Anda di halaman 1dari 12

STATUS PASIEN

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RSUD UNDATA PALU
I. IDENTITAS PASIEN
1) Nama Pasien
2) Umur
3) Jenis Kelamin
4) Alamat
5) Agama
6) Tanggal Pemeriksaan
II.

: Tn. SM
: 70 tahun
: Laki-laki
: Tondo
: Kristen
: 24 Agustus 2015

ANAMNESIS
1) Keluhan Utama :
Gatal-gatal di bagian perut
2) Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke poli kulit dan kelamin RSUD Undata
dengan keluhan gatal-gatal di bagian perut yang dirasakan 3
bulan yang lalu. Awalnya timbul bercak merah kecil di lipatan paha
yang sangat gatal sehingga pasien sering menggaruknya. Bercak
tersebut semakin hari semakin melebar. Gatal hilang timbul dan
bertambah gatal saat berkeringat. Pasien juga mengeluh gatal pada
bagian lehernya. Pasien juga mengeluh gatal pada kedua tungkai
bawah.
3) Riwayat penyakit dahulu:
Pasien tidak pernah

mengalami

riwayat

yang

sama

sebelumnya. Pasien memiliki riwayat penyakit kolesterol dan DM.


Untuk riwayat penggunaan minyak gosok/balsem/telon tidak
ditanyakan oleh pemeriksa.
4) Riwayat penyakit keluarga:
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit serupa
dengan pasien.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
1. Keadaan umum
2. Status Gizi
3. Kesadaran

: Sakit ringan
: Baik
: Komposmentis

Tanda-tanda Vital
Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

Respirasi

: 22 x/menit

Suhu

: 36,5C

Status Dermatologis
Ujud Kelainan Kulit :
1. Kepala :
Tidak terdapat ujud kelainan kulit
2. Leher : Terdapat makula eritema berbatas tegas
ukuran

lentikular

dengan

skuama

pitiriasiformis
3. Dada : Tidak terdapat ujud kelainan kulit
4. Perut : Terdapat makula eritema dengan vesikel
yang miliar
5. Punggung
: Tidak terdapat ujud kelainan kulit
6. Genitalia
: Tidak terdapat ujud kelainan kulit
7. Inguinal
: Tidak terdapat ujud kelainan kulit
8. Ekstremitas Atas
: Tidak terdapat ujud kelainan
kulit
9. Ekstremitas bawah

Terdapat

hiperpigmentasi

IV.

GAMBAR

Gambar 1. Makula eritema disertai skuama pitiriasiformis

makula

Gambar 2. Makula eritema dengan vesikel yang miliar

V.

Gambar 3. Patch hiperpigmentasi


RESUME
Tn. SM 70 tahun datang ke poli kulit dan kelamin RSUD Undata
dengan keluhan gatal-gatal di bagian perut yang dirasakan 3 bulan yang
lalu. Awalnya timbul bercak merah kecil di lipatan paha yang sangat gatal
sehingga pasien sering menggaruknya. Bercak tersebut semakin hari
semakin melebar. Gatal hilang timbul dan bertambah gatal saat berkeringat.
Pasien juga mengeluh gatal pada bagian lehernya. Pasien juga mengeluh
gatal pada kedua tungkai bawah.
Selain itu, pasien memiliki riwayat penyakit kolesterol dan DM.
Namun penyakit kolesterol dan Dmnya terkontrol. Untuk riwayat
penggunaan minyak gosok/balsem/telon tidak ditanyakan oleh pemeriksa.
Pasien datang dengan keadaan umum sakit ringan, status gizi baik,
dan kesadaran komposmentis. Tanda-tanda vital seperti tekanan darah
130/80 mmHg dan yang lainnya dalam batas normal. Pada pemeriksaan

fisik, didapatkan ujud kelainan kulit berupa terdapat makula eritema dengan
skuama pitiriasiformis pada bagian leher, terdapat makula eritema dengan
vesikel yang miliar pada bagian perut dan terdapat patch hiperpigmentasi
pada bagian ekstremitas bawah.
VI.
VII.

VIII.

IX.

DIAGNOSIS KERJA
Dermatitis seboroik
DIAGNOSIS BANDING
1. Dermatitis kontak alergi
2. Kandidosis
ANJURAN
1. Tes Patch
2. Tes lampu wood
PENATALAKSANAAN
Non medikamentosa:
Menjaga kebersihan badan dan pakaian
Tidak mengguna kan pakaian yang ketat dan lembab
Tidak menggunakan alat pribadi secara bersama-sama, misalnya

pakaian atau handuk


Mencegah terjadinya stres emosional
Banyak istirahat
Mengatur pola makan

Medikamentosa:

X.

Topikal
Sistemik
PROGNOSIS

: Krim ketokonazol 2 x 1
: Prednison 20-30 mg/ hari

Quo ad vitam

: bonam

Quo ad fungtionam

: bonam

Quo ad sanationam

: bonam

Quo ad cosmetikam

: bonam

PEMBAHASAN
Tn. SM 70 tahun datang ke poli kulit dan kelamin RSUD Undata
dengan keluhan gatal-gatal di bagian perut yang dirasakan 3 bulan yang
lalu. Awalnya timbul bercak merah kecil di lipatan paha yang sangat gatal
sehingga pasien sering menggaruknya. Bercak tersebut semakin hari
semakin melebar. Gatal hilang timbul dan bertambah gatal saat berkeringat.
Pasien juga mengeluh gatal pada bagian lehernya. Pasien juga mengeluh
gatal pada kedua tungkai bawah.
Selain itu, pasien memiliki riwayat penyakit kolesterol dan DM.
Namun penyakit kolesterol dan Dmnya terkontrol.
Pasien datang dengan keadaan umum sakit ringan, status gizi baik,
dan kesadaran komposmentis. Tanda-tanda vital seperti tekanan darah
130/80 mmHg dan yang lainnya dalam batas normal. Pada pemeriksaan
fisik, didapatkan ujud kelainan kulit berupa terdapat makula eritema dengan
skuama pitiriasiformis pada bagian leher, terdapat makula eritema dengan
vesikel yang miliar pada bagian perut dan terdapat patch hiperpigmentasi
pada bagian ekstremitas bawah.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis
sebagai dermatitis seboroik.

Istilah dermatitis seboroik (D.S.) dipakai untuk segolongan kelainan


kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi di tempattempat seboroik.1
Penyakit ini sering kali dihubungkan dengan peningkatan produksi
sebum (seborrhea) dari kulit kepala dan daerah muka serta batang tubuh
yang kaya akan folikel sebaceous. Dermatitis seboroik sering ditemukan dan
biasanya mudah dikenali. Kulit yang terkena biasanya berwarna merah
muda (eritema), membengkak, ditutupi dengan sisik berwarna kuning
kecoklatan dan berkerak.2,3
Penyakit ini dapat mengenai semua golongan umur, tetapi lebih
dominan pada orang dewasa. Pada orang dewasa penyakit ini cenderung
berulang, tetapi biasanya dengan mudah dikendalikan. Kelainan ini pada
kulit kepala umumnya dikenal sebagai ketombe pada orang dewasa dan
keluar saraf (cradle cap) pada bayi.4
Diagnosis ditegakkan berdasarkan : 3
Dermatitis seboroik pada dewasa (pada usia pubertas, rata-rata
pada usia 18-40 tahun, dapat pada usia tua)3
1. Umumnya gatal
2. Pada area seboroik berupa makula atau plakat, folikular, perifolikular,
atau papulae, kemerahan atau kekuningan, dengan derajat ringan sampai
berat, inflamasi, skuama dan krusta tipis sampai tebal yang kering, basah
atau berminyak.
3.

Bersifat kronis dan mudah kambuh, sering berkaitan dengan

kelelahanm stress, atau paparan sinar matahari. Perjalanan penyakit


biasanya berlangsung dalam waktu yang lama. Periode perbaikan pada
musim panas dan kambuh kembali pada musim dingin. Pembesaran lesi
dapat terjadi sebagai akibat dari perubahan musim terutama efek dari
paparan sinar matahari.
Gambaran klinis yang khas pada dermatitis seboroik ialah skuama
yang berminyak dan kekuningan dan berlokasi di tempat-tempat seboroik.
Psoariasis berbeda dengan dermatitis seboroik karena terdapat
skuama-skuama yang berlapis-lapis, disertai tanda tetesan lilin dan

Auspitz. Tempat predileksinya juga berbeda. Jika psoariasis mengenai


scalp

dibedakan

dengan

dermatitis

seboroik

Perbedaannya

ialah

skuamanya lebih tebal dan putih seperti mika, kelaianan kulit juga pada
perbatasan wajah dan scalp dan tempat-tempat lain sesuai dengan tempat
predileksinya. Psoariasis inversa yang mengenai daerah fleksor juga dapat
menyerupai dermatitis seboroik.
Pada lipatan paha dan perianal dapat menyerupai kandidosis. Pada
kandidosis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan
satelit-satelit di sekitarnya.
Dermatitis seboroik yang menyerang saluran telinga luar mirip
otomikiosis dan otitis eksterna. Pada otomikosis akan terlihat elemen
jamur pada sediaan langsung. Otitis eksterna menyebabkan tanda-tanda
radang, jika kaut terdapat pus.
Untuk penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada dermatitis
seboroik adalah :
1. kulit kepala
Dianjurkan sampo yang mengandung selenium sulfide, imidazoles,
zinc pyrithion, benzoyl peroxide, asam salisilat, tar atau deterjen.
Keraknya dapat diperbaiki dengan pemberian glucocorticosteroid pada
malam hari, atau asam salisilat dalam larutan air. Tinctura, larutan alkohol,
tonik rambut, dan produk sejenis biasanya memicu terjadinya inflamasi
dan harus dihindari.2
2. Wajah dan badan
Pasien harus menghindari salep berminyak dan mengurangi
penggunaan sabun. Larutan alkohol, penggunaan lotion sebelum dan
sesudah cukur tidak dianjurkan. Glucocorticosteroid dosis rendah
(hydrocortison) cepat membantu pengobatan penyakit ini, penggunaan
yang tidak terkontrol akan menyebabkan dermatitis steroid, rebound
phenomenon steroid, steroid rosacea dan dermatitis perioral.2
Dermatitis seboroik adalah salah satu manifestasi klinis yang
sering terjadi pada pasien dengan AIDS. Sehingga merupakan salah satu

lesi tanda dan harus lebih hati-hati dalam menangani pasien dengan resiko
tinggi.
3. Antifungal
Pengobatan antifungal seperti imidazole dapat memberikan hasil
yang baik. Biasanya digunakan 2 % dalam sampo dan cream. Dalam
pengujian yang berbeda menunjukkan 75-95 % terdapat perbaikan. Dalam
percobaan ini hanya ketokonazol dan itakonazol yang dipelajari, imidazole
yang lain seperti econazole, clotrimazol, miconazol, oksikonazol,
isokonazol, siklopiroxolamin mungkin juga efektif. Imidazol seperti obat
antifungal lainnya, memiliki spektrum yang luas, anti inflamasi dan
menghambat sintesis dari sel lemak.2
4. Metronidazole
Metronidazol topikal dapat berguna sebagai pengobatan alternatif
untuk dermatitis seboroik. Metronidazol telah berhasil digunakan pada
pasien dengan rosacea. Tidak ada studi yang formal, dan obat ini hanya
terdaftar sebagai pengobatan untuk rosacea. Rekomendasi ini berdasarkan
pengalaman pribadi.2
Pengobatan sistemik
Kortikosteroid digunakan pada bentuk yang berat, dosis prednisone
20-30 mg sehari. Jika telah ada perbaikan, dosis diturunkan perlahanlahan. Kalau disertai infeksi sekunder diberi antibiotik.
Isotretinoin dapat digunakan pada kasus yang rekalsitran. Efeknya
mengurangi aktivitas kelenjar sebasea. Ukuran kelenjar tersebut dapat
dikurangi sampai 90%, akibatnya terjadi pengurangan produksi sebum.
Dosinya 0,1-0,3 mg per kg berat badan per hari, perbaikan tampak setelah
4 minggu. Sesudah itu diberikan dosis pemeliharaan 5-10 mg per hari
selama beberapa tahun yang ternayta efektif untuk mengontrol
penyakitnya.
Pada D.S. yang parah juga dapat diobati dengan narrow band UVB
(TL-01) yang cukup aman dan efektif. Setelah pemberian terapi 3 x

seminggu selama 8 minggu, sebagian besar penderita mengalami


perbaikan.
Bila pada sediaan langsung terdapat P. ovale yang banyak dapat
diberikan ketokonazol, dosisnya 200 mg per hari.
Pengobatan topical
Pada pitiriasis sika dan oleosa, seminggu 2 3 kali scalp
dikeramasi selama 5 15 menit, misalnya dengan selenium sufida
(selsun). Jika terdapat skuama dan krusta diberi emolien, misalnya krim
urea 10%. Obat lain yang dapat dipakai untuk D.S. ialah :
-

ter, misalnya likuor karbonas detergens 2-5% atau krim pragmatar


resorsin 1-3%
sulfur praesipitatum 4 20%, dapat digabung dengan asam salisilat 3 -

6%
Kortikostreroid, misalnya krim hidrokortison 2 %. Pada kasus dengan
inflamasi yang berat dapat dipakai kostikosteroid yang lebih kuat,
misalnya betametason valerat, asalkan jangan dipakai terlalu lama karena

efek sampingnya.
Krim ketokonazol 2% dapat diaplikasikan, bila pada sediaan langsung
terdapat banyak P. ovale.
Obat-obat tersebut sebaiknya diapakai dalam krim.

Prognosis
Seperti telah dijelaskan pada sebagian kasus yang mempunyai factor konstitusi
penyakit ini agak sukar disembuhkan, meskipun terkontrol.1
Edukasi Pasien
1. Ajari pasien tentang pengendalian daripada pengobatan dermatitis
seboroik
2. Tekankan tentang pentingnya membiarkan sampo medikasi sedikitnya 510 menit sebelum membilas
3. Ajari tentang menggunakan kortikosteroid topikal seperlunya untuk
mengendalikan eritema, skuama, atau rasa gatal.

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda A., Hamzah M, Aisah S. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin,
Edisi V. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
2. Budimulja U, Kuswadji, Basuki S, dkk. 2009. Dermatitis seboroik: Diagnosis
dan

penatalaksanaan

Dermatomikosis.

Jakarta:

Fakultas

Kedokteran

Universitas Indonesia..
3. Mansjoer, A.dkk. 2005. Dermatitis seboroik dalam: Kapita Selekta Kedokteran
Jilid 2. Jakarta: Medis Aesculapius.
4. Barakbah J, Pohan SS, Sukanto H, Martodihardjo S, Agusni I, Lumintang H, et
al. 2007. Dermatitis seboroik. Atlas penyakit kulit dan kelamin. Cetakan ketiga.
Surabaya : Airlangga University Press

REFLEKSI KASUS

AGUSTUS 2015

DERMATITIS SEBOROIK

Nama

: Muh. Rezah Rahim

No. Stambuk : N 111 14 025


Pembimbing : dr. Nur Hidayat, Sp.KK

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU

2015