Anda di halaman 1dari 10

IT DOESNT WANT TO GO

Ketua

: Nur zamzam

Scriber 1

: Chrisnawati Lidia R.

Scriber 2

: Friskiandi

Step 1
1. Depresi
: Gangguan mood dengan hilangnya perasaan kendali,
2. Afek
: Manifestasi dari mood dan perasaan
3. Mood
: Keadaan perasaan seseorang/ keadaan emosianal
internal seseorang.
4. Pem. Mental Status
: Jenis pemeriksaan untuk menilai mental
dengan proses anamnesis, observasi, dan eksplorasi. Menurut
WHO ada 16.
Step 2
1. Masalah atau gangguan pada wanita di skenario
2. Hal-hal yang dinilai dari pemeriksaan status mental
3. Patofisiologi dari keluhan-keluhan pasien
4. Terapi dari DX (algoritma)
5. Etiologi, epidemiologi, dan faktor resiko?
6. Apa ada hubungan penggunaan analgesik dengan keluhan pasien?
7. Komplikasi dan prognosis
8. Baagaimana efek samping konsumsi analgesik?
9. DD dan bagaimana eliminasi dari Dxnya?
10. Pemeriksaan penunjang?
11. Hasil pemeriksaan mental status untuk gangguan mood dan afek?
12. Obat kombinasi parasetamol-codein, efeksamping masing-masing dan kombinasinya?
13. Algoritma pemeriksaan
14. Anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
15. Monitoring untuk pasien
Step 3 & 4
2. a) Tampakan Umum : gestur, cara berpakaian, Jenis kelamin, Usia
b) Sikap selama interview : Hiperaktif, hipoaktif, normoaktif
c) Perilaku : Tremor, tanda parkinson
d) Mood : Perasaan pasien (senang, sedih)
e) Afek : Ekspresi Raut wajah
f) Bicara : Kuantitas dan kualitas
g) Persepsi : Tanyakan halusinasi
h) Isi pikiran : dibedakan dengan bicara
i) Proses pikir : Tangensial, sirkumtansial

j) Kewaspadaan : Somnolen, dll


k) Orientasi : Waktu, tempat, orang
l) Memori : remote, recent, immediate
m) Konsentrasi kalkulasi : soal cerita matematika
n) Informasi intelegent : Pertanyaan pengetahuan dasar
o) Judgment :
p) Insight :

8. Efek samping
Pamol
a. Tukak lambung
b. Asma
c. Kerusakan Hati
Analgesik menekan proetaglandinmeningkatkan asam lambung

Codein
Bekerja di reseptor opioid di otak dan mengakibatkan ketergantungan dan euforia

1. Gangguan Somatoform
F45.2 : Hipokondriasis multiple organ yang tidak khas
F45.4 : Nyeri berat, tinggi kebutuhan medis dan keluarga
Ciri utama :
1. > 2 thn
2. Doctor Shopping
3. Depresi mood dan afek
4. Disabilitas
F45.0 Somatisasi
1. Keluhan fisik bermacam-macam > 2thn
6. Ada hubungan : Pamol efek jangka panjang peningkatan asam lambungtukak
lambung
10. Pemeriksaan Jantung, CBC, (secara umumnya)
Sistem Saraf : Pemeriksaan dasar, refleks patologis, pemeriksaan nervus
Sistem Cardiovaskular : EKG, CT Scan
Sistem Respirasi : Rontgen

Sistem Gastrointestinal : Endoskopi

4. Psikoterapi + medical Terapi (kronik)


Medical terapi + Psikoterapi (Akut)\

Psikoterapi : Relaksasi, terapi psikosomatik, terapi kognitif, terapi kelompok


Medical terapi : berikan antidepresan

Step 7
1. Masalah atau gangguan pada wanita di skenario?
Kemungkinan mengalami F45.0
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi
Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama
periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan,
dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau
fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum,
selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri
(misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi
terhadap beberapa jenis makanan)
Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri
(misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur,
perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan
pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan
koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan
di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan
ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran
selain pingsan).
Salah satu (1)atau (2):
Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat
(misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang
ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan
fisik, atau temuan laboratorium.
Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau purapura).
Sumber : Maslim, Rusdi. (2004). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III). Jakarta :
FK Jiwa Unika Atmajaya

2. Patofisiologi dari keluhan-keluhan pasien?


Patofisiologi
Proses emosi terdapat di otak disalurkan melalui susunan saraf autonom vegetatif ke alatalat visceral yang banyak dipersarafi oleh saraf autonom vegetatif tersebut. Oleh karena itu
keluhan-keluhan tersebut banyak terdapat di bidang ilmu penyakit dalam, misalnya bidang
kardiovaskular, traktus digestivus, respiratorius, sistem endokrin, traktus urogenital. Keadaan
yang mula-mula dinamakan ketidakseimbangan vegetatif. Jarang pasien menyadari, perasaan
emosi yang sebetulnya menjadi sumber penyebab keluhan-keluhan mereka.

Dasar psikofisiologi dan psikopatologi.


Walaupun patofisiologi timbulnya kelainan fisis yang berhubungan dengan gangguan
psikis/emosi belum seluruhnya dapat diterangkan namun sudah terdapat banyak bukti dari hasil
penelitian para ahli yang dapat dijadikan pegangan. Gangguan psikis/konflik emosi yang
menimbulkan gangguan psikosomatis ternyata diikuti oleh perubahan-perubahan fisiologis dan
biokimia pada tubuh seseorang. Perubahan fisiologi ini berkaitan erat dengan adanya gangguan
pada sistem saraf autonom vegetatif, sistem endokrin dan sistem imun (psiko-neuro-imunoendokrinologi). Beberapa teori patofisiologi gangguan psikosomatik:
1. Gangguan keseimbangan saraf autonom vegetatif.
2. Gangguan konduksi impuls melalui neurotransmitter.
3. Hiperalgesia alat visceral.
4. Gangguan sistem endokrin/hormonal.
5. Perubahan sistem imun.

3. Etiologi, epidemiologi, dan faktor resiko?


Etiologi
Sampai sekarang ini penyebab munculnya somatoform disorder masih belum diketahui, mungkin
terjadi masalah pada impuls saraf yang menghantarkan sinyal nyeri, tekanan, dan sensasi tidak
nyaman lainnya ke otak. Sampai sekarang juga belum diketahui nyeri dan masalah klinis lainnya yang
disebabkan oleh somatoform disorder itu benar-benar nyata, atau hanya khayalan.
Hal-hal yang mempengaruhi munculnya somatoform disorders:
i. Tekanan dalam keluarga
ii. Meniru orang tua (parental modeling)
iii. Pengaruh kultur
iv. Faktor biologis : genetik
Epidemiologi
i. Prevalensinya lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki , wanita : laki:laki = 10 : 1
ii. Biasanya dimulai saat masih anak-anak, remaja, dan dewasa muda. Tapi paling banyak terjadi pada
orang dewasa sebelum usia 30 tahun.
iii. Prevalensinya 5 11% populasi.
iv. Pasien dengan riwayat keluarga pernah menderita gangguan somatoform (berisiko 10-20X)
Faktor resiko
i. Riwayat orang tua
ii. Pola asuh dalam keluarga yang salah
iii. Wanita
iv. Memiliki kepribadian yang mudah cemas
v. Orang yang tertutup
vi. Alkoholism
vii. Penyalahgunaan obat
Sumber : FK UGM, 2013., The Disease : Diagnosis dan Terapi, Yogyakarta : Pustaka Cendekia
Press

4. Komplikasi dan prognosis

a. Prognosis
Prognosis pada gangguan somatoform sangat bervariasi, tergantung umur pasien dan sifat
gangguannya itu (kronik atau episodik). Umumnya, gangguan somatoform prognosisnya baik,
dapat ditangangi secara sempurna. Sangan sedikit sekali yang erngalami eksarsebasi.
Dapat bervariasi dari mild severe dan kronis. Pengobatan yang lebih awal dan menjadikan
prognosis menjadi lebih baik. Secara independen tidak meningkatkan risiko kematian.
Kematian lebih disebabkan karena upaya bunuh diri
b.Komplikasi
i. Komplikasi iatrogenik akibat prosedur diagnostik invasif / prosedur prosedur surgery
ii. Ketergantungan pada substansi- substansi pengontrol yang diresepkan
iii. Kehidupan yang bergantung pada orang lain
iv. Suicide
Sumber : FK UGM, 2013., The Disease : Diagnosis dan Terapi, Yogyakarta : Pustaka Cendekia
Press

5. Hasil pemeriksaan mental status untuk gangguan mood dan afek?


Pemeriksaan Status Mental
1) Episode Depresif :
a. Deskripsi umum : Retradasi psikomotor menyeluruh merupakan gejala yang paling umum,
walaupun agitasi psikomotor juga sering ditemukan khususnya pada pasien lansia. Secara klasik,
seorang pasien depresi memiliki postur yang membungkuk tidak terdapat pergerakan spontan,
pandangan mata yang putus asa dan memalingkan pandangan.
b. Mood, afek dan perasaan : Pasien tersebut sering kali dibawa oleh anggota keluarganya atau
teman kerjanya karena penarikan sosial dan penurunan aktifitas secara menyeluruh.
c. Bicara : Banyak pasien terdepresi menunjukkan suatu kecepatan dan volume bicara yang
menurun, berespon terhadap pertanyaan dengan kata tunggal dan menunjukkan yang lambat
terhadap suatu pertanyaan.
d. Gangguan Persepsi : Pasien terdepresi dengan waham atau halusinasi dikatakan menderita
episode depresi berat dengan ciri psikotik. Waham sesuai mood pada pasien terdepresi adalah
waham bersalah, memalukan, tidak berguna, kemiskinan, kegagalan, kejar, dan penyakit somatik
terminal.
d. Pikiran : Pasien terdepresi biasanya memiliki pandangan negatif tentang dunia dan dirinya
sendiri. Isi pikiran mereka sering kali melibatkan perenungan tentang kehilangan, bersalah, bunuh
diri, dan kematian. Kira kira 10% memiliki gejala jelas gangguan berpikir, biasanya
penghambatan pikiran dan kemiskinan isi pikiran.
d. Sensorium dan Kognisi : Daya ingat, kira kira 50 70% dari semua pasien terdepresi
memiliki suatu gangguan kognitif yang sering kali dinamakan pseudodemensia depresif, dengan
keluhan gangguan konsentrasi dan mudah lupa.
e. Pengendalian Impuls : Kira kira 10 15% pasien terdepresi melakukan bunuh diri dan kira
kira dua pertiga memiliki gagasan bunuh diri. Resiko meninggi untuk melakukan bunuh diri saat
mereka mulai membaik dan mendapatkan kembali energi yang diperlukan untuk merencanakan
dan melakukan suatu bunuh diri (bunuh diri paradoksikal / paradoxical suicide).
f. Reliabilitas : Semua informasi dari pasien terlalu menonjolkan hal yang buruk dan menekankan
yang baik.

2) Episode Manik :
= Deskriksi Umum : Pasien manik adalah tereksitasi, banyak bicara, kadang kadang mengelikan
dan sering hiperaktif. Suatu waktu mereka jelas psikotik dan terdisorganisasi, memerlukan
pengikatan
fisik
dan
penyuntikan
intra
muskular
obat
sedatif.
= Mood, afek dan perasaan : Pasien manik biasanya euforik dan lekas marah. Mereka memiliki
toleransi frustasi yang rendah, yang dapat menyebabkan perasaan kemarahan dan permusuhan.
Secara emosional adalah labil, beralih dari tertawa menjadi lekas marah menjadi depresi dalam
beberapa menit atau jam.
= Bicara : Pasien manik tidak dapat disela saat mereka bicara dan sering kali rewel dan
penganggu bagi orang orang disekitarnya. Saat keadaan teraktifitas meningkat pembicaraan
penuh gurauan, kelucuan, sajak, permainan kata kata dan hal hal yang tidak relefan. Saat
tingkat aktifitas meningkat lagi, asosiasi menjadi longgar, kemampuan konsentrasi menghilang,
menyebabkan gagasan yang meloncat loncat (flight of idea), gado gado kata dan neologisme.
Pada kegembiraan manik akut pembicaraan mungkin sama sekali inkoheren dan tidak dapat
membedakan dari pembicaraan skizofrenik.
= Gangguan Persepsi : Waham ditemukan pada 75% dari semua pasien manik. Waham sesuai
mood seringkali melibatkan kesehatan, kemampuan atau kekuatan yang luar biasa. Dapat juga
ditemukan
waham
dalam
halusinasi
aneh
yang
tidak
sesuai
mood.
= Pikiran : Isi pikirannya termasuk tema kepercayaan dan kebesaran diri, sering kali perhatiannya
mudah dialihkan. Fungsi kognitif ditandai oleh aliran gagasan yang tidak terkendali cepat.
= Sensorium dan Kognisi : Secara kasar orientasi dan daya ingat adalah intak walaupun beberapa
pasien manik mungkin sangat euforik sehingga mereka menjawab secara tidak tepat. Gejala
tersebut
disebut
mania
delirium
(delirious
mania)
oleh
Emil
Kraepelin.
= Pengendalian Impuls : Kira kira 75% pasien manik adalah senang menyerang atau
mengancam.
= Perimbangan dan Tilikan : Gangguan pertimbangan merupakan tanda dari pasien manik.
Mereka mungkin melanggar peraturan dengan kartu kredit, aktifitas seksual dari finansial, kadang
melibatkan keluarganya dalam kejatuhan finasial.
= Reliabilitas : Pasien manik terkenal tidak dapat dipercaya dalam informasinya.
Sumber : FK UGM, 2013., The Disease : Diagnosis dan Terapi, Yogyakarta : Pustaka Cendekia
Press

6. Obat kombinasi parasetamol-codein, efek samping masing-masing dan kombinasinya?


Efek samping kodein
>10%
Constipation
Drowsiness
1-10%
Hypotension
Tachycardia or bradycardia
Confusion
Dizziness
False feeling of well-being
Headache
Lightheadedness
Malaise
Paradoxical CNS stimulation

Restlessness
Rash, urticaria
Anorexia
Nausea, vomiting
Xerostomia
Ureteral spasm, urination decreased
LFTs increased
Burning at injection site
Weakness
Blurred vision
Dyspnea
Histamine release
<1%
Hypotension, with IV use
Anaphylactoid reaction (rare)
Seizure, with excessive doses
Respiratory depression

efek samping PCT


Frequency Not Defined
Angioedema
Disorientation
Dizziness
Pruritic maculopapular rash
Rash
Stevens-Johnson syndrome
Toxic epidermal necrolysis
Urticaria
Gastrointestinal hemorrhage
Laryngeal edema
Agranulocytosis
Leukopenia
Neutropenia
Pancytopenia

Thrombocytopenia
Thrombocytopenic purpura
Hepatotoxicity
Liver failure
Nephrotoxicity
Pneumonitis
Anaphylactoid

Sumber : http://reference.medscape.com/drug/tylenol-acetaminophen-343346#4
http://reference.medscape.com/drug/codeine-343310#4
7. Algoritma pemeriksaan

8. Anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang


Anamnesis dilakukan berdasarkan 16 step dari WHO. Untuk pemeriksaan fisik dan
penunjang dilakukan agar dapat diketahui apakah terdapat kelainan dari pasien sehingga
penyebab nyeri dapat diketahui. Ini juga dilakukan untuk menghilangkan diganosis
banding. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan berkaitan dengan keluhan pasien
antara lain yaitu :
Pemeriksaan radiologi kepala
Pemeriksaan endoskopi

Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan refleks patologis

Sumber : Lecture blok 20 pemeriksaan fisik dan pemeriksaan mental status oleh dr Ronny
T.W., Sp.KJ

9. Monitoring untuk pasien


Monitoring pada pasien dengan psikosomatik dapat dilakukan tergantung dari
keadaan umum dari pasien itu sendiri. Sebagai contoh untuk monitoring dapat
dilakukan 8 kali dalam 6 bulan.
Sumber : Lecture blok 20 pemeriksaan fisik dan pemeriksaan mental status oleh dr Ronny
T.W., Sp.KJ