Anda di halaman 1dari 9

KORELASI ANTARA TINGKAT KONTROL ASMA DAN DEPRESI

PADA PENDERITA ASMA BRONKIAL TIDAK TERKONTROL DENGAN


DEPRESI DI POLIKLINIK ALERGI IMUNOLOGI
PENYAKIT DALAM RSUP MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
Muthmainnah*, M.A. Apriansyah**, Eddy M. Salim***
*Peserta PPDS 1 Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRI/RSMH Palembang
**Bagian Psikosomatik Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRI/RSMH Palembang
***Bagian Alergi Imunologi Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRI/RSMH Palembang

Pendahuluan
Asma merupakan penyakit kronis yang menyerang hampir 300 juta orang
di dunia.1 Penelitian di Eropa melaporkan lebih dari setengah penderita asma
yang menjalani pengobatan tidak menunjukkan perbaikan klinis.2

Beberapa

alasan yang menyebabkan kurang terkontrolnya asma adalah faktor penderita,


dokter dan komunikasi diantara keduanya. Faktor yang berhubungan dengan
penderita adalah adanya penyakit komorbid, kondisi ansietas dan depresi serta
faktor perilaku seperti ketidakpatuhan.3,4
Gangguan depresi mayor atau major depressive disorder (MDD)
merupakan gangguan mood yang paling sering dijumpai dengan prevalensi
hampir 20%. Depresi dapat memperburuk penyakit dan menyebabkan gangguan
emosional karena mempengaruhi pendapatan dan meningkatkan biaya kesehatan,
namun seringkali tidak didiagnosis dan diterapi.5,6
Depresi sering dijumpai pada penderita asma dengan kontrol yang buruk.
Pada abad ke-19, Osler mengemukakan bahwa sebagian besar kasus asma
berhubungan dengan neurosis.7

Penelitian menunjukkan adanya peningkatan

morbiditas psikologis pada penderita asma dibandingkan populasi sehat. 8


Walaupun telah diketahui hubungan asma dan psikologis, pemeriksaan psikologi
dan emosi belum dijadikan standar dalam penatalaksanaan asma.
Rosenkranz dan Davidson (2009) menemukan asma meningkatkan risiko
terjadinya depresi dua kali lipat.9 Sedangkan Loerbroks dkk (2012) menyimpulkan
remisi pada penderita depresi menyebabkan perbaikan gejala asma.10
Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi antara tingkat kontrol asma
dan depresi pada penderita asma tidak terkontrol.

Metode

Jenis penelitian ini adalah studi observasional analitik korelatif dengan


rancangan potong lintang yang dilakukan di Poliklinik Alergi Imunologi Penyakit
Dalam RSUP Mohammad Hoesin Palembang mulai Juli sampai dengan Desember
2014. Populasi penelitian adalah penderita asma bronkial tidak terkontrol dengan
depresi.
Tabel 1. Kriteria sampel penelitian
Kriteria penyertaan
-Penderita asma bronkial tidak terkontrol berdasarkan ACT dengan depresi melalui
skrining menggunakan BDI
-Penderita berusia 17-60 tahun
-Bersedia berpartisipasi pada penelitian dengan menandatangani informed consent
Kriteria penolakan
-Penderita gangguan psikosis
-Penderita penyakit kronis seperti penyakit ginjal kronis, penyakit jantung kronis, penyakit
paru obstruktif kronis
-Penderita infeksi akut
-Penderita yang sudah didiagnosis atau dengan gejala kuat penyakit autoimun seperti lupus
eritematosus sistemik, artritis reumatoid, penyakit Graves
-Sedang mendapat terapi steroid oral
-Sedang mendapat terapi steroid inhalasi dosis tinggi (2000 g/hari beclomethasone
equivalent)
-Sedang mendapat terapi NSAID, aspirin
-Sedang mendapat terapi antidepresi

Sampel penelitian berjumlah 42 orang yang diambil dengan consecutive


sampling. Variabel bebas (independent) adalah skor asthma control test (ACT)
sedangkan variabel terikat (dependent) adalah skor Becks depression inventory
(BDI). Pada seluruh subjek penelitian yang masuk dalam kriteria penyertaan
dilakukan pengambilan data demografik, pemeriksaan fisik, penjelasan mengenai
materi ACT dan diisi sendiri oleh penderita. Apabila skor ACT 19, dilanjutkan
dengan pengisian kuesioner BDI. Data yang dikumpulkan diolah dengan
menggunakan program SPSS versi 22.0 for Windows.
Hasil
Karakteristik subjek penelitian terdiri dari umur, jenis kelamin, indeks
massa tubuh (IMT), tingkat pendidikan, pekerjaan dan lamanya menderita asma,
dapat dilihat pada tabel 2. Dari 42 subjek penelitian, 33 orang (78,6%) adalah
perempuan dan 9 orang (21,4%) laki-laki. Rentang usia subjek penelitian 33-60

tahun dengan kelompok terbanyak 36-45 tahun (33,3%).

Berdasarkan IMT,

distribusi terbanyak pada kelompok dengan berat badan normal sebanyak 21


orang (50%). Tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA sebanyak 16 orang
(45,2%). Sebanyak 19 orang (45,2%) subjek penelitian adalah ibu rumah tangga.
Berdasarkan lamanya menderita asma, kelompok terbanyak adalah 1-10 tahun
sebanyak 20 orang (47,6%).
Tabel 2. Karakteristik subjek penelitian
Karakteristik
Umur (tahun)
26-35
36-45
46-55
56-65
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
IMT
22,3
(17,7-28)
Underweight
Normal
Overweight
Tingkat pendidikan
SD
SMP
SMA
Diploma
Sarjana
Pekerjaan
Ibu rumah tangga
PNS
Swasta
Pedagang
Dosen
Buruh
Lama asma (tahun)
13
(3-50)
1-10
11-20
21-30
31-40
41-50

n (%)
2 (4,7)
14 (33,3)
13 (31)
13 (31)
9 (21,4)
33 (78,6)

22,3 (17,7-28)
1 (2,4)
21 (50)
20 (47,6)
9 (21,4)
3 (7,1)
16 (38,1)
2 (4,8)
12 (28,6)
19 (45,2)
12 (28,6)
5 (11,9)
4 (9,5)
1 (2,4)
1 (2,4)
13 (3-50)
20 (47,6)
14 (33,3)
4 (9,5)
3 (7,1)
1 (2,4)

Tingkat depresi berdasarkan skor BDI


dalam rentang 10-36.

Median (min-maks)
47,5 (33-60)

mendapatkan nilai median 13

Tabel 3. Distribusi tingkat depresi berdasarkan skor BDI


Skor BDI
10-15

Tingkat depresi
Ringan

n (%)
29 (69)

16-23

Sedang

6 (14,3)

24-63

Berat

7 (16,7)

Korelasi antara tingkat kontrol asma dan depresi yang diukur dengan skor
ACT dan BDI menggunakan uji korelasi Spearman karena kedua variabel tersebut
tidak terdistribusi secara normal. Dari hasil uji korelasi didapatkan nilai koefisien
korelasi -0.235 dengan p = 0,133 yang secara statistik tidak bermakna.

Gambar 1. Diagram tebar korelasi tingkat kontrol asma dan depresi

Pembahasan
Kelompok umur terbanyak adalah 36-45 tahun sebesar 33,3% dengan
median 47,5 tahun. Dari penelitian Du dkk didapatkan rerata umur 47,5 3,1
tahun.11 Sedangkan penelitian Liu S dkk mendapatkan rerata umur 54,75 13,14

tahun.12 Asma dapat terjadi pada segala umur, meskipun demikian umumnya
asma lebih sering terjadi pada anak-anak di bawah lima tahun dan pada orang
dewasa pada usia sekitar tiga puluh tahunan.
Jenis kelamin perempuan lebih banyak ditemukan dengan frekuensi 78,6%
sedangkan laki-laki 21,4%. Jenis pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga
dengan frekuensi 45,2%. Penelitian Kotrotsiou dkk mendapatkan hasil 68,9%
penderita asma dengan depresi adalah perempuan dan 31,1% laki-laki.13
Sedangkan penelitian Du dkk mendapatkan hasil sebaliknya dengan frekuensi
penderita laki-laki lebih tinggi sebesar 65,2%.11 Dibandingkan dengan laki-laki,
perempuan berisiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami depresi. Selain karena
faktor hormonal, adanya multi peran yang harus dijalani perempuan dan belum
ada kesetaraan gender menjadi faktor yang memicu munculnya depresi. Salah
satu faktor yang menimbulkan depresi pada perempuan adalah stres dan tekanan
yang dialami di luar rumah. Tidak adanya keseimbangan antara tugas sebagai istri
dan ibu rumah tangga di satu sisi dan pekerjaan di sisi lain, menciptakan atmosfer
yang sangat buruk dan melipatgandakan stres yang dialami kaum perempuan.
Ketika perempuan dituntut untuk bekerja di luar rumah sama seperti laki-laki,
mereka akan lebih cepat menderita depresi mengingat mereka sangat sensitif
dalam menyikapi segala hal.14
Berdasarkan indeks massa tubuh (IMT), subjek penelitian terbanyak
adalah kelompok dengan berat badan normal 50% dan overweight 47,6%.

Hasil

ini sejalan dengan penelitian Du dkk dengan rerata IMT 22,4 0,7 kg/m 2.11
Sedangkan penelitian Nystard dkk pada 135.405 penderita asma di Norwegia
mendapatkan penderita dengan berat badan kurang (underweight) sebesar 76,5%
dan berat badan normal 20,1%.15 Sebagian besar penelitian mendapatkan hasil
bahwa obesitas menjadi faktor risiko asma pada orang dewasa.

Obesitas

meningkatkan risiko refluks gastroesofagus yang menyebabkan peningkatan


hiperesponsivitas penderita asma.16 Adanya inflamasi yang tumpang tindih pada
asma dan obesitas menyebabkan peningkatan sitokin proinflamasi yang
mempengaruhi kontraktilitas otot jalan napas.17
Sebagian besar (38,1%) subjek penelitian tergolong berpendidikan sedang
(setara SMA). Berdasarkan analisis statistik tidak terdapat hubungan bermakna

antara tingkat pendidikan dengan tingkat kontrol asma. Hasil ini tidak sesuai
dengan penelitian Adam dkk yang menyatakan bahwa tingkat edukasi
berhubungan dengan tingkat kontrol asma.18 Perbedaan ini mungkin disebabkan
karena distribusi pasien berdasarkan tingkat pendidikan tidak merata yaitu jumlah
pasien asma dengan tingkat pendidikan sedang lebih banyak dibandingkan pasien
asma dengan tingkat pendidikan rendah dan tinggi. Selain itu juga mungkin
disebabkan karena pendidikan saja tidak cukup untuk meningkatkan perilaku
kontrol pasien.
Berdasarkan lamanya menderita asma, subjek penelitian terbanyak
ditemukan pada kelompok 1-10 tahun sebesar 47,6%. Penelitian Lovaine dkk
pada 40 orang penderita asma, menemukan kejadian depresi pada rerata 17 15
tahun terhadap lamanya menderita asma.19 Penelitian Hosseini dkk, mendapatkan
rerata durasi asma 14,92 11,85 bulan. 20 Penelitian longitudinal Thomas dkk
selama dua tahun pada 439 orang penderita asma menyimpulkan adanya depresi
yang menyertai asma berhubungan dengan tingkat kontrol asma. 21 Penelitian
Tsukioka dkk pada 4161 penderita asma menyimpulkan tingkat keparahan asma
sejalan dengan peningkatan durasi asma dan menunjukkan kontrol yang buruk.22
Depresi ringan ditemukan dengan prevalensi tertinggi sebanyak 69%,
diikuti depresi berat dan sedang masing-masing sebesar 16,7% dan 14,3%.
Penelitian Hoesseini dkk yang mengukur perubahan imunoglobulin dan kadar
sitokin serum 37 penderita depresi mendapatkan kejadian depresi sedang sebesar
56,8%, depresi berat 40,5% dan depresi ringan 2,7%.20
Uji korelasi tingkat kontrol asma dengan depresi didapatkan adanya
korelasi negatif dengan r = -0,235 dan nilai p = 0,133 yang secara statistik juga
tidak bermakna.
Asma merupakan penyakit inflamasi jalan napas yang melibatkan sitokin
pro dan antiinflamasi yang mengaktivasi aksis HPA. Aksis HPA memiliki efek
inhibisi terhadap respon inflamasi karena semua komponen respon imun dihambat
oleh kortisol. Penurunan aktivitas aksis HPA menyebabkan turunnya regulasi
inflamasi.

Teori ini menjelaskan mengapa pada asma dengan depresi terjadi

peningkatan sitokin proinflamasi dan penurunan sitokin antiinflamasi.

Pada

kondisi normal, aktivasi aksis HPA oleh sitokin proinflamasi spesifik

meningkatkan pelepasan kortisol dan akibatnya menekan inflamasi jalan napas.


Pada asma dengan depresi, mekanisme umpan balik aksis HPA akan lebih kuat
dibandingkan pada kasus asma tanpa depresi atau hanya depresi saja. Pertama,
penderita asma dengan depresi menghadapi inflamasi yang lebih tinggi karena
peningkatan sitokin proinflamasi pada kedua kondisi tersebut. Kedua, penderita
asma dengan depresi biasanya mengalami stres kronis. Stres yang lama akan
menyebabkan kelainan aksis HPA.

Hal ini menyebabkan perubahan regulasi

respon inflamasi dan mengakibatkan hipofungsi aksis HPA lebih serius.


Keterbatasan penelitian ini adalah rancangan penelitian tidak dapat
membandingkan kejadian depresi pada penderita asma bronkial tidak terkontrol
dengan asma bronkial terkontrol dan populasi sehat.
Sebagai kesimpulan, terdapat korelasi negatif antara tingkat kontrol asma
dan depresi pada penderita asma bronkial tidak terkontrol dengan depresi.
Semakin rendah tingkat kontrol asma, makin tinggi tingkat depresinya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bateman ED, Hurd SS, Barnes PJ, et al. Global strategy for asthma
management and prevention: GINA executive summary. Eur Respir J
2008;31(1): 143-178.

2. Demoly P, Gueron B, Annunziata K, et al. Update on asthma control in five


European countries: Results of a 2008 survey. Eur Respir Rev 2010;19: 150157.
3. Thomas M, Price D. Impact of co-morbidities on asthma. Expert Rev Clin
Immunol 2008;4: 731-742.
4. Cluley S, Cochrane GM. Psychological disorder in asthma is associated with
poor control and poor adherence to inhaled steroids. Respir Med 2001;95: 3739.
5. Kessler RC, Barber C, Bimbaum HG, et al. Depression in the workplace:
Effect on short-term disability. Health Aff (Millwood) 1999;18: 167-71.
6. Zielinski TA, Brown ES, Netjek VA, et al. Depression in asthma: Prevalence
and clinical implications. Primary Care Companion J Clin Psychiatry 2000;2:
153-158.
7. Osler W. The Principles and Practice of Medicine. Edinburgh: Y.J. Pentland;
1892.
8. Vuillermin PJ, Brennan SL, Robertson CF, et al. Anxiety is more common in
children with asthma. Arch Dis Child 2010;95(8): 624-629.
9. Rosenkranz MA, Davidson RJ. Affective neural circuitry and mind-body
influences in asthma. Neuroimage 2009;47(3): 624-629.
10. Loerbroks A, Herr RM, Subramanian SV, et al. The association of asthma
and wheezing with major depressive episodes: An analysis of 245 727 women
and men from 57 countries. Int J Epidemiol 2012;41(5): 1436-1444.
11. Du Y, Li B, Zhang H, et al. Airway inflammation and hypothalamicpituitary-adrenal axis activity in asthmatic adults with depression. J Asthma
2013;50(3): 274-281.
12. Liu S, Wu R, Lei L, et al. The prevalence of anxiety and depression in
Chinese asthma patients. PLos One 2014;9(7): e103014.
13. Kotrotsiou E, Krommydas G, Papathanasiou IV, et al. Anxiety and
depression in teenagers and young adults with asthma. Health Science J
2011;5(3): 229-236.
14. Mazure CM, Keita GP, Blehar MC. Summit on women and depression.
Proceedings
and
recommendation.
American
Psychological
Association;2002: 12-17.
15. Nystard W, Meyer HE, Nafstad P, et al. Body mass index in realtion to adult
asthma among 135,000 Norwegian men and women. Am J Epidemiol
2004;160(10): 969-976.

16. Ronmark E, Andersson C, Nystrom L, et al. Obesity increases the risk of


incidents asthma among adults. Eur Respir J 2005;25(2): 282-288.
17. Shore SA, Fredberg JJ.
Obesity, smooth muscle, and airway
hyperresponsiveness. J Allergy Clin Immunol 2005;115(5): 925-927.
18. Davis A, Brown AS, Edelstein J, et al. Identification and education of
adolescents with asthma in a urban school district: Result from a large-scale
asthma intervention. J Urban Health 2008;85(3): 361-374.
19. Lavoie KL, Bacon SL, Barone S, et al. What is worse for asthma control and
quality of life. Depressive disorder, anxiety disorder, or both?. Chest
2006;130: 1039-1047.
20. Hosseini RF, Azad FJ, Talee A, Miri S, et al. Assesment of the immune
system activity in Iranian patients with major depression disorder (MDD).
Iran J Immunol 2007;4(1): 38-43.
21. Thomas M, Bruton A, Moffatt M, et al. Asthma and psychological
dysfunction. Prim Care Respir J 2011;20(3): 250-256.
22. Tsukioka K, Toyabe S, Akazawa K. Relationship between asthma severity

and age at onset in Japanese adults.


2010;48(12): 898-905.

Nihon Kokyuki Gakkai Zasshi