan semangat juang tinggi serta disiplin ketat bangsanya untuk pulih dari
kehancuran akibat dari Perang Dunia II dan menjadi negara yang lebih maju dari
masa sebelum perang terjadi. Dalam mencapai usahanya, Jepang tetap menerapkan
nilai-nilai budaya tradisionalnya bahkan sampai sekarang.

Nilai budaya yang menunjang perekonomian Jepang salah satunya adalah


karakter bangsa Jepang yang diwariskan oleh para leluhurnya, yakni nilai-nilai
kehidupan para samurai, yang terutama berkembang pada masa Heian tahun 794
1185.
Para samurai, yang identik dengan ajaran bushidou1, dalam pandangan kaum
awam sering digambarkan dengan seppuku atau hara kiri 2 serta katana 3 . Namun
Bellah dalam Tokugawa Relligion (1957: 121) menjelaskan bahwa bushi atau
samurai dianggap merangkum nilai-nilai dasar orang Jepang, dan baik pada masa
Tokugawa maupun jaman modern etika bushidou telah menjadi etika nasional.
Era para samurai tidak berlangsung selamanya karena Jepang kemudian
menjadi lebih terbuka, termasuk terhadap sistem militer dan persenjataan Barat.
Namun nilai-nilai kehidupan para samurai masih berlanjut. Contoh nyatanya adalah
ketika pada Perang Dunia II Jepang mengerahkan pilot-pilot kamikaze4 guna maju ke
garis terdepan di Pasifik, tanpa mengkhawatirkan kematian.
Pasca Perang Dunia II, Jepang tidak lagi tampil sebagai kekuatan militer,
karena berevolusi menuju modernisasi dan industrialisasi. Perubahan ini tidak
sepenuhnya memudarkan nilai-nilai bushidou yang awalnya diusung para samurai.
Walaupun terdapat beberapa pergeseran dari prinsip pada zaman dahulu, namun etos

secara harfiah berarti jalan para kesatria.


Cara bunuh diri dengan menusuk dan merobek perut.
3
Pedang.
4
Harfiah: angin dewa; pasukan bunuh diri dalam penyerbuan Jepang ke Pearl Harbour tahun 1941.
2

kerja yang kokoh, penuh semangat serta disiplin tinggi dalam masyarakat Jepang
terus lestari.
Nitobe Inazo, yang mempelajari kehidupan para samurai, merumuskan nilainilai bushidou. Dalam bukunya Bushidou; The Soul of Japan yang pertama kali
diterbitkan pada tahun 1900 dicantumkan tujuh nilai fundamental bushidou, yaitu:
1. () Gi Kebenaran
2. () Yuu Keberanian
3. () Jin Kebajikan
4. () Rei Kesopanan
5. () Makoto Kejujuran
6. () Meiyo Kehormatan
7. () Chuugi Kesetiaan
Dalam buku tersebut dikatakan bahwa ajaran bushidou tetap diaplikasikan ke
dalam pendidikan modern, militer dan bisnis setelah Restorasi Meiji. Sebagai contoh,
mantan samurai yang masuk ke militer akan menjadi pemimpin yang baik; yang
masuk ke bidang pendidikan akan menjadi guru yang handal; yang masuk ke bisnis
akan mengutamakan kejujuran dan pelayanan terbaik.5

Tabloid Halo Jepang! Edisi Februari 2013/I halaman 20

Dari sanalah, perilaku ala bushidou terus diturunkan ke generasi berikutnya.


Akhirnya, sikap hidup dalam kerangka tujuh nilai keutamaan tersebut seolah-olah
mengalir dan menjadi sangat lumrah.
Prinsip bushidou juga yang membuat bangsa Jepang mampu bangkit dari
kekalahan perang hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh tahun hingga
Jepang secara mengejutkan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi terbesar ranking
ketiga di dunia.6
Penulis meneliti bagaimana nilai-nilai dalam bushidou menjadi salah satu
wahana pertumbuhan (engine of growth), yaitu daya pendorong dalam pertumbuhan
ekonomi Jepang. Faktor inilah yang mendorong penulis untuk melakukan kajian lebih
mendalam mengenai peranan bushidou dalam usaha bangsa Jepang membangun
perekonomian Jepang pasca Perang Dunia II.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam penelitian ini kajian difokuskan pada bagaimana peranan nilai-nilai
bushidou dalam usaha bangsa Jepang membangun kembali perekonomiannya yang
terpuruk setelah kalah dalam Perang Dunia II?

Berdasarkan World Development Indicators database, World Bank, 15 April 2013

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis melalui penelitian ini adalah untuk
menjelaskan peranan nilai-nilai bushidou dalam usaha bangsa Jepang membangun
perekonomian Jepang pasca Perang Dunia II.

1.4 Batasan Masalah


Dari permasalahan yang ada maka penulis menganggap perlu adanya
pembatasan ruang lingkup dalam pembahasan. Hal ini dimaksudkan agar masalah
penelitian tidak menjadi terlalu luas dan berkembang jauh sehingga penelitian dapat
lebih terarah dan terfokus.
Pada penelitian ini analisis difokuskan pada peranan nilai-nilai bushidou
dalam perkembangan perekonomian Jepang pasca Perang Dunia II,

khususnya

periode tahun 1955 sampai 1970 di mana Jepang sedang mengalami masa
pertumbuhan ekonomi yang pesat.

1.5

Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang bushidou pernah dilakukan sebelumnya oleh Budi Wibowo,

mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Gadjah Mada dalam
skripsinya yang berjudul Perwujudan Nilai-Nilai Bushidou dalam Sistem

Manajemen Jepang. Skripsi tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana


perwujudan nilai-nilai bushidou dalam perekonomian khususnya sistem manajemen.
Dalam penelitian tersebut kemudian dipaparkan nilai-nilai bushidou yang diwujudkan
dalam sistem manjemen Jepang.
Penelitian tentang bushidou juga pernah dilakukan oleh Donata Sadikin,
mahasiswa Jurusan Bahasa Jepang Universitas Bina Nusantara dalam skripsinya yang
berjudul Analisis Konsep Bushidou pada Perilaku Tokoh Utama dalam Film Touch.
Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis konsep bushidou dalam film Touch
melalui tokoh utama yaitu Uesugi Tatsuya.
Penelitian lain yang berhubungan dengan penelitian ini adalah Doktrin
Yoshida: Dasar Kebijakan Politik Luar Negeri dan Ekonomi Jepang Pasca Perang
Dunia II (1946 1945) yang dilakukan oleh Made Chandrawati, mahasiswi Program
Studi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Gadjah Mada. Hasil penelitian tersebut
menjelaskan bahwa Doktrin Yoshida mampu membuka jalan bagi barang produksi
Jepang masuk ke pasar Amerika dan melakukan perdagangan dengan Negara-Negara
di Asia, sehingga kondisi ekonominya meningkat.
Dalam penelitian ini, penulis lebih memfokuskan pada peranan nilai-nilai
bushidou dalam usaha bangsa Jepang membangun kembali perekonomian Jepang
pasca Perang Dunia II.

1.6 Landasan Teori


Setiap penelitian memerlukan landasan teori untuk mengungkapkan
kebenaran yang terdapat di dalamnya. Begitu juga dalam penelitian budaya,
dibutuhkan titik tolak untuk menganalisa setiap masalahnya.
Bushidou adalah sebuah hasil pemikiran akan keyakinan sebuah nilai-nilai
tradisional. Dalam menganalisa lebih lanjut tentang permasalahan peranan bushidou
dalam perkembangan ekonomi Jepang, penulis menggunakan teori pembangunan.
Teori pembangunan yang relevan dengan penelitian ini adalah Teori Modernisasi
Baru oleh Max Weber. Dalam teori tersebut dinyatakan bahwa nilai-nilai tradisional
terbukti menjadi salah satu faktor pendorong pembangunan khususnya ekonomi
dalam suatu negara yang sedang berkembang.
Teori ini membahas masalah manusia yang dibentuk oleh budaya di
sekitarnya, khususnya agama. Nilai-nilai masyarakat, antara lain yang melalui agama,
mempunyai peran yang menentukan dalam mempengaruhi tingkah laku individu. Bila
nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dapat diarahkan kepada sikap yang positif
terhadap pertumbuhan ekonomi, proses pembangunan dalam masyarakat tersebut
dapat terlaksana (Budiman, 1995: 37).
Weber mengkaji pengaruh agama protestanisme yang mempengaruhi
munculnya kapitalisme modern di Eropa. Pertanyaan yang diajukan oleh Weber
adalah mengapa beberapa negara di Eropa mengalami kemajuan yang pesat di bawah

sistem kapitalisme. Setelah itu, Weber melakukan analisis dan mencapai kesimpulan
bahwa salah satu penyebabnya adalah Etika Protestan 7 . Selanjutnya, istilah Etika
Protestan tersebut menginspirasi Robert Bellah untuk menulis tentang agama
Tokugawa yang ada di Jepang dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi di
Jepang.
Hasil

kajian

baru

teori

modernisasi

sengaja

menghindar

untuk

memperlakukan nilai-nilai tradisional dan modern sebagai dua perangkat sistem nilai
yang saling bertolak belakang, serta tidak lagi memiliki anggapan tentang gerak satu
arah pembangunan dan menjadikan Barat sebagai satu-satunya model pembangunan.
Teori modernisasi baru lebih cermat mengamati apa yang disebut dengan nilai
tradisional dan bagaimana nilai tersebut berinteraksi dengan nilai Barat serta peran
apa yang dapat dilakukannya untuk menunjang proses modernisasi. Budaya
tradisional dinilai mampu melakukan penyesuaian dengan baik terhadap kondisi lokal.
Perhatian teori medernisasi baru lebih ditujukan untuk mengamati dan
menganalisa secara serentak dan simultan berbagai pranata sosial yang ada (sosial,
budaya, ekonomi, dan politik), berbagai kemungkinan arah pembangunan, dan lebih
memberikan perhatian pada interaksi antara faktor internal dan eksternal (lingkungan
internasional).

Sebuah konsep dan teori dalam teologi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah yang mempersoalkan
masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai agama. Dalam
agama Protestan yang dikembangkan oleh Calvin ada ajaran bahwa seorang manusia sudah ditakdirkan
sebelumnya sebelum masuk ke surga atau ke neraka. Hal tersebut ditentukan melalui apakah manusia
tersebut berhasil atau tidak dalam pekerjaannya di dunia. Adanya kepercayaan ini membuat penganut
agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses (Weber, 2002: 26)

1.7 Metodologi Penelitian


Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis yang merupakan
pengembangan dari metode deskriptif. Metode deskriptif analitis, seperti yang
dikemukakan oleh Suriasumantri (2007: 29), yaitu metode yang dipergunakan untuk
meneliti gagasan atau produk pemikiran manusia yang telah tertuang dalam bentuk
media cetak, baik yang berbentuk naskah primer maupun naskah sekunder dengan
melakukan studi kritis terhadapnya.

Fokus penelitian deskriptif analitis adalah

berusaha mendeskripsikan, membahas, dan mengkritik gagasan primer yang


selanjutnya dikonfrontasikan dengan gagasan primer yang lain dalam upaya
melakukan studi yang berupa perbandingan, hubungan, dan pengembangan model.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, yaitu
mempelajari sumber-sumber kepustakaan dengan mengumpulkan data yang berupa
literatur yang berhubungan dengan topik permasalahan penelitian, dalam bentuk buku
referensi, penerbitan berkala, surat kabar, dan kamus yang dianggap relevan dengan
penelitian ini.
Kemudian langkah selanjutnya adalah menentukan objek penelitian, dalam
hal ini adalah nilai-nilai yang terkandung dalam prinsip bushidou. Selanjutnya
penulis akan menggunakan metode deskriptif, yaitu prosedur pemecahan masalah
yang diteliti dengan menggambarkan keadaan objek penelitian berdasarkan faktafakta yang tampak atau sebagaimana adanya.

10

Kemudian fakta-fakta tersebut dianalisis dengan metode hermeneutik (tafsir)


yang akan menuntun penulis untuk menafsirkan apa saja peranan nilai-nilai bushidou
dalam usaha bangsa Jepang membangun perekonomian negaranya pasca Perang
Dunia II.

1.8 Sistematika Penelitian


Penulisan dan pembahasan dalam penelitian ini terdiri dari lima bab yang
akan disajikan dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Di dalamnya penulis memaparkan mengenai latar belakang penulisan,
rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, tinjauan pustaka, landasan teori,
metodologi penelitian, serta sistematika penelitian.
Bab II Sekilas Tentang Bushidou
Pada bab ini penulis menguraikan prinsip bushidou sebagai suatu etika yang
mencakup filosofi bushidou, asal mula, sumber-sumber dan nilai pokok yang
terkandung dalam bushidou sebagai kode etik bangsa Jepang.
Bab III Jepang Pasca Perang Dunia II

11

Dalam bab ini penulis membahas mengenai kondisi masyarakat Jepang pasca
terjadinya

Perang

Dunia

II

secara

umum,

serta

keadaan

ekonomi

dan

perkembangannya.
Bab IV Peranan Nilai-Nilai Bushidou dalam Usaha Bangsa Jepang
Membangun Kembali Perekonomian Jepang Pasca Perang Dunia II
Bab ini merupakan analisis yang menjelaskan peranan nilai-nilai bushidou
dalam usaha bangsa Jepang membangun perekonomian Jepang pasca Perang Dunia II.
Bab V Kesimpulan
Bab ini berisi kesimpulan atas hasil penelitian yang telah dilakukan
berdasarkan analisis data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan teori yang
relevan sebagai jawaban atas permasalahan penelitian yang telah penulis kemukakan.