Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KELOMPOK PRAKTIKUM

STRUKTUR SENYAWA ANORGANIK

OLEH
Nama Anggota

1) Hamdhan Fatoni
2) Haniati Zahra
3) Stevani Yudharmi
4) Zahara

Prodi

Kimia

Kelompok

Dosen

1) Dra. Hj. Bayharti, M.Sc


2) Eka Yusmaita, S.Pd, M.Pd
3) Miftahul Khair, S.Si, M.Sc

Asisten Dosen

1) Gusfaria Palendra
2) Kaston Rambe
3) Rian Setiawan

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2014

PERCOBAAN I
Sintesis dan Karakterisasi Kalium Nitrat (KNO3)

A. Tujuan Praktikum
1. Mensintesis Kalium Nitrat
2. Mengkarakterisasi Kalium Nitrat (penentuan titik lebur dan sifat-sifatnya)
3. Membandingkan titik leleh beberapa senyawa ion
4. Menentukan jumlah muatan pada larutan sampel dan kelarutan senyawa ion
B. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Jumat/19 September 2014
Waktu
: 09.40 s/d 12.20 WIB
Tempat: Laboratorium Kimia Anorganik FMIPA UNP
C. Dasar Teori
Kalium (potassium) yang terdapat di alam bersifat sedikit radioaktif karena
mengandung kira-kira 0,02% isotop radioaktif

40

K dengan waktu paruh 1,3 x 109

tahun (Sugiyarto, 2003:90).


Kalium sendiri adalah logam kedua teringan setelah Litium (Li). Kalium akan
teroksidasi dengan cepat dalam udara serta harus disimpan dalam minyak mineral
atau kerosin untuk penyimpanan. Seperti halnya ion logam-logam alkali yang lain,
kalium bereaksi dengan cepat dalam air menghasilkan hidrogen. Apabila berada
dalam air, kalium mungkin akan terbakar. Garamnya sendiri akan memancarkan
warna ungu apabila didekarkan kepKristal adalah bahan padat dengan susunan atom
atau molekul yang teratur (kisi kristal). Agar kristal-kristal dapat terbentuk dari suatu
larutan, maka larutan harus dalam keadaan lewat jenuh konsentrasi bahan yang akan
dikristalisasi dalam larutan harus lebih tinggi dari pada kelarutannya yang
bersangkutan (Oxtoby, 2001).
Kalium klorida adalah garam dengan rumus kimia KCl, berupa padatan kristal
berwarna putih, di alam terdapat sebagai karnalit dan dalam air laut, mudah larut
dalam air. Digunakan untuk pupuk (sumber K) untuk pembuatan garam kalium
lainnya dan untuk keperluan laboratorium. Titik leleh 790 oC dan titik didih 1500 oC.
Kalium klorida adalah garam dengan rumus kimia KNO3, berupa padatan
kristal berwarna putih, kadang-kadang agak sedikit kuning. Sukar larut dalam air
dingin. Digunakan untuk pupuk (Mulyono, 2007:209).
Senyawa Natrium nitrat bersifat higroskopis. Oleh karena itu untuk berbagai
keperluan natrium nitrat yang lebih murah diubah menjadi garam kalium. Kalium

nitrat yang dibuat dari KCl terdapat dalam mineral silvit dan NaNO 3. Jika larutan
jenuh dari masing-masing pereaksi dicampur, NaCl yang kurang melarut akan
mengendap.
KCl + NaNO3 NaCl + KNO3
Jika cairan didinginkan KNO3 mengendap endapan ini dipisahkan kemudian
dimurnikan dengan cara rekristalisasi. Nama umum untuk KNO 3 adalah sendawa
sedangkan NaNO3 disebut sendawa Chili. Kalium nitrat mengkristal dalam bentuk
prisma rombik, tetapi jika larutannya diuapkan, perlahan-lahan pada kaca arloji akan
mengkristal dalam bentuk rombohedral isomorf dengan natrium nitrat dan kalsit,
KNO3 meleleh pada suhu 336 oC dan pada suhu tinggi menghasilkan oksigen:
2KNO3 2KNO2 + O2
Leburan garam ini adalah oksidator kuat. Belerang, arang, dan pospor dapat
terbakar dalam leburan ini menghasilkan kalium sulfat, karbonat, dan pospat. KNO 3
digunakan dalam pembuatan mesiu, dan sebagian kecil digunakan dalam pengolahan
daging.
Kalium Nitrat memiliki rumus molekul KNO 3, dengan massa molar 101,103
g/mol, wujudnya berupa padatan putih, densitas 2,109 g/cm3 (16 C), titik leleh
334C dan titik didih 400 C. Kelarutan dalam air 13,3 g/100 mL (0 C), 36 g/100 mL
(25 C), dan 247 g/100 mL (100 C), sedikit larut dalam etanol, larut dalam gliserol,
dan amonia (Tim Kimia Anorganik, 2014:1)
Natrium (sodium) adalah logam alkali yang terbesar dibutuhkan untuk
keperluan industri. Seperti logam-logam alkali yang lain, natrium tidak ditemukan
dalam keadaan murni di alam karena reaktivitasnya yang tinggi (Sugiyarto, 2003:89).
Sebagian besar senyawaan alkali larut dalam air, sehingga uji pengendapan
tidak mungkin dipakai untuk identifikasi. Untungnya, setiap logam alkali
menghasilkan warna nyala dan karakteristik apabila senyawaan alkali dimasukkan
dalam nyala api. Energi tertentu nyala api diserap oleh elektron-elektron dalam atom
logam hingga terjadi eksitasi, dan kembalinya elektron ke peringkat dasar
membebaskan energi nyala yang khas, sesuai dengan energi transisi elektronik yang
unuk bagi dirinya sendiri. Sebagi contoh, warna nyala natrium merupakan hasil emisi
foton (energi) ketika elektron dalam orbital 3p 1 (dalam peringkat tereksitasi) kembali
ke orbital 3s1 (dala peringkat dasar). Hadirnya elektron 3p1 ini berasal dari reaksi
pembakaran dalam nyala api yang ditangkap oleh ion Na + dalam senyawanya
(Sugiyarto, 2003:86).
Rekristalisasi

Rekristalisasi merupakan cara yang paling efektif untuk memurnikan zatzat


dalam bentuk padat. Metoda ini sederhana, material padatan terlarut dalam pelarut
yang cocok pada suhu tinggi (pada atau dekat titik didih pelarutnya) untuk
mendapatkan jumlah larutan jenuh atau dekat jenuh. Ketika larutan panas perlahan
didinginkan, kristal akan mengendap karena kelarutan padatan biasanya menurun bila
suhu diturunkan. Diharapkan bahwa pengotor tidak akan pengkristal karena
konsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai jenuh. Walaupun
sangat sederhana dalam prakteknya, rekristalisasi bukan berarti mudah dilakukan.
Adapun tahaptahap yang dilakukan pada proses rekristalisasi pada umumnya, yaitu :
1. Memilih pelarut yang cocok
2. Melarutkan senyawa ke dalam pelarut panas sedikit mungkin.
3. Penyaringan
4. Pendinginan filtrat
5. Penyaringan dan pendinginan Kristal
Apabila proses kristalisasi telah berlangsung sempurna, Kristal yang diperoleh
perlu disaring dengan cepat menggunakan corong Buchner. Kemudian Kristal yang
diperoleh dikeringkan dalam desikator.
Titik Leleh
Titik leleh dapat digunakan sebagai acuan apakah suatu senyawa tersebut
murni atau tidak. Senyawa murni biasanya mempunyai rentangan titik leleh tak lebih
dari 3oC. Misalnya, suatu zat mempunyai titik leleh 128-136 oC, maka dapat diketahui
senyawa tersebut belum murni karena rentang titik lelehnya adalah 8 oC. Maka perlu
dilakukan pemurnian lagi melalui teknik rekristalisasi.
Titik leleh sendiri adalah suhu dimana suatu senyawa mulai beralih fasa dari
padatan menjadi cairan sampai semuanya menjadi cair sempurna. Titik leleh dapat
dicari melalui sebuah eksperimen. Bahan yang diperlukan adalah pipa kapiler dan alat
penentu titik leleh. Berikut ini gambar alat penentu titik leleh yang tersedia di
laboratorium kimia anorganik.
Daya Hantar Senyawa Ionik
Daya hantar listrik (DHL) adalah ukuran seberapa kuat suatu larutan dapat
menghantar listrik. DHL merupakan kebalikan dari hambatan listrik, R, dimana:
R = (L/A)
Dimana:
R = Hambatan jenis
A = Luas penampang
L = Panjang konduktor
Suatu hambatan dinyatakan dalam ohm disingkat , oleh karena itu DHL dapat
dinyatakan:

DHL = 1/R = .(A/L)


Dimana = 1/R = ( L/A ) DHL disebut konduktivitas. Satuan DHL dikenal dengan
ohm- 1, disingkat -1, tetapi secara resmi satuan yang digunakan adalah Siemen ,
disingkat S, dimana S = -1, maka satuan adalah Sm-1(atau Scm-1). Konduktivitas
digunakan untuk ukuran larutan atau cairan elektrolit. Konsentrasi elektrolit sangat
menentukan besarnya konduktivitas, sedang konduktivitas sendiri tidak dapat
digunakan untuk ukuran suatu larutan, ukuran yang lebih spesifik yaitu konduktivitas
molar m. Konduktivitas molar adalah konduktivitas suatu larutan apabila
konsentrasi larutan sebesar satu molar, yang dirumuskan sebagai:
m=K/C
Dimana:
m = hantaran molar (S cm2 mol-1)
K = konduktivitas spesifik (S cm-1)
C = konsentrasi larutan (mol/L)
Jika satuan volume yang digunakan adalah cm3 maka persamaan yang digunakan
adalah:
m=1000 K/C
Dimana:
m = hantaran molar (S cm2 mol-1)
K = konduktivitas spesifik (S cm-1)
C = Konsentrasi larutan (mol cm-3) (Tim Kimia Anorganik, 2014:2-4)
D. Alat dan Bahan
Alat : 1) Gelas kimia 400 ml
2) Gelas kimia 600 ml
3) Gelas kimia 250 ml
4) Labu ukur 100 ml
5) Labu ukur 50 ml
6) Tabung reaksi sedang
7) Pengaduk
8) Corong
9) Cawan penguap
10) Pipet Tetes
11) 1 set pemanas
12) Termometer
13) Melting Point Apparatus
14) Konduktiviti meter
Bahan : 1) Kalium klorida
2) Natrium nitrat
3) Litium nitrat
4) Aquades
5) Karbon tetra klorida
6) Kertas saring\
E. Cara Kerja

2 buah
1 buah
5 buah
1 buah
1 buah
4 buah
2 buah

Eksperimen 1. Sintesis KNO3


1. Larutkan 15 g KCl dalam 50 ml air panas.
2. Larutkan 17 g NaNO3 dalam 50 ml air panas.
3. Campur kedua larutan diatas.
4. Uapkan larutan sampai volume larutan menjadi 40 ml! (umumnya larutan
5.
6.
7.
8.

mendidih secara tidak teratur, karena itu gunakan penangas air).


Segera saring larutan ketika sedang panas-panas.
Dinginkan larutan, sampai Kalium nitrat mengkristal
Murnikan kristal KNO3 dengan cara rekristalisasi sehingga bebas ion klorida.
Timbang KNO3 yang diperoleh dan hitung rendemennya!

Eksperimen 2. Penentuan titik leleh


1. Pipa kapiler biasanya terbuka pada kedua ujungnya, panaskan dan lelehkan salah
satu ujung untuk membuatnya buntu.
2. Gerus sampel hingga jadi bubuk, lalu masukkan sampel padat ke dalam pipa
kapiler hingga mencapai tinggi sekitar 0,5 cm. Usahakan sampel mencapai bagian
bawah pipa kapiler yang tertutup/buntu.
3. Masukkan pipa kapiler ke dalam alat penentu titik leleh.
4. Pastikan padatan dalam pipa bisa teramati lewat kaca pembesar alat penentu titik
leleh yang tersedia.
5. Nyalakan alat (meliputi lampu dan pemanas), dan mulailah mengamati kenaikan
suhu lewat termometer.
6. Catatlah suhu jika padatan mulai meleleh, dan catatlah suhu sekali lagi saat
seluruh padatan leleh. Misal, jika padatan mulai meleleh pada suhu 66 oC dan
meleleh sempurna pada suhu 68 oC, maka titik leleh zat tersebut adalah 66-68 oC.
7. Untuk cara yang sama lakukan untuk sampel LiNO3 dan NaNO3
Eksperimen 3. Perbandingan Titik Leleh
1. Dimasukkan sejumlah kecil sampel KNO 3 (kurang lebih 1-2 sudip) ke dalam
tabung reaksi, masukkan termometer ke dalam tabung reaksi tersebut.
2. Panaskan tabung reaksi dengan menggunakan lampu spiritus, amati perubahan
yang terjadi pada sampel KNO3 di dalam tabung reaksi.
3. Dicatat suhu tepat pada saat seluruh urea meleleh, dan dicatat suhu pada saat
seluruh sampel KNO3 dalam tabung reaksi meleleh. Kisaran suhu ini merupakan
kisaran titik leleh dan sampel KNO3.
4. Dilakukan percobaan ini sebanyak 2 kali.
5. Dilakukan prosedur yang sama untuk senyawa LiNO3 dan NaNO3.
6. Prosedur di atas tidak dapat dilakukan untuk senyawa NaCI, KI, dan MgSO 4.
Dicari data titik leleh dari senyawa-senyawa tersebut berdasarkan buku referensi.

Eksperimen 4. Penentuan daya hantar senyawa ionik


1. Menimbang sampel yang akan dilarutkan sesuai hasil perhitungan
2. Membuat larutan standart sampel masing masing sebesar 5.10

-3

M dengan

melarutkan sampel dalam labu ukur 100 ml dengan menambahkan aquades


hingga batas
3. Menguji konduktifitas pelarut dengan mencelupkan konduktiviti meter pada
pelarut tersebut
4. Menguji konduktifitas larutan standar sampel dengan mencelupkan konduktiviti
meter pada larutan tersebut
5. Mencatat hasil pengukuran pada tabel data percobaan
6. Membilas alat konduktivity meter dengan pelarut sebelum digunakan untuk
menguji sampel yang lain
7. Mengolah data hasil percobaan untuk mengetahui konduktivitas molar suatu
senyawa dalam pelarut aquades
Eksperimen 5. Perbandingan Kelarutan
1. Diisi sebuah tabung reaksi dengan air (Tabung I) dan tabung reaksi lain dengan
karbon tetraklorida (Tabung II).
2. Ditambahkan sedikit KNO3 ke dalam masing-masing tabung, dikocok campuran
dalam setiap tabung.
3. Diamati apakah KNO3 larut dalam Tabung I maupun Tabung II.
4. Dilakukan prosedur yang sama untuk NaNO3.
5. Diamati kelarutan dari senyawa dalam masing-masing tabung.
F. Tabel Pengamatan
Eksperimen 1. Sintesis KNO3
NO

PERLAKUAN

Larutkan 15 g KCl dalam

PENGAMATAN

KETERANGAN

Larut secara homogen

Warna larutan bening

Larut secara homogen

Warna larutan bening

Mencampurkan kedua

Saat mencampurkan

Warna larutan bening

larutan

larutannya homogen.

Menguapkan larutan

Kelarutan NaCl lebih

sampai volume larutan

rendah dari pada KNO3

menjadi 40 mL

sehingga akan lebih cepat

50 mL air panas
2

Larutkan 17 g NaNO3
dalam 50 mL air panas

Warna larutan bening

menguap. Hal ini


mengakibatkan larutan yang
tinggal hanya KNO3.
5

Menyaring larutan ketika

Bertujuan agar KNO3 dan

Warna larutan bening

sedang panas-panas

NaCl berpisah.

Mendinginkan larutan

Saat melakukan

Larutan mengeras

sampai KNO3 mengristal

pendinginan larutannnya

berwarna putih. Dan

cepat membeku

Kristal yang di
hasilkan berwarna
putih.

Eksperimen 5. Perbandingan Kelarutan


NO

ZAT

PERLAKUAAN

PENGAMATAN

Tetraclorida (CCl4) Ditambah KNO3

Larutan tidak homogen

Air

Larutan homogen

Tetraclorida (CCl4) Ditambah NaNO3

Larutan tidak homogen

Air

Larutan homogen

Ditambah KNO3

Ditambah NaNO3

G. Pembahasan
Pada praktikum kali ini tentang sintesis dan karakterisasi kalium nitrat
(KNO3). Percobaan pertama yaitu sintesis KNO 3. Setelah melakukan percobaan
dengan mencampurkan KCl 15 g dengan NaNO 3 17 g, diperoleh hasil KNO 3 dalam
wujud kristal. Berikut perhitungannya:
Diketahui:
Massa KNO3 (percobaan)
: 10,43 g
Massa KCl
: 15 g
Massa NaNO3
: 17 g
Mr KNO3
: 101 g/mol
Mr KCl
: 74,5 g/mol
Mr NaNO3
: 85 g/mol
Sehingga:

15 g
Mol KCl = 74.5 g/mol

= 0,2 mol

17 g
85 g /mol

Mol NaNO3 =

= 0,2 mol

KCl(aq) + NaNO3(aq)

NaCl(s) + KNO3(aq)

Mol diketahui

0,2

0,2

Mol yang bereaksi

0,2

0,2

0,2

0,2

Sisa

0,2

0,2

Maka;
mol KNO3

= 0,2 mol

massa KNO3 = 0,2 mol x 101 g/mol


= 20,2 g
Rendemen KNO3
% rendemen

massa KNO 3 percobaan


massa KNO 3 teoritis

10,43 g
20,2 g

x 100%

x 100%

= 51,634 %
Sedangkan pada percobaan yang dilakukan, massa KNO3 yang didapat 10,43
g. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya saat praktikan
mengeringkan hasil kristal KNO3 di kertas saring yang kertas saringnya sering di
ganti, sehingga ada zat KNO3 yang tertinggal pada kertas saring sebelumnya. Dan itu
dapat mengurangi massa KNO3.
Percobaan selanjutnya yaitu penentuan titik didih dan titik leleh, telah
diketahui bahwa senyawa murni biasanya mempunyai rentangan titik leleh tak lebih
dari 3oC. Misalnya, suatu zat mempunyai titik leleh 128-136 oC, maka dapat diketahui
senyawa tersebut belum murni karena rentang titik lelehnya adalah 8 oC. Maka perlu

dilakukan pemurnian lagi melalui teknik rekristalisasi. Tetapi pada percobaan ini kami
tidak mendapatkan hasil. Hal ini terjadi karena kesalahan praktikan saat melakukan
pemanasan kristal KNO3. Saat melakukan pemanasan, suhu terlalu tinggi, sehingga
kristal tersebut hangus
Kemudian percobaan perbandingan kelarutan, dilakukan dua tahap. Disini
larutan yang dibandingkan yaitu antara air dengan kloroform. Tahap pertama
perbandingan air dan kloroform dengan penambahan masing-masing zat KNO 3.
Diperoleh hasil pada air, campurannya homogen. Sedangkan pada kloroform, zat
KNO3 tidak larut ketika dikocok. Untuk tahap kedua yaitu dengan penambahan
NaNO3 pada air dan kloroform. Diperoleh pada air, NaNO3 yang dimasukkan larut
ketika dikocok. Dan pada kloroform ketika NaNO 3 dimasukkan, NaNO3 tidak mau
larut dalam kloroform.
H. Kesimpulan
Berdasarkan tabel pengamatan dan hasil percobaan dapat ditarik beberapa
kesimpulan, sebagai berikut:
Prinsip pembuatan kalium nitrat adalah pemisahan dua garam berdasarkan

perbedaan kelarutan garam dalam air pada suhu tertentu.


Kelarutan yang terjadi, dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu suhu, tekanan,

konsentrasi bahan-bahan lain didalam larutan itu dan pada komposisi pelarutnya.
Kristal yang dihasilkan pada percobaan ini berwrna putih dan berbentuk jarum.
Salah satu pemurnian padatan atau dalam bentuk serbuk yaitu dengan
menggunakan rekristalisasi agar diperoleh zat Kristal murni.

I. Jawaban Pertanyaan
1. Mengapa ion K+ bisa mendesak ion Na+ pada pembentukan KNO3 bila dilihat dari
sifat keperiodikan kedua kation ini?
Jawab:
Karena kemampuan mengoksidasi K+ > Na+, atau kemampuan mereduksi K+ >
Na+.
2. Carilah data-data termodinamika panas pembentukan (Hf) masing-masing
senyawa pada proses pembentukan KNO3 dari NaNO3 dan KCl. Tunjukkan
bahwa secara termodinamika reaksi ini dapat berlangsung.
3. Bagaimana menurut anda cara menentukan kemurnian KNO3 hasil?
Jawab:
Yaitu dengan mereaksikannya dengan AgNO3. Jika terbentuk endapan putih
(AgCl), berarti KNO3 belum murni.

4. Jelaskan sifat fisika dan kimia kalium nitrat!


Jawab:
Keadaan fisik dan penampilan : Solid.
Bau

: Berbau.

Rasanya

: Dingin, garam, pedas.

Molekul Berat

: 101.1 g / mol

Warna

: Putih.

Titik Didih

: Dekomposisi suhu 400 C (752 F)

Melting Point

: 334 C (633,2 F)

Properti Dispersi

Kelarutan

: Mudah larut dalam air panas. Larut dalam air

Lihat kelarutan dalam air.

dingin. Larut dalam dietil eter. Larut dalam amonia cair, gliserin, dan mutlak
alkohol.
5. Jelaskan kegunaan kalium nitrat.
Jawab:
Kalium nitrat umumnya dikenal dengan sebutan saltpeter atau sendawa.
Penggunaan yang paling penting dari senyawa kimia ini adalah sebagai pupuk,
selain berfungsi sebagai bubuk mesiu.
6. Berat kalium nitrat secara teoritis yang dihasilkan
Diketahui:
Massa KNO3 (percobaan)
: 6,9678 g
Massa KCl
: 14,9614 g
Massa NaNO3
: 17,0992 g
Mr KNO3
: 101 g/mol
Mr KCl
: 74,5 g/mol
Mr NaNO3
: 85 g/mol
14,9614 g
Mol KCl = 74.5 g/mol
Mol NaNO3 =

= 0,201 mol

17,0992 g
85 g /mol

KCl(aq) + NaNO3(aq)

= 0,201 mol

NaCl(s) + KNO3(aq)

m:

0,2

0,2

r:

0,2

0,2

0,2

0,2

s:

0,2

0,2

mol KNO3

= 0,2 mol

massa KNO3 = 0,2 mol x 101 g/mol


= 20,2 g

7. Berat kalium nitrat yang diperoleh : 22,1 gram


8. Persen hasil (rendemen) kalium nitrat
Rendemen KNO3
massa KNO 3 percobaan
% rendemen=
massa KNO 3 teoritis

10.4 g
20,2 g

x 100%

x 100%

= 51.634 %

9. Berat kalium setelah kristalisasi : 15,7 gram


10. Persen kehilangan kalium nitrat melalui proses rekristalisasi
% kehilangan = 100 % - % rendemen
= 100 % - 51.634 %
= 48.6 %

DAFTAR PUSTAKA

Mulyono. 2007. Kamus Kimia. Jakarta: PT. Bumi Aksara


Oxtoby. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga
Sugiyarto. 2003. Kimia Anorganik II. Malang: JICA
Tim Kimia Anorganik. 2014. Penuntun Praktikum Struktur Senyawa Anorganik. Padang:
UNP