Anda di halaman 1dari 149

EFLORESENSI

DR MADE SUDARJANA , SPKK

Struktur Integumen

PERLU BELAJAR PENYAKIT KULIT ?

Kasus banyak . !
Bagaimana menegakkan diagnosis ?

Dasar: mengenal morfologi kulit (efloresensi)


mengenal istilah baku yang digunakan
dalam menentukan ukuran, susunan,
distribusi dan penyebarannya

EFLORESENSI
Petunjuk proses patologis komponen kulit dan

sistemik
Perlu kesepakatan internasional untuk
komunikasi
Penting belajar morfologi, ukuran, susunan,
distribusi dan penyebaran dan juga lokasi predileksi
Perlu anamnesis cermat
anamnesis: gatal, nyeri seperti terbakar, rasa tebal,
gangguan estetika, belajar melihat tanda subyektif

Efloresensi

kulit dapat berubah pada waktu


berlangsungnya penyakit. Proses tersebut dapat
merupakan akibat biasa dalam perjalanan proses
patologik.
Kadang-kadang perubahan ini dapat dipengaruhi
keadaan dari luar, misalnya trauma garukan dan
pengobatan yang diberikan, sehingga perubahan
tersebut tidak biasa lagi. Dalam hal ini, gambaran
klinis morfologik penyakit menyimpang dari
biasanya dan sulit dikenali.

PERLU PEMERIKSAAN PENUNJANG ..?

Lab sederhana

Bakterioskopis, histopatologis, imunofluresense,


serologis, uji kulit, biologi molekuler sesuai indikasi

BAHASAN
TEKNIK PEMERIKSAAN
EFLORESENSI

Morfologi dan terminologi


Ukuran
Susunan/ distribusi
Penyebaran

TEKNIK PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan menyeluruh
warna kulit, tipe kulit, sehat tidaknya kulit
penampakan umum kulit berhubungan
melanin, karoten, oxy HB, dan reduce HB
2. Pengamatan lesi yang dikeluhkan, dilanjutkan
seluruh permukaan kulit, mukosa, kuku, rambut
3. Perlu cahaya memadai dan loop

TEKNIK PEMERIKSAAN
Inspeksi Lokasi, morfologi, ukuran , batas lesi
susunan, penyebaran
Palpasi Perubahan warna , kodisi kelembaban
kulit, tekstur kulit dan elastisitas permukaan kulit
(kasar atau halus),
suhu kulit, indurasi, konsistensi,
turgor kulit, rasa nyeri tekan
Pemeriksaan sederhana:
gores kulit, penekanan bula
(nickolsky sign), diaskopi dll

TEKNIK PEMERIKSAAN
MUKOSA : mulut,lidah, genital, konjungtiva

contoh ; SJS, HFMD, penyakit vesikobulosa,


KUKU
: penyakit pada kuku, penyakit diluar
kuku bermanifestasi pada kuku
RAMBUT : masalah pada kulit kepala; radang muara
folikel, percepatan pengelupasan, perubahan warna,
kerusakan batang rambut: mudah patah, kerontokan
rambut, alopesia

Pemeriksan tambahan
TEWL, tewameter, dermoskopi, wood lamp
Yang penting : pemeriksaan dasar kulit kasat mata

atau kaca pembesar atau loop harus dikuasai

Dari anamnesis, pemeriksaan efloresensi dan

pemeriksaan tambahan ditetapkan diagnosis banding


dan terakhir diagnosis kerja
Hasil pengamatan perlu dilengkapi anamnesis terarah
sesuai dugaan diagnosis kerja dan dignosis banding
Anmnesis rinci: awitan, bentuk awak ,lesi,
perkembangannya, apa ada faktor genetik,
predisposisi. Penyakit infeksi perlu tanya sumber,
lingkungan, cara penularan, higiene, faktor penyulit,
pengaruh obat dan makanan

EFLORESENSI PENYAKIT KULIT


Kelainan kulit tampak
Gambaran khas
Pemberian nama udah baku, diakui dan di pakai di

seluruh dunia
Tujuan: menolong dan menetapkan diagnosis klinik

KELOMPOK LESI BERDASAR


LETAK TERHADAP PERMUKAAN KULIT
SAMA RATA (FLAT)

Lebih tinggi

Lebih rendah

Makula:
Hipopimentasi
Hiperpigmentasi
Eritema
Telengiektasi
Purpura
Stakriks eutropi

Papul
Nodus
Urtikaria
Vesikel
Bula
Kista
Skuama
Krusta
Vegetasi
Sikatriks hipertropi

Erosi
Ekskoriasi
Ulkus
Fisura
Fistel
Sinus
Guma
Sikatris atropi

cara pengelompokkan lain


Efloresensi
Primer

Efolresensi
Sekunder

Makula
Papula
Nodus
Vesikula
Bula
Urtika
Tumor
Kista
Plak
Abses

Skuama
Krusta
Erosi
Ekskoriasi
Ulkus
Rhagade
Parut
Keloid
Abses
Likenifikasi
Guma
Hiperpigmentasi
Hipopigmentasi

Eloresensi Kulit Khusus


Kanalikuli
Milia
Komedo
Eksantema
Purpurik
Lesi target
Burrow
Teleangiektasis
Vegetasi
Roseola

MAKULA
Perubahan warna kulit semata-mata
Umumnya berbatas tegas
Penyebab:

a. Pigmen kulit (melanin)


b. Vasodilatasi menyebabkan hiperemi
(eritema, kongesti pembuluh darah
c. Ekstravasasi eritrosit: petekiae, ekimosis,
purpura
d. Pelebaran pembuluh darah dan aliran
bertambah serta permanen (talangiektasi)

PATCH ?

PAPULA
Penonjolan dipermukaan kulit
Konsistensi padat, batas tegas
Ukuran <0,5 cm
Bentuk: kerucut (folikuler), kubah, kasar,

bertangkai, umbilikasi, datar, poligonal


Warna papul: putih, serupa tembaga. Kekuningan
PLAK ?

PLAK
Infiltrat padat, batas tegas, datar, ukuran lebih dari 1

cm

NODUS
Penonjolan infiltrat kulit lebih besar dari papul (>

0,5 cm) infitrat bisa terletak di epidermis atau


subkutan
Contoh: ENL, nodus pada penderita TBC

NODUS/ ABSES

URTIKA
Edema setempat yang muncul mendadak dan

hilang perlahan-lahan
Proses: edema akibat vasodilatasi dan
peningkatan permeabilitas
Klinis: edem batas tegas disertai kemerahan
disekitarnya, pucat bagian tengah, kadang
ada pseudopodi, dermografisme

VESIKEL
Gelembung di permukaan kulit

berisi cairan serosa, batas tegas, punya atap dan


dasar
Ukuran < 0,5 cm
Jenis vesikel tergantung ketebalan dinding. Ada
yang letaknya di epidermis, sub epidermis, sub
corneal
Isi cairan
: serosa, pus, vesikel
Atap
: umbilikasi

KASUS 2

BULA
Vesikel berukuran lebih besar dari 0,5 cm
Isi: bula purulen, bula hemorhagik, bula hipopion,

bula multilokuler

PUSTULA

KISTA
Rongga yang terbentuk kemudian (bukan rongga

alami)
Mempunyai kapsul
Letak bisa di epidermis, dermis, subkutis
Sumber pembentukan:
duktus kelenjar, pembuluh darah,
dinding: epitel atau endotel
Konsistensi: kenyal/keras, fluktuasi, radang ?
Isi : cairan kental, setengah padat
Contoh : epidermal, kista dermal

SKUAMA
Stratum korneum terlepas

primer/ sekunder
Bentuk skuama

a. skuama kasar: psoriasis, eritroderma, iktiosis


b. skuama halus : pitiriasis versikolor / rosea
c. skuama kolaret (sisa atap vesikel atau bula
yang pecah
d. skuama tersusun mirip genting: tinea
imbrikata atau iktiosis lamelaris

KRUSTA
Cairan tubu diatas permukaan kulit yang mengering
Warna mencerminkan asal cairan

kuning, hitam, kuning kehijauan, kekuningan


berminyak mirip mentega (greasy), cradle cap

KRUSTA

VEGETASI
Erupsi kulit yang tumbuh ke permukaan
Asal: bisa dari permukaan kulit atau dari

ulkus
Bentuk: menyerupai papil.papilomatosa
meruncingveruciformis
kasar seperti parutan..verukosa

EROSI
Kehilangan jaringan tak

melebihi stratum basalis.


Secara klinis tampak terlihat
serum
Penyebab: trauma, luka
laserasi, vesikel/ bula yang
pecah

EKSKORIASI
Kehilangan jaringan sampai stratum papilare di

dermis
Secara klinis: ada bintik perdarahan di kulit

ULKUS
Kehilangan jaringan yang melebihi

stratum papilare
Berbentuk mirip cawan, punya tepi,
dinding, plong (ulkus tropik)
Kulit sekitar: tenang, tanda inflamasi akut
atau kronis kronis
Tepi ulkus: datar, meninggi
Dinding: bergaung: ulkus malnutrisi,
ulkus mole, tuberkulosis

FISURA
Kontinuitas kulit hilang sehingga kulit

terbelah tanpa kehilangan jaringan


Bentuk biasanya linear
Penyebab trauma tajam, kekeringan
kulit. peregangan kulit dan pecah
Lokasi sering pada sudut bibir, telapak
kaki, sela jari kaki

SIKATRIKS
Jaringan parut dengan permukaan

licin, halus, berkilat dan tidak


berambut
Bentuk ada yang atropik, eutropik
dan hipertropik
Hipertropik: jaringan sikatrik
tumbuh kesamping dan keatas
melebihi ukuran awal luka.
Keloid: tumbuh sangat berlebihan

SKLEROSIS
Pengerasan kulit dan jaringan dibawahnya
Biasanya difus

LIKENIFIKASI
Penebalan kulitdisertai

relief kulit yang makin


jelas
Contoh: LSK di tengkuk
dan dipergelangan
dorsum pedis

ENANTEM DAN EXANTEMA

Lesi dimukosa atau kuilit yang timbul serentak

dalam waktu yang singkat


Contoh: enantem di palatum durum (sifilis stadium
II), exantema pada varisela, morbili, erupsi obat

SUSUNAN/ KONFIGURASI
LINIER
SIRSINER
ARSINER
POLISIKLIK
IRISFORMIS
KONFLUENS

KORIMBIFORMIS
HERPETIFORMIS
MONOMORF
POLIMORF
MULTIPLE
SOLITER

SUSUNAN/KONFIGURASI
1. LINIER : lesi yang tersusun lurus mirip garis
dermografisme, stratch march
2. SIRSINER : lesi tersusun bundar mirip cincin
3. ARSINER : lesi bebentuk setengah lingkaran atau
mirip busur panah
4. POLISIKLIK: beberapa lesi kulit arsiner bergabung
gabung
5. IRISIFORMIS: menyerupai iris mata

SUSUNAN/KONFIGURASi
6. Konfluens: dua atau beberapa lesi menyatu
7. Korimbiformis: lesi seperti seekor induk ayam dikelilingi
anak anaknya
8. Herpetiformis: beberapa lesi berkumpul disatu tempat
menyerupai lesi herpes
9. Monomorf: kelainan kulit terdiri dari satu jenis morfologi
10. Polimorf : kelainan kulit terdiri dari bermacam
morfologi (umumnya lebih dari dua: contoh, terlihat
eritema, vesikel, erosi, krusta
11. Soliter: hanya ada satu lesi

UKURAN
MILIAR

= jarum pentul
LENTIKULAR = biji kagung
GUTATA
= tetesan air
NUMULAR= uang koin/ logam (500-1000)
PLAKAT
= telapak tangan dewasa

DISTRIBUSI ATAU SEBARAN


REGIONAL=lesi hanya ditemukan disatu tempat aja
UNIVERSALIS= lesi tersebardi seluruh tubuh (90-100%)
GENERALISATA: lesi tersebar disetiap bagian tubuh (umum melebihi 50-

90% luas permukaan tubuh)


BILATERAL: lesi tersebar di kedua belahan tubuh. Tidak perlu persis baik
letak maupun ukurannya
SIMETRIS: lesi tersebar di kedua belahan badan letak , bentuk dan besar
persis sama
UNILATERAL: lesi hanya ditemukan di datu sisi badan
DISEMINATA: Perjalanan dari satu lesi ke bagian lainnya
FAGADENIK: perjalanan meluas ke dalam dan ke samping dari satu lesi awal
DISKRET: lesi tersebar satu persatu ada di mana-mana
SERPIGINOSA: Perjalanan lesi ke satu arah, diikuti penyembuhan disisi yang
ditinggalkan

SISTEMATIKA
INSPEKSI
Lokasi lesi
Morfologi/ efloresensi
Warna dan batas lesi
Ukuran
Susunan/ bentuk masing masing lesi
Penyebaran/ distribusi

PALPASI

SOAL PRAKTIKUM

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

dka

BLOK SISTEM INTEGUMEN


MULAI 2 JULI 2012

HISTOLOGI, PA, FAAL, FARMAKO,

DERMATOLOGI
BAGAIMANA MENDIAGNOSIS KELAINAN
KULIT
KULIT NORMAL
KULIT YANG PATOLOGIS ?

BLOK INTEGUMEN

SISTEM INTEGUMEN
DR. MADE SUDARJANA, SPKK

FUNGSI KULIT
PROTECT
THE
BODYS
INTERNAL
LIVING
TISSUES
AND
ORGANS,
I N F E C T I O U S,
D E H Y D R A T I O N,
ABRUPT CHANGES
IN
T E M P E R A T U R E,
MAINTAIN
H O M E O S T A S I S,
SUNBURN
2.
HELP EXCRETE WASTE MATERIALS THROUGH
PERSPIRATION
3.
ACT AS A RECEPTOR FOR TOUCH, PRESSURE,
PAIN, HEAT, AND
C O L D ( S E E S O M A T O S E N S O R Y S Y S T E M)
4.
GENERATE VITAMIN D THROUGH EXPOSURE
TO ULTRAVIOLET LIGHT
5.
S T O R E W A T E R, F A T, G L U C O S E , A N D
VITAMIN D
6.
MAINTENANCE
OF
THE
BODY
FORM
FORMATION OF NEW CELLS FROM STRATUM
GERMINATIVUM TO REPAIR MINOR INJURIES
7.
AID IN PHYSICAL EXAMINATION AS COLOR OF
THE SKIN MAY
INDICATE MANY CONDITIONS E.G.IT
BECOMES YELLOWISH IN JAUNDICE
1.

The integumentary system is the largest of

the body's organ systems. In humans, this


system accounts for about 12 to 15 percent of
total body weight and covers 1.5-2m2 of
surface area.[3] It distinguishes, separates,
and protects the organism from its
surroundings

Skin Struktur
The human skin (integumentary) is composed of a

minimum of 3 major layers of tissue: the epidermis;


dermis; and hypodermis. The epidermis forms the
outermost layer, providing the initial barrier to the
external environment. Beneath this, the dermis
comprises two sections, the papillary and reticular
layers, and contains connective tissues, vessels,
glands, follicles, hair roots, sensory nerve endings,
and muscular tissue.[4] The deepest layer is the
hypodermis, which is primarily made up of
adipose tissue.

KASUS 1

ISI PEMBELAJARAN
KULIAH
HISTOLOGI, FAAL, PA, FARMAKOLOGI

1. EMBRIOLOGI , STRUKTUR/ HISTOLOGI


2. FUNGSI KULIT
3. PATOFISIOLOGI DASAR
4. FARMAKOLOGI~TERAPI SISTEMIK
Bagian KULIT/ DERMATOLOGI:
1. Efloresensi
2. Terapi Topikal
2. Dermatitis
3. Penyakit kulit eritroskuamosa
4. Penyakit pada kelenjar keringat dan minyak
5. Penyakit infeksi: virus, bakteri, jamur, parasit
6. Penyakit alergi kulit: urtikaria, erupsi obat
7. Kelainan keratinisasi pada kulit
8. Penyakit vesikobulosa
9. Penyakit pada rambut
10 Tumor kulit

PRAKTIKUM
Histologi
PA
Efloresensi
Obat topikal untuk kasus kulit
LAB: KOH, kultur, slit skin smear, insisi abses DLL
Ujian 30 Juli