Anda di halaman 1dari 32

ANESTESI UMUM

RETENSIO PLASENTA

Disusun oleh:
Dian Trisna Pratiwi (030.110.077)
Margo Puput F. (030.11.175)

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ANESTESI


PERIODE 29 JUNI 1 AGUSTUS 2015
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CILEGON
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan YME untuk segala rahmat yang telah diberikan sehingga kami dapat
diberikan kesempatan untuk menyelesaikan laporan kasus dengan topik Anestesi Umum pada
Tindakan Kuretase Retensio Plasenta. Terima kasih kepada dr. Dublianus, Sp. An, dr. Evita, Sp.
An, dan dr. Tati, Sp. An untuk bimbingan selama kami menjalani kepaniteraan klinik di bagian
anestesi RSUD Cilegon. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh teman sejawat
dan petugas paramedic yang bertugas di RSUD Cilegon atas bantuan dan ilmu yang telah
diberikan kepada kamu. Semoga laporan kasus yang kami susun ini dapat menambah
pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca baik di bidang medis maupun non-medis.

Cilegon, 23 Juli 2015

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
Bab II Laporan Kasus
Bab III Laporan Anestesi
Bab IV Analisa Kasus
Bab V Tinjauan Pustaka
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

Kata anesthesia (an = tidak, aestesia = rasa) diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes
yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara yang disebabkan oleh
pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Analgesia adalah
pemberian obat untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran pasien. Ada tiga
jenis anestesi: umum, regional dan lokal. Untuk anestesi umum sendiri terdapat 2 metode
pemberian obat yaitu inhalasi dan injeksi intravena. Sebelum dilaksanakan anestesi pada pasien,
terdapat beberapa tahap yang harus dikerjakan dimulai dari tindakan pra-anestesi yang meliputi
persiapan fisik dan mental pasien, perencanaan anestesi, dan persiapan sampai hari operasi. Pada
saat pelaksanaan anestesi harus dikerjakan pra-medikasi , pemantauan pasien selama proses
operasi, tahap pemulihan, dan perawatan pasca operasi.
Kuretase merupakan serangkaian proses pelepasan jaringan yang melekat pada dinding
kavum uteri dengan melakukan invasi dan memasukkan sendok kuret kedalam kavum uteri.
Sendok kuret akan melepaskan jaringan tersebut dengan teknik pengerokan. Indikasi untuk
tindakan kuretase adalah wanita yang mengalami abortus inkomplit, retensi sisa plasenta pasca
melahirkan, hamil anggur, dan haid yang berkepanjangan pada wanita yang sudah menikah.
Prosedur kuretase hanya memerlukan waktu yang singkat maka teknik anestesi yang diberikan
paling sering adalah TIVA (Total Intravenous Anaesthesia).

BAB II
LAPORAN KASUS

I.

II.

Identitas pasien
Nama
Usia
Jenis kelamin
Alamat
Pekerjaan
Agama
Tanggal masuk RS
Jenis pembedahan
Tehnik Anastesi

: Ny. Mimin
: 19 thn
: Perempuan
: kel Bunihar, kec Anyer
: Ibu Rumah Tangga
: Islam
: 22 Juli 2015
: Kuretase
: General Anastesi

Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 23 Juli 2015 pada pukul
14.00 WIB.
-

Keluhan Utama
Pasien tidak bisa BAK sejak tanggal 9 juli 2015

Riwayat penyakit sekarang


Pasien mengeluh tidak bisa buang air besar sejak tanggal 9 Juli 2015. Sebelum
mengalami keluhan seperti ini pasien mengaku bahwa pasien pada tanggal 7 Juli
2015 pasien melahirkan di tempat bidan rahma dengan bantuan vakum.pada
tanggal 16 juli 2015 pasien melakukan kuretase akibat masih terdapat sisa
plasenta pada rahim pasien. Pada tanggal 7 Juli pasien telah melakukan
pemasangan DC di puskesmas.

Riwayat penyakit dahulu


Pasien mengaku bahwa ini adalah anak pertama dan kelahiran pertama. Pasien
juga mengatakana bahwa tidak memiliki penyakit seperti tekanan darah tinggi,
diabetes militus, asma, penyakit jantung, penyakit paru,penyakit ginjal, pasien
juga mengaku bahwa tidak menggunakan gigi palsu selain itu pasien juga
mengaku belum pernah menjalani operasi sebelumnya.

Riwayat Pengobatan
Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan seperti obat tekanan darah tinggi,
obat diabetes melitus, obat pengencer darah dan obat-obatana lainnya.

III.

Riwayat alergi
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat-obatan dan makanan.
Riwayat kebiasaan
Pasien mengaku tidak merokok ataupun meminum- minuman beralkohol.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Baik, Tidak tampak cemas
Kesadaran
:Compos mentis
Status gizi
: TB
: 160 cm
BB
: 63 kg
BMI : 23,47
Tekanan darah
:100/80 mmhg
Pernafasan
: 22 x/menit
Nadi
: 84 x/menit
Suhu
: 36,7o C
Status generalis
Kepala
Mata
Telinga
Hidung
Mulut
Gigi geligi
Leher

: Normocephali, rambut berwarna hitam,


distribusi merata,
tidak mudah dicabut, dan tidak rontok
: konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, pupil isokor
: Normotia, liang tinga lapang, hiperemis -/-, secret -/-, membran
timpani intak +/+
: deviasi septum (-), mukosa hiperemis -/-, secret -/-, nafas cuping
hidung -/: sianosis (-), mukosa hiperemis (-)
: gigi palsu (-), gigi goyang (-)
: pembesaran KGB (-), pembesaran tyroid (-), deviasi trakea (-)

Thoraks
a. Pulmo
1. inspeksi : bentuk dada simetris kanan kiri, pergerakan hemitoraks kanankiri simetris tidak ada yang tertinggal.
2. palpasi : vocal fremitus teraba simetris dikedua hemitoraks, pergerakan
dinding dada simetris saat inspirasi maupun ekspirasi.
3. perkusi : sonor diseluruh lapangan paru.
4. auskultasi : terdengar suara nafas vesikuler +/+, tidak terdengar ronkhi
kering ataupun kasar dikedua lapang paru. Tidak terdengar suara pleural
friction rub.

b. Cor
1. Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
2. Palpasi : teraba ictus cordis pada ICS V linea midclavicularis sinistra
3. Perkusi : batas atas kiri : ICS II linea parasternalis sinistra,batas atas
kanan: ICS II linea sinistra dextra, batas bawah kiri : ICS V linea
midclavicularis sinistra, batas bawah kanan : ICS V linea sternalis dextra.
4. Auskultasi : BJ I II murni reguler, tidak ditemukan gallop maupun
murmur.

Abdomen
1. Inspeksi : datar, supel, tidak tampak venektasi, spider navy dan caput medusae.
2. Auskultasi : bising usus di ke 4 kuadran (+), venous hum (-), atrial bruits (-)
3. Palpasi : supel di ke 4 kuadran, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar dan lien tidak
teraba.
4. Pekusi : suara timpani di ke 4 kuadran.
Ekstremitas : bentuknya simetris tidak tampak deformitas, edema tungkai -/-, sianosis
-/IV.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

Hemoglobin

9,5 g/dl

P : 14-18
W : 12-16

Leukosit

8.630/ UL

5000-10.000

Hematokrit

29,9 %

P : 40-48
W : 37-43

Trombosit

592.000 / Ul

150.000-450.000

Masa pendarahan

1-6

Masa pembekuan

10

5-15

HBsAG

Negatif

Anti HIV

Non reaktif

V.

VI.
VII.

SGOT

14

P : < 37
W : < 31

SGPT

12

P : < 41
W : < 31

Ureum

19

17-43 mg/dl

Kreatinin

07

P : 0,7-1,1

GDS

82

<200 mg/dl

RESUME
Pasien tidak bisa BAK sejak tanggal 9 Juli 2015. Sebelum mengalami keluhan seperti
ini pasien mengaku bahwa pasien pada tanggal 7 Juli 2015 pasien melahirkan di
tempat bidan rahma dengan bantuan vakum. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
semua dalam batas normal, sedangkan pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
kadar hemoglobin pasien berada di bawah nilai normal.
Diagnosa kerja
G1P1A0 post partum 10 hari dengan retensio plasenta
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik maka dapat disimpulkan :
Diagnosa perioperatif
Status operatif
: ASA 1
jenis operatif
: kuretase
Jenis anastesi
: general anastesi

BAB III
LAPORAN ANESTESI

1. Pre-operatif
Informed Consent (+)
Puasa (+) selama 5 jam
Tidak ada gigi goyang atau pemakaian gigi palsu
IV line terpasang di pergelangan tangan kiri dengan infus cairan Ringer Laktat
Keadaan umum baik
Tanda vital
- TD: 110/70 mmHg
- Nadi: 86x/menit
2. Pre-medikasi anestesi
Sebelum dilakukan tindakan anestesi diberikan Ondansetron sebanyak 4 mg intravena
3. Tindakan Anestesi

Anestesi umum dengan teknik anestesi intravena (TIVA)


4. Pemantauan selama anestesi
Melakukan monitoring terus menerus mengenai keadaan pasien yaitu reaksi pasien
terhadap pemberian obat anesteisi khususnya terhadap fungsi pernafasan dan jantung
pasien, yaitu memeriksa tekanan nadi, tekanan darah, saturasi oksigen dan pernafasan
spontan pada pasien setiap 5 menit.
5. Monitoring Pasien
Jam
10:30

10.30

10.35

10:40

10:45

6. Laporan Anestesi
Lama anestesi

Tindakan
Pasien masuk ke
ruangan operasi,
ditidurkan
telentang di atas
meja operasi,
dipasangkan
manset tekanan
darah di lengan
kanan dan pulse
oksimeter di
tangan kiri, kanul
oksigen terpasang
di hidung
Injeksi
Ondansetron 4
mg bolus IV
Injeksi Fentanyl
100 Mg, sekitar
30 detik
kemudian
dilanjutkan
dengan injeksi
Propofol 150 mg
Operasi dimulai,
injeksi Oksitosin
10 IU drip
Operasi selesai,
injeksi Metil
Ergometrin 0,2mg
bolus IV
: 30 menit

Tekanan Darah
110/70 mmHg

Nadi
86x/menit

Saturasi O2
100%

100%

110/70 mmHg

86x/menit

100%

100%

110/70 mmHg

86x/menit

100%

Lama operasi
Jenis anestesi
Posisi
Teknik anestesi
Infus
Medikasi

: 5 menit
: Anestesi umum
: Litotomi
: TIVA
: Ringer Laktat 500 ml pada lengan kiri
: Fentanyl 100, Propofol 100 mg, Oksitosin 10 IU,
Metil Ergometrin 0,2 mg

7. Keadaan setelah pembedahan


Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan dilakukan pemantauan tanda vital sebelum
dipindahkan ke ruang perawatan. Masuk ke ruang pemulihan pada pk. 10:45 dan keluar
menuju ke ruang perawatan pada pk. 12:15. Selama observasi didapatkan:
a.
b.
c.
d.
e.

Kesadaran
Tekanan Darah
Nadi
Pernafasan
Saturasi Oksigen

: Compos Mentis
: 115/80 mmHg
: 89 x/menit
: 20 x/menit
: 100%

OBAT YANG DIBERIKAN


1. Ondansetron
Ondansetron termasuk obat yang digunakan untuk mengatasi mual dan muntah dengan
derajat sedang sampai berat seperti pada kondisi :
Mual muntah pasca kemoterapi (terapi pada penderita kanker)
Mual muntah pasca operasi
Mual muntah hebat hiperemesis gravidarum
Ondansetron termasuk kelompok obat Antagonis serotonin 5-HT3, yang bekerja dengan
menghambat secara selektif serotonin 5-hydroxytriptamine (5HT3) berikatan pada
reseptornya yang ada di CTZ (chemoreseceptor trigger zone) dan di saluran cerna.
Serotonin 5-hydroxytriptamine (5HT3) merupakan zat yang akan dilepaskan jika terdapat
toksin dalam saluran cerna, berikatan dengan reseptornya dan akan merangsang saraf vagus
menyampaikan rangsangan ke CTZ dan pusat muntah dan kemudian terjadi mual dan
muntah.
Keunggulan Ondansetron Indofarma dibandingkan dengan obat anti mual dan muntah yang
lain adalah:
Sangat efektif mengatasi mual dan muntah yang hebat
Relatif lebih aman karena tidak menimbulkan reaksi ekstrapyramidal,

Relatif aman digunakan untuk anak dan kasus hyperemesis gravidarum pada ibu hamil.
Mempercepat pengosongan lambung
Efek samping Ondansetron yang relatif sering ditemukan adalah sakit kepala, pusing dan
susah buang air besar. Tetapi terkadang efek samping ini hilang dengan sendirinya tanpa
perlu pengobatan khusus.
2. Propofol
Propofol menjadi obat pilihan induksi anestesia, khususnya ketika bangun yang cepat dan
sempurna diperlukan. Kecepatan onset sama dengan barbiturat intravena, masa
pemulihan lebih cepat dan pasien dapat pulang berobat jalan lebih cepat setelah
pemberian propofol. Kelebihan lainnya pasien merasa lebih nyaman pada periode paska
bedah dibanding anestesi intravena lainnya. Mual dan muntah paska bedah lebih jarang
karena propofol mempunyai efek anti muntah
3. Opioid (fentanyl)
Fentanyl merupakan derivat agonis sintetik opioid fenil piperidin, yang secara
struktur berhubungan dengan meperidin, sebagai anestetik 75 125 kali lebih poten dari morfin. Fentanyl adalah analgesik narkotik yang poten, bisa
digunakan sebagai tambahan untuk general anastesi maupun sebagai awalan
anastetik. Dosis 100 mg (w.o ml) setara dengan aktivitas analgesik 10mg morfin.
Fentanyl memiliki kerja cepat dan efek durasi kerja kurang lebih 30 menit setelah
dosis tunggal IV 100mg. Fentanyl bergantung dari dosis dan kecepatan pemberian
bisa menyebabkan rigiditas otot, euforia, miosis dan bradikardi. Seluruh efek dari
kerja fentanyl secara cepat dan secara penuh teratasi dan hilang dengan menggunaka
narkotik antagonis seperti Naloxon.
4. Tramadol
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. Tramadol
mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga
menghambat sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri. Disamping itu tramadol
menghambat pelepasan neurotransmiter dari saraf aferen yang sensitif terhadap
rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat. Indikasi Tramadol adalah untuk
pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan.
Kontraindikasi dari obat ini adalah Penderita yang sensitif terhadap tramadol atau
opiat dan penderita yang mendapatkan pengobatan dengan penghambat MAO,
intoksikasi akut dengan alkohol, hipnotik, analgesik, atau obat-obat yang
mempengaruhi SSP lainnya.
5. Oksitosin
Oksitosin terikat pada reseptornya yang berada pada membrane sel myometrium,
di mana selanjutnya terbentuk siklik adenosine-5-monofosfat (cAMP). Cara kerja

oksitosin adalah dengan menimbulkan depolarisasi potensial membrane sel. Dengan


terikatnya oksitosin pada membrane sel, maka Ca++ dimobilisasi dari reticulum
sarkoplasmik untuk mengaktivasi protein kontraktil. Kepekaan uterus terhadap
oksitosin dipengaruhi oleh hormone estrogen dan progesteron, dan banyaknya
reseptor oksitosin. Bersama dengan faktor-faktor lainnya oksitosin memainkan
peranan yang sangat penting dalam persalinan dan ejeksi ASI.
Oksitosin bekerja pada reseptor oksitosin untuk menyebabkan:
Kontraksi uterus pada kehamilan aterm yang terjadi lewat kerja langsung
pada otot polos maupun lewat peningkatan produksi prostaglandin
Konstriksi pembuluh darah umbilicus
Kontraksi sel-sel miopital reflex ejeksi ASI)
Pada reseptor hormone antidiuretic (ADH) menyebabkan:

Peningkatan atau penurunan yang mendadak pada tekanan darah diastolic


karena terjadinya vasodilatasi
Retensi air

Oksitosin tidak boleh digunakan pada kasus:

Hipersensitivitas oksitosin
Komplikasi obstetric
Kelainan letak janin
Plasenta previa
Kontraksi uterus hipertonik
Distress janin
Prematurasi
Gawat janin

BAB IV
ANALISA KASUS
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,
pasien didiagnosa G1P1A0 dengan retensi sisa plasenta dengan ASA 1. maka dari itu
pasien direncanakan untuk dilakukan prosedur kuretase untuk membersihkan sisa

plasenta yang masih terdapat pada kavum uteri pasien pasca melahirkan. Sebelum
operasi dilakukan, pasien diminta untuk berpuasa selama 9 jam. Hal ini bertujuan
untuk mengurangi isi lambung pasien sehingga kemungkinan pasien terjadinya
regurgitasi isi lambung dapat dicegah.
Pasien dibawa masuk ke dalam ruang operasi dan dibaringkan di atas meja
operasi. Pasien diminta untuk tenang serta dipasangkan manset untuk mengukur
tekanan darah, dan pulse oksimeter untuk mengontrol keadaan saturasi oksigen dan
nadi pasien selama operasi berlangsung. Setelahnya pasien diberikan pra-medikasi
Ondansetron sebanyak 4 mg dengan tujuan untuk menghilangkan mual ataupun
muntah akibat penggunaan obat-obatan anestesi. Karena ditakutkan terjadi regurgitasi
cairan lambung yang pada akhirnya dapat menyebabkan aspirasi.
Pasien diberikan opioid Fentanyl dengan dosis 100 g saat di ruang operasi untuk
menghasilkan efek analgesik. Pasien juga diberikan Propofol dengan tujuan
menghasilkan efek anestesi pada pasien. Propofol dipilih karena memiliki onset kerja
obat yang cepat dan waktu pulih yang singkat.
Setelah obat-obatan di atas diberikan kepada pasien dan efek obat telah bekerja,
operasi baru dapat dimulai. Bersamaan dengan dimulainya operasi, diberikan
oksitosin secara drip dengan dosis 10 IU agar dapat meningkatkan kontraksi uterus
sehingga perdarahan dapat dikendalikan. Onset kerja dari oksitosin yang diberikan
secara IV terjadi segera, lama kerjanya adalah 20 menit. Setelah jaringan plasenta
berhasil dikeluarkan dan dibersihkan dari dinding uterus, pasien diberikan obat Metil
Ergometrin sebanyak 0,2mg.
Setelah operasi selesai, pasien dievakuasi ke ruang pemulihan dan kondisi pasien
dinilai dnegan aldrete score. Karena pada pasien didapatkan skor sebesar 10, maka
pasien dapat dipindahkan ke ruang rawat.

BAB V
TINJAUAN PUSTAKA

KURETASE
Kuretase merupakan salah satu prosedur obstetrik dan ginekologi yang sering dilakukan.
Baik untuk pengosongan sisa konsepsi dari kavum uteri akibat abortus. Ataupun untuk
mengetahui kelainan perdarahan uterus pada kasus ginekologi. Prosedur ini berlangsung dalam
waktu singkat. Kasus yang membutuhkan tindakan kuretase bermacam-macam, diantaranya
abortus, blighted ovum, plasenta rest, dan hamil anggur. Ada juga kasus kuret yang ditujukan
untuk diagnostik seperti biopsi endometrium.
Diantara kasus kebidanan yang paling banyak memerlukan kuret diantaranya adalah
abortus. Menurut data resmi WHO (1994) abortus terjadi pada 10% dari seluruh kehamilan.1 Di
Inggris, setiap tahunnya ada 185.000 kasus induced abortion setiap tahun dan 11.500 kasus di
Skotlandia. 2 Di Indonesia sendiri diperkirakan ada lima juta kehamilan pertahun, dimana 1015% diantaranya atau sekitar 500.000-750.000 mengalami abortus setiap tahun.3 Studi-studi
terkini melaporkan 97% wanita merasakan nyeri mulai dari intensitas yang ringan sampai dengan
berat selama dan setelah abortus berlangsung dan frekuensinya terus meningkat setiap tahun.
Menurut ginekologi dari morula fertility clinic, RS Bunda, Jakarta tujuan kuret ada dua
yaitu :
a. Sebagai terapi pada kasus-kasus abortus. Intinya, kuret ditempuh oleh dokteruntuk
membersihkan rahi dan dinding rahim dari benda-benda atau jaringan yang tidak
diharapkan
b. Penegakan diagnosis. Semisal mencari tahu gangguan yang terdapat pada Rahim,
apakah sejenis tumor atau gangguan lain. Meski tujuannya berbeda, tindakan yang
dilakuksn pasien sebelum menjalani kuret.
Kapan kuretase harus dilakukan:
Kuretase bukan ditujukan untuk menggugurkan janin dalam kandungan. Masih banyak
kasus lain yang lebih penting untuk dilakukan tindakan kuretase, karena masalah tersebut bisa
mengganggu kesehatan. Kuretase tak bisa asal dilakukan. Selain harus ada indikasi medis, juga
harus ada persetujuan dari pasangan suami-istri. Dan, keputusan tersebut ditentukan oleh tim
dokter dari hasil diagnosa.
Beberapa kondisi dimana seorang wanita menjalani kuretase
1. Jiwa ibu terancam oleh kehamilan
2. Perdarahan pasca-persalinan

3. Ada gangguan haid


4. Kehamilan bermasalah
Indikasi kuretase:
1. Abortus Inkomplet
Keguguran saat usia kehamilan <20 minggu dengan didapatkan sisa-sisa
kehamilan, biasanya masih tersisa adanya plasenta. Kuretase dalam hal ini
dilakukan untuk menghentikan perdarahan yang terjadi oleh karena keguguran.
Mekanisme perdarahan pada kasus keguguran adalah dengan adanya sisa jaringan
menyebabkan rahim tidak bisa berkontraksi dengan baik sehingga pembuluh dara
pada lapisan dalam rahim tidak dapat tertutup dan menyebabkan perdarahan.
2. Blighted Ovum (janin tidak ditemukan, yang berkembang hanya plasenta)
Dalam kasus ini kuretase harus dilakukan oleh karena plasenta yang tumbuh akan
berkembang menjadi suatu keganasan, seperti chorion Ca, penyakin trofoblas
ganas pada kehamilan.
3. Dead conseptus (janin mati pada usia kehamilan <20 minggu)
Biasanya parameter yang jelas adalah pemeriksaan USG, dimana ditemukan janin
tetapi jantung janin tidak berdenyut. Apabila ditemukan pada usia keamilan 16-20
minggu, diperlukan obat perangsang persalinan untuk proses pengeluatran janin
kemudia baru dilakukan kuretase. Akan tetapi bila ditemukan saat usia kehamilan
<16 minggu dapat langsung dilakukan kuretase.
4. Abortus Mola (tidak ada janin, yang tumbuh hanya plasenta dengan gambaran
bergelembung seperti buah anggur)
Tanda-tanda hamil anggur adala tinggi rahim tidak sesuai dengan umur
kehamilan. Rahim lebih cepat membesar dan apabila ada perdarahan ditemukan
adanya gelembung-gelembung udara pada darah.
5. Menometroragia
Tindakan kuretase dilakukan di samping untuk menghentikan perdarahan juga
dapat digunakan untuk mencari penyebabnya, oleh karena gangguan hormonal
atau adanya tumor Rahim atau keganasan setelah hasil kuretase diperiksa secara
mikroskopik.

Efek samping tindakan kuretase

Perforasi
Salah satu komplikasi kuretase adalah perforasi dinding uterus, yang
dapat menjurus ke rongga peritoneum, ke ligamentum latum, atau ke
kandung kencing. Oleh sebab itu, letak uterus harus ditetapkan lebih dahulu
dengan seksama pada awal tindakan, dan pada dilatasi serviks tidak boleh
digunakan tekanan berlebihan. Bahaya perforasi ialah perdarahan dan
peritonitis.
Infeksi
Infeksi merupakan bahaya ke dua penyebab kematian ibu setelah
perdarahan (Rukmini, 2005). Perlukaan jalan lahir terjadi saat persalinan,
luka tersebut ada yang ringan , luas bahkan berbahaya. Salah satu
diantaranya adalah robekan perineum, infeksi kala nifas terjadi akibat
perlukaan karena persalinan yang merupakan tempat masuknya kuman ke
dalam tubuh (Purwaningsih, 2005).
ANESTESI UMUM
A. Latar Belakang Anestesi Umum
Anestesia berasal dari perkataan Yunani yang berarti hilangnya rasa. Pertama kali
istilah ini digunakan filsuf Yunani untuk menggabarkan efek narkosis tanaman mandragora.
Tindakan dan usaha menghilangkan rasa sakit sudah ada sejak dulu. Cara dan bahan yang
digunakan pun beragam. Terjadi perloncatan dalam perkembangan ilmu kedokteran pada
abad ke-19, sejak itu semua bidang kedokteran termasuk anestesiologi berkembang pesat
bersama kemajuan ilmu pembedahan. Ilmu anestesia sendiri berkembang pesat sejak awal
abad 20 dengan ditemukan zat-zat anestetik, prosedur intubasi dan bebagai teknik
pemantauan.
B. Komponen Anestesia Umum
Dahulu dikenal istilah Trias Anestesia, yaitu hipnosis, analgesia, dan arefleksia. Namun
sekarang anestesia umum tidak hanya mempunyai tiga komponen itu. Secara umum
komponen yang ada dalam anestesia umum adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

hipnosis
analgesia
arefleksia
relaksasi otot
amnesia

Dalam praktik sehari-hari tidak semua komponen diatas harus terpenuhi. Secara singkat,
anestesia umum dapat diartikan suatu tindakan yang menyebabkan perubahan fisiologik
yang reversibel yang dikondisikan untuk memungkinkan pasien menjalani berbagai prosedur
medis.

C. Keuntungan Anestesia Umum


1. Pasien tidak sadar,
2. Efek amnesia meniadakan memori buruk pasien, yang mungkin memberikan trauma
psikologis
3. Memungkinkan dilakukan prosedur yang memakan waktu lama
4. Memudahkan kontrol penuh ventilasi pasien
D. Kerugian Anestesia Umum
1. Sangat mempengaruhi fisiologi
2. Memerlukan pemantauan yang lebih holistik dan rumit
3. Tidak dapat mendeteksi gangguan susunan saraf pusat, contohnya kesadaran
4. Resiko kompikasi pasca bedah lebih besar
5. Memerlukan persiapan pasien yang lebih seksama.
E. Indikasi anestesi umum
1. Infant & anak usia muda
2. Dewasa yang memilih anestesi umum
3. Pembedahannya luas/eskstensif
4. Penderita sakit mental
5. Pembedahan lama
6. Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan
7. Riwayat penderita tksik / alergi obat anestesi lokal
8. Penderita dengan pengobatan antikoagulantia
F. Stadium-Stadium Anestesia
Stadium anestesia dibuat berdasarkan efek ether, berikut adalah Klasifikasi Guedel :
1. Stage 1
Disebut juga stadium induksi. Periode obat induksi hingga hilangnya kesadaran
2. Stage 2
Disebut juga stadium eksitasi. Setelah kesadaran hilang, timbul eksitasi dan
delirium.
3. Stage 3
Disebut juga stadium pembedahan, yang dibagi atas 4 plana yaitu;
Plana 1 : mata berputar, kemudian terfiksasi
Plana 2 : Refleks kornea dan laring hilang
Plana 3 : Dilatasi pupil , refleks cahaya hilang
Plana 4 : Kelumpuhan otot interkostal, pernafasan menjadi abdominal dan
dangkal.

4. Stage 4 : Merupakan stadium overdosis obat anestetik.

G. Manajemen Perioperatif/ Perianestesia


Tujuan utama periperative ini adalah untuk mempersiapkan pasien seoptimal mungkin
serta meminimalkan komplikasi anestesia dan pembedahan yang akan dijalankan. Selain itu
hal ini dapat menghindari dari masalah-masalah medikolegal.
1. Periode Prabedah
Tujuan utamanya adalah mencari kemungkinan penyulit anestesia atau tindakan
pembedahan. Diantaranya adalah mengetahui riwayat kesehatan pasien, untuk menilai
apakah ada kelainan anatomis terutama jalan nafas pasien, penggunaan obat-obat
tertentu, kelainan fungsi tubuh lainnya. Tentunya anamnesis dilakukan saat kunjungan
pra anestesia, antara lain yaitu :
-

Identitas pasien
Keluhan yang dirasakan pasien , riwayat penyakit yang diderita, termasuk
riwayat pengobatan,

riwayat penyakit sistemik sepetri Hipertensi, DM,

Penyakit jantung, Penyakit/Gangguan Hati dan Ginjal, Asthma, dan riwayat


-

alergi yang dimiliki , riwayat operasi sebelumnya.


Gaya hidup / kebiasaan pasien, misalnya merokok, minum alkohol, atau

penggunaan obat-obat rekreasional


Penggunaan gigi palsu, atau gigi yang goyang

2. Pemeriksaan fisik
Menilai fisik pasien secara umum, dimulai dari keadaan umum, tanda vital dan
status generalis pasien. Pada status generalis pasien perli dinilai bentuk wajah pasien,
leher, lidah, maksilla, gigi-geligi sebagai penilaian untuk memperkirakan kesulitan
dalam ventilasi dan intubasi. Pemeriksaan rutin secara sistemik tentang keadaan umum
tentu tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi semua
sistem organ tubuh pasien.
3. Pemeriksaan tambahan
Uji laboratorium dilakukan atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan
penyakit. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan darah (Hb, leukosit, masa
perdarahan, dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien di atas 50 tahun ada
anjuran pemeriksaan EKG dan foto thoraks.

4. Status Fisik
Status fisik menggambarkan tingkat kebugaran pasien untuk menjalani anestesia.
Berikut ini klasifikasi status fisik oleh American Society of Anesthesiologist (ASA) ;
Kelas 1
: Pasien sehat yang akan menjalani operasi
Kelas 2
: Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang, tanpa
pembatasan aktivitas
Kelas 3
: Pasien dengan penyakit sistemik berat yang membatasi aktivitas
Kelas 4

rutin
: Pasien dengan kelainan sistemik berat yang menyebabkan
ketidakmampuan melakukan aktivitas rutin, yang mengancam

Kelas 5

nyawanya setiap waktu.


: Pasien tidan ada harapan, dengan atau tanpa pembedahan

diperkirakan akan meninggal dalam 24 jam.


5. Puasa
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesi. Regurgitasi isi lambung dan
kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama pada pasien yang
menjalani anestesi. Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang
dijadwalkan untuk operasi elektif dengan anestesi harus dipantangkan dari masukan
oral (puasa) selama periode tertentu sebelum induksi anestesi.
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam, dan pada bayi
3-4 jam. Makanan tidak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi anestesi.
Minuman air putih, teh manis sampai 3 jam, dan untuk keperluan minum obat air putih
dalam jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anestesi.
6. Premedikasi
Sebelum pasien diberi obat anestesi, langkah selanjutnya adalah dilakukan
premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesi diberi dengan tujuan
untuk melancarkan induksi, rumatan, dan bangun dari anestesi di antaranya:
a. Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien. Menghilangkan rasa khawatir melalui:
Kunjungan pre-anestesi.
Pengertian masalah yang dihadapi.
Keyakinan akan keberhasilan operasi.
b. Memberikan ketenangan (sedatif).
c. Membuat amnesia.
d. Mengurangi rasa sakit

Pemberian analgesik non-narkotik atau narkotik


e. Mencegah mual dan muntah.
f.

Memudahkan atau memperlancar induksi


Pemberian hipnotik sedatif atau narkotik.

g. Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan lambung


Pemberian antikolinergik atropin, primperan, rantin, atau H2 antagonis.
Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam 1 jam, secara
intramuskuler minimum harus ditunggu 40 menit. Pada kasus yang sangat darurat
dengan waktu tindakan pembedahan yang tidak pasti obat-obat dapat diberikan secara
intravena. Obat akan sangat efektif sebelum induksi. Jika pembedahan belum dimulai
dalam waktu 1 jam dianjurkan pemberian premedikasi intramuskuler, subkutan tidak
dianjurkan. Semua obat premedikasi jika diberikan secara intravena dapat
menyebabkan sedikit hipotensi kecuali atropin dan hiosin. Hal ini dapat dikurangi
dengan pemberian secara perlahan-lahan dan diencerkan.
Obat-obat yang sering digunakan:
a. Analgesik narkotik
-

Petidin (amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB

Morfin (amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB

Fentanyl (fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3gr/kgBB

b. Analgesik non narkotik


-

Ponstan

Tramol

Toradon

c. Hipnotik
-

Ketamin (fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB

Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB

d. Sedatif
-

Diazepam/valium/stesolid (amp 2cc = 10mg), dosis 0,1 mg/kgBB

Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg), dosis 0,1mg/kgBB

Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5 mg/kgBB

Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1 mg/kgBB

e. Anti-emetik
-

Sulfas atropin (antikolinergik) (amp 1cc = 0,25 mg), dosis 0,001 mg/kgBB

Narfoz, rantin, primperan

H. Induksi anestesi
Induksi merupakan tindakan untuk merubah keadaan pasien dari sadar menjadi tidak
sadar sehingga pembedahan dapat dilaksanakan. Setelah pasien dilakukan induksi anestesi
dan tidak sadarkan diri langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesi sampai tindakan
pembedahan selesai. Peralatan dan obat-obatan yang digunakan pada induksi anestesi adalah
STATICS:
Scope

Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung.


Laringoskop pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan
usia pasien. Lampu harus cukup terang.

Tube

Pipa trakea pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon
(cuffed) dan > 5 tahun dengan balon (cuffed).

Airway

Pipa mulut faring (guedel, oro-tracheal airway) atau pipa


hidung-faring (naso-tracheal airway). Pipa ini untuk
menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya
lidah tidak menyumbat jalan napas.

Tape

Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau


tercabut.

Introducer

Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik (kabel) yang


mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah
dimasukkan.

Connector

Penyambung antara pipa dan peralatan anestesi.

Suction

Penyedot lendir, ludah, dan lain-lainnya.

Jenis induksi pada anestesi umum :


1. Induksi intravena
Paling banyak dilakukan dikarenakan sudah terpasangnya jalur vena sehingga mudah
diakses dan cepat. Namun hanya dapat dikerjakan pada pasien yang kooperatif. Obat
yang digunakan pada induksi intravena:

Tiopental (pentotal, tiopenton) amp 500 mg atau 1000 mg


Merupakan golongan barbiturate. Berbentuk tepung atau serbuk berwarna
kuning sehingga sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades steril sampai
kepekatan 2,5% (1 ml = 25 mg). Hanya digunakan untuk intravena karena
bersifat alkalis (pH 10-11) sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri saat
diinjeksi ke vena. Dosis thiopental adalah 3-7 mg/kg disuntikan perlahanlahan dihabiskan dalam 30-60 detik. Bergantung dosis dan kecepatan suntikan
tiopental akan menyebabkan pasien berada dalam keadaan sedasi, hipnosis,
anestesi, atau depresi napas. Tiopental menurunkan aliran darah otak, tekanan
likuor, tekanan intrakranial, dan diduga dapat melindungi otak akibat
kekurangan O2 . Dosis rendah bersifat anti-analgesik.

Propofol (diprivan, recofol)


Merupakan golongan non barbiturate. Lebih sering dipakai daripada golongan
barbiturate karena bekerja lebih cepat, efek mual muntah post operative
minimal dan pemulihan lebih cepat. Dikemas dalam cairan emulsi lemak
berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1% (1 ml = 10 mg).
Suntikan intravena sering menyebabkan nyeri sehingga beberapa detik
sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kg intravena. Dosis bolus untuk
induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anestesi intravena total 4-12

mg/kg/jam, dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0.2 mg/kg. Pengenceran
hanya boleh dengan dekstrosa 5%. Tidak dianjurkan untuk anak < 3 tahun dan
pada wanita hamil.

Ketamin (ketalar)
Kurang

digemari

karena

sering

menimbulkan

takikardi,

hipertensi,

hipersalivasi, nyeri kepala, serta pasca anestesi dapat timbul mual-muntah,


pandangan kabur, dan mimpi buruk. Sebelum pemberian sebaiknya diberikan
sedasi midazolam (dormikum) atau diazepam (valium) dengan dosis 0,1
mg/kg intravena dan untuk mengurangi salivasi diberikan sulfas atropin 0,01
mg/kg. Dosis bolus 1-2 mg/kg dan untuk intramuskuler 3-10 mg. Ketamin
dikemas dalam cairan bening kepekatan 1% (1 ml = 10 mg), 5% (1 ml = 50
mg), 10% (1 ml = 100 mg).

Opioid (morfin, petidin, fentanyl, sufentanyl)


Diberikan dosis tinggi. Tidak menggaggu kardiovaskuler sehingga banyak
digunakan untuk induksi pasien dengan kelainan jantung. Untuk anestesi
opioid digunakan fentanyl dosis 20-50 mg/kg dilanjutkan dosis rumatan 0,3-1
mg/kg/menit.

2. Induksi intramuskuler
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara intramuskuler
dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.
3. Induksi inhalasi

N2O (gas gelak, laughing gas, nitrous oxide, dinitrogen monoksida)


Bersifat anastetik lemah dan analgesi kuat sehingga sering digunakan untuk
mengurangi nyeri menjelang persalinan. Dalam ruangan berbentuk gas tidak
berwarna, bau manis, tidak iritasi, tidak terbakar, dan beratnya 1,5 kali berat
udara. Pemberian harus disertai O2 minimal 25%. N2O jarang digunakan
sendiri umumnya dikombinasi dengan zat lain. Selesai anaesthesi setelah N2O
dihentikan, N2O akan mudah keluar dan menyebabkan pengenceran O2 dan

dapat menyebabkan hipoksia difusi sehingga perlu diberikan oksigen 100% 510 menit.

Halotan (fluotan)
Merupakan analgesik lemah tetapi anestesi kuat. Memliki bau yang enak dan
tidak merangsang jalan napas sehingga sering digunakan untuk induksi
bersama N2O selain itu juga digunakan untuk laringoskop intubasi. Halotan
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah otak sehingga aliran darah otak
meningkat serta menghambat pelepasan insulin sehingga mininggikan kadar
gula darah.. Kelebihan dosis dapat menyebabkan depresi napas, menurunnya
tonus simpatis, terjadi hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi
vasomotor, depresi miokard, dan inhibisi refleks baroreseptor.

Enfluran (etran, aliran)


Efek depresi napas lebih kuat dibanding halotan dan enfluran lebih iritatif
disbanding halotan. Depresi sirkulasi lebih kuat dibanding halotan tetapi lebih
jarang menimbulkan aritmia. Efek relaksasi terhadap otot lurik lebih baik
dibanding halotan.

Isofluran (foran, aeran)


Meninggikan aliran darah otak dan tekanan intrakranial. Peninggian aliran
darah otak dan tekanan intrakranial dapat dikurangi dengan teknik anestesi
hiperventilasi sehingga isofluran banyak digunakan untuk bedah otak. Efek
terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal sehingga digemari untuk
anestesi teknik hipotensi dan banyak digunakan pada pasien dengan gangguan
koroner.

Desfluran (suprane)
Sangat mudah menguap. bersifat simpatomimetik menyebabkan takikardi dan
hipertensi. Efek depresi napas seperti isofluran dan etran. Merangsang jalan
napas atas sehingga tidak digunakan untuk induksi anestesi.

Sevofluran (ultane)

Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan isofluran karena
cepat keluar dari tubuh. Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan
napas sehingga digemari untuk induksi anestesi inhalasi di samping halotan.
Efek terhadap kardiovaskular cukup stabil jarang menimbulkan aritmia
4. Induksi per rektal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan tiopental atau midazolam.

5. Induksi mencuri
Dilakukan pada anak atau bayi yang sedang tidur. Dapat dilakukan secara intravena
atau inhalasi. Induksi inhalasi biasa hanya sungkup muka tidak kita tempelkan pada
muka pasien tetapi kita berikan jarak beberapa sentimeter sampai pasien tertidur baru
sungkup muka kita tempelkan.
I. Rumatan anestesi (maintenance)
Dapat dikerjakan secara intravena (anestesi intravena total), inhalasi, atau dengan
campuran intravena inhalasi. Rumatan anestesi mengacu pada trias anestesi yaitu tidur
ringan (hipnosis) sekedar tidak sadar, analgesik cukup, diusahakan agar pasien selama
dibedah tidak menimbulkan nyeri, dan relaksasi otot lurik yang cukup.
Rumatan intravena umumnya menggunakan opioid dosis tinggi, fentanyl 10-50 g/kgBB.
Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur dengan analgesik cukup sehingga tinggal
memberikan relaksasi pelumpuh otot. Opioid dapat dikombinasi dengan propofol 4-12
mg./kgBB/jam dengan dosis yang diturunkan atau dosis biasa.
Rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N2O dan O2 dengan perbandingan
3:1 ditambah halotan 0,5-2 vol% atau enfluran 2-4% atau isofluran 2-4 vol% atau sevofluran
2-4% bergantung apakah pasien bernapas spontan, dibantu, atau dikendalikan. Dosis gas
yang dialirkan juga tergantung dengan keadaan pasien jika tekanan darah pasien meningkat
vol % gas juga ditingkatkan begitu juga sebaliknya.
J. Tatalaksana jalan napas dasar
Pada kasus kegawatdaruratan, mencegah dan mengatasi hipoksia dengan cara
mempertahankan patensi jalan napas serta memastikan ventilasi adekuat merupakan prioritas

pertama. Oleh sebab itu, pengenalan dini dan tatalaksana yang tepat terhadap gangguan jalan
napas dan ventilasi merupakan hal yang sangat penting.
1. Triple Airway Manuver
Salah satu intervensi awal yang dapat dilakukan untuk menjaga pantensi jalan napas
adalah dengan melakukan triple airway manuver. Triple airway manuver hanya
dilakukan pada pasien tanpa kecurigaan cedera pada tulang servikal. Komponennya
terdiri atas ekstensi leher, elevasi mandibula (jawthrust manuver), dan pembukaan
mulut. Pada pasien dengan kecurigaan cedera tulang servikal, komponen ekstensi
leher ditiadakan. Setelah imobilisasi tuulang servikal, elevasi mandibula dan
pembukaan mulut baru dikerjakan.
2. Manuver Tepuk Punggung
Manuver tepuk punggung dilakukan pada pasien bayi atau anak kurang dari 1 tahun
yang mengalami sumbatan jalan napas. Manuver ini dikerjakan dengan cara :
a. Anak diposisikan sebagai berikut : punggung menghadap ke penolong, topang
leher dan kepala anak dengan satu tangan.
b. Wajah anak menghadap kebawah dengan kepala diposisikan lebih rendah
daripada tubuh.
c. Lakukan 5 kali tepukan punggung diantara bahu dan tulang belikat dengan
punggung pergelangan tangan.
3. Manuver Helmlich
- Penolong berdiri dibelakang pasien. apabila memungkinkan tinggi penolong
-

sepadan dengan pasien.


Kepalkan salah satu tangan dan tangan yang lain memegang tangan yang terkepal.
Perhatikan posisi ibu jari dan jari telunjuk tangan yang terkepal. Kedua jari

sebaiknya membentuk tonjolan untuk meningkatkan kedalaman.


Posisikan tangan diantara prosesus xiphoideus dan umbilikus pasien
Tekan tangan dengan cepat, kuat, serta kearah atas (seperti mendorong). Gerakan
ini melibatkan fleksi dari siku.

4. Oropharyngeal Airway (OPA)


Oropharyngeal Airway adalah alat bantu untuk mempertahankan jalan napas tetap
terbuka pada sumbatan akibat lidah yang jatuh menutupi laring. Alat ini hanya
digunakan pada pasien yang tidak sadar atau tidak memiliki refleks muntah.
Apabila masih sadar atau masih memiliki refleks muntah, pasien akan menolak
atau bahkan muntah jika OPA dipaksakan. Sebagai alternatif, dapat digunakan
nasopharyngeal airway (NPA).
Cara memasang OPA adalah :

a. Pemasang berdiri dibelakang kepala pasien


b. Buka mulut dengan teknik crossed finger. Ibu jari mendorong rahang bawah,
telunjuk mendorong rahang atas.
c. OPA dimasukan secara terbalik, puncak OPA awalnya dimasukkan menghadap
langit-langit pasien kemudian diputar 180 derajat. Apabila menggunakan
spatel lidah, OPA dapat dimasukan sesuaai dengan kurvatura mulut.
d. Apabila pasien mulai mau muntah, lepaskan OPA. Berarti refleks munah
masih intak dan sebaiknya ganti dengan NPA.
5. Nasopharyngeal airway (NPA)
Pemilihan nasopharyngeal airway dilakukan dengan mengukur dari puncak telinga
pasien ke puncak hidung. Dipilih diameter NPA terbesar yang masih dapat masuk
dengan cara melihat diameter kelingking pasien.
Cara memasang NPA adalah :
a. Lubrikasi NPA dengan pelumas yang larut air
b. Posisikan kepala pasien dalam posisi yang netral kemudian dorong ujung
hidung pasien kebelakang secara lembut.
c. Masukan NPA dengan posisi miring terhadap septum nasi kedalam lubang
hidung kanan mengikuti kurvatura alami dari hidung
d. Ujung dari NPA harus diposisikan berlawanan dengan bukaan hidung
6. Ventilasi dengan masker
Ventilasi bantuan dengan menggunakan bag-valve mask diindikasikan pada
kondisi :
a. Pasien apneu
b. Volume tidal berdasarkan pemeriksaan fisis dinilai tidak mencukupi
c. Untuk mengurangi usaha bernapas dengan membantu ventilasi pasien
d. Jika terjadi hipoksemia yang berkaitan dengan ventilasi spontan yang tidak
adekuat walaupun sudah diberikan oksigen konsentrasi tinggi.
K. Tata laksana jalan napas lanjut
Tata laksana jalan napas lanjut meliputi sungkup laring, intubasi, dan trakeostomi.
a. Sungkup Laring
Sungkup laring (laryngeal mask airway-LMA) memiliki bentuk seperti pipa besar
berlubang dengan ujung yang menyerupai sendok
1. Sungkup laring standar hanya memiliki satu pipa sementara jenis sungkup lain
memiliki pipa tambahan yang berhubungan dengan esofagus. Pemasangannya
dapat dilakukan dengan atau tanpa bantuan laringoskop. Oleh karena itu, LMA

biasanya digunakan jika pemasangan intubasi trakea diperkirakan akan


menemui kesulitan. Pemasangan LMA tetap membutuhkan kondisi pasien yang
tenang dan rileks seperti dalam keadaan teranestesi atau pada henti jantung.
Indikasi
Indikasi penggunaan LMA adalah :

Ventilasi efektif. Pada prosedur operasi dapat digunakan sebagai alternatif dan
terutama dipilih pada prosedur operasi dengan durasi singkat yang tidak

mengharuskan intubasi endotrakeal.


Jalan napas sulit. Jika intubasi gagal dilakukan, LMA dapat dipasang sebagai
penggantinya. Jika pasien tidak dapat diintubasi namun masih dapat diberi
ventilasi buatan. LMA lebih dipilih daripada bag valve-mask karena lebih
mudah digunakan dalam jangka waktu yang lama dan dapat mengurangi risiko

aspirasi dibandingkan teknik bag valve-mask


Pada pasien henti jantung, LMA dapat digunakan sebagai alternatif intubasi.
Alat ini lebih disenang untuk setting tempat umum karena dapat dikerjakan oleh
tenaga medis yang belum begitu berpengalaman melakukan intubasi.

Kontraindikasi

Kontraindikasi absolut : pasien dengan mulut tidak dapat dibuka dan pada

pasien dengan obstruksi total pada jalan napas atas


Kontraindikasi relatif (kondisi bukan gawat darurat) : pasien dengan obesitas
morbid, hamil trimester ke-2 atau ke-3, belum puasa, atau dengan perdarahan
gastrointestinal.

Teknik
Sebelum pemasangan LMA, pasien terlebih dahulu diberi pra-oksigenasi dengan
O2 100%. Pilih ukuran LMA yang sesuai, cek fungsinya dan pastikan tidak ada
kebocoran. Kempeskan cuff LMA hingga benar-benar datar. Gunakan lubrikan yang
larut air pada permukaan posterior LMA untuk mempermudah pemasangan. Berikan
sedasi dan posisikan pasien. posisi yang paling baik adalah posisi mengendus. Pegang
LMA seperti memegang pulpen dengan tangan yang dominan. Posisi telunjuk ada pada

peralihan antara masker dan tabung. Masukkan LMA sepanjang palatum durum dan
lanjutkan dengan penekanan perlahan. Jika posisi dirasa sudah tepat, kembangkan cuff
LMA.
Komplikasi pemasangan LMA lebih sering terjadi pada kondisi gawat darurat dari
pada operasi elektif. Aspirasi isi lambung atau iritasi lokal dapat terjadi. Pemasangan
dapat menyebabkan trauma pada jalan napas atas, seperti lesi yang dipicu oleh
tekanan LMA, atau kelumpuhan saraf. Walaupun pemasangan LMA sudah tepat,
obstruksi jalan napas pada laring (seperti laringospasme) masih dapat terjadi.
Komplikasi lain yang terkait dengan ventilasi bertekanan positif adalah edema paru
dan bronkokonstriksi.
L. Tata laksana pasca-operasi
Tatalaksana pasca-operasi di kamar pulih khusus
Setelah menjalani tindakan operasi. Pasien dipantau secara ketat didalam ruangan
yang disebut sebagai kamar pulih khusus. Lokasi kamar pulih khusus biasanya tidak jauh
dari ruang operasi agar jika terjadi kegawatan dapat segera dilakukan manajemen yang
sesuai. Pengawasan dikamar pulih khusus dilakukan secara intensif dengan peralatan
yang lengkap dan terpisah dari peralatan dikamar operasi. Kondisi ideal yang diharapkan
pada pasien pasca-operasi adalah pasien bangun secara bertahap, cepat, dan tanpa
keluhan. Akan tetapi, banyak pasien mengalami stres atau gangguan pasca bedah, seperti:

1. Gangguan pernapasan
Pasien pasca-anestesi yang belum sadar penuh cukup sering mengalami obstruksi
napas, baik parsial maupun total, karena edema laring atau lidah yang jatuh
kebelakang sehingga menutup laring. Obstruksi napas juga dapat terjadi akibat
spasme laring pada saat pasien menjelang sadar karena laring terangsang benda asing
seperti darah atau ludah. Hal ini dapat diatasi dengan triple airway maneuver dan
suplai oksigen. Jika penyebabnya adalah spasme laring, dapat diberikan
kortikosteroid intravena (seperti dexametason) dan pertimbangkan pelumpuh otot
dengan napas kendali atau napas bantuan.
Pada kasus tertentu dimana tidak ditemukan adanya obstruksi apa pun, pasien
dapat tampak sianosis dengan saturasi oksigen yang terus menurun. Penyebab kondisi
ini biasanya karena pernapasan pasien lambat dan dangkal, sebagainya efek dari obat

opioid atau pelumpuh otot. Antagonis intravena untuk opioid yang tersedia adalah
nalokson, sementara antagonis untuk pelumpuh otot yang tersedia adalah prostigminatropin.
2. Gangguan kardiovaskular
Pasien dapat mengalami peningkatan tekan darah akibat nyeri
pembedahan atau aktivitas saraf simpatis oleh kondisi hipoksia. Jika tekanan
darah meningkat secara akut dan dalam waktu yang lama, gagal jantung, infark
miokard, hingga pendarahan otak dapat saja terjadi. Terapi yang dapat diberi
adalah nitroprusid dengan dosis 0,5-1,0 g/KgBB/menit atau antihipertensi
intravena lain. Jika sebelum operasi pasien sudah diketahui menderita hipertensi,
maka anti hipertensi yang selama ini telah digunakan perlu dilanjutkan.
3. Gelisah
Gelisah dapat disebabkan berbagai hal, seperti hipoksia, asidosis,
hipotensi, kesakitan, atau efek samping obat. Beri tata laksana sesuai etiologi, dan
jika penyebabnya adalah ansietas, dapat diberikan midazolam dengan dosis 0,050,1 mg/KgBB.
4. Nyeri
Tata laksana nyeri bergantung pada derajat nyeri. Nyeri ringan atau sedang
diberi obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) tunggal atau kombinasi opioid
lemah (tramadol). Nyeri berat pada diberi opioid dengan rute pemberian sesuai
sediaan obat dan kondisi pasien.
5. Mual-muntah
Mual-muntah cukup sering terjadi sebagai akibat penggunaan opioid,
bedah intra-abdomen, hipotensi, atau pada anestesi regional. Obat intravena yang
sering digunakan untuk mengatasi mual muntah diantaranya metoklopramid 0,1
mg/KgBB atau ondansetron 0,05-0,1 mg/KgBB.
6. Menggigil
Terapi untuk menggigil adalah petidin 10-20 mg intravena. Tata laksana
nonfarmakologi seperti penggunaan selimut hangat sebaiknya juga dilakukan.
Penilaian yang biasa digunakan sebagai kriteria untuk menilai keadaan pasien selama
observasi di ruang pemulihan biasanya menggunakan Skor Aldrete yang biasanya skor ini untuk

menentukan boleh atau tidaknya pasien dikeluarkan dari ruang pemulihan. Berikut adalah tabel
penilaian skor aldrate biasanya pasien akan dikeluarkan bila nilai sudah mencapai 8.
GERAKAN

SKOR

Dapat menggerakan ke 4 ekstremitas sendiri atau dengan perintah

Dapat menggerakan ke 2 ekstremitas sendiri atau dengan perintah

Tidak dapat menggerakan ekstremitas sendiri atau dengan perintah

PERNAFASAN
Bernafas dalam dan kuat serta batuk

Bernafas berat dan dispneu

Apneu dan nafas dibantu

TEKANAN DARAH
Sama dengan nilai awal + 20%

Berbeda lebih dari 20-50 % dari nilai awal

Berbeda lebih dari 50 % dari nilai awal

KESADARAN
Sadar penuh

Tidak sadar, ada reaksi terhadap rangsang

Tidak sadar, tidak ada reaksi terhadap rangsang

WARNA KULIT
Merah

Pucat, ikterus dan lain-lain

Sianosis

DAFTAR PUSTAKA

1. Sunarto RF, Chandra F. Buku Ajar Anestesiologi UI. Departemen Anestesiologi dan
Intensive Care Fakultas Kedokteran Indonesia / RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Jakarta.2012
2. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
2009
3. Mangku G, Senapathi TGA. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta. 2010
4. Soenarjo, Jatmiko HD. Anestesiologi. Ikatan Doktes Spesialis Anestesi dan Reanimasi
(IDSAI). Semarang. 2010
5. Gronds
S,
Sablotzki

A.Clinical

Pharmacokinet.2004;43(13):876-923

Pharmacology

of

Tramadol.

Clin