Anda di halaman 1dari 16

LI 1.

M&M THALASEMIA
1.1 Defenisi
Thalassemia adalah kelompok heterogen anemia hemolitik herediter yang secara
umum terdapat penurunan kecepatan sintesis pada satu atau lebih rantai polipeptida
hemoglobin dan diklasifikasikan menurut rantai yang terkena(, , ), dua katagori
utamanya adalah thalassemia dan .
Thalasemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan (inherited) dan masuk ke
dalam kelompok hemoglobinopati, yakni kelainan yang disebabkan oleh gangguan
sintesis hemoglobin akibat mutasi di dalam atau dekat gen globin. Mutasi gen globin
ini dapat menimbulkan dua perubahan rantai globin, yakni:

Perubahan struktur rangkaian asam amino (amino acid sequence) rantai globin
tertentu, disebut hemoglobinopati struktural, atau

Perubahan kecepatan sintesis (rate of synthesis) atau kemampuan produksi rantai


globin tertentu, disebut thalassemia.

Hemoglobinopati yang ditemukan secara klinis, baik pada anak atau orang dewasa
disebabkan oleh mutasi gen globin atau . Sedangkan, mutasi berat gen globin , ,
dan dapat menyebabkan kematian pada awal gestasi. (Djumhana A, 2009)
1.2 Etiologi
a. Mutasi gen -globin pada kromosom 16b.
b. Adanya pasutri yang membawa gen/carier thalasemiac.
c. Adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi rantai atau dari HB berkurang.
d. Berkurangnya sintesis HBA dan eritropoesis yang tidak efektif disertai
penghancuran sel- sel eritrosit intramuscular.
Thalassemia merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembuatan rantai asam
amino yang membentuk hemoglobin yang dikandung oleh sel darah merah. Sel darah
merah membawa oksigen ke seluruh tubuh dengan bantuan substansi yang disebut
hemoglobin. Hemoglobin terbuat dari dua macam protein yang berbeda, yaitu globin dan
globin . Protein globin tersebut dibuat oleh gen yang berlokasi di kromosom yang
berbeda, globin diproduksi oleh kromosom 16, sedangkan globin oleh kromosom 11.
Apabila satu atau lebih gen yang memproduksi protein globin tidak normal atau hilang,
maka akan terjadi penurunan produksi protein globin yang menyebabkan thalassemia.
Mutasi gen pada globin alfa akan menyebabkan penyakit alfa- thalassemia dan jika itu
terjadi pada globin beta maka akan menyebabkan penyakit beta-thalassemia.

2.3 Epid

Jenis Thalasemia
Thalasemia
Thalasemia

Peta Sebaran
Kepulauan Mediterania, Timur Tengah, India, Pakistan, Asia
Tenggara, Rusia Selatan, China. Jarang di: Afrika kecuali Liberia dan
beberapa bagian Afrika Utara sporadik pada semua ras.
Terentang dari Afrika ke Mediterania, Timur Tengah, Asia Timur, dan
Asia Tenggara. Hb Barts Hydrops Syndrome dan HbH disease
sebagian besar terdapat di populasi Asia Tenggara dan Mediterania.

2.4 Klasifikasi
a. Thalassemia- (gangguan pembentukan rantai ) disebabkan oleh delesi pada gen
globin pada kromosom 16 (terdapat 2 gen globin pada tiap kromosom 16) dan non
delesi seperti gangguan mRNA pada penyambungan gen yang menyebabkan rantai
menjadi lebih panjang dari kondisi normal.Faktor delesi terhadap empat gen globin
dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
1. Delesi pada satu rantai (Silent Carrier/ -Thalassemia Trait 2).Gangguan pada
satu rantai globin sedangkan tiga lokus globin yang ada masih bisa menjalankan
fungsi normal sehingga tidak terlihat gejala-gejalabila ia terkena thalassemia.
2. Delesi pada dua rantai (-Thalassemia Trait 1). Pada tingkatan ini terjadi
penurunan dari HbA2 dan peningkatan dari HbH dan terjadi manifestasi klinis
ringan seperti anemia kronis yang ringan dengan eritrosit hipokromik mikrositer
dan MCV(mean corpuscular volume)60-75 fl.
3. Delesi pada tiga rantai (HbH disease)Delesi ini disebut juga sebagai HbH disease
(4) yang disertai anemiahipokromik mikrositer, basophylic stippling, heinz bodies,
danretikulositosis. HbH terbentuk dalam jumlah banyak karena tidak terbentuknya
rantai sehingga rantai tidak memiliki pasangan dankemudian membentuk
tetramer dari rantai sendiri (4). Dengan banyak terbentuk HbH, maka HbH dapat
mengalami presipitasi dalam eritrositsehingga dengan mudah eritrosit dapat
dihancurkan. Penderita dapat tumbuhsampai dewasa dengan anemia sedang (Hb 810 g/dl) dan MCV (meancorpuscular volume) 60-70 fl.
4. Delesi pada empat rantai (Hidrops fetalis/Thalassemia major)Delesi ini dikenal
juga sebagai hydrops fetalis. Biasanya terdapat banyak HbBarts ( 4) yang
disebabkan juga karena tidak terbentuknya rantai sehingga rantai membentuk
tetramer sendiri menjadi 4. Manifestasi klinis dapatberupa ikterus,
hepatosplenomegali, dan janin yang sangat anemis. KadarHb hanya 6 g/dl dan pada
elektroforesis Hb menunjukkan 80-90% Hb Barts,sedikit HbH, dan tidak dijumpai
HbA atau HbF. Biasanya bayi yangmengalami kelainan ini akan mati beberapa jam
setelah kelahirannya.
b. Thalassemia- (gangguan pembentukan rantai ) Thalassemia- disebabkan oleh
mutasi pada gen globin pada sisi pendek kromosom 11.

1.Thalassemia o
Pada thalassemia o, tidak ada mRNA yang mengkode rantai sehingga tidak
dihasilkan rantai yang berfungsi dalam pembentukan HbA
2. Thalassemia +
Pada thalassemia +, masih terdapat mRNA yang normal dan fungsional namun
hanya
sedikit sehingga rantai dapat dihasilkan dan HbA dapatdibentuk
walaupun hanya sedikit.Sedangkan secara klinis thalassemia dibagi menjadi 2
golongan, yaitu :

Thalasemia Mayor
Terjadi bila kedua orang tuanya membawa gen pembawa sifat
thalassemia.Gejala penyakit muncul sejak awal masa kanak-kanak dan biasanya
penderitahanya bertahan hingga umur sekitar 2 tahun. Penderita bercirikan :
Lemah
Pucat
Perkembangan fisik tidak sesuai dengan umur
Berat badan kurang
Tidak dapat hidup tanpa transfusi transfusi darah seumur hidupnya.
Thalasemia minor/trait
Gejala yang muncul pada penderita Thalasemia minor bersifat ringan,
biasanyahanya sebagai pembawa sifat. Istilah Thalasemia trait digunakan untuk
orangnormal namun dapat mewariskan gen thalassemia pada anakanaknya:ditandaioleh splenomegali, anemia berat, bentuk homozigot.Pada anak
yang besar sering dijumpai adanya:
Gizi buruk
Perut buncit karena pembesaran limpa dan hati yang mudah diraba
Aktivitas tidak aktif karena pembesaran limpa dan hati(Hepatomegali ), Limpa
yang besar ini mudah ruptur karena trauma ringansajaGejala khas adalah:
Bentuk muka mongoloid yaitu hidung pesek, tanpa pangkal hidung, jarak antara
kedua mata lebar dan tulang dahi juga lebar.
Keadaan kuning pucat pada kulit, jika sering ditransfusi, kulitnya
menjadikelabu karena penimbunan besi

2.5 Patofisiologi
Penyebab anemia pada thalasemia bersifat primer dan sekunder. Penyebab primer adalah
berkurangnya sintesis Hb A dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran selsel eritrosit intrameduler. Penyebab sekunder adalah karena defisiensi asam
folat,bertambahnya volume plasma intravaskuler yang mengakibatkan hemodilusi, dan
destruksi eritrosit oleh system retikuloendotelial dalam limfa dan hati.
Penelitian biomolekular menunjukkan adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi
rantai alfa atau beta dari hemoglobin berkurang. Tejadinya hemosiderosis merupakan hasil
kombinasi antara transfusi berulang,peningkatan absorpsi besi dalam usus karena
eritropoesis yang tidak efektif, anemia kronis serta proses hemolisis.

* Normal hemoglobin adalah terdiri dari Hb-A dengan dua polipeptida rantai alpa dan dua
rantai beta.
* Pada Beta thalasemia yaitu tidak adanya atau kurangnya rantai Beta dalam molekul
hemoglobin yang mana ada gangguan kemampuan eritrosit membawa oksigen.
* Ada suatu kompensator yang meninghkatkan dalam rantai alpa, tetapi rantai Beta
memproduksi secara terus menerus sehingga menghasilkan hemoglobin defektive.
Ketidakseimbangan polipeptida ini memudahkan ketidakstabilan dan disintegrasi. Hal ini
menyebabkan sel darah merah menjadi hemolisis dan menimbulkan anemia dan atau
hemosiderosis.
* Kelebihan pada rantai alpa pada thalasemia Beta dan Gama ditemukan pada thalasemia
alpa. Kelebihan rantai polipeptida ini mengalami presipitasi dalam sel eritrosit. Globin intraeritrositk yang mengalami presipitasi, yang terjadi sebagai rantai polipeptida alpa dan beta,
atau terdiri dari hemoglobin tak stabil-badan Heinz, merusak sampul eritrosit dan
menyebabkan hemolisis.
* Reduksi dalam hemoglobin menstimulasi bone marrow memproduksi RBC yang lebih.
Dalam stimulasi yang konstan pada bone marrow, produksi RBC diluar menjadi eritropoitik
aktif. Kompensator produksi RBC terus menerus pada suatu dasar kronik, dan dengan
cepatnya destruksi RBC, menimbulkan tidak adekuatnya sirkulasi hemoglobin. Kelebihan
produksi dan distruksi RBC menyebabkan bone marrow menjadi tipis dan mudah pecah atau
rapuh.

Patofisiologi Thalassemia-
Penurunan produksi rantai beta, menyebabkan produksi rantai alfa yang berlebihan.
Produksi rantai globin pasca kelahiran masih tetap diproduksi, untuk mengkompensasi
defisiensi 22 (HbA), namun tetap tidak mencukupi. Hal ini menunjukkan bahwa
produksi rantai globin dan dan rantai globin tidak pernah dapat mencukupi untuk
mengikat rantai alfa yang berlebihan. Rantai alfa yang berlebihan ini merupakan ciri khas
pada patogenesis thalassemia-.
Rantai alfa yang berlebihan, yang tidak dapat berikatan dengan rantia globin lainnya, akan
berpresipitasi pada prekrusor sel darah merah dalam sumsum tulang dan dalam sel
progenitor darah tepi. Presipitasi ini akan menimbulkan gangguan pematangan prekusor
eritrosit dan menyebabkan eritropoiesis tidak efektif (inefektif), sehingga umur eritrosit
menjadi pendek. Akibatnya akan timbul anemia. Anemia ini lebih lanjut lagi akan menjadi
pendorong proliferasi eritroid yang terus menerus dalam sumsum tulang yang inefektif,
sehingga terjadi ekspansi sumsum tulang. Hal ini kemudian akan menyebabkan deformitas
skeletal dan berbagai gangguan pertumbuhan dan metabolisme. Anemia kemudian akan
ditimbulkan lagi dengan adanya hemodilusi akibat adanya hubungan langsung darah akibat
sumsum tulang yang berekspansi dan juga oleh adanya splenomegali. Pada limpa yang
membesar makin banyak sel darah merah abnormal yang terjebak, untuk kemudian
dihancurkan oleh sistem fagosit. Hiperplasia sumsum tulang kemudian akan meningkatkan
absorpsi dan muatan besi. Transfusi yang diberikan secara teratur juga menambah muatan
besi, hal ini akan menyebabkan penimbunan besi yang progresif di jaringan berbagai
organ, yang akan diikuti kerusakan organ dan diakhiri oleh kematian bila besi ini tidak
segara dikeluarkan.
Secara ringkas berikut merupakan hal yang terjadi pada patofisiologi thalassemia beta dan
manifestasinya:

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Mutasi primer terhadap produksi globin : sintesis globin yang tidak seimbang.
Rantai globin yang berlebihan terhadap metabolisme dan ketahanan hidup eritrosit :
anemia.
Eritrosit abnormal terhadap fungsi organ : produksi eritropoetin dan ekspansi sumsum
tulang, deformitas skeletal, gangguan metabolisme, dan perubahan adaptif fungsi
kardiovaskular.
Metabolisme besi yang abnormal : muatan besi berlebih mengakibatkan kerusakan jaringan
hati, endokrin, miokardium, dan kulit.
Sel ekskresi : peningkatan kadar HbF, heterogenitas populasi sel darah merah.
Modifiers genetik sekunder : variasi fenotip, variasi metabolisme bilirubin, besi, dan
tulang.
Pengobatan : muatan besi berlebih, kelainan tulang, infeksi yang ditularkan lewat darah,
toksisitas obat.
Riwayat evolusioner : variasi latar belakang genetik, respon terhadap infeksi.
Faktor ekologi dan etnologi.
Patofisiologi Thalassemia-
Patofisiologi thalassemia- umumnya sama dengan yang dijumpai pada thalassemia-,
kecuali beberapa perbedaan utama akibat delesi (-) atau mutasi (T) rantai globin-.
Hilangnya gen globin- tunggal (-/ atau T/) tidak berdampak pada fenotip.
Sedangkan thalassemia-2a- homozigot (-/-) atau thalassemia-1a- heterozigot (/--)
memberi fenotip seperti thalassemia- carrier. Kehilangan 3 dari 4 gen globin
memberikan fenotip tingkat penyakit berat menengah, yang dikatakan sebagai HbH
disease. Sedangkan thalassemia o homozigot (--/--) tidak dapat bertahan hidup, disebut
sebagai Hb Barts hydrops syndrome.
Kelainan dasar thalassemia- sama dengan thalassemia-, yakni ketidakseimbangan
sintesis rantai globin. Namun ada perbedaan besar dalam hal patofisiologi kedua jenis
thalassemia ini:

1
2

Rantai- dimiliki bersama oleh hemoglobin fetus ataupun dewasa, maka thalassemia-alfa
bermanifestasi pada masa fetus.
Sifat yang ditimbullkan akibat produksi berlebihan rantai globin a dan beta yang
disebabkan oleh defek produksi rantai globin-alfa sangat berbeda dibandingkan dengan
akibat produksi berlebih rantai pada thalassemia . Bila kelebihan rantai tersebut
menyebabkan presipitasi pada prekusor eritrosit, maka thalassemia menimbulkan
tetramer yang larut, yakni 4 (Hb Barts) dan 4 (HbH).

Perbedaan penting antara thalassemia dan thalassemia


Mutasi

Thalassemia
Delesi gen umum terjadi

Sifat-sifat globin yang


berlebihan
Sel darah merah

Tetramer 4 atau 4 yang


larut
Hidrasi berlebihan; kaku;

Thalassemia
Delesi gen umum jarang
terjadi
Agregat rantai alfa yang
tidak larut
Dehidrasi; kaku; membran

Anemia
Perubahan tulang
Besi berlebih

membran hiperstabil; p50


tidak stabil; p50 menurun
menurun
Terutama hemolitik
Terutama diseritropoetik
Jarang
Umum
Jarang
Umum
(Kumar, 2004 dan Djumhana A, 2009)

Mekanisme penurunan thalassemia


Apabila salah seorang dari orang tua menderita Thalassemia trait/ bawaan,
sedangkan yang lainnya tidak maka satu dibanding dua (50%) kemungkinannya bahwa
setiap anak-anak mereka akan menderita Thalassemia trait/bawaan, tetapi tidak seseorang
diantara anak-anak mereka Thalassemia mayor.
Apabila kedua orang tua menderita Thalassemia trait/bawaan, maka anak-anak
mereka mungkin akan menderita thalassemia trait/bawaan atau mungkin juga memiliki
darah yang normal, atau mereka mungkin menderita Thalassemia mayor.

Dari skema diatas dapat dilihat bahwa kemungkinan anak dari pasangan pembawa sifat
thalassemia beta adalah 25% normal, 50% pembawa sifat thalassemia beta, dan 25%
thalassemia beta mayor (anemia berat).
2.6 MANIFESTASI KLINIS

Gejala awal pucat, mulanya tidak jelas. Biasanya menjadi lebih berat dalamtahun
pertama kehidupan, dan pada kasus yang berat terjadi dalam beberapaminggu
setelah lahir

Bila penyakit ini tidak ditangani dengan baik, tumbuh kembang anak
akanterhambat. Penyimpangan pertumbuhan akibat anemia dan kekurangan
gizimenyebabkan perawakan pendek.

Anak tidak nafsu makan, diare, kehilangan lemak tubuh, dan dapat disertai demam
berulang kali akibat infeksi

Anemia lama dan berat, biasanya menyebabkan pembesaran jantung

Terdapat hepatosplenomegali dan Ikterus ringan mungkin ada

Terjadi perubahan pada tulang yang menetap, yaitu terjadinya bentuk


mukamongoloid akibat sistim eritropoiesis yang hiperaktif

Adanya penipisan korteks tulang panjang, tangan dan kaki dapatmenimbulkan


fraktur patologis.

Kadang-kadang ditemukan epistaksis, pigmentasi kulit, koreng pada tungkai,dan


batu empedu.

Pasien menjadi peka terhadap infeksi terutama bila limpanya telah diangkatsebelum
usia 5 tahun dan mudah mengalami septisemia yang dapatmengakibatkan kematian.
Dapat timbul pensitopenia akibat hipersplenisme.

Letargi, pucat, kelemahan, anoreksia, sesak nafas akibat penumpukan Fe,tebalnya


tulang kranial menipisnya tulang kartilago, kulit bersisik kehitamanakibat
penumpukan Fe yang disebabkan oleh adanya transfuse darah secara kontinu.

2.7 diagnosis, diagnosis banding dan penatalaksanaan


a. Anamnesis
Ditanyakan keluhan utama dan riwayat perkembangan penyakit pasien.
Ditanyakan riwayat keluarga dan keturunan.
Ditanyakan tentang masalah kesehatan lain yang dialami.
Ditanyakan tentang test darah yang pernah diambil sebelumnya.
Ditanyakan apakah nafsu makan berkurang
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik pasien tampak pucat, lemas dan lemah.
Pemeriksaan tanda vital heart rate
Pada palpasi biasanya ditemu kan hepatosplenomegali pada pasien
c. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil tes mengungkapkan informasi penting, seperti jenis thalassemia.
Pengujian yang membantu menentukan diagnosis Thalassemia meliputi:
1. Hitung Darah Lengkap (CBC) dan SHDT

Sel darah diperiksa bentuknya (shape), warna (staining), jumlah, dan ukuran
(size). Fitur-fitur ini membantu dokter mengetahui apakah Anda memiliki
thalassemia dan jika iya, jenis apa. Tes darah yang mengukur jumlah besi dalam
darah (tes tingkat zat besi dan feritin tes). Sebuah tes darah yang mengukur
jumlah berbagai jenis hemoglobin (elektroforesis hemoglobin). Hitung darah
lengkap (CBC) pada anggota lain dari keluarga (orang tua dan saudara
kandung). Hasil menentukan apakah mereka telah thalassemia. Dokter sering
mendiagnosa bentuk yang paling parah adalah thalassemia beta mayor atau
anemia Cooley's. Kadar Hb adalah 7 10 g/ dL. Pada sediaan hapus darah tepi
ditemukan anemia hipokrom mikrositik, anisositosis, dan poikilositosis (target
cell).

2. Elektroforesis Hemoglobin
Elektroforesis hemoglobin adalah pengujian yang mengukur berbagai jenis
protein pembawa oksigen (hemoglobin) dalam darah. Pada orang dewasa,
molekul molekul hemoglobin membentuk persentase hemoglobin total
seperti berikut :
HbA : 95% sampai 98%
HbA2 : 2% hingga 3%
HbF
: 0,8% sampai 2%

HbS
HbC

: 0%
: 0%

Pada kasus thalasemia beta intermedia, HbF dan HbA2 meningkat.


Pemeriksaan pedigree: kedua orangtua pasien thalassemia mayor merupakan trait
(carrier) dengan HbA2 meningkat (> 3,5% dari Hb total)
Catatan: rentang nilai normal mungkin sedikit berbeda antara laboratorium yang
satu dengan laboratorium lainnya.
3. Mean Corpuscular Values ( MCV)
Pemeriksaan mean corpuscular values terdiri dari 3 jenis permeriksaan, yaitu
Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) dan
Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC). Untuk pemeriksaan ini
diperlukan data mengenai kadar Hb (g/dL), nilai hematokrit (%), dan hitung
eritrosit (juta/uL).
4. Pemeriksaan Rontgen
Foto Ro tulang kepala, gambaran hair on end, korteks menipis, diploe melebar
dengan trabekula tegak lurus pada korteks.

Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang : perluasan sumsum tulang sehingga
trabekula tampak jelas.
Diagnosis Banding Thalassemia
Splenomegali
Ikterus
Perubahan morfologi
eritrosit
Sel target
Resitensi osmotic
Besi serum
TIBC
Cadangan besi
Feritin serum

Thalasemia
+
+
Tak sebanding dengan

Anemia defisiensi besi


Sebanding dengan

derajat anemia
++

derajat anemia
+/N

Kosong

HbA2/HbF

N
(I Made Bakta, 2009)

2.9 Penatalaksanaan
a. Transfusi Darah
Transfusi yang dilakukan adalah transfusi sel darah merah. Terapi ini merupakan terapi utama
bagi orang-orang yang menderita thalassemia sedang atau berat. Ttransfusi darah harus
dilakukan secara teratur karena dalam waktu 120 hari sel darah merah akan mati dan untu
mempertahankan kadar Hb selalu sama atau 12 g/dl. Khusus untuk penderita beta
thalassemia intermedia, transfusi darah hanya dilakukan sesekali saja, tidak secara rutin.
Sedangkan, untuk beta thalassemia mayor (Cooleys Anemia) harus dilakukan secara teratur
(2 atau 4 minggu sekali).
Efek samping transfusi darah adalah kelebihan zat besi dan terkena penyakit yang ditularkan
melalui darah yang ditransfusikan. Setiap 250 ml darah yang ditransfusikan selalu membawa
kira-kira 250 mg zat besi. Sedangkan kebutuhan normal manusia akan zat besi hanya 1 2
mg per hari. Pada penderita yang sudah sering mendapatkan transfusi kelebihan zat besi ini
akan ditumpuk di jaringan-jaringan tubuh seperti hati, jantung, paru, otak, kulit dan lain-lain.
Penumpukan zat besi ini akan mengganggu fungsi organ tubuh tersebut dan bahkan dapat
menyebabkan kematian akibat kegagalan fungsi jantung atau hati.
b. Pemberian Obat Kelasi Besi
Pemberian obat kelasi besi atau pengikat zat besi (nama dagangnya Desferal) secara teratur
dan terus-menerus akan mengatasi masalah kelebihan zat besi. Obat kelasi besi (Desferal)
yang saat ini tersedia di pasaran diberikan melalui jarum kecil ke bawah kulit (subkutan) dan
obatnya dipompakan secara perlahan-lahan oleh alat yang disebut syringe driver.
Pemakaian alat ini diperlukan karena kerja obat ini hanya efektif bila diberikan secara
perlahan-lahan selama kurang lebih 10 jam per hari. Idealnya obat ini diberikan lima hari
dalam seminggu seumur hidup.
c. Pemberian Asam Folat
Asam folat adalah vitamin B yang dapat membantu pembangunan sel-sel darah merah yang
sehat. Suplemen ini harus tetap diminum di samping melakukan transfusi darah ataupun
terapi kelasi besi.
d. Cangkok Sumsum Tulang
Bone Marrow Transplantation (BMT) sejak tahun 1900 telah dilakukan. Darah dan sumsum
transplantasi sel induk normal akan menggantikan sel-sel induk yang rusak. Sel-sel induk
adalah sel-sel di dalam sumsum tulang yang membuat sel-sel darah merah. Transplantasi sel
induk adalah satu-satunya pengobatan yang dapat menyembuhkan thalassemia. Namun,

memiliki kendala karena hanya sejumlah kecil orang yang dapat menemukan pasangan yang
baik antara donor dan resipiennya serta donor harus dalam keadaan sehat.
e. Splenektomi
Limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita, menimbulkan peningkatan
tekanan intra abdominal dan bahaya terjadinya ruptur. Jika disetujui pasien hal ini sebaiknya
dilakukan setelah anak berumur di atas 5 tahun sehingga tidak terjadi penurunan drastis
imunitas tubuh akibat splenektomi.
Splenektomi meningkatkan resiko sepsis yang parah sekali, oleh karena itu operasi dilakukan
hanya untuk indikasi yang jelas dan harus ditunda selama mungkin. Indikasi utama
splenektomi adalah meningkatnya kebutuhan transfusi yang menunjukan unsur
hipersplenisme. Meningkatnya kebutuhan tranfusi yang melebihi 250ml/kgBB dalam 1 tahun
terakhir. Imunisasi pada penderita ini dengan vaksin hepatitis B, vaksin H, influensa tipe B,
dan vaksin polisakarida pneumokokus serta dianjurkan profilaksis penisilin.
(http://www.repository.usu.ac.id)
2.10 PENCEGAHAN
Program pencegahan thalassemia terdiri dari beberapa strategi, yakni : (1) penapisan (skrining)
pembawa sifat thalassemia, (2) konsultasi genetik (genetic counseling), dan (3) diagnosis
prenatal.
1) Skrining pembawa sifat dapat dilakukan secara :
Prospektif, yaitu mencari secara aktif pembawa sifat thalassemia langsung dari populasi
diberbagai wilayah.
Retrospektif, dengan menemukan pembawa sifat melalui penelusuran keluarga penderita
thalassemia (family study). Kepada pembawa sifat ini diberikan informasi dan nasehat-nasehat
tentang keadaannya dan masa depannya.
Suatu program pencegahan yang baik untuk thalassemia seharusnya mencakup kedua
pendekatan tersebut. Program yang optimal tidak selalu dapat dilaksanakan dengan baik terutama
di negara-negara sedang berkembang, karena pendekatan prospektif memerlukan biaya yang
tinggi. Atas dasar itu harus dibedakan antara usaha program pencegahan di negara berkembang
dengan negara maju. Program pencegahan retrospektif akan lebih mudah dilaksanakan di negara
berkembang daripada program prospektif.
2) Konsultasi genetik meliputi skrining pasangan yang akan kawin atau sudah kawin tetapi
belum hamil. Pada pasangan yang berisiko tinggi diberikan informasi dan nasehat tentang
keadaannya dan kemungkinan bila mempunyai anak.

3) Diagnosis prenatal, meliputi :


Pendekatan retrospektif, berarti melakukan diagnosis prenatal pada pasangan yang telah
mempunyai anak thalssemia, dan sekarang sementara hamil.
Pendekatan prospektif ditujukan kepada pasangan yang berisiko tinggi yaitu mereka keduanya
pembawa sifat dan sementara baru hamil.
Diagnosis prenatal ini dilakukan pada masa kehamilan 8-10 minggu, dengan mengambil sampel
darah dari villi khorialis (jaringan ari-ari) untuk keperluan analisis DNA.
Beberapa masalah pokok yang harus disampaikan kepada masyarakat, ialah : (1) bahwa
pembawa sifat thalassemia itu tidak merupakan masalah baginya; (2) bentuk thalassemia mayor
mempunyai dampak mediko-sosial yang besar, penanganannya sangat mahal dan sering diakhiri
kematian; (3) kelahiran bayi thalassemia dapat dihindarkan.
Karena penyakit ini menurun, maka kemungkinan penderitanya akan terus bertambah dari tahun
ke tahunnya. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum menikah sangat penting dilakukan
untuk mencegah bertambahnya penderita thalassemia ini. Sebaiknya semua orang Indonesia
dalam masa usia subur diperiksa kemungkinan membawa sifat thalassemia. Pemeriksaaan akan
sangat dianjurkan bila terdapat riwayat : (1) ada saudara sedarah yang menderita thalassemia, (2)
kadar hemoglobin relatif rendah antara 10-12 g/dl walaupun sudah minum obat penambah darah
seperti zat besi, (3) ukuran sel darah merah lebih kecil dari normal walaupun keadaan Hb
normal.
(www.rotary-cegah-thalassemia.com)
2.11 PROGNOSIS
Tidak ada pengobatan untuk Hb Barts. Pada umumnya kasus penyakit HbH mempunyai
prognosis baik, jarang memerlukan transfusi darah/ splenektomi dan dapat hidup biasa.
Thalassemia alfa 1 dan thalassemia alfa 2 dengan fenotip yang normal pada umumnya juga
mempunyai prognosis baik dan tidak memerlukan pengobatan khusus.
Transplantasi sumsum tulang alogenik adalah salah satu pengobatan alternative tetapi hingga saat
ini belum mendapatkan penyesuaian hasil atau bermanfaat yang sama di antara berbagai
penyelidik secara global.
Thalassemia homozigot umumnya meninggal pada usia muda dan jarang mencapai usia decade
ke 3, walaupun digunakan antibiotic untuk mencegah infeksi dan pemberian chelating agents
(desferal) untuk mengurangi hemosiderosis (harga umumnya tidak terjangkau oleh penduduk
Negara berkembang). Di Negara maju dengan fasilitas transfusi yang cukup dan perawatan

dengan chelating agents yang baik, usia dapat mencapai decade ke 5 dan kualitas hidup juga
lebih baik.
2.
-

MM Haemoglobin
Hemoglobin (Hb) merupakan unsur utama dalam sel darah merah dan mempunyai peranan
penting dalam pengangkutan oksigen dari paru-paru keseluruh tubuh, dan sebaliknya
mengangkut karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru untuk dibuang.

Hemoglobin berupa pigmen yang terdapat di dalam eritrosit, terdiri dari persenyawaan antara
heme dan globin dan mempunyai berat molekul 64.000 Dalton.

Heme adalah kelompok prostetik yang menengahi reversible mengikat oksigen oleh
hemoglobin. Suatu persenyawaan kompleks yang terdiri dari sebuah atom Fe yang terletak
ditengah-tengah struktur porfirin. Setiap molekul hemoglobin mengandung 4 heme

Globin adalah suatu protein yang terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida, yang terdiri dari 2
pasang rantai dengan jumlah, jenis dan urutan asam amino tertentu. Masing-masing rantai
polipeptida mengikat 1 gugus heme.

Pada orang dewasa:

o HbA (96%), terdiri atas 2 pasang rantai globin dan beta (22)
o Hb A2 (2,5%), terdiri atas 2 pasang rantai alfa dan delta (22)
-

Pada fetus:

o HbF (predominasi), terdiri atas 2 pasang rantai globin alfa dan gamma (22)
o Pada saat dilahirkan HbF terdiri atas rantai globin alfa dan Ggamma (2G2) dan alfa dan
A

gamma (2A2), dimana kedua rantai globin gamma berbeda pada asam amino di posisi 136

yaitu glisin pada G dan alanin pada A


-

Pada embrio:

o Hb Gower 1, terdiri atas rantai globbin zeta dan epsilon (22)

o Hb Gower 2, terdiri atas rantai globin alfa dan epsilon (22)


o Hb Portland, terdiri atas rantai globin zeta dan gamma ( 22), sebelum minggu ke 8
intrauterin.
o Semasa tahap fetus terdapat perubahan produksi rantai globin dari rantai zeta () ke rantai
alfa () dan dari rantai epsilon () ke rantai gamma (), diikuti dengan produksi rantai beta
() dan rantai delta () saat kelahiran.
2.1 Gen-gen globin
-

Gen terdapat di dalam setiap sel tubuh kita. Setiap gen selalu berpasangan. Satu belah gen
berasal dari ibu, dan yang lainnya dari ayah. Diantara banyak gen dalam tubuh kita, terdapat
sepasang gen yang mengontrol pembentukan hemoglobin pada setiap sel darah merah. Gen
tersebut dinamakan gen globin. Gen-gen tersebut terdapat di dalam kromosom.

Rantai globin yang terapat pada semua varian hemoglobin memiliki sekuens asam amino
yang mirip satu sama lain tetapi dikode oleh gen-gen like dan like yang masing-masing
membentuk suatu gugus gen yang terletak pada kromosom yang terpisah. Gugus gen globin
like terletak pada kromosom 16 yang membentang sepanjang lebih dari 25 kb dan
mengandung satu gen globin zeta (), dua salinan gen globin alpha (1, 2), satu gen globin
theta () yang belum diketahui fungsinya serta tiga pseudogenes (, 1, 2). Sedangkan
gugus gen globin like yang terletak pada kromosom 11 membentang sepanjang lebih dari
50 kb, mengandung lima gen globin fungsional, yaitu epsilon (), dua gamma ( G,A), delta
() dan beta () serta satu pseudogene ().

Gen-gen globin tersebut di atas berekspresi secara spesifik sesuai dengan tingkat
perkembangan, gen-gen globin tersebut dihidupkan dan dimatikan untuk menghasilkan
bentuk hemoglobin yang sesuai pada tingkat perkembangan yang berbeda (haemoglobin
switching). Dengan terjadinya switching, pada masa dewasa ditemukan HbA (22). Rantai
dan yang membentuk HbA panjangnya hampir sama. Rantai terdiri dari 141 asam amino
sedangkan rantai b terdiri dari 146.

Setiap gen berfungsi untuk mengontrol sifat dan fungsi tubuh manusia dan telah bekerja
selama manusia masih dalam masa embrio. Gen terdapat di setiap sel tubuh manusia dan

setiap gen selalu berpasangan. Dan diantara sejumlah besar gen dalam tubuh manusia, gen
globin adalah salah satu gen yang memiliki fungsi untuk mengontrol pembentukan
hemoglobin pada setiap sel darah merah, apabila gen ini hilang atau terjadi perubahan
struktur/bentuk maka akan menyebabkan kelainan salah satu contohnya adalah Talasemia
yang terjadi karena tidak terbentuknya rantai globin dalam tubuhnya.
2.2 Sintesis rantai globin (untuk menentukan jenis Hb)
-

Semua gen globin mempunyai tiga ekson (region pengode) dan dua intron (region yang tidak
mengode, yang DNA-nya tidak terwakili pada protein yang sudah jadi). RNA awal
ditranskripsi dari ekson dan intron, dan dari hasil transkripsi ini RNA yang berasal dari intron
dibuang melalui suatu proses yang disebut splicing. Intron selalu dimulai dengan suatu
dinukleotida GT dan berakhir dengan dinukleotida AG. Mesin splicing mengenali urutan
tersebut dan juga sekuens dinukleotida didekatnya yang dipertahankan. RNA dalam nucleus
juga ditutupi dengan penambahan suatu struktur pada ujung 5 yang mengandung gugus tujuh
metil guanosin. Struktur ini penting untuk pelekatan mRNA pada ribosom, setelah itu mRNA
yang baru terbentuk tersebut juga mengalami poliadenilasi pada ujung 3.

Sejumlah sekuens lain yang dipertahankan penting dalam sintesis globin. Sekuens ini
mempengaruhi transkripsi gen, memastikan kebenarannya dan menetapkan tempat untuk
mengawali dan mengakhiri translasi dan memastikan stabilitas mRNA yang di sintesis.
Promotor ditemukan pada posisi 5 pada gen, dekat dengan lokasi inisiasi atau lebih distal.
Promotor ini adalah lokasi tempat RNA polimerase berikatan dan mengakatalis transkripsi
gen.

Setelah itu penguat (enhancer) ditemukan pada posisi 5 atau 3 terhadap gen. Penguat
penting dalam regulasi ekspresi gen globin yang spesifik jaringan dan dalam regulasi sintesis
berbagai rantai globin selama kehidupan janin dan setelah kelahiran. Regio pengatur lokus
(locus control region, LCR) adalah unsur pengatur genetic yang terletak jauh di hulu
kelompok globin yang mengatur aktivitas genetik tiap domain, kemungkinan dengan cara
berinteraksi secara fisik dengan region promoter dan menguraikan kromatin agar faktor
transkripsi dapat berikatan. Kelompok gen globin juga mengandung region yang mirip
dengan LCR, disebut HS40. Faktor transkripsi GATA-1, FoG, dan NF-E2 yang diekspresikan

terutama pada precursor eritroid, penting untuk menentukan ekspresi gen globin dalam sel
eritroid.
-

Setelah itu mRNA globin memasuki sitoplasma dan melekat pada ribosom (translasi) tempat
terjadinya sintesis rantai globin. proses ini terjadi melalui pelekatan RNA transfer, masingmasing dengan asam aminonya sendiri, melalui berpasangannya kodon/antikodon pada suatu
posisi yang sesuai dengan cetakan (template) mRNA.