Anda di halaman 1dari 10

Diagnosis Mata Merah Tanpa Penurunan Visus

Adapun beberapa diagnosis yang ditandai dengan manifestasi berupa mata merah tanpa adanya
penurunan visus adalah sebagai berikut:2
1) Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular kongjungtiva yang bersifat degeratif dan invasif.
Pertumbuhan ini biasanya tereltak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang
meluas ke kornea berebntuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea
2) Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva kornea dengan kornea yang cacat. Hal ini sering
ditemukan pada proses penyembuhan ulkus kornea, sehingga konjungtiva menutupi kornea.
3) Pinguekula merupakan benjolan pada konjungkita bulbi yang ditemukan pada orangtua, terutama yang
matanya sering mendapat rangsangan sinar matahari, debu, angin dan panas. Letak bercak ini pada celah
kelopak mata terutama bagian nasal
4) Hematom subkonjungtiva dapat terjadi pada keadaan diamna pembuluh darah rapuh. Hal ini juga dapat
disebabkan trauma langsung atau tidak langsung, yang kadang-kadang menutupi perforasi jaringan bola
mata yang terjadi.
5) Episkleritis meruapakn reaksi radang jaringan ikat vaskular yang terletak antara konjungtiva dan
permukaan sklera. Hal ini mungkin disebabkan reaksi hipersensitivitas terhadap penyakit sistemik seperti
tuberkulosis, SLE, dan lainnya.
6) Skleritis biasanya disebabkan kelainan atau penyakit sistemik, lebih sering disebabkan penyakit jaringan
ikat, apsca herpes, sifilism dan gout. Skleritis terjaid bilateral pada wanita lebih banyak dibandingkan pria
yang timbul pada usia 50-60 tahun.
Konjungtivitis Akut
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan penyakit ini adalah penyakit mata yang paling
umum di dunia. Karena lokasinya, konjungtiva terpajan oleh banyak mikroorganisme dan faktor-faktor
lingkungan lain yang mengganggu. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata
berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental.3,4
Jumlah agen-agen yang pathogen dan dapat menyebabkan infeksi pada mata semakin banyak,
disebabkan oleh meningkatnya penggunaan obat-obatan topical dan agen imunosupresif sistemik, serta
meningkatnya jumlah pasien dengan infeksi HIV dan pasien yang menjalani transplantasi organ dan
menjalani terapi imunosupresif.5
Konjungtivitis Alergika
Konjungtivitis allergika merupakan bentuk alergi pada mata yang disebabkan oleh reaksi sistem imun
pada konjungtiva.6
Manifestasi
Adapun manifestasi yang mungkin timbul pada pasien dengan konjungtivitis alergika bervariasi untuk
tiap kelompok yaitu:6
1. Reaksi hipersensitivitas tipe cepat (humoral)

a. Hay fever conjunctivitis (pollens, grasses, animal danders, etc).


Merupakan inflamasi nonspesifik yang diasosiasikan dengan hay fever (rinitis alergika). Terdapat riwayat
alergi pada pollen, rumput, atau bulu hewan sebelumnya. Mata akan gatal, berair, dan sangat merah. Jika
alergern persisten, maka akan tampak gambaran konjungtivitis papiler.6
b. Vernal keratoconjunctivitis
Dikatakan sebagai konjungtivitis musiman, yang penyebabkan kadang sulit untuk diketahui. Riwayat
alergi sebelumnya kadang diketahui. Gejala berupa gatal dan keluar kotoran jernih yang kental. Tampakan
dapat berupa konjungtivitis folikuler atau papiler yang besar-besar.6
c. Atopic keratoconjunctivitis
Dimiliki pada pasien dengan dermatitis atopik. Gejala berupa sensasi panas terbakar dengan kotoran
mukoid pada mata, mata merah, dan fotofobia. Papila koeratokonjungtivitis lebih kecil.6
d. Giant papillary conjunctivitis
Gejala mirip konjungtivitis vernal yang berkembang pada pasien dengan penggunaan air mata artifisial
dan lensa kontak.6
2. Reaksi hipersensitivitas tipe lambat (seluler)
a. Phylctenulosis
Disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat pada protein mikroba, termasuk basil tuberkulosis,
spesies staphylococcus species, Candida albicans, Coccidioides immitis, Haemophilus aegyptius, dann
Chlamydia trachomatis. Gejala diawali dengan lesi kecil, merah, tinggi, yang dikelilingi dengan zona
hiperemi, terasa gatal dan mata berair. Pada limbus terdapat bentuk triangular dengan apex mengarah
pada kornea yang dapat membuat ulkus. Biasanya dipicu dengan blefaritis, konjungtivitis bakterial akut,
dan defisiensi diet.6
b. Konjungtivitis ringan sekunder akibat kontak dengan blepharitis
Blefaritis kontak akubat atropine, antibiotik, neomycin, atau broad-spectrum antibiotik diikuti dengan
hiperemia, papiler, kotoran mukoid, dan iritasi.6
3. Penyakit autoimun
a. Keratoconjunctivitis sicca yang diasosiasikan dengan sindroma Sjgren
Sindrom ini ditandai dengan triad: keratoconjunctivitis sicca, xerostomia, dan arthritis. Kelenjar lakrimal
terinfiltrasi oleh limfosit dan sel plasma sehingga rusak. Muncul gejala berupa konjungtiva bulbar
hiperemis, iritasi, denngan kotoran mukoid.6
b. Cicatricial pemphigoid
Diawali dengan konjungtivitis kronik nonspesifik yang resisten terhadap terapi. Progresi hingga
membentuk scar pada fornix dan entropion dengan trichiasis.6
Pemeriksaan
Pemeriksaan diarahkan pada anamnesis riwayat alergi dan tampilan klinis. Penggunaan metode scrapping
dan melihat sel imun dibawah mikroskop dapat dilakukan, namun kurang efektif. Hanya pada

konjungtivitis sicca, diagnosis dilakukan menggunakan biopsi dan menemukan infiltrasi sel limfositik dan
plasma pada kelenjar saliva.6
Tatalaksana
Pada dasarnya terapi yang diberikan berupa terapi suportif pemberian vasokonstriktor-antihistamin
topikal, kompres dingin untuk mengurangi gatal, antihistamin oral, dan steroid topikal untuk mengurangi
infeksi. Pemberian steroid harus dengan hati-hati, karena hanya mensupresi gejala, bukan menyingkirkan
penyebab utama. Pada pasien dengan kecurigaan infeksi sekunder bakteri, dapat diberikan antibiotik
topikal. Sedangkan pada kasus-kasus akibat alergi dengan air mata artifisial atau lensa kontak,
penanganan terbaik adalah menghentikan penggunaannya atau mengalihkan dengan jenis lain. Sedangkan
pada konjungtivitis sicca, tatalaksana hanya berupa suportif, menggantikan fungsi kelenjar air mata yang
hilang, menggunakan air mata artifisial. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah mengupayakan
untuk menghindari kontak dengan alergen.6
Konjungtivitis Bakteri
Definisi
Konjungtivitis Bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri. Pada konjungtivitis ini
biasanya pasien datang dengan keluhan mata merah, sekret pada mata dan iritasi mata.
Gejala Klinis
Gejala-gejala yang timbul pada konjungtivitis bakteri biasanya dijumpai injeksi konjungtiva baik
segmental ataupun menyeluruh. Selain itu sekret pada kongjungtivitis bakteri biasanya lebih purulen
daripada konjungtivitis jenis lain, dan pada kasus yang ringan sering dijumpai edema pada kelopak mata.7
Ketajaman penglihatan biasanya tidak mengalami gangguan pada konjungtivitis bakteri namun mungkin
sedikit kabur karena adanya sekret dan debris pada lapisan air mata, sedangkan reaksi pupil masih
normal. Gejala yang paling khas adalah kelopak mata yang saling melekat pada pagi hari sewaktu bangun
tidur.
Diagnosis
Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia, karena mungkin saja penyakit berhubungan
dengan mekanisme pertahanan tubuh pada pasien yang lebih tua. Pada pasien yang aktif secara seksual,
perlu dipertimbangkan penyakit menular seksual dan riwayat penyakit pada pasangan seksual. Perlu juga
ditanyakan durasi lamanya penyakit, riwayat penyakit yang sama sebelumnya, riwayat penyakit sistemik,
obat obatan, penggunaan obat-obat kemoterapi, riwayat pekerjaan yang mungkin ada hubungannya
dengan penyakit, riwayat alergi dan alergi terhadap obat-obatan, dan riwayat penggunaan lensa-kontak.9
Tatalaksana
Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada temuan agen mikrobiologiknya. Terapi dapat
dimulai dengan antimikroba topikal spektrum luas. Pada setiap konjungtivitis purulen yang dicurigai
disebabkan oleh diplokokus gram-negatif harus segera dimulai terapi topical dan sistemik . Pada
konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis harus dibilas dengan larutan saline untuk
menghilangkan sekret konjungtiva.13
Konjungtivitis Virus

Konjungtivitis viral adalah penyakit umum yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus, dan berkisar
antara penyakit berat yang dapat menimbulkan cacat hingga infeksi ringan yang dapat sembuh sendiri dan
dapat berlangsung lebih lama daripada konjungtivitis bakteri.3
Gejala Klinis
Gejala klinis pada konjungtivitis virus berbeda-beda sesuai dengan etiologinya. Pada keratokonjungtivitis
epidemik yang disebabkan oleh adenovirus biasanya dijumpai demam dan mata seperti kelilipan, mata
berair berat dan kadang dijumpai pseudomembran. Selain itu dijumpai infiltrat subepitel kornea atau
keratitis setelah terjadi konjungtivitis dan bertahan selama lebih dari 2 bulan. Pada konjungtivitis ini
biasanya pasien juga mengeluhkan gejala pada saluran pernafasan atas dan gejala infeksi umum lainnya
seperti sakit kepala dan demam.3
Pada konjungtivitis herpetic yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV) yang biasanya mengenai
anak kecil dijumpai injeksi unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri, fotofobia ringan dan sering disertai
keratitis herpes.14
Konjungtivitis hemoragika akut yang biasanya disebabkan oleh enterovirus dan coxsackie virus memiliki
gejala klinis nyeri, fotofobia, sensasi benda asing, hipersekresi airmata, kemerahan, edema palpebra dan
perdarahan subkonjungtiva dan kadang-kadang dapat terjadi kimosis.14
Diagnosis
Diagnosis pada konjungtivitis virus bervariasi tergantung etiologinya, karena itu diagnosisnya difokuskan
pada gejala-gejala yang membedakan tipe-tipe menurut penyebabnya. Dibutuhkan informasi mengenai,
durasi dan gejala-gejala sistemik maupun ocular, keparahan dan frekuensi gejala, faktor-faktor resiko dan
keadaan lingkungan sekitar untuk menetapkan diagnosis konjungtivitis virus. Pada anamnesis penting
juga untuk ditanyakan onset, dan juga apakah hanya sebelah mata atau kedua mata yang terinfeksi.15
Konjungtivitis virus sulit untuk dibedakan dengan konjungtivitis bakteri berdasarkan gejala klinisnya dan
untuk itu harus dilakukan pemeriksaan lanjutan, tetapi pemeriksaan lanjutan jarang dilakukan karena
menghabiskan waktu dan biaya.3
Tatalaksana
Konjungtivitis virus yang terjadi pada anak di atas 1 tahun atau pada orang dewasa umumnya sembuh
sendiri dan mungkin tidak diperlukan terapi, namun antivirus topikal atau sistemik harus diberikan untuk
mencegah terkenanya kornea. Pasien konjungtivitis juga diberikan instruksi hygiene untuk meminimalkan
penyebaran infeksi.7,14
Konjungtivitis Jamur
Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida albicans dan merupakan infeksi yang jarang
terjadi. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak putih dan dapat timbul pada pasien diabetes dan
pasien dengan keadaan sistem imun yang terganggu. Selain Candida sp, penyakit ini juga dapat
disebabkan oleh Sporothrix schenckii, Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides immitis walaupun
jarang.3
Konjungtivitis Parasit
Konjungtivitis parasit dapat disebabkan oleh infeksi Thelazia californiensis, Loa loa, Ascaris
lumbricoides, Trichinella spiralis, Schistosoma haematobium, Taenia solium dan Pthirus pubis walaupun
jarang.3
Konjungtivitis akibat bahan kimia atau zat iritatif

Konjungtivitis Iatrogenik Akibat Pemberian Obat Topikal


Konjungtivitis folikular toksik atau konjungtivitis nonspesifik infiltratif, yang diikuti pembentukan parut,
sering kali terjadi akibat pemberian jangka panjang dipivefrin, miotik, idoxuridine, neomycin, dan obatobat lain dengan bahan pengawet atau vehikulum yang toksik atau yang menimbulkan iritasi. Perak nitrat
yang diteteskan ke dalam saccus conjunctivalis saat lahir (profilaksis Cred6) sering menjadi penyebab
konjungtivitis kimia ringan. Jika produksi air mata berkurang akibat iritasi yang kontinu, konjungtiva bisa
cedera lebih lanjut karena berkurangnya pengenceran terhadap agen perusak saat agen tersebut diteteskan
ke dalam saccus conjunctivalis.16
Kerokan konjungtiva sering mengandung sel-sel epitel berkeratiry sejumlah neutrofil polimorfonuklear,
dan sesekali ada sel berbentuk aneh. Pengobatan terdiri atas penghentian agen penyebab dan pemakaian
tetesan yang ringar; atau sama sekali tanpa tetesan. Sering kali, reaksi konjungtiva menetap sampai
berminggu-minggu atau berbulan-bulan lamanya setelah penyebabnya dihilangkan.16
Konjungtivitis Pekerjaan Oleh Bahan Kimia dan Iritan
Asam, alkali, asap, angin, dan hampir setiap substansi iritan yang masuk ke saccus conjunctivalis dapat
menimbulkan konjungtivitis. Beberapa iritan yang umum, yaitu pupuk, sabun, deodoran, spray rambut,
tembakau, bahan-bahan make-up (mascara, dll.), dan berbagai asam dan atkali. Di daerah tertentu, asbut
(campuran asap dan kabut) menjadi penyebab utama konjungtivitis kimia ringan. Iritan spesifik dalam
asbut belum dapat ditetapkan secara positif, dan pengobatarurya non-spesifik. Efek pada mata tidak ada
yang permanen tetapi mata yang terkena sering kali merah dan terdsa mengganggu terus-menerus.16
Pada luka karena asam, asam mengubah sifat protein jaringan dan efeknya langsung timbul. Alkali tidak
mengubah sifat protein dan cenderung cepat menyusup ke dalam jaringan, serta menetap di dalam
jaringan konjungtiva. Di sini alkali terus merusak selama berjam-jam atau berhari-hari lamanya,
tergantung konsentrasi molar dan jumlah yang masuk. Perlekatan antara konjungtiva bulbaris dan
palpebralis (simblefaron) dan parut kornea lebih mungkin terjadi pada agen penyebab alkali. Pada
kejadian manapurl gejala utama luka bahan kimia adalah nyeri, pelebaran pembuluh darah (injeksi),
fotofobia, dan blefarospasme. Riwayat kejadian pemicu biasanya dapat terungkap.16
Saccus conjunctivalis harus dibilas segera dan menyeluruh dengan air atau larutan garam, dan setiap
materi padat harus disingkirkan secara mekanis. Jangan memakai antidot kimiawi. Tindakan lanjutannya,
yaitu dengan steroid topikal intensif, tetes mata askorbat dansitrat, sikloplegilg terapi antiglaukoma
seperlunya, kompres dingin dan analgesik sistemik Konjungtivitis bacterial dapat diobati dengan agen
antibakteri yang sesuai. Parut kornea mungkin memerlukan transplantasi kornea, dan simblefaron
mungkin memerlukan bedah plastik pada konjungtiva. Luka bakar berat pada konjungtiva dan kornea
prognosisnya buruk meskipun tetapi dengan pengobatan memadai yang dimulai segera, parut yang
terbentuk akan minimal dan prognosisnya lebih baik.16
Konjungtivitis Karena Bulu Ulat ( Oftalmia Nodosum )

Kadang-kadang bulu ulat masuk ke dalam saccus conjunctivalis dan membentuk satu atau lebih
granuloma (oftalmia nodosum) di tempat itu. pada pembesaran setiap granuloma tampak mengandung
sebuah benda asing kecil.16
Penanganan yang efektif dilakukan dengan mengeluarkan bulu satu per satu. Jika tertinggal satu bulu,
dapat terjadi invasi pada sklera dan traktus uvealis.16
Episkleritis
Reaksi radang jaringan ikat vaskular yang terletak antara konjungtiva dan permukaan sklera,
umumnya satu bola mata.17,18
Manifestasi
Adapun manifestasi klinis yang mungkin muncul adalah sebagai berikut: mata merah karena
pelebaran pembuluh darah, rasa sakit yang ringan, mengganjal, keluhan silau, Khas: bentuk radang pada
episkleritis berupa tonjolan setempal, batas tegas dan warna merah ungu dibawah konjungtiva yang sakit
jika ditekan pada episkleritis yang luas, gambaran klinis mirip dengan konjungtivitis. bedanya ada lah
pada episkleritis tidak terdapat hiperemi konjungtiva tarsal, tidak ada sekret serta nyeri saat penekanan
ringan bola mata. Adapun gambaran episkleritis dapat dilihat pada gambar 2.2.17,18

Gambar 2.2. Episkleritis17,18

Tatalaksana
Terapi yang dapat diberikan pada pasien dengan episkleritis adalah:17,18
1) Pembuluh darah yang melebar akan mengecil bila diberi fenil efrin 2,5% topikal
2) Pengobatan yang diberikan pada episkleritis adalah vasokonstriktor
3) Pada keadaan yang berat diberi kortikosteroid tetes mata, sistemik atau salisilat.
sebagai Skleritis.17,18
Pterygium

Pterigium adalah perubahan degeneratif jinak pada konjungtiva. Hal ini terkait dengan paparan sinar
matahari selama seumur hidup dan lebih sering terjadi pada orang yang memiliki pekerjaan di luar
ruangan (petani, buruh bangunan, pelaut, dll) atau mereka yang tinggal di daerah cerah panas, terutama
mereka yang tinggal dekat dengan khatulistiwa.19,20
Penyakit ini lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dan jarang berkembang pada anak-anak.
Pterigium bermula sebagai daerah kemerahan dan penebalan konjungtiva bulbar di interpalpebral,
biasanya pada aspek medial mata atau kadang-kadang pada konjungtiva temporal atau keduanya. Seiring
perluasannya, pterigium dapat memanjang melintasi kornea. Secara histologis pterigium terdiri dari
hialinisasi jaringan ikat subepitelial, penebalan konjungtiva yang terdiri dari serat elastis abnormal dan
kerusakan membran Bowman kornea.21
Pterigium menyebabkan sejumlah masalah. Pterigium mungkin jelas terlihat dan menyebabkan
gangguan kosmetik. Pterigium sering menjadi sakit, merah dan terasa berpasir terutama dengan paparan
angin, asap atau debu. Akhirnya pterygium dapat mengganggu penglihatan baik akibat terdistorsinya
kornea (biasanya menyebabkan silindris/astigmatisma oleh perataan kornea di meridian horisontal) atau
dengan melintasi kornea itu sendiri.

Teknik Anamnesis Mata


Diagnosis oftalmologi sangat bergantung pada anamnesis yang baik dan pemeriksaan yang menyeluruh.
Anamnesis dan pemeriksaan dilakukan untuk mengumpulkan riwayat medis yang komprehensif. Pada
pasien dewasa, riwayat medis yang komprehensif tersebut meliputi Identifikasi Data dan Sumber Riwayat
Medis, Keluhan Utama (KU), Riwayat Penyakit Sekarang (RPS), Riwayat Penyakit Dahulu (RPD),
Riwayat Keluarga (RK), Riwayat Personal dan Sosial (RPS), dan Tinjauan Sistem Tubuh. Sebagian besar
diagnosis oftalmologi tidak membutuhkan tes tambahan.22,23
Anamnesis oftalmologi yang baik harus mencakup rincian dari:22,23,24

Keluhan utama, berupa satu atau lebih gejala okular yang menyebabkan pasien pergi ke dokter. Kemudian
ditelusuri riwayat keluhan tersebut yang digolongkan menurut lama, frekuensi, hilang-timbul, dan cepat
timbulnya gejala okular. Lokasi, berat, dan keadaan lingkungan saat timbulnya keluhan harus
diperhatikan, demikian pula setiap gejala non okular lain yang berkaitan. Obat-obat mata yang dipakai
belakangan ini dan semua gangguan mata yang pernah maupun yang sedang terjadi harus dicatat. Selain
itu, semua gejala mata lain yang berhubungan perlu dipertimbangkan.

Riwayat kesehatan/penyakit terdahulu berpusat pada kondisi kesehatan pasien secara umum dan, bila ada,
penyakit sistemik yang penting. Gangguan vaskular yang biasanya menyertai manifestasi mata, seperti
diabetes (dapat menyebabkan retinopati) dan hipertensi (terkait beberapa penyakit vaskular mata seperti
oklusi vena retina sentral), harus ditanyakan secara spesifik. Ditanyakan pula riwayat penyakit yang
pernah dialami pada masa kanak-kanak dan dewasa, serta riwayat imunisasi. Selain itu, seperti halnya

riwayat medik umum, harus diketahui obat-obat mata yang sedang dipakai dan obat-obat sistemik pasien.
Hal ini menunjukkan keadaan kesehatan umum dan dapat diketahui obat-obat yang mempengaruhi
kesehatan mata, seperti kortikosteroid. Setiap alergi obat juga harus dicatat.
Riwayat ini juga mencakup riwayat okular sebelumnya, misalnya penglihatan buruk pada salah satu
mata sejak lahir, atau rekurensi penyakit mata sebelumnya, terutama peradangan.

Riwayat keluarga berhubungan dengan sejumlah gangguan.mata, seperti strabismus, ambliopia,


glaukoma, atau katarak, serta kelainan retina, seperti ablasio retina atau degenerasi makula. Penyakit
medis seperti diabetes mungkin juga relevan.

Riwayat personal sosial menjelaskan tingkat pendidikan, asal keluarga, anggota keluarga saat ini, minat
pribadi, dan gaya hidup.
Mulai wawancara Anda mengenai permasalahan mata dan penglihatan dengan pertanyaan yang
jawabannya terbuka seperti "Bagaimana penglihatan Anda?" dan Apakah Anda pernah mengalami
gangguan pada mata Anda?". Jika pasien melaporkan perubahan pada penglihatannya, cari detail yang
ada kaitannya dengan:

Apakah onset gangguan tersebut bersifat mendadak atau terjadi secara berangsur-angsur?

Apakah permasalahannya semakin parah ketika melakukan pekerjaan yang memerlukan penglihatan
dekat atau jauh?

Apakah terjadi kekaburan pada seluruh lapang pandang atau hanya sebagian saja? Jika gangguan pada
lapang pandang tersebut hanya sebagian apakah gangguan ini terjadi pada bagian tengah, tepi, atau hanya
pada salah satu sisinya?

Apakah terdapat bercak-bercak dalam penglihatan atau di tempat pasien tidak dapat melihat (skotoma)? ]
ika jawabannya ya, apakah bercak-bercak tersebut bergerak pada lapang pandang dengan perubahan
tempat ketika mengubah pandangan ataukah bercak-bercak tersebut menetap?

Apakah pasien melihat kilasan cahaya yang melintasi lapang pandang?

Apakah pasien mengenakan kacamata?


Tanyakan tentang rasa nyeri pada mata atau di daerah sekitarnya, kemerahan dan pengeluaran air
mata atau lakrimasi yang berlebihan.