Anda di halaman 1dari 23

TEST PROVOKASI OBAT

PADA PENDERITA ALERGI


OBAT ANTI TUBERCULOSIS
Didi Kurniadhi
PPDS IPD I/2004

PENDAHULUAN
ALERGI OBAT
REAKSI ALERGI OBAT (REAKSI HIPERSENSITIFITAS) EFEK SAMPING OBAT YANG
TIDAK DIHARAPKAN YANG MELIBATKAN SISTEM IMUN
BERTANGGUNG JAWAB PADA 5% PASIEN PERAWATAN DI RUMAH SAKIT
REAKSI ALERGI INI DAPAT MENJADI SESUATU YANG SERIUS DAN MENGANCAM
JIWA
PEMERIKSAAN SEROLOGI YANG SERING DIGUNAKAN ANTARA LAIN ADALAH IgE
TOTAL/SPESIFIK

TEST PROVOKASI OBAT MASIH MERUPAKAN BAKU EMAS DALAM


DIAGNOSA HIPERSENSITIFITAS
TEST PROVOKASI OBAT DILAKUKAN JIKA :
* OBAT TERBUKTI LEBIH EFEKTIF DARI OBAT ALTERNATIF
* PENYAKITNYA SERIUS
* TEST LAIN KURANG MEMUASKAN UNTUK MEMBERI KESIMPULAN

PROTOKOL SPESIFIK UNTUK TIAP OBAT DALAM MELAKUKAN PROVOKASI TEST


HINGGA SEKARANG BELUM ADA
PANDUAN PROTOKOL UMUM DALAM MELAKUKAN PROVOKASI OBAT :
1. MULAI DARI DOSIS KECIL NAIK PERLAHAN-LAHAN
2. JIKA TIDAK TIMBUL GEJALA DOSIS MAX 1X PEMBERIAN DAN DOSIS HARIAN
HARUS TERCAPAI
3. INTERVAL WAKTU PEMBERIAN MINIMAL 30 DETIK
4. JIKA EFEK SAMPING TIMBUL KURANG DARI 1 JAM DOSIS AWAL 1:10.000-1:10
DOSIS TERAPEUTIK

TUBERCULOSIS
MERUPAKAN SALAH SATU PENYAKIT TERTUA YANG DISEBABKAN
MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS
BIASANYA MENGENAI PARU, MESKIPUN DAPAT MELIBATKAN ORGAN LAIN
(TBC EKSTRA PARU)
TBC EXTRA PARU TERSERING MENGENAI KGB, PLEURA DAN TULANG /
SENDI

TBC MASIH MERUPAKAN MASALAH GLOBAL DI DUNIA


WHO 1990 MELAPORKAN 3,5 4 JUTA KASUS BARU TBC
DI AMERIKA SERIKAT SETELAH LONJAKAN KASUS DI TAHUN 1990
DAN PUNCAKNYA 1992, ANGKA KEJADIAN MENURUN DARI 26.673
(1992) MENJADI 16.377 (2000)
DI INDONESIA TBC MENJADI PENYEBAB KEMATIAN NOMOR 2
(SKRT 1992)

OBAT ANTI TUBERCULOSIS (OAT) DIBAGI MENJADI 2 BAGIAN :

* OBAT LINI PERTAMA : RIFAMPISIN, ISONIAZID, PYRAZINAMIDE,

ETAMBUTOL & STREPTOMISIN MERUPAKAN OBAT UTAMA


EFEKTIFITAS YANG TINGGI SERTA TOKSISITAS &

KARENA

RESISTENSI

YANG RENDAH
* OBAT LINI KEDUA : KANAMISIN, CAPREOMYCIN, AMIKASIN,
CIPROFLOXACIN

(QUINOLONE), PAS DIBERIKAN PADA TBC

RESISTEN / TIDAK DAPAT MENDAPAT OBAT LINI PERTAMA

INH DAN RIFAMPISIN EFEK HEPATOTOKSIK


PYRAZINAMIDE DIANGGAP LEBIH TIDAK HEPATOTOKSIK DIBANDINGKAN
INH DAN RIFAMPISIN
ETAMBUTOL NEURITIS OPTIKA DAN NEUROPATHY PERIFER
SELAIN EFEK SAMPING DI ATAS SERING JUGA DITEMUKAN REAKSI
HIPERSENSITIFITAS

BERUPA

DEMAM,

PRURITUS,

ERUPSI

KULIT,

TROMBOSITOPENIA, NYERI KEPALA, NAUSEA, GANGGUAN GI TRACK,


HIPOTENSI MAUPUN SYOK, DLL

ILUSTRASI KASUS
Nama : Ny A (47 TAHUN)
KU : Pasien datang dengan riwayat alergi obat pro challenge test (test provokasi obat)
RPS :

2 tahun
Benjolan dileher
kanan bawah,
tdk membesar

4 bulan
Benjolan di leher
kanan atas, tdk
nyeri, kenyal

Keluhan lain berupa demam,


batuk-batuk, keringat malam
dan penurunan BB -

3 bulan
Berobat ke poli
bedah

2,5 bulan
Biopsi
Hasil : Limfadenitis
tuberculosa

27/7/04
Diberikan OAT R/H/Z/E
450/400/1000/1000

13/8/04
Timbul panas, mencret, kemerahan
pada kulit disertai bentol & rasa gatal
Ke IGD RS UKI tidak dirawat
krn tambah parah besoknya dirawat
Selama 5 hari

30/8/04
Sembuh kembali
ke poli bedah RSCM
diberi obat yang sama
setelah meminum Rifampisin,
pyrazinamid x B6 timbul keluhan
sama yang lebih hebat ke
IGD RSCM (dianjurkan ke poli Alergi)

Poli Alergi dianjurkan


untuk Chalenge test

RPD : Tidak pernah ada riwayat alergi, Hipertensi 4 thn, DM -, asma RPK : Ayah ada riwayat asma, Ibu (+) karena tumor ganas mulut, adik
pasien 2 orang menderita asma, anak bungsunya juga asma

PEMERIKSAAN FISIK
CM, TD: 180/100, N : 112X/MNT, SUHU 36,6oC, P : 20X/MNT, BB 48 KG, TB 157 CM
KONJUNGTIVA PUCAT, SKLERA IKTERIK, JVP 5-2 CMH2O, KGB TERABA DI REGIO

SUPRAKLAVIKULA DEXTRA
DINDING DADA SIMETRIS STATIS DAN DINAMIS, VESIKULER, Rh -/-, WHEZZ -/-, SONOR
BJ I-II MURNI, MURMUR -, GALLOP
ABDOMEN DATAR, LEMAS, NT -, BU +, H/L tt, TIMPANI
KEDUA EKSTREMITAS HANGAT, OEDEM -/-

MASALAH YANG DITEGAKKAN :


1. RIWAYAT ALERGI OBAT PROTEST PROVOKASI
2. LIMFADENITIS TB
3. HIPERTENSI GRADE II

RIWAYAT ALERGI OBAT ATAS DASAR ADANYA ALERGI SETELAH


MEMINUM OBAT-OBATAN OAT
PADA PASIEN INI DIRENCANAKAN UNTUK TEST PROVOKASI OBAT
UNTUK MENCARI OBAT PENYEBAB

PROTOKOL OBAT
Hari ke I
(INH)

Hari ke 3
(Etambutol)

Hari ke 5
(Pyrazinamide)

Hari ke 7
(Rifampisin)

25mg (jam ke 1)

25mg (jam ke 1)

50mg (jam ke 1)

25mg (jam ke 1)

50mg (jam ke 2)

50mg (jam ke 2)

100mg (jam ke 2)

50mg (jam ke 2)

100mg (jam ke 3)

100mg (jam ke 3)

250mg (jam ke 3)

100mg (jam ke 3)

200mg (jam ke 4)

150mg (jam ke 4)

500mg (jam ke 4)

150mg (jam ke 4)

1x300mg (jam ke 5)

200mg (jam ke 5)

2x500mg / 12jam

200mg (jam ke 5)

Observasi 2 hari

250mg (jam ke 6)

Observasi 2 hari

250mg (jam ke 6)

3x250 mg/ 8jam

300mg (jam ke 7)

Observasi 2 hari

350mg (jam ke 8)
400mg (jam ke 9)
1x450mg (jam ke 10)

Observasi 2 hari

Masalah Limfadenitis TB histopatologi dan direncanakan pemberian


OAT
Masalah Hipertensi grade II pemeriksaan TD = 180/100 dan adanya
riwayat hipertensi. Direncanakan pemberian obat anti hipertensi (captopril
2x12,5mg) dengan monitoring tekanan darah berkala
Test provokasi dimulai dengan INH pada perawatan hari ke 5 dan tidak
timbul reaksi
Etambutol mulai pada hari perawatan ke 7 dan tidak timbul reaksi

Pyrazinamide diberikan pada hari perawatan ke 9, setelah dosis 500mg


pada pukul 16.30 timbul gatal-gatal dan urtikaria sehingga obat dihentikan
dan dilakukan observasi 3 hari perbaikan
Pemberian Rifampisin mulai pada hari ke 13 dan terjadi perubahan
protokol dimana dosis mulai 45mg, 90mg, 135 dan 180mg dan baru
besoknya diberikan dosis 450mg. Ternyata pada pemberian dosis 90mg
sudah timbul gatal, kemerahan, utikaria dan pasien menggigil stop
diphenhidramine & dexamethasone 1 ampul

LABORATORIUM

DPL: Hb 12, Ht 35, Leu 4300, trom 22000, Diff.count 0/2/0/59/39/0, LED 30
UL: Kuning, BJ 1,015, PH 6,5, Protein -, Glukosa -, Keton -, Bilirubin -,
Urobilin -, Nitrit -, Leu 4-5, Eritrosit -, Epitel ++, Kristal
Elektrolit: Na 143, K 3,29, CL 108
Kimia darah: Ur 17, Cr 0,8, GDS 92, Alb 4,5, Glob 2,3, Bil tot/D/I 0,5/0,1/0,4,
Kol tot 212, Trig 125, HDL/LDL 46/161, SGOT/PT (20/10) 67/63, (1/11) 56/36
Jumlah eosinofil 110, Ig E total 843, Ab rifampisin + titer 8 (2mg/ml rif)
CCT ukur 93,04, Prot kuantitatif 588

DISKUSI
Alergi obat sering terjadi, pada kasus dimana alergi timbul setelah

penggunaan beberapa macam obat sering sulit untuk kita dalam


mencari obat penyebab
Test provokasi obat merupakan baku emas dan menegakkan diagnosa

dan mencari obat penyebab


Pada pasien ini sudah dilakukan informed consent dan persetujuan

pasien didapatkan secara tertulis


Keamanan pasien harus diperhatikan dan pelaksanaan test memerlukan

kehati-hatian

Karena obat ini benar-benar diperlukan dan merupakan obat utama maka

tidak diperlukan persetujuan komite etik


Pemeriksaan penunjang reaksi alergi seperti IgE dan hitung eosinophil
Reaksi alergi yang timbul diduga hipersensitifitas tipe I sesuai dengan

meningkatnya IgE total dalam darah


Antibodi rifampisin juga memberikan hasil adanya anti rifampisin dalam

darah
Dengan dosis bertahap efek samping yang timbul tidak terlalu hebat