Anda di halaman 1dari 14

HADITS DITINJAU DARI SEGI KUALITAS SANAD

Makalah Disusun Untuk Memenuhi


Tugas Mata Kuliah Ulumul Hadits

Dosen Pembimbing : Siti Makhrusah, S.Ag, M.Pd.I

Oleh
Kelompok 9
1. Dewi Ratnawati
2. Hasyim Asya’ari
3. Nur Azizah Ulfiyana
4. Siti Nur Laila

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MA’ARIF


METRO LAMPUNG
2009

1
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunia pada kaum muslimin
dengan diturunkannya Al Qur’an yang mulia, dan telah menjamin terpeliharanya
hingga akhir zaman.
Semoga shalawat serta salam senantiasa dicurahkan kepada Nabi Muhammad
SAW, pemberi syafa’at di hari akhir nanti.
Pada kesempatan ini kami telah merampungkan makalah tentang tinjauan
hadits dari segi kualitasnya yang meliputi hadist shahih, hasan dan dhaif. Kami
menyadari atas segala kekhilafan dan kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran
sangatlah diharapkan dari para pembaca sekalian.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Amin.
.

Metro, Oktober 2009

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR........................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1


A....................................................................................................Latar
Belakang ...................................................................................... 1
B....................................................................................................Batas
an Masalah .................................................................................. 1
C....................................................................................................Tujua
n Penulisan .................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 3


A....................................................................................................Penge
rtian Hadits Shohih, Hasan dan Dhaif .......................................... 3
B....................................................................................................Ciri-
ciri Hadits Shahih, Hasan dan Dhaif ........................................... 5
C....................................................................................................Conto
h Hadits Shahih, Hasan dan Dhaif ................................................ 6
D....................................................................................................Tingk
atan Hadits Shahih, Hasan dan Dhaif ........................................... 7

BAB III PENUTUP .......................................................................................... 9

DAFTAR PUTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

D. Latar Belakang
Allah mengakhiri risalah-nya dengan risalah islam yang di turunkan kepada
nabi muhammad saw. Sebagai petunjuk bagi umat manusia agar mereka hidup
bahagia baik di dunia maupun di akhirat.
Para ulama sepadat bahwa selain al qur’an, hadits juga merupakan sumber
ajaran islam. Dijadikannya hadits sebagai sumber ajaran islam karena pada dasarnya
hadits merupakan wahyu. Sebagaimana dalam firman allah :

“Dan tiadalah yan diucapkannya itu (al qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Ditinjau dari kuantitasnya hadits ada dua macam, yaitu hadits mutawatir dan
hadits ahad. Sedangkan dari segi kualitas ada 3 macam, yaitu hadits shohih, hasan
dan dhaif. Tinjauan hadits dari segi kualitas inilah yang akan kami bahas pada
makalah ini.

E. Batasan masalah

4
Agar pembahasan tidak terlalu meluas kami memberi batasan masalah dalam
makalah ini :
1. Apakah pengertian hadits shohih, hasan dan dhaif ?
2. Bagaimana ciri-ciri hadits shohih, hasan dan dhaif ?
3. Bagaimana contoh hadits shohih, hasan dan dhaif ?
4. Bagaimana tinkatan hadits shohih, hasan dan dhaif ?

5
F. Tujuan penulisan
1. Agar kita mengetahui dan memahami pengertian hadits
shohih, hasan dan dhaif.
2. Untuk menenali, mengetahui dan memahami ciri – ciri hadits
shohih, hasan dan dhaif.
3. Agar kita mengetahui contoh hadits shohih, hasan dan dhaif.
4. Untuk mengetahui dan memahami tingkatan hadits shohih,
hasan dan dhaif.

6
BAB II
PEMBAHASAN

E. Pengertian Hadits Shohih, Hasan Dan Dhaif


1. Pengertian Hadits Shohih
Menurut bahasa shahih yakni sehat lawan dari kata saqim (sakit). Sedang
menurut istilah (terminologi) ada beberapa definisi oleh para ulama,
diantaranya:
a. Ibnu shalah:

“Hadits shahih adalah hadits musnad yang sanadnya bersambung


dengan diriwayatkan oleh orang yang adil, dhabith (kemampuan
intelektual) dari oran yang adil dan dhabith pula hingga akhir sanad dan
tidak mengandung syadz dan illat.”

b. Iman al – nawawi

“Yaitu hadits hadits yang bersambung sanadnyadengan diriwayatkan


oleh orang – orang yang adil serta dhabith tanpa adanya syadz dan
illat.”

Dari beberapa definisi diatas maka hadits shahih dapat di


definisikan sebagai berikut:

“Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabith dari yan
semisal dari pertama hingga akhir tanpa syadz dan illat.”

7
2. Pengertian hadits hasan
Menurut bahasa hasan adalah sifat musyabbihat dari al husn, yang berarti
al – jamal (baik), sesuatu yan disenangi oleh nafsu. Menurut istilah terdapat
beberapa definisi, diantaranya:
a. Al khaththabi:

“Hadits yang diketahui mekhrojnya dan para perawinya terkenal.”

b. At tirmidzi

“Hadits yang diriwayatkan dari dua arah (jalur), dan para perawinya
tidak ada yang tertuduh dusta, tidak mengandung syadz yan menyalahi
hadits – hadits shahih.”

c. Ibnu hajar

“Khabar ahad yang dinukilkan melalui perawi yang adil, sempurna


ingatannya, bersambung sanadnya dengan tanpa berillat dan syadz
disebut hadits shahih, namun bila kekuatan ingatannya kurang sempurna
disebut hasan lidzatih.”

Dari semua definisi di atas maka hadits hasan adalah :

“Hadits yang bersambung sanadnya dengan riwayat orang yang adil dan
kurang sempurna ke dhabitannya, demikian itu hingga akhir sanadnya
tanpa adanya syadz dan illat.”

8
3. Pengertian hadits dhaif
Kata dhaif menurut bahasa berarti lemah, sebagai lawan kata dari kuat.
Secara istilah an nawawi mendefinisikan dengan:

“Hadits yang didalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shahih dan


syarat-syarat hadits hasan.”

F. Ciri-Ciri Hadits Shahih, Hasan Dan Dhaif


1. Ciri –Ciri Hadits Shahih
a. Besambung sanadnya, yakni setiap perawi
menerima hadits tersebut secara langsung dari perawi terdekatnya, dari
awal hingga akhir sanad.
b. Para perawinya bersifat adil.
Pengertian adil disini adalah orang muslim, baligh, berakal sehat, tidak
fasiq, dan tidak rusak kepribadiannya.
c. Para perawinya bersifat dhabit.
Seorang perawi dikatakan dhabit apabila mamiliki daya ingatan dengan
sempurna terhadap hadits yang diriwayatkannya.
d. Tidak syadz (janggal).
Syadz adalah hadits yang bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat
atau tsiqqah.
e. Tidak terdapat illat.
Illat berarti cacat atau penyakit, keburukan dari kesalahan baca yang
merusak keshahihan hadits tersebut.

2. Ciri – ciri hadits hasan


a. Sanadnya bersambung
b. Perawinya adil

9
c. Perawinya dhabit, tapi kualitas ke dhabit –
annya dibawah ke – dhabit – an perawi hadits shahih
d. Tidak terdapat syadz
e. Tidak ber – illat

3. Ciri – ciri hadits dhaif


a. Ada kecacatan pada para perawinya baik dari
segi keadilannya maupun kedhabitannya.
b. Sanadnya tidak bersambung

G. Contoh Hadits Shahih, Hasan Dan Dhaif


1. Contoh Hadits Shahih

“Bukhari berkata : yusuf telah bercerita kepadaku seraya berkata : malik


memberi khabar kepadaku dari ibnu syihat dari muhammad bin jubair bin
muth’im dari ayahnya yang telah berkata : aku mendengar rasulullah saw
membaca surat al – thur diwaktu shalat meghrib.”

2. Contoh hadits hasan

“Qutaibah telah bercerita kepadaku, telah bercerita kepadaku ja’far bin


sulaiman al – dluba’i dari abi imran al – jauni dari abi bakar bin musa al
asy’ari berkata : kami mendengar abi di hadapan musuh berkata :
rasulullah saw bersabda : “sesungguhnya pintu surga itu dibawah
pedang.”

10
Hadis ini Hasan disebabkan empat perawi dalam sanadnya adalah orang –
orang yang tsiqah kecuali Ja’far bin Sulaiman Al – Dluba’I yang hasan
haditsnya.

3. Contoh hadits dhaif

“Barang siapa menghimpun untuk ummatku empat puluh hadits dari perkara
agamanya, maka allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam
golongan ahli figh dan ulama.”

H. Tingkatan Hadits Shahih, Hasan Dan Dhaif


1. Derajat Hadits Shahih
Hadits shahih mempunyai beberapa tingkatan menurut tinggi dan
rendahnya keshahihan di dalam sanadnya. Secara berurutan derajat / tingkatan
shahih adalah:
a. Hadits yang disepakati oleh imam bukhari dan
imam muslim (muttafaq ‘alaih)
b. Hadits yang hanya diriwayatkan oleh imam
bukhari
c. Hadits yang hanya diriwayatkan oleh imam
muslim
d. Hadits yang sesuai dengan syarat imam bukhari
namun tidak diriwayatkan olehnya.
e. Hadits yang sesuai dengan syarat imam muslim
namun tidak diriwayatkan olehnya.
f. Hadits yang diriwayatkan oleh imam ahli hadits
namun tidak sesuai dengan syarat imam bukhari dan imam muslim.

11
2. Tingkatan Hadits Hasan
Sebagaimana hadits shahih, hadits hasan juga mempunyai tinkatan –
tingkatan sesuai dengan kualitas perawi dalam sanadnya. Tingkatan tertinggi
hadits hasan adalah hadits yan diriwayatkan oleh bahz bin hakim dari ayahnya
dari kakeknya, ‘amir bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ibnu ishaq dari
al – taymy. Setelah itu hadits – hadits yang masih diperselisihkan ‘ulama
tentang keshahihan dan kehasanannya.

3. Tingkatan Hadits Dhaif


Tingkatan hadits dhaif yan paling tinggi yaitu yang diriwayatkan dari
sahabat yang mendengar langsung kemudian dari sahabat yang melihat tapi
tidak dapat mendengarnya, kemudian dari sahabat dari 2 masa, kemudian
hadits dari 2 orang pandai, kemudian seseorang yang tinggal dengan gurunya,
kemudian dari orang yang mengutip dari setiap orang.

12
BAB III
PENUTUP

Jumlah dan macamnya hadits sangat banyak. Untuk menentukan kuat atau
lemahnya hadits yang disa dijadikan hujjah dibutuhkan suatu seleksi dan persyaratan
yang ketat baik dari kualitas maupun kuantitasnya sanadnya. Tidak semua hadits
shahih dan hasan telah disepakati dan dapat dijadikan dasar hukum. Sementara hadits
dhaif para ulama telah sepakat bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan sebagai dasar
hukum.

13
DAFTAR PUTAKA

Mahmud Thahhan, Ulumul Hadits (Terj.), Zainul Muttaqin, Titian Ilahi Press,
Yogyakarta, 2003.

Hasbi As – Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadits, Bulan Bintang, Jakarta:
1954.
__________________, Ensiklopedi. Fas – Kal. Departemen Pendidikan Nasional
Pusat Perbukuan, Jakarta: 2003

__________________, Ilmu Hadits (Pengantar, Sejarah Dan Istilah), Bulan Bintang,


Jakarta.

14