Anda di halaman 1dari 23

KATARAK SENIL

I.

PENDAHULUAN
Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa. Penuaan merupakan penyebab
katarak yang terbanyak atau disebut juga katarak senil, tetapi banyak juga faktor lain
yang mungkin terlibat antara lain trauma, toksin, penyakit sistemik, merokok dan
herediter. Katarak akibat penuaan merupakan penyebab umum gangguan penglihatan.
Berbagi studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada individu berusia 65
tahun-74 tahun adalah sebanyak 50 %, prevalensi ini meningkat hingga 70 % pada
individu di atas 75 tahun.1,2
Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada
lensa

katarak

secara

karakteristik

terdapat

agregat-agregat

protein

yang

menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi transparansinya. Perubahan protein


lainnya akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat.1
Sebagian besar kasus katarak 90% merupakan katarak senil. 5 % dari semua
yang berusia 70 tahun dan 10 % yang berusia 80 tahun individu yang menderita
katarak ingin melakukan tindakan pembedahan.3
II.

ANATOMI DAN FISIOLOGI LENSA1

Gambar 1. Struktur lensa bikonveks, berada pada fossa hyaloids dan membagi mata menjadi segmen anterior dan
posterior.3

Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan hamper
transparan semuanya. Tebalnya sekotar 4 mm dan diameternya 9 mm. Lensa
tergantung pada zonula di belakang iris, zonula menghubungkannnya dengan corpus
siliaris. Di sebelah anterior lensa terdapat aqueous humour.

Enam puluh lima persen lensa terdiri atas air, sekitar tiga puluh lima
persennya mengandung protein (kandungan proteinnya tertinggi di antara jaringanjaringan tubuh). Selain itu, terdapat sedikit sekali mineral seperti yang biasa ada di
jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada kebanyakan
jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun
tereduksi.
Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah, dan atau saraf lensa.
Gambar 2.Struktur lensa.3

Struktur lensa:

a. Kapsul lensa. Struktur tipis, transparan, membrane hialin mengelilingi lensa


dimana bagian anterior lebih tebal dibanding bagian posterior. Kapsul lensa paling
tebal pada region pre-equator (14) dan paling tipis didaerah posterior (3).
b. Epitel anterior. Ini merupakan lapisan tunggal dari sel kuboid yang terdapat pada
bagian dalam kapsul anterior. Pada region ekuatorial sel ini menjadi kolumner
secara aktif membagi dan memanjang untuk membentuk serat lensa yang baru
sepanjang kehidupan. Tidak ada epitel posterior karena sel ini digunakan untuk
memenuhi kavitas rongga sentral dari vesikel lensa sepanjang perkembangan
lensa.
c. Serat lensa. Sel epitel memanjang untuk membentuk serat lensa yang memiliki
struktur bentuk yang kompleks. Serat lensa yang matur, adalah sel yang telah
kehilangan nukleusnya. Selama serat lensa dibentuk sepanjang kehidupan, ini
tersusun rapat sebagai nucleus dan korteks dari lensa.
Nukleus. Ini adalah bagian sentral yang memuat serat yang tua. Ini terdiri dari
zona- zona yang berbeda yang terletak dibawah selama proses perkembangan.
Pada penyinaran slit lamp, dapat terlihat sebagai zona yang diskontinu.

Tergantung pada periode dari perkembangan zona yang berbeda dari nucleus
lensa ini terbagi menjadi:
o Nukleus embrionik. Ini adalah bagian terdalam dari nukleus yang
berhubungan dengan lensa pada masa gestasi 3 bulan pertama .terdiri
dari serat lensa primer yang dibentuk oleh pemanjangan dari sel
dinding posterior vesikel lensa.
o Nukleus fetal. Berada disekitar nucleus embrionik dan berkaitan
dengan lensa pada 3 bulan pertama pada masa gestasi sampai dengan
kelahiran.
o Nukleus infantil. Berkaitan dengan lensa dari kelahiran sampai masa
remaja.
o Nukleus dewasa. Berhubungan dengan serat lensa yang terbentuk

setelah masa remaja sampai dengan kematian.


Korteks. Ini adalah bagian perifer yang terdiri dari serat lensa yang masih

muda.
d. Ligamentum suspensorium dari lensa (Zonula Zinni). Juga dikenal dengan nama Zonula
siliar. Terutama terdiri dari rangkaian serat yang melintas dari badan siliar ke lensa.
Menahan lensa pada posisinya dan memungkinkan muskulus siliaris untuk dapat
digunakan bergerak. Serat ini tersusun dalam 3 kelompok:
1. Serat yang berasal dari pars plana dan bagian anterior dari orra serrata. Berjalan ke
anterior untuk berinsersi pada anterior dari ekuator.
2. Serat yang berasal dari bagian anterior pada prosessus siliaris melintasi bagian
posterior untuk berinsersi dengan ekuator bagian posterior.
3. Kelompok ketiga dari serat ini melintas dari puncak prosessus siliaris secara langsung
masuk ke dalam untuk berinsersi pada ekuator
Metabolisme Lensa3
Suplai makanan dari lensa berasal dari proses difusi humor aquos. Ini
menyerupai suatu struktur jaringan dengan humor aquos sebagai substratnya dan bola
mata sebagai wadah yang menyediakan suatu suhu yang konstan. Metabolisme dan
proses biokimia yang lebih detail melibatkan proses penuaan yang kompleks dan
belum sepenuhnya dimengerti karena itu, tidak memungkinkan untuk mempengaruhi
perkembangan katarak dengan pengobatan.
Metabolisme dan pertumbuhan dari sel lensa adalah suatu pengaturandiri
sendiri (self regulating).Aktivitas metabolik terutama untuk pemeliharaan kesatuan,

transparansi dan fungsi optik dari lensa.Epitel dari lensa membantu untuk menjaga
keseimbangan ion dan membolehkan transportasi nutrisi, mineral dan air pada lensa.
Tipe transportasi ini diartikan sebagai system pump-leak yang membuat transport
aktif dari natrium, kalium, kalsium dan asam amino dari humor aquos masuk ke
dalam

lensa

sebagai

suatu

proses

difusi

pasif

sepanjang

kapsul

lensa

posterior.Pemeliharaan keseimbangan (homeostasis) adalah penting untuk kejernihan


lensa dan ini sangat berkaitan erat dengan keseimbangan cairan. Muatan air dari
lensa normalnya stabil dan

dalam keadaan seimbang dengan humor akuos

disekitarnya. Muatan air dari lensa berkurang seiring dengan perjalanan usia, dimana
isi dari protein lensa yang insoluble (albuminoid) meningkat. Lensa menjadi lebih
keras, kurang elastis, dan kurang transparan. Suatu penurunan dalam kejernihan lensa
yang berkaitan dengan usia adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari sama halnya
dengan pengerutan kulit dan rambut putih. Gambaran klinik dari penurunan
kejernihan muncul pada 95 % dari seluruh orang. Diatas umur 65 tahun. Porsi bagian
tengah atau nukleus dari lensa menjadi sklerosis dan sedikit kekuningan seiring
dengan perjalanan usia.

III.

ETIOLOGI4
Katarak senil terutama karena suatu proses penuaan meskipun etipatogenesisnya
belum jelas, berbagai faktor yang dapat menyebabkannya
1. Herediter. ini memainkan peranan dalam insiden onset usia dan maturasi dari
katarak senil dalam berbagai famili yang berbeda.
2. Radiasi ultraviolet. Banyaknya paparan dari radiasi UV yang berasal dari matahari
telah menyebabkan onset dini dan maturasi dari katarak senil dalam banyak studi
epidemiologi
3. Faktor diet. Kurangnya asupan protein, asam amino, vitamin (ribovlafin, Vit E,
Vit C) dan elemen esensial juga berperan pada onset dini dan maturasi katarak
senil.
4. Dehidrasi. Adanya keterkaitan dengan episode awal dari krisis dehidrasi yang
berat (karena diare, kolera, dan sebagainya) dan onset usia dan maturasi katarak
memberikan pengaruh.

5. Merokok. Merokok juga telah dilaporkan memberikan efek

pada onset usia

katarak senil. Merokok menyebabkan akumulasi dari molekul berpigmen -3


hydroxykynurine dan Chromophores, yang menyebabkan kekuningan.Cyanates
dalam rokok menyebabkan carbamylation dan denaturasi protein.
IV.

PATOGENESIS4
Mekanisme dari hilangnya kejernihan lensa. Pada dasarnya, berbeda antara
katarak senil nuklear dan katarak senil kortikal.
1. Katarak senil kortikal. Gambaran biokimia utamanya adalah penurunan kadar
protein total dan asam amino, dan kalium yang terkait dengan peningkatan kadar
Natrium dan proses hidrasi dari lensa, yang diikuti dengan koagulasi dari protein.
2. Katarak senil nuklear. Dalam perubahan degeneratif yang sering terjai pada
katarak senil nuklear adalah intensifikasi dari sklerosis nuklear yang terkait
dengan usia yang dihubungkan dengan dehidrasi dan pemadatan dari nukleus
sehingga menyebabkan katarak yang keras (hard katarak). Ini disertai dengan
peningkatan yang bermakna pada protein yang tidak larut air. Bagaimanapun, isi
dari protein total dan distribusi kation-kation tetap normal. Hal ini berkaitan atau
tidak dengan deposisi pigmen urokrom dan atau melanin yang berasal dari asam
amino pada lensa.
Seiring dengan pertambahan usia (senil) katarak)

Penurunan fungsi mekanisme pompa transport aktif


Penurunan
dari lensa
reaksi oksidasi

Rasio Natrium/Kalsium terbalik Penurunan kadar asam amino

Hidrasi dari serat lensa


Penurunan serat sintesis dalam serat lensa

Denaturasi protein lensa

Kekeruhan dari serat kortikal lensa

Gambar. 3. Bagan yang menggambarkan kemungkinan penyebab dari terjadinya katarak senil kortikal. 4

V.

KLASIFIKASI
Klasifikasi

berdasarkan

maturitas

disertai

dengan

derajat

gangguan

penglihatan (visus) penting untuk didiagnosis lebih awal untuk menentukan waktu
pembedahan. Klasifikasi morfologik seperti kekerasan dan penebalan dari nukleus
sekarang berpengaruh pada prosedur pembedahan.3
Katarak dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yang berbeda.3
1. Waktu terjadinya (katarak didapat atau katarak congenital)
2. Maturitas atau kematangan.
3. Morfologi.
Klasifikasi berdasarkan maturitas disertai dengan derajat gangguan penglihatan
(visus) penting untuk didiagnosis lebih awal untuk menentukan waktu pembedahan.
Klasifikasi morfologik seperti kekerasan dan penebalan dari nukleus sekarang
berpengaruh pada prosedur pembedahan.3
Tabel 1. Klasifikasi katarak berdasarkan waktu terjadinya3

Klasifikasi katarak berdasarkan maturitas4


Katarak insipien. Dalam stadium ini, dapat ditemukan kekeruhan dengan area
yang jernih diantara dari kekeruhan tersebut.Dua perbedaan pada katarak kortikal
senil dapat dikenali pada stadium ini.4
a. Katarak kortikal senil kuneiform. Dikarakteristikkan dengan kekeruhan
wedgeshaped dengan area yang jernih diantaranya. Pemeriksaan iluminasi
oblik dapat ditemukan suatu gambaran tipikal seperti radial spok dengan
kekeruhan putih keabu-abuan.4
b. Katarak kortikal senil kupuliform. Gambaran

kekeruhan berupa cawan.

Berkembang pada bawah kapsul biasanya pada bagian sentral dari korteks

posterior dan kadang-kadang meluas ke bagian luar.4


Katarak imatur. Katarak imatur adalah katarak yang terjadi dimana kekeruhannya
hanya sebagian. Pada stadium ini, kekeruhan berlangsung progresif.Lensanya
tampak putih keabu-abuan tetapi korteks tetap ada, sehingga iris shadow dapat
terlihat.4
Gambar 4: kiri:katarak senil imatur,kanan: deskripsi katarak senil imatur4

Katarak matur. Katarak matur adalah suatu keadaan dimana kekeruhan lensa
sudah sempurna atau lengkap. Pada stadium ini warna lensa menjadi lebih putih
mengkilat.4
Gambar 5 : Katarak matur4

Katarak hipermatur. Pada katarak hipermatur, kapsul anterior mengkerut karena

kebocoran air keluar dari lensa. Katarak hipermatur dapat terjadi dalam dua
bentuk:4,5

a)

Katarak hipermatur morgagni. Pada beberapa pasien, setelah terjadi


maturitas keseluruhan korteks mencair dan lensa berubah menjadi kantong

b)

berisi cairan seperti susu.4


Katarak hipermatur tipe sklerotik. Kadang-kadang setelah maturitas
terjadi, korteks menjadi terpisah dan lensa menjadi mengkerut karena
bocornya air. Kapsul anterior mengkerut dan mengeras karena proliferasi
dari sel anterior dan suatu kapsul katarak yang berdensitas putih akan
terbentuk pada daerah pupil. Karena mengkerutnya lensa, bilik mata depan
menjadi dalam dan bergetar ( iridodonesis).4
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa sehingga korteks lensa
mencair dan dapat keluar melalui kapsul lensa. Lensa mengeriput dan
berwarna kuning.Akibat pengeriputan lensa dan mencairnya korteks
nukleus lensa tenggelam ke arah bawah (katarak morgagni). Lensa yang
mengecil akan mengakibatkan bilik mata menjadi dalam. Shadow test
memberikan gambaran pseudopositif. Akibat massa lensa yang keluar
melalui kapsul lensa dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik atau
glaukom fakolitik.4

Gambar 6: kiri: Katarak hipermatur, kanan: deskripsi katarak hipermatur4

Klasifikasi katarak berdasarkan morfologi3


1. Katarak nuklear. Dalam dekade ke empat kehidupan tekanan dari produksi serat-serat
lensa perifer menyebabkan pengerasan dari keseluruhan lensa, terutama pada nukleus.
Nukleus membuat warna coklat kekuningan ( katarak nuklear brunescent). Warnanya
akan berkisar dari coklat kemerahan mendekati kehitaman pada keseluruhan lensa
( black katarak). Karena mereka meningkatkan kekuatan refraktif dari lensa. Katarak
nuklear menyebabkan, miop lentikuler dan kadang-kadang menghasilkan suatu titik
fokus ke dua. Pada lensa yang akan menyebabkan diplopia monokuler. Katarak

nuklear berkembang perlahan-lahan. Karena miop lentikuler, penglihatan dekat


(bahkan tanpa kacamata) tetap baik dalam jangka panjang.3
Gambar 7. Katarak nuklear.3

2. Katarak kortikal. Katarak kortikal sering berkaitan dengan perubahan korteks lensa.
Ini menarik untuk dicatat bahwa pasien dengan katarak kortikal cenderung untuk
mendapatkan hiperopia didapat jikadibandingkan dengan pasien katarak nuklear yang
cenderung untuk miop.Mengingat perubahan pada katarak nuklear adalah pengerasan,
perubahan pada katarak kortikalmempunyai karakteristik peningkatan kandungan
air.Beberapa perubahan morfologi akan tampak selama pemeriksaan slit lamp dengan
midriasis maksimum:3
a. Vakuola: akumulasi cairan akan terlihat dalam bentuk vesikel kortikal sempit
dan kecil. Vakuolanya tetap kecil dan bertambah jumlahnya.
b. Water fissures: gambaran radial dari cairan yang mengisi celah terlihat
diantara serat lensa.
c. Pemisahan dari lamellar. Tidak sesering dengan celah air, ini terdiri dari
sebuah zona cairan diantara lamella (sering antara lamella bersih dan serat
kortikal).
d. Katark cuneiform. Ini sering ditemukan dalam opasitas yang menyebar dari
perifer lensa seperti jari-jari roda.
Gambar 8. Kiri :Katarak kortikal sentral. Kanan: Katarak kortikal perifer2

3. Katarak subkapsular posterior. Ini adalah bentuk khusus dari katarak kortikal yang
bermula dari aksis visual.Bermula sebagai kelompok kecil dari opasitis granular.
Bentuk katarak ini menyebar ke perifer dalam bentuk cakram. Peningkatan opasitas
ini melibatkan nukleus dan korteks.Perkembangannya sangat cepat dan memperberat
ketajaman visual. Penglihatan jarak jauh memburuk secara signifikan berbanding
penglihatan jarak dekat (bidang dekat-miosis). Penggunaan obat tetes untuk
melebarkan pupil dapat meningkatkan ketajaman visual.3
VI.

GEJALA KLINIS
Gejala subjektif
Kekeruhan dari lensa dapat hadir tanpa menyebabkan berbagai gejala, dan dapat
ditemukan dalam pemeriksaan mata rutin.Gejala umum dari katarak adalah:4
1.
Silau. Satu dari gejala awal gangguan penglihatan pada katarak adalah silau
( glare), seperti sinar langsung dari matahari atau cahaya sepeda motor yang
datang menyinari. Tingkat dari silau akan bervariasi sesuai dengan lokasi dan
2.

ukuran dari kekeruhannya.


Uniocular poliopia (penglihatan ganda dari suatu objek). Ini sering merupakan
salah satu gejala awal. Ini terjadi karena refraksi irregular oleh lensa yang

3.

menyebabkan berbagai indeks refraktif sebagai suatu proses dari katarak.


Lingkaran cahaya yang berwarna (Coloured halos). Ini akan dirasakan oleh
beberapa pasien yang memberikan kerusakan sinar putih dalam spectrum warna

4.

5.

karena adanya tetesan air dalam lensa.


Titik hitam pada bagian depan mata. Titik hitam yang menetap akan dirasakan
oleh beberapa pasien.
Gambar kabur. Distorsi dari gambar dan penglihatan berkabut akan terjadi pada
stadium awal dari katarak.

6.

Kehilangan penglihatan. Penurunan penglihatan karena katarak senile mempunyai


beberapa gambaran khusus. Ini tidak sakit dan berangsur progresif. Pasien dengan
kekeruhan sentral (katarak cupuliform) mempunyai kehilangan penglihatan yang
lebih awal. Pasien ini melihat lebih baik ketika pupil melebar, ini karena biasanya
pada malam hari cahaya menjadi suram (buta siang). Pasien dengan kekeruhan
pada perifer (katarak cuneiform) mengalami kehilangan penglihatan yang
terlambat dan penglihatan meningkat jika cahaya terang ketika pupil
dikontraksikan. Pada pasien dengan sklerosis nuclear penglihatan jauh terganggu
karena miop indeks yang progresif seperti pasien dapat membaca tanpa kacamata
presbiopi. Peningkatan dalam penglihatan dekat, dimaknai sebagai second sight
karena perkembangan kekeruhan. Penglihatan akan berkurang sampai hanya
dapat mempersepsikan cahaya dan proyeksi akurat dari sinar merupakan stadium

dari katarak matur.


Gejala objektif
Beberapa pemeriksan harus dilakukan untuk melihat berbagai tanda dari katarak:4
a. Pemeriksaan visus. Bergantung pada lokasi dan maturasi dari
katarak.ketajaman penglihatan berkisar 6/9 sampai persepsi cahaya.
b. Pemeriksaan iluminasi oblik. Ini menampakan warna dari lensa dalam
area pupil yang bervariasi dalam tipe katarak yang berbeda.
c. Pemeriksaan iris shadow. Ketika cahaya oblik menyinari pupil,
bayangan crescentric dari batas pupil dari iris akan membentuk
kekeruhan keabu-abuan dari lensa, sepanjang korteks bersih (clear
korteks) tampak antara kekeruhan dan batas pupil. Ketika lensa menjadi
lebih transparan atau keruh sempurna, tidak ada iris shadow yang
terbentuk oleh karena itu adanya iris shadow tanda dari katarak imatur.
d. Pemeriksaan oftalmoskopi direk. Cahaya fundus yang kuning
kemerahan di observasi dalam tidak adanya kekeruhan dalam
media.Lensa

katarak parsial menunjukkan bayangan hitam yang

berlawanan dengan cahaya merah

pada daerah katarak.Lensa katarak

yang lengkap tidak menunjukkan cahaya merah.


e. Slit lamp. Pemeriksaan ini harus dilakukan pada pupil yang berdilatasi
sempurna. Pemeriksaan menunjukkan morfologi lengkap dari kekeruhan
(tempat, ukuran, bentuk, warna, dan kekerasan nukleus).

Gambar 9.Iris shadow. A.katarak immature, B. Katarak matur


Tabel 2. Tanda dari katarak senil4

1
2

3
4

Pemeriksaan
Visus
Warna lensa coklat,

ISC
6/9 ke FC+
Putih ke abu-

MSC
HM+ ke LP +
Putih
bercahaya

HMSC (M)
LP +
Putih
seperti

hitam atau merah

abuan

dengan

susu

Iris shadow
Ophtalmoskopi

Terlihat
Area

gelap

yang kecoklatan
Tidak terlihat
Tidak ada cahaya

Tidak terlihat
Tidak
ada

Tidak terlihat
Tidak
ada

langsung

multipel

di

merah tetapi pupil

cahaya

cahaya merah

dan

sentral

Slit lamp

nukleus

merah

putih karena katarak

dan pupil yang

cahaya merah di

sempurna

putih

seperti

fundus
area

Korteks

susu
Putih

seperti

normal

dengan katarak

sempurna

katarak

susu

dan

HMSC (S)
LP +
Putih kotor

Lensa

katarak

yang mengkerut

nukleus

dengan

kecoklatan

penebalan
kapsul anterior

ISC: Immature senile cataract, MSC: Mature senile cataract, HMSC (M) Hypermature senile cataract (Morgagnian),
HMSC (S): Hypermature senile cataract (Sclerotic), PL: Perception of light, HM: Hand movements, FC: Finger
counting.4

Derajat kekerasan nukleus pada lensa yang katarak adalah penting untuk
mengatur parameter dari mesin pada ekstraksi katarak tekhnik phacoemulsification.
Kekerasan dari nucleus bergantung pada warnanya dalam pemeriksaan slit lamp dapat
diklasifikasikan pada tabel dibawah:4
Tabel 4: Derajat dari kekerasan nukleus pada biomikroskop slit lamp 4

Derajat kekerasan

Deskripsi kekerasan

Warna nucleus

Grade 1
Garde 2

Lunak
Lunak, sedang

Putih atau kuning kehijauan


Kekuningan

Grade 3
Grade 4
Grade 5

Selain

Sedang keras
Keras
Sangat keras

itu,

sekarang

lebih

Amber
Kecoklatan
Kehitaman

cenderung

menggunakan

Lens

Opacities

ClassificationSystem (LOCS) dimana lensa dinilai dari warna nuclear (NC) dan
opasitas nuclear (NO), katarak kortikal, dan katarak subkapsular posterior (P).5
Gambar 10..Lens Opacities Classification System (LOCS) III transparancies.5

Klasifikasi katarak berdasarkan maturitas dari katarak, tingkat kekeruhan atau


perkembangan tidak cukup dalam epidemiologi katarak atau terapeutik studi.Sistem
Klasifikasi Kekeruhan Lensa III (LOCS III) adalah sistem standar yang digunakan
untuk grading dan perbandingan keparahan katarak dan type1-2. Itu berasal dari
LOCS II classification 3, dan itu terdiri dari tiga set foto standar (Gambar).
Klasifikasi ini mengevaluasi empat fitur: opalescence nuklear (NO) warna nuklear
(NC), katarak kortikal (C), katarak posterior subcapsular (P). Nuclear opalesecence
(NO) dan warna nuklir (NC) yang dinilai pada skala desimal 0,1 sampai 6,9,
didasarkan pada seperangkat enam foto standar. Katarak kortikal (C) dan posterior
subcapsular cataract (P) yang dinilai pada skala desimal dari 0,1 sampai 5,9,
berdasarkan satu set lima foto standar masing-masing. Tidak seperti klasifikasi LOCS
II, klasifikasi LOCS III mempersempit skala interval, memungkinkan perubahan kecil
dalam keparahan katarak untuk diamati. Batas toleransi 95% untuk reproduktifitas
dalam-kelas dan antara-kelas juga menyempit dalam klasifikasi LOCS III.5

VII.

TERAPI
Tidak ada obat-obatan yang efektif terhadap penanganan katarak. Penaganannya
adalah dengan pembedahan.5
Indikasi untuk operasi katarak
Apakah dengan operasi atau tidak terutama bergantung pada efek katarak pada
penglihatan pasien.Beberapa tahun yang lalu, dokter bedah menunggu sampai katarak
menjadi matur atau matang (ketika isinya menjadi cair) karena ini membuat aspirasi
dari isi lensa menjadi lebih mudah. Dengan kemajuan dalam mikro surgery sekarang
tidak lagi menunggu lama untuk katarak menjadi matur dan pembedahan katarak
dapat dilaksanakan pada berbagai stadium dengan resiko yang minimal.5
1. Meningkatkan ketajaman penglihatan
Adalah indikasi yang paling sering untuk operasi katarak, walaupun kebutuhan
dari orang ke orang berbeda. Operasi di indikasikan hanya jika dan ketika katarak
berkembang ke level yang cukup untuk menyebabkan kesulitan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari.
2. Indikasi medis
Adalah suatu keadaan dimana katarak menyebabkan gangguan kesehatan yang
merugikan pada mata.Contohnya glaukoma fakolitik atau glaukoma fakomorfik.
Operasi katarak untuk meningkatkan kejernihan dari media penglihatan yang
dibutuhkan dalam konteks proses patologi pada fundus (contoh: retinopati
diabetik) yang membutuhkan pengawasan atau penanganan dengan laser
fotokuagulasi.
3. Indikasi kosmetik.
Jarang dilakukan, seperti ketika katarak dalam keadaan matur. Dimana kebutaan
dihilangkan untuk mengembalikan pupil yang hitam

Tipe dan pilihan teknik pembedahan4


1. Intracapsular Cataract Extraction (ICCE) merupakan teknik pembedahan
dengan cara mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Dapat dilakukan pada
zonula zinni yang telah rapuh atau berdegenerasi dan mudah putus. Karena alasan
tersebut, teknik ini tidak dapat digunakan untuk pasien yang lebih muda dimana
zonula kuat. ICCE dapat dilakukan antara usia 40-50 tahun dengan menggunakan
enzim alpha-chymotripsyn (yang akan menguraikan Zonula).ICCE telah dilakukan
pengetesan dari waktu ke waktu dan telah dilakkan secara umum sekitar 50 tahun

yang lalu diseluruh dunia. Saat ini indikasinya hanyalah untuk subluksasi dislokasi
lensa.4

Gambar 11.Teknik operasi ICCE + implantasi IOL pada bilik mata depan.A. Jahitan pada muskulus rektus
superior; B. Flap konjungtiva; C. Membuat alur; D. Memotong bagian kornea-skleral; E. Iridektomi peripheral; F.
Ekstraksi kriolens;G&H. insersi IOL Kelman multiflex pada bilik mata depan; I. Jahit kornea-skleral. 4
2.

Ekstra Capsular Cataract Extraction (ECCE) Pengeluaran isi lensa (epithelium,


korteks dan nukleus) melalui kapsul anterior yang dirobek (kapsulotomi anterior)
dengan meninggalkan kapsul posterior. Indikasi saat ini tekhnik ECCE adalah
pilihan operasi untuk semua tipe dari dewasa sampai anak-anak kecuali ada kontra
indikasi. Kontra indikasi absolut untuk ECCE adalah subluksasi dan dislokasi lensa
yang nyata.3

Gambar 12.Teknik operasi ECCE + implantasi IOL pada bilik mata belakang.A. Kapsulotomi anterior dengan teknik
Can-opener; B. Pengeluaran kapsul anterior; C. Memotong bagian kornea-skleral; D. Pengeluaran
nukleus (metode pressure and counter-pressure); E. Aspirasi korteks; F. Insersi inferior haptic IOL
pada bilik mata belakang; G. Insersi PCIOL superior haptic; H. Putar IOL; I. Jahit kornea-skleral. 4

3. Small Incision Cataract Surgery (SICS) adalah modifikasi dari ekstraksi katarak
ekstrakapsular merupakan salah satu teknik pilihan yang dipakai dalam operasi
katarak dengan penanaman lensa intraokuler.4

Gambar 13: Teknik operasi SICS.A. Jahit muskulus rectus superior; B. Flap konjungtiva dan buka sclera; C,D&E.
Insisi sclera eksterna dan membuat insisi terowong; F. terowong sclerakornea dengan pisau
berbentuk bulan sabit; G. Insisi kornea interna; H. Side port entry; I. CCC besar; J.
Hydrodissection; K. Prolapsus nukleus pada bilik mata depan; L. Irigasi nukleus dengan wire
vectis; M. Aspirasi korteks; N. Insersi inferior haptic IOL pada bilik mata depan; O. Insersi
superior haptic PCIOL; P. Putar IOL; Q. Reposisi dan konjungtival flap.4

4. Phaco Emulsification Fakoemulsifikasi adalah tekhnik ekstraksi katarak ekstra


kapsular yang paling sering digunakan. Tekhnik ini menggunakan fibrator ultrasonik
genggam untuk menghancurkan nukleus yang keras hingga substansi nukleus dan
korteks dapat diaspirasi melalui suatu insisi berukuran sekitar 3 mm. ukuran insisi
tersebut cukup untuk memasukkan lensa intraokuler yang dapat dilihat. Jika
digunakan lensa intraokuler yang kaku, insisi perlu dilebarkan sekitar 5 mm.

keuntungan yang dapat diperoleh dari tindakan bedah insisi kecil adalah kondisi
intraoperasi lebih terkendali , menghindari penjahitan, perbaikan luka lebih cepat
dengan derajat distorsi kornea lebih rendah dan mengurangi peradangan intra okuler
pasca operasi.

Gambar 14.Teknik operasi fakoemulsifikasi. A.Membuat kurvalinier capsulirhexis; B. Lakukan hidrodiseksi; C.


Hidrodelineasi; D&E. Emulsifikasi nukleus menggunakan alat dan teknik conquer (menghancurkan 4
kuadran); F. Aspirasi korteks.4
Gambar 15. Fakoemulsifikasi menggunakan getaran ultrasonik melalui insisi 2-3 mm. 5

Implantasi Lensa Intra Okuler


Saat ini implantasi intraocular adalah metode pilihan untuk mengoreksi afakia. Tipe
utama dari lensa intra okuler dibagi berdasarkan metode fiksasi pada mata.4
1. Lensa intra okuler bilik mata depan (anterior chamber IOL). Lensa ini terdapat
didalam bagian depan iris dan dipertahankan oleh sudut bilik mata depan.
Anterior chamber IOL (AC IOL) dapat dimasukkan setelah ECCE atau ICCE.
2. Lensa iris-supperted. Lensa ini cocok digunakan pada iris dengan bantuan jahitan,
loop atau claw. Lensa ini jarang digunakan karena insiden komplikasi post
operatif yang tinggi.

3. Lensa intra okuler bilik mata belakang (Posterior Chamber IOL) dimasukkan
dibelakang iris. Lesa ini dipertahankan oleh sulcus siliaris atau pada bagian dari
kapsul.
Gambar 18. Jenis-jenis IOL: A, Kelman multiflex (IOL bilik mata depan); B, Singh & Worsts iris claw; C, IOL bilik

mata belakang Modified C-loop type).4

VIII. KOMPLIKASI
Komplikasi dari katarak
Fakoanafilaktik uveitis. Katarak hipermatur boleh menyebabkan kebocoran
protein lensa ke dalam bilik anterior. Protein ini boleh bertindak sebagai antigen

dan induce reaksi antigen-antibodi yang seterusnya menyebabkan uveitis.4


Glaukoma lens-induced. Boleh terjadi disebabkan oleh mekanisme yang
berbeda.4

Katarak imatur (lensa intumescent) Glaukoma fakomorfik. Lensa menerima


cairan yang agak banyak selama perubahan kataraktous, menyebabkan pertambahan
ukuran. Ini mengganggu bilik anterior, menimbulkan pupillary block dan sudut padat
yang menyebabkan sudut tertutup akut. Terapi adalah ekstraksi lensa bila tekanan
intraokular sudah terkendali secara medis.
Katarak hipermatur Glaukoma fakolitik. Beberapa katarak yang telah lanjut
boleh menyebabkan kebocoran pada kapsul lensa anterior yang membolehkan protein
lensa yang mencair masuk ke bilik anterior. Ini akan menimbulkan reaksi inflamasi di
bilik anterior, trabekular meshwork udem dan obstruksi protein lensa yang seterusnya
menyebabkan kenaikan yang akut pada tekanan intraokular. Ekstraksi lensa adalah
terapi definitif setelah tekanan intraokular sudah ditangani secara teratur dan terapi
intensif steroid topikal sudah menurunkankan inflamasi intraokular.
Subluksasi atau dislokasi lensa. Ini boleh terjadi disebabkan oleh degenerasi
zonules pada stadium hipermatur.4
Komplikasi dari operasi katarak4,6

Lebih dari 200.000 operasi katarak dilakukan setiap tahunnya di Inggris, dan
meskipun teknik operasi modern memiliki tingkat keamanan yang diharapkan
komplikasi masih terjadi. Harapan pasien untuk operasi katarak sangat tinggi. Semua
pasien harus diingatkan untuk kemungkinan resiko pembedahan sebelum diberikan
persetujuan untuk operasi. Komplikasi katarak dapat dibagi menjadi komplikasi
intraoperatif, early post operatif, dan late post operatif.6
1.

Komplikasi Intraoperatif :
Perdarahan suprakoroid.

Perdarahan

intraoperatif

yang

berat

dapat

menyebabkan penurunan penglihatan yang serius dan permanen.6


Perforasi okuli. Jarum yang tajam digunakan untuk berbagai bentuk anestesi
intraokuler, dan perforasi bola mata sangat kecil kemungkinannya. Bentuk

modern dari anestesi okuler telah menggantikan banyak teknik jarum tajam.5
Iridodialisis. Iridodialisis adalah satu keadaan dimana iris robek yang
diakibatkan oleh manipulasi jaringan intraokuler. Kerusakan pada iris

diakibatkan oleh insersi dari phaco tip atau IOL.


Cyclodialisis. Satu keadaan dimana korpus siliaris lepas dari insersinya pada
sklera yang juga diakibatkan oleh manipulasi bedah pada jaringan tisu

intraokuler.
Conjungtival Ballooning. Terjadi pada kasus operasi yang menggunakan
teknik insisi pada konjuktiva atau peritomi, dimana cairan irigasi dapat
berkumpul di bawah konjuktiva dan kapsula Tenon dan mengakibatkan
konjuktiva membengkak. Keadaan ini akan menganggu operasi karena cairan
yang terkumpul akan menghasilkan refleksi dari cahaya mikroskop yang akan

menganggu operator.
Ablasio membran Descement.

Keadaan

ini

akan

mengakibatkan

pembengkakan pada stromal. Komplikasi ini diakibatkan apabila instrumen


atau IOL dimasukkan dan dapat juga diakibatkan oleh cairan irigasi yang

dimasukkan dekat lapisan stromal kornea dan membran descement.


Ruptur kapsul posterior dan hilangnya cairan vitreus. Jika kapsul yang lembut
rusak selama pembedahan atau ligament yang halus (Zonula) yang menahan
lensa menjadi lemah, kemudian cairan vitreus akan prolaps ke bilik mata
depan. Komplikasi ini berarti bahwa lensa intraokuler tidak dapat dimasukkan

dalam pembedahan, pasien juga dalam resiko tinggi ablasio retina post
operatif.
2. Komlikasi early post operatif :
Endophtalmitis infeksi. Infeksi yang merusak ini terjadi sangat jarang ( sekitar
1 dalam 1000 operasi) tapi dapat menyebabkan penurunan penglihatan berat
yang permanen. Banyak kasus infeksi post operatif timbul dalam 2 minggu
post operasi biasanya pasien datang dengan riwayat penurunan penglihatan
dan mata merah yang sangat nyeri. Ini adalah kegawatdaruratan mata. Infeksi
derajat

rendah

dengan

pathogen

seperti

Propioniobacterium

dapat

menyebabkan pasien datang dalam beberapa minggu setelah operasi dengan

uveitis refraktori.
Edema kornea. Komplikasi ini terjadi akibat kombinasi dari trauma

mekanikal, operasi yang lama, inflamasi, dan peningkatan IOP.


Uveitis. Peradangan post operatif lebih sering terjadi dalam berbagai tipe
mata. Sebagai contoh pada pasien dengan riwayat diabetes atau penyakit

radang mata sebelumnya.


3. Komplikasi late post operatif :
Ablasio retina. Ini adalah komplikasi post operatif yang serius dan jarang
terjadi, tetapi lebih sering terjadi pada pasien miop setelah komplikasi intra

operatif.
Kesalahan refraktif setelah operatif.

Banyak operasi bertujuan untuk

membuat pasien menjadi emetrop atau sedikit miop, tetapi pada kasus yang
jarang kesalahan biometrik dapat terjadi atau suatu lensa intraokuler dengan

kekuatan yang salah digunakan.


Edema makular cystoids. Akumulasi cairan pada macula selama post operatif
dapat menurunkan visus pada minggu-minggu pertama setelah operasi katarak
berhasil dilakukan. Pada banyak kasus, ini dapat diobati dengan penanganan

radang post operasi.


Glaukoma. Peningkatan

tekanan

intraokuler

membutuhkan penanganan post operatif.

IX.

PROGNOSIS

secara

persisten

akan

Pasien telah terjadi kerusakan retina atau mengalami komplikasi pascaoperasi


serius tidak dapat mencegah perbaikan visual yang signifikan, misalnya, glaukoma,
ablasi retina, perdarahan intraokular, atau infeksi. Lensa intraocular yang telah dibuat
untuk penyesuaian setelah operasi katarak jauh lebih mudah daripada kacamata
katarak yang tebal atau lensa kontak aphakia yang tersedia.1
Dengan teknik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi sangat
jarang. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%. Pada bedah katarak, resiko
ini kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan dengan
ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat
meningkat hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan Snellen Chart.6

DAFTAR PUSTAKA

1. Riordan P, Witcher J.In: Vaughan & Asburys General Ophtalmology Edisi 17.
London:2008.p 169-177
2. Ming, Arthur. Color atlas of Opthalmology. Third edition. World science;2001.p. 51-59
3. Lang G. Lens. In Ophthalmology: A Pocket Text Book Atlas.Second edition. Thieme
Stuttgart : Germany. 2006. p177-185
4. Khurana AK, editor. Comprehensive Ophthalmology. In: Diseases of the lens. 4th Edition.
New Delhi: New Age International; 2007.p.167-201.
5. Chylack L.T, Wolfe J.K, Singer D.M dkk, The Lens Opacities Classifications System III,
Archives of Ophthalmology, Vol 111, Juni, 1993.p. 831-836
6. Khalilullah, Said. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak Senilis. Desember 2010
[cited 27 July 2013]. Available : padmanaba.web.id/file/patologi-pada-katarak1.pdf