Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Kanker Serviks
Kanker leher rahim (serviks) atau karsinoma serviks uterus merupakan
kanker pembunuh wanita nomor dua di dunia setelah kanker payudara. Di
Indonesia, kanker leher rahim bahkan menduduki peringkat pertama. Kanker
serviks yang sudah masuk ke stadium lanjut sering menyebabkan kematian
dalam jangka waktu relatif cepat.
Kanker serviks uterus adalah keganasan yang paling sering ditemukan
dikalangan wanita. Penyakit ini merupakan proses perubahan dari suatu
epithelium yang normal sampai menjadi Ca invasive yang memberikan gejala
dan merupakan proses yang perlahan-lahan dan mengambil waktu bertahuntahun.
Serviks atau leher rahim/mulut rahim merupakan bagian ujung bawah
rahim yang menonjol ke liang sanggama (vagina). Kanker serviks berkembang
secara bertahap, tetapi progresif. Proses terjadinya kanker ini dimulai dengan
sel yang mengalami mutasi lalu berkembang menjadi sel displastik sehingga
terjadi kelainan epitel yang disebut displasia. Dimulai dari displasia ringan,
displasia sedang, displasia berat, dan akhirnya menjadi karsinoma in -situ
(KIS), kemudian berkembang lagi menjadi karsinoma invasif. Tingkat
displasia dan KIS dikenal juga sebagai tingkat pra -kanker. Dari displasia
menjadi karsinoma in -situ diperlukan waktu 1-7 tahun, sedangkan karsinoma
in-situ menjadi karsinoma invasif berkisar 3-20 tahun.
Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV)
onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim,
apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ
lain di seluruh tubuh penderita.
B. Klasifikasi Kanker Serviks
Ada beberapa klasifikasi tapi yang paling banyak penganutnya adalah
yang dibuat oleh FIGO (Federation International of Ginecologi and Obstetrics)
yaitu sebagai berikut :
Stage 0 : Casrsinoma insitu = Ca intraepithelial = Ca preinvasif

Stage 1 : Ca terbatas pada cerviks.


Stage 1a: Disertai invasi dari stoma (preclinical-Ca) yang hanya

diketahui secara histology.


Stage 1b: Semua kasus-kasus lainnya dari stage 1
Stage 2: Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai ke
panggul, telah mengenai dinding vagina tapi tidak melebihi 2/3
bagian proximal.
Stage 3: Sudah sampai dinding panggung dan sepertiga bagian

bawah vagina.
Stage 4: Sudah mengenai organ-organ yang lain
Histopatologi kanker serviks dibagi menjadi empat klasifikasi (dikutip
dari Yatiningsih, 2000) yaitu:
1 Displasia
Dysplasia adalah pertumbuhan aktif disertai gangguan proses
pematangan epitel skuamosa yang dimulai pada bagian basal
sampai ke lapisan superfisial. Berdasarkan derajat perubahan
sel epitel yang jelas mengalami perubahan. Dysplasia terbagi
dalam tiga derajat pertumbuhan, yaitu:
Dysplasia ringan: perubahan terjadi pada sepertiga
bagian basal epidermis.
Dysplasia sedang: bila perubahan terjadi pada separuh
epidermis.
Displasi berat: hampir tidak dapat dibedakan dengan
karsinoma in situ.
Perkembangan dysplasia serviks menjadi kanker serviks
terjadi secara bertahap, yang dibedakan 3 tahap klinis
yaitu:
Tahap pertama adalah transisi dari dysplasia
sedang

menjadi

dysplasia

berat

yang

irreversible.
Tahap kedua adalah pertumbuhan invasif
Tahap ketiga adalah transformasi dari mikro
2

kanker menjadi lebih luas.


Karsinoma in Situ (KIS)
Perubahan sel epitel yang terdapat di karsinoma in situ terjadi
pada seluruh lapisan epidermis menjadi kersinoma skuamosa

namun membrane basalis dalam keadaan utuh.


Karsinoma Mikroinvasif
Lingkup kelainannya dari dysplasia hingga neoplasia. Pada
2

karsinoma mikroinvasif terjadinya perubahan derajat sel


meningkatkan sel tumor menembus membrane basalis.
Biasanya tumor asimtomatik dan hanya ditemukan pada
penyaringan kanker atau ditemukan bertepatan dnegan
pemeriksaan penyakit lain di serviks. Pada pemeriksaan fisik
tidak

terlihat

pemeriksaan
4

perubahan
kolposkopi

pada
dapat

porsio,

tetapi

diprediksi

dengan
adanya

prakarsinoma.
Karsinoma Invasif
Derajat pertumbuhan sel menonjol, besar dan bentuk dari sel
bervariasi, inti gelap, khromatin berkelompok tidak merata,
dan susunan sel semakin tidak teratur. Sekelompok atau lebih
sel tumor menginvasi membrane basalis dan tumbuh
infiltrative ke dalam stroma. Karsinoma invasif dibagi dalam
3 subtipe yaitu karsinoma sel skuamosa dengan keratin,
karsinoma sel skuamosa tanpa keratin dan karsinoma sel
kecil. Pada tahap ini kanker telah menyebar luas sehingga
penyembuhan menjadi lebih sulit.

C. Gejala Klinis Kanker Serviks


Tidak khas pada stadium dini. Sering hanya sebagai fluor atau
keputihan dengan sedikit darah, pendarahan post koital atau perdarahan
pervagina yang disangka sebagai perpanjangan waktu haid. Pada stadium
lanjut baru terlihat tanda-tanda yang lebih khas, baik berupa perdarahan yang
hebat (terutama dalam bentuk eksofitik), fluor albus yang berbau dan rasa
sakit yang sangat hebat.
Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang
khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut:
1) Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang
keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat
infeksi dan nekrosis jaringan.
2) Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang
kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal.
3) Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.
4) Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuningkuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah.
5) Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
3

6) Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila


ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke
bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga
timbul nyeri di tempat -tempat lainnya.
7) Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang
gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus
besar bagian bawah (rectum), terbentuknya fistel vesikovaginal
atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis
jauh.
D. Faktor Penyebab dan Faktor Resiko Kanker Serviks
1. Faktor Penyebab
HPV (Human Papiloma Virus) merupakan penyebab terbanyak.
Sebagai tambahan perokok sigaret telah ditemukan sebagai penyebab
juga. Wanita perokok mengandung konsntrat nikotin dan kotinin
didalam didalam serviks mereka yang merusak sel. Laki-laki perokok
juga terdapat konsetrat bahan ini pada secret genitalnya, dan dapat
memenuhi serviks selama intercourse. Defisiensi beberapa nutrisional
dapat juga menyebabkan servikal dysplasia. National Cancer Institute
merekomendasikan bahwa wanita sebaiknya mengkonsumsi lima kali
buah-buahan segar dan sayuran setiap hari. Jika tidak dapat melakukan
ini, pertimbangkan konsumsi multivitamin dengan antioksidan seperti
vitamin E atau beta karoten setiap hari.
2. Faktor Resiko
a. Pola hubungan seksusal
Studi epidemiologi mengungkapkan bahwa resiko terjangkit
kanker serviks meningkat sering meningkatnya jumlah
pasangan aktifitas seksual yang dimulai pada usia dini, yaitu
kurang dari 20 tahun, juga dapat dijadikan sebagai faktor
resiko terjadinya kanker serviks. Hal ini diduga ada
hubungannya dengan belum matangnya daerah transformasi
pada sel tersebut bila sering tersekspose. Frekuensi hubungan
seksual juga berpengaruh pada lebih tingginya resiko pada
usia tersebut, tetapi tidak pada kelompok usia lebih tua.
b. Paritas
4

Kanker serviks sering dijumpai pada wanita yang sering


melahirkan. Semakin sering melahirkan, maka semakin besar
resiko terjangkit kanker serviks. Penelitian di Amerika Latin
menunjukkan hubungan antara resiko dengan multiparitas
setelah dikontrol dengan infeksi HPV.
c. Merokok
Beberapa penelitian merupakan hubungan yang kuat antara
merokok dengan kanker serviks, bahkan setelah dikontrol
dengan variable confounding seperti pola hubungan seksual.
Penemuan lain memperlihatkan ditemukan nikotin pada cairan
serviks wanita perokok bahan ini bersifat sebagai kokarsinogen
dan bersama-sama dengan karsinogen yang telah ada
selanjutnya mendorong pertumbuhan ke arah kanker.
d. Kontrasepsi oral
Penelitian secara perspektif yang dilakukan oleh Vessey
dkk tahun 1983 (Schiffman, 1986) mendapatkan bahwa
peningkatan insiden kanker serviks dipengaruhi oleh lama
pemakaian

kontrasepsi

oral.

Penelitian

tersebut

juga

mendapatkan bahwa semua kejadian kanker serviks invasive


terdapat pada pengguna kontrasepsi oral. Penelitian lain
mendapatkan bahwa insiden kanker stelah 10 tahun pemakaian
4 kali lebih tinggi daripada bukan pengguna kontrasepsi oral.
Namun penelitian serupa yang dilakukan oleh Peritz dkk
menyimpulkan bahwa aktifitas seksual merupakan confounding
yang erat kaitannya dengan hal tersebut.
WHO
mereview
berbagai

penelitian

yang

menghubungkan penggunaan kontrasepsi oral denga risiko


terjadinya kanker serviks, menyimpulkan bahwa sulit untuk
mengintrepetasikan hubungan tersebut mengingat bahwa lama
penggunaan kontrasepsi oral berinteraksi dengan faktor lain
khususnya pola kebiasaan seksual dalam mempengaruhi risiko
kanker serviks. Selain itu, adanya kemungkinan bahwa wanita
yang menggunakan kontrasepsi oral lebih sering melakukan
pemeriksaan smear serviks, sehingga dysplasia dan karsinoma

in situ nampak lebih sering pada kelompok tersebut.


Diperlukan kehati-hatian dalam mengintrepetasikan asosiasi
antara lama penggunaan kontrasepsi oral dengan resiko kanker
serviks karena adanya bias dan faktor confounding.
e. Defisiensi gizi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa defisiensi zat
gizi tertentu seperti betakaroten dan vitamin A serta asam folat,
berhubungna dengan peningkatan resiko terhadap displasia
ringan dan sedang.. Namun sampai saat ini tdak ada indikasi
bahwa perbaikan defisensi gizi tersebut akan menurunkan
resiko.
f. Social ekonomi
Studi secara deskrptif maupun analitik menunjukkan
hubungan yang kuat antara kejadian kanker serviks dengan
tingkat social ekonomi yang rendah. Hal ini juga diperkuat oleh
penelitian yang menunjukkan bahwa infeksi HPV lebih
prevalen pada wanita dengan tingkat pendidkan dan pendapatan
rendah. Faktor defisiensi nutrisi, multilaritas dan kebersihan
genitalia juga dduga berhubungan dengan masalah tersebut.
g. Pasangan seksual
Peranan pasangan seksual dari penderita kanker serviks
mulai menjadi bahan yang menarik untuk diteliti. Penggunaan
kondom yang frekuen ternyata memberi resiko yang rendah
terhadap terjadinya kanker serviks. Rendahnya kebersihan
genetalia yang dikaitkan dengan sirkumsisi juga menjadi
pembahasan panjang terhadap kejadian kanker serviks. Jumlah
pasangan ganda selain istri juga merupakan factor resiko yang
lain.
E. Epidemiologi Kanker Serviks
Untuk wilayah ASEAN, insidens kanker serviks di Singapore sebesar
25,0 pada ras Cina; 17,8 pada ras Melayu; dan Thailand sebesar 23,7 per
100.000 penduduk. Insidens dan angka kematian kanker serviks menurun

selama beberapa dekade terakhir di AS. Hal ini karena skrining Pap menjadi
lebih populer dan lesi serviks pre-invasif lebih sering dideteksi daripada
kanker invasif. Diperkirakan terdapat 3.700 kematian akibat kanker serviks
pada 2006.
Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40 ribu kasus baru kanker mulut
rahim setiap tahunnya. Menurut data kanker berbasis patologi di 13 pusat
laboratorium patologi, kanker serviks merupakan penyakit kanker yang
memiliki jumlah penderita terbanyak di Indonesia, yaitu lebih kurang 36%.
Dari data 17 rumah sakit di Jakarta 1977, kanker serviks menduduki urutan
pertama, yaitu 432 kasus di antara 918 kanker pada perempuan.
Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, frekuensi kanker serviks sebesar
76,2% di antara kanker ginekologi. Terbanyak pasien datang pada stadium
lanjut, yaitu stadium IIB-IVB, sebanyak 66,4%. Kasus dengan stadium IIIB,
yaitu stadium dengan gangguan fungsi ginjal, sebanyak 37,3% atau lebih dari
sepertiga kasus.2
Relative survival pada wanita dengan lesi pre-invasif hampir 100%.
Relative 1 dan 5 years survival masing- masing sebesar 88% dan 73%.
Apabila dideteksi pada stadium awal, kanker serviks invasif merupakan
kanker yang paling berhasil diterapi, dengan 5 YSR sebesar 92% untuk kanker
lokal. Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang
lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya,
keterbatasan sarana dan prasarana, jenis histopatologi, dan derajat pendidikan
ikut serta dalam menentukan prognosis dari penderita.
F. Patologi Kanker Serviks
Karsinoma serviks timbul dibatasi antara epitel yang melapisi
ektoserviks (portio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut skuamo
kolumnar junction (SCJ). Pada wanita muda SCJ terletak diluar OUE, sedang
pada wanita diatas 35 tahun, didalam kanalis serviks.
Tumor dapat tumbuh :
1. Eksofitik. Mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai massa
proliferatif yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
2. Endofitik. Mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma serviks dan
cenderung infitratif membentuk ulkus.

3. Ulseratif. Mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan


pelvis dengan melibatkan fornices vagina untuk menjadi u lkus yang
luas. Serviks normal secara alami mengalami metaplasi/erosi akibat
saling desak kedua jenis epitel yang melapisinya. Dengan masuknya
mutagen, portio yang erosif (metaplasia skuamos) yang semula faali
berubah menjadi patologik (diplatik - diskarioti k) melalui tingkatan
NIS -I, II, III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasive.
Sekali menjadi mikroinvasive, proses keganasan akan berjalan terus.
G. Karakteristik Sel Kanker dan Sel Normal
Sel-sel normal memiliki karakteristik tertentu yang penting bagi
berfungsinya jaringan, organ, dan sistem tubuh. Sel-sel ini memiliki
kemampuan untuk bereproduksi, berhenti bereproduksi bila perlu, tetap
tinggal di lokasi tertentu, menjalami fungsi tertentu, dan merusak diri sendiri
bila diperlukan. Berikut adalah karakteristik sel normal:
1) Reproduksi Sel
Reproduksi sel diperlukan untuk mengganti sel yang mati,
rusak, atau hancur. Sel-sel normal bereproduksi secara benar
dan terkendali. Kecuali sel kelamin, semua sel tubuh
berkembang biak dengan mitosis. Sel kelamin mereproduksi
melalui proses yang disebut meiosis
2) Komunikasi Sel
Sel berkomunikasi dengan sel lain melalui sinyal kimia. Sinyal
ini membantu sel-sel normal untuk mengetahui kapan waktu
harus bereproduksi dan kapan harus berhenti. Sinyal sel
biasanya dihantarkan ke sel melalui protein tertentu.
3) Adhesi Sel
Sel memiliki molekul adhesi pada permukaannya yang
memungkinkan mereka menempel pada membran sel lainnya.
Adhesi membantu sel untuk berada di lokasi yang tepat serta
membantu menghantarkan sinyal antara sel-sel.
4) Spesialisasi Sel
Sel-sel normal memiliki kemampuan untuk berkembang
menjadi sel khusus. Sebagai contoh, sel dapat berkembang
menjadi sel jantung, sel otak, sel paru-paru, atau sel lain.
5) Kematian Sel

Sel-sel normal memiliki kemampuan untuk merusak diri sendiri


ketika terinfeksi atau rusak. Kemampuan bunuh diri ini
disebut sebagai apoptosis. Sisa sel lantas dibuang oleh sel darah
putih.
Sel-sel kanker memiliki karakteristik yang berbeda dari sel normal. Berikut
diantaranya:
1) Reproduksi Sel
Sel-sel kanker dikenal memiliki kemampuan reproduksi tak
terkendali. Sel-sel ini mungkin mengalami mutasi gen atau
mutasi kromosom yang mempengaruhi sifat-sifat reproduksi
sel. Sel-sel kanker berkembang biak tak terkendali serta tidak
mengalami penuaan biologis serta terus bertumbuh.
2) Komunikasi Sel
Sel-sel kanker kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi
dengan sel lain melalui sinyal kimia. Mereka juga kehilangan
kepekaan terhadap sinyal anti-pertumbuhan dari sel-sel di
sekitarnya yang berfungsi membatasi pertumbuhan sel.
3) Adhesi Sel
Sel-sel kanker kehilangan molekul adhesi yang membuat
mereka terikat pada sel berdekatan. Beberapa jenis sel kanker
memiliki kemampuan untuk bermetastasis atau menyebar ke
area lain dari tubuh melalui darah atau cairan getah bening.
Setelah berada dalam aliran darah, sel-sel kanker melepaskan
pesan kimia yang disebut kemokin yang memungkinkan
mereka untuk melewati pembuluh darah ke dalam jaringan
sekitarnya.
4) Spesialisasi Sel
Sel-sel kanker

tidak

terspesialisasi

dan

tidak

mampu

berkembang menjadi sel jenis tertentu. Serupa dengan sel


induk, sel-sel kanker berkembang biak atau mereplikasi
berkali-kali dalam jangka waktu lama. Penyebaran sel kanker
berlangsung cepat dan mampu menyebar ke seluruh tubuh.
5) Kematian Sel
Ketika gen dalam sel normal rusak dan tidak bisa diperbaiki,
DNA tertentu memeriksa sinyal untuk memicu mekanisme
kerusakan

sel.

Mutasi

yang

terjadi

pada

mekanisme

pemeriksaan gen memungkinkan kerusakan pada sel kanker


tidak terdeteksi. Hal ini menyebabkan hilangnya kemampuan
sel kanker untuk menjalani kematian sel terprogram.
H. Penyebaran kanker serviks
Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening
menuju 3 arah : a) ke arah fornices dan dinding vagina, b) ke arah korpus
uterus, dan c) ke arah parametrium dan dalam tingkatan yang lanjut
menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandung kemih.
Melalui pembuluh getah bening dalam parametrium kanan dan kiri sel
tumor dapat menyebar ke kelenjar iliak luar dan kelenjar iliak dalam
(hipogastrika). Penyebaran melalui pembuluh darah (bloodborne metastasis)
tidak lazim. Karsinoma serviks umumnya terbatas pada daerah panggul saja.
Tergantung dari kondisi immunologik tubuh penderita KIS akan berkembang
menjadi mikro invasif dengan menembus membrana basalis dengan
kedalaman invasi <1mm dan sel tumor masih belum terlihat dalam pembuluh
limfa atau darah. Jika sel tumor sudah terdapat >1mm dari membrana basalis,
atau <1mm tetapi sudah tampak dalam pembuluh limfa atau darah, maka
prosesnya sudah invasive. Tumor mungkin sudah menginfiltrasi stroma
serviks, akan tetapi secara klinis belum tampak sebagai karsinoma. Tumor
yang demikian disebut sebagai ganas praklinik (tingkat IB-occult). Sesudah
tumor menjadi invasif, penyebaran secara limfogen melalui kelenjar limfa
regional dan secara perkontinuitatum (menjalar) menuju fornices vagina,
korpus uterus, rektum, dan kandung kemih, yang pada tingkat akhir (terminal
stage) dapat menimbulkan fistula rektum atau kandung kemih. Penyebaran
limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar limfa regional melalui
ligamentum latum, kelenjar-kelenjar iliak, obturator, hipogastrika, prasakral,
praaorta, dan seterusnya secara teoritis dapat lanjut melalui trunkus limfatikus
di kanan dan vena subklavia di kiri mencapai paru-paru, hati , ginjal, tulang
dan otak.
Biasanya penderita sudah meninggal lebih dahulu disebabkan karena
perdarahan-perdarahan yang eksesif dan gagal ginjal menahun akibat uremia
oleh karena obstruksi ureter di tempat ureter masuk ke dalam kandung kemih.
Penyebaran karsinoma serviks terja di melalui 3 jalan yaitu
perkontinuitatum ke dalam vagina, septum rektovaginal dan dasar kandung

10

kemih. Penyebaran secara limfogen terjadi terutama paraservikal dalam


parametrium dan stasiun -stasiun kelenjar di pelvis minor, baru kemudian
mengenai kelenjar para aortae terkena dan baru terjadi penyebaran hematogen
(hepar, tulang).
Secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah:
1. fornices dan dinding vagina
2. korpus uteri
3. parametrium dan dalam tingkatan lebih lanjut menginfiltrasi
septum rektovagina dan kandung kemih.
Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar kelenjar limfe
regional melalui ligamentum latum, kelenjar iliaka, obturator, hipogastrika,
parasakral, paraaorta, dan seterusnya ke trunkus limfatik di kanan dan vena
subklvia di kiri mencapai paru, hati, ginjal, tulang serta otak.
I. Diagnosis kanker serviks
1. Sitology
Pemeriksaan sitology dikenal dengan pemeriksaan pap smear. Sitology
bermanfaat untuk mendeteksi sel-sel serviks yang tidak menunjukkan
adanya

gejala,

dengan

tingkat

ketelitiannya

mencapai

90%

(Sjamsuddin, 2001).
2. Kolposkopi
Kolposkopi merupakan pemeriksaan serviks dengan menggunakan alat
kolposkopi yaitu alat yang disamakan dengan mikroskop bertenaga
rendah pembesaran antara 6-40 kali dan terdapat sumber cahaya
didalamnya. Kolposkopi dapat meningkatkan ketepatan sitology
menjadi 95%. Alat ini pertama kali diperkenalkan di Jerman pada
tahun 1925 oleh Hans Hinselman untuk memperbesar gambaran
permukaan porsio sehingga pembuluh darah lebih jelas dilihat. Pada
alat ini juga dilengkapi denganfilter hijau untuk memberikan kontras
yang baik pada pembuluh darah dan jaringan. Pemeriksaan kolposkopi
dilakukan untuk konfirmasi apabila hasil test pap smear abnormal dan
juga sebagai penuntun biopsy pada lesi serviks yang dicurigai.
(Suwiyoga, 2007).
3. Biopsy
Menurut Sjamsuddin (2001) biopsy dilakukan di daerah yang abnormal
jika sambungan skuamosa-kolumnar (SSK) yang terlihat seluruhnya

11

dengan menggunakan kolposkopi. Biopsy harus dilakukan dengan


tepat dan alat biopsy harus tajam dan harus diawetkan dalam larutan
formalin 10%, sehingga tidak merusak epitel.
4. Konisasi
Konisasi serviks adalah pengeluaran sebagian jaringan serviks
sehingga bagian yang dikeluarkan berbentuk kerucut. Konisasi
dilakukan apabila:
Proses dicurigai berada di endoserviks.
Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan
kolposkopi
Ada kesenjangan

antara

hasil

sitologik

dengan

histopatologik.
J. Pengobatan untuk Kanker serviks
Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan
ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana
penderita untuk hamil lagi.
1. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks
paling luar), seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan
pisau bedah ataupun melalui LEEP. Dengan pengobatan tersebut,
penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker bisa kembali
kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear
setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan.
Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan
untuk menjalani histerektomi. Pada kanker invasif, dilakukan
histerektomi dan pengangkatan struktur di sekitarnya (prosedur ini
disebut histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita
muda, ovarium (indung telur) yang normal dan masih berfungsi tidak
diangkat.
2. Terapi penyinaran
Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker
invasive yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi
digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel -sel kanker dan
menghentikan pertumbuhannya. Ada 2 macam radioterapi, yaitu :

12

Radiasi eksternal : sinar berasar dari sebuah mesin besar.


Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran
biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6
minggu.
Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul
dimasukkan langsung ke dalam se rviks. Kapsul ini dibiarkan
selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah
sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1 -2
minggu.
Efek samping dari terapi penyinaran adalah :
Iritasi rektum dan vagina
Kerusakan kandung kemih dan rectum
Ovarium berhenti berfungsi.
3. Kemoterapi
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk
menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk
membunuh sel-sel kanker. Obat anti-kanker bisa diberikan melalui
suntikan intravena atau melalui mulut. Kemoterapi diberikan dalam
suatu siklus, artinya suatu periode pengobatan diselingi dengan periode
pemulihan, lalu dilakukan pengobatan, diselingi denga pemulihan,
begitu seterusnya.
4. Terapi biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki system
kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan
pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Yang paling
sering digunakan adalah interferon, yang bisa dikombinasikan dengan
kemoterapi.

K. Pencegahan dan penanganan kanker serviks


Pengendalian kinder serviks dengan pencegahan dapat dibagi menjadi
tiga bagian, yaitu pencegahan prmer, pencegahan sek under, dan pencegahan
tersier Strategi kesehatan masyarakat dalam mencegah kematian karena
kanker serviks antara lain adalah dengan pencegahan primer dan pencegaan
sekunder.
1) Pencegahan Primer
13

Pencegahan primer merupakan kegiatan uang dapat dilakukan


oleh setiap orang untuk menghindari diri dari faktor-faktor
yang dapat menyebabkan timbulnya kanker serviks. Hal ini
dapat dilakukan dengan cara menekankan perilaku hdup sehat
untuk mengurangi atau menghindari faktor resiko seperti kawin
muda, pasangan seksual ganda dan lain -lain. Selain itu juga
pencegahan primer dapat dilakukan dengan imuisasi HPV pada
kelompok masyarakat
2) Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder kanker serviks dilakukan dengan deteksi
dini dan skrining kanker serviks yang bertujuan untuk
menemukan kasus -kasus kanker serviks secara dibni sehingga
kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan. Perkembangan
kanker serviks memerlukan waktu yang lama. Dari prainvasif
ke invasive memerlukan waktu sekitar 10 tahun atau lebih.
Pemeriksaan sitologi merupakan metode sederhana dan
sensitive untuk mwndeteksi karsinoa pra invasive. Bila diobati
dengan baik, karsinoma pra invasive mempunyai tingkat
penyembuhan mendekati 100%. Diagnosa kasus pada fase
invasive hanya memiliki tingkat ketahanan sekitar 35%.
Program skrining dengan pemeriksaan sitologi diken al dengan
Pap mear test dan telah dilakukan di Negara -negara maju.
Pencegahan dengan pap smear terbukimampu menurunkan
tingkat kematian akibat kanker serviks 50-60% dalamkurun
waktu 20 tahun (WHO,1986).
Selain itu, terdapat juga tiga tingkatan pencegahan dan penanganan kanker
serviks, yaitu :
1) Pencegahan Tingkat Pertama
a. Promosi Kesehatan Masyarakat misalnya:
Kampanye kesadaran masyarakat
Program pendidikan kesehatan masyarakat 3) Promosi
kesehatan
b. Pencegahan khusus, misalnya :
Interfensi sumber keterpaparan
Kemopreventif
2) Pencegahan Tingkat Kedua
a. Diagnosis dini, misalnya screening
b. Pengobatan, misalnya :
14

1) Kemoterapi
2) Bedah
3) Pencegahan Tingkat Ketiga
Rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sedangkan penanganan
kanker umumnya ialah secara pendekatan multidiscipline. Hasil
pengobatan radioterapi dan operasi radikal kurang lebih sama,
meskipun sebenarnya sukar untuk dibandingkan karena
umumnya yang dioperasi penderita yang masih muda dan
umumnya baik.
Meski kanker serviks menakutkan, namun kita semua bisa mencegahnya.
Anda dapat melakukan banyak tindakan pencegahan sebelum terinfeksi HPV
dan akhirnya menderita kanker serviks. Beberapa cara praktis yang dapat
Anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari antara lain :
1) Miliki pola makan sehat, yang kaya dengan sayuran, buah dan
sereal untuk merangsang sistem kekebalan tubuh. Misalnya
mengkonsumsi berbagai karotena, vitamin A, C, dan E, dan
asam folat dapat mengurangi risiko terkena kanker leher rahim.
2) Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan penggunaan
tembakau dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks.
3) Hindari seks sebelum menikah atau di usia sangat muda atau
belasan tahun.
4) Hindari berhubungan seks selama masa haid terbukti efektif
untuk

mencegah

dan

menghambat

terbentuknya

dan

berkembangnya kanker serviks.


5) Hindari berhubungan seks dengan banyak partner.
6) Secara rutin menjalani tes Pap smear secara teratur. Saat ini tes
Pap smear bahkan sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas
dengan harga terjangkau.
7) Alternatif tes Pap smear yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih
murah dari Pap smear. Tujuannya untuk deteksi dini terhadap
infeksi HPV.
8) Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah
terinfeksi HPV.
9) Melakukan pembersihan organ intim atau dikenal dengan
istilah vagina toilet. Ini dapat dilakukan sendiri atau dapat juga
dengan bantuan dokter ahli. Tujuannya untuk membersihkan
organ intim wanita dari kotoran dan penyakit.

15

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kanker serviks uterus adalah keganasan yang paling sering ditemukan
dikalangan wanita. Penyakit ini merupakan proses perubahan dari
suatu epithelium yang normal sampai menjadi Ca invasive yang
memberikan gejala dan merupakan proses yang perlahan-lahan dan
mengambil waktu bertahun- tahun. Ada beberapa klasifikasi tapi yang
paling banyak

penganutnya

adalah

yang dibuat oleh

IFGO

(International Federation of Ginekoloi and Obstetrics), yaitu Stage 0, 1,


1 a , 1 b, 2, 3 , dan 4. Gejala klinis kanker serviks pada stadium lanjut
baru terlihat tanda -tanda yang lebih khas, baik berupa perdarahan
yang hebat (terutama dalam bentuk eksofitik), fluor albus yang berbau
dan rasa sakit yang sangat hebat.
2. HPV (Human Papiloma Virus) merupakan penyebab terbanyak kanker
serviks. Sebagai tambahan perokok sigaret telah ditemukan sebagai
penyebab juga. Adapun faktor resikonya, yaitu : Pola hubungan

16

seksual, Paritas, Merokok, Kontrasepsi oral, Defisiensi gizi, Sosial


ekonomi, dan Pasangan seksual.
3. Dari laporan FIGO (Internasional Federation Of Gynecology and
Obstetrics) tahun 1988, kelompok umur 30-39 tahun dan kelompok
umur 60-69 tahun terlihat sama banyaknya. Secara umum, stadium IA
lebih sering ditemukan pada kelompok umur 30-39 tahun, sedangkan
untuk stadium IB dan II sering ditemukan pada kelompok umur 40-49
tahun, stadium III dan IV sering ditemukan pada kelompok umur 60
-69 tahun. Frekwensi kanker rahim terbanyak dijumpai pada negaranegara berkembang seperti Indonesia, India, Bangladesh, Thailand,
Vietnam dan Filipina. Di Amerika Latin dan Afrika Selatan frekwensi
kanker rahim juga merupakan penyakit keganasan terbanyak dari
semua penyakit keganasan yang ada lainnya.
4. Karsinoma serviks timbul dibatasi antara epitel yang melapisi
ektoserviks (portio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut
skuamo kolumnar junction (SCJ). Pada wanita muda SCJ terletak
diluar OUE, sedang pada wanita diatas 35 tahun, di dalam kanalis
serviks. Penyebaran kanker serviks pada umumnya secara limfogen
melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah : a) ke arah fornices dan
dinding vag ina, b) ke arah korpus uterus, dan c) ke arah parametrium
dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum rektovaginal
dan kandung kemih. Diagnosis kanker serviks tidaklah sulit apalagi
tingkatannya sudah lanjut. Yang menjadi masalah adalah bagaimana
melakukan skrining untuk mencegah kanker serviks, dilakukan dengan
deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadap lesi prakanker serviks.
5. Pengobatan kanker serviks yang dapat dilakukan, yiatu : Pembedahan,
Terapi penyinaran, Kemoterapi, dan Terapi biologis. Sedangkan
beberapa cara praktis yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari
-hari untuk mencegah kanker serviks, yaitu : miliki pola makan sehat,
yang kaya dengan sayuran, buah dan sereal untuk merangsang sistem
kekebalan tubuh, hindari merokok, hindari seks sebelum menikah atau
di usia sangat muda atau belasan tahun, pemberian vaksin atau
vaksinasi

HPV

untuk

mencegah

terinfeksi

HPV, melakukan

pembersihan organ intim atau dikenal dengan istilah vagina toilet,

17

hindari berhubungan seks dengan banyak partner , secara rutin


menjalani tes Pap smear secara teratur, dan sebagainya.
B. Saran
Berhati-hatilah dengan penyakit kanker serviks, lebih baik mencegah
dari pada mengobati.Ternyata tidak mudah menjadi seorang wanita, tapi bukan
berarti sulit untuk menjalaninya. Penyakit bisa kita hindari asal kita selalu
berusaha hidup sehat dan teratur.

DAFTAR PUSTAKA
1. WHO. Comprehensive Cervical Cancer Control. Jenewa; 2006.
2. Nuranna L. 2005, Penanggulangan Kanker Serviks Yang Sahih dan Andal
Dengan Model Proaktif-VO (Proaktif, Koordinatif Dengan Skrining IVA dan
Terapi Krio). [Disertasi]. Program Pasca Sarjana FKUI. Jakarta,.
3. Benedet J, Odicino F, Maisonneuve P, et al. 1998. Carcinoma of The Cervix
Uteri. Annual Report. The Results of Treatment in Gynacological Cancer.
Epidemiol Biostat.
4. Crowder S, Lee C, Santoso JT. Cervical Cancer. Dalam: Santoso JT,
Coleman RL (eds). Handbook of Gynaecology Oncology. 1st Ed. New York:
Mc Graw Hill; 2001. h. 25-32.
5. Krivak TC, McBroom JW, Elkas JC., Cervical and vaginal cancer. Dalam:
(ed: Berek JS, Adashi EY, Hillard PA. (Editor). Novaks gynecology. 13th ed.
Lippincort Williams & Wilkin, Baltimore, 2002; 199-244.
6. Hacker NF, Benedet JL, Ngan HYS. Staging Classifications and Clinical
Practice Guidelines of Gynaecologic Cancers. International Journal of
Gynecology and Obstetrics 2000; 70:207-312

18

19