Anda di halaman 1dari 3

EPIDEMIOLOGI, FAKTOR RISIKO, DAN OUTCOME

Delirium mempunyai prevalensi yang tinggi yaitu berisiko terjadi pada 10 - 15 % pasien
bedah umum, 25 45 % pasien kanker yang rawat inap, dan 80 90 % pada pasien stadium
akhir yang melakukan terapi paliatif. Insidensi delirium menjadi lebih tinggi pada pasien yang
dirawat di ICU. Lebih dari 80% pasien ICU yang mendapat ventilasi mekanik juga berisiko
mengalami delirium.
Faktor-faktor yang dapat dimodifikasi penting untuk diidentifikasi lebih lanjut sebagai
pencegahan dan manajemen yang tepat pada kasus delirium. Faktor risiko seperti usia tua,
gangguan kognitif dasar, riwayat penyakit medis, serta penggunaan obat-obatan dapat
memprediksi perkembangan delirium pada seseorang. Pasien bedah, terutama pasien yang akan
melakukan total joint replacement dan bypass pada pasien jantung mempunyai risiko yang lebih
tinggi untuk mengalami delirium. Selain itu, delirium bersamaan dengan demensia atau
gangguan kognitif lainnya lebih resisten terhadap terapi yang diberikan.
Delirium mempunyai hubungan yang erat dengan peningkatan biaya kesehatan,
penurunan kualitas hidup, lama rawat inap pasien, peningkatan mortalitas, serta gangguan
kognitif menetap. Selain itu, kasus delirium di ICU berhubungan dengan peningkatan
penggunaan ventilator serta lama rawat inap di ICU dan mengakibatkan peningkatan mortalitas
pasien di ICU. Sehingga, semakin lama penegakan diagnosis dan pemberian terapi pada pasien
delirium semakin meningkatkan mortalitas pasien di ICU.
GEJALA KLINIS, PEMERIKSAAN, DAN PERJALANAN PENYAKIT
Gejala delirium dapat dijabarkan dalam tiga domain inti diantaranya domain kognitif
(orientasi, atensi, memori jangka pendek, memori jangka panjang, dan kemampuan
visuospasial), domain pikiran (bahasa dan proses pikir), dan domain sirkardian (siklus tidur
bangun dan perilaku motorik). Sehingga dapat disimpulkan, definisi delirium adalah gangguan
atensi yang sering ditandai dengan penurunan kesadaran atau kemampuan sensorik. Tingkat
kesadaran pada pasien delirium dapat bervariasi yaitu antara somnolen hingga sadar dengan
gangguan konsentrasi yang ringan.
Fungsi atensi yang baik di sini berarti seseorang mampu untuk tetap fokus,
mempertahankan, dan mengalihkan konsentrasi atau atensi sesuai dengan lingkungannya.
Manifestasi klinis gangguan atensi yang dapat diamati yaitu ketika diberi pertanyaan oleh

pemeriksa, pasien tampak kebingungan atau mudah dialihkan konsentrasinya. Jika atensi dan
konsentrasi terganggu, maka fungsi kognitif yang lebih kompleks seperti bahasa, orientasi,
memori, dan proses pikir juga akan terganggu. Pada kasus delirium yang berat, gangguan atensi
dapat menghalangi penatalaksanaan yang adekuat pada domain kognitif yang lainnya.
Ketika atensi dan kesadaran berubah, maka kemampuan navigasi pasien delirium pun
akan terganggu. Observasi dari kejauhan justru dapat memberikan petunjuk tentang fungsi
kognitif pasien. Pasien delirium biasanya berpenampilan acak-acakan, gelisah, dan berbicara
dengan suara keras ketika berada di ruangan sendiri.
Delirium dapat terjadi selama beberapa jam hingga hari. Pada kasus ensefalopati subakut
dapat terjadi selama beberapa hari hingga mingguan. Perubahan kognitif dan perilaku pada
delirium bersifat fluktuatif dan sesuai siklus diurnal.
Perubahan kemampuan motorik pada delirium dapat dibedakan menjadi dua subtipe yaitu
hiperaktif dan hipoaktif. Akan tetapi, perubahan motorik juga bersifat fluktuatif sehingga
terkadang pasien hiperaktif kemudian berubah menjadi hipoaktif. Delirium tipe hiperaktif sering
terjadi pada pasien yang mengalami intoksikasi obat dan withdrawal. Dari studi yang ada
menunjukkan bahwa delirium tipe hiperaktif lebih responsif terhadap pengobatan farmakologi
daripada tipe hipoaktif.
Gejala psikiatri dan neurobehavioral pada delirium bersifat berubah-ubah/ fluktuatif
seperti agitasi, gelisah, ansietas, disforia, apati, withdrawal, halusinasi maupun delusi. Pada
delirium gejala psikiatri yang ada terjadi termasuk fenomena sekunder dan didapatkan fungsi
yang abnormal dari otak.
Walaupun kasus delirium mempunyai prevalensi yang tinggi serta menyebabkan
morbiditas dan mortalitas, delirium sering tidak terdeteksi oleh dokter. Hal ini disebabkan karena
perubahan perilaku pada pasien delirium mirip dengan proses psikiatri primer. Delirium tipe
hipoaktif sering didiagnosis depresi karena adanya penurunan psikomotor, nafsu makan yang
berkurang, dan pasien menjadi senang menyendiri. Sedangkan gelisah dan ansietas pada pasien
dengan penyakit medis tertentu dianggap respon psikologi yang normal. Hal ini menyebabkan
penegakkan diagnosis dan pemberian tatalaksana tertunda bahkan tidak tepat. Misalnya, pasien
justru mendapatkan terapi antidepresan atau benzodiazepine yang bersifat deliriogenik.
Halusinasi, ilusi, dan delusi tipe paranoid sering terjadi pada pasien delirium. Sehingga
dokter sering salah menginterpretasikan gejala yang ada sebagai gejala psikosis. Maka,

halusinasi maupun delusi pada lansia dan pasien dengan penyakit medis tertentu dapat
dipertimbangkan sebagai delirium atau demensia hingga dapat dibuktikan diagnosis pastinya.
Episode delirium dapat berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Selain itu,
delirium dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif jangka panjang terutama pada pasien
yang telah melewati masa kritis dan kasus sepsis ensefalopati.