Anda di halaman 1dari 5

Nama Peserta: dr.

Indah Ramadhani Marta Amalia


Nama Wahana: RSUD Cengkareng
Topik: Vulnus Laceratum Regio Mandibula
Tanggal (Kasus): 31-03-2015
Nama Pasien: Tn. A
No RM: 890944
Tanggal Presentasi:
Nama Pendamping: dr. Hanny Dewajanti
Tempat Presentasi:
Obyektif Presentasi:
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus

Bayi Anak Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi: Tn. A, 16 tahun, laki-laki, datang dengan keluhan luka robek pada daerah dagu
bawah jam yang lalu akibat tertabrak bajaj saat mengendarai motor. Lalu pasien
terjatuh dan dagu pasien terbentur badan bajaj. Gigi depan dan gingsul pasien patah.
Kepala pasien tidak terbentur, tidak ada pingsan maupun muntah. Pasien masih ingat
kejadian.
Tujuan: penanganan pertama pada pasien kecelakaan lalu lintas dengan luka robek /
Vulnus Laceratum serta proses penyembuhan pada luka
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Bahan Bahasan:
Presentasi dan Diskusi
Email
Pos
Cara Membahas: Diskusi
Data Pasien
Nama: Tn. A
No Registrasi: 890944
Nama Klinik: IGD
Telpon:
Terdaftar Sejak: 31-03-2015
Data Utama dan Bahan Diskusi
1. Diagnosis / Gambaran Klinis
Vulnus Laceratum region mandibula
2. Riwayat Pengobatan
Sebelum ke IGD RSUD Cengkareng pasien tidak mengkonsumsi obat apapun.
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit
Tidak ada
4. Riwayat Keluarga
Ayah pasien pederita hipertensi.
5. Lain-lain: Pasien tidak mempunyai alergi obat maupun makanan. Pasien merokok.
Daftar Pustaka
1. Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2010.
Hasil Pembelajaran
1. Penanganan pada Vulnus Laceratum
2. Proses penyembuhan luka

1. Subyektif
Tn. A, 16 tahun, laki-laki, datang dengan keluhan luka robek pada daerah dagu bawah
jam yang lalu akibat tertabrak bajaj saat mengendarai motor. Lalu pasien terjatuh dan dagu
pasien terbentur badan bajaj. Gigi depan dan gingsul pasien patah. Kepala pasien tidak
terbentur, tidak ada pingsan maupun muntah. Pasien masih ingat kejadian. Pasien tidak
mengkonsumsi obat apa pun sebelum ke IGD RSUD Cengkareng. Ayah pasien panderita
hipertensi. Pasien mengkonsumsi rorok. Alergi obat maupun makanan dan asma
disangkal.
2. Objektif
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan:
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Laju Nadi

: 84 kali/menit (N: 60 100 kali/menit)

Pernafasan

: 22 kali/menit (N:12-24 kali/menit)

Suhu

: 36,5oC

Kepala

: Deformitas (), normocephali

Mata

: Cekung -, konjungtiva anemis -/-, pupil isokor, refleks


cahaya +/+

Telinga

: MAE +/+, serumen +/+, sekret -/-

Hidung

: Septum nasi di tengah, sekret -/-

Mulut

: Mukosa oral dan lidah kering

Tenggorokan

: Faring tidak hiperemis.

Leher

: Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening, massa

Pemeriksaan paru

Simetris dalam keadaan statis dan dinamis. Pergerakan


dinding dada simetris dan fremitus taktil simetris kanan =
kiri. Sonor pada kedua lapang pandang paru. Bunyi
vesikular, ronki -/-, wheezing +/+.

Pemeriksaan jantung

: Iktus cordis tidak terlihat. Iktus cordis tidak teraba Batas


Atas: ICS III. Batas Kanan: Linea sternalis dextra. Batas
Kiri: Linea midclavikula sinistra. Bunyi jantung I dan II
reguler, gallop ,murmur .

Abdomen

: Tampak Cembung. Nyeri tekan -. Shifting dullness -. Bising


2

usus +
Ekstremitas

: Akral hangat pada keempat ekstremitas

Status Lokalis :
Terdapat luka robek pada region mandibula dengan ukuran panjang 3 cm kedalaman
2cm dan lebar 1,5 cm. darah (+). Tidak menembus ke mukosa. Gigi incicivus I dan III
patah
3. Pemeriksaan Penunjang
Rontgen Schedell
Cranium :
Tabula sutura baik
Jejas vascular baik
Sela tursika bentuk dan ukuran baik
Tidak tampak kelainan tulang
Panoramic
Bentuk : struktur dan alignment
Os mandibular baik
Tidak tampak kalinan atau garis fraktur tulang
Avulsi gigi satu kiri atas
4. Assessment
Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks, yang melibatkan respons
vaskular, aktivitas seluler dan substansi mediator di daerah luka. Setiap proses
penyembuhan luka akan melalui 3 tahapan yang dinamis, saling terkait dan
berkesinambungan serta tergantung pada jenis dan derajat luka.
Dalam keadaan normal, proses penyembuhan luka mengalami 3 tahap atau fase yaitu:
1. Fase inflamasi
Fase ini terjadi sejak terjadinya luka hingga sekitar hari kelima.
Dalam fase inflamasi terjadi respons vaskular dan seluler yang terjadi akibat luka atau
cedera pada jaringan yang bertujuan untuk menghentikan perdarahan dan membersihkan
daerah luka dari benda asing, sel-sel mati dan bakteri.
Pada awal fase inflamasi, terputusnya pembuluh darah akan menyebabkan perdarahan dan
tubuh akan berusaha untuk menghentikannya (hemostasis), dimana dalam proses ini
terjadi:

Konstriksi pembuluh darah (vasokonstriksi)

Agregasi (perlengketan) platelet/trombosit dan pembentukan jala-jala fibrin

Aktivasi serangkaian reaksi pembekuan darah

Proses tersebut berlangsung beberapa menit dan kemudian diikuti dengan peningkatan
3

permeabilitas kapiler sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah,
penyebukan sel radang, disertai vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) setempat yang
menyebabkan edema (pembengkakan). Selain itu juga terjadi rangsangan terhadap ujung
saraf sensorik pada daerah luka. Sehingga pada fase ini dapat ditemukan tanda-tanda
inflamasi atau peradangan seperti kemerahan, teraba hangat, edema, dan nyeri.
Aktivitas seluler yang terjadi berupa pergerakan sel leukosit (sel darah putih) ke lokasi
luka dan penghancuran bakteri dan benda asing dari luka oleh leukosit.
2. Fase proliferasi
Fase proliferasi disebut juga fase fibroplasia, yang berlangsung sejak akhir fase inflamasi
sampai sekitar akhir minggu ketiga. Pada fase ini, sel fibroblas berproliferasi
(memperbanyak diri). Fibroblas menghasilkan mukopolisakarida, asam amino dan prolin
yang merupakan bahan dasar kolagen yang akan mempertautkan tepi luka. Fase ini
dipengaruhi oleh substansi yang disebut growth factor.
Pada fase ini terjadi proses:

Angiogenesis, yaitu proses pembentukan kapiler baru untuk menghantarkan nutrisi

dan oksigen ke daerah luka. Angiogenesis distimulasi oleh suatu growth factor yaitu TNFalpha2 (Tumor Necrosis Factor-alpha2).

Granulasi, yaitu pembentukan jaringan kemerahan yang mengandung kapiler pada

dasar luka dengan permukaan yang berbenjol halus (jaringan granulasi).

Kontraksi

Pada fase ini, tepi-tepi luka akan tertarik ke arah tengah luka yang disebabkan oleh kerja
miofibroblas sehingga mengurangi luas luka. Proses ini kemungkinan dimediasi oleh
TGF-beta (Transforming Growth Factor-beta).

Re-epitelisasi

Proses re-epitelisasi merupakan proses pembentukan epitel baru pada permukaan luka.
Sel-sel epitel bermigrasi dari tepi luka mengisi permukaan luka. EGF (Epidermal Growth
Factor) berperan utama dalam proses ini.
3. Fase maturasi atau remodelling
Fase ini terjadi sejak akhir fase proliferasi dan dapat berlangsung berbulan-bulan.
Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi
jaringan yang lebih kuat dan berkualitas. Pembentukan kolagen yang telah dimulai sejak
fase proliferasi akan dilanjutkan pada fase maturasi menjadi kolagen yang lebih matang.
Pada fase ini terjadi penyerapan kembali sel-sel radang, penutupan dan penyerapan
kembali kapiler baru serta pemecahan kolagen yang berlebih.
4

Selama proses ini jaringan parut yang semula kemerahan dan tebal akan berubah menjadi
jaringan parut yang pucat dan tipis. Pada fase ini juga terjadi pengerutan maksimal pada
luka.
Selain pembentukan kolagen juga akan terjadi pemecahan kolagen oleh enzim kolagenase.
Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen
yang diproduksi dengan yang dipecah. Kolagen yang berlebihan akan menyebabkan
terjadinya penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi kolagen
yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka tidak akan menutup
dengan sempurna.
5. Plan
Tatalaksana pada pasien ini:
Wound Toilet
Rontgen schedell dan panoramic
Wound suturing
Injeksi ceftriakson 1 gr
Injeksi ATS dan TT
Cefixime 2x200mg
Asam mefenamat 3x500mg
Vit C 1x1
Pasien dipulangkan
Disarankan untuk kontrol luka 3 hari sekali dan disarankan untuk memeriksakan diri ke
dokter gigi karena didapatkan gigi I dan III patah