Anda di halaman 1dari 17

Drama W Haryanto

LEMBUSURO
TOKOH
Mpu Gandring
Istri Empu Gandring
Pangeran Lembu Suro
Dewi Kilisuci
Bujangga Manik
Dalang
Pemain Saron

1. DI DEPAN LAYAR WAYANG


MPU GANDRING BERDIRI DI TENGAH RUANG. KEN AROK MENGENDAP-ENDAP, DAN
MENUSUKNYA DARI BELAKANG. DAUN-DAUN PISANG MENUTUP BABAK PERISTIWA INI.
RUANG JADI GELAP. BEBERAPA WANITA BERJALAN BERIRING DENGAN LILIN. SEPERTI TARIAN
CAHAYA. WANITA-WANITA ITU MELINTASI LINTASAN DAUN-DAUN PISANG. SATU PUTARAN,
LINGKARAN WANITA ITU TERDUDUK. SI DALANG MUNCUL DAN DUDUK DI TENGAH
LINGKARAN WANITA.
DALANG Cerita ini sudah sering dipentaskan. Semua orang tahu bagaimana akhir
ceritanya. Setiap orang sudah sering menafsirkannya. Dari depan, belakang, kiri dan kanan.
Rahasia apalagi yang masih kupunyai? Tak ada apa-apa, di tanganku ini, wayang-wayangku
berhenti bicara. Atau tak mau lagi bicara!
DUA WAYANG MUNCUL DI SISI KIRI DAN KANAN. TAK MEMAINKAN ADEGAN APA-APA.
CUMA BERJALAN DI BELAKANG DALANG. MULUT MEREKA TERSUMPAL KAIN HITAM.
DALANG Wayang telah digantikan teater Demokrasi. Pisau-pisau belati. Mimbarmimbar di jalan. Kata-kata mengumpat. (tiba-tiba HP si Dayang berbunyi) Ini pasti Bathara
Narada. Akhir-akhir ini dia suka galau. Dia suka jalan berbelok jalan.... (lalu bicara lewat HP)
Ya, Haloo.... sinuwung Bathara Narada, inggih...inggih! Inggih sinuwun... Inggih.... mangke
kulo damelake critane...! (menutup HP) Nah, bener kan. Dia salah jalan. Dia butuh arah
yang tepat buat melangkah. Ini jaman yang sulit. Segala sesuatunya jadi rumit! Nah,
sebentar.... saya harus membuatkannya cerita!
SERAYA MASIH TERDUDUK WANITA-WANITA ITU MENARI. SEPERTI PUSARAN. MEREKA
MENARI. SUARA SARON MENGIRINGI. SI DALANG BERDIRI DAN KEDUA TANGANNYA SEAKAN
MENGGERAKKAN SESUATU DI SISI KIRI DAN KANANNYA. DUA WAYANG MUNCUL DENGAN
MULUT TERTUTUP. DUA WAYANG ITU BERGERAK MENGIKUTI ARAHAN TANGAN SI DALANG.
TIBA-TIBA, MUSIK SARON BERHENTI. DUA WAYANG ITU IKUT BERHENTI BERGERAK. JUGA
WANITA PENARI IKUT BERHENTI. SI DALANG KAGET.
PENABUH SARON Interupsi Pak Dalang! Interupsi! (muncul dari belakang layar)
DALANG Peh, opo maneh! Ojok neka-neka tho. Lagi mood ojok diputhel. Mengko
Imajinasine ilang.
PENABUH SARON Ini ceritanya apa, sih?
DALANG Petruk Dadi Ratu.
PENABUH SARON Itu cerita absurd! Susah dipahami! Sulit dicarikan padanan
aktualnya. Itu cerita mengada-ada, Pak Dalang! Penonton butuh sesuatu yang aktual.
DALANG Lhoh, apa salahnya dengan cerita itu. Cerita itu ada kok.
PENABUH SARON Tapi Petruk gak punya balungan Pemimpin, oke-lah dia anak Kyai
Semar. Tapi Petruk itu apa? Dia bukan mantan Jendral, dia gak punya prabawa, dia gak
tegas, slengekan. Penonton punya bayangan berbeda tentang pemimpin. Petruk bukan

seperti yang dibayangkan penonton. Pemimpin itu harus seperti super hero, mantan Jendral
biar ditakuti bangsa lain. Gak kayak dagelan!
DALANG Peh, mantan Jendral? Mana ada ceritanya itu? Jendral itu ksatria, urusannya
berperang aja. Gak boleh ngurusi politik. Itu sudah digariskan. Ksatria itu ahli perang bukan
ahli politik. Kalau politikus ikut perang, atau Ksatria ikut berpolitik, bisa kacau tatanan.
PENABUH SARON Tapi penonton butuh itu. Penonton butuh sesuatu yang bisa
diterima akal. Bukan mimpi! Penonton butuh sesuatu yang menghibur. Sesuatu yang bisa
disentuh dengan tangan.
DALANG Yo ojok nonton wayang. Nonton dang-dut koplo ae. Isok njawil bokonge
penyanyine. Ini wayang! Wayang bukan hiburan. Wayang adalah makna dan pencarian
filsafat.... Wis, ndang mbalik nang panggonmu. Aku dalang. Kamu nayaga. Kita punya
tanggung jawab sendiri-sendiri dalam perwatakan ini. Wis kana....
PENABUH SARON Interupsi Pak Dalang!
DALANG Opo maneh! Ojo kakean interupsi tho, mengko bis-e ora mlaku-mlaku ki.
PENABUH SARON Begini Pak Dalang, andai pun tatanan itu ada? Dan kita ditakdirkan
pada pertanyaan-pertanyaan yang harus kita cari sebagai jalan filsafat, mengapa kita harus
pemilu? Dengan pemilu, kita memilih citra pemimpin yang bisa kita pahami. Apakah Petruk
bisa kita pahami? Apa budaya slengekan Petruk bisa menjawab kegelisahan kita?
DALANG Itu politik tho le, politik yang diimpor dari sebuah revolusi yang juga samasama gak kita pahami. Kita ini punya pohon yang beda dari mereka. Wistalah....ngantio
gulumu pedhot, politik impor itu yo mung ngasilake transaksi politik, sithik-sithik nggalang
massa, berak-berok koyok pitik arep modar, njur opo dadine.... ruwet! Wis kana, mbalik
nang panggenmu...
PENABUH SARON Inggih Pak Dalang! (kembali ke balik layar)
DALANG Peh, cah-cah saiki. Sekolahe ora cetho, sok keminter. Arep dadi opo? Dadi
dagelan piye? (geleng-geleng kepala) Duh, piye ki, imajinasi kadung ambyar.... wis dilereni
dhisik! Wis, bubar-bubar...
DUA WAYANG MEMBUKA PENUTUP MULUTNYA DAN PERGI. WANITA-WANITA PENARI
BANGUN, MEMBERESKAN PERALATANNYA DAN PERGI. JUGA, PARA PENABUH DI BELAKANG
LAYAR BERJALAN KELUAR. SI DALANG TERDUDUK. SEPERTI SEMEDI. RUANG MEREDUP.

2. DI BAWAH KAWAH GUNUNG KELUD. DI MASA LALU.


EMPAT PILAR TERBUAT DARI DAUN PISANG. DI TENGAHNYA, ADA SEBUAH
PEMBARINGAN KAYU TERBUNGKUS KAIN PUTIH. MPU GANDRING TERBARING DI ATASNYA.
SUARA SITER MEMBUKA RUANG. ISTRI MPU GANDRING MUNCUL DARI SISI KANAN, MEMBAWA
TEMPAT KEMENYAN. DUDUK TERSUJUD DI SAMPING PEMBARINGAN. DARI SISI KIRI,
PANGERAN LEMBUSURO BERDIRI MEMANDANGI MPU GANDRING.
PANGERAN LEMBUSURO Belum bangun, Nyai?
NYAI MPU GANDRING Belum Pangeran.
PANGERAN LEMBUSURO Kenapa? Terlalu lama ia tertidur. Terlalu lama saya
menunggu.
NYAI MPU GANDRING Ada yang belum dirampungkan. Itu yang dia katakan.
PANGERAN LEMBUSURO Apa itu?
NYAI MPU GANDRING Sebuah kutukan, Pangeran.
PANGERAN LEMBUSURO Kutukan? Kutukan apa?
NYAI MPU GANDRING Tanah kita berbau kematian dan pengkhianatan, Pangeran.
Kekuasaan telah mempengaruhi nalar kita, cerita-cerita yang baik telah dibelokkan, keris
para Ksatria telah dicuri dari peraduannya. Keris itu, sekarang berada di tangan seorang
pencuri. Satu-persatu orang terbunuh oleh keris itu. Darah yang tumpah belum berhenti
mengalir. Dan Sang Pencuri, bersembunyi di tumpukan kitab-kitab tua, dia tak bisa dilacak
oleh pandangan mata, dia seperti bayangan yang tanpa musabab, dia mencuci tangan
kotornya dengan tinta sejarah. Dan suamiku memburu pencuri itu, di dalam ingatannya.
PANGERAN LEMBUSURO Di dalam ingatannya? Pencuri itu mengenal suamimu?
NYAI MPU GANDRING Ya, Pangeran. Dia memesan keris pada suamiku. Dia pula yang
membunuh suamiku dengan keris itu. Tapi suamiku tak mungkin mati dengan keris

buatannya sendiri. Itu bukan keris biasa, Pangeran. Keris itu ditatah dari lahar Gunung
Kelud.
PANGERAN LEMBUSURO Siapa pencuri itu?
NYAI MPU GANDRING Ken Arok, Pangeran. Pencuri itu lihai menyembunyikan diri dari
kejahatannya, dia seakan berbaur dalam kegaduhan sejarah. Dibunuhnya Tunggul Ametung
dan menikahi istrinya, Ken Dedes. Dia menfitnah Kebo Ijo, sebagai pelaku pembunuhan itu.
Keris itu, seperti tak henti meminta darah. Darah dari keturunan Ken Arok dan Ken Dedes.
PANGERAN LEMBUSURO Apa salah dengan Ken Dedes? Bukankah, Ken Dedes
terpaksa menikahi Ken Arok karena tak mau anaknya dibunuh Ken Arok? Bukankah Ken
Dedes adalah perlambang wanita suci yang mau menghentikan rangkaian pembunuhan.
NYAI MPU GANDRING Bukan seperti itu ceritanya, Pangeran. Ken Dedes adalah iblis
betina. Ken Dedes tahu, dia diramalkan akan melahirkan para raja di Jawa. Ken Arok tahu
itu. Tunggul Ametung tak tahu hal itu, dia hanya bernafsu dengan kecantikan Ken Dedes.
Tunggul Ametung hanya pria bodoh yang tak mungkin memujudkan mimpi Ken Dedes jadi
ibu raja-raja Jawa. Ken Dedes-lah yang merencanakan pembunuhan suaminya dan fitnah
atas Kebo Ijo.
PANGERAN LEMBUSURO Siapa yang diburu suamimu?
NYAI LEMBUSURO Ken Dedes.
PANGERAN LEMBUSURO Terus Ken Arok?
NYAI MPUGANDRING Dia sudah mati dibunuh putra Ken Dedes. Rangkaian
pembunuhan itu belum berhenti Pangeran. Putra Ken Dedes dari Tunggul Ametung dan
putra Ken Arok dari istri keduanya, Ken Umang, saling membunuh. Mereka mati oleh keris
buatan suamiku.
PANGERAN LEMBUSURO Bagaimana dengan Ken Dedes?
NYAI MPU GANDRING Ken Dedes mati bunuh diri.
PANGERAN LEMBUSURO Kalau Ken Dedes sudah mati, kenapa suamimu masih
memburunya?
NYAI MPU GANDRING Yang mati cuma jasadnya. Tapi, Ken Dedes tetap hidup dan
dipuja orang-orang Jawa sebagai lambang kecantikan dan kesucian seorang ibu. Garis darah
Ken Dedes-lah yang berkuasa dan jadi raja. Ken Dedes bunuh diri dengan keris buatan
suamiku. Tak ada yang tahu dimana keris itu sekarang. Keris itu menghilang. Keris itu
seperti menyatu dengan jiwa Ken Dedes. Karena itulah, suamiku memburunya. Suamiku
mau mengambil kembali kerisnya dan membuang keris itu ke kawah Kelud.
PANGERAN LEMBUSURO Kenapa dibuang ke kawah Kelud?
NYAI MPU GANDRING Biar kekuasaan mistis putra-putra Ken Dedes biar hilang.
PANGERAN LEMBUSURO Ken Dedes sekarang dimana?
NYAI MPU GANDRING Di dalam kitab-kitab Jawa. Kitab-kitab itu dipuja orang-orang
Jawa.
PANGERAN LEMBUSURO Maksudmu, suamimu mencari kerisnya di dalam kitab-kitab
itu?
NYAI MPU GANDRING Ya, Pangeran.
PANGERAN LEMBUSURO Berapa lama?
NYAI MPU GANDRING (menggeleng) Maaf, Pangeran, saya tidak tahu. Pangeran mau
menunggunya?
PANGERAN LEMBUSURO Baiklah, kutunggu beberapa saat (berdiri membelakangi
pembaringan kayu tempat Mpu Gandring rebah)
SUARA SITER MEMENUHI RUANGAN. EMPAT SOSOK MEMBAWA SAPU LIDI MEMASUKI
RUANG. MENGIBAS-KIBASKAN SAPU LIDI KE SETIAP SUDUT RUANG.
SOSOK (dalam nyanyian) yang tak terbaca, terbacalah, terbacalah jauh, sejauh katakata terukir, yang tak terbaca, terbacalah, biar yang hilang tak terbaca terbuka pintu
maknanya, yang tak terbaca, terbacalah, biar kabut yang menutupi kata-kata menyingkir,
yang tak terbaca, terbacalah, biar setiap kata yang pergi hilang kembali pulang, yang tak
terbaca, terbacalah, biar patahan kata kembali tersambung, yang tak terbaca, terbacalah,
biar si Ibu tak lagi meratapi cermin dan si anak yang hilang kembali diciumnya, yang tak
terbaca, terbacalah, biar negeri yang tenggelam dalam kerakusan para raja-raja lalim

kembali mengapung di pantai, yang tak terbaca, terbacalah (setelah berputar-putar di


antara pohon-pohon pisang, lalu menghilang)
MPU GANDRING (bangun perlahan)
NYAI MPU GANDRING Sudah selesai, Ki?
MPU GANDRING (mengangguk) Ya, cerita itu berakhir. Tapi masih ada cerita lain yang
harus dituntaskan.
NYAI MPU GANDRING Maksud Ki?
MPU GANDRING Pangeran (memanggil Pangeran Lembusuro yang berdiri di
belakangnya, tanpa menoleh) Saya tahu, sinuwun sudah menunggu. Maafkan saya, bila
agak lama pekerjaan saya. Saya sudah membaca keinginan Pangeran (lalu, berkata pada
istrinya) Nyai, pergilah dulu, ada yang perlu aku bicarakan dengan Pangeran Lembusuro.
NYAI MPU GANDRING Baiklah Ki? (lalu pergi)
PANGERAN LEMBUSURO Kamu tahu kedatanganku, Ki?
MPU GANDRING Karena sinuwun kurang lihai menyembunyikan sesuatu, bau nafas
sinuwun sudah bercerita padaku sejak tadi.
PANGERAN LEMBUSURO (bergeser ke sebelah kanan, masih dalam posisi berdiri) Aku
terjebak, Ki. Aku dijebak pikiranku sendiri. Kupikir aku bisa membuka pintu hati Dewi
Kilisuci. Tapi aku salah duga. Dia tak melihatku. Jenggala Manik pun bersandiwara di
depanku. Mereka membimbingku masuk ke pintu kawah dan menimpaku dengan batu-batu.
Kupikir aku mati. Tapi, yang mati cuma jasad kasarku saja.
MPU GANDRING Kerakusan itu pula yang mengubah ucapan-ucapan yang baik
berubah jadi tubuh ular yang susah dipegang. Dewi Kilisuci itu licik seperti pohon tua yang
melahirkan dirinya, Jenggala Manik. Mereka tak menghendaki sinuwung berdiri di pintu
rumah mereka.
PANGERAN LEMBUSURO Jadi, mereka telah merencanakan upacara penguburanku.
Okh, mengapa?
MPU GANDRING Mereka punya cerita lain. Dan sinuwun bukanlah bagian cerita
mereka. Sinuwun bisa merusak pakem.
PANGERAN LEMBUSURO Merusak bagaimana?
MPU GANDRING Sinuwun sudah mati di gua Kiskenda. Tapi, sinuwun bangkit dari
kematian yang sudah dirancang Dewa.
PANGERAN LEMBUSURO Bukankah kehendak Dewa juga, aku belum mati. Suratan
takdir itu punya dua jalan berbeda. Kupikir itu, bukan rencana Dewa. Mungkin keserakahanlah yang membangkitkanku kembali.
MPU GANDRING (berpikir sejenak) Babad cerita mereka diakhiri, Pangeran. Itu sudah
takdir.
PANGERAN LEMBUSURO Apa yang harus aku lakukan, Ki? Sekarang, justru aku
seperti terjebak dalam cerita yang tidak aku ketahui. Aku tak mngingat jelas, semua apa
yang ada di balik punggungku tak bisa kuingat. Ingatan itu sudah hilang. Satu-satunya
ingatan yang kupunya, cuma Dewi Kilisuci.
MPU GANDRING Ya, itulah babak ceritamu selanjutnya.
PANGERAN LEMBUSURO Apa yang harus aku lakukan, Ki?
MPU GANDRING Menculiknya.
PANGERAN LEMBUSURO Menculiknya?
MPU GANDRING Ya, menculiknya. Seperti Tunggul Ametung menculik Ken Dedes.
Biarlah babak cerita berbelok arah. Biarlah mitos yang agung itu jadi drama percintaan yang
sentimentil.
PANGERAN LEMBUSURO (berpikir sejenak) Baiklah, Ki. Mungkin suratan takdir tak
bisa ditebak. Baiklah Ki. aku pergi dulu.

3. DI DEPAN KELIR WAYANG.


SANG DALANG MONDAR-MONDAR KEBINGUNGAN. DI SEKELILINGNYA, PARA NAYAGA
SEDANG MEMPERSIAPKAN PEMENTASAN WAYANG.

DALANG Ciloko iki! Ciloko tenan!


PENABUH SARON Ada apa, Pak? (heran)
DALANG Sejarah wis owah! Iki gawe bubrah!
PENABUH SARON Bubrah apanya? Sejarah baik-baik saja kok. Burung-burung masih
berkicau. Daun-daun gugur. Tadi kita masih minum kopi. Ketemu istri....Semuanya baik-baik
saja. Tak ada perang. Tak ada kavaleri tentara di jalan. Nggak ada yang owah, Pak.
DALANG Dudu kuwi. Iki luwih serius.
PENABUH SARON Urusannya apa sih? Kok mulek?
DALANG Iki masalah Jagad. Jagad mitos.
PENABUH SARON Opo ki? Bingung aku.
DALANG Pakem Pakeliran kita bubrah. Cerita harus dirubah.
PENABUH SARON Kenapa? Ada yang salah dengan pakem? Toh, penonton gak protes
dan interupsi. Pakem kita masih bisa dipahami. Ada yang salah?
DALANG Masaleh-e Pangeran Lembusuro menculik Dewi Kilisuci.
PENABUH SARON Lha kok bisa, Dewi Kilisuci tak ada dalam pakem kita.
DALANG Dan, Pangeran Lembusuro sudah mati di gua Kiskenda. Nalar-e piye, kok dia
bisa hidup lagi? Lha iki malah pake acara menculik Dewi Kilisuci. Lha kan, kita kepaksa
memasukkan Dewi Kilisuci dalam cerita. Terus, kaitan apa dengan Ramayana? Ciloko tho
iki?
PENABUH SARON Kita bikin cerita baru aja.
DALANG Macam apa?
PENABUH SARON Begini aja Pak Dalang. Kita ceritakan saja, si Lembusuro itu gak
mati di Kiskenda, dia bisa lari dari amukan Subali. Nah, dalam pelariannya, pas leyeh-leyeh
ngiyup di bawah trembesi, dia denger suara orang mandi, dia ngintip, eh ndilalah orang
mandi itu Dewi Kilisuci.
DALANG Lha, kok kayak Joko Tarub?
PENABUH SARON Ya, gak papa mirip dikit. Namanya juga relativitas budaya.
DALANG Dewi Kilisuci itu putri bupati Kediri, Jenggala Manik. Mosok yo putri bupati
adus nang kali. Piye nalar-e?
PENABUH SARON Jeneng-e wae crito Pak Dalang. Nalar kuwi isok dipahami nek sik
onok gandheng renteng-e karo kronologi. Bene alur-e Lembusuro ketemu dalan-e. Misal-e
Lembusuro urip maneh, terus dia mau apa? Mau kemana? Ketemu siapa? Masak yo tiba-tiba
menghilang begitu saja. Sementara perang Rama dan Rahwana di depan mata.
DALANG (diam dan berpikir)
PENABUH SARON Kita letakkan Pangeran Lembusuro di tempat lain, jauh dari
kronologi Rama. Nah, kita gak perlu mbubrah-ne Pakem Ramayana.
DALANG Tapi nalar-e putri seorang Bupati mandi di kali itu, sulit bisa diterima. Bupati
itu bangsawan, seorang ningrat, gak cetho nek putri ningrat ngumbar aurat.
PENABUH SARON Jeneng-e ae crito tho Pak. Bener opo ora, sing penting kronologi-ne
gak putus.
DALANG Terus wayang-e?
PENABUH SARON Kita bikin perwatakannya (lalu menuju ke tempat Saron) Ayo Pak
Dalang kita mainkan.....
DALANG (menurut dan duduk bersila)
SUARA SARON DIMAINKAN. SOSOK WAYANG DEWI KILISUCI MASUK DARI KIRI DAN
MENARI. SOSOK WAYANG LEMBUSURO MASUK DARI KANAN. TERJADILAH ADEGAN
PENCULIKKAN.

4. DI BAWAH KAWAH GUNUNG KELUD


MPU GANDRING DUDUK BERMEDITASI. JENGGALA MANIK BERSAMA PUNGGAWANYA
MUNCUL DARI SISI KANAN.

JENGGALA MANIK (emosi) Mpu Gandring, apa maksud dari semua ini?
MPU GANDRING (tetap bermeditasi) Okh, akhirnya, Sinuwun datang juga ke sini.
JENGGALA MANIK Dimana putriku kau sembunyikan?
MPU GANDRING Aku tahu, pertanyaan itulah yang akan Sinuwun sampaikan.
JENGGALA MANIK Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semua ini adalah sandiwaramu.
Kau bangkitkan Lembusura dari kematiannya, dan kau jugalah yang menyuruh dia untuk
menculik putriku. Apa maksud semua ini?
MPU GANDRING Sandiwara? Sandiwara apa yang kumainkan?
JENGGALA MANIK (marah) Pengawal.... tangkap dia!
DUA PENGAWAL JENGGALA MANIK BERSIAP MENANGKAP. TAPI, KETIKA TANGAN MPU
GANDRING TERENTANG KE KIRI DAN KANAN. DUA PENGAWAL ITU ROBOH.
MPU GANDRING Ini bukan peta kekuasaan Sinuwun. Ini kawah Kelud, Sinuwun. Di
sini, pasukan Sinuwun tak ada artinya. Mereka hanya wayang-wayang. Mereka tak punya
apa-apa, kecuali sang Dalang memainkannya. Suara mereka adalah suara Dalang. Dan di
sini, Dalang-nya adalah saya.
JENGGALA MANIK (terkaget mundur) Dalang macam apa kamu. Lembusuro mati di
Kiskenda. Kau pun mati di tangan Ken Arok. Tapi, kalian hidup kembali.... Okh, lakonmu ini
bisa menganggu arah kavaleri Rama menuju Alengka. Bagaimana mungkin Rama bisa
memenangkan perang jika jalan-jalan dilaluinya dipenuhi ular-ular berbisa sepertimu, dan
Rahwana akan memenangkan hati Shinta.
MPU GANDRING Mungkin-kah aku bisa diperdaya seorang pencuri dan dibunuhnya?
(tersenyum) Sejarah itu bukan jalan yang lurus, kadang penuh belokan. Toh, Rahwana tak
mungkin menikahi putrinya sendiri.
JENGGALA MANIK (terdiam)
MPU GANDRING Ini semua adalah buah dari kelicikan Sinuwun sendiri. Bukan saya
yang membangkitkan Lembusuro dari kematiannya. Lembusuro tidak menculik Kilisuci. Tapi
dia berhak atas piala yang sudah dia menangkan.
JENGGALA MANIK Oh, putriku yang malang.
MPU GANDRING Biarlah Kilisuci membuang kutukan yang menimpa Pangeran
Lembusuro.
JENGGALA MANIK Kutukan apa?
MPU GANDRING Lembusuro tidak seperti yang Sinuwun lihat. Dia bukan manusia
berkepala kerbau. Dia sama seperti manusia kebanyakan. Dia mencintai putri Kahyangan.
Jelas itu pantangan buat manusia. Manusia tak mungkin menikahi bidadari. Langit tak
mungkin disatukan dengan bumi, karena itu akan mengakhiri kekuasaan tanpa batas Para
Dewa. Pangeran Lembusuro pun dikutuk. Hanya ada satu cara mengakhiri kutukan itu,
Lembusuro harus menikahi sesama manusia.
JENGGALA MANIK Apakah Lembusuro akan pulih jadi manusia?
MPU GANDRING Ya, tentu saja.
DARI SISI KIRI, MUNCUL DEWI KILISUCI BERJALAN BERIRING DENGAN SEORANG
PANGERAN. BEGITU MELIHAT JENGGALA MANIK, DEWI KILISUCI LANGSUNG BERSUJUD DI
BAWAH KAKI AYAHNYA ITU.
DEWI KILISUCI Maafkan aku ayah....! Aku tak bisa menjaga diriku. Aku tak mungkin
menolaknya. Aku tak mungkin mengunci hatiku dari kehadirannya. Dia menikahiku tanpa
kehadiran ayah. Maafkan aku ayah! Aku tak bisa selamanya lari dari kejarannya. Aku
ditangkapnya, ayah. Dan sekarang, dia adalah suamiku. Maafkan aku ayah! (meratap).
PANGERAN LEMBUSURO (duduk tersujud tak jauh dari posisi Jenggala Manik
berdiri)
JENGGALA MANIK (terheran-heran melihat Pangeran Lembusuro) Kamukah,
Lembusuro itu?
PANGERAN LEMBUSURO Iya, Sinuwun.

SAMAN DIMAN
1. DI DALAM KAWAH GUNUNG KELUD
PANGERAN LEMBUSURO MEMENDAM AMARAH, KARENA DEWI KILISUCI TELAH
MENGKHIANATI CINTANYA. DIA, TAK MENDUGA, BAHWA PERMINTAAN DEWI KILISUCI UNTUK
MEMBANGUN SEBUAH SUMUR DI DASAR KAWAH GUNUNG KELUD, HANYALAH REKAYASA
UNTUK MEMBUNUHNYA. DEWI KILISUCI BERSAMA PENGAWAL-PENGAWALNYA MENJATUHKAN
BATU-BATU KE DASAR KAWAH DAN MENGUBURNYA HIDUP-HIDUP.
PANGERAN LEMBU SURO (memainkan tari pecut, dengan dua penari di
belakangnya membentuk pola bayangan) Pecut iki wates antarane urip lan pati, wates
antarane impen lan paribasan. Kilisuci, atimu cidra kebak wisa. Mrenea cah ayu, tak
pungkasi kedung atimu. (bergeser ke kiri, sedang dua penari lain seperti jatuh ke sisi kanan
dan tetap menari dengan posisi rebah)
PANGERAN LEMBU SURO Kilisuci, utang pati digawa mati. Durung rampung aku
gawe tegalan getih (menarik paksa seorang penari ke kanan) udan getih saka anak
turunmu, tangia saka wadagmu, seksenana semburat anak turunmu kang ngaruara ing
ngisor udan wedi, udan dhemit, udan paribasan, tangia saka wadagmu Kilisuci (memegangi
wajah penari itu dengan sebelah tangan, dan sebelah tangan lain melecutkan cemeti ke
tanah dengan amarah, lalu melepaskan penari itu sampai jatuh)
PENARI YANG LAIN BERDIRI, MENCOBA LARI KE BALIK POHON. PANGERAN
LEMBUSURO CEPAT MENANGKAP TANGANNYA. SI PENARI JATUH LUNGKRAH. PANGERAN
LEMBUSURO MEMEGANGI PINGGANG PENARI ITU.
PANGERAN LEMBUSURO Ojo ndelik ing ragane pedhut awit bunthut ayangayangmu wis tak cekel, tak pungkasi atimu karo pecut iki, seksenana anak turunmu sing
karanta-ranta mlebu desa metu desa yo mung golek slamet saka amuku, amuk katresnan
kang wis kowe cidrani, tak pungkasi pasuryanmu kilisuci, saiki lan sesuk.
EMPAT SOSOK GENI KINUJAR KELUAR DENGAN MEMBAWA GUNUNGAN WAYANG
BERGAMBAR API. GENI KINUJAR, ADALAH LIDAH LAHAR KELUD. MEREKA MENARI
MEMBENTUK SUNGAI LAHAR DI SEKELILING PANGERAN LEMBUSURO.
GENI KINUJAR Geni kinujar, kepyar gawe latar, geni kepyar mbukak gebyar,
manungsa tanpa aran lungkrah ing tegalan lan mati tanpa jalaran, geni kinujar, kepyar gawe
latar (semula menari dalam pusaran melingkar, kemudian menyebar)
PANGERAN LEMBUSURO MENGHILANG DENGAN MEMBOPONG SEORANG PENARI.
GENI KINUJAR MEMBENTUK PUSARAN GELOMBANG API LEWAT TARIAN. MEMUTARI PENARI
YANG JATUH REBAH DI SISI KIRI. PENARI ITU, PERLAHAN-LAHAN BANGUN, IKUT MENARI
DALAM RITME GENI KINUJAR.
DARI DUA SISI PANGGUNG, MUNCUL DUA GAPURA YANG DIBOPONG ORANG-ORANG.
DUA GAPURA ITU BERGERAK MENYATU KE TENGAH, DAN MENUTUP. DUA GAPURA ITU
KEMUDIAN MEMBUKA LAGI. SAMAN DIMAN MUNCUL DI TENGAH-TENGAH DUA GAPURA ITU.
DIA ADALAH BUPATI BLITAR. BERPAKAIAN HITAM-HITAM KOMPRANG, MEMEGANGI CEMETI DI
TANGAN KANANNYA. DIPANDANGINYA GENI KINUJAR YANG MENARI MEMUTARI SEORANG
PENARI.
SAMAN DIMAN (melecutkan cemeti ke lantai satu kali) penyawangmu setan, ojok
mbukak regol ndesaku, ojok mbukak klambu omahku, anak-anakku durung duwe
wangsulan, anak-anakku isih timun

GENI KINUJAR MENARI, DAN SEAKAN MELEMPARKAN TUBUH PENARI KE TENGAH


RUANG. SAMAN DIMAN, CEPAT MENANGKAP TUBUH PENARI ITU, MEREBAHKANNYA HATIHATI, LALU BERDIRI MENANTANG GENI KINUJAR.
GENI KINUJAR Geni kinujar, kepyar gawe latar, geni kepyar mbukak gebyar,
manungsa tanpa aran lungkrah ing tegalan lan mati tanpa jalaran, geni kinujar, kepyar gawe
latar
SAMAN DIMAN Oh geni ojo guyu ngakak-ngakak kayak gagak ora duwe tata, lungaa, lunga saka regolku, aku isih lanang senajan umurku wis separuh jagad, aku isih satriya
senajan ragaku wis rada lena, iki tilas sejating angin, iki ing genggemanku (menghantarkan
cemeti ke pusaran Geni Kinujar. Seperti sebuah pertarungan, Saman Diman berusaha
membentengi dua gapura dari amuk api)
SAMAN DIMAN Iki pecutku, iki wangsulanku.... (melecutkan cemeti menghalau Geni
Kinujar dari batas kampungnya)
GENI KINUJAR PECAH MENYEBAR DAN HILANG KE EMPAT PENJURU. SAMAN DIMAN
MEMANGKU PENARI YANG TADI JATUH DIAMUK GENI KINUJAR.
SAMAN DIMAN Jaman malih rupa, Nyai, iki jaman tanpa tata, sing becik tinemu pati,
sing durhaka ngakak-ngakak ing dhuwur-e geni, Oh Nyai, ojo ninggal dalan tegalan, ojo
ninggal lakon sing durung klakon (menangis, dipeluknya tubuh penari itu erat-erat) Ohh,
Nyai....
SEORANG WANITA TUA MASUK MEMBAWA DUPA KEMENYAN. BERJALAN MEMUTARI
SAMAN DIMAN. BEBERAPA PRIA MASUK, MELEPAS PELUKAN SAMAN DIMAN DARI TUBUH
PENARI, LALU MEMBUNGKUS PENARI ITU DENGAN DAUN PISANG DAN MEMBOPONGNYA
KELUAR. SAMAN DIMAN MASIH TERPAKU MEMANDANGI KEPERGIAN SI PENARI.
WANITA TUA Lakon iki durung bubar, Ki. Pedhut kandhel dudu pungkasane lakon, iki
mung sacuil sejarah sing kudu ditapaki. Ayo Ki.... (menggandeng Saman Diman masuk)
DUA GAPURA BERGESER KELUAR, DIIRINGI MUSIK SARON.

2. PANGGUNG BERLATAR GUNUNGAN


PANGGUNG BERLATAR GUNUNGAN BESAR. DARI KIRI, DEWI KILISUCI MUNCUL DAN
MENARI TANPA MUSIK. SATU-SATUNYA SUARA ADALAH SUARA TANGISANNYA. DIA MENARI
DENGAN MENANGIS.
DEWI KILISUCI Paribasanmu ora tak ngerteni Mahesa Sura, aku ora duwe
wangsulan marang pitakonmu kuwi (jatuh terduduk, lalu merangkak ke arah Gunungan,
meraba permukaan Gunungan) ana samudra ing antarane kita, aku ing jagad ayang-ayang,
kowe ing jagad kamurkan, ojo digagas pasuryaning rajapati (mencabut Gunungan dan
menari dengan Gunungan di tangannya) kamurkanmu mung saur sinawur karo dhemit,
sarungna maneh kamurkanmu, Mahesa Sura.
MUSIK MULAI TERDENGAR. MAKIN LAMA MAKIN RANCAK. DEWI KILISUCI BERGERAK
KE BELAKANG, MENANCAPKAN GUNUNGAN, LALU JATUH DENGAN TANGAN MASIH
MEMEGANGI TANGKAI GUNUNGAN.
MUSIK JARAN KEPANG MULAI TERDENGAR. PARA PENARI JARAN KEPANG MENARI
MEMUTARI RUANG. LALU, TERDUDUK MEMBENTUK LINGKARAN.
PENARI JARAN KEPANG Ora ana tilas manungsa nang kene, kabeh mung awu lan
pereng kayu, omah-omah tanpa tembang, wit-wit tanpa angin,ya mung sacuil pitakon ing

rengkahing lemah, tlatah iki wis dadi tlatah durga, kamurkaning Mahesa Sura tansaya
sumebar lan gumelar kaya suing-siung macan luwe, rembulan rengat kaya digadha malekat.
EMPAT SOSOK GENI KINUJAR MUNCUL DARI DUA SISI PANGGUNG. MENGEPUNG PARA
PENARI JARAN KEPANG.
GENI KINUJAR Sopo iki sing ngadheg ing panyawanganku? Saka endi
dumunungmu? Minggira saka dalanku, minggira saka prapatan wengi iki, ilat landhepku
durung rampung gawe kutho, durung rampung mindhah pedhut dhemit saka jerone sumur
Kelud. Minggira manungsa! Minggira yen isih eman marang umurmu! Minggira saka
panyawangku yen isih eman marang kamanungsanmu! (menyerang penari Jaran Kepang)
TERJADI PERANG, ANTARA GENI KINUJAR DAN PENARI JARAN KEPANG. SAMAN DIMAN
MUNCUL DI TENGAH PEPERANGAN.
SAMAN DIMAN Angin mawut, pecutku mecah pedhut nggiring lahar ucal saka regol
wates dhesa, Blitar isih crita kang durung bubar (berada di tengah-tengah Geni Kinujar) Oh
lahar ojo nyedak, ojo nguber ayang anak-anakku, awit anak-anakku isih tak genggem
kamanungsane, anak-anakku isih nandur crita lan lagu dolanan. (Melecut-lecutkan cemeti ke
tanah) Oh lahar ojo nyedak, iki wangsulanku, iki pangertenku, iki donya lelakuku, iki
pecutku, iki crita Blitar kang durung bubar
GENI KINUJAR Manungsa minggir, lahar arep liwat, manungsa minggir, lahar lagi
kumat (mengamuk)
SAMAN DIMAN Tamatna panyawangku, panyawang Singo Ludro, penyawange
satriya lan kamanungsan, iki tamatna cahyane pecutku, pecut kang sumunar gawe padang
dalan tegalan.
GENI KINUJAR KALAH DAN MENYINGKIR PERGI. SAMAN DIMAN TETAP MENGEJAR GENI
KINUJAR KELUAR.
DIIRINGIN MUSIK BERNADA SEDIH, DEWI KILISUCI MELEPASKAN PEGANGANNYA PADA
TANGKAI GUNUNGAN. PANGERAN LEMBUSURA MUNCUL.
DEWI KILISUCI Aku dudu kembang dilarung gawe rebutan. Geni katresnanku dudu
jalma kang isok diunduh. Oh, satriya pinilih, ojo dadi penggalihmu. Wisik atiku dudu
paribasan sing isok digebyar dadi wangsulan (mendekat Pangeran Lembusuro dan jatuh di
kaki Pangeran Lembusuro) Pitakonmu, ing angen-angenku, apadene gogrokan godhong
garing ing mangsa ketiga. Oh, satriya pinilih, ojo meksa mbukak klambu lelakuku. Aku dudu
kembang dilarung gawe rebutan
PANGERAN LEMBUSURO Ananging, Dewi. Lara-larane ati kadung lungkrah ing
kene, ojo digusah, awit aku dudu pagebluk siang arep gawe ontran-ontran (membimbing
Dewi Kilisuci untuk berdiri) Nadyan sakabehing bathara mudhun lan nutup lawangmu,
kekarepanku apadene lindu, apadene atusan gunung tinabuh dadi tembang. Tembang iki
kadung sumebar, kadung miyak grumbulan pring, ateges regol langit ya mung sajangkah
saka ayang-ayangku.
DEWI KILISUCI MELEPASKAN DIRI DARI PEGANGAN PANGERAN LEMBUSURO, LALU
MENJAUH.
PANGERAN LEMBUSURO Dewi, ojo gawe wates antaraning swaramu lan
panyawanganku, lumantar getih penggalihku wis munggah tlundakan nuju khayangan.
DEWI KILISUCI Ojo digawa nepsu, oh Satriya. Ojo kelangan kiblat jalaran nepsu.
Muliha nang guwa Trawangan, muliha nang garba kaweningan. Kodrat kita misah, apadene
langit lan bhumi (bergerak ke belakang. Dua tabir kain putih masuk dan menyelubungi
tubuh Dewi Kilisuci)

PANGERAN LEMBUSURO BERUSAHA MENGEJAR DEWI KILISUCI. TAPI TABIR KAIN PUTIH
ITU SEPERTI BATAS WAKTU ANTARA PANGERAN LEMBUSURO DAN DEWI KILISUCI.
MAHESA SURA Ora Dewi, aku durung gelem mulih, yen prabawaning esemmu
durung ilir ing jero ragaku. Wis kadung aku oncat saka semedhiku, wis kadung katresnanku
sekar ing kene (berdiri diapit dua Gunungan putih). Nadyan jalmamu mumbul mabur ing
walik-e srengenge, tak uber kanthi dhadha kemejer. Selehna atimu ing genggemanku, Dewi.
Paribasan-e, yen sliramu njaluk rembulan, tak unduh-e rembulan lan tak seleh ing
genggemanmu. Atiku tetep jejeg ora malih rupa cah ayu
SOSOK DEWI KILISUCI JADI BAYANG-BAYANG DI BALIK TABIR KAIN PUTIH.
DEWI KILISUCI Nanging Satriya, atiku kadung pikunjara ing jero trembesi, atiku wis
kelemake ing jero sumur Kelud, ing jero lahar mulat-mulat, aku mung ayang-ayang, aku
dudu tilas udan sing cumenthel ing wernane kembang
PANGERAN LEMBUSURO Kilisuci, ojo dadi paribasan. Wangsulana panjeritku.
Kilisuci....(menjerit dan jatuh terduduk)
DUA GUNUNGAN BESAR MASUK DARI DUA SISI PANGGUNG. MENUTUP SOSOK
PANGERAN LEMBUSURO. SAMAN DIMAN MASUK, SAMBIL MEMAINKAN SITER, LALU DUDUK
MEMBELAKANGI DUA GUNUNGAN.
SAMAN DIMAN Dhalang wis mbukak crita, suluk wis mawerna rupa ing layar,
wayang tinancep, ananging jagad suwung, tanpa manungsa tanpa jalaran. Regol iki tanpa
crita. Regol iki ayang-ayang mati. Oh, menyang endi jalma manungsa lunga?

POHON SUMI DALAM BELITAN ULAR


TOKOH
SUMI, pria tua mantan pemain teater
SUSILO, sahabat masa kecil Sumi
MILA, pacar gelap Sumi
ADI, anak gelap Sumi dan Mila

BABAK 1
LAMPU MERAH MENYINARI KURSI KAYU DI TENGAH RUANG. SUMI TUA ITU BERJALAN
TERBUNGKUK-BUNGKUK MENCARI SESUATU, TAPI TAK PERNAH MENEMUKAN APA YANG
DICARINYA.
SUMI Apa yang kucari sekarang? Okh, segalanya sesuatunya tampak samar. Apa
malam ini datang kelewat cepat? Atau, aku yang sudah mulai lamban menangkap
perubahan? Kaca mataku! Okh, kaca mataku! Okh, Tuhan segalanya mulai remang, teramat
remang, teramat sulit kupahami. Aku sudah lamban, teramat lamban.... (mengeluh) Sus!
Sus....! Dimana anak nakal itu! Sus....! (berteriak) Sudah kubilang, berkali-kali kubilang,
jangan jauh-jauh dariku, penglihatanku sudah mulai berkurang, seharusnya dia tak jauhjauh dariku....seharusnya dia menuntunku, memapahku, tidak membiarkanku seperti
ini....tidak seperti si buta mencari-cari kaca mata yang entah dimana? Sus....Sus, dimana
kamu?
SUSILO (muncul diam-diam) Opo tho Sum? Nyari apa lagi...!
SUMI Kamu ini kemana saja tho? Jangan kemana-mana! Jangan jauh-jauh
tho....Langkahku sudah tak jauh lagi, penglihatanku berkurang banyak, aku butuh tanganmu
buat menuntunku...
SUSILO Iya, kamu nyari apa lagi? Sudah tau kayak gitu, harusnya kamu gak usah
memaksakan diri...
SUMI Aku capek, mana kursiku...tuntun aku ke sana!
SUSILO Di sini saja, aku ambilkan sebentar!
SUMI Tidak, biar saja kursi itu tetap di tempatnya, tuntun saja aku ke sana.
SUSILO Apa bedanya! Toh, kamu tetap bisa duduk.
SUMI Beda dong! Jika kamu geser kursi itu ke sini, berarti aku sudah tua, dan aku
tak bisa berjalan lagi ke kursi lamaku. Biarkan aku ke sana, biar bisa kurasakan waktuwaktuku yang sudah hilang, biarkan aku merasakan berjalan menikmati hari-hari lamaku
itu.
SUSILO Kamu ini sudah tua. Gak usah sentimentil. Gak usah mengingat-ingat yang
sudah lewat. Kita ini sudah di ujung jalan.... bentar juga dut! Game over! Jadi, gak usahlah
mengumpulkan halaman-halaman buku yang tercecer.
SUMI Wis ngerti. Gak usah diingatkan. Ngece ya kamu!
SUSILO Ngece piye tho? Aku lho sak umuranmu, bedane penglihatanku masih
waras. Nalarku juga waras. Aku yo wis tuwek, tapi kunikmati masa tuaku. Aku ora ngoyo.
SUMI Papah aku ke kursi itu!
SUSILO Tunggu di sini. Aku ambilkan.
SUMI Papah aku ke sana!
SUSILO Di sini saja.
SUMI Antar aku ke sana. Aku mau merasakan lagi waktu-waktu yang lama itu.
SUSILO Waktu-waktu itu sudah hilang. Satu-persatu teman kita mati dan dikubur
sejarah. Sekarang mereka tak bisa bermimpi lagi, apalagi berpikir tentang kursi kekuasaan.
Orang datang dan pergi. Anak-anak baru sudah datang dan mengisi kursi-kursi kita. Merekalah yang melanjutkan....

SUMI Mereka masih kecil. Mereka gak tahu apa-apa. Mereka gak tahu panggungpanggung yang dulu kita mainkan. Mereka gak tahu betapa meriahnya. Dan betapa
hebatnya kita memainkan lakon-lakon kita. Anak-anak kecil itu gak tahu semua itu. Mereka
tahu-tahu datang dan naik pohon-pohon yang kita tanam dengan susah payah, mencuri
buah-buahnya dan lari.
SUSILO Itulah sejarah, Sum. Mereka bangkit kita tumbang. Mereka tumbang anakanak mereka menggantikan mereka, begitu seterusnya. Tak usah mengingat lakon-lakon
lama itu. Gedung tua itu sudah tutup dan sekarang jadi swalayan, tak ada secuilpun ingatan
yang bisa dibaca. Penonton-penonton kita yang dulu, kebanyakan sudah mati. Lagian, lakon
yang kamu banggakan itu, bukanlah lakon yang bagus....
SUMI Maksudmu, itu lakon jelek?
SUSILO Ya. Toh, aku tak pernah dapat peran yang bagus, kecuali cuma peran-peran
kecil sebagai perampok, pengemis... dan tak satu pun penonton yang mau mengingatku.
Sedang kamu, selalu dapet peran utama, semua cewek menggilaimu. Panggung itu milikmu.
Semua lakon itu adalah dirimu. Selain kamu, semuanya adalah tanda baca, tak terkecuali
aku. Ingatan macam apa yang mau aku ingat?
SUMI Sudah, sudah... Aku capek, aku mau duduk. Kakiku gemetaran kalau kupakai
berdiri lebih lama. Papah saja aku ke sana!
SUSILO Kemana?
SUMI Ke Kursi lamaku.
SUSILO Tapi, kursi itu sudah nggak ada.
SUMI Nggak ada piye tho. Kemarin aku masih duduk di sana.
SUSILO Kursi itu sudah kujual.
SUMI Dijual? Hah (kaget) Buat apa? Kamu nggak punya duit? Kok gak ngomong?
Heh, apa kau nggak tahu betapa berharganya kursi itu buatku.
SUSILO Justru karena itu aku jual. Kursi antik itu harganya cukup mahal. Aku juga
butuh duit cukup banyak.
SUMI Duit? Buat apa?
SUSILO Si Mila Mblendhing. Aku butuh duit buat persalinannya.
SUMI Mila siapa? (berpikir sebentar) Eh, cewek Semampir itu-kah?
SUSILO Iya.
SUMI Lha kok kamu sing mbingungi. Mblending opo ora itu resikonya jadi cewek
Semampir. Tiap hari dipake yo jelas Mblending. Lha kowe iki, wis tuwek polah-polah....
SUSILO Kuwi sing jenenge menikmati usia tua....
SUMI Menikmati piye? Nek wis blendhing koyok ngono piye coba? Dodolan kursi tua
sing duwe nilai sejarah?
SUSILO Sejarah apa? Sejarah yang sudah mati. Sejarah yang sudah ditinggal orangorangnya pergi ke dalam kuburan. Gak kayak sejarah yang aku bikin.....sejarah yang
berpeluh dan penuh perjuangan....
SUMI Perjuangan ndasmu mletek kuwi! Sejarahmu merugikan orang lain. Kursi tua
kesayanganku kamu jual...dasar....! (kesal) Ambilkan kaca mataku... aku mau baca buku....!
SUSILO Kaca matamu juga sudah aku jual....
SUMI Ealah, sejarahmu bener-bener berbelit.... (terbatuk-batuk) Tolong Ambilkan
aku air... air.... Sus!
SUSILO (bergegas keluar)
SUMI (tertatih-tatih menuju kursi) Duh, capeknya.... Eh, bukankah ini kursi tuaku itu
(mengamati gagang kursi) Benarkah? Bukankah tadi Sus bilang telah menjualnya? Apa aku
nggak salah dengar tadi... akh, tidak! Benar, tadi dia bilang sudah menjualnya...
SUSILO (menyodorkan segelas air)
SUMI (minum air) Bukankah, ini kursi tuaku itu Sus? Kau bilang sudah menjualnya,
tapi kok masih di sini.
SUSILO (sedikit tergugup) Ekh... bukan.... bukan....! Ini bukan kursi yang sama. Kursi
tua itu tak mungkin kembali, dia menemukan tuannya yang baru, dia menjalani
petualangannya yang baru... Semua kursi kelihatannya sama...
SUMI (diam sebentar) Sus, apa menurutmu aku kelihatan sudah cukup tua?

SUSILO Ya. Kenapa?


SUMI Setua apa? Apa aku sudah tak pantas memainkan lakon-lakon lamaku? Okh,
aku pengen memainkannya lagi.... Akh, dialog-dialog lama itu masih bisa kuingat.... ya....
aku bisa mengingatnya! (berdiri) Sus, kau berdiri di sana! Kita mainkan drama Faust seperti
dulu....
SUSILO Nggak mau! Mainkan saja sendiri...
SUMI Bagaimana bisa? Tanpa Mephisto, Faust tak ada artinya apa-apa.
SUSILO Aku bosan jadi setan.
SUMI Cuma kamu yang bisa memainkannya. Sosok itu melekat padamu. Karaktermu
kuat. Seakan sosok Mephisto itu menyusup di dalam suaramu. Tak ada pemain lain yang
bisa menggantikanmu. Kamu ingat kan, dulu ketika kamu sakit, dan peranmu itu dimainkan
si Salim.... akh, rasanya saat itu aku kehilangan energi membangkitkan konflik. Salim itu,
gak ngerti apa-apa, dia cuma menghapalkan dialog, tidak lebih. Kau-lah Mephisto itu...
SUSILO Maksudmu, aku persis setan? (sedikit emosi)
SUMI Bukan cuma mirip. Kamu-lah setan itu....
SUSILO Dan setan itu yang setia menemanimu, menemani kesia-siaanmu di usia
tua. Begitukah?
SUMI Ya. Setan itu juga yang telah menjual satu-satunya ingatan terbaiku. Tak ada
barang yang paling kucintai selain kursi tua itu. SUSILO Aku bukan Mephisto, Sum. Aku
cuma pria bodoh yang gampang kamu perdayai. Dan sekarang aku cuma melihat mayat tua
yang cuma memandangi masa lalunya. Mayat itu, cuma duduk di kursi, memandangi lalu
lintas yang tak ia ketahui.
SUMI Hah, Kamu pengen aku cepet mati?
SUSILO Itu lebih baik. Daripada aku mendengar ocehan-ocehan gilamu itu. Kita ini
sudah tua, Sum. Hanya kematian satu-satunya yang bisa kita tunggu. Jika kematian itu
datang, ingatan tentang panggung-panggung lama itu turut dikubur. Tak ada yang
mengingat kita. Mephisto yang hebat itu bener-bener jadi setan sungguhan. Faust-pun cuma
bangkai yang dikerubuti cacing-cacing....
SUMI Ndasmu mlethek.. (berdiri dan tertatih-tatih keluar)

BABAK 2
SEBUAH RUANG TATA RIAS DI BELAKANG PANGGUNG. POPI BERJALAN GELISAH.
SUSILO (muncul dari pintu sebelah kiri) Sudah di sini, Pop. Nunggu Sumi ya? Akh,
seperti itulah bintang panggung, banyak yang nunggu-nunggu, dipuja sana-sini. Heh, beda
kayak aku ya, tiap pentas cuma kebagian peran jelek mulu, sekarang jadi penjahat, besok
penipu, lusa orang gila atau setan (berjalan ke meja rias). Kamu lihat, seperti apa aku
diriku? Bahkan, aku saja tak mengenali diriku. Karakterku dipisah dari hari-hariku. Wajahku
dipoles seperti pecahan-pecahan gelas. Seperti jahitan yang bikin anak-anak kecil lari
ketakutan. Mereka tak mengenaliku, bahkan tak perduli siapa diriku. Beda dengan Sumi, dia
selalu bisa memenuhi impian semua wanita (tertawa sinis)
POPI Kamu ini ngomong apa sih? Apa kaitannya diriku dengan semua yang kamu
pikirkan itu. Ke sini, aku cuman mencari Sumi. Itu saja.
SUSILO Aku tahu masalahnya apa... (sambil membersihkan riasan wajahnya) Yah,
aku memang tak berdiri di antara kalian. Tapi, tak sadarkah dirimu, kalau aku sudah berdiri
di antara kalian. Aku tahu, sejauh mana hubunganmu dengan Sumi. Aku tahu semuanya.
Aku dengar semua desahan-desahan kalian....
POPI Hah, kamu mengintip ya? (kesal)
SUSILO Nggak seperti itu... Aku cuman nguping dari sebelah kamar. Dan itu, benarbenar membuatku tak bisa tidur. (diam sebentar) Cukup lama aku kenal Sumi. Kami samasama ditinggalkan orang tua kami. Sejak kecil kami menggelandang di pasar, makan apa
adanya, jika beruntung kami bisa makan sisa makanan yang dibuang, kadang kami suka
berebut makanan dengan kucing-kucing liar. Yah, kami sama-sama tak punya masa lalu.

Kami seperti dijatuhkan di sebuah tempat sampah. Dan di tempat sampah itulah, kami
belajar bertahan hidup. Kami sama-sama liar, Pop. Kami sama-sama tak punya harapan....
POPI (diam dan mendengarkan)
SUSILO Jangan bilang, aku tak tahu semuanya tentang Sumi. Tentang semua wanitawanitanya. Aku bisa bedakan siapa wanita-wanita itu. Aku tahu semua itu....
POPI Aku juga tahu itu. Sumi adalah bintang panggung. Siapapun wanita akan
memuja-mujanya.
SUSILO Kamu nggak cemburu?
POPI Buat apa? Toh, aku cuma gundik Meneer Pieters. Sumi bagiku cuma permen
karet yang bisa kukunyah dan kumuntahkan kapanpun aku mau. Ini cuma permainan kecil
buatku....
SUSILO Permainan kecil?
POPI Berapa kali kau mainkan peran Mephisto?
SUSILO Sering. Kelewat sering. Bahkan, sulit bagiku membedakan kapan aku berada
di atas panggung kapan aku di luar panggung. Mephisto seolah diriku sendiri...
POPI Sepertinya kamu gagal memerankannya. Kau gagal mengendalikan Mephisto
itu di dalam dirimu. Mephisto itu-lah yang merebut kehidupanmu. Kamu dan Sumi sama
saja. Bocah-bocah kecil yang dimakan masa lalu. Kalian merasa hidup kalian kejam. Kalian
melampiaskannya di atas panggung. Tidak sepertiku....aku menikmati detik demi detik
permainanku. Aku tahu bagaimana jadi gundik Meneer Pieters yang lugu, dan
menjadikannya begitu mencintaiku. Di saat lain, aku begitu binal di depan Sumi. Aku kontrol
penuh pikiran dan perasaan Sumi, menjadikan dirinya seperti pria yang begitu digilai
wanita. Padahal tidak. Aku hanya mempermainkannya (tertawa kecil) Akh, lebih baik aku
tunggu di luar saja (keluar)
SUSILO (bergumam) Bisaku cuma menunggu...
SUMI (muncul dan menuju meja rias) Nunggu apa Sus?
SUSILO Menunggu setan itu berhenti memainkan musiknya....
SUMI Lalu...
SUSILO Entahlah.... Mungkin pergi ke suatu tempat dimana aku tak bisa
mendengarkan musik itu.
SUMI Ngomong opo tho, Sus? Mau pergi kemana? Di luar tempat ini kita hanyalah
sampah. Kotoran. Kau ingat, bagaimana kita bisa sampai di tempat ini. Kita ini bukan apaapa. Bukan siapa-siapa. Kita dibuang orang tua kita. Kita juga tak tahu alasannya apa?
Mungkin kita hasil perselingkuhan. Kita adalah bayi yang tak diinginkan. Kita hanyalah dua
ekor tikus yang berkejaran di pasar. Satu-satunya yang kita tahu tentang orang tua adalah
Mbah Kusni Kasdut. Tapi gelandangan tua itu sudah lama mati. Bahkan dia juga tak bisa
cerita apa-apa tentang masa lalu kita....
SUSILO Apa pentingnya masa lalu itu? Toh, kita tak memilikinya. Tak pernah
memilikinya. Kecuali, saat Pak Timbul menemukan kita, mengajari kita memainkan peranperan di atas panggung. Saat itulah, kita tahu artinya masa lalu. Setiap tokoh yang kita
mainkan punya masa lalu. Tapi tidak dengan kita. Kita hanya memainkan masa lalu orang
lain.
SUMI Jika kita tak memiliki masa lalu. Setidaknya kita masih memiliki masa depan.
Gedung teater ini adalah rumah kita sekarang.
SUSILO Sampe kapan, Sum? Sejarah suatu saat akan berbalik arah. Sekarang,
setiap orang memandang teater adalah hal luar biasa. Mereka suka menunggu-nunggu
pementasan kita. Mengelu-elukan kita seakan kita malaikat jatuh dari langit. Bahkan,
mereka pun hapal dialog-dialog kita. Tapi nanti....? Apakah segalanya akan sama?
Sementara kita bertambah tua. Dan penonton kita pun kita tua dan mati. Suatu saat,
gedung ini akan ditinggalkan (mengeluh)
SUMI (mendengarkan sambil berganti pakaian)
SUSILO Bisaku cuma menunggu.
SUMI Jika saat-saat itu benar-benar datang, kamu mau pergi kemana? Saat itu, pasti
kita sudah tua sekali. Kan gak mungkin kamu balik ke pasar dan jadi tikus lagi. Apa kamu
mau gantiin Mbah Kusni Kasdut? Jadi gelandangan?

SUSILO Entahlah.... (diam sebentar) Popi, nunggu kamu di luar.


SUMI Oh, baiklah. Tapi nanti, mungkin aku nggak pulang.
SUSILO Pergi kemana? Kamu mau nginap di rumahnya? Gila, kamu? Kalau Meneer
Pieters datang bagaimana? Dia bisa bunuh kamu....
SUMI Oh, ternyata Popi sudah cerita semuanya....
SUSILO Ya, semuanya..... Dia juga bilang, bahwa kau hanya boneka
permainannya....
SUMI Bisaku cuma menikmati. Biarlah aku jadi bonekanya. Toh, di panggung ini aku
juga bonekanya Pak Timbul. Apa bedanya. Kalau pun Meneer Pieters membunuhku, itu jauh
lebih baik, setidaknya aku bisa mati lebih cepat.... daripada jadi tua dan melihat orangorang meninggalkan gedung ini (tertawa kecil)
SUSILO Wong Edan....!
SUMI Nek ora edan ora keduman. Kita kudu ikut edan biar gak ketinggalan jaman
(tertawa dan pergi)

BABAK 3
UPACARA PENGUBURAN SUMI. SATU PERSATU PEZIARAH PULANG. HANYA TERSISA
SUSILO, ADI, DAN MILA YANG TENGAH HAMIL.
SUSILO Dia tidak mati, Di. Dia hanya sedang pergi ke suatu tempat dan ingin
menyendiri. Sebentar lagi, pasti aku menyusulnya...
ADI Aku tahu, saatnya akan tiba. Aku sedih karena Bapak punya jawaban yang tak
sempat diucapkan. Dan jawaban itu, juga dibawanya pergi.
SUSILO Pertanyaan apa?
ADI Siapakah ibuku sebenarnya? Dia bilang, akan mengatakan saat aku dewasa dan
bisa menerima kenyataan yang terjadi. Tapi, jawaban itu tak pernah kudengar darinya....
SUSILO (diam sebentar) Paman tahu....
ADI Paman tahu?
SUSILO Ya.
ADI Siapa orang tuaku, Paman?
SUSILO (menunjuk ke arah Mila) Dia ibumu....!
MILA (kaget) Gila, kamu....! Okh, tidak....! Bukankah kau sudah janji untuk
merahasiakannya (berkata pada Adi dengan nada marah).
ADI Dia ibuku...! Bukankah dia....?
SUSILO Pelacur....! Iya, tentu saja! Tapi, dia hanya melacur pada ayahmu saja. Dia
tidak seperti yang kamu pikirkan, Di. (mulai bercerita) Dulu, Mila adalah pengemis kecil
yang suka lewat di sini. Ayahmu menginginkan dia. Ayahmu suka main perempuan. Tapi,
ayahmu menginginkan sesuatu yang lain. Akulah yang mengatur semua ini....
MILA (setengah menangis) Maafkan ibumu, Di. Semuanya memang harus seperti ini.
Aku tak punya siapa-siapa. Orang tuaku membuangku di tengah pasar. Ibumu ini cuma
seekor tikus kecil yang tak berdaya. Umurku baru 9 tahun. Dan ibu benar-benar kelaparan.
Ibu nggak bisa menolak.... dan semuanya terjadi begitu saja....
ADI Kenapa dulu Bapak merahasiakannya?
SUSILO Tak ada yang dirahasiakan Bapakmu. Baginya, segala hal adalah panggung.
Bapakmu memainkannya dengan baik.
ADI Panggung? Bapakku pasti sudah gila.... Ini kehidupan! Aku bukan imajinasi.
Bapak juga bukan imajinasi bagiku. Semuanya nyata!
SUSILO Kamu nggak ngerti, Di.... Tapi, suatu saat, kamu pasti tahu. Paman tak bisa
menjawabnya. Kamu yang harus mencarinya sendiri.
ADI Aku nggak ngerti.
SUSILO Kelak kamu akan ngerti. Sekarang, giliranmu memainkan sebuah peran.
Pulanglah, antar ibumu pulang, temani ibumu dan calon adikmu...
ADI Adik? (memandangi perut hamil Mila) Bukankah Paman juga pernah....

SUSILO Tidak. Aku tidak melakukannya.... Tidak dengan ibumu.


ADI Jadi selama ini....
SUSILO (tertawa kecil) Sepertinya kamu nggak tahu seperti apa bapakmu... Akh,
sudahlah. Jawaban itu akan datang dengan sendirinya. Sekarang, pulanglah. Temani
ibumu....
ADI (ragu-ragu mendekati Mila) Akh, aku tak tahu, bagaimana memanggilmu.
MILA (tidak menjawab dan pergi)
ADI Paman tidak pulang... (menoleh ke arah Susilo)
SUSILO Tidak. Di sini tempatku.
ADI Maksud Paman?
SUSILO Bisaku cuma menunggu.... Pulanglah!
ADI (pergi tanpa bicara)

BABAK 4
JENASAH SUMI TERBUJUR DALAM KERANDA MAYAT YANG TERGELETAK. SEBATANG
POHON TERLETAK DI BELAKANG.
SUSILO (masuk dan duduk di sisi keranda) Sum...! Sum bangun!
SUMI (tak bergerak)
SUSILO (menyeret keluar Jenasah Sumi dari dalam keranda, lalu membuka ikatan
kain kafan dari tubuh Sumi) Bangun Sum....!
SUMI (terbangun kaget) Eh, dimana aku? Kok kamu di sini? Bukankah aku sudah....
SUSILO Ya. Memang sudah.
SUMI Dan kamu? Kok nyusul aku?
SUSILO Tidak. Aku bukan sepertimu! Aku tidak bisa mati.
SUMI Tidak bisa mati piye? Ngomong sing cetho tho, Sus? Aku ki wis mati. Kalau
kamu di sini, pasti kamu juga mati.
SUSILO Aku tidak mati. Iki lho alamku. Kamu nggak ngerti apa-apa tentangku. Kamu
pikir aku manusia seperti kamu. Tidak Sum. Aku ini setan beneran. Nggak ada pemain lain
yang bisa memainkan tokoh Mephisto sebaik aku.
SUMI (bingung) Lha piye carane? Lha wong kita ini tumbuh bersama, makan bareng,
maen bareng, aku kenali dirimu seperti aku mengenali diriku. Kupikir kita ini seperti
saudara.
SUSILO Kita ini memang saudara, Sum! Kita bersaudara dalam sejarah.
SUMI Berarti aku sejenis denganmu!
SUSILO Tidak juga. Kau dilahirkan dari rahim perempuan. Tapi kehadiranmu tak
diinginkan. Kau ini anak haram Sum. Kamu slilit bagi ibumu. Dan kamu dibuang di pasar.
Dulu, kamu nyaris mati dimakan anjing. Aku usir anjing itu. Lalu, aku menjelma jadi seorang
bayi sepertimu. Aku meniru tangisanmu. Aku tiru semua gerak-gerikmu. Lalu, seorang
gelandangan menemukan kita....
SUMI Ini sulit kupahami... Bagaimana setan bisa memiliki tubuh kasar sepertiku? Kau
pun melakukan apapun yang aku lakukan....
SUSILO Aku tiru dirimu. Semuanya. Makan, tidur, bicara, semuanya aku belajar
darimu. Kau tumbuh dewasa, aku pun demikian. Kau beranjak tua, begitu pula diriku. Mbah
Kusni Kasdut tak bisa membedakannya. Pak Timbul, juga semua orang yang kita kenal, tak
tahu siapa sejatinya diriku.
SUMI Mengapa? Mengapa kau ikuti diriku selama ini?
SUSILO Karena kita ini bersaudara.
SUMI Bagaimana mungkin? Kau ini setan, aku bukan.
SUSILO Kita ini sama-sama setan, Sum. Bisa saja kubiarkan anjing itu memakan
dirimu. Toh, akhirnya kamu jadi setan sepertiku. Tapi ini adalah sebuah lakon. Lakon yang
unik. Lakon yang terjadi di dalam lakon manusia.
SUMI Andai pun aku setan. Aku tak mau sepertimu!

SUSILO Kenapa Sum?


SUMI Dirimu tukang intrik. Kamu suka menelikung di belakangku. Kau pikir aku tak
tahu, kau juga memacari pacar-pacarku. Kau mainkan semua permainanku.
SUSILO Kenapa? Kamu marah? Cemburu? Hahaha....(tertawa) Ternyata kau
melankolis juga, ya.
SUMI Tidak. Bukan itu. Aku tahu diriku bejat. Tapi aku tak mau ada yang meniru-niru
diriku. Aku pria spesial, Sus.
SUSILO Spesial, piye! Spesial rusak! (tertawa) Aku setan. Kau pun setan....
SUMI (diam dan masuk ke dalam keranda lagi)
SUSILO Heh, ngapain balik ke situ? (heran)
SUMI Aku mau tidur. Capek! Ngantuk! Percuma berbelit sama kamu....
LAMPU MERAH MENYOROT KE ATAS KERANDA.