Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN KASUS 2

Pasien laki-laki usia 12 tahun, diantar oleh orang tuanya ke RSGMP Unair. Ibunya ingin
anak ini dirawat giginya karena tumbuh berantakan dan gigi taringnya gingsul kanan kiri.
Sebelum melakukan perawatan ortodonti perlu diketahui lebih dahulu diagnosis suatu
maloklusi. Untuk menentukan diagnosis suatu maloklusi perlu dilakukan pemeriksaan yang
seksama untuk mendapatkan data menyeluruh tentang pasien. Diagnosa pada kasus diatas
adalah protrusi, deep bite, gigi berdesakan anterior, caninus rahang atas diluar lengkung
rahang, rotasi dan eksentris gigi 33, 43. Kemungkinan etiologinya adalah tanggal prematur,
letak salah benih dan DDM. Jarak gigit +5 mm dan tumpag gigit +5 mm. Jumlah lebar
mesiodistal 4 insisivus rahang atas adalah 37 mm. Diskrepansi model, tempat yang tersedia
pada rahang atas adalah 74 mm dan rahang bawah 70 mm, sedangkan tempat yang
dibutuhkan pada rahang atas 84,64 mm dan rahang bawah 73 mm. Jumlah kekurangan atau
kelebihan tempat rahang atas 10,64 mm dan rahang bawah -3 mm. Kurva spee positif yaitu 6
mm. Simetri gigi-gigi pada rahang atas adalah gigi 24 lebih mesial dari pada 14 dan rahang
bawah gigi 42 lebih distal daripada 32, 44 lebih mesial daripada 14, 45 lebih mesial daripada
35, 46 lebih mesial daripada 36. Rahang atas gigi 11,22 palatoversi, 13, 23 labioversi pada
rahang bawah 42 palatoversi, 43 labioversi, 33 mesio bukal rotasi eksentris. Terdapat
pergeseran garis median. Supra posisi rahang atas regio posterior. Retrusi rahang atas. Bentuk
lengkung geligi rahang atas dan rahang bawah normal.
Berdasarkan klasifikasi Angle kasus tersebut termasuk dalam kelas 1 gigi berdesakan
anterior atas dan bawah. Gigi berdesakan disebabkan ketidaksesuaian ukuran gigi dan
lengkung geligi. Maloklusi kelas I Angle terdapat relasi anteroposterior yang normal yang
tercermin pada gigi anterior meskipun relasi gigi posterior, misalnya molar pertama
permanen tidak selalu mempunyai relasi kelas I atau netroklusi. Sering disertai dengan gigi
berdesakan yang kebanyakan disebabkan adanya faktor lokal, misalnya kehilangan prematur
gigi sulung. Karena molar kedua sulung rahang bawah merupakan gigi yang selalu tanggal
prematur maka premolar kedua rahang bawah juga sering terletak tidak pada lengkung yang
baik, sering tumbuh dilingual sesuai dengan letak benihnya atau kadang-kadang tidak bisa
mencapai bidang oklusal karena adanya pergesaran molar pertama permanen ke mesial
sehingga premolar kedua kekurangan tempat. Di rahang atas kaninus permanen merupakan
gigi yang tumbuh terakhir sehingga gigi ini sering tumbuh di luar lengkung geligi karena
kekurangan tempat. Kelainan lain yang sering ditemukan adalah adanya gigitan terbuka
dental. Letak gigi-gigi umumnya tidak berpengaruh buruk terhadap kesehatan mulut dalam

jangka panjang kecuali, misalnya insisivus atas yang terletak palatal sering mengalami atrisi
pada bidang labialnya akibat kontak dengan antagonisnya sedangkan pada antagonisnya
dapat terdorong ke labial sehingga terjadi bone dehiscence di labial gigi tersebut.
Bila terdapat gigi yang menghalangi gigitan yang normal sering ditemukan adanya
displacement mandibula terutama ke arah sagital. Apabila lebar lengkung geligi atas dan
bawah sama kemungkinan bisa terjadi gigitan silang posterior karena adanya displacement
mandibula ke lateral.
Gigi berdesakan disebabkan ketidaksesuaian ukuran gigi dan lengkung geligi.
Pertimbangan akan keadaan gigi yang berdesakan bisa diterima atau perlu dilakukan
perawatan untuk menghilangkan berdesakan perlu dipertimbangkan hal-hal seperti derajat
berdesakan yang bisa dinyatakan dalam ukuran milimeter setiap kuadran, keadaan gigi
permanen lainnya dan profil pasien.
Macam perawatan yang dapat dilakukan adalah pencabutan seri pada rahang atas,
karena diskrepansi, tindakan pencabutan ini bertujuan untuk mendapatkan avaible space pada
gigi yang sebelumnya dalam keadaan berdesakan. Tidak ada pencabutan pada rahang bawah
karena diastema. Rencana perawatannya adalah koreksi caninus diastema, koreksi caninus
bertujuan untuk mengembalikan caninus yang terletak diluar lengkung rahang dan
mengembalikan pergeseran garis median. koreksi insisif lateral rahang atas, koreksi gigitan
dalam, koreksi berdesakan rahang bawah, evaluasi dan retensi. Peranti yang digunakan
adalah peranti lepasan rahang atas dan rahang bawah. Pemasangan piranti lepasan juga
bertujuan untuk menutup diastema.