Anda di halaman 1dari 6

1.

Diagnosis pada skenario dan alasannya?


Gangguan cemas menyeluruh. Ditandai kecemasan yang tidak realistik dan
berlebihan dan kekhawatiran terhadap kejadian dalam kehidupan sehari-hari selama
setidaknya 6 bulan.
Sumber : FK UGM, 2013., The Disease : Diagnosis dan Terapi, Yogyakarta : Pustaka Cendekia
Press

2.

Bagaimana patofisiologi terjadinya manifestasi pada skenario?

Sumber : Lecture blok 20 : Psikosomatik Medicine oleh dr Ronny T.W, Sp.KJ


3.

Bagaimana patofisiologi terjadinya psikosomatik?

4.

Sumber : Lecture blok 20 : Psikosomatik Medicine oleh dr Ronny T.W, Sp.KJ


Algoritma penentuan diagnosis pada skenario?

Sumber : Direktorat Jenderal Pelayanan Medik - Yayasan Gangguan depresif Indonesia :


Anxietas dan Gangguan depresif, Modul Pelatihan Bagi Dokter Umum, Jakarta
2002
5.

Apa bedanya somatoform, malignering, dan pura-pura?


Somatoform disorder
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik
(sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis.
Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional
yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam
peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian
klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan
durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau
gangguan buatan.
PENGERTIAN DAN GEJALA
- Pain Disorder
Pada pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang mengakibatkan
ketidakmampuan secara signifikan;faktor psikologis diduga memainkan peranan penting pada

kemunculan, bertahannya dan tingkat sakit yang dirasakan. Pasien kemungkinan tidak mampu
untuk bekerja dan menjadi tergantung dengan obat pereda rasa sakit. Rasa nyeri yang timbul
dapat berhubungan dengan konflik atau stress atau dapat pula terjadi agar individu dapat
terhindar dari kegiatan yang tidak menyenangkan dan untuk mendapatkan perhatian dan
simpati yang sebelumnya tidak didapat.
Diagnosis akurat mengenai pain disorder terbilang sulit karena pengalaman subjektif
dari rasa nyeri selalu merupakan fenomena yang dipengaruhi secara psikologis, dimana rasa
nyeri itu sendiri bukanlah pengalaman sensoris yang sederhana, seperti penglihatan dan
pendengaran. Untuk itu, memutuskan apakah rasa nyeri yang dirasakan merupakan gangguan
nyeri yang tergolong gangguan somatoform, amatlah sulit. Akan tetapi dalam beberapa kasus
dapat dibedakan dengan jelas bagaimana rasa nyeri yang dialami oleh individu dengan
gangguan somatoform dengan rasa nyeri dari individu yang mengalami nyeri akibat masalah
fisik. Individu yang merasakan nyeri akibat gangguan fisik, menunjukkan lokasi rasa nyeri
yang dialaminya dengan lebih spesifik, lebih detail dalam memberikan gambaran sensoris dari
rasa nyeri yang dialaminya, dan menjelaskan situasi dimana rasa nyeri yang dirasakan menjadi
lebih sakit atau lebih berkurang
- Body Dysmorphic Disorder
Pada body dysmorphic disorder, individu diliputi dengan bayangan mengenai
kekurangan dalam penampilan fisik mereka, biasanya di bagian wajah, misalnya kerutan di
wajah, rambut pada wajah yang berlebihan, atau bentuk dan ukuran hidung. Wanita cenderung
pula fokus pada bagian kulit, pinggang, dada, dan kaki, sedangkan pria lebih cenderung
memiliki kepercayaan bahwa mereka bertubuh pendek, ukuran penisnya terlalu kecil atau
mereka memiliki terlalu banyak rambut di tubuhnya. Beberapa individu yang mengalami
gangguan ini secara kompulsif akan menghabiskan berjam-jam setiap harinya untuk
memperhatikan kekurangannya dengan berkaca di cermin. Ada pula yang menghindari cermin
agar tidak diingatkan mengenai kekurangan mereka, atau mengkamuflasekan kekurangan
mereka dengan, misalnya, mengenakan baju yang sangat longgar.
Beberapa bahkan mengurung diri di rumah untuk menghindari orang lain melihat
kekurangan yang dibayangkannya. Hal ini sangat mengganggu dan terkadang dapat mengerah
pada bunuh diri; seringnya konsultasi pada dokter bedah plastik dan beberapa individu yang
mengalami hal ini bahkan melakukan operasi sendiri pada tubuhnya. Sayangnya, operasi plastik
berperan kecil dalam menghilangkan kekhawatiran mereka. Body dysmorphic disorder muncul
kebanyakan pada wanita, biasanya dimulai pada akhir masa remaja, dan biasanya berkaitan
dengan depresi, fobia social, gangguan kepribadian. Faktor social dan budaya memainkan
peranan penting pada bagaimana seseorang merasa apakah ia menarik atau tidak, seperti pada
gangguan pola makan.
- Hypochondriasis
Hypochondriasis adalah gangguan somatoform dimana individu diliputi dengan
ketakutan memiliki penyakit yang serius dimana hal ini berlangsung berulang-ulang meskipun
dari kepastian medis menyatakan sebaliknya, bahwa ia baik-baik saja. Gangguan ini biasanya
dimulai pada awal masa remaja dan cenderung terus berlanjut. Individu yang mengalami hal ini
biasanya merupakan konsumen yang seringkali menggunakan pelayanan kesehatan; bahkan
terkadang mereka manganggap dokter mereka tidak kompeten dan tidak perhatian. Dalam teori
disebutkan bahwa mereka bersikap berlebihan pada sensasi fisik yang umum dan gangguan
kecil, seperti detak jantung yang tidak teratur, berkeringat, batuk yang kadang terjadi, rasa
sakit, sakit perut, sebagai bukti dari kepercayan mereka. Hypochondriasis seringkali muncul
bersamaan dengan gangguan kecemasan dan mood.
- Conversion disorder

Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti hilangnya penglihatan
atau kelumpuhan secara tiba-tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan rusaknya
sistem saraf, padahal organ tubuh dan sistem saraf individu tersebut baik-baik saja. Aspek
psikologis dari gejala conversion ini ditunjukkan dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini
muncul secara tiba-tiba dalam situasi yang tidak menyenangkan. Biasanya hal ini
memungkinkan individu untuk menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab atau
individu sangat ingin mendapatkan perhatian. Istilah conversion, pada dasarnya berasal dari
Freud, dimana disebutkan bahwa energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek
sensori-motor dan mengganggu fungsi normal. Untuk itu, kecemasan dan konflik psikologis
diyakini dialihkan pada gejala fisik.
Gejala conversion biasanya berkembang pada masa remaja atau awal masa dewasa,
dimana biasanya muncul setelah adanya kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup.
Prevalensi dari conversion disorder kurang dari 1 %, dan biasanya banyak dialami oleh wanita.
Conversion disorder biasanya berkaitan dengan diagnosis Axis I lainnya seperti depresi dan
penyalahgunaan zat-zat terlarang, dan dengan gangguan kepribadian, yaitu borderline dan
histrionic personality disorder.
- Somatization Disorder
Menurut DSM-IV-TR kriteria dari somatization disorder adalah memiliki sejarah dari
banyak keluhan fisik selama bertahun-tahun; memiliki 4 gejala nyeri, 2 gejala gastrointestinal,
1 gejala sexual, dan 1 gejala pseudoneurological; gejala-gejala yang timbul tidak disebabkan
oleh kondisi medis atau berlebihan dalam memberikan kondisi medis yang dialami.
Prevalensi dari somatiation disorder diperkirakan kurang dari 0.5% dari populasi Amerika,
biasanya lebih sering muncul pada wanita, khususnya wanita African American dan Hispanic
dan pada pasien yang sedang menjalani pengibatan medis. Prevalensi ini lebih tinggi pada
beberapa negara di Amerika Selatan dan di Puerto Rico. Somatizaton disorder biasanya dimulai
pada awal masa dewasa.
- Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
Kriterianya:
Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
a) Salah satu (1)atau (2)
Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi
medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera,
medikasi, obat, atau alkohol)
Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan sosial
atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
b) Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
c) Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
d) Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan
somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau
gangguan psikotik).
e) Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau
berpura-pura)
Sindrom Koro dan Sindrom Dhat
Sindrom koro itu adalah gangguan somatoform yang terkait budaya, ditemukan
terutama di Cina, dimana orang takut bahwa alat genital mereka akan mengerut. Sindrom koro

cenderung hanya muncul sebentar dan melibatkan episode kecemasan takur bahwa alat
genitalnya akan mengerut. Tanda-tanda fisiologis kecemasan yang medekati proposi panic umu
terjadi, mencakup keringat yang berlebihan , tidak dapat bernafas, dan jantung berdebar-debar.
Sindrom dhat adalah gangguan somatoform yang terkait budaya, ditemukan terutama
di antara pria Asia India, yang ditandai oleh ketakutan yang berlebih akan kehilangan air mani.
Pria dengan sindrom ini juga percaya bahwa air mani bercampur dengan urine dan dikeluarkan
saat buang air kecil. Ada keyakinan yang tertersebar luas dalam budaya India yaitu bahwa
hilangnya air mani merupakan sesuatu yang berbahaya karena mengurangi energi mental dan
fisik tubuh.
Malingering
Malingering merupakan suatu upaya penciptaan gejala yang palsu atau gejalayang
dilebih-lebihkan yang termotivasi oleh suatu tujuan yang dapat disimpulkanorang lain, seperti
perolehan obat (racun) atau ganti rugi, menghindarkan tugasmiliter atau pekerjaan.
Berdasarkan American Psychiatric Association, 1994, Malingering didefinisikan sebagai
perekayasaan berencana atas gejala-gejala gangguan fisik maupun psikologis yang didorong
oleh insentif eksternal. Insentif tersebut dapat berupa kompensasi finansial, uluran simpati, maupun
kelonggaran hukum.Disamping keluhan fisik, mereka biasanya mengelak dengan tidak
kooperatif selama pemeriksaan dan pengobatan, dan mereka menghindari prosedur
medis.Rekayasa dapat dilakukan dengan, pertama memfabrikasi suatu penyakit
yangsesungguhnya tidak ada, atau kedua, membesar-besarkan kadar keparahan penyakit lebih
daripada keadaan yang sebenarnya.
Dari penjelasan di atas sebenarnya tujuan utama adalah untuk mengenali peristiwaperistiwa berpura-pura ini, sehingga terapi yang tidak diperlukan dapatdihindarkan serta dapat
membongkar kejahatan dari para pelaku kriminal diIndonesia.
Factitious Disorders
Factitious disorders (FD) atau gangguan buatan adalah suatu kondisi dimana orang
memperlihatkan bahwa ia mempunyai penyakit fisik atau mental, yang mana sebenarnya dia
tidak benar sakit. Para penderita FD ini memperlihatkan sakitnya kepada orang-orang disekitar
mereka yang tidak memperhatikan mereka. Pada dasarnya FD ini berkaitan dengan kondisi
psikiatrik dimana individu berpura-pura dalam memerankan sakitnya yang maksudnya hanya
untuk memperlihatkan saja.
Pada gangguan buatan ini pasien secara sengaja menghasilkan tanda gangguan medis
atau mental dan salah menggambarkan (misrepresent) riwayat penyakit dan gejalanya. Tujuan
satu-satunya yang tampak dari perilaku adalah mendapatkan peranan dari seorang pasien. Bagi
kebanyakan orang, perawatan dirumah sakit sendiri merupakan tujuan utama dan sering kali
merupakan cara hidupnya. Selain itu diantara pasien dengan FD ada yang menantang memberi
suatu masalah dengan maksud untuk menyibukkan dan untuk memancing emosi seperti marah,
frustasi atau membingungkan para dokter di klinik. Pasien dengan FD ini selalu melanggar
aturan pokok yang tidak tertulis.
Menurut sejarah tahun 1951, seorang dokter klinik (Asher) mengungkapkan suatu
kasus dari seorang pasien yang bernama Baron Von Munchausen, mempunyai kebiasaan
berpindah-pindah rumah sakit satu ke rumah sakit lain, berpura-pura mengaku ada gejala-gejala
dimana mereka mengelabui berdasarkan riwayat pribadi. Asher memberikan nama Munchausen
syndrome. (2,4,6,7) Seorang dengan Sindrom Munchausen (SM) memenuhi kriteria sebagai
berikut
:
a. Banyak memperlihatkan bekas luka operasi, khususnya pada abdomen,
b. Memperlihatkan kegarangan atau sikap mengelak
c. Memberikan suatu medical history yang dramatis dan meragukan

d. Usaha menyembunyikan dokumen rumah sakit seperti formulir pemberhentian atau tagihan
asuransi.
Sumber : V. Mark Durank & Dvid H.Barlow., 2006, Psikologi Abnormal. Jilid 1 dan
2.Yogyakarta : Pustaka Pelajar
6.

Epidemologi pada skenario?


- Rasio antara laki-laki dan perempuan sebesar 1 : 2
- Onset paling sering setelah usia 20 tahun
- Sebanyak 30-50% pasien dengan gangguan cemas juga memperlihatkan gejala gangguan
depresi.
Sumber : FK UGM, 2013., The Disease : Diagnosis dan Terapi, Yogyakarta : Pustaka Cendekia
Press

7.

Kenapa depresi tdk msk pada psikosomatik?


Karena proses untuk menjadi keadaan depresi berbeda antara psikosomatik maupun
dengan kecemasan. Hal; yang dapat membedakan antara lain yaitu jumlah neurotransmiter
(misalnya serotonin,epinefrin dan norepinferin), tempat kerja dan sensitivitas dari
neurotransmiter maupun reseptornya.
Sumber : Lecture blok 20 Psicodinamyc theory in psicosomatic oleh dr Ronny T.W., Sp.KJ