Anda di halaman 1dari 8

1. Penanganan awal pada pasien? BSO untuk pasien (UGD) !

Survei primer
Langkah-langkah dari survei primer dirumuskan oleh ABCDE mnemonic (airway,
pernafasan, sirkulasi / perdarahan, cacat, dan paparan / lingkungan).
Napas adalah prioritas pertama. Menilai dengan menentukan kemampuan
udara untuk lulus terhalang ke paru-paru. Temuan penting termasuk obstruksi jalan
napas karena cedera langsung, edema, atau benda asing dan ketidakmampuan untuk
melindungi jalan napas karena tingkat depresi kesadaran. Pengobatan hanya mungkin
kontrol sekresi dengan suction atau mungkin memerlukan intubasi endotrakeal atau
penempatan jalan napas bedah (misalnya, krikotiroidotomi
Selanjutnya, mengevaluasi pernapasan untuk menentukan kemampuan pasien
untuk ventilasi dan oksigenat . Temuan penting termasuk tidak adanya ventilasi
spontan , tidak ada atau asimetris napas suara ( konsisten dengan baik pneumothorax
atau endotrakeal tube malposisi ) , dyspnea , hyperresonance atau kusam pada perkusi
dada ( menunjukkan tension pneumothorax atau hemothorax ) , dan dinding dada
ketidakstabilan kotor atau cacat yang kompromi ventilasi ( misalnya , mencambuk
dada , mengisap luka dada ) . Perlakukan pneumotoraks , hemotoraks , ketegangan
pneumotoraks , dan mengisap luka dada dengan thoracostomy tabung . Perawatan
awal untuk flail chest adalah ventilasi mekanik , yang sering diperlukan untuk cedera
lain yang terkait dengan ventilasi dan oksigenasi defisit .
Evaluasi sirkulasi dengan mengidentifikasi hipovolemia , tamponade jantung ,
dan sumber-sumber eksternal perdarahan . Periksa vena leher untuk distensi atau
runtuh , menentukan apakah nada auskultasi jantung , dan menentukan apakah
perdarahan eksternal diidentifikasi dan dikendalikan . Memulai pengobatan
hipovolemia dengan cepat menyuntikkan larutan Ringer laktat melalui 2 besar
-menanggung , perifer , IV kateter . Menempatkan mereka yang istimewa dalam
ekstremitas atas . Perlakukan tamponade jantung dengan pericardiocentesis , atau
menempatkan jendela perikardial subxiphoid , segera diikuti dengan pembedahan
untuk mengeksplorasi dan memperbaiki sumber perdarahan. Kontrol pendarahan
eksternal dengan tekanan langsung atau operasi.
Tentukan kecacatan pasien dengan melakukan status mental gross dan
pemeriksaan motorik . Tentukan apakah kepala serius atau sumsum tulang belakang
cedera ada. Menilai status mental kotor menggunakan Skala Koma Glasgow (lihat
Skala kalkulator Glasgow Coma ).
Langkah terakhir dalam survei primer meliputi paparan pasien dan kontrol dari
lingkungan terdekat . Benar-benar menghapus pakaian pasien untuk pemeriksaan fisik
secara menyeluruh . Bersamaan dengan itu, memulai pengobatan untuk mencegah
hipotermia , suatu kondisi yang sering iatrogenik pada pasien terkena di bagian gawat
darurat ber-AC. Perlakukan profilaksis dengan pemberian menghangatkan cairan IV ,
selimut , lampu panas , dan hangat selimut udara beredar sesuai kebutuhan.
http://emedicine.medscape.com/article/428723-overview
2. Klasifikasi dari trauma thorax !
Klasifikasi dan Mekanisme
Trauma toraks dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu trauma tembus
atau tumpul.

1. Trauma tembus (tajam)


Terjadi diskontinuitas dinding toraks (laserasi) langsung akibat penyebab
trauma. Terutama akibat tusukan benda tajam (pisau, kaca, dsb) atau peluru. Sekitar
10-30% memerlukan operasi torakotomi.
2. Trauma tumpul
Tidak terjadi diskontinuitas dinding toraks.
Terutama akibat kecelakaan lalu-lintas, terjatuh, olahraga, crush atau blast
injuries.Kelainan tersering akibat trauma tumpul toraks adalah kontusio paru. Sekitar
<10% yang memerlukan operasi torakotomi.
Mekanisme
Akselerasi
Kerusakan yang terjadi merupakan akibat langsung dari penyebab trauma.
Gaya perusak berbanding lurus dengan massa dan percepatan (akselerasi); sesuai
dengan hukum Newton II (Kerusakan yang terjadi juga bergantung pada luas jaringan
tubuh yang menerima gaya perusak dari trauma tersebut.
Pada luka tembak perlu diperhatikan jenis senjata dan jarak tembak;
penggunaan senjata dengan kecepatan tinggi seperti senjata militer high velocity
(>3000 ft/sec) pada jarak dekat akan mengakibatkan kerusakan dan peronggaan yang
jauh lebih luas dibandingkan besar lubang masuk peluru.
Deselerasi
Kerusakan yang terjadi akibat mekanisme deselerasi dari jaringan. Biasanya
terjadi pada tubuh yang bergerak dan tiba-tiba terhenti akibat trauma. Kerusakan
terjadi oleh karena pada saat trauma, organ-organ dalam yang mobile (seperti
bronkhus, sebagian aorta, organ visera, dsb) masih bergerak dan gaya yang merusak
terjadi akibat tumbukan pada dinding toraks/rongga tubuh lain atau oleh karena
tarikan dari jaringan pengikat organ tersebut.
Torsio dan rotasi
Gaya torsio dan rotasio yang terjadi umumnya diakibatkan oleh adanya
deselerasi organ-organ dalam yang sebagian strukturnya memiliki jaringan
pengikat/fiksasi, seperti Isthmus aorta, bronkus utama, diafragma atau atrium. Akibat
adanya deselerasi yang tiba-tiba, organ-organ tersebut dapat terpilin atau terputar
dengan jaringan fiksasi sebagai titik tumpu atau poros-nya.
Blast injury
Kerusakan jaringan pada blast injury terjadi tanpa adanya kontak langsung
dengan penyebab trauma. Seperti pada ledakan bom. Gaya merusak diterima oleh
tubuh melalui penghantaran gelombang energi.
IKABI, ATLS, American College of Surgeon, edisi ke 8, tahun 2008
3. Penanganan untuk gangguan hemodinamik pada pasien?
Selama survei primer, ketika membuat diagnosis dan melakukan intervensi ,
lanjutkan sampai kondisi pasien stabil , hasil pemeriksaan diagnostik selesai , dan
prosedur resusitasi dan operasi yang lengkap . Upaya berkelanjutan ini melibatkan
pemantauan tanda-tanda vital pasien , melindungi jalan napas dengan bantuan

ventilasi dan oksigenasi yang diperlukan , dan memberikan resusitasi dengan cairan
IV dan produk darah .
Pasien dengan beberapa luka-luka mungkin memerlukan beberapa liter
kristaloid selama 24 jam pertama untuk mempertahankan volume intravaskular ,
jaringan dan perfusi organ vital , dan output urin . Berikan darah untuk hipovolemia ,
yang tidak responsif terhadap bolus kristaloid. Jika kehilangan darah yang sedang
berlangsung tidak dikontrol oleh tekanan langsung dan transfusi dengan darah atau
produk darah , operasi atau prosedur berbasis pencitraan mungkin diperlukan untuk
mencapai hemostasis . Titik akhir resusitasi adalah tanda-tanda yang normal penting ,
tidak adanya kehilangan darah , urin yang memadai ( 0,5-1 cc / kg / jam ) , dan tidak
ada bukti disfungsi end - organ . Parameter, seperti tingkat laktat darah dan defisit
basa pada gas darah arteri , dapat membantu dengan pasien yang terluka parah .
Estimated Fluid and Blood Losses Based on Patients Initial Presentation
Class I
Class II
Class III
Class IV
Blood Loss (mL)

Up to 750

750-1500

1500-2000

>2000

Blood Loss (% blood


volume)

Up to 15%

15-30%

30-40%

>40%

Pulse Rate

< 100

>100

>120

>140

Blood Pressure

Normal

Normal

Decreased

Decreased

Pulse Pressure (mm


Hg)

Normal or
increased

Decreased

Decreased

Decreased

Respiratory Rate

14-20

20-30

30-40

>35

Urine Output (mL/h)

>30

20-30

5-15

Negligible

CNS/Mental Status

Slightly anxious Mildly


anxious

Anxious,
confused

Confused,
lethargic

Fluid Replacement
(3:1 rule)

Crystalloid

Crystalloid and
blood

Crystalloid and
blood

Crystalloid

http://emedicine.medscape.com/article/428723-overview
4. Prognosis dari keadaan pasien !
a. Trauma abdomen
Prognosis untuk trauma tumpul abdomen. Tanpa data statistik yang
menggambarkan jumlah kematian diluar rumah sakit. Angka kematian
untukpasien rawat inap berkisar antara 5-10%.
b. Trauma thoraks
Hal ini tergantung dari bagaimana penanganan awal.
http://emedicine.medscape.com/article/1980980-overview
5. Bagaimana penanganan definitif?
Fraktur maksilofasialis

Penggunaan mini plat pada pembedahan fraktur maksilofasial sudah banyak


dilakukan di negara maju karena dapat memberikan fiksasi stabil, namun terdapat
kendala karena saat ini harga plat yang relatif mahal sehingga penggunaannya masih
selektif bagi yang mampu.
Pada fraktur tulang hidung sering terjadi deviasi piramid hidung disertai
deviasi septum. Keadaan ini membutuhkan penanganan septorinoplasti. Deviasi
diatasi dengan septoplasti dan deviasi piramid dengan dengan osteotomi. Tindakan ini
dilakukan bila sudah terjadi kalsifikasi atau sudah lebih dari 2 minggu.
Hal ini disebabkan sudah terjadi kalsifikasi (bone healing), dimulai pada
minggu 2-3 setelah trauma berlangsung. Agar dapat dilakukan reposisi tulang piramid
hidung, tulang hidung harus dilepaskan dari tulang frontal dan tulang maksila dengan
oteotomi.
Prosedur ini dilakukan melalui insisi interkartilago atau hemitranfiksi, setelah
undermining dilakukan osteotomi medial dan lateral melalui irisan tersebut dengan
menggunakan osteotom.
Trauma Thoraks
Penatalaksanaan Trauma Toraks
Prinsip
Penatalaksanaan mengikuti prinsip penatalaksanaan pasien trauma secara
umum (primary survey - secondary survey).
Tidak dibenarkan melakukan langkah-langkah: anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan diagnostik, penegakan diagnosis dan terapi secara konsekutif
(berturutan).
Standar pemeriksaan diagnostik (yang hanya bisa dilakukan bila pasien stabil),
adalah : portable x-ray, portable blood examination, portable bronchoscope. Tidak
dibenarkan melakukan pemeriksaan dengan memindahkan pasien dari ruang
emergency.
Penanganan pasien tidak untuk menegakkan diagnosis akan tetapi terutama
untuk menemukan masalah yang mengancam nyawa dan melakukan tindakan
penyelamatan nyawa.
Pengambilan anamnesis (riwayat) dan pemeriksaan fisik dilakukan bersamaan
atau setelah melakukan prosedur penanganan trauma.
Penanganan pasien trauma toraks sebaiknya dilakukan oleh Tim yang telah
memiliki sertifikasi pelatihan ATLS (Advance Trauma Life Support).
Oleh karena langkah-langkah awal dalam primary survey (airway, breathing,
circulation) merupakan bidang keahlian spesialistik Ilmu Bedah Toraks
Kardiovaskular, sebaiknya setiap RS yang memiliki trauma unit/center memiliki
konsultan bedah toraks kardiovaskular.
Primary Survey
Airway
Assessment : perhatikan patensi airway dengar suara napas perhatikan adanya retraksi
otot pernapasan dan gerakan dinding dada
Management : inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh, lakukan chin-lift dan
jaw thrust, hilangkan benda yang menghalangi jalan napas re-posisi kepala, pasang
collar-neck lakukan cricothyroidotomy atau traheostomi atau intubasi (oral / nasal)
Breathing
Assesment : Periksa frekwensi napas
Perhatikan gerakan respirasi

Palpasi toraks
Auskultasi dan dengarkan bunyi napas
Management: Lakukan bantuan ventilasi bila perlu
Lakukan tindakan bedah emergency untuk atasi tension pneumotoraks,
open pneumotoraks, hemotoraks, flail chest
Circulation
Assesment : Periksa frekwensi denyut jantung dan denyut nadi
Periksa tekanan darah
Pemeriksaan pulse oxymetri
Periksa vena leher dan warna kulit (adanya sianosis)
Management : Resusitasi cairan dengan memasang 2 iv lines
Torakotomi emergency bila diperlukan
Operasi Eksplorasi vaskular emergency
Tindakan Bedah Emergency
Krikotiroidotomi
Trakheostomi
Tube Torakostomi
Torakotomi
Trauma abdomen
Secondary survey dari kasus ini dilakukan kembali pengkajian secara head to
toe, dan observasi hemodinamik klien setiap 15 30 menit bila stabil dan membaik
bisa dilanjutkan dengan observasi setiap 1 jam sekali. Pemasangan cateter pada klien
ini untuk menilai output cairan, terapi cairan yang diberikan dan tentu saja hal penting
lainnya adalah untuk melihat adanya perdarahan pada urine. Pasien dipuasakan dan
dipasang NGT (Nasogastrik tube) utnuk membersihkan perdarahan saluran cerna,
meminimalkan resiko mual dan aspirasi, serta bila tidak ada kontra indikasi dapat
dilakukan lavage.
Monitoring status mental klien perlu dilakukan untuk menilai efektifitas terapi
dan tindakan keperawatan yang dilakukan, bila tindakan yang dilakukan sudah cepat,
tepat dan cermat maka ancaman kematian dan kecacatan pada pasien dengan trauma
abdomen dapat dihindari.
http://emedicine.medscape.com/article/1980980-overview
6. Apa-apa yang kemungkinan cedera di thoraks dan di abdomen?
Trauma thoraks
KELAINAN AKIBAT TRAUMA THORAX
A. Trauma dinding thorax dan paru.
- Fraktur iga. Merupakan komponen dari dinding thorax yang paling sering mngalami
trauma, perlukaan pada iga sering bermakna, Nyeri pada pergerakan akibat
terbidainya iga terhadap dinding thorax secara keseluruhan menyebabkan gangguan
ventilasi. Batuk yang tidak efektif intuk mengeluarkan sekret dapat mengakibatkan
insiden atelaktasis dan pneumonia meningkat secara bermakna dan disertai timbulnya
penyakit paru paru. Fraktur sternum dan skapula secara umum disebabkan oleh
benturan langsung, trauma tumpul jantung harus selalu dipertimbangkan bila ada asa

fraktur sternum. Yang paling sering mengalami trauma adalah iga begian tengah ( iga
ke 4 sampai ke 9 ).
- Flail Chest. terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas
dengan keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga multipel
pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur. Adanya semen flail
chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada.
Jika kerusakan parenkim paru di bawahnya terjadi sesuai dengan kerusakan pada
tulang maka akan menyebabkan hipoksia yang serius. Kesulitan utama pada kelainan
Flail Chest yaitu trauma pada parenkim paru yang mungkin terjadi (kontusio paru).
Walaupun ketidak-stabilan dinding dada menimbulkan gerakan paradoksal dari
dinding dada pada inspirasi dan ekspirasi, defek ini sendiri saja tidak akan
menyebabkan hipoksia. Penyebab timbulnya hipoksia pada penderita ini terutama
disebabkan nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding dada yang tertahan dan trauma
jaringan parunya.. Penilaian hati-hati dari frekuensi pernafasan, tekanan oksigen
arterial dan penilaian kinerja pernafasan akan memberikan suatu indikasi timing /
waktu untuk melakukan intubasi dan ventilasi.
- Pneumotoraks dikibatkan masuknya udara pada ruang potensial antara pleura viseral
dan parietal. Dislokasi fraktur vertebra torakal juga dapat ditemukan bersama dengan
pneumotoraks. Laserasi paru merupakan penyebab tersering dari pnerumotoraks
akibat trauma tumpul. Dalam keadaan normal rongga toraks dipenuhi oleh paru-paru
yang pengembangannya sampai dinding dada oleh karena adanya tegangan
permukaan antara kedua permukaan pleura. Adanya udara di dalam rongga pleura
akan menyebabkan kolapsnya jaringan paru. Gangguan ventilasi-perfusi terjadi
karena darah menuju paru yang kolaps tidak mengalami ventilasi sehingga tidak ada
oksigenasi. Ketika pneumotoraks terjadi, suara nafas menurun pada sisi yang terkena
dan pada perkusi hipesonor. Foto toraks pada saat ekspirasi membantu menegakkan
diagnosis. Terapi terbaik pada pneumotoraks adalah dengan pemasangan chest tube
pada sela iga ke 4 atau ke 5, anterior dari garis mid-aksilaris.
- Pneumothorax terbuka ( Sucking chest wound ) Defek atau luka yang besar plada
dinding dada yang terbuka menyebabkan pneumotoraks terbuka. Tekanan di dalam
rongga pleura akan segera menjadi sama dengan tekanan atmosfir. Jika defek pada
dinding dada mendekati 2/3 dari diameter trakea maka udara akan cenderung
mengalir melalui defek karena mempunyai tahanan yang kurang atau lebih kecil
dibandingkan dengan trakea. Akibatnya ventilasi terganggu sehingga menyebabkan
hipoksia dan hiperkapnia.
- Tension pneumorothorax berkembang ketika terjadi one-way-valve (fenomena
ventil), kebocoran udara yang berasal dari paru-paru atau melalui dinding dada masuk
ke dalam rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi (one-way-valve). Akibat udara
yang masuk ke dalam rongga pleura yang tidak dapat keluar lagi, maka tekanan di
intrapleural akan meninggi, paru-paru menjadi kolaps, mediastinum terdorong ke sisi
berlawanan dan menghambat pengembalian darah vena ke jantung (venous return),
serta akan menekan paru kontralateral. Penyebab tersering dari tension pneumothorax
adalah komplikasi penggunaan ventilasi mekanik (ventilator) dengan ventilasi tekanan
positif pada penderita dengan kerusakan pada pleura viseral. Tension pneumothorax
dapat timbul sebagai komplikasi dari penumotoraks sederhana akibat trauma toraks

tembus atau tajam dengan perlukaan parenkim paru tanpa robekan atau setelah salah
arah pada pemasangan kateter subklavia atau vnea jugularis interna.
- Hemotoraks masif yaitu terkumpulnya darah dengan cepat lebih dari 1.500 cc di
dalam rongga pleura. Hal ini sering disebabkan oleh luka tembus yang merusak
pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada hilus paru. Hal ini juga dapat
disebabkan trauma tumpul. Kehilangan darah menyebabkan hipoksia. Vena leher
dapat kolaps (flat) akibat adanya hipovolemia berat, tetapi kadang dapat ditemukan
distensi vena leher, jika disertai tension pneumothorax. Jarang terjadi efek mekanik
dari adarah yang terkumpul di intratoraks lalu mendorong mesdiastinum sehingga
menyebabkan distensi dari pembuluh vena leher. Diagnosis hemotoraks ditegakkan
dengan adanya syok yang disertai suara nafas menghilang dan perkusi pekak pada sisi
dada yang mengalami trauma. Terapi awal hemotoraks masif adalah dengan
penggantian volume darah yang dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga
pleura. Dimulai dengan infus cairan kristaloid secara cepat dengan jarum besar dan
kemudian pmeberian darah dengan golongan spesifik secepatnya.
B. TRAUMA JANTUNG DAN AORTA.
- Tamponade jantung sering disebabkan oleh luka tembus. Walaupun demikian,
trauma tumpul juga dapat menyebabkan perikardium terisi darah baik dari jantung,
pembuluh darah besar maupun dari pembuluh darah perikard. Perikard manusia terdiri
dari struktur jaringan ikat yang kaku dan walaupun relatif sedikit darah yang
terkumpul, namun sudah dapat menghambat aktivitas jantung dan mengganggu
pengisian jantung. Mengeluarkan darah atau cairan perikard, sering hanya 15 ml
sampai 20 ml, melalui perikardiosintesis akan segera memperbaiki hemodinamik.
Diagnosis tamponade jantung tidak mudah. Diagnosistik klasik adalah adanya Trias
Beck yang terdiri dari peningkatan tekanan vena, penurunan tekanan arteri dan suara
jantung menjauh. Penilaian suara jantung menjauh sulit didapatkan bila ruang gawat
darurat dalam keadaan berisi, distensi vena leher tidak ditemukan bila keadaan
penderita hipovlemia dan hipotensi sering disebabkan oleh hipovolemia.
- Trauma tumpul jantung dapat menyebabkan kontusio otot jantung, ruptur atrium
atau ventrikel, ataupun kebocoran katup. Ruptur ruang jantung ditandai dengan
tamponade jantung yang harus diwaspadai saat primary survey. Kadang tanda dan
gejala dari tamponade lambat terjadi bila yang ruptur adalah atrium. Penderita dengan
kontusio miokard akan mengeluh rasa tidak nyaman pada dada tetapi keluhan tersebut
juga bisa disebabkan kontusio dinding dada atau fraktur sternum dan/atau fraktur iga.
Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan dengan inspeksi dari miokard yang
mengalami trauma. Gejala klinis yang penting pada miokard adalah hipotensi,
gangguan hantaran yang jelas ada EKG atau gerakan dinding jantung yang tidak
normal pada pemeriksaan ekokardiografi dua dimensi.
Trauma abdomen
Pada trauma abdomen biasanya ditemukan kontusio, abrasio, lacerasi dan
echimosis. Echimosis merupakan indikasi adanya perdarahan di intra abdomen.
Terdapat Echimosis pada daerah umbilikal biasa kita sebut Cullens Sign sedangkan
echimosis yang ditemukan pada salah satu panggul disebut sebagai Turners Sign.
Terkadang ditemukan adanya eviserasi yaitu menonjolnya organ abdomen keluar
seperti usus, kolon yang terjadi pada trauma tembus/tajam.

Untuk auskultasi selain suara bising usus yang diperiksa di ke empat kuadran
dimana adanya ekstravasasi darah menyebabkan hilangnya bunyi bising usus,juga
perlu didengarkan adanya bunyi bruits dari arteri renalis, bunyi bruits pada umbilical
merupakan indikasi adanya trauma pada arteri renalis.
Perkusi untuk melihat apakah ada nyeri ketok. Salah satu pemeriksaan perkusi
adalah uji perkusi tinju dengan meletakkan tangan kiri pada sisi dinding thoraks
pertengahan antara spina iliaka anterior superior kemudian tinju dengan tangan yang
lain sehingga terjadi getaran di dalam karena benturan ringan bila ada nyeri
merupakan tanda adanya radang/abses di ruang subfrenik antara hati dan diafraghma.
Selain itu bisa ditemukan adanya bunyi timpani bila dilatasi lambung akut di kuadran
atas atau bunyi redup bila ada hemoperitoneum. Pada waktu perkusi bila ditemukan
Balance sign dimana bunyi resonan yang lebih keras pada panggul kanan ketika klien
berbaring ke samping kiri merupakan tanda adanya rupture limpe. Sedangkan bila
bunyi resonan lebih keras pada hati menandakan adanya udara bebas yang masuk.
Untuk teknik palpasi identifikasi kelembutan, kekakuan dan spasme hal ini
dimungkinkan diakibatkan karena adanya massa atau akumulasi darah ataupun cairan.
biasanya ditemukan defans muscular, nyeri tekan, nyeri lepas.
Gejala/tanda dari trauma abdomen sangat tergantung dari organ mana yang
terkena, bila yang terkena organ-organ solid (hati dan lien) maka akan tampak gejala
perdarahan secara umum seperti pucat, anemis bahkan sampai dengan tanda-tanda
syok hemoragic. Gejala perdarahan di intra peritoneal akan ditemukan klien mengeluh
nyeri dari mulai nyeri ringan sampai dengan nyeri hebat, nyeri tekan dan kadang nyeri
lepas, defans muskular (kaku otot), bising usus menurun, dan pada klien yang kurus
akan tampak perut membesar, dari hasil perkusi ditemukan bunyi pekak.
Bila yang terkena organ berlumen gejala yang mungkin timbul adalah
peritonitis yang dapat berlangsung cepat bila organ yang terkena gaster tetapi gejala
peritonitis akan timbul lambat bila usus halus dan kolon yang terkena. Klien
mengeluh nyeri pada seluruh kuadran abdomen, bising usus menurun, kaku otot
(defans muskular), nyeri tekan, nyeri lepas dan nyeri ketok.
Pada trauma ginjal biasanya ada hematuri, nyeri pada costa vertebra, dan pada
inspeksi biasanya jejas (+). Pada kasus trauma abdomen ini yang paling mendapat
prioritas tindakan adalah bila terjadi perdarahan di intra abdomen (yang terkena organ
solid).
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/kegawatdaruratan.pdf