Anda di halaman 1dari 27

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................
i
KATA PENGANTAR ....................................................................................
ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN ..............................................................................
1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................
2
II.1. Anatomi Hidung dan Sinus Paranasal .......................
2
II.1.1. Anatomi Hidung...
2
II.1.2. Anatomi Sinus Paranasal ....
3
II.2. Sinusitis ..
5
II.2.1. Definisi 5
II.2.2. Etiologi dan faktor predisposisi ......
5
II.2.3. Patofisiologi ....
6
II.2.4. Klasifikasi dan mikrobiologi ... 6
II.2.5. Manifestasi Klinis ...
8
II.2.6. Diagnosis . 9
II.2.7. Terapi .. 10
II.2.8. Komplikasi .. 10
II.3. Polip Hidung .................................................................................. 11
II.3.1. Definisi 11
II.3.2. Patogenesis .. 11
II.3.3. Diagnosis . 12
II.3.4. Penatalaksanaan .. 13
BAB III. LAPORAN KASUS ....................................................... 14
BAB IV. DISKUSI ......................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 25

BAB I
PENDAHULUAN

Sinusitis adalah radang selaput permukaan sinus paranasal, sesuai dengan rongga yang
terkena sinusitis dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis
sphenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis sedangkan bila mengenai semua
sinus paranasal disebut pansinusitis.
15

Sinusitis dianggap salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia. Penyebab
utamanya ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi bakteri. Secara epidemiologi
yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila. Yang berbahaya dari sinusitis adalah
komplikasinya ke orbita dan intrakranial.
Polip nasi merupakan salah satu penyakit yang cukup sering ditemukan di bagian THT.
Keluhan pasien yang datang dapat berupa sumbatan pada hidung yang makin lama semakin
berat. Untuk mengetahui massa di rongga hidung merupakan polip atau bukan selain perlu di
kuasai anatomi hidung juga perlu dikuasai cara pemeriksaan yang dapat menyingkirkan
kemungkinan diagnosa lain.

16

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1.

Anatomi Hidung dan Sinus Paranasal

II.1.1. Anatomi Hidung


Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah:

pangkal hidung (bridge),

dorsum nasi,

puncak hidung,

ala nasi,

kolumela dan

lubang hidung (nares anterior).

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan
lubang hidung.
Kerangka tulang terdiri dari:

tulang hidung (os nasalis),

prosesus frontalis os maksila dan

prosesus nasalis os frontal


Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang

terletak di bagian bawah hidung, yaitu:

sepasang kartilago nasalis lateralis superior,

sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago alar mayor),

beberapa pasang kartilago alar minor dan tepi anterior kartilago septum.
17

Pada dinding lateral terdapat:1


4 buah konka
- konka inferior
- konka media
- konka superior
- konka suprema (rudimenter)
kartilago nasalis lateralis superior
sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago alar mayor)
beberapa pasang kartilago alar minor
tepi anterior kartilago septum.

Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus.
Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan superior.

Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral
rongga hidung. Terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis

Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung.
Terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior.

Meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media
terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.

II.1.2. Anatomi Sinus Paranasal


Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung. Anatominya
dapat dijelaskan sebagai berikut:
18

Sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus
maksila dan sinus kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua
sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua
bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing.
Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka inferior
rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari sinus
maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior.
Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV dan tetap
berkembang selama masa kanak-kanak, jadi tidak heran jika pada foto anak-anak belum ada
sinus frontalis karena belum terbentuk.
Pada meatus Meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka
media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.
Fungsi sinus paranasal

Membentuk pertumbuhan wajah

Sebagai pengatur udara (air conditioning)

Peringan cranium

Resonansi suara

Membantu produksi mukus

II.2.

Sinusitis

II.2.1. Definisi
Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek dokter sehari-hari,
bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia.
19

Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya disertai atau dipicu
oleh rinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyakit utamanya adalah selesma (common
cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri. Bila
mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal
disebut pansinusitis.
Sinus paranasal yang sering terkena ialah sinus ethmoid dan maksila, sedangkan sinus
frontal lebih jarang dan sinus sfenoid lebih jarang lagi. Sinus maksila disebut juga antrum
Highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus,
disebut sinusitis dentogen.
Sinusitis dapat menjadi berbahaya karena meyebabkan komplikasi ke orbita dan
intrakranial, serta menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati.
II.2.2. Etiologi dan faktor predisposisi
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus, bermacam rhinitis
terutama rhinitis alergi, rhinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung, kelainan anatomi
seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan kompleks osteo-meatal, infeksi tonsil,
infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia silia seperti pada sindroma Kartegener, dan di luar
negeri adalah penyakit fibrosis kistik.
Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitis sehingga
perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan sumbatan dan menyembuhkan
rhinosinusitisnya. Hipertrofi adenoid dapat didiagnosis dengan foto polos leher posisi lateral.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan yang berpolusi, udara dingin dan kering,
serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak
silia.
II.2.3. Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens
mukosiliar di dalam kompleks osteo-meatal. Mukus juga mengandung substansi antimikrobial
dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk
bersama dengan udara pernapasan.

20

Organ-organ yang membentuk kompleks osteo-meatal letaknya berdekatan dan bila


terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak
dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang
menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap rhinosinusitis
non-bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan.
Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media yang baik
untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan ini disebut dengan
rhinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik.

Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada faktor predisposisi), inflamasi berlanjut,
terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini
merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik
yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin
diperlukan tindakan operasi.
II.2.4. Klasifikasi dan mikrobiologi
Konsensus internasional tahun 1995 membagi rhinosinusitis hanya akut dengan batas
sampai 8 minggu dan kronik jika lebih dari 8 minggu. Konsensus tahun 2004 membagi menjadi
akut dengan batas sampai 4 minggu, subakut dengan batas 4 minggu sampai dengan 3 bulan, dan
kronik jika lebih dari 3 bulan.
Sinusitis kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari sinusitis
akut yang tidak terobati secara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya faktor predisposisi harus
dicari dan diobati secara tuntas.

21

Menurut berbagai penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah
Streptococcus pneumonia (30 - 50%), Haemophylus influenzae (20 40%), da Moraxella
catarrhalis (4%). Pada anak, M. catarrhalis paling sering ditemukan (20%).
Pada sinusitis kronik, faktor predisposisi lebih berperan, tetapi umumnya bakteri yang ada lebih
condong ke arah bakteri gram negatif dan anaerob.
Sinusitis dentogen
Sinusitis dentogen merupakan salah satu penyebab penting sinusitis kronis. Dasar sinus
maksila adalah prosesus alveolaris tempat akar gigi rahang atas, sehingga rongga sinus maksila
hanya terpisahkan oleh tulang tipis dengan akar gigi. Bahkan kadang-kadang tanpa tulang
pembatas. Infeksi gigi rahang atas seperti infeksi apikal akar gigi atau inflamasi jaringan
periodontal mudah menyebar secara langsung ke sinus, atau melalui pembuluh darah dan limfe.
Harus curiga adanya sinusitis dentogen pada sinusitis maksila kronik yang mengenai satu sisi
dengan ingus purulen dan napas berbau busuk. Untuk mengobati sinusitisnya, gigi yang
terinfeksi harus dicabut atau dirawat, dan pemberian antibiotik yang mencakup bakteri anaerob.
Seringkali juga perlu dilakukan irigasi sinus maksila.
Sinusitis jamur
Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal, suatu keadaan yang tidak
jarang ditemukan. Angka kejadiannya meningkat dengan meningkatnya pemakaian antibiotik,
kortikosteroid, obat-obat imunosupresan dan radioterapi. Kondisi yang merupakan predisposisi
antara lain diabetes melitus, neutropenia, penyakit AIDS, dan perawatan yang lama di rumah
sakit. Jenis jamur yang sering menyebabkan infeksi sinus paranasal ialah spesies Aspergilus dan
Candida.
Perlu diwaspadai adanya sinusitis jamur pada kasus sebagai berikut: sinusitis unilateral,
yang sukar disembuhkan dengan terapi antibiotik. Adanya gambaran kerusakan tulang dinding
sinus, atau bila ada membran berwarna putih keabu-abuan pada irigasi antrum.
Para ahli membagi sinusitis jamur sebagai bentuk invasif dan non-invasif. Sinusitis jamur
invasif terbagi menjadi invasif akut fulminan dan invasif kronik indolen.
Sinusitis jamur invasif akut, ada invasi jamur ke jaringan dan vaskular. Sering terjadi
pada pasien diabetes yang tidak terkontrol, pasien dengan imunosupresi seperti leukemia dan
22

neutropenia, pemakaian steroid lama dan terapi imunosupresan. Imunitas yang rendah dan invasi
pembuluh darah menyebabkan penyebaran jamur sangat cepat dan dapat merusak dinding sinus,
jaringan orbita, dan sinus kavernosus. Di kavum nasi, mukosa berwarna biru kehitaman dan ada
mukosa konka atau septum yang nekrotik. Sering berakhir dengan kematian.
Sinusitis jamur invasif kronik biasanya terjadi pada pasien dengan gangguan imunologik
atau metabolik seperti diabetes. Bersifat kronik progresif dan bisa juga menginvasi sampai ke
orbita atau intrakranial, tetapi gambaran kliniknya tidak sehebat yang bersifat fulminan karena
perjalanan penyakitnya lebih lambat. Gejalanya seperti sinusitis bakterial, tetapi sekretnya kental
dengan bercak-bercak kehitaman, yang bila dilihat dengan mikroskop merupakan koloni jamur.
Sinusitis jamur non-invasif, atau misetoma, merupakan kumpulan jamur di dalam rongga
sinus tanpa invasi ke dalam mukosa dan tidak sampai mendestruksi tulang. Sering mengenai
sinus maksila. Gejala klinis sering menyerupai sinusitis kronis berupa rinore purulen, post nasal
drip, dan napas bau. Kadang-kadang ada massa jamur juga di kavum nasi. Pada operasi bisa
ditemukan materi jamur berwarna cokelat kehitaman dengan atau tanpa pus di dalam sinus.
Terapi untuk sinusitis jamur invasif ialah pembedahan, debridemen, anti jamur sistemik,
dan pengobatan terhadap penyakit dasarnya. Obat standar ialah amfoterisin B, bisa ditambah
dengan rifampisin atau flusitosin agar lebih efektif. Pada misetoma hanya perlu terapi bedah
untuk membersihkan massa jamur, menjaga ventilasi dan drainase sinus. Tidak diperlukan anti
jamur sistemik.
II.2.5. Manifestasi klinis
Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri/rasa tekanan pada
muka dan ingus purulen, yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat disertai
gejala sistemik seperti demam dan lesu.
Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan ciri khas
sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di tempat lain (referred pain). Nyeri pipi
menandakan sinusitis maksila, nyeri di antara atau di belakang orbita menandakan sinusitis
ethmoid, nyeri di dahi atau seluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis sfenoid,
nyeri dirasakan di verteks, oksipital, belakang orbita, dan daerah mastoid. Pada sinusitis maksila
kadang-kadang ada nyeri alih ke gigi dan telinga.

23

Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/anosmia, halitosis, post nasal drip yang
menyebabkan batuk dan sesak napas pada anak.
Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Kadang-kadang hanya 1 atau 2
gejala-gejala di bawah ini yaitu sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk kronik, gangguan
tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba eustachius, gangguan ke paru
seperti bronkhitis (sino-bronkhitis), bronkhiektasis dan yang penting adalah serangan asma yang
meningkat dan sulit diobati. Pada anak, mukopus yang tertelan dapat menyebabkan
gastroenteritis.
II.2.6. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi anterior, dan posterior, pemeriksaan nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah adanya
pus di meatus medius (pada sinusitis maksila dan ethmoid anterior dan frontal) atau di meatus
superior (pada sinusitis ethmoidalis posterior dan sfenoid). Pada rinosinusitis akut, mukosa
edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan pada kantus medius.
Pemeriksaan pembantu yang penting adalah foto polos atau CT-Scan. Foto polos posisi
Waters, PA, lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus
maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, air-fluid level, atau penebalan
mukosa.
CT-Scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai secara
anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan
perluasannya. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusitis
kronis yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai panduan operator saat
melakukan operasi sinus.
Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan ini sudah jarang dilakukan karena sangat terbatas kegunaannya.
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret dari
meatus medius/superior, untuk mendapatkan antibiotik yang tepat guna. Lebih baik lagi bila
diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila.

24

Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui
meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya,
selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.
II.2.7. Terapi
Tujuan terapi sinusitis ialah mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan
mencegah perubahan menjadi kronis. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di kompleks
osteo-meatal sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial, untuk
menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus.
Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksisilin. Jika diperkirakan kuman
telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan amoksisilin-klavulanat
atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotik diberikan selama 10-14 hari
walaupun gejala klinik sudah menghilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik yang sesuai
untuk kuman gram negatif dan anaerob.
Selain dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti
analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian rongga hidung dengan NaCl atau diatermi.
Antihistamin tidak rutin diberikan karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan sekret jadi
lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus
maksila atau Proetz displacement juga merupakan terapi tambahan yang dapat bermanfaat.
Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat.
Tindakan operasi
Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk
sinusitis kronik yang memerlukan operasi. Tindakan ini telah menggantikan hampir semua jenis
bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan dan tindakan lebih ringan
dan tidak radikal. Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi
adekuat, sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel, polip ekstensif, adanya
komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.

25

II.2.8. Komplikasi
Komplikasi sinusitis yang berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis
kronis dengan eksarsebasi akut, berupa komplikasi orbita atau intrakranial.
Kelainan orbita, disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata, yaitu
sinus ethmoid, kemudian frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis
dan perikontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita, abses
periosteal, abses orbita, dan selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus.
Kelainan intrakranial dapat berupa meningitis, abses ekstradural/subdural, abses otak dan
trombosis sinus kavernosus.
Komplikasi juga dapat terjadi pada sinusitis kronis, berupa: Osteomielitis dan abses
periosteal. Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak.
Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi.
Kelainan paru seperti bronkhitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus
paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sino-bronkhitis. Selain itu, dapat juga
menyebabkan kambuhnya asma bronkhial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya
disembuhkan.
II.3.

Polip hidung

II.3.1. Definisi
Polip hidung adalah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga
hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Polip dapat timbul
pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak sampai usia lanjut. Bila ada
polip pada anak usia 2 tahun, harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau
meningoensefalokel.
Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah adanya rhinitis alergi atau penyakit
atopi, tetapi makin banyak penelitian yang mengemukakan berbagai teori dan para ahli sampai
saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui dengan pasti.
II.3.2. Patogenesis
Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf otonom
serta predisposisi genetik. Menurut teori Bernstein, terjadi perubahan mukosa hidung akibat
26

peradangan atau aliran udara yang berturbulensi, terutama di daerah sempit di kompleks osteomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan pembentukan kelenjar
baru. Juga terjadi peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat
retensi air sehingga terbentuk polip.
Teori lain mengatakan karena ketidaksembangan saraf vasomotor terjadi peningkatan
permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vaskular yang mengakibatkan dilepasnya sitokinsitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan edema dan lama-kelamaan menjadi polip.
Bila proses ters berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar menjadi polip dan kemudian
akan turun ke rongga hidung dengan membentuk tangkai.
Secara makroskopis polip merupakan massa bertangkai dengan permukaan licin,
berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan, agak bening, lobular, dapat tunggal
atau multipel dan tidak sensitif (bila ditekan atau ditusuk tidak terasa sakit). Warna polip yang
pucat tersebut disebabkan karena mengandung banyak cairan dan sedikitnya aliran darah ke
polip. Bila terjadi iritasi kronis atau peradangan warna polip dapat berubah menjadi kemerahmerahan dan polip yang sudah menahun warnanya dapat menjadi kekuning-kuningan karena
banyak mengandung jaringan ikat.
Tempat asal tumbuhnya polip terutama dari kompleks osteo-meatal di meatus medius dan
sinus ethmoid. Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan endoskop, mungkin tempat asal polip dapat
dilihat. Ada polip yang tumbuh ke arah belakang dan membesar di nasofaring, disebut polip
koana. Polip koana kebanyakan berasal dari dalam sinus maksila dan disebut juga polip antrokoana. Ada juga sebagian kecil polip koana yang berasal dari sinus ethmoid.

Secara mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal yaitu
epitel bertingkat semu bersilia dengan submukosa yang sembab. Sel-selnya terdiri dari limfosit,
sel plasma, eosinofil, neutrofil, dan makrofag. Mukosa mengandung sel-sel goblet. Pembuluh
27

darah, saraf, dan kelnjar sangat sedikit. Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia
epitel karena sering terkena aliran udara, menjadi epitel transisional, kubik atau gepeng berlapis
tanpa keratinisasi. Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2 yaitu
polip tipe eosinofilik dan tipe neutrofilik.
II.3.3. Diagnosis polip nasi
a. Anamnesis
Keluhan utama penderita polip nasi ialah hidung terasa tersumbat dari yang ringan
samapai ke yang berat, rinore mulai dari yang jernih sampai purulen, hiposmia atau anosmia.
Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai sakit kepala di daerah frontal.
Bila disertai infeksi sekunder mungkin didapatkan post nasal drip dan rinore purulen. Gejala
sekunder yang dapat timbul ialah bernapas melalui mulut, suara sengau, halitosis, gangguan
tidur, dan penurunan kualitas hidup.
Dapat menyebabkan gejala pada saluran napas bawah, berupa batuk kronik dan mengi,
terutama pada penderita polip nasi dengan asma. Selain itu harus ditanyakan riwayat rinitis
alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi obat lainnya serta alergi makanan.
b. Pemeriksaan fisik
Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung
tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat
sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan.
Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997), stadium 1: polip masih terbatas di
meatus medius, stadium 2: polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi
belum memenuhi rongga hidung, stadium 3: polip yang masif.
c. Naso-endoskopi
Adanya fasilitas endoskopi (teleskop) akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang
baru. Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rhinoskopi anterior
tetapi tampak dengan pemeriksaan naso-endoskopi. Pada kasus polip koanal juga sering dapat
dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila.
d. Pemeriksaan radiologi
Foto polos sinus paranasal (posisi Waters, AP, Caldwell, dan lateral) dapat
memperlihatkan penebalan dari mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus, tetapi
kurang bermanfaat pada kasus polip. Pemeriksaan CT-Scan sangat bermanfaat untuk melihat
28

dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi,
polip, atau sumbatan pada kompleks osteo-meatal. CT-Scan terutama diindikasikan pada kasus
polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan
pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi.
II.3.4. Penatalaksanaan
Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhan-keluhan,
mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip.
Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi
medikamentosa. Dapat diberikan topikal atau sistemik. Polip tipe eosinofil memberikan respon
yang lebih baik terhadap pengobatan kortikosteroid intranasal dibandingkan dengan polip tipe
neutrofil.
Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat
masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi)
menggunakan senar polip atau cunam dengan analgesi lokal, ethmoidektomi intranasal atau
ekstranasal untuk polip etmoid, operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila, dan yang terbaik
adalah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan BSEF (Bedah Sinus
Endoskopi Fungsional).

BAB III
LAPORAN KASUS
I.

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. M. A

Umur

: 45 tahun

Jenis kelamin

: Pria

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Pekerjaan

: Tukang kayu

Pendidikan

: SD

Alamat

: Penggilingan Baru RT 01/08

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada 28 September 2011 jam 06.30 WIB.
29

Keluhan utama: Kedua hidung tersumbat hilang timbul sejak 4 bulan SMRS.
Keluhan tambahan: Hidung berair hilang timbul sejak 4 bulan SMRS.
Riwayat penyakit sekarang:
OS datang dengan keluhan kedua hidung tersumbat yang hilang timbul sejak 4
bulan SMRS. Hidung kiri dirasakan sering tersumbat sejak 8 tahun yang lalu, hilang
timbul, membaik dengan hidung kanan pula dirasakan tersumbat sejak 4 bulan yang
lalu. Keluhan hidung tersumbat dirasakan hilang timbul, semakin memberat sejak 4
bulan terakhir dan lebih enakan di pagi hari berbanding sore.
OS juga mengeluh sejak 1 bulan yang lalu, keluar cairan pada hidung sebelah
kiri berwarna bening, jumlah sedikit, tidak berbau dan tidak ada darah. OS
menyangkal adanya riwayat sering bersin pada pagi hari. Riwayat pernah mimisan
disangkal. OS juga mengalami gangguan dalam penghidu.
Sakit kepala, kepala terasa berat waktu sujud dan terasa seperti tertelan cairan
di tenggorokan juga dialami oleh OS. OS juga mengeluh terdapat gangguan
pendengaran di kedua telinga sejak 1 minggu yang lalu.
Riwayat penyakit dahulu:
Pasien baru pertama kali mengalami keluhan seperti ini. Riwayat sering batuk,
pilek, dan nyeri tenggorok disangkal. Riwayat penyakit amandel disangkal. Riwayat
alergi disangkal. Riwayat maag disangkal. Riwayat asma disangkal. Riwayat penyakit
hipertensi, kencing manis, dan batuk-batuk lama disangkal.
Riwayat penyakit keluarga:
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan serupa seperti yang
dialami oleh pasien. Riwayat hipertensi, penyakit kencing manis, dan penggunaan
obat dalam jangka panjang.
Riwayat pengobatan:
Pasien belum pernah mendapat pengobatan sebelumnya.
Riwayat kebiasaan:
Riwayat merokok 2 bungkus per hari selama kurang lebih 20 tahun namun
dalam satu tahun terakhir, pasien mengaku telah berhenti.

30

II.

PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: compos mentis

Tanda vital

Frekuensi Nadi

: 80 x/mnt

Tekanan Darah

: 145/90 mmHg

Frekuensi Napas : 20 x/mnt


Suhu Tubuh

: 36,1C

Kepala

: normocephali

Mata

: CA -/-, SI -/-

Leher

: KGB tidak teraba membesar

Thorax

: dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal

Ekstremitas

: dalam batas normal

B. STATUS THT
1. Pemeriksaan telinga

31

2. Pemeriksaan hidung

32

3. Pemeriksaan gigi dan mulut


8 7 6 5 4 3 2 1

2 3 4 5

8 7 6 5 4 3 2 1

2 3 4 5

Trismus : (-)

Kelainan lainnya : (-)

Gigi dan gusi: dbn

Leher

Lidah : dbn

Kelenjar limfe : dbn

Kelenjar liur : dbn

Kelainan lainnya : tidak ada

33

4. Pemeriksaan tenggorokan

5.

6.
7. Pemeriksaan neurologis saraf kranialis
8. N.I : normosmia/anosmia
9. N.II : lapang pandang luas, visus 6/6
10. N.III, IV, VI: gerakan bola mata ke segala arah, strabismus -/-, ptosis -/-,
eksoftalmus -/-, enoftalmus -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya
tidak langsung +/+
11. N.V : gerakan rahang baik, buka tutup mulut baik, menggigit baik

12. N.VII : mimik wajah simetris, angkat alis, kerut dahi, kembung pipi
simetris, SNL kanan=kiri
13. N.VIII : rinne +/+, weber tidak ada lateralisasi, swabach pasien =
pemeriksa, nistagmus -/-, tes keseimbangan baik
14. N.IX dan X: disfoni -, disfagi -, rhinolali 15. N.XI : angkat bahu baik, menoleh baik
16. N.XII : julur lidah baik, tenaga otot lidah baik, tremor lidah -, fasikulasi
17.
18. Foto sinus paranasal

19.
20.
III.

RESUME
21.

Seorang pria, 44 tahun datang dengan keluhan kedua

hidung tersumbat yang hilang timbul sejak 4 bulan SMRS. Hidung kiri dirasakan
sering tersumbat sejak 8 tahun yang lalu, hilang timbul, membaik dengan hidung
kanan pula dirasakan tersumbat sejak 4 bulan yang lalu. Keluhan hidung tersumbat
dirasakan hilang timbul, semakin memberat sejak 4 bulan terakhir dan lebih enakan di
pagi hari berbanding sore.
22.

OS juga mengeluh sejak 1 bulan yang lalu, keluar cairan pada hidung

sebelah kiri berwarna bening, jumlah sedikit, tidak berbau dan tidak ada darah. OS
menyangkal adanya riwayat sering bersin pada pagi hari. Riwayat pernah mimisan
disangkal. OS juga mengalami gangguan dalam penghidu.

23.

Sakit kepala, kepala terasa berat waktu sujud dan terasa seperti tertelan

cairan di tenggorokan juga dialami oleh OS. OS juga mengeluh terdapat gangguan
pendengaran di kedua telinga sejak 1 minggu yang lalu. Os memiliki riwayat
hipertensi. Os memiliki riwayat kebiasaan merokok 2 bungkus per hari selama kurang
lebih 20 tahun namun dalam satu tahun terakhir, pasien mengaku telah berhenti.
24. Pemeriksaan fisik
25.

Pada status generalis pasien didapatkan hipertensi derajat 1, pada

pemeriksaan telinga dalam batas normal, pada pemeriksaan hidung di dapatkan


adanya nyeri tekan pada pipi dan dahi.Pada hidung sebelah kiri cavum nasi sempit,
mukosa hiperemis, terdapat sekret kental,bening di meatus media dan adanya massa
putih keabu-abuan. Pada pemeriksaan tenggorok dalam batas normal.
26.

Pada foto sinus paranasal didapatkan adanya perselubungan homogen

pada sinus maksilaris kiri, etmoidalis kiri, frontalis kiri dan polip nasi.
27.
IV.

DIAGNOSIS KERJA
a. Sinusitis maksilaris kiri, etmoidalis kiri, frontalis kiri
28. Dasar-dasar yang mendukung:

Hidung kiri tersumbat

Sekret berwarna bening dan kental

Nyeri kepala

Post nasal drip

Transluminasi maxilaris dan frontalis sinistra suram

Foto SPN bermakna diagnostik


b. Polip nasi sinistra
29.

Dasar-dasar yang mendukung:

Hidung kiri tersumbat


Sumbatan hidung semakin lama semakin berat
Pada pemeriksaan hidung ditemukan massa berwarna putih keabu-abuan yang
mengisi seluruh rongga hidung
30.
31.

V.

DIAGNOSIS BANDING

a. Sinusitis jamur
32.

Dasar yang mendukung:

Sinusitis unilateral
Sering mengenai sinus maksilaris
Adanya post nasal drip
33. Dasar yang tidak mendukung:

Prediposisi:diabetes melitus, AIDS, pengguna steroid jangka panjang.


Sukar disembuhkan dengan antibiotik
Mukosa berwarna biru-kehitaman
Mukosa konka atau septum ada yang nekrotik
Sekret hidung kental dengan bercak kehitaman
b. Tumor cavum nasi sinistra
34.

Dasar yang mendukung:

Hidung tersumbat
35. Dasar yang tidak mendukung

Tidak ada mimisan

Pada foto sinus paranasal tidak ditemukan adanya tumor


36.

VI.

RENCANA PENATALAKSANAAN
a. Medikamentosa

Aldisa 2x1/hari

Mefinal 500 mg 3x1 /hari

Cefadroxil cap 500 mg 3x1/hari


b. Non medikamentosa

Konsumsi obat secara teratur

Memakan makanan bergizi

Menjaga daya tahan tubuh

Operasi: Polipektomi sinistra, Antrostomi sinistra, Etmoidektomi sinistra


37.

VII.

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG


38. Gold standard: CT-Scan
39.

VIII. PROGNOSIS
40. Ad vitam

: ad bonam

41. Ad fungsionam

: ad bonam

42. Ad sanasionam

: ad bonam

43.
44.
45.

46. BAB IV
47. DISKUSI
48.
49. Analisa kasus:
50. Diagnosis kerja: sinusitis maksilaris sinistra, etmoid sinistra, frontalis sinistra
51. Teori
53. Gejala mayor pada sinusitis
adalah

adanya

sakit

52. Laporan kasus


54. Pada OS tedapat adanya

di

sakit

diwajah,

hidung

wajah, hidung tersumbat,

tersumbat, post nasal drip

post nasal drip, gangguan

dan gangguan penciuman.

penciuman, dan demam


55. Gejala minor dari sinusitis
adalah

batuk,

lendir

56. Pada

di

OS

adanya

sakit

kepala.

tenggorokan, nyeri kepala,


nyeri

geraham

dan

bau

mulut.
57.
58.
59.
61.

Diagnosis kerja: polip nasi sinistra


Teori

60.

Laporan

Keluhan

kasus
62.

Pada OS

utama dari polip nasi adalah adanya hidung

di dapatkan adanya hidung tersumbat yang

tersumbat yang semakin lama semakin berat,

semakin lama semakin berat, rinore bening,

rinore jernih sampai dengan purulen, hiposmia,

hiposmia.

anosmia.
63.

64.

Keluhan

tambahan pada polip nasi adalah bersin-bersin,

Pada os

di dapatkan adanya bersin, post nasal drip.

nyeri di hidung dan kepala daerah frontal, post


nasal drip, dan rinore purulen.
65.

Pada

66.

Pada

pemeriksaan fisik di temukan adanya massa

pemeriksaan fisik ditemukan adanya massa

warna pucat di meatus medius


67.

berwarna putih keabu-abuan di meatus medius.

68.

69. DAFTAR PUSTAKA


70.
71.

Mangunkusumo, Endang dan Damajanti Soetjipto. 2007. Sinusitis dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke-6. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 150-3.

72.

Mangunkusumo, Endang dan Retno S. Wardani. 2007. Polip Hidung dalam Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke-6. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 123-5.

73.

Adams GL,Boeis LR, Higler PA. Buku Ajar Penyakit THT BOEIS Edisi
keenam:Anatomi dan Fisiologi Telinga.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.1997.p;
30-38.

74.

Braunwald, Eugene et al. 2009. Harrisons Principles of Internal Medicine. Edisi 17.
Amerika Serikat: McGraw-Hill.

75.
76.
77.
78.
79.