Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK


PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS
DI BANJAR METULIS DESA DAWAN KALER

A. Pengertian
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu kelompok penyakit
metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia karena gangguan sekresi
insulin, kerja insulin, atau keduanya. Keadaan hiperglikemia kronis dari
diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, gangguan fungsi
dan kegagalan berbagai organ, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan
pembuluh darah (ADA, 2012).
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengalirkan atau
mengalihkan (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna
manis atau madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang
mengalirkan volume urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi.
Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan
ketidakadaan absolute insulin atau penurunan relative insensitivitas sel
terhadap insulin (Corwin, 2009).
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis di mana pangkreas
tidak dapat memproduksi insulin secara cukup, atau di mana tubuh tidak
efektif menggunakan insulin yang diproduksi, atau pun keduanya. Hal ini
menjurus kepada peningkatan konsentrasi dari kadar gula dalam darah atau
hyperglycaemia (WHO, 2013).
B. Klasifikasi
1. Diabetes tipe 1 (insulin-dependent diabetes) terjadi karena adanya
gangguan pada pankreas, menyebabkan pankreas tidak mampu
memproduksi insulin dengan optimal. Pankres memproduksi insulin
dengan kadar yang sedikit dan dan dapat berkembang menjadi tidak
mampu lagi memproduksi insulin. Akibatnya, penderita diabetes tipe 1
harus mendapat injeksi insulin dari luar (Sutanto, 2013). Penyebab
diabetes tipe 1 tidak diketahui dan kejadian ini masih belum dapat
dicegah dengan ilmu yang ada pada saat ini. Gejala gejalanya meliputi

frekuensi

ekskresi

urin

yang

berlebihan

(polyuria),

kehausan

(polydipsia), lapar yang terus menerus, berat badan berkurang, gangguan


penglihatan, dan kelelahan. Gejala-gejala ini dapat muncul secara tibatiba (WHO, 2013).
2. Diabetes tipe 2 merupakan penyakit diabetes yang disebabkan karena selsel tubuh tidak merespon insulin yang dilepaskan oleh pankreas (sutanto,
2013). Diabetes tipe 2 dialami hampir 90% manusia di dunia, dan secara
umum penyakit ini adalah hasil dari berat badan berlebih dan kurangnya
aktifitas fisik. Gejala-gejala mirip dengan diabetes tipe 1, tetapi biasanya
tidak terasa. Hasilnya, penyakit ini terdiagnosa bertahun tahun setelah
awal mula terjadinya penyakit, ketika sudah timbul komplikasi (WHO,
2013).
3. Diabetes gestational adalah diabetes yang disebabkan karena kondisi
kehamilan (sutanto, 2013). Gejala diabetes gestational mirip dengan gejala
diabetes tipe 2. Diabetes gestational lebih sering terdiagnosa melalui

prenatal screening dari pada gejala yang dilaporkan (WHO, 2013).


C. Etiologi
1. Pada Diabetes tipe I:
Ditandai dengan adanya kerusakan sel-sel beta pankreas, yang mungkin
disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik, imunologi dan mungkin
lingkungan .
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi
mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah
terjadinya diabetes tipe I.
b. Faktor imunologi
Terdapat respon autoimun. Respons ini merupakan respons abnormal
dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara
bereaksi terhadap jaringan tersebut seolah-olah sebagai jaringan asing.
c. Faktor-faktor lingkungan
Penelitian sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor-faktor
external yang dapat memicu destruksi sel beta. Sebagai contoh virus
atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan
destruksi sel beta.

2. Pada Diabetes tipe II


Penyebab resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes
tipe ini sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor yang banyak berperan
antara lain:
a. Kelainan genetik
Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap
diabetes. Ini terjadi karena DNA pada orang diabetes akan ikut
diinformasikan pada gen berikutnya terkait dengan penurunan
produksi insulin.
b. Usia
Umumnya manusia mengalami penurunan fisiologis yang secara
dramatis dan cepat pada usia setelah 40 tahun. Penurunan ini yang
akan beresiko pada penurunan fungsi endokrin pankreas untuk
memproduksi insulin dan resistensi insulin cenderung meningkat pada
usia diatas 65 tahun
c. Gaya hidup stress
Stress kronis cenderung membuat seseorang mencari makanan yang
cepat saji yang kaya pengawet, lemak dan gula. Makanan ini
berpengaruh besar terhadap kerja pankreas. Stress juga akan
meningkatkan kerja metabolisme dan meningkatkan kebutuhan akan
sumber energi yang berakibat pada kenaikkan kerja pankreas. Beban
yang tinggi membuat pankreas mudah rusak hingga berdampak pada
penurunan insulin.
d. Pola makan yang salah
Kurang gizi atau kelebihan berat badan dapat meningkatkan resiko
terkena diabetes. Malnutrisi dapat merusak pankreas sedangkan
obesitas meningkatkan gangguan kerja atau resistensi insulin. Pola
makan yang tidak teratur dan cenderung terlambat juga akan berperan
pada ketidakseimbangan kerja pankreas.
e. Obesitas
Obesitas mengakibatkan sel-sel beta pankreas mengalami hipertrofi
yang akan berpengaruh terhadap penurunan produksi insulin.
Hipertrofi pankreas pada penderita obesitas disebabkan karena
peningkatan beban metabolisme glukosa untuk mencukupi energi sel
yang terlalu banyak.
D. Gejala Klinis
Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada pasien DM adalah :

1. Poliuria.
Karena sifatnya, kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan
banyak kencing. Kencing yang yang sering dan dalam jumlah yang
banyak akan sangat mengganggu pasien, terutama pada waktu malam
hari.
2. Polidipsi.
Akibat volume urie yang sangat besar dan keluarnya air yang
menyebabkan dehidrasi ekstra sel. Dehidrasi intrasel mengikuti dehidrasi
ekstrasel karena air intrasel akan berdifusin keluar sel mengikuti gradien
konsentrasi ke plasma yang hipertonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel
merangsang

pengeluaran

ADH

(Anti

Diuretic

Hormone)

dan

menimbulkan haus. Rasa haus amat sering dialami oleh pasien karena
banyaknya cairan yang keluar melalui kencing. Keadaan ini justru sering
disalahtafsirkan. Dikiranya sebab rasa haus adalah udara yang panas atau
beban kerja yang berat. Untuk menghilangkan rasa haus itu pasien
minum banyak.
3. Polifagia.
Kalori dari makanan yang dimakan, setelah dimetabolismekan menjadi
glukosa dalam darah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan, pasien selalu
merasa lapar.

4. Penurunan BB dan rasa lemah.


Penurunan BB yang berlangsung dalam waktu relatif singkat harus
menimbulkan kecurigaan. Rasa lemah hebat yang menyebabkan
penurunan prestasi di sekolah dan lapangan olah raga juga mencolok. Hal
ini disebabkan karena glukosa dalam darah tidak bisa masuk ke dalam
sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga.
Untuk kelangsungan hidup, sumber tenaga terpaksa diambil dari
cadangan lain yaitu sel lemak dan otot. Akibatnya pasien kehilangan
jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.
5. Gangguan saraf tepi / kesemutan.

Pasien mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di waktu
malam, sehingga mengganggu tidur.
6. Gangguan penglihatan.
Pada fase awal penyakit DM sering dijumpai gangguan penglihatan yang
sering mendorong pasien mengganti kacamatanya, agar dapat melihat
dengan baik.
7. Gatal / bisul.
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan atau
daerah lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah payudara. Sering pula
keluhan timbulnya bisul dan luka yang lama sembuhnya. Luka ini dapat
terjadi akibat yang sepele seperti luka lecet karena sepatu atau peniti.
8. Gangguan ereksi.
Gangguan ini menjadi masalah tersembunyi. Hal ini terkait dengan
budaya masyarakat yang tabu membicarakan masalah seks, apalagi
menyangkut kemampuan atau kejantanan seseorang.
9. Keputihan.
Pada wanita, keputihan dan gatal merupakan keluhan yang sering
ditemukan, bahkan kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala yang
dirasakan.

E. Komplikasi
1. Komplikasi yang bersifat akut
a. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan
penurunan glukosa darah. Gejala ini dapat ringan berupa gelisah
sampai berat koma disertai kejang. Penyebab tersering adalah akibat
pemakaian

obat

hiperglikemik

oral

golongan

sulfonilurea

(klorpropamida dan glibenklamid). Hipoglikemia sering pula terjadi


pada pengobatan dengan insulin, tetapi biasanya ringan. Begitu pula
dengan penggunaan insulin drip.
1) Penyebab dari hipoglikemia antara lain : makan kurang dari aturan
yang ditentukan, berat badan turun, sesudah olah raga, sesudah

melahirkan, sembuh dari sakit, makan obat yang mempunyai sifat


serupa, pemberian suntikan insulin yang tidak tepat.
2) Tandatanda hipoglikemia : mulai muncul bila glukosa darah, 50
mg/dl, meskipun dapat pula terjadi pada kadar glukosa darah yang
lebih tinggi, berbeda pada orang seorang. Adapun tanta-tanda
hipoglikemia adalah :
a) Stadium parasimpatik : lapar, mual, dan tekanan darah turun
b) Stadium gangguan otak ringan : lemah, lesu, sulit bicara, dan
kesulitan menghitung sederhana
c) Stadium simpatik : keringat dingin pada muka terutama di
hidung, bibir atau tangan, dan berdebar-debar
d) Stadium gangguan otak berat : koma (tidak sadar) dengan atau
tanpa kejang.
3) Pencegahan untuk pasien yang menggunakan insulin :
a) Dosis insulin tepat
b) Menyuntik di bawah kulit, jangan terlalu dalam
c) Kurangi dosis insulin bila ada perubahan seperti makan agak
kurang, olah raga, sesudah operasi, dan melahirkan.
4) Pengobatan :
a) Stadium permulaan (sadar) : pemberian gula murni 30 gram (2
sendok makan) atau sirop, permen dan makanan yang
mengandung hidrat arang.
b) Stadium lanjut (koma hipoglikemi) : Penangan keadaan gawat
darurat ini harus cepat dan tepat. Berikan glukosa 40% sebanyak
2 flakon, IV setiap 1020 menit hingga pasien sadar disertai
pemberian cairan dextrose 10% per infus, 6 jam perkolf untuk
mempertahankan nilai glukosa darah normal atau di atas normal.
Bila belum teratasi dapat diberikan antagonis insulin seperti:
adrenalin, kortison dosis tinggiatau glukagon 1 mg IV, tetapi
sebaiknya penggunaan adrenalin perlu dibatasi mengingat efek
sampingnya.
b. Hiperglikemia
Kelompok hiperglikemia, dari anamnese ditemukan masukan kalori
yang berlebihan, penghentian obat oral maupun insulin yang didahului
oleh stress akut. Tanda khas adalah kesadaran menurun disertai
dehidrasi berat. Pada sub kelompok ketoasidosis diabetik (KAD)

ditemukan hiperglikemia berat dengan ketosis atau asidosis. Patogesis


keduanya berbeda hanya dalam derajat defisiensi insulin.
1) Pengobatan : pemberian cairan untuk mengatasi dehidrasi terutama
pada HNK. Pemberian cepat cairan NaCl normal dengan insulin
dosis kecil akan memperbaiki keadaan.
2) Ketoasidosis Diabetik (KAD) merupakan defisiensi insulin berat
dan akut dari suatu perjalanan penyakit DM. Timbulnya KAD
merupakan ancaman kematian bagi penyandang DM. Faktor yang
mempengaruhi angka kematian tersebut antara lain terlambat
ditegakkan diagnosa karena biasanya penyandang DM dibawa
setelah koma; pasien belum tahu mengidap diabetes; sering
ditemukan bersama-sama dengan komplikasi lain yang berat,
seperti : sepsis, renjatan, infark miobard, dan CVD.
3) Pengobatan : Rehidrasi, insulin, Bikarbonas, Kalium, Antibiotika,
Pada KAD dengan infus insulin dosis rendah.
c. Hiperglikemik Non-Ketotik (HNK)
HNK ditandai dengan hiperglikemia berat non ketotik atau ketotik dan
asidosis ringan. Pada keadaan lanjut dapat mengalami koma. Koma ini
terjadi karena penurunan komposisi cairan intrasel dan ekstra
selkarena banyak diekskresi lewat urine.
1) Patogenesis : mekanisme terjadinya HNK hampir sama dengan
KAD. Pada awalnya sel beta pankreas gagal atau terhambat
mensekresi insulin adekuat oleh beberapa keadaan stres, terjadi
peningkatan hormon glukagon sehingga pembentukan gula akan
meningkat dan pemakaian gula perifer akan terhambat, yang
akhirnya akan menimbulkan hiperglikemia. Perjalanan selanjutnya
terjadi diuresis osmotik yang menyebabkan cairan dan elektrolit
tubuh berkurang, perfusi ginjal menurun dan akibatnya sekresi
hormon

lebih

meningkat

lagi

dan

timbul

hiperosmolar

hiperglikemik.
2) Pada pemeriksaan fisik ditemukan : pasien dalam keadaan apatis
sampai koma; tanda-tanda dehidrasi berat sering diikuti kelainan
neurologis, turgor kulit menurun, hipotensi postural, bibir dan lidah
kering. Gambaran laboratorium : GD . 600mg%, osmolalitas serum
350 mOsm/kg dan reaksi keton dengan nitroprusid positif lemah.

Perlu diperhatikan pula hipernatremia, hipertkalemia, azetomia,


BUN, dan kreatinin.
3) Pengobatan : Cairan NaCl, Glukosa 5%, Insulin, Kalium, (Hindari
infeksi sekunder suntikan, pemasangan infus, kateter, dll).
2. Komplikasi yang bersifat kronik
Jika kadar glukosa darahnya tetap tinggi akan dapat timbul beberapa
penyulit pada berbagai organ kulit, seperti pada :
a. Pembuluh darah otak
: Stroke
b. Pembuluh darah mata
: Kebutaan
c. Pembuluh darah jantung : Penyakit jantung koroner
d. Pembuluh darah ginjal : Penyakit ginjal kronik
e. Pembuluh darah kaki
: Luka sukar sembuh
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan
diagnosis DM ( mg/dl ).
Kadar Glukosa Darah Sewaktu (mg/dl)
Kadar Glukosa Darah Sewaktu
DM
Belum Pasti DM
Plasma vena
>200
100-200
Darah kapiler
>200
80-100
Kadar Glukosa Darah Puasa (mg/dl)
Kadar Glukosa Darah Puasa
DM
Belum Pasti DM
Plasma vena
>120
110-120
Darah kapiler
>110
90-110
2. Tes laboratorium DM
a. Tes saring
- GDP
- GDS
- Tes
Glukosa
reduksi/Benedict),

Urin:
tes

tes
carik

konvensional
celup

(metode

(metode
glucose

oxidase/hexokinase
b. Tes diagnostik
Tes-tes diagnostik pada DM adalah: .GDP, GDS, GD2 PP
(Glukosa Darah 2 Jam Post Prandial), Glukosa jam ke-2
TTGO.
c. Tes monitoring terapi
Tes-tes monitoring terapi DM adalah:
GDP : plasma vena, darah kapiler
GD2 PP : plasma vena
A1c : darah vena, darah kapiler
3. Tes untuk mendeteksi komplikasi
Tes-tes untuk mendeteksi komplikasi adalah:
Mikroalbuminuria : urin

Ureum, Kreatinin, Asam Urat


Kolesterol total : plasma vena (puasa)
Kolesterol LDL : plasma vena (puasa)
Kolesterol HDL : plasma vena (puasa)
Trigliserida : plasma vena (puasa)
G. Penatalaksanaan Medis
Diabetes Mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai
penyakit dan diperlukan kerjasama semua pihak ditingkat pelayanan
kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan berbagai usaha dan
akan diuraikan sebagai berikut :
a.

Perencanaan Makanan.
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak yang sesuai
dengan kecukupan gizi baik yaitu :
1) Karbohidrat sebanyak

60 70 %

2) Protein sebanyak

10 15 %

3) Lemak sebanyak

20 25 %

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur,


stress akut dan kegiatan jasmani. Untuk kepentingan klinik praktis,
penentuan jumlah kalori dipakai rumus Broca yaitu Barat Badan Ideal
= (TB-100)-10%, sehingga didapatkan =
1) Berat badan kurang = < 90% dari BB Ideal
2) Berat badan normal = 90-110% dari BB Ideal
3) Berat badan lebih = 110-120% dari BB Ideal
4) Gemuk = > 120% dari BB Ideal.
Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari BB Ideal dikali kelebihan
kalori basal yaitu untuk laki-laki 30 kkal/kg BB, dan wanita 25 kkal/kg
BB, kemudian ditambah untuk kebutuhan kalori aktivitas (10-30%
untuk pekerja berat). Koreksi status gizi (gemuk dikurangi, kurus
ditambah) dan kalori untuk menghadapi stress akut sesuai dengan
kebutuhan.Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi
tersebut diatas dibagi dalam beberapa porsi yaitu :

1) Makanan pagi sebanyak

20%

2) Makanan siang sebanyak

30%

3) Makanan sore sebanyak

25%

4) 2-3 porsi makanan ringan sebanyak 10-15 % diantaranya.


b. Latihan Jasmani
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama
kurang lebih 30 menit yang disesuaikan dengan kemampuan dan
kondisi penyakit penyerta.Sebagai contoh olah raga ringan adalah
berjalan kaki biasa selama 30 menit, olehraga sedang berjalan cepat
selama 20 menit dan olah raga berat jogging.
c.

Obat Hipoglikemik
1)

Sulfonilurea
Obat golongan sulfonylurea bekerja dengan cara :
a) Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan.
b) Menurunkan ambang sekresi insulin.
c) Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan
glukosa. Obat golongan ini biasanya diberikan pada pasien
dengan BB normal dan masih bisa dipakai pada pasien yang
beratnya sedikit lebih.

2)

Biguanid
Preparat yang ada dan aman dipakai yaitu metformin.
Sebagai obat tunggal dianjurkan pada pasien gemuk (imt 30) untuk
pasien yang berat lebih (imt 27-30) dapat juga dikombinasikan
dengan golongan

3)

sulfonylurea

Insulin
Indikasi pengobatan dengan insulin adalah :
a) Semua penderita DM dari setiap umur (baik IDDM maupun
NIDDM) dalam keadaan ketoasidosis atau pernah masuk
kedalam ketoasidosis.
b) DM dengan kehamilan/ DM gestasional yang tidak terkendali
dengan diet (perencanaan makanan).

c) DM yang tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglikemik oral


dosif maksimal. Dosis insulin oral atau suntikan dimulai
dengan dosis rendah dan dinaikkan perlahan lahan sesuai
dengan hasil glukosa darah pasien. Bila sulfonylurea atau
metformin telah diterima sampai dosis maksimal tetapi tidak
tercapai sasaran glukosa darah maka dianjurkan penggunaan
kombinasi sulfonylurea dan insulin.
d) Penyuluhan untuk merancanakan pengelolaan sangat penting
untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Edukator bagi pasien
diabetes yaitu pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan
dan keterampilan yang bertujuan menunjang perubahan
perilaku

untuk

meningkatkan

pemahaman

pasien

akan

penyakitnya, yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat


yang optimal. Penyesuaian keadaan psikologik kualifas hidup
yang lebih baik. Edukasi merupakan bagian integral dari
asuhan keperawatan diabetes (Bare & Suzanne, 2002).

I.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
Nama, usia (DM Tipe 1 Usia < 30 tahun. DM Tipe 2 Usia > 30 tahun,
cenderung meningkat pada usia > 65 tahun),

jenis kelamin, status,

agama, alamat, tanggal MRS, diagnosa masuk. Pendidikan dan


pekerjaan, orang dengan pendapatan tinggi cenderung mempunyai pola

hidup dan pola makan yang salah. Cenderung untuk mengkonsumsi


makanan yang banyak mengandung gula dan lemak yang berlebihan.
Penyakit ini biasanya banyak dialami oleh orang yang pekerjaannya
dengan aktivitas fisik yang sedikit.
2. Keluhan Utama
a. Kondisi hiperglikemi
Penglihatan kabur, lemas, rasa haus dan banyak kencing, dehidrasi,
suhu tubuh meningkat, sakit kepala.
b. Kondisi hipoglikemi
Tremor, perspirasi, takikardi, palpitasi, gelisah, rasa lapar, sakit
kepala, susah konsentrasi, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat,
patirasa di daerah bibir, pelo, perubahan emosional, penurunan
kesadaran.
3. Data Riwayat Kesehatan
1. Riwayat penyakit sekarang
2. Riwayat kesehatan dahulu
3. Riwayat kesehatan keluarga
4. Data subjektif dan data objektif
Adapun data yang perlu dikaji pada pasien Diabetes Mellitus adalah :
a.

Data Subyektif
Data subyektif adalah data yang dikumpulkan berdasarkan
keluhan pasien pada pasien Diabetes Mellitus. Data subyektif
yang ditemukan antara lain :
1) Pasien mengeluh lemah.
2) Pasien mengeluh kesemutan pada ekstremitasnya.
3) Pasien mengatakan nafsu makannya menurun.
4) Pasien mengeluh banyak kencing.
5) Pasien mengeluh nyeri pada bagian tubuh yang sakit.
6) Pasien meraskan oksigen.
7) Pasien mengeluh banyak makan.
8) Pasien mengeluh banyak minum.
9) Pasien mengeluh pusing.
10) Pasien mengeluh gangguan pengelihatan.

b.

Data obyektif

Data

obyektif

adalah

data

yang

diperoleh

berdasarkan

pengamatan atas kondisi pasien. Data yang dijumpai pada pasien


Diabetes Mellitus adalah :
1) Penurunan kekuatan otot
2) Takikardi
3) Kulit kering
4) Hipertensi
5) Penurunan berat badan
6) Polidipsi (sering kencing)
7) Polipagi (sering makan)
8) Polidipsi (sering minum)
9) Disorientasi
10) Batuk
11) GDS > 200 mg/dl
5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Meliputi keadaan penderita mungkin tampak lemah atau pucat.
Tingkat kesadaran apakah sadar, koma, disorientasi.
b. Tanda-tanda vital
Tekanan darah tinggi jika disertai hipertensi. Pernapasan reguler
ataukah ireguler, adanya bunyi napas tambahan, respiration rate (RR)
normal 15-20 kali/menit, pernapasan dalam atau dangkal. Denyut nadi
reguler atau ireguler, adanya takikardia, denyutan kuat atau lemah.
Suhu tubuh meningkat apabila terjadi infeksi.
c. Pemeriksaan kulit
Kulit kering, adanya ulkus di kulit, luka yang tidak kunjung sembuh.
Adanya akral dingin, CRT < 2 detik, adanya pitting edema.
d. Pemeriksaan kepala
Raut wajah : pengkajian kontak mata saat diajak berkomunikasi, fokus
atau tidak fokus. Mata : simetris mata, refleks pupil terhadap cahaya,
terdapat gangguan penglihatan apabila sudah mengalami retinopati
diabetik. Telinga : fungsi pendengaran mungkin menurun. Hidung :
adanya sekret, pernapasan cuping hidung, ketajaman saraf penghidung
menurun. Mulut : mukosa bibir kering.

e. Neuro sensori : Disorientasi, mengantuk, stupor/koma, gangguan


memori, kekacauan mental, reflek tendon menurun, aktifitas kejang.
f. Kardiovaskuler : Takikardia / nadi menurun atau tidak ada, perubahan
TD postural, hipertensi dysritmia, krekel, DVJ (GJK)
g. Pernafasan : Takipnoe pada keadaan istirahat/dengan aktifitas, sesak
nafas, batuk dengan tanpa sputum purulent dan tergantung
ada/tidaknya infeksi, panastesia/paralise otot pernafasan (jika kadar
kalium menurun tajam), RR > 24 x/menit, nafas berbau aseton.
h. Gastro intestinal : Muntah, penurunan BB, kekakuan/distensi
abdomen, aseitas, wajah meringis pada palpitasi, bising usus
lemah/menurun.
i. Eliminasi : Urine encer, pucat, kuning, poliuria, urine berkabut, bau
busuk, diare (bising usus hiper aktif).
j. Reproduksi/sexualitas : Rabbas vagina (jika terjadi infeksi),
keputihan, impotensi pada pria, dan sulit orgasme pada wanita
k. Muskuloskeletal : Tonus otot menurun, penurunan kekuatan otot,
ulkus pada kaki, reflek tendon menurun kesemuatan/rasa berat pada
tungkai.
l. Integumen : Kulit panas, kering dan kemerahan, bola mata cekung,
turgor jelek, pembesaran tiroid, demam, diaforesis (keringat banyak),
kulit rusak, lesi/ulserasi/ulkus.
6. Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
a.

Bernafas
Pasien dapat mengalami takipnoe pada keadaan istirahat/dengan
aktifitas, sesak nafas, RR > 24 x/menit.

b.
c.
d.

Makan dan minum


Pasien mengalami peningkatan napsu makan.
Eliminas
Pasien biasanya mengalami diare dan poliuria.
Aktivitas
Dalam aktivitasnya, pasien yang mengalami DM akan mengalami

e.

pembatasan dalam aktivitas untuk mengurangi resiko cidera.


Rekreasi
Pasien tetap dapat berekreasi tetapi rekreasi yang tidak menyebabkan

f.

cidera.
Istirahat dan tidur
Pasien DM akan mengalami gangguan tidur karena terganggu oleh
poliuria dan kencing pada malam hari.

g.

Kebersihan diri
Pada pasien DM diharuskan lebih menjaga dan merawat diri untuk

h.

mencegah terjadinya ulkus.


Pengaturan suhu
Pasien DM tidak mengalami perubahan suhu, kecuali bagi pasien

i.

yang mengalami komplikasi.


Rasa nyaman
Pasien akan merasa tidak nyaman terutama pada pasien yang sudah

j.

mengalami ulkus pada tubuhnya.


Rasa aman
Pasien akan merasa tidak aman dengan makanan yang dimakan dan
aktivitas

k.

yang

dilakukannya,

karena

banyak

faktor

yang

menyebabkan DM.
Belajar
Pasien akan
belajar mengenai penyakit DM agar, anggota
kelurganya yang lain tidak mengalami penyakit yang sama dengan

pasien.
Prestasi
Dapat mengetahui cara pencegahan dari penyakit DM.
m. Hubungan sosial
Pasien biasanya susah berkomunikasi terutama pada pasien yang
l.

n.

sudah mengalami gangren pada bagian tubuhnya.


Ibadah
Pasien susah untuk melaksanakan ibdahah sebagaimana mestinya

pasien beribadah.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik/biologis (penurunan
perfusi jaringan perifer)
2. Risiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan gangguan keseimbangan insulin, makanan, dan aktivitas jasmani
3. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan sistem kekebalan
tubuh
4. Defisit volume cairan berhubungan dengan diuretic osmotik
5. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
sirkulasi darah kaperifer, proses penyakit
6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan kondisi
metabolik
7. Risiko cidera
8. Kurang pengetahuan.

C. Perencanaan Keperawatan
No.
1.

Diagnosa

Tujuan (NOC)

Intervensi (NIC)

Keperawatan
Nyeri
akut NOC:
berhubungan
dengan
injuri

agen

Tingkat nyeri

Lakukan

perfusi jaringan

nyeri

termasuk

secara
lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas

Tingkat kenyamanan
Setelah

pegkajian

komprehensif

biologis Nyeri terkontrol

(penurunan
perifer)

Manajemen nyeri :

dilakukan

dan ontro presipitasi


Observasi
reaksi

nonverbal

dari

asuhan

ketidaknyamanan
keperawatan selama 2 x 24 Gunakan teknik komunikasi terapeutik
jam, klien dapat :
Mengontrol

untuk mengetahui pengalaman nyeri klien

nyeri,

sebelumnya
dengan Kontrol
ontro

indikator :
Mengenal

faktor-faktor

farmakologi
Menggunakan analgetik
Melaporkan gejala-gejala
kepada

kesehatan
Nyeri terkontrol.
Menunjukkan

yang

mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,

penyebab
Mengenal onset nyeri
Tindakan pertolongan non

nyeri

lingkungan

pencahayaan, kebisingan
Kurangi ontro presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologis/non farmakologis)
Ajarkan
teknik
non
farmakologis
(relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi

nyeri
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
tim
Evaluasi tindakan pengurang nyeri/ontrol

nyeri

Kolaborasi dengan dokter bila ada


tingkat
komplain tentang pemberian analgetik
nyeri, dengan indikator:
Melaporkan nyeri
tidak berhasil
Frekuensi nyeri
Monitor penerimaan klien tentang
Lamanya episode nyeri
manajemen nyeri.
Ekspresi nyeri; wajah
Administrasi analgetik :
Perubahan respirasi rate
Perubahan tekanan darah
Kehilangan nafsu makan
Cek program pemberian analogetik; jenis,
dosis, dan frekuensi

Cek riwayat alergi


Tentukan
analgetik

pilihan,

pemberian dan dosis optimal


Monitor TTV sebelum dan

rute
sesudah

pemberian analgetik
Berikan analgetik tepat waktu terutama
saat nyeri muncul
Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan
2.

gejala efek samping.


NIC :

Risiko gangguan NOC:


nutrisi
dari

kurang
kebutuhan

tubuh
berhubungan

fluid intake
Nutrisi status: Adequancy
of nutrient
Nutrisi status: nutrient

dengan
gangguan
keseimbangan
insulin,
makanan,

Nutrisi status: food and

dan

aktivitas jasmani

Nutrition Managemen
Kaji adanya alergi makana
Kolaborasi dengan ahli

gizi

untuk

menentukan jumlah kalori dan nutrisi

intake
Weight control

yang dibutuhkan pasien


Anjurkan pasien untuk meningkatkan

Kriteria Hasil:

intake Fe, Vitamin C dan Protein


Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan mengandung

Adanya peningkatan berat


badan

sesuai

dengan

tujuan
Berat badan ideal sesuai
dengan tinggi badan
Mampu mengidentifikasi

tinggi serat untuk mencegah konstipasi


Berikan makanan yang terpilih (sudah
dikonsultasikan dengan ahli gizi)
Ajarkan pasien bagaimana membuat
catatan makanan harian.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan

kebutuhan nutrisi
kalori
Tidak ada tanda malnutrisi
Berikan informasi tentang kebutuhan
Menunjukkan penigkatan
nutrisi
fungsi pengecapan dari
Kaji
kemampuan
pasien
untuk
menelan
mendaptakn nutrisi yang dibutuhkan.
Tidak terjadi penurunan
Nutrition Monitoring:
BB yang berarti.

BB pasien dalam batas normal


Monitor adanya penurunan BB
Monitor lingkungan selama makan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang

biasa dilakukan
Monitor interaksi anak atau orang tua
selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
selama jam makan
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, total
protein, Hb dan kadar Ht
Monitor mual dan muntah
Monitor
pucat,
kemerahan,

dan

kekeringan jaringan konjungtiva


Monitor intake nuntrisi
Catat
adanya
edema,
hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas oral
Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet.
3.

Resiko

infeksi NOC

berhubungan
dengan

NIC

Immune Status
Risk control

Infection Control (Kontrol infeksi)

ketidakadekuatan

Bersihkan lingkungan setelah dipakai

sistem kekebalan

pasien lain
Pertahankan teknik isolasi
Batasi pengunjung bila perlu
Instruksikan pada pengunjung untuk

tubuh

Kriteria Hasil :
Klien bebas dari tanda

mencuci tangan saat berkunjung dan

dan gejala infeksi


Menunjukkan
kemampuan
mencegah
infeksi
Jumlah

untuk
timbulnya

leukosit

batas normal
Menunjukkan
hidup sehat.

setelah berkunjung meninggalkan pasien


Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci
tangan
Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah

dalam

tindakan keperawatan
Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat

perilaku

pelindung
Pertahankan lingkungan aseptik selama
pemasangan alat
Ganti letak IV perifer dan line central
dan dressing sesuai dengan petunjuk
umum
Gunakan

kateter

intermiten

untuk

menurunkan infeksi kandung kencing


Tingkatkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik bila perlu.
Infection

Protection

(proteksi

terhadap

infeksi)
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik

dan lokal
Monitor hitung granulosit, WBC
Monitor kerentanan terhadap infeksi
Batasi pengunjung
Saring pengunjung terhadap penyakit

menular
Partahankan teknik aspesis pada pasien
yang beresiko
Pertahankan teknik isolasi k/p
Berikan perawatan kuliat pada area
epidema
Inspeksi kulit dan membran mukosa

terhadap kemerahan, panas, drainase


Inspeksi kondisi luka / insisi bedah
Dorong masukkan nutrisi yang cukup
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk minum

antibiotik sesuai resep


Ajarkan pasien dan keluaga tanda dan

4.

Defisit

volume NOC:

cairan
berhubungan
dengan
osmotik

diuretic

gejala infeksi
Ajarkan cara menghindari infeksi
Laporkan kecurigaan infeksi
Laporkan kultur positif
NIC :

Fluid balance
Hydration
Nutritional Status : Food

Fluid Management

and Fluid Intake


Kriteria Hasil :
Mempertahankan urine

yang akurat
Monitor status hidrasi (kelembaban

output sesuai dengan usia

Pertahankan catatan intake dan output

membran mukosa, nadi adekuat, tekanan


darah ortostatik), jika diperlukan

dan BB, BJ urine normal.


Tekanan darah, nadi,
suhu tubuh dalam batas
normal
Tidak ada tanda tanda

dehidrasi, Elastisitas
turgor kulit baik,

Monitot Vital Sign.


Kolaborasi pemberian cairan IV.
Monitor status nutrisi
Dorongmasukan oral
Berikan penggantian nasogatrik sesuai

output (50 100cc/jam)\


Pasang kateter jika perlu
Monitor intake dan urin output setiap 8
jam.

membran mukosa
lembab, tidak ada rasa
5.

Ketidakefektifan
perfusi jaringan
perifer
berhubungan
dengan

Status sirkulasi

Peripheral

Fungsi sensori kutaneus

darah -Kriteria Hasil :

kaperifer, proses
penyakit

NIC :

Perfusi jaringan: perifer

penurunan
sirkulasi

haus yang berlebihan.


NOC :

integritas

Management

(Manajemen sensasi perifer)


Monitor adanya daerah tertentu yang
hanya

peka

panas/dingin/tajam/tumpul
Monitor
adanya
paretese,

Menunjukkan
keseimbangan

Sensation

terhadap
kebas,

kesemutan, hiperestesia dan hipoestesia


cairan, Perawatan sirkulasi
jaringan
Ajarkan pasien untuk melakukan
perawatan kaki yang tepat

mencakup
Tekanan darah
Nadi perifer
Dorong latihan rentang pergrakan sendi
Turgor kulit
aktif dan pasif, terutama pada ekstremitas
Suhu, sensasi, elastisitas,
bawah
hidrasi, keutuhan, dan
ketebalan kulit
Pengisian ulang kapiler
Warna kulit
Integritas kulit
pasien
akan
mendeskripsikan

rencana

perawatan dirumah
ekstremitas bebas dari lesi
6.

Kerusakan

NOC

NIC

integritas

kulit Tissue integrity : skin and

berhubungan
dengan
perubahan

mocous
Wound healing : primary
and secondary intention

kondisi

Kriteria Hasil :

metabolik

Perfusi jaringan normal


Tidak ada tanda-tanda
infeksi
Ketebalan dan tekstur
jaringan normal
Menunjukkan pemahaman
dalam proses perbaikan
kulit dan mencegah

Pressure ulcer prevention wound care


Anjurkan pasien untuk menggunakan
pakaian yang longgar
Jaga kulit agar tetap bersih dan kering
Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
setiap dua jam sekali
Monitor kulit akan adanya kemerahan
Oleskan lotion atau minyak baby oil pada
daerah yang tertekan
Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
Monitor status nutrisi pasien
Memandikan pasien dengan sabun dan air
hangat
Observasi

luka:

lokasi,

dimensi,

kedalaman luka, jaringan nekrotik, tanda-

terjadinya cidera berulang


Menunjukkan terjadinya
proses penyembuhan luka.

tanda infeksi local, formasi traktus


Ajarkan keluarga tentang luka

dan

perawatan luka
Kolaborasi ahli gizi pemberian diet TKTP
(tinggi kalori tinggi protein)
Cegah kontaminasi feses dan urine
Lakukan teknik perawatan luka dengan
steril
Berikan posisi yang mengurangi tekanan

7.

Risiko cidera

pada luka
Hindari kerutan pada tempat tidur.
NIC

NOC
Risk kontrol
Kriteria Hasil :
Klien terbatas
cedera
Klien

Environment
dari
mampu

menjelaskan
cara/metode

Management

(Manajemen

lingkungan)
Sediakan lingkungan yang aman untuk
pasien
Identifikasi

kebutuhan

keamanan

untuk

pasien, sesuai dengan kondisi fisik dan

mencegah injury/cedera
Klien
mampu

fungsi kognitif pasien dan riwayat

menjelaskan

faktor

penyakit terdahulu pasien


Menghindarkan
lingkungan

yang

resiko

dari

lingkungan/perilaku
personal
Mampu memodifikasi
gaya

hidup

untuk

mencegah injury
Menggunakan fasilitas
kesehatan yang ada
Mampu
mengenali
perubahan

status

kesehatan.

berbahaya

(misalnya

memindahkan

perabotan)
Memasang side rail tempat tidur
Menyediakan tempat tidur

yang

nyaman dan bersih


Menempatkan saklar lampu ditempat
yang mudah dijangkau pasien
Membatasi pengunjung
Menganjurkan
keluarga

untuk

menemani pasien
Mengontrol lingkungan dari kebisingan
Memindahkan barang-barang yang
dapat membahayakan
Berikan penjelasan pada pasien dan
keluarga

atau

perubahan

pengunjung

status

adanya

kesehatan

dan

penyebab penyakit.
8.

Kurang
pengetahuan.

NOC

NIC

Knowladge

process
Knowladge

disease Teaching : disease process


health

dan

menyatakan

tingkat

keluarga

muncul pada penyakit, dengan cara yang

pemahaman

tepat
Gambarkan proses penyakit dengan cara

tentang penyakit, kondisi,


dan

pengobatan
Pasien
dan
mampu

tentang

spesifik
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa

Kriteria Hasil :

prognosis

penilaian

oengetahuan tentang proses peyakit yang

behavior

Pasien

Berikan

program

yang tepat
Identifikasi

keluarga

dengan cara yang tepat


Sediakan informasi pada pasien tentang

kemungkinan

penyebab

melaksanakan

kondisi dengan cara yang tepat


prosedur yang dijelaskan Diskusikan
pilihan
terapi
secara benar
Pasien
dan
mampu
kembali

atau

penanganan
keluarga Dukung pasien untuk mengeksplorasi
menjelaskan

apa

yang

atau mendapatkan second opinion dengan

dijelaskan

perawat/tim

kesehatan lainnya

cara yang tepat atau diindikasikan


Instruksikan pasien mengenal tanda dan
gejala untuk melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan dengan cara yang

9.

PK Hipertensi

Meminimalkan hipertensi dan


dampaknya dengan kriteria
hasil :
Sistole 100-140 mmHg
Diastole 70-100 mmHg

tepat.
Pantau dan catat TD sesuai indikasi
Kolaborasi pemberian obat anti
hipertensi
Dorong kepatuhan terapi obat dan
pembatasan diet dan cairan
Ajarkan kepada klien untuk melaporkan
tanda kelebihan cairan , sakit kepala,
edema atau kejang

DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association., 2012. Diagnosis and Classification of


Diabetes Mellitus. Diabetes Care volume 35 Supplement 1 : 64-71.
American Diabetes Association., 2013. Standards of Medical Care in Diabetes
2013. Diabetes Care Volume 36 Supplement 1 : 11-66.
Anonim. 2012. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan DM. Available at:
http://askepmedia.blogspot.com/2012/06/asuhan-keperawatan-padapasien-dengan.html. Opened on 18 Mei 2014
Hardiman, Djoko. Sutedjo, Isbianto. Salim, Indrawati. 2013. Tumbuh (Teduh
Untuk Sembuh). Jakarta: Media Komunikasi RS. Dr. Oen Surakarta.
Kurniadi, Rizki. 2013. Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus. Available at:
http://asuhankeperawatanonline.blogspot.com/2012/03/asuhankeperawatan-diabetes-melitus.html. Opened on 18 Mei 2014
Nanda NIC-NOC.2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis Edisi Revisi Jilid 1. Jakarta : ECG
Nanda NIC-NOC.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis Edisi Revisi Jilid 2. Jakarta : ECG
Perkeni. 2009. Pedoman Penatalaksanaan Kaki Diabetik. Jakarta : PB.
PERKENI
Ragil.
2012.
Kumpulan
Nanda
NIC
NOC.
Available
at:
http://dummiesboy.wordpress.com/2012/10/26/kumpulan-nanda-nic-noc/.
Opened on 18 Mei 2014