Anda di halaman 1dari 46

Produk Domestik Regional Bruto

Kecamatan Muara Muntai Tahun 2011

Katalog BPS
Ukuran Buku
Jumlah Halaman

: 939901.6403060
: 25 cm x 17,5 cm
: 43 Halaman

Naskah:
Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik
BPS Kabupaten Kutai Kartanegara

Desain gambar kulit:


Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik
BPS Kabupaten Kutai Kartanegara

Diterbitkan oleh:
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Kartanegara

Boleh mengutip dengan menyebut sumbernya

KATA SAMBUTAN
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT dan atas berkat rahmat
dan karunia-Nya maka buku Produk Domestik Regional Bruto Kecamatan Muara Muntai
Tahun 2011 ini dapat diselesaikan sebagaimana yang diharapkan. Buku ini merupakan hasil
kerjasama antara Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Kutai
Kartanegara dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kutai Kartanegara.
Publikasi ini menyajikan kondisi wilayah, penduduk, pendidikan, dan gambaran
ekonomi Kabupaten Kutai Kartanegara khususnya di Kecamatan Muara Muntai. Gambaran
tersebut

dapat

pembangunan,

digunakan
penentuan

sebagai

salah

kebijaksanaan

satu

dasar

pembangunan

penyusunan
dan

perencanaan

evaluasi

hasil-hasil

pembangunan yang telah dilaksanakan.


Kepada dinas/instansi/lembaga pemerintah serta pihak swasta diharapkan peran
sertanya sebagai sumber data agar selalu memberikan informasi data yang benar, tepat
waktu, serta dapat dipertanggungjawabkan, demi peningkatan kualitas pada penerbitan
yang akan datang.
Akhirnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam memberikan datanya
sehingga buku Produk Domestik Regional Bruto Kecamatan Muara Muntai Tahun 2011 ini
dapat diterbitkan, Kami ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Tenggarong, Desember 2011


KEPALA BAPPEDA
KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA,

Ir. Totok Heru Subroto, M.Si.


NIP. 19630827 199003 1 012

ii

KATA PENGANTAR
Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah menciptakan pertumbuhan
ekonomi dan pemerataan pembangunan, termasuk di dalamnya pemerataan pendapatan
antar daerah. Untuk mencapai sasaran pembangunan tersebut diperlukan perencanaan
pembangunan ekonomi yang baik. Hal tersebut disebabkan karena pada umumnya
pembangunan ekonomi suatu daerah berkaitan erat dengan potensi ekonomi dan
karakteristik yang dimiliki yang pada umumnya berbeda antar satu dengan daerah lainnya.
Oleh karenanya, informasi daerah yang lengkap, akurat dan terkini sangat diperlukan untuk
mewujudkan sasaran pembangunan.
Publikasi Produk Domestik Regional Bruto Kecamatan Muara Muntai Tahun 2011
ini menyajikan kondisi wilayah, penduduk, pendidikan, dan gambaran ekonomi Kabupaten
Kutai Kartanegara khususnya di Kecamatan Muara Muntai. Gambaran tersebut dapat
digunakan sebagai salah satu dasar penyusunan perencanaan pembangunan, penentuan
kebijaksanaan

pembangunan

dan

evaluasi

hasil-hasil

pembangunan

yang

telah

dilaksanakan.
Publikasi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya,
terutama Badan Perencanaan Pembangunan

Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Kutai

Kartanegara, instansi pemerintah lainnya, perguruan tinggi, serta pihak swasta. Kami
menyadari masih perlu penyempurnaan yang harus dilakukan pada penerbitan yang akan
datang. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan. Akhirnya
kepada semua pihak yang telah membantu sehingga publikasi ini dapat diterbitkan, kami
ucapkan terima kasih.
Tenggarong, Desember 2011
KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK
KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Ir. GUNADI IRIANTO


NIP.19621011 199003 1 003

iii

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN .......................................................................................................... ii


KATA PENGANTAR ........................................................................................................iii
DAFTAR ISI .....................................................................................................................iv
DAFTAR TABEL .............................................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................................vi
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................................vii
BAB 1.

PENDAHULUAN.......................................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................... 1


B. Tujuan dan Sasaran ............................................................................ 2
C. Ruang Lingkup dan Sumber Data ...................................................... 2
BAB 2.

KONSEP DAN DEFINISI ............................................................................. 3

BAB 3.

ANALISIS POTENSI WILAYAH DAN SUMBER DAYA MANUSIA ............. 8

A. Kondisi Geografi dan Penduduk ........................................................ 8


BAB 4.

TINJAUAN EKONOMI ................................................................................11

A. Kinerja Perekonomian Kabupaten Kutai Kartanegara ...................... 11


B. Kinerja Perekonomian Kecamatan Muara Muntai ............................ 18
B.1. Struktur Perekonomian Kecamatan Muara Muntai........................ 20
B.2. Potensi Pertanian Kecamatan Muara Muntai ................................ 22
B.3. Pertumbuhan Ekonomi Kecamatan Muara Muntai ........................ 24
B.4. PDRB Per Kapita Kecamatan Muara Muntai ................................ 25
B.5. Perbandingan LPE dan PDRB per Kapita ...................................... 29
LAMPIRAN ....................................................................................................................32

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1.

Luas Wilayah, Jumlah Rukun Tetangga (RT), Jumlah Penduduk,


Dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa/Kelurahan Tahun 2010 ............... 9

Tabel 3.2.

Penduduk Muara Muntai Menurut Desa/Kelurahan, Jenis


Kelamin Dan Rasio Jenis Kelamin Tahun 2010 ...........................................10

Tabel 4.1.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutai Kartanegara Atas


Dasar Harga Berlaku Tahun 2008-2010 (Juta Rupiah) ................................12

Tabel 4.2.

Pertumbuhan Ekonomi Kutai Kartanegara Dengan Migas


Tahun 2008-2010 (Persen) .........................................................................16

Tabel 4.3.

PDRB Kecamatan Atas Dasar Harga Berlaku Di Kabupaten Kutai


Kartanegara Tahun 2010.............................................................................19

Tabel 4.4.

Distribusi PDRB Dengan Migas Setiap Kecamatan Tahun 2010


(Persen) ......................................................................................................21

Tabel 4.5.

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Dengan Migas KecamatanKecamatan Di Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2008-2010
(Persen) ......................................................................................................25

Tabel 4.6.

Perbandingan PDRB Per Kapita ADH Berlaku Dan Konstan


Kecamatan-Kecamatan Di Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun
2009 Dan 2010 (Rupiah) .............................................................................26

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Peta Wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara Menurut Kecamatan ................ 9
Gambar 4.1. Struktur Ekonomi Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2010
Dengan Migas Dan Tanpa Migas ................................................................13
Gambar 4.2. PDRB Per Kapita Dengan Migas Dan Tanpa Migas Atas Dasar
Harga (ADH) Berlaku Dan Konstan Tahun 2003-2010 ................................17
Gambar 4.3. Jumlah Penduduk Dan PDRB Per Kapita Menurut Kecamatan Di
Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2010..................................................28
Gambar 4.4. Plot LPE Dan PDRB Per Kapita Kecamatan-Kecamatan Di
Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2010..................................................30

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Muara


Muntai Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2000 - 2010 (Juta Rupiah) ................................................................33
Lampiran 2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Muara
Muntai Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan
Usaha Tahun 2000 - 2010 (Juta Rupiah) .....................................................34
Lampiran 3. Distribusi Persentase PDRB Dengan Migas Kecamatan Muara
Muntai Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2000 - 2010 (Persen)........................................................................35
Lampiran 4. Pertumbuhan PDRB Kecamatan Muara Muntai Atas Dasar
Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000 2010 (Persen) .............................................................................................36

vii

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perjalanan pemerintahan Kutai Kartanegara berawal dari sebuah pemerintahan
kerajaan. Kesultanan Kutai baru masuk ke wilayah RI pada tahun 1947 dengan status
Daerah Swapraja Kutai dalam Federasi Kaltim, bersama kerajaan lainnya di Kalimantan
seperti Kerajaan Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir. Sebagai Kepala
Daerah pertama diangkatlah Sultan Aji Muhammad Parikesit.
Pada tahun 1953, status daerah Swapraja Kutai dihapuskan dan beralih menjadi
Daerah Istimewa Kutai yang bertahan selama kurang lebih 6 tahun. Ketika status Daerah
Istimewa Kutai dihapus pada tahun 1959, wilayah daerah ini dibagi menjadi 3 Daerah
Tingkat II, yakni Kotamadya Balikpapan, Kotamadya Samarinda dan Kabupaten Kutai.
Sejalan dengan perkembangan otonomi daerah, pada tahun 1999 Kabupaten Kutai
kembali dimekarkan menjadi 4 daerah otonom, yaitu: Kabupaten Kutai, Bontang, Kutai
Barat dan Kutai Timur. Selanjutnya sejak tahun 2002, daerah ini berganti nama menjadi
Kabupaten Kutai Kartanegara.
Dengan luas wilayah 27.263,10 km2 dan luas perairan 4.097 km2, Kutai
Kartanegara merupakan salah satu kabupaten terluas di negeri ini. Meliputi 18 kecamatan
dengan 227 Desa, yang secara geografis daerah ini terbagi dalam tiga zona. Pertama, 5
kecamatan berada di jalur sungai mahakam atau sering disebut wilayah hulu, yakni
Tabang, Kembang Janggut, Kenohan, Muara Wis dan Muara Muntai. Kedua, 6
kecamatan terletak di daerah pesisir, yakni Muara Badak, Marangkayu, Anggana, SangaSanga, Samboja dan Muara Jawa. Ketiga, 7 kecamatan berada di zona tengah, yaitu
Tenggarong, Tenggarong Seberang Loa Kulu, Loa Janan, Sebulu, Muara Kaman, dan
Kota Bangun.
Kondisi geografis yang demikian itu menjadikan daerah ini memiliki ragam potensi
daerah. Mulai dari sumber daya minyak dan gas bumi (migas), pertambangan, pertanian
dalam arti luas (termasuk perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan), hingga
pariwisata. Sehingga dipandang perlu melakukan kajian yang mendalam mengenai
permasalahan dan potensi di masing-masing kecamatan.

B. Tujuan dan Sasaran


Tujuan dari kegiatan penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kecamatan
Muara Muntai Tahun 2011 ini adalah :
1. Bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai bahan pertimbangan
untuk pengambilan keputusan dan kebijakan dalam pengembangan dan
pembangunan;
2. Bagi dunia usaha dapat dijadikan sebagai informasi untuk menanamkan modalnya
di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Sedangkan sasaran dari kegiatan ini adalah memberikan gambaran yang


menyeluruh mengenai kondisi wilayah Kecamatan Muara Muntai sebagai bahan
penyusunan perencanaan pembangunan ke depan.
C. Ruang Lingkup dan Sumber Data
Ruang lingkup penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kecamatan Muara
Muntai ini adalah mencakup wilayah administratif Kecamatan Muara Muntai. Sedangkan
rentang isu yang dibahas mencakup aspek geografi dan kondisi sosial ekonomi
masyarakat. Sumber data yang digunakan dalam penulisan ini sebagian besar berasal dari
hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai
Kartanegara. Juga dilengkapi dengan data dari dinas/instansi yang ada kaitannya dengan
penulisan analisis ini.

KONSEP DAN DEFINISI

Untuk menyamakan konsep dan defenisi yang digunakan dalam publikasi ini, maka
dibawah ini daftar beberapa konsep dan defenisi yang dianggap penting dan melandasi
publikasi ini.
1.

Penduduk
Adalah semua orang yang berdomisili di suatu wilayah geografis selama 6 bulan
atau lebih dan mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk
menetap.

2.

Rumah Tangga
Adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh
bangunan fisik/sensus, dan biasanya tinggal bersama serta makan dari satu dapur.
Yang dimaksud dengan makan satu dapur adalah kebutuhan rumah tangga yang
biasanya diurus bersama menjadi satu.

3.

Anggota Rumah Tangga (ART)


Adalah semua orang yang biasanya bertempat tinggal di suatu rumah tangga, baik
yang berada dirumah waktu pencacahan maupun sementara tidak ada. Anggota
rumah tangga yang telah bepergian selama 6 bulan atau lebih dan anggota rumah
tangga yang bepergian kurang dari 6 bulan tetapi dengan tujuan pindah/akan
meninggalkan rumah selama 6 bulan atau lebih tidak dianggap sebagai anggota
rumah tangga.

4.

Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio =SR)


Perbandingan antara penduduk laki-laki (L) dengan perempuan (P) akan
menghasilkan suatu ukuran yang disebut Rasio Jenis Kelamin atau Sex Ratio (SR).
Rasio jenis kelamin (SR) berbeda antara kelompok umur. Umumnya pada kelompok
umur muda SR di atas 100 artinya lebih banyak lahir laki-laki dibanding perempuan.
Pada kelompok umur selanjutnya, SR semakin turun dan semakin kurang dari 100,
artinya penurunan jumlah penduduk laki-laki lebih cepat dibanding pada penduduk
perempuan. Terjadinya fenomena seperti ini antara lain di sebabkan karena usia
harapan hidup (life expectancy) perempuan lebih panjang dibanding laki-laki.

5.

Sekolah
Yang dimasukkan kedalam kategori sekolah adalah penduduk yang melakukan
kegiatan sekolah. Anak sekolah yang selama seminggu yang lalu sedang berlibur
dan tidak melakukan kegiatan lainnya dimasukkan kedalam kategori sekolah. Tetapi

jika dia bekerja atau mengurus rumah tangga selama seminggu yang lalu tersebut,
dia harus dimasukkan dalam kategori kegiatan lainnya, yaitu bekerja atau mengurus
rumah tangga.
6.

Lapangan Pekerjaan
Adalah bidang kegiatan dari usaha/perusahaan/instansi dimana seseorang bekerja.
Lapangan pekerjaan/usaha ini dibagi dalam 10 golongan yaitu: 1) Pertanian
(termasuk Perburuan, Kehutanan, dan Perikanan); 2)

Pertambangan dan

Penggalian; 3) Industri Pengolahan; 4) Listrik, gas dan Air; 5) Bangunan/Kontruksi;


6)

Perdagangan (termasuk Rumah Makan dan Hotel) 7)

Angkutan dan

Komunikasi; 8) Keuangan, Persewaan dan Asuransi; 9) Jasa; 10) Kegiatan yang


tidak/belum jelas.
7.

Hotel
Adalah suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan / sebagian yang
disediakan secara khusus, dimana setiap orang dapat menginap, makan,
memperoleh pelayanan, dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran.
Ciri khusus dari hotel adalah adanya restoran yang dikelola langsung dibawah
manajemen hotel tersebut.

Kelas hotel ditentukan oleh Direktorat Jenderal

Pariwisata.
8.

Akomodasi Lainnya
Adalah suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan
yang disediakan secara khusus, dimana setiap orang dapat menginap dengan atau
tanpa makan dan memperoleh pelayanan fasilitas lainnya dengan pembayaran.
Akomodasi lainnya meliputi: hotel melati yaitu hotel yang belum memenuhi
persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang ditentukan oleh Direktorat
Jendral Pariwisata, penginapan remaja, pondok wisata dan jasa akomodasi lainnya.

9. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Pasar


Angka PDRB atas dasar harga pasar dapat diperoleh dengan menjumlahkan nilai
tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di
wilayah itu. Yang dimaksud dengan nilai tambah adalah nilai produksi (output)
dikurangi dengan biaya antara. Nilai tambah bruto di sini mencakup komponenkomponen faktor pendapatan (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan),
penyusutan dan pajak tidak langsung netto. Jadi dengan menghitung nilai tambah
bruto dari seluruh sektor tadi, akan diperoleh Produk Domestik Regional Bruto Atas
Dasar Harga Pasar.

10. Produk Domestik Regional Netto (PDRN) Atas Dasar Harga Pasar
Perbedaan antara konsep netto dan konsep bruto di sini ialah karena pada konsep
bruto penyusutan masih termasuk di dalamnya, sedangkan pada konsep netto
komponen penyusutan telah dikeluarkan. Jadi PDRB atas dasar harga pasar
dikurangi penyusutan akan diperoleh Produk Domestik Regional Netto Atas Dasar
Harga Pasar. Penyusutan yang dimaksud di sini ialah nilai susutnya (ausnya)
barang-barang modal yang terjadi selama barang modal tersebut ikut serta dalam
proses produksi. Jika susutnya barang-barang modal dari seluruh sektor ekonomi
dijumlahkan, maka hasilnya merupakan penyusutan yang dimaksud di atas.
11. Produk Domestik Regional Netto (PDRN) Atas Dasar Biaya Faktor
Perbedaan antara konsep biaya faktor dan konsep harga pasar di atas, ialah karena
adanya pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah dan subsidi yang diberikan
oleh pemerintah kepada unit-unit produksi. Pajak tidak langsung ini meliputi pajak
penjualan, bea ekspor, cukai dan lain-lain pajak, kecuali pajak pendapatan dan
pajak perseroan. Pajak tak langsung dari unit-unit produksi, yang biasanya
mengakibatkan naiknya harga.
Jadi pajak tidak langsung dan subsidi mempunyai pengaruh terhadap harga barangbarang, hanya yang satu berpengaruh menaikkan sedang yang lain menurunkan
harga, hingga kalau pajak tidak langsung dikurangi subsidi akan diperoleh pajak
tidak langsung netto. Kalau PDRN atas dasar harga pasar harga pasar dikurangi
dengan pajak tidak langsung netto, maka hasilnya adalah Produk Domestik
Regional Netto Atas Dasar Biaya Faktor.
12. Pendapatan Regional
Dari konsep-konsep yang diterangkan diatas dapat diketahui bahwa PDRN atas
dasar biaya faktor itu sebenarnya merupakan jumlah balas jasa faktor-faktor
produksi yang ikut serta dalam proses produksi diwilayah tersebut. PDRN atas
dasar biaya faktor, merupakan jumlah dari pendapatan yang berupa upah dan gaji,
bunga, sewa tanah dan keuntungan yang timbul, atau merupakan pendapatan yang
berasal dari wilayah tersebut. Akan tetapi pendapatan yang dihasilkan tadi, tidak
seluruhnya menjadi pendapatan penduduk region itu, sebab ada sebagian
pendapatan yang diterima oleh penduduk region lain, misalnya suatu perusahaan
yang modalnya dimiliki oleh orang luar, tetapi perusahaan tadi beroperasi di region
tersebut, maka dengan sendirinya keuntungan perusahaan itu sebagian akan
menjadi milik orang luar, yaitu milik orang yang mempunyai modal tadi. Sebaliknya
kalau ada penduduk region ini menanamkan modal di luar region maka sebagian
keuntungan-keuntungan perusahaan tadi akan mengalir ke dalam region tersebut
dan menjadi pendapatan dari pemilik modal tadi.

Kalau PDRN atas dasar biaya faktor dikurangi dengan pendapatan yang mengalir
tadi, maka hasilnya akan merupakan Produk Regional Netto yaitu merupakan
jumlah pendapatan yang benar-benar diterima (income receipt) oleh seluruh
penduduk yang tinggal di region yang dimaksud. Produk Regional Netto inilah yang
seharusnya merupakan Pendapatan Regional. Akan tetapi untuk mendapatkan
angka-angka tentang pendapatan yang mengalir keluar masuk ini (yang secara
nasional dapat diperoleh dari Neraca Pembayaran Luar Negeri) masih sangat sukar
dilakukan, hingga Produk Region itu terpaksa belum dapat dihitung dan untuk
sementara dalam perhitungan ini dibagi dengan jumlah penduduk yang tinggal di
regional, yang akan menghasilkan suatu pendapatan per kapita.
13. Pendapatan Perorangan dan Pendapatan yang Siap Dibelanjakan
Dari yang diutarakan di atas, maka konsep-konsep yang dipakai dalam pendapatan
Regional dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar (GRDP at market
prices) dikurangi penyusutan akan sama dengan :
b. Produk Domestik Regional Netto atas dasar harga pasar (NRDP at market
prices) dikurangi pajak tidak langsung netto akan sama dengan :
c. Produk Domestik Regional Netto atas dasar biaya faktor (NRDP at factor cost)
ditambah pendapatan netto yang mengalir dari/ke daerah akan sama dengan:
d. Pendapatan

Regional

(Regional

Income)

dikurangi

pajak

pendapatan

perusahaan (cooperate income taxes), keuntungan yang tidak dibagikan


(unditributed profit), iuran kesejahteraan sosial (social security contribution), di
bawah transfer yang diterima oleh rumahtangga, bunga netto atas bunga
pemerintah, akan sama dengan:
e. Pendapatan perorangan (Personal Income) dikurangi pajak rumah tangga, dan
transfer yang dibayarkan oleh rumah tangga akan sama dengan:
f.

Pendapatan yang siap dibelanjakan (Dispossible Income).

Dari uraian diatas terlihat bahwa tidak seluruh pendapatan perorangan diterima oleh
rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh karena pendapatan tersebut sebagian tidak
dibayar kepada rumah tangga, akan tetapi pajak pendapatan perusahaan diterima
oleh pemerintah, keuntungan yang tidak akan dibagikan ditahan perusahaan dan
jaminan sosial dibayarkan kepada instansi yang berwenang. Tetapi sebaliknya
rumahtangga masih menerima tambahan yang merupakan transfer baik dari
pemerintah maupun perusahaan dan bunga netto atas hutang pemerintah. Bila
pendapatan perorangan ini dikurangi dengan pajak yang langsung dibebankan

kepada rumah tangga,

maka hasilnya merupakan pendapatn yang

siap

dibelanjakan (Dispossible Income).


14. Produk Domestik dan Produk Regional
Seluruh produk barang dan jasa yang diproduksi di wilayah domestik, tanpa
memperhatinkan apakah faktor produksinya berasal dari/atau dimiliki oleh penduduk
regional tersebut, merupakan produk domestik region yang bersangkutan.
Pendapatan yang timbul oleh karena adanya kegiatan produksi tersebut merupakan
pendapatan domestik. Yang dimaksud dengan wilayah domestik atau region adalah
meliputi wilayah yang berada di dalam batas geografis region tersebut.
Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian dari faktor produksi yang melakukan
kegiatan produksi di suatu region berasal dari region lain demikian juga sebaliknya
faktor produksi yang dimiliki region tersebut ikut pula dalam proses produksi di
region lain. Hal ini menyebabkan bertambah/berkurangnya nilai produksi domestik
yang diterima penduduk region tersebut. Yang dimaksud dengan produk regional
adalah Produk Domestik ditambah pendapatan dari luar region dikurangi dengan
pendapatan yang dibayar ke luar region tersebut. Jadi produk region merupakan
produk yang ditimbulkan oleh faktor pproduksi yang dimiliki penduduk suatu region.
15. Pendapatan Regional Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan
Seperti telah diuraikan diatas angka-angka pendapatan regional antara lain dapat
dipakai untuk mengukur kenaikan tingkat pendapatan, dimana kenaikan itu
disebabkan oleh dua faktor:
a. Kenaikan

Pendapatan

yang

betul-betul

dapat

menaikkan

daya

beli

penduduk/kenaikan riil.
b. Kenaikan pendapatan yang disebabkan karena adanya inflasi (merosot nilai
uang) kenaikan pendapatan ini tidak menaikkan daya beli penduduk dan
kenaikan seperti ini merupakan kenaikan semu (tidak riil). Oleh karena itu untuk
mengetahui pendapatan yang sebenarnya (riil), maka faktor inflasi terlebih
dahulu harus dikeluarkan dan hasilnya disebut pendapatan regional atas dasar
harga konstan. Pendapatan regional dengan faktor inflasi yang masih ada di
dalamnya merupakan pendapatan regional atas dasar harga berlaku.

ANALISIS POTENSI WILAYAH


DAN SUMBER DAYA MANUSIA
A. Kondisi Geografi dan Penduduk
Kecamatan Muara Muntai dengan luas wilayah 929 km terletak antara 116 31
Bujur Timur 116 35 Bujur Timur serta diantara 018 Lintang Selatan 045 Lintang
Selatan. Di sebelah utara kecamatan ini berbatasan dengan Kabupaten Kutai Barat,
sebelah selatan berbatasan dengan Kec. Loa Kulu, sebelah timur berbatasan dengan
Kec. Muara Wis dan Kec. Kota Bangun, dan di sebelah barat berbatasan dengan
Kabupaten Kutai Barat. Muara Muntai Ulu merupakan ibukota Kecamatan Muara Muntai
yang berada 5 meter diatas permukaan laut. Dengan adanya perkembangan dan
pemekaran wilayah, sekarang kecamatan ini dibagi menjadi 13 desa/kelurahan dan 92
Rukun Tetangga (RT).
Penduduk Muara Muntai tahun 2010 meningkat lebih dari dua ribu jiwa
dibandingkan dengan tahun 2000. Dimana penduduk Muara Muntai berdasarkan hasil
Sensus Penduduk tahun 2000 tercatat 14.566 jiwa, sedangkan pada tahun 2010
meningkat menjadi 17.315 jiwa. Sehingga pertumbuhan penduduk Muara Muntai sekitar
1,74 persen pertahun.
Kepadatan penduduk Kecamatan Muara Muntai pada tahun 2010 sekitar 18,65
jiwa/km2. Tetapi persebarannya tidak merata di seluruh wilayah. Kayu Batu dengan luas
wilayah 430,73 km2 berpenduduk sekitar 1.313 jiwa. Sehingga kepadatan penduduk di
Kayu Batu adalah 3 jiwa/km2. Tj. Batuq Harapan dengan luas wilayah 49,5 km2
berpenduduk sekitar 402

jiwa. Sehingga kepadatan penduduk di Tj. Batuq Harapan

adalah 8 jiwa/km2. Hal ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan Muara Muntai Ulu
dengan luas wilayah 17,1 km2 berpenduduk sekitar 2.089 jiwa. Sehingga kepadatan
penduduk di Muara Muntai Ulu adalah 122 jiwa/km2. Rasio jenis kelamin penduduk lakilaki terhadap penduduk perempuan pada tahun 2010 sebesar 109,99. Hal ini berarti
bahwa diantara 100 penduduk perempuan di Kecamatan Muara Muntai terdapat sekitar
110 penduduk laki-laki.

TABEL 3.1. LUAS WILAYAH, JUMLAH RUKUN TETANGGA (RT), JUMLAH PENDUDUK,
DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT DESA/KELURAHAN TAHUN 2010
Desa/Kelurahan

Luas (Km2)

Jumlah RT

Jumlah
Penduduk

Kepadatan Penduduk
(Jiwa/Km2)

[1]

[2]

[3]

[4]

[5]

104,28

1.876

17

1.

Perian

2.

Muara Leka

24,64

1.680

68

3.

Muara Aloh

44,88

1.009

22

4.

Jantur

52,28

12

1.703

32

5.

Batuq

63,25

633

10

6.

Rebaq Rinding

10,65

896

84

7.

Muara Muntai Ulu

17,10

12

2.089

122

8.

Muara Muntai Ilir

21,70

1.352

62

9.

Kayu Batu

430,73

1.313

10.

Jantur Selatan

53,50

10

2.019

37

11.

Tj Batuq Harapan

49,50

402

12.

Pulau Harapan

12,89

1.175

91

13.

Jantur Baru

43,20

1.168

27

928,60

98

17.315

18

TOTAL
Sumber

Kecamatan Muara Muntai Dalam Angka 2011

01. Samboja
02. Muara Jawa
03. Sanga-Sanga
04. Anggana
05. Muara Badak
06. Marang Kayu
07. Tenggarong Seberang
08. Loa Janan
09. Loa Kulu
10. Tenggarong
11. Sebulu
12. Muara Kaman
13. Kota Bangun
14. Muara Muntai
15. Muara Wis
16. Kenohan
17. Kembang Janggut
18. Tabang

GAMBAR 3.1. PETA WILAYAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA MENURUT KECAMATAN

TABEL 3.2 PENDUDUK MUARA MUNTAI MENURUT DESA/KELURAHAN, JENIS KELAMIN


DAN RASIO JENIS KELAMIN TAHUN 2010
Desa/Kelurahan

Laki-Laki

Perempuan

Laki-Laki +
Perempuan

Rasio Jenis Kelamin

[1]

[2]

[3]

[4]

[5]

1.

Perian

1.062

814

1.876

130,47

2.

Muara Leka

893

787

1.680

113,47

3.

Muara Aloh

551

458

1.009

120,31

4.

Jantur

912

791

1.703

115,30

5.

Batuq

338

295

633

114,58

6.

Rebaq Rinding

458

438

896

104,57

7.

Muara Muntai Ulu

1.056

1.033

2.089

102,23

8.

Muara Muntai Ilir

675

677

1.352

99,70

9.

Kayu Batu

677

636

1.313

106,45

1.054

965

2.019

109,22

10.

Jantur Selatan

11.

Tj Batuq Harapan

210

192

402

109,38

12.

Pulau Harapan

600

575

1.175

104,35

13.

Jantur Baru

603

565

1.168

106,73

TOTAL

9.089

8.226

17.315

110,49

Sumber

Kecamatan Muara Muntai Dalam Angka 2011

10

TINJAUAN EKONOMI
Hingga saat ini perekonomian Kabupaten Kutai Kartanegara masih bergantung
pada sektor primer yaitu sektor pertambangan minyak dan gas bumi (migas) karena
Kutai Kartanegara merupakan salah satu penghasil sumber daya alam (SDA) migas
terbesar di Indonesia. Sektor ini juga merupakan penyumbang terbesar dalam
penerimaan APBD Kabupaten Kutai Kartanegara, melalui dana perimbangan sektor
migas. Tetapi SDA tersebut jika tidak dikelola dengan baik akan segera habis, yang akan
berpengaruh besar terhadap perekonomian di Kutai Kartanegara. Sehingga perlu
disiapkan sumber penghasil devisa yang lain, yang bisa lebih dioptimalkan produksinya
dimasa mendatang. Beberapa diantaranya dari sektor industri, pertanian, jasa, dan
pariwisata.
Tolak ukur kemajuan suatu daerah umumnya dinilai dari tingkat kemajuan sektor
industrinya, karena sektor industri memberikan nilai tambah cukup tinggi dan sekaligus
memberikan kesempatan kerja yang lebih luas sehingga bisa diharapkan menjadi motor
penggerak utama pertumbuhan ekonomi Kutai Kartanegara di masa datang, setelah SDA
yang ada sudah tidak sanggup lagi menjadi andalan sumber pendapatan daerah.
Pembangunan industri diharapkan menjadi bagian dari pembangunan ekonomi jangka
panjang untuk mencapai struktur ekonomi yang semakin seimbang dengan sektor
industri yang maju dan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh. Selanjutnya
diharapkan bahwa proses industrialisasi harus mampu mendorong berkembangnya
industri yang bisa berfungsi sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi, pencipta
lapangan kerja baru, sumber peningkatan ekspor dan penghematan devisa, penunjang
pembangunan sektor-sektor lainnya serta sekaligus sebagai wahana pengembangan dan
penguasaan teknologi.
A. Kinerja Perekonomian Kabupaten Kutai Kartanegara
Akselerasi pertumbuhan ekonomi global pada gilirannya berkontribusi pada
meningkatnya harga komoditas global. Permintaan minyak dunia mengalami kenaikan
dan memicu naiknya harga minyak yang signifikan. Kondisi ini tentunya berakibat
terhadap perekonomian terutama di daerah-daerah penghasil minyak dan gas bumi
seperti Kabupaten Kutai Kartanegara. Sehingga secara umum perekonomian Kutai
Kartanegara yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

11

atas dasar harga berlaku pada tahun 2010 kembali mengalami peningkatan. Nilai PDRB
Kutai Kartanegara sebesar 103,96 triliun rupiah pada tahun 2008, turun menjadi 89,86
triliun rupiah pada tahun 2009, dan kembali meningkat menjadi 98,82 triliun rupiah pada
tahun 2010.
Selama periode tahun 2010, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atau Nilai
Tambah Bruto yang dihitung Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Kutai Kartanegara
mencapai Rp 98,82 trilyun atau mengalami peningkatan sebesar 9,99 persen
dibandingkan tahun sebelumnya, yang sebesar Rp 89,85 trilyun. Sedangkan jika minyak
bumi dan gas alam (migas) dikeluarkan dari penghitungan PDRB, maka nilai PDRB Kutai
Kartanegara juga mengalami peningkatan sebesar 25,17 persen. Pada tahun 2009 PDRB
tanpa migas sebesar Rp 28,06 triliun dan meningkat menjadi Rp 35,13 triliun tahun 2010.
TABEL 4.1 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KUTAI KARTANEGARA ATAS
DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2008-2010 (JUTA RUPIAH)

r)

Lapangan Usaha

2008

Primer

*)

2009

**)

2010

96.466.603

81.330.667

89.114.917

5.030.831

5.536.438

6.261.677

91.435.772

75.794.229

82.853.239

3.732.892

4.066.055

4.482.989

1.088.430

1.144.572

1.260.109

38.407

43.915

47.639

2.606.055

2.877.568

3.175.242

3.759.899

4.449.908

5.220.222

1.995.872

2.343.331

2.823.709

7. Pengangkutan dan Komunikasi

343.002

377.623

424.768

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa


Perusahaan

314.356

340.744

375.106

1.106.669

1.388.209

1.596.639

103.959.393

89.846.631

98.818.128

24.119.805

28.064.537

35.127.952

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan


Perikanan
2. Pertambangan dan Penggalian
Sekunder
3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Gas dan Air Bersih
5. Bangunan
Tersier
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran

9. Jasa-Jasa
P D R B Dengan Migas
P D R B Tanpa Migas
Catatan: r) Angka Revisi

*) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

Sumber : BPS Kabupaten Kutai Kartanegara

Distribusi persensentase PDRB secara sektoral menunjukan peranan masingmasing sektor dalam sumbangannya terhadap PDRB secara keseluruhan. Semakin besar
persentase suatu sektor, semakin besar pula pengaruh sektor tersebut didalam
perkembangan ekonomi suatu daerah. Tingkat kontribusi terhapat pembentukan PDRB

12

dapat memperlihatkan kontribusi nilai tambah setiap sektor, sehingga akan tampak
sektor-sektor yang menjadi pemicu pertumbuhan (sektor andalan) di wilayah yang
bersangkutan. Gambar 4.1 menggambarkan struktur perekonomian Kutai Kartanegara
dengan migas dan tanpa migas pada tahun 2010.
Jika migas dimasukkan dalam penghitungan PDRB, maka sektor pertambangan
berkontribusi sebesar 83,84% terhadap perekonomian Kutai Kartanegara. Tetapi jika
migas tidak dimasukkan dalam perhitungannya, sektor pertambanganpun masih tetap
mendominasi perannya yaitu sebesar 54,55%. Hal ini perlu diwaspadai dalam menjaga
kestabilan pembangunan Kutai Kartanegara dalam jangka panjang.

DENGAN MIGAS

TANPA MIGAS

GAMBAR 4.1 STRUKTUR EKONOMI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2010 DENGAN
MIGAS DAN TANPA MIGAS

13

Secara umum, pertumbuhan ekonomi Kutai Kartanegara pada 2010 menguat


sebesar 1,80 poin yaitu tumbuh sebesar 3,88 persen atau lebih tinggi dibandingkan tahun
2009 yang sebesar 2,08 persen. Sedangkan jika minyak bumi dan gas alam (migas)
dikeluarkan dari penghitungan PDRB, maka pertumbuhannya juga mengalami percepatan
dari 7,04 persen pada tahun 2009 menjadi 12,20 tahun 2010. Hampir semua sektor
mengalami percepatan dalam pertumbuhannya, kecuali sektor Listrik, Gas & Air Bersih
yang melambat pertumbuhan pada 2010.
Sektor Pertanian mampu tumbuh sebesar 3,37 persen pada tahun 2010.
Membaiknya harga-harga komoditi pertanian, mampu memacu semangat petani dan
nelayan Kutai Kartanegara untuk meningkatkan produksinya.

Sub sektor Perikanan

tumbuh sebesar 9,38%, sub sektor Peternakan & Hasil-Hasilnya tumbuh 9,06%, sub
sektor Tanaman Bahan Makanan tumbuh 6,96%, dan sub sektor Perkebunan tumbuh
5,06%. Sub sektor kehutanan merupakan satu-satunya sub sektor pada sektor Pertanian
yang mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) pada tahun 2010. Sedangkan sub
sektor lainnya mampu tumbuh, sehingga secara umum sektor Pertanian juga mengalami
percepatan pertumbuhan pada tahun ini.
Kontraksi sub sektor kehutanan sebesar 3,35 persen. Kontraksi pada sub sektor
kehutanan terjadi karena menurunnya daya dukung hutan Kutai Kartanegara untuk
memenuhi peningkatan keperluan akan kayu. Hal ini menunjukkan bahwa perlu dilakukan
usaha yang lebih keras dalam melakukan pelestarian hutan sehingga hutan Kutai
Kartanegara bisa kembali memenuhi fungsinya sebagai hutan produksi, hutan wisata,
hutan suaka alam, hutan konservasi, dan hutan lindung.
Sebagai salah satu daerah penghasil utama batubara, Kutai Kartanegara memiliki
lahan bekas tambang yang cukup luas dimana umumnya lahan tersebut berada di
kawasan hutan. Walaupun telah ada ketentuan tentang kewajiban pemegang izin
pertambangan menyediakan dana jaminan reklamasi, terlaksananya kegiatan reklamasi
hutan belum tentu terjadi.
Reklamasi hutan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 76 Tahun 2008 adalah
usaha untuk memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi hutan yang rusak
agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya. Hutan bekas
tambang terbuka horizontal pada umumnya memang kondisinya rusak. Oleh karena itu
upaya untuk memulihkan kembali lahan yang rusak ini perlu kesabaran dan
kesungguhan. Selain itu perlu dipersiapkan dengan seksama bibit-bibit tanaman pionir
dalam jumlah yang banyak. Bibit-bibit siap tanam ini dihasilkan dengan menggunakan
media yang mampu menopang kehidupan bibit dalam jangka waktu yang cukup lama

14

untuk hidup di dalam kondisi yang ekstrim. Lapangan yang akan ditanami juga harus
dipersiapkan lubang-lubang tanamannya dengan baik. Selanjutnya lubang tanaman diisi
dengan media seperti yang digunakan untuk media sapih bibit yang akan ditanam. Selain
berupa jenis pionir, seyogyanya tanaman tersebut juga merupakan jenis yang
menghasilkan biji-biji yang berkemampuan tumbuh secara alami begitu jatuh di atas
tanah.
Naiknya permintaan minyak dunia yang diikuti dengan naiknya harga minyak
dunia yang signifikan, belum mampu memicu peningkatan produksi minyak Kutai
Kartanegara pada tahun 2010. Produksi pertambangan minyak bumi dan gas alam Kutai
Kartanegara tahun 2010 mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) sebesar 0,25
persen. Sedangkan pertambangan Batu Bara Kutai Kartanegara tumbuh sebesar 24,03
persen dan sub sektor Penggalian tumbuh sebesar 10,98 persen. Sehingga sektor
Pertambangan secara keseluruhan tahun 2010 pertumbuhannya sebesar 3,10 persen
yang mengalami percepatan dari tahun 2009 dengan pertumbuhannya sebesar 1,60
persen. Sedangkan tanpa minyak bumi dan gas alam, sektor Pertambangan dan
Penggalian pada 2010 mengalami pertumbuhan sebesar 23,02 persen yang menguat dari
tahun 2009 yang tumbuh 13,95 persen.
Sektor Industri pertumbuhannya cenderung berfluktuasi. Mulai tahun 2001 sampai
tahun 2007 laju pertumbuhannya masih berada di sekitar 5 persen. Pada 2008 laju
pertumbuhannya menunjukkan gejala penurunan, dan kembali menguat pada tahun 2009.
Sehingga pada tahun 2010 pertumbuhannya menjadi 5,07%. Kondisi ini sebagian besar
merupakan pengaruh dari menurunnya nilai tambah dari hasil industri Barang Kayu &
Hasil Hutan lainnya yang sangat tajam pada tahun 2008, dimana industri barang ini
mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) sebesar 10,64%. Pada dua tahun berikutnya
industri Barang Kayu & Hasil Hutan lainnya juga masih mengalami kontraksi, tetapi sedikit
mengalami penguatan sehingga pada tahun 2010 industri barang ini kontraksinya sebesar
1,92%. Menurunnya ketersediaan bahan baku diduga sebagai penyebab menurunnya
produksi dari sub sektor industri Bahan Kayu dan Hasil Hutan Lainnya. Sedangkan
Industri

Makanan

dan

Minuman

masih

mengalami

pertumbuhan

yang

cukup

menggembirakan di Kutai Kartanegara, sehingga pada tahun 2010 pertumbuhannya


mencapai 8,22%.
Kinerja sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih agak melambat pada tahun 2010,
dimana kedua sub sektornya yaitu sub sektor Listrik dan sub sektor Air Bersih sama-sama
melambat pertumbuhannya. Sub sektor Listrik tumbuh sebesar 5,61% pada tahun 2010
dan sebesar 11,42% pada tahun 2009. Sedangkan sub sektor Air Bersih tumbuh sebesar
5,67% pada tahun 2010 dan sebesar 8,91% pada tahun 2009. Sehingga secara umum

15

sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih juga mengalami pelambatan dari pertumbuhannya
sebesar 10,87% pada tahun 2009 menjadi 5,62% pada 2010.
Membaiknya kondisi sektor-sektor yang ada pada kelompok primer dan sekunder,
secara langsung maupun tidak langsung telah ikut berperan dalam meningkatkan nilai
tambah sektor-sektor pada kelompok tersier.

Sehingga kinerja sektor tersier Kutai

Kartanegara juga mengalami percepatan pertumbuhan dari 5,30% pada 2009 menjadi
9,91% pada tahun 2010.
Laju pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran meningkat dari 4,88%
pada tahun 2009 mejadi 11,60% pada tahun 2010 dan sektor pengangkutan dan
komunikasi juga menguat dari pertumbuhan sebesar 6,63% menjadi 8,24% pada tahun
2010. Sektor jasa-jasa juga mengalami percepatan dari 6,39% di tahun 2009 menjadi
7,73% di tahun 2010. Sedangkan untuk sektor keuangan, persewaan & jasa perusahaan,
percepatan ini terutama imbas dari naiknya laju pertumbuhan sub sektor Lembaga
Keuangan tanpa Bank yaitu dari 5,34% menjadi 6,28% pada tahun 2010 dan sub sektor
Sewa Bangunan juga mengalami percepatan dari 3,61% menjadi 5,57% pada tahun
2010.
TABEL 4.2 PERTUMBUHAN EKONOMI KUTAI KARTANEGARA DENGAN MIGAS
TAHUN 2008-2010 (PERSEN)

r)

Lapangan Usaha

2008

Primer

*)

2009

**)

2010

3,91

1,51

3,12

-0,82

0,65

3,37

4,39

1,60

3,10

9,98

5,72

6,70

3. Industri Pengolahan

1,67

3,61

5,07

4. Listrik, Gas dan Air Bersih

9,44

10,87

5,62

14,97

6,74

7,56

9,21

5,30

9,91

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran

8,94

4,88

11,60

7. Pengangkutan dan Komunikasi

6,86

6,63

8,24

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa


Perusahaan

5,62

4,29

6,02

13,20

6,39

7,73

P D R B Dengan Migas

4,67

2,08

3,88

P D R B Tanpa Migas

3,91

1,51

3,12

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan


Perikanan
2. Pertambangan dan Penggalian
Sekunder

5. Bangunan
Tersier

9. Jasa-Jasa

Catatan: r) Angka Revisi

*) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

Sumber : BPS Kabupaten Kutai Kartanegara

16

PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menggambarkan besarnya nilai tambah
domestik bruto per penduduk dalam satu tahun secara nominal. Sedangkan PDRB per
kapita atas dasar harga konstan 2000 berguna untuk mengetahui nilai tambah nyata serta
pertumbuhannya. Peningkatan PDRB per kapita atas dasar berlaku selama kurun waktu
2000-2010 menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Hal yang berbeda dengan
PDRB per kapita atas dasar konstan yang mana tingkat pertumbuhannya sangat kecil.
Dengan demikian pertumbuhan tingkat pendapatan riil penduduk Kabupaten Kutai
Kartanegara dari tahun ke tahun belum begitu banyak berarti. Hal tersebut di atas dapat
diamati dari tingkat kenaikan PDRB perkapita atas dasar harga (ADH) berlaku dan ADH
konstan.
Selama lima tahun nilai PDRB per kapita ADH berlaku penduduk di Kabupaten
Kutai Kartanegara mengalami peningkatan cukup tinggi. Tahun 2005 nilainya sebesar Rp.
113.636.663 per tahun dan di tahun 2010 meningkat menjadi Rp. 157.685.147 per tahun
atau rata-rata meningkat sebesar 8,18% setiap tahunnya. Jika komponen migas
dikeluarkan dari penghitungan PDRB, maka besarnya PDRB per kapita ADH berlaku
2005 sebesar Rp. 22.333.017 per tahun dan tahun 2010 sebesar Rp. 56.054.050 per
tahun atau terjadi peningkatan rata-rata sebesar 20,37% setiap tahunnya.

Rupiah
200,000,000
180,000,000
160,000,000
140,000,000
120,000,000
100,000,000
80,000,000
60,000,000
40,000,000
20,000,000
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Dengan Migas ADH Berlaku

Dengan Migas ADH Konstan

Tanpa Migas ADH Berlaku

Tanpa Migas ADH Konstan

GAMBAR 4.2. PDRB PER KAPITA DENGAN MIGAS DAN TANPA MIGAS ATAS DASAR HARGA (ADH)
BERLAKU DAN KONSTAN TAHUN 2000-2010

17

Peningkatan PDRB per kapita ADH berlaku belum menggambarkan peningkatan


secara riil, karena masih adanya pengaruh kenaikan harga atau tingkat inflasi yang terjadi
di wilayah tersebut. Adapun PDRB per kapita atas dasar harga konstan memberi
gambaran pendapatan per kapita penduduk yang riil tanpa dipengaruhi oleh perubahan
harga dan menunjukan perubahan tingkat kesejahteraan penduduk.
Pada tahun 2005 PDRB per kapita riil (jika migas dimasukkan dalam penghitungan
PDRB) sebesar Rp. 53.756.305

per tahun dan di tahun 2010 turun menjadi Rp.

46.409.811 per tahun atau selama lima tahun tersebut PDRB per kapita riil penduduk
Kutai Kartanegara telah mengalami penurunan sebesar 2,84%. Hal tersebut memberi arti
bahwa selama periode tahun 2010 secara riil daya beli masyarakat menurun
dibandingkan daya belinya pada lima tahun yang lalu.
Akan tetapi jika migas dikeluarkan dari penghitungan PDRB, maka dalam kurun
waktu lima tahun ini PDRB riil perkapita masyarakat Kutai Kartanegara masih mengalami
peningkatan. Pada tahun 2005 PDRB per kapita riil sebesar Rp. 12.765.093 per tahun
dan di tahun 2010 naik menjadi Rp. 16.630.417 per tahun atau selama lima tahun
tersebut PDRB per kapita riil penduduk Kutai Kartanegara telah mengalami peningkatan
sebesar 5,46%.
B. Kinerja Perekonomian Kecamatan Muara Muntai
Kinerja Perekonomian Kabupaten Kutai Kartanegara sangat tergantung oleh
kinerja perekonomian kecamatan-kecamatan. Karena pada dasarnya masing-masing
kecamatan memiliki karakteristik perekonomian yang berbeda-beda. Ada kecamatankecamatan yang sangat dominan di sektor tertentu namun lemah di sektor lain. Demikian
pula pencapaian perekonomian di tiap kecamatan sangat tergantung terhadap kebijakan
yang dilakukan baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat lebih tinggi yaitu kebijakan
provinsi maupun di tingkat nasional.
Pada bagian ini akan diuraikan kinerja Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Kecamatan Muara Muntai dibandingkan dengan kecamatan lain di Kabupaten Kutai
Kartanegara berdasarkan perbandingan indikator pokok. Untuk mengamati posisi
relatifnya, dapat dilihat Tabel 4.3.

18

TABEL 4.3. PDRB KECAMATAN ATAS DASAR HARGA BERLAKU DI KABUPATEN KUTAI
KARTANEGARA TAHUN 2010
Dengan Migas
Rank

Kecamatan

PDRB
(Juta Rp)

Tanpa Migas
Share
Rank
(persen)

Kecamatan

PDRB
(Juta Rp)

Share
(persen)

Marang kayu

18.726.131

18,95

1 Tenggarong

5.625.979

16,02

Muara Badak

15.853.843

16,04

2 Sebulu

4.897.466

13,94

Muara Jawa

14.011.537

14,18

3 Tgr. Seberang

4.762.920

13,56

Anggana

10.740.528

10,87

4 Loa Janan

3.306.142

9,41

Samboja

7.342.868

7,43

5 Loa Kulu

2.827.934

8,05

Tenggarong

5.625.979

5,69

6 Kota Bangun

1.929.888

5,49

Sebulu

4.897.466

4,96

7 Muara Jawa

1.880.075

5,35

Sanga-Sanga

4.797.469

4,85

8 Sanga-Sanga

1.764.603

5,02

Tgr. Seberang

4.762.920

4,82

9 Anggana

1.641.931

4,67

10

Loa Janan

3.306.142

3,35

10 Kembang Janggut

1.381.639

3,93

11

Loa Kulu

2.827.934

2,86

11 Samboja

1.277.137

3,64

12

Kota Bangun

1.929.888

1,95

12 Muara Kaman

701.303

2,00

13

Kembang Janggut

1.381.639

1,40

13 Muara Badak

689.515

1,96

14

Muara Kaman

701.303

0,71

14 Muara Muntai

633.184

1,80

15

Muara Muntai

633.184

0,64

15 Marang kayu

528.938

1,51

16

Tabang

476.337

0,48

16 Tabang

476.337

1,36

17

Kenohan

454.119

0,46

17 Kenohan

454.119

1,29

18

Muara Wis

348.843

0,35

18 Muara Wis

348.843

0,99

35.127.952

100,00

KUTAI KARTENGARA

98.818.128

100,00 KUTAI KARTENGARA

Sumber : BPS Kabupaten Kutai Kartanegara

Pada tabel diatas memperlihatkan kontribusi PDRB masing-masing kecamatan terhadap


total PDRB Kabupaten Kutai Kartanega. Pada tahun 2010 PDRB Kutai Kartanegara
dengan migas sebesar 98,82 triliun rupiah dan Kecamatan Muara Muntai sebesar 0,63
triliun rupiah. Sehingga kontribusi PDRB dengan migas Kecamatan Muara Muntai
terhadap PDRB Kutai Kartanegara sebesar 0,64 persen, yang menempati peringkat ke-15
jika dibandingkan dengan kecamatan lain di Kutai Kartanegara. Sedangkan PDRB Kutai
Kartanegara tanpa migas sebesar 35,12 triliun rupiah dan Kecamatan Muara Muntai
sebesar 0,63 triliun rupiah. Sehingga kontribusi PDRB tanpa migas Muara Muntai
terhadap PDRB Kutai Kartanegara sebesar 1,80 persen, yang menempati peringkat ke-14
jika dibandingkan dengan kecamatan lain di Kutai Kartanegara.
Lima besar kecamatan yang mempunyai kontribusi terbesar dalam pembentukan
PDRB dengan migas Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2010 adalah: Marangkayu
(18,95%), Muara Badak (16,04%), Muara Jawa (14,18%), Anggana (10,87%) dan Samboja

19

(7,43%). Adapun lima kecamatan yang mempunyai kontribusi terkecil adalah Muara Wis
(0,35%), Kenohan (0,46%), Tabang (0,48%), Muara Muntai (0,64%) dan Muara Kaman
(0,71%).
Namun demikian apabila dicermati dari PDRB tanpa migas terjadi pergeseran
poisisi yang cukup signifikan. Kontribusi Kecamatan Marangkayu pada PDRB dengan
migas berada pada posisi 1 bergeser menjadi posisi 15 kontribusinya pada PDRB tanpa
migas. Hal yang sama terjadi dengan Kecamatan Muara Badak yang posisinya turun dari
peringkat 2 menjadi 13, Muara Jawa peringkatnya turun dari 3 menjadi 7, Anggana turun
dari peringkat 4 menjadi 9, dan Samboja peringkatnya turun dari 5 menjadi 11. Hal ini
menunjukkan bahwa nilai tambah pertambangan Minyak dan Gas Bumi di lima wilayah
kecamatan tersebut cukup besar.
B.1. Struktur Perekonomian Kecamatan Muara Muntai
Struktur perekonomian di suatu wilayah dapat digambarkan oleh kontribusi dari
masing-masing sektor. Sektor-sektor yang memiliki kontribusi besar menggambarkan
tingginya potensi dari sektor tersebut dalam perekonomian sedangkan sektor-sektor yang
mempunyai kontribusi yang kecil menggambarkan bahwa sektor tersebut kurang
berpotensi terhadap perekonomian wilayah tersebut. Dengan demikian besarnya
kontribusi menggambarkan peran sektor dalam perekonomian. Semakin besar peranan
suatu sektor dalam perekonomian, dapat dikatakan bahwa sektor tersebut sebagai
engine growth atau mesin pertumbuhan ekonomi daerah. Secara umum, di Kabupaten
Kutai Kartanegara yang menjadi mesin pertumbuhannya adalah sektor pertambangan
Minyak dan Gas Bumi. Hal ini terbukti dari peranan sektor ini yang tetap mendominasi
perekonomian

Kabupaten

Kutai

Kartanegara

dari

tahun

ke

tahun.

Disamping

pertambangan Minyak dan Gas Bumi, sektor pertanian juga mempunyai peranan cukup
besar

terhadap

perekonomian

perekonomian

Kabupaten

kecamatan-kecamatan

di

Kutai

Kartanegara.

Kabupaten

Kutai

Adapun

struktur

Kartanegara

memiliki

perbedaan karakteristik yang cukup beragam. Hal ini disebabkan adanya pengaruh
kondisi geografis dan potensi masing-masing wilayah. Kondisi geografis yang sebagian
besar wilayahnya memiliki karakteristik pedesaan, biasanya dominan pada sektor
pertaniannya.
Secara makro tampak bahwa sampai tahun 2010, sektor pertambangan
merupakan sektor dominan terhadap perekonomian Kabupaten Kutai Kartanegara. Sektor
ini memberikan kontribusi sebesar 83,84 persen terhadap perekonomian Kabupaten Kutai
Kartanegara. Sedangkan di Kecamatan Muara Muntai sektor pertanian merupakan sektor
yang dominan dimana kontribusinya sebesar 58,65 persen terhadap perekonomian Muara

20

Muntai. Tabel 4.4 menggambarkan peranan nilai tambah masing-masing sektor terhadap
total PDRB di setiap Kecamatan Tahun 2010 termasuk Migas. Dari tabel tersebut terlihat
bahwa 6 kecamatan yang mempunyai pertambangan migas, potensi ekonominya terpusat
pada sektor tersebut yaitu diatas 85 persen. Enam kecamatan tersebut antara lain
Kecamatan Samboja, Kecamatan Muara Jawa, Kecamatan Sanga Sanga, Kecamatan
Anggana, Kecamatan Muara Badak, dan Kecamatan Marangkayu.
Kecamatan-kecamatan yang mempunyai peranan sektor Pertanian cukup besar
yaitu: Kecamatan Kembang Janggut (46,21 persen), Kecamatan Kota Bangun (23,83
persen), Kecamatan Muara Muntai (58,65 persen), Kecamatan Muara Kaman (67,25
persen), Kecamatan Tabang (73,39 persen), Kecamatan Muara Wis (78,66 persen), dan
Kecamatan Kenohan (78,78 persen).

TABEL 4.4. DISTRIBUSI PDRB DENGAN MIGAS SETIAP KECAMATAN TAHUN 2010 (PERSEN)
Sektor
Kecamatan
Pertanian

Pertambangan
Industri
Dan Penggalian Pengolahan

Total

Bangunan

Perdagangan,
Hotel Dan
Restoran

Lainnya

Samboja

5,04

86,68

0,38

2,57

3,00

2,33

100,00

Muara Jawa

1,62

95,33

0,09

0,86

1,20

0,90

100,00

Sanga-Sanga

1,21

94,04

0,02

2,12

1,34

1,26

100,00

Loa Janan

8,03

71,16

4,00

5,56

5,57

5,67

100,00

Loa Kulu

14,19

71,15

1,35

5,20

4,37

3,72

100,00

Muara Muntai

58,65

0,29

3,32

8,49

17,91

11,34

100,00

Muara Wis

78,66

0,32

0,53

8,47

4,68

7,34

100,00

Kota Bangun

23,83

45,22

1,07

8,83

13,78

7,28

100,00

Tenggarong

4,40

46,47

0,43

21,26

16,08

11,37

100,00

7,04

85,14

1,90

1,38

1,76

2,78

100,00

10,31

75,67

0,89

5,09

3,74

4,31

100,00

Anggana

4,15

88,78

2,31

1,23

2,43

1,10

100,00

Muara Badak

1,50

95,96

0,03

1,14

0,45

0,91

100,00

Marang kayu

1,33

97,24

0,01

0,81

0,20

0,40

100,00

Muara Kaman

67,25

3,76

3,78

5,23

7,34

12,63

100,00

Kenohan

78,78

0,17

0,30

5,26

6,08

9,41

100,00

Kembang Janggut

46,21

0,12

40,68

5,72

2,69

4,58

100,00

Tabang

73,39

0,87

0,08

14,41

2,15

9,10

100,00

6,34

83,84

1,28

3,21

2,86

2,47

100,00

Sebulu
Tgr. Seberang

Kutai Kartanegara

Sumber : BPS Kabupaten Kutai Kartanegara

21

B.2. Potensi Pertanian Kecamatan Muara Muntai


Sektor pertanian yang terdiri dari sub sektor tanaman pangan, perkebunan,
peternakan dan perikanan merupakan potensi sumberdaya alam yang terbarukan
(renewable resources). Adapun hasil dari sektor ini merupakan kebutuhan dasar dalam
pemenuhan terhadap kecukupan gizi masyarakat sehingga dapat mengetahui tingkat
ketahanan pangan di suatu daerah, selain itu juga sebagai salah satu bahan dasar dalam
sektor industri pengolahan.
a) Tanaman Bahan Makanan
Pertanian tanaman bahan makanan merupakan salah satu sektor dimana produk
yang dihasilkan menjadi kebutuhan pokok hidup rakyat. Kecamatan Muara Muntai
sebagian tanahnya juga merupakan tanah pertanian yang memiliki potensi cukup
baik bagi pengembangan tanaman agro industri.
Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Kutai Kartanegara selama tahun 2010
diketahui luas panen tanaman padi di Muara Muntai seluas 565 hektar

yang

menghasilkan sebanyak 2.229 ton padi, terdiri dari 1.156 ton padi sawah dan 1.073
ton padi ladang. Secara umum produksi padi pada tahun 2010 mengalami
peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Produksi padi pada tahun
2009 sebesar 1.715 ton yang terdiri dari 902 ton padi sawah dan 813 ton padi ladang.
Selain padi, Kecamatan Muara Muntai juga potensial dengan tanaman bahan
makanan yang lainnya seperti palawija, sayur-sayuran, dan buah-buah. Produksi
beberapa jenis palawija seperti Jagung sebanyak 320 ton, Ubi Kayu sebanyak 2.834
ton, Ubi Jalar sebanyak 1.156 ton, dan produksi Kacang Tanah sebanyak 104 ton.
Adapun produksi beberapa jenis sayuran seperti Sawi sebanyak 1.650,00 ton,
Kacang Panjang sebanyak 303,90 ton, Cabe Besar sebanyak 492,00 ton, Cabe
Rawit sebanyak 390,78 ton, Tomat sebanyak 0 ton, Terong sebanyak 1.330,78 ton,
Buncis sebanyak 0 ton, Ketimun sebanyak 1.949,80 ton, Kangkung sebanyak
1.330,40 ton, dan produksi Bayam sebanyak 95,13 ton. Sedangkan produksi
beberapa jenis buah-buahan pada tahun 2010 seperti Mangga sebanyak 51,06 ton,
Jambu Biji sebanyak 17,53 ton, Pepaya sebanyak 4,46 ton, Pisang sebanyak 14,04
ton, Nenas sebanyak 1,08 ton, Belimbing sebanyak 0 ton, dan Nangka sebanyak
44,77 ton
b) Tanaman Perkebunan
Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Kartanegara, jumlah
petani yang mengusahakan perkebunan karet di Muara Muntai pada tahun 2010
sekitar 13 kepala keluarga dengan luas areal sekitar 25,0 hektar yang terdiri dari
20,0 hektar tanaman belum menghasilkan, 5,0 hektar tanaman menghasilkan, dan

22

0,0 hektar tanaman tua/tanaman rusak. Produksi karet (perkebunan rakyat) yang
dihasilkan sekitar 5,0 ton.
Produksi kelapa sawit (perkebunan rakyat) di Muara Muntai pada tahun 2010
sekitar 20,0 ton, yang diusahakan oleh sekitar 34 kepala keluarga. Luas areal
perkebunan kelapa sawit sekitar 67,0 hektar yang terdiri dari 62,0 hektar tanaman
belum menghasilkan, 5,0 hektar tanaman menghasilkan, dan 0,0 hektar tanaman
tua/tanaman rusak.
Petani yang mengusahakan perkebunan lada sekitar 0 kepala keluarga dengan
luas areal sekitar 0,0 hektar yang terdiri dari 0,0 hektar tanaman belum
menghasilkan, 0,0 hektar tanaman menghasilkan, dan 0,0 hektar tanaman
tua/tanaman rusak. Produksi lada (perkebunan rakyat) yang dihasilkan sekitar 0,0
ton.
Petani yang mengusahakan perkebunan kopi sekitar 0 kepala keluarga dengan
luas areal sekitar 0,0 hektar yang terdiri dari 0,0 hektar tanaman belum
menghasilkan, 0,0 hektar tanaman menghasilkan, dan 0,0 hektar tanaman
tua/tanaman rusak. Produksi kopi (perkebunan rakyat) yang dihasilkan sekitar 0,0
ton.
Sedangkan produksi kelapa (perkebunan rakyat) di Muara Muntai pada tahun
2010 sekitar 0,0 ton, yang diusahakan oleh sekitar 0 kepala keluarga. Luas areal
perkebunan kelapa sekitar 0,0 hektar yang terdiri dari 0,0 hektar tanaman belum
menghasilkan, 0,0 hektar tanaman menghasilkan, dan 0,0 hektar tanaman
tua/tanaman rusak.
c) Peternakan
Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara, sampai
dengan tahun 2010 pencapaian populasi ternak di Kecamatan Muara Muntai dapat
dibedakan atas populasi Sapi sebanyak 683 ekor, Kerbau 800 ekor, Kambing
sebanyak 146 ekor, dan populasi Babi sebanyak 8 ekor. Untuk pencapaian populasi
unggas dibedakan atas Ayam Buras sebanyak 4.569 ekor, Ayam Potong 0 ekor,
Ayam Petelur 0 ekor, dan populasi Itik sebanyak 635 ekor.
Kebutuhan akan asupan gizi dari protein hewani didapatkan dari daging ternak
dan unggas, dimana pada tahun 2010 produksi daging Sapi mencapai 13.688 Kg,
Kerbau sebesar 21.456 Kg, Kambing sebesar 833 kg dan daging Babi sebesar 0 Kg.
Produksi daging unggas pada tahun 2010 untuk Ayam Buras mencapai 4.176 Kg,
daging Ayam Potong mencapai 0 Kg, daging Ayam Petelur mencapai 0 Kg, dan
daging Itik mencapai 0 Kg. Sedangkan produksi telur ayam buras mencapai 36.141
Kg, telur ayam petelur 0 Kg, dan telur itik mencapai 3.441 Kg.

23

d) Perikanan
Berdasarkan sistem usahanya sub sektor perikanan dibedakan menjadi dua yaitu
perikanan tangkap (nelayan) dan perikanan budidaya, sedangkan berdasarkan lokasi
usaha perikanan tangkap terbagi menjadi penangkapan di perairan laut dan perairan
umum (sungai, danau) sementara perikanan budidaya terbagi menjadi budidaya di
tambak, kolam dan karamba.
Data dari Dinas Perikanan Kabupaten Kutai Kartanegara menunjukkan bahwa
nilai produksi perikanan di Muara Muntai pada tahun 2010 mencapai 263,70 milyar
rupiah, dengan produksi ikan sekitar 14.063,70 ton dan diusahakan oleh sekitar 3.786
rumah tangga. Produksi ikan dari hasil penangkapan sekitar 8.460,10 ton yang
bernilai sekitar 145,72 milyar rupiah dan hasil budidaya sekitar 5.603,60 ton yang
bernilai sekitar 117,98 milyar rupiah.
B.3. Pertumbuhan Ekonomi Kecamatan Muara Muntai
Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) di Kabupaten Kutai Kartanegara pada tahun
2010 mencapai 3,88 persen atau menguat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya
sebesar 2,08 persen. Sedangkan pertumbuhan perekonomian tahun 2010 di masingmasing kecamatan mempunyai pertumbuhan dengan kisaran 0,00 persen sampai 17,60
persen. Pengaruh adanya fluktuasi BBM, krisis global dan turunnya produksi subsektor
kehutanan menjadikan LPE di tiap kecamatan cukup beragam. Kecamatan Muara Muntai
mengalami percepatan LPE selama tiga tahun terakhir yaitu 3,48 persen di tahun 2008
menguat menjadi 3,95 persen di tahun 2009 dan sebesar 7,03 persen di tahun 2010.
Terjadinya percepatan LPE ini terutama disebabkan meningkatnya produksi pertanian
dalam arti luas dan pertambangan batubara di Muara Muntai.
Pada Tabel 4.5 dapat dilihat Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) di masing-masing
kecamatan dengan Migas. Lima besar kecamatan yang laju pertumbuhan ekonominya
paling tinggi tahun 2010 adalah Kecamatan Sebulu (17,60%); Kecamatan Tenggarong
Seberang (16,17%); Kecamatan Loa Kulu (15,10%); Kecamatan Loa Janan (14,80%) dan
Kecamatan Tenggarong (12,46%). Adapun kecamatan-kecamatan yang laju pertumbuhan
paling rendah antara lain: Kecamatan Marangkayu (0,00%); Kecamatan Muara Badak
(0,17%); Kecamatan Muara Jawa (1,42%); Kecamatan Anggana (1,49%) dan Kecamatan
Samboja (1,73%).

24

TABEL 4.5 LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI (LPE) DENGAN MIGAS KECAMATAN-KECAMATAN DI


KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2008-2010 (PERSEN)

No

Kecamatan

Samboja

Muara Jawa

Sanga-Sanga

Loa Janan

Loa Kulu

Muara Muntai

Muara Wis

Kota Bangun

Tenggarong

10

Sebulu

11

Tgr. Seberang

12

Anggana

13

Muara Badak

14

Marang kayu

15

Muara Kaman

16

Kenohan

17

Kembang Janggut

18

Tabang

2008

4,91
4,35
5,00
6,03
6,74
3,48
-0,16
5,48
10,17
4,25
6,89
4,88
4,13
3,98
-0,43
-2,84
4,22
-5,37
4,67

Kutai Kartanegara
Catatan: r) Angka Perbaikan

r)

2009

r)

0,89
0,72
2,73
8,49
8,30
3,95
1,99
5,93
7,91
9,39
9,12
0,86
0,05
-0,04
0,55
0,93
4,50
-1,50
2,08

2010

**)

1,73
1,42
5,05
14,80
15,10
7,03
3,17
11,08
12,46
17,60
16,17
1,49
0,17
0,00
4,52
2,22
5,42
1,52
3,88

**) Angka Sementara

Sumber : BPS Kabupaten Kutai Kartanegara

B.4. PDRB Per Kapita Kecamatan Muara Muntai


PDRB per kapita merupakan rata-rata nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh
setiap penduduk di suatu wilayah pada satu satuan waktu. Indikator PDRB per kapita ini
sering digunakan untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu wilayah
walaupun sebenarnya masih kurang tepat. Semakin besar PDRB per kapita, secara kasar
menunjukkan semakin tingginya tingkat kemakmuran penduduk pada wilayah tersebut,
sebaliknya semakin rendah PDRB per kapita berarti kemakmuran penduduknya semakin
rendah.

25

TABEL 4.6 PERBANDINGAN PDRB PER KAPITA ADH BERLAKU DAN KONSTAN KECAMATANKECAMATAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2009 DAN 2010 (RUPIAH)

Berlaku
Kecamatan
[1]

2009

r)

2010

Konstan
Perubahan
(%)
[4]

**)

[2]

[3]

Samboja

133.319.046

134.694.445

1,03

Muara Jawa

411.053.407

Sanga-Sanga

2009

r)

2010

**)

Perubahan
(%)
[7]

[5]

[6]

42.491.768

41.422.646

-2,52

413.039.439

0,48 124.640.641 120.011.255

-3,71

253.424.823

272.769.437

7,63

73.331.697

73.766.307

0,59

Loa Janan

47.323.773

58.963.496

24,60

13.733.858

15.228.237

10,88

Loa Kulu

56.527.000

70.808.104

25,26

16.289.256

18.112.082

11,19

Muara Muntai

32.249.920

36.568.515

13,39

13.223.594

13.923.147

5,29

Muara Wis

37.246.654

40.766.951

9,45

14.482.443

14.616.695

0,93

Kota Bangun

51.108.573

61.673.518

20,67

17.902.102

19.406.620

8,40

Tenggarong

49.475.089

58.476.640

18,19

17.782.437

19.088.699

7,35

103.478.533

134.471.891

29,95

26.802.659

30.818.586

14,98

61.819.184

77.520.222

25,40

17.646.699

19.659.772

11,41

Anggana

330.423.916

328.577.080

-0,56 104.812.339 100.505.811

-4,11

Muara Badak

400.152.910

397.997.767

-0,54 122.780.118 118.140.960

-3,78

Marang kayu

788.093.215

800.467.268

1,57 240.625.317 236.406.457

-1,75

Muara Kaman

18.623.502

20.681.909

11,05

7.352.086

7.491.886

1,90

Kenohan

41.688.069

46.051.991

10,47

16.994.587

17.311.982

1,87

Kb. Janggut

56.688.945

58.010.608

2,33

25.626.389

24.977.408

-2,53

Tabang

44.352.086

48.075.962

8,40

19.890.262

20.026.452

0,68

148.948.997 157.685.147

5,87

46.413.847

46.409.811

-0,01

Sebulu
Tgr. Seberang

Kukar

Catatan: r) Angka Perbaikan

**) Angka Sementara

Sumber : BPS Kabupaten Kutai Kartanegara

Secara makro, PDRB per kapita atas dasar harga berlaku di Kabupaten Kutai
Kartanegara mengalami peningkatan sebesar 5,87 persen yaitu dari Rp. 148.948.997 di
Tahun 2009 menjadi Rp. 157.685.147 pada tahun 2010, sedangkan PDRB per kapita atas
dasar harga konstan mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) sebesar -0,01 persen
yaitu dari Rp. 46.413.847 tahun 2009 menjadi Rp. 46.409.811 pada tahun 2010. Dari
tabel 4.6 diperlihatkan perkembangan PDRB per kapita di tiap Kecamatan pada tahun
2009 dan 2010, dengan demikian akan tergambarkan perbandingan kesejahteraan
masyarakat antar Kecamatan.
PDRB per kapita atas dasar harga berlaku di Kecamatan Muara Muntai
mengalami kenaikan sebesar 13,39 persen yaitu dari Rp. 32.249.920 di Tahun 2009
menjadi Rp. 36.568.515 pada tahun 2010, sedangkan PDRB per kapita atas dasar harga

26

konstan mengalami kenaikan sebesar 5,29 persen yaitu dari Rp. 13.223.594 tahun 2009
menjadi Rp. 13.923.147 pada tahun 2010.
Tujuh besar kecamatan yang memiliki PDRB per kapita atas dasar harga berlaku
paling tinggi di tahun 2010 adalah kecamatan-kecamatan penghasil tambang migas dan
atau batu bara seperti Kecamatan Samboja, Kecamatan Anggana, Kecamatan Sanga
Sanga, Kecamatan Marangkayu, Kecamatan Muara Badak, Kecamatan Muara Jawa dan
Kecamatan Sebulu dengan rata-rata pendapatan perkapita diatas 100 juta per tahun.
Besarnya nilai perkapita ini sangat berkaitan erat dengan nilai tambah di sektor
pertambangan migas dan atau batubara di kecamatan-kecamatan tersebut, dengan
demikian menjadikan PDRB per kapitanya menjadi tinggi. Sedangkan lima kecamatan
yang mempunyai pendapatan perkapita terendah adalah kecamatan-kecamatan yang
PDRB-nya sangat bergantung dari hasil hutan yaitu Kecamatan Tabang, Kecamatan
Kenohan, Kecamatan Muara Kaman, Kecamatan Muara Wis dan Kecamatan Muara
Muntai.
PDRB per kapita di atas masih belum menggambarkan secara riil kenaikan daya
beli masyarakat di Kecamatan tersebut secara umum. Hal ini disebabkan pada PDRB per
kapita, yang dihitung berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku, masih terkandung
faktor inflasi yang sangat besar terhadap daya beli masyarakat. Hal ini bisa diamati dari
PDRB perkapita atas dasar harga konstan. Nilai PDRB per kapita ini sangat tergantung
terhadap jumlah penduduk di wilayah tersebut. Jika dua kecamatan mempunyai nilai
PDRB tidak jauh berbeda namun jumlah penduduknya ada perbedaan yang cukup jauh
maka akan menghasilkan nilai per kapita yang berbeda. Untuk itu perlu diamati antara
nilai perkapita dengan jumlah penduduk dimana dilakukan pengelompokan berdasarkan
kriteria tinggi rendah sedang untuk nilai PDRB maupun jumlah penduduk. Hal ini dapat
diamati pada Grafik 4.3.
Dari hasil pengelompokan PDRB per Kapita tahun 2010 yang terbagi menjadi tiga
kelompok yaitu kecamatan yang memiliki kategori PDRB per kapita tinggi di atas 100 juta
per tahun, kategori sedang antara 50 juta sampai dengan 100 juta per tahun dan kategori
rendah di bawah 50 juta per tahun. Kecamatan dengan kategori tinggi yaitu Kecamatan
Samboja, Kecamatan Sanga-Sanga, Kecamatan Anggana, Kecamatan Muara Badak,
Kecamatan Muara Jawa, Kecamatan Marangkayu dan Kecamatan Sebulu. Sedangkan
yang berkategori rendah adalah: Kecamatan Muara Kaman, Kecamatan Muara Muntai,
Kecamatan Kenohan, Kecamatan Tabang dan Kecamatan Muara Wis. Adapun
sisanyanya adalah kecamatan-kecamatan yang berkategori sedang.

27

GAMBAR 4.3.

KLASIFIKASI PENDUDUK DAN PDRB PER KAPITA MENURUT KECAMATAN DI


KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2010

Pengelompokan jumlah penduduk juga terbagi menjadi tiga kelompok yaitu


kecamatan kategori tinggi jika jumlah penduduknya di atas 35 ribu jiwa, kategori sedang
antara 20 ribu jiwa sampai dengan 35 ribu jiwa dan kategori rendah dengan jumlah
penduduk di bawah 20 ribu jiwa. Jika dikaitkan antara PDRB per Kapita dengan jumlah
penduduk di wilayah tersebut maka untuk kecamatan yang mempunyai jumlah penduduk
tinggi dan berada pada posisi perkapita tinggi adalah Kecamatan Samboja, Kecamatan
Muara Badak, dan Kecamatan Sebulu. Sedangkan pada posisi PDRB perkapita rendah
dan jumlah penduduk rendah adalah Kecamatan Kenohan, Kecamatan Muara Wis,
Kecamatan Tabang dan Kecamatan Muara Muntai. Kecamatan yang memiliki jumlah
penduduk rendah dan PDRB perkapita tinggi adalah Kecamatan Sanga Sanga.
Adapun kecamatan yang memiliki jumlah penduduk tinggi dengan PDRB perkapita
sedang

adalah

Kecamatan

Tenggarong,

Kecamatan

Tenggarong

Seberang,

Kecamatan Loa Kulu dan Kecamatan Loa Janan. Sedangkan Kecamatan Muara
Jawa, Kecamatan Anggana, dan Kecamatan Marangkayu masuk ke kategori
kecamatan dengan jumlah penduduk sedang dengan PDRB per kapita tinggi. Adapun
Kecamatan Muara Kaman merupakan kecamatan yang memiliki jumlah penduduk

28

sedang dan PDRB per kapita rendah. Adapun Kecamatan Kota Bangun dan
Kecamatan Kembang Janggut masuk ke dalam kategori wilayah yang mempunyai
jumlah penduduk sedang dan PDRB per kapita juga sedang.
B.5. Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi(LPE) dan PDRB per Kapita
Perbandingan posisi suatu kecamatan terhadap Kabupaten Kutai Kartanegara
dapat digunakan untuk melihat tingkat kinerja pembangunan masing-masing daerah
dilihat dari aspek ekonomi. Disamping itu, dengan mengetahui posisi suatu kecamatan
maka dapat melihat keterbandingkan antara kecamatan satu dengan kecamatan lainnya.
Dengan demikian diharapkan suatu kecamatan dapat mengevaluasi serta menggali
potensi SDA dan SDM yang dimiliki agar dapat memacu pertumbuhan ekonomi sampai
pada tingkat optimum. Grafik 4.4 menggambarkan nilai antara laju pertumbuhan ekonomi
(LPE) dengan PDRB per kapita yang diterima penduduk di masing-masing kecamatan.
Untuk memudahkan dalam melihat posisi kecamatan terhadap Kabupaten Kutai
Kartanegara, maka disajikan dalam bentuk tabel kuadran yang merupakan plot LPE dan
PDRB Perkapita. Grafik tersebut terdiri dari 4 kuadran dan setiap kuadran dipisahkan oleh
Garis vertikal yang merupakan angka LPE Kabupaten Kutai Kartanegara dan Garis
Horisontal yang merupakan besarnya PDRB per kapita Kabupaten Kutai Kartanegara.
Dengan demikian interpreatasi kecamatan yang memiliki LPE di sisi kanan LPE
Kabupaten maka nilai LPE kecamatan tersebut lebih tinggi dan sebaliknya jika kecamatan
yang memiliki LPE di sisi kiri maka LPE Kecamatan tersebut lebih rendah dari LPE
Kabupaten. Hal yang sama untuk garis horisontal dimana kecamatan yang memiliki
PDRB perkapita lebih tinggi dari PDRB Kabupaten maka kecamatan tersebut berada di
atas garis horisontal dan sebaliknya kecamatan yang memiliki PDRB per kapita di bawah
PDRB per kapita Kabupaten maka kecamatan tersebut berada di bawah garis horisontal.
Dengan demikian maka akan terbagi menjadi empat kuadran yaitu memiliki
pengertian dari masing-masing kuadran adalah: Kuadran I mengandung arti bahwa
kecamatan yang berada di daerah ini memiliki LPE yang lebih tinggi dan PDRB per kapita
yang lebih besar dari Kabupaten. Kondisi ini dapat diartikan bahwa masyarakat di
kecamatan ini relatif paling sejahtera dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain
yang berada di kuadran lainnya. Kuadran II menunjukkan bahwa kecamatan tersebut
mempunyai PDRB per kapita lebih tinggi dari PDRB per kapita kabupaten namun LPEnya lebih rendah dari LPE Kabupaten. Masyarakat kecamatan yang berada di kudran ini
masih dapat dikatakan relatif lebih sejahtera meskipun pertumbuhannya masih rendah.
Adapun Kuadran III menunjukkan bahwa kecamatan tersebut baik nilai LPE dan PDRB
perkapita berada dibawah Kabupaten dan Kuadran IV menunjukkan bahwa kecamatan

29

tersebut nilai LPE di atas Kabupaten namun PDRB perkapita di bawah PDRB per kapita
Kabupaten.

KUKAR (3,88 PERSEN)

800

Marang k ayu

700
600
500
Muara Jawa
Muara Badak

400

Anggana

300
200
100
0

Sanga-Sanga

II

Samboja
Kota Bangun
Kenohan
Tabang
Muara Wis Kembang Janggut
Muara Muntai
Muara Kaman

III
0

10

IV

Sebulu
Loa Kulu
Loa Janan
Tgr. Seberang
Tenggarong

15

LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI (PERSEN)

GAMBAR 4.4.

20

KUKAR (Rp. 157,7 JUTA)

PDRB PER KAPITA (JUTA RUPIAH)

900

PLOT LPE DAN PDRB PER KAPITA KECAMATAN-KECAMATAN DI KABUPATEN


KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2010

Dari Grafik 4.4 yang merupakan hasil plot antara LPE dan PDRB per kapita
kecamatan-kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara diperoleh pengelompokan
kecamatan-kecamatan di tiap-tiap kuadran. Posisi pada Kuadran I merupakan posisi
yang ideal dimana menggambarkan kinerja perekonomian dan kemakmuran masyarakat
di tiap kecamatan yang bersangkutan relatif lebih makmur dibandingkan kecamatan
lainnya. Hanya satu kecamatan yang berada pada kuadran ini pada tahun 2010 yaitu
Kecamatan Sanga Sanga. Kecamatan yang berada di posisi Kuadran II menggambarkan
bahwa tingkat kemakmuran sudah di atas rata-rata namun kinerja perekonomian di tahun
2010 agak rendah. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Muara Badak, Kecamatan
Anggana, Kecamatan Muara Jawa, dan Kecamatan Marangkayu.
Kondisi yang sebaliknya untuk kecamatan-kecamatan yang berada pada posisi
Kuadran III yang menggambarkan tingkat kemakmuran dan kinerja perekonomian yang
lebih rendah dari rata-rata kecamatan. Wilayah yang berada pada posisi ini adalah
Kecamatan Samboja, Kecamatan Tabang, Kecamatan Kenohan, dan Kecamatan Muara
Wis.

30

Adapun kecamatan yang berada pada posisi kuadran IV menggambarkan bahwa


kinerja perekonomian sudah relatif bagus namun tingkat kemakmuran masih di bawah
rata-rata. Kecamatan tersebut adalah: Kecamatan Muara Muntai, Kecamatan Muara
Kaman, Kecamatan Kembang Janggut, Kecamatan Sebulu, Kecamatan Kota Bangun,
Kecamatan Loa Janan, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kecamatan Loa Kulu, dan
Kecamatan Tenggarong.

31

LAMPIRAN

Lampiran 1.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Muara


Muntai Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2000 - 2010 (Juta Rupiah)

Lampiran 2.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Muara


Muntai Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan
Usaha Tahun 2000 - 2010 (Juta Rupiah)

Lampiran 3.

Distribusi Persentase PDRB Dengan Migas Kecamatan Muara


Muntai Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2000 - 2010 (Persen)

Lampiran 4.

Pertumbuhan PDRB Kecamatan Muara Muntai Atas Dasar


Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000 2010 (Persen)

32

Lampiran 1.

1.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Muara Muntai Atas Dasar
Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000 - 2010 (Juta Rupiah)

LAPANGAN USAHA
[1]
PERTANIAN, PETERNAKAN,
KEHUTANAN DAN PERIKANAN
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan

2007
[3]
244.594

2008r)
[4]
285.100

2009r)
[5]
322.489

2010**)
[6]
371.366

5.342

13.678

16.811

22.420

34.648

10

33

46

54

59

1.508

5.589

7.063

7.816

8.601

d. Kehutanan

82.792

132.071

128.089

130.141

136.392

e. Perikanan

21.600

93.223

133.090

162.059

191.666

247

999

1.383

1.558

1.866

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya

2.

2000
[2]
111.252

PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN


a. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
b. Pertambangan Non Migas
c. Penggalian

3.

INDUSTRI PENGOLAHAN

14

139

226

274

377

233

861

1.157

1.284

1.488

7.427

16.316

18.150

19.081

21.003

a. Industri Migas

7.427

16.316

18.150

19.081

21.003

LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH

173

507

574

654

709

a. Listrik

117

327

364

419

455

b. Industri Tanpa Migas


4.

b. Gas

c. Air Bersih

56

180

210

235

254

5.

BANGUNAN

8.675

36.442

44.098

48.692

53.729

6.

PERDAGANGAN, HOTEL DAN


RESTORAN
a. Perdagangan Besar dan Eceran

22.881

72.339

79.985

94.031

113.411

22.595

71.309

78.715

92.617

111.771

b. Hotel

20

39

46

48

54

266

992

1.224

1.366

1.587

PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

8.308

21.224

23.041

24.615

27.196

a. Pengangkutan

8.203

20.937

22.726

24.243

26.763

104

287

315

372

433

1.560

2.595

3.091

3.390

3.802

387

426

730

844

1.023

c. Restoran
7.

b. Komunikasi
8.

KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA


PERUSAHAAN
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank

59

140

148

158

173

1.088

1.961

2.135

2.298

2.504

26

69

78

89

102

JASA-JASA

5.108

15.829

27.646

34.834

40.101

a. Pemerintahan Umum

4.804

15.021

26.724

33.832

38.985

304

808

922

1.002

1.116

165.630

410.847

483.068

549.345

633.184

P D R B TANPA MIGAS

165.630

410.847

483.068

549.345

633.184

Keterangan : r) = Angka Revisi

**) = Angka Sangat Sementara

c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
9.

b. Swasta
P D R B DENGAN MIGAS

33

Lampiran 2.

1.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Muara Muntai Atas Dasar
Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000 - 2010 (Juta Rupiah)

LAPANGAN USAHA
[1]
PERTANIAN, PETERNAKAN,
KEHUTANAN DAN PERIKANAN
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan

2007
[3]
112.814

2008r)
[4]
110.997

2009r)
[5]
114.239

2010**)
[6]
119.917

5.342

7.124

7.338

8.896

12.336

10

10

11

12

1.508

4.976

5.632

5.867

6.224

d. Kehutanan

82.792

70.425

61.910

58.491

56.528

e. Perikanan

21.600

30.281

36.107

40.974

44.816

247

485

563

609

684

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya

2.

2000
[2]
111.252

PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN


a. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
b. Pertambangan Non Migas
c. Penggalian

3.

INDUSTRI PENGOLAHAN

14

48

52

59

73

233

437

511

550

611

7.427

10.560

10.731

11.114

11.675

a. Industri Migas

7.427

10.560

10.731

11.114

11.675

LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH

173

305

334

369

390

a. Listrik

117

202

221

246

260

b. Industri Tanpa Migas


4.

b. Gas

c. Air Bersih

56

103

112

122

129

5.

BANGUNAN

8.675

17.878

20.555

21.940

23.598

6.

PERDAGANGAN, HOTEL DAN


RESTORAN
a. Perdagangan Besar dan Eceran

22.881

43.536

47.437

49.763

55.553

22.595

42.949

46.802

49.105

54.829

b. Hotel

20

26

27

27

29

266

561

608

631

695

PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

8.308

13.436

14.356

14.762

15.870

a. Pengangkutan

8.203

13.258

14.161

14.532

15.616

104

178

195

230

254

1.560

1.733

1.913

2.019

2.156

387

269

397

443

490

c. Restoran
7.

b. Komunikasi
8.

KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA


PERUSAHAAN
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank

59

89

92

97

103

1.088

1.337

1.382

1.432

1.512

26

38

42

47

51

JASA-JASA

5.108

8.669

9.816

10.435

11.237

a. Pemerintahan Umum

4.804

8.185

9.273

9.852

10.604

304

484

543

584

633

165.630

209.415

216.701

225.251

241.079

P D R B TANPA MIGAS

165.630

209.415

216.701

225.251

241.079

Keterangan : r) = Angka Revisi

**) = Angka Sangat Sementara

c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
9.

b. Swasta
P D R B DENGAN MIGAS

34

Lampiran 3.

1.

2.

3.

Distribusi Persentase PDRB Kecamatan Muara Muntai Atas Dasar Harga Berlaku
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000 - 2010 (Persen)
2000
[2]
67,17

2007
[3]
59,53

2008r)
[4]
59,02

2009r)
[5]
58,70

2010**)
[6]
58,65

3,23

3,33

3,48

4,08

5,47

b. Tanaman Perkebunan

0,01

0,01

0,01

0,01

0,01

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya

0,91

1,36

1,46

1,42

1,36

d. Kehutanan

49,99

32,15

26,52

23,69

21,54

e. Perikanan

13,04

22,69

27,55

29,50

30,27

PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

0,15

0,24

0,29

0,28

0,29

a. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

b. Pertambangan Non Migas

0,01

0,03

0,05

0,05

0,06

c. Penggalian

0,14

0,21

0,24

0,23

0,24

INDUSTRI PENGOLAHAN

4,48

3,97

3,76

3,47

3,32

LAPANGAN USAHA
[1]
PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN DAN
PERIKANAN
a. Tanaman Bahan Makanan

a. Industri Migas

0,00

0,00

0,00

0,00

b. Industri Tanpa Migas

4,48

3,97

3,76

3,47

3,32

LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH

0,10

0,12

0,12

0,12

0,11

a. Listrik

0,07

0,08

0,08

0,08

0,07

b. Gas

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

c. Air Bersih

0,03

0,04

0,04

0,04

0,04

5.

BANGUNAN

5,24

8,87

9,13

8,86

8,49

6.

PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN

13,81

17,61

16,56

17,12

17,91

a. Perdagangan Besar dan Eceran

13,64

17,36

16,29

16,86

17,65

b. Hotel

0,01

0,01

0,01

0,01

0,01

c. Restoran

0,16

0,24

0,25

0,25

0,25

PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

5,02

5,17

4,77

4,48

4,30

a. Pengangkutan

4,95

5,10

4,70

4,41

4,23

b. Komunikasi

0,06

0,07

0,07

0,07

0,07

KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN

0,94

0,63

0,64

0,62

0,60

a. Bank

0,23

0,10

0,15

0,15

0,16

b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank

0,04

0,03

0,03

0,03

0,03

c. Sewa Bangunan

0,66

0,48

0,44

0,42

0,40

d. Jasa Perusahaan

0,02

0,02

0,02

0,02

0,02

JASA-JASA

3,08

3,85

5,72

6,34

6,33

a. Pemerintahan Umum

2,90

3,66

5,53

6,16

6,16

b. Swasta

0,18

0,20

0,19

0,18

0,18

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

4.

7.

8.

9.

P D R B TANPA MIGAS
Keterangan : r) = Angka Revisi

**) = Angka Sangat Sementara

35

Lampiran 4.

Pertumbuhan PDRB Kecamatan Muara Muntai Atas Dasar Harga Konstan 2000
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000 - 2010 (Persen)
2007
[3]
-0,28

2008r)
[4]
-1,61

2009r)
[5]
2,92

2010**)
[6]
4,97

3,15

3,01

21,23

38,67

b. Tanaman Perkebunan

15,24

15,11

10,49

4,53

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya

12,70

13,18

4,18

6,10

d. Kehutanan

-7,30

-12,09

-5,52

-3,35

e. Perikanan

17,21

19,24

13,48

9,38

PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

14,47

16,00

8,30

12,25

a. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi

b. Pertambangan Non Migas

21,48

7,49

14,51

24,03

c. Penggalian

13,75

16,93

7,67

10,98

INDUSTRI PENGOLAHAN

5,77

1,62

3,57

5,05

a. Industri Migas

b. Industri Tanpa Migas

5,77

1,62

3,57

5,05

LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH

9,03

9,47

10,57

5,63

a. Listrik

9,01

9,41

11,42

5,61

b. Gas

c. Air Bersih

9,07

9,58

8,91

5,67

5.

BANGUNAN

6,82

14,97

6,74

7,56

6.

PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN

10,54

8,96

4,90

11,64

a. Perdagangan Besar dan Eceran

10,58

8,97

4,92

11,66

b. Hotel

1,64

2,94

-0,29

9,28

c. Restoran

7,63

8,36

3,82

10,14

PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

4,69

6,85

2,83

7,50

a. Pengangkutan

4,58

6,81

2,62

7,46

b. Komunikasi

13,20

9,41

17,66

10,35

KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN

2,42

10,42

5,53

6,80

a. Bank

0,74

47,65

11,71

10,56

b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank

2,59

3,98

5,34

6,28

c. Sewa Bangunan

2,60

3,38

3,61

5,57

d. Jasa Perusahaan

8,37

9,86

10,72

9,90

JASA-JASA

13,13

13,23

6,31

7,68

a. Pemerintahan Umum

13,34

13,29

6,24

7,63

b. Swasta

9,61

12,21

7,56

8,48

P D R B DENGAN MIGAS

3,60

3,48

3,95

7,03

P D R B TANPA MIGAS

3,60

3,48

3,95

7,03

1.

2.

3.

4.

7.

8.

9.

LAPANGAN USAHA
[1]
PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN DAN
PERIKANAN
a. Tanaman Bahan Makanan

Keterangan : r) = Angka Revisi

2000
[2]
-

**) = Angka Sangat Sementara

36