Anda di halaman 1dari 2

Pilar-Pilar Maharani

Turun dari kereta, kamu kelihatan bingung mencari-cari. Jauh-jauh kamu datang
hanya untuk satu hal, menamparku. Menampar sekeras-kerasnya.
Waktu aku menemukanmu. Mukamu sudah sangat merah. Gak sempat nampar. Ga
sempat apa-apa. Aku sudah berdiri di depanmu. Lalu menarik tanganmu.
Menuntunmu menepi dari keramaian....
Seperti yang pernah kubilang. Akan kugelandang, tanpa colong playu.... Kau
mengikut di belakang. Kau menurut saja, waktu terpaksa naik vespa butut itu.
Sampai akhirnya parkir di samping sebuah motel kelas kecoa.
"Apa-apaan ini?"
Aku diam saja. Aku juga diam saja waktu kau bayar ongkos kamar di lobby depan.
Di dalam pelan aku bilang... "Kamu perlu istirahat dan mandi dulu, kan...?"
Kau menarik nafas dalam-dalam. Aku keluar cari sebotol air putih.
Balik lagi kau masih duduk longon di bibir ranjang.
"Lho, belum mandi...?"
"Maumu tu apa sih?"
"Mandilah dulu..."
"Kamu tahu gak, tadi aku turun dari kereta pengen cepat menamparmu dan urusan
kita selesai..."
"Ok.... sekarang mandilah dulu..."

Kau melangkah lemah menuju kamar mandi. Membuka kran di washtafel.


Membiarkan airnya mengalir deras. Sederas seluruh perasaanmu yang tumpah
ruah... Jauh-jauh datang ke sini, tentu saja bukan ini yang kau cari. Kau mau
meluruskan duduknya persoalan. Meluruskan masalah, meluruskan jalan menuju
hari depan yang lebih terang. Sampai kapan kau merasakan kegelapan melingkupi
hidupmu.

Sejak peristiwa rumah bersalin dua lima tahun lalu itu, rasanya semua selik melik
hidupmu tak luput dari kegelapan dan warna hitam. Bahkan setelah semua hal kau
kerahkan buat menghapus masa-masa suram itu, bayangan itu seperti terus
menguntitmu. Dan sekarang ini, pagi ini, bayang-bayang apa lagi yang bakal
menguntitnya.

Kau segera selesaikan bathing habits menjengkelkan kali ini. Bukan karena kau tak
suka mandi. Atau takut pada dinginnya air kota kecil ini. Bukan. Kau hanya tak habis
pikir, buat apa mandi kalau hanya akan mendengarkan putusan akhir dari
hubungan kalian. Kau sama sekali tak habis pikir.

Keluar dari kamar mandi kau sudah terlihat segar. Handuk kau gantung di jemuran
kecil dalam kamar. Aku masih duduk menunggu seperti patung perunggu. Diam
membisu.
"Jadi, apa maumu?" kau berusaha memperdengarkan nada tegas dalam suaramu.
Aku masih menikmati pemandangan di depanku. Menikmati pemandangan di
wajahmu.

"Hei! Kenapa diam saja..?"


"Eh, ya... Sini...."
"Apa...?"
"Sini.... dekat padaku..."
"Maksudmu...?"
"Sini saja.... Ya, begitu..." Lalu kuraih pingganmu. Kupeluk pelan dan kududukkan di
pangkuanku. "Maafkan aku...."