Anda di halaman 1dari 10

Ketua : Amalia Ramdhaniyah

Scriber 1 : Virgiawan
Scriber 2 : Aryanti

1. Persiapan RS dalam menghadapi bencana ?


2. Komponen apa saja yang dapat digunakan untuk meminimalisir korban ?
3. Manajemen korban bencana ?
4. Bagaimana persiapan respon pada daerah yang rawan bencana ?
5. Apa saja yang di butuhkan dalam penanganan bencana ?
6. Penilaian Korban bencana ?
7. Transpor atau evaluasi korban bencana ?
8. Rujukan korban bencana ?
9. Penyakit yang dapat ditimbulkan saat bencana dan pasca bencana ?
10.Penanganan awal korban bencana pada skenario ?
11.Kebijakan nasional untuk pencegahan bencana gempa?

STEP 3 dan 4
9. penyakit yang biasa di alami
-

Gempa : fraktur , trauma psikis


Banjir : diare, DBD, Malaria,
Gunung meletus : ISPA, luka bakar, trauma inhalasi, tetanus

3. tangga darurat
-

Rehabilitasi
Rekonstruksi
Prevalensi
Mitigasi : meminimalkan dampak terjadinya bencana
Prepartness
Warning

6. Triage
Prioritas Nol (Hitam) : Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak
mungkin diresusitasi.
- Prioritas Pertama (Merah) : Pasien cedera berat yang memerlukan
tindakan dan transport segera
- Prioritas Kedua (Kuning) : Pasien dengan cedera yang dipastikan tidak
akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat.
- Prioritas Ketiga (Hijau) : Pasien degan cedera minor yang tidak
membutuhkan stabilisasi segera
1. Gedung RS : disesuaikan dengan disaster plan
- Tenaga RS : disesuaikan dengan disaster plan
-

7. Tim medis saat bencana : sesuaikan dengan triase

Koordinasi dengan rumah sakit rujukan


Disesuaikan dengan tiap daerah untuk jalur evakuasi
5. - pelayanan medis
- SDM cadangan
- kebutuhan lpogistik
- Jalur evakuasi
- pendataan penduduk
- sarana komunikasi
- transportasi bagi korban
-rehabilitasi pasca bencana

LEARNING OBJECTIVE
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Persiapan RS dalam menghadapi bencana ?


Komponen apa saja yang dapat digunakan untuk meminimalisir korban ?
Bagaimana persiapan respon pada daerah yang rawan bencana ?
Rujukan korban bencana ?
Penanganan awal korban bencana pada skenario ?
Kebijakan nasional untuk pencegahan bencana gempa?
Etika penanggulangan korban bencana di skenario ?

Jawaban
1. KOMPONEN DISASTER MEDICINE?
Merupakan humanitarian medicine / cabang dari ilmu
kedokteran, yang merujuk pada pertolongan darurat (emergency) dan
aktivitas pelayanan kesehatan. Yang berhubungan dengan populasi
yang terkena dampak, namun tidak berhubungan dengan ideologi
politik dan tidak ada ikatan pemerintah.
KOMPONEN DALAM MANAJEMEN DISASTER MEDICINE?
PREPAREDNESS
Apa tindakan yang dilakukan?

Mempersiapkan respon-respon dari masyarakat, tim


kedokteran atau tim penyelamat dan juga rumah sakit
saat pre-event.

Memikirkan rencana manajemen korban saat post-event.


Apa yang harus disiapkan?

warning system, evakuasi, relokasi, penyimpanan


makanan-air-obat, tenda/tempat tinggal darurat, energi,
pelatihan
Siapa saja yang terlibat dalam persiapan ini?

Petugas medis

Tim penyelamat

Rumah sakit

Komunitas
Apa perencanaan sebelum terjadinya bencana (disaster plan)?

Identifikasi situasi yang dapat merepotkan layanan


kesehatan daerah dan rumah sakit (mencukupi staff dan
sumber daya)

Melakukan koordinasi dengan representative rumah


sakit dan jasa lainnya ataupun siapa saja yang
berwenang.

Membuat
perencanaan
situasi
bencana,
dan
dikoordinasikan ke semua staff.
PREVENTION

Melakukan prevensi pada man-made hazard

MITIGATION

Aktivitas manusia untuk menurunkan proses kerusakan pada


lingkungan dan masyarakat.
Contoh:

Meningkatkan tim kesehatan & tim penyelamat

Melatih masyarakat dengan simulasi bencana

Melakukan pembangunan bangunan tahan gempa.


MODIFICATION

Mengubah natural hazard atau faktor resiko dalam suatu event.


Tapi kita tidak dapat bisa mengontrol semua elemen.
Contoh:

Kita tidak dapat mencegah gempa, tapi kita dapat


mengurangi dampak kerusakan dari gempa itu

Kita tidak dapat mengontrol hujan, tapi kita dapat


mencegah terjadinya longsor.
MENGHILANGKAN FAKTOR RESIKO

Mengurangi kemungkinan efek negatif bila terjadi event


Dengan mengurangi faktor resiko, dapat mengubah:

Sikap anggota

Gaya hidup

Kebudayaan

Faktor lingkungan

Karakteristik masyarakat terhadap kesehatan


MENURUNKAN KERENTANAN & MENINGKATKAN KEOPTIMISAN

2.

Vulnerability kerentanan suatu individu/populasi terhadap


cedera
Resilience pliabilitas, fleksibilitas, atau elastisitas untuk
memahami suatu event. Ada 2 komponen, yaitu:

Tersedia oleh alam

Tersedia melalui aksi manusia Absorbing capacity,


Buffering capacity dan Event response

Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas umum sering mengalami gangguan fungsional maupun
struktural akibat bencana internal (mis., kebakaran, gedung runtuh, dan keracunan) maupun
bencana eksternal (mis., kehadiran pasien/korban dalam jumlah yang besar pada waktu hampir
bersamaan) sehingga rumah sakitpun menjadi lumpuh (kolaps). Selain itu, dalam situasi dan
kondisi bencana ataupun kedaruratan, diperlukan upaya penguatan rumah sakit agar dapat
berfungsi kembali untuk memberikan jaminan pelayanan rujukan bagi masyarakat yang
membutuhkan pertolongan spesialistik. Salah satu bentuk upaya penguatan pelayanan rujukan
adalah melalui pendirian Rumah Sakit Lapangan (RS lapangan) yang diharapkan mampu
mengembalikan fungsi rumah sakit sebagai pusat rujukan korban pada situasi bencana.
Berdasarkan hal tersebut, Departemen Kesehatan RI saat ini telah menempatkan rumah sakit
lapangan di 9 (sembilan) Pusat Penanggulangan Krisis Regional (y.i., Medan, Palembang,
Jakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, dan Makassar) untuk
mempercepat bantuan kesehatan bila terjadi bencana. Keberhasilan pelayanan kesehatan pada
rumah sakit lapangansangat bergantung pada bagaimana pengelolaan yang dilakukan baik pada
tahap persiapan, pelaksanaan dan pascapemanfaatannya.Mengingat kekhususan dan
kompleksitaspengelolaan rumah sakit lapangan pada situasi bencana,kiranya perlu disusun
pedoman teknis pengelolaannya.Pedoman yang disusun diharapkan berkaitan dengan
persiapandan pelaksanaan pendirian rumah sakit lapangan, mekanismeoperasional,
penyimpanan, serta perawatan rumah sakitlapangan dan perlengkapannya. Buku pedoman ini
diharapkan dapat menjadi panduan bagi petugas kesehatan yang bekerja dalam pengelolaan
rumah sakit lapangan untuk bencana. Dengan demikian, pelayanan kesehatan bagi korban
bencana melalui rumah sakit lapangan menjadi lebih baik, efektif, dan efisien. Rumah sakit
lapangan (RS lapangan) merupakan unit pelayanan yang diciptakan untuk membantu fungsi
pelayanan kesehatan rujukan (rawat jalan, rawat inap, UGD, kamar operasi, laboratorium, dll)
yang dilaksanakan dalam kondisi darurat. Dalam pengorganisasian, unit pelayanan tersebut
terdiri dari bagian-bagian yang saling bekerja sama di dalam memberikan pelayanan medik
dasar dan spesialistik baik untuk perorangan maupun kelompok korban bencana. Untuk dapat
menjalankan fungsi secara baik tentunya diperlukan pengorganisasian yang dijabarkan ke
dalam bentuk organisasi dengan tugas dan fungsi masing-masing bagian yang jelas.

3. Banyaknya korban yang membanjiri Rumah Sakit saat terjadi bencana


harus dapat diantisipasi oleh pihak Rumah Sakit, sehingga Rumah Sakit
sebagai tempat rujukan bagi korban bencana harus mampu menjadi
tempat yang aman dan layak untuk para pasien. Untuk meminimalkan
resiko bencana dan mensiasati hal tersebut, institusi kesehatan khususnya
Rumah Sakit harus mempunyai perencanaan dan prosedur untuk
penanganan bencana, sehingga dapat menangani korban dalam jumlah
yang sangat banyak dalam situasi bencana bahkan dapat mengidentifikasi
potensial terjadinya bencana di lingkungan Rumah Sakit. Rumah sakit (RS)
dalam hal ini memegang peranan utama dalam kesiapan menangani
korban bencana. Sayangnya hampir seluruh RS di Indonesia belum
sepenuhnya dapat menangani korban bencana dengan cepat dan tepat.
Hal itu terjadi karena fungsi, struktur, medical support, dan management
support kolap. Di samping itu, masing-masing rumah sakit memiliki cara
penanganan korban yang beragam sehingga belum memiliki keseragaman
dalam penanganan maupun kesiapannya. Rencana tersebut umumnya
disebut sebagai Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit, atau
Hospital Disaster Plan (HDP).

Sedangkan untuk penanganan korban di luar RS, bantuan medis diberikan


dalam
bentuk pengiriman tenaga medis maupun logistik medis yang diperlukan.
Bila
terjadi bencana di Rumah Sakit itu sendiri atau yang disebut Internal
disaster,
seperti contohnya terjadi kebakaran atau bangunan roboh akibat bencana
gempa.
Maka yang kita harapkan dari HDP adalah :
a. Membuat protap yang sesuai
b. Melatih karyawan agar dapat menjalankan protap yang ada
c. Memanfaatkan bantuan dari luar secara optimal
d. Mengembalikan fungsi normal Rumah Sakit secepat mungkin.
Penanggulangan Bencana (PB) sebaiknya bertumpu pada kemampuan
lokal (local resiliencies), oleh karena pada saat awal terjadinya bencana
hanya kemampuan lokal inilah yang selalu ada. Pertolongan dari luar
umumya baru bisa tiba setelah 1 2 hari, bahkan dalam keadaan ekstrem,
bisa sampai satu minggu. Sesuai dengan sistim pemerintahan di Indonesia
saat ini, maka yang dimaksud dengan lokal adalah wilayah kabupaten
yang merupakan unit terdepan dalam sistim otonomi daerah. Pada
penanggulangan bencana, sektor kesehatan hanya merupakan satu
diantara sektor-sektor lain yang harus ditangani. Namun demikian sektor
ini merupakan sektor yang vital karena menyangkut langsung hidup dan
kehidupan manusia. Prosedur Penanggulangan Bencana (disaster plan)
adalah serangkaian prosedur yang sudah disiapkan sebelumnya, untuk
dilakukan bila terjadi bencana. Suatu disaster plan akan dapat dijalankan
hanya bila sesuai dengan kapasitas dan kompetensi, dilatihkan, di
evaluasi, dan diperbaiki secara periodik. Disaster plan regional merupakan
gabungan dari disaster plan dari berbagai sektor/pembentukan tim-tim di
suatu wilayah melalui suatu pelatihan agar mampu menyusun disaster
plan yang kemudian dapat diterapkan. Oleh karena itu, disaster plan di
sektor kesehatan harus
merupakan bagian integral dari suatu disaster plan regional.

4. Pola penanggulangan bencana mendapatkan dimensi baru dengan


dikeluarkannya
Undang-Undang
No.
24
tahun
2007
tentang
Penanggulangan Bencana yang diikuti beberapa aturan pelaksana terkait,
yaitu Peraturan Presiden No. 08 tahun 2008 tentang Badan Nasional
Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 tahun 2008
tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, PP No. 22 tahun
2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, dan PP No.
23 tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga
Asing non Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana. Dimensi baru dari
rangkaian peraturan terkait dengan bencana tersebut adalah:

(1) Penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan


proaktif dimulai dari pengurangan risiko bencana, tanggap darurat,
dan rehabilitasi dan rekonstruksi.

(2) Penanggulangan bencana sebagai upaya yang dilakukan bersama


oleh para pemangku kepentingan dengan peran dan fungsi yang
saling melengkapi.
(3) Penanggulangan bencana sebagai bagian dari proses pembangunan
sehingga mewujudkan ketahanan (resilience) terhadap bencana.
Berbagai kebijakan tersebut telah ditindaklanjuti dengan
pendirian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan
masih akan dilengkapi dengan berbagai peraturan pelaksanaan.
Sementara proses pengembangan kebijakan sedang berlangsung,
proses lain yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa
provinsi dan kabupaten/kota mulai mengembangkan kebijakan,
strategi, dan operasi penanggulangan bencana sesuai dengan arah
pengembangan kebijakan di tingkat nasional.
Upaya penanggulangan bencana di daerah perlu dimulai dengan
adanya kebijakan daerah yang bertujuan menanggulangi bencana sesuai
dengan peraturan yang ada. Strategi yang ditetapkan daerah dalam
menanggulangi bencana perlu disesuaikan dengan kondisi daerah.
Operasi penanggulangan bencana perlu dipastikan efektif, efisien dan
berkelanjutan.

Sistem pendanaan penanggulangan bencana dalam mekanisme


Bakornas PB dilaksanakan melalui anggaran masing-masing
departemen/satuan kerja pemerintah. Apabila dalam pelaksanaan
terdapat kekurangan, maka pemerintah melalui ketua Bakornas PB
dapat melakukan alih anggaran dan mobilisasi dana. Pada
mekanisme tersebut, peranan masyarakat dan lembaga donor tidak
terintegrasi dengan memadai. Dengan adanya perubahan sistem
khususnya melalui BNPB dan BPBD maka alokasi dana untuk
penanggulangan bencana, baik itu di tahap mitigasi hingga
rehabilitasi dan rekonstruksi tetap memiliki alokasi yang cukup
melalui BNPB maupun BPBD. Sementara aturan tentang dana
cadangan juga sudah diatur oleh UU, namun belum memiliki aturan
main yang jelas. Pemerintah perlu merumuskan aturan main ini
dengan segera untuk menghindari kemungkinan penyalahgunaan
dan juga menyusun mekanisme pencairan terutama untuk dana
cadangan tingkat daerah.
Namun demikian besar alokasi anggaran untuk bencana masih akan
menjadi tanda tanya di kemudian hari mengingat alokasi ini diserahkan
kepada kemampuan keuangan daerah, sehingga besar kemungkinan
daerah rawan bencana, namun kemampuan keuangan lemah tetap akan
mengalokasikan dana untuk penanggulangan bencana seadanya,
sehingga akan menimbulkan potensi bencana yang lebih besar lagi. Untuk
itu pemerintah perlu mengambil kebijakan tertentu untuk wilayah dengan
PAD yang kecil namun memiliki potensi bencana yang cukup besar.

Secara lebih rinci perubahan yang terjadi dalam sistem


penanggulangan bencana di Indonesia setelah keluarnya UU No. 24
tahun 2007 tertera dalam tabel berikut ini:

SISTEM LAMA

SISTEM BARU

Dasar
Hukum

Bersifat sektoral

Berlaku umum dan mengikat


seluruh departemen,
masyarakat dan lembaga non
pemerintah

Paradigma

Tanggap darurat

Mitigasi, tanggap darurat,


rehabilitasi dan rekonstruksi

Lembaga

Bakornas PB,
Satkorlak dan
Satlak

BNPB, BPBD PROPINSI, BPBD


Kab/Kota

Peran
Masyarakat

Terbatas

Melibatkan masyarakat secara


aktif

Pembagian
Tanggung
Jawab

Sebagian besar
pemerintah pusat

Tanggung jawab pemerintah


pusat, propinsi dan kabupaten

Perencanaa
n
Pembangun
an

Belum menjadi
bagian aspek
perencanaan
pembangunan

Rencana Aksi Nasional


Pengurangan Resiko Bencana
(RAN PRB)

Rencana Penanggulangan
Bencana (RPB)
Rencana Aksi Daerah
Pengurangan Resiko
Bencana (RAD PRB)

Pendekatan
Mitigasi

Kerentanan

Analilsa resiko
(menggabungkan antara
kerentanan dan kapasitas)

Forum
kerjasama
antar
pemangku
kepentingan

Belum ada

National Platform (akan)

Alokasi
Anggaran

Tanggung jawab
pemerintah pusat

Provincial Platform (akan)

Tergantung pada tingkatan


bencana

Pedoman
Terpecah dan
Penanggulan bersifat sektoral
gan Bencana

Mengacu pada pedoman yang


dibuat oleh BNPB dan BPBD

Keterkaitan
Dengan Tata
Ruang

Aspek bencana harus


diperhitungkan dalam
penyusunan tata ruang

Belum menjadi
aspek

5. Pos medis lanjutan didirikan pada tempat yang cukup dekat untuk
ditempuh dengan berjalan kaki dari lokasi bencana (50-100 ml) dan
daerah tersebut merupakan :
- Aman
- Ada akses langsung kejalan raya tempat evakuasi dilakukan
- Beberapa dekat dengan pos komando
- Berada dalam jangkauan radio komunikasi

Fungsi pos medis lanjutan, disingkat 3T

6. Proses evakuasi/rujukan korban bencana massal

Jangkauan radio komunikasi untuk tim medis dalam bencana massal