Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengecap merupakan fungsi utama taste buds dalam rongga mulut, namun indera
pembau juga sangat berperan pada persepsi pengecap. Selain itu, tekstur makanan seperti
yang dideteksi oleh indera pengecap taktil dari rongga mulut dan keberadaan elemen dalam
makanan seperti merica, yang merangsang ujung saraf nyeri, juga berperan pada pengecap.
Makna penting dari indera pengecap adalah bahwa fungsi pengecap memungkinkan manusia
memilih makanan sesuai dengan keinginannnya dan mungkin juga sesuai dengan kebutuhan
jaringan akan substansi nutrisi tertentu (Diah Savitri, 1997).
Indera pengecap kurang lebih terdiri dari 50 sel epitel yang termodifikasi, beberapa di
antaranya disebut sel sustentakular dan lainnya disebut sel pengecap. Sel pengecap terus
menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel disekitarnya, sehingga beberapa di
antaranya adalah sel muda dan lainnya adalah sel matang yang terletak ke arah bagian tengah
indera dan akan segera terurai dan larut (Guyton, 1997).
Lidah mempunyai lapisan mukosa yang menutupi bagian atas lidah, dan
permukaannya tidak rata karena ada tonjolan-tonjolan yang disebut dengan papilla, pada
papilla ini terdapat reseptor untuk membedakan rasa makanan. Apabila pada bagian lidah
tersebut tidak terdapat papilla lidah menjadi tidak sensitif terhadap rasa (Lynch et al., 1994;
Ganong, 1998; Budi, . 2004)
Sel reseptor pengecap adalah sel epitel termodifikasi dengan banyak lipatan
permukaan atau mikrovili, sedikit menonjol melalui poripori pengecap untuk meningkatkan
luas permukaan sel yang terpajan dalam mulut. Membran plasma mikrovili mengandung
reseptor yang berikatan secara selektif dengan molekul zat kimia. Hanya zat kimia dalam
larutan atau zat padat yang telah larut dalam air liur yang dapat berikatan dengan sel
reseptor. (Amerongen, 1991) Sensasi rasa pengecap timbul akibat deteksi zat kimia oleh
resepor khusus di ujung sel pengecap (taste buds) yang terdapat di permukaan lidah dan
palatum molle. Sel pengecap tetap mengalami perubahan pada pertumbuhan, mati dan
regenerasi. Proses ini bergantung pada pengaruh saraf sensoris karena jika saraf tersebut
dipotong maka akan terjadi degenerasi pada pengecap (Budi, . 2004; Boron , . 2005).

Pada umumnya indera rasa pengecap dianggap kurang penting dibandingkan indera
lainnya, karena penurunan fungsi atau gangguan pengecap jarang berakibat fatal sehingga
tidak mendapatkan perhatian medis khusus. Gangguan indera rasa pengecap dapat
mengurangi kenikmatan hidup dan dapat menyebabkan penderita menjadi tidak nyaman
karena mempengaruhi kemampuannya untuk menikmati makanan, minuman dan bau yang
menyenangkan. Kelainan ini juga berpengaruh terhadap kemampuan penderita untuk
mengenali bahan kimia yang berbahaya, sehingga dapat menimbulkan akibat yang serius
(Wasjudi, 2000)
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin membuktikan bahwa pengaruh
pemberian cairan natrium klorida, asam sitrat dan pemanis terhadap kepekaan indera
pengecap (lidah).
1.2 Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh pemberian cairan natrium klorida, asam nitrat dan pemanis
terhadap kepekaan indera pengecap.
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh pemberian cairan natrium klorida, asam nitrat dan
pemanis terhadap kepekaan indera pengecap.
1.4 Hipotesa
Ada pengaruh pemberian cairan natrium klorida, asam nitrat dan pemanis terhadap
kepekaan indera pengecap.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Lidah


Lidah adalah alat indera yang berfungsi untuk merasakan rangsangan rasa dari bendabenda yang masuk ke dalam mulut kita. Lidah dapat merespon berbagai jenis dan macam rasa
seperti rasa manis, rasa pahit, rasa asam dan rasa asin. Kita dapat menikmati makanan dan
minuman karena adanya indra pengecap ini. Bagian lidah yang depan berguna untuk
merasakan rasa asin, bagian yang sebelah samping untuk rasa asam, bagian tepi depan
berfungsi untuk merasakan rasa manis dan bagian lidah yang belakanguntuk rasa pahit.
Lidah berfungsi sebagai indera pengecap. Indera pengecap tersebut terletak pada
bagian permukaan atas terbagi menjadi beberapa daerah yangpeka terhadap rasa yang
berbeda-beda (manis, pahit, asin dan masam). Permukaan lidah juga dapat merasakan panas,
dingin, kasar, halus dan nyeri.
Dalam bahasa kedokteran, lidah (dan semua yang menyangkut lidah) disebut Lingual.
Lidah sebetulnya adalah kumpulan dari banyak otot. Dilihat dari ukurannya, otot lidah
termasuk otot yang paling kuat pada tubuh kita. Otot-otot ini memiliki arah yang berbedabeda, itu sebabnya lidah kita sangat fleksibel dalam bergerakke segala arah. Otot lidah ada 2
jenis, otot intrinsik dan ekstrinsik. Otot intrinsik membuat kita mampu mengubah-ubah
bentuk lidah (memanjang, memendek, membulat), sedangkan otot ekstrinsik lidah membuat
lidah dapat bergerak mengelilingi rongga mulut dan faring.
Secara garis besar lidah dapat terbagi menjadi 2 bagian yaitu 2/3 depan (yang disebut
apeks) dan 1/3 belakang (yang disebut dorsum). Bagian depan lidah sangat fleksibel dan
bekerja sama dengan gigi dalam pengucapan huruf-huruf. bagian tersebut juga membantu
untuk menggerakkan makanan ke segala arah saat sedang mengunyah. Lidah juga mendorong
makanan kembali ke permukaan kunyah gigi sehingga gigi dapat menggilasnya. Bagian
belakang lidah juga penting untuk pengunyahan. Begitu makanan sudah halus dan tercampur
dengan saliva (air liur), atau pada saat meludah, otot-otot belakang lidah bekerja. Otot
tersebut bersama-sama air liur mengangkat dan mendorong makanan memasuki esofagus,
yaitu pipa yang menghubungkan tenggorokan dengan perut.

Meski dapat bergerak bebas, lidah terikat ke dasar mulut. Coba lihat ke cermin dan
angkat lidah Anda, akan terlihat selapis tipis jaringan (yang dalam bahasa kedokteran disebut
frenulum ) yang menghubungkan lidah ke dasar mulut. Bila kita meliaht juga di cermin
bahwa permukaan dari lidah kita tidak rata. Hal ini disebabkan karena permukaan lidah
bagian depan tertutup oleh selapis tonjol-tonjol yang disebut papillae.
Ada 4 jenis papillae, yaitu :
1. Filiform
2. Fungiform
3. Foliata
4. Vallatae, papillae terbesar, ada di cekungan berbentuk V di 1/3 lidah bagian belakang.

Semua papilla tersebut memiliki kuncup pengecap, kecuali papilla vallatae yang
hanya berfungsi untuk membantu memegang makanan). Selain berfungsi sebagai kuncup
pengecap, papilla juga membantu untuk memegang makanan. Manusia terlahir dengan
kurang lebih 10.000 kuncup pengecap. Namun seiring dengan bertambahnya usia, sebagian
kuncup pengecapnya mengalami atrofi /mati. Kuncup pengecap dapat membuat kita dapat
menentukan apakah suatu makanan berasa manis, asam, pahit atau asin.
Fungsi lidah :
1) Untuk mengatur makanan di dalam mulut agar tercampur dg air liur dan terkunyah dengan
baik.
2) Membantu menelan makanan.
3) Membantu mengucapkan kata-kata.
Bagian- - bagian lidah :
1) Papilla yaitu tonjolan2 di permukaan lidah.
2) Syaraf pengecap yg terdapat di papilla.
3) Pangkal lidah peka terhadap rasa pahit.
4) Ujung lidah peka terhadap rasa manis.
5) Pinggir lidah peka terhadap rasa asam dan asin.
2.2 Pengecapan
Pengecapan terutama merupakan fungsi dari taste buds yang terdapat di dalam mulut,
tetapi pengalaman juga menyatakan bahwa indera penghidu sangat berperan pada persepsi

pengecapan. Selain itu, tekstur makanan, seperti yang dideteksi oleh indera pengecap taktil di
rongga mulut, dan adanya zat di dalam makanan seperti merica, yang merangsang ujungujung saraf nyeri, akan sangat mengubah pengalaman dalam pengecapan. Makna penting
pengecapan terletak pada kenyataan bahwa pengecapan memungkinkan manusia memilih
makanan sesuai dengan keinginannya dan mungkin juga sesuai dengan kebutuhan metabolic
di jaringan tubuh terhadap zat-zat tertentu.

2.3 Sensasi pengecapan utama


Pengenalan bahan kimia spesifik yang mampu merangsang berbagai reseptor
pengecapan belum dapat diketahui semuanya. Walaupun, begitu penelitian yang bersifat
psikofisiologi dan neurofisiologi telah mengenali sedikitnya 13 reseptor kimia yang mungkin
ada pada sel-sel pengecap, seperti diuraikan sebagai berikut: 2 reseptor natrium, 2 resptor
kalium, 1 reseptor klorida, 1 reseptor adenosin, 1 reseptor inosin, 2 reseptor manis, 2 reseptor
pahit, 1 reseptor glutamat, dan 1 reseptor ion hidrogen.
Kemampuan reseptor yang telah disebutkan di atas juga dikumpulkan menjadi 5
kategori umum yang disebut sensasi pengecapan utama. Kelima kategori tersebut adalah
asam, asin, manis, pahit, dan umami. Seseorang dapat menerima berates-ratus pengecapan
yang berbeda. Semua itu seharusnya merupakan kombinasi dari sensasi-sensasi pengecapan
dasar.

Gambar 1 : Letak sensasi pengecapan utama


pada lidah dan persarafan sensoriknya.
Angka-angka menunjukkan n. Kranialis: V:
trigeminus; VII: fasialis; IX:
glossofaringeus.5

Sensasi pengecapan utama memiliki tempat yang spesifik di lidah meskipun terdapat
tumpang tindih yang cukup luas. Zat yang pahit terutama dikecap di belakang lidah, yang
asam di sepanjang tepi lidah, yang manis di ujung lidah, dan yang asin di dorsum anterior
lidah. Zat yang asam dan pahit juga terasa di palatum yang juga agak peka untuk manis dan
asin. Sensasi pengecapan utama ini dapat dirasakan juga di farings dan epiglotis. Sel-sel
pengecap secara histologist tidaklah berbeda di daerah pengecap lain, tetapi adanya
perbedaan fisiologis telah terbukti melalui pengukuran potensial reseptor dari tiap-tiap sel
pengecp. Penelitian-penelitian tersebut memperlihatkan bahwa ada sel pengecap berespons
paling baik terhadap rangsang pahit sedangkan yang lain terhadap asin, manis, atau asam.
Sebagian berespons terhadap lebih dari satu sensasi pengecapan, dan sebagian terhadap
semua sensasi pengecapan.
Rasa Asam
Rasa Asam disebabkan oleh asam sehingga terasa kecut. Reseptor ini dirangsang oleh
kation H+, dan bukan anion yang terkait. Untuk setiap zat asam, rasa asam biasanya setara
dengan konsentrasi H+, tetapi asam-asam organik sering lebih asam daripada asam mineral
dengan konsentrasi H+ yang sama. Hal ini disebabkan oleh asam organic lebih cepat
menembus sel daripada asam mineral. Intensitas sensasi asam ini hampir sebanding dengan
logaritma konsentrasi ion hidrogen. Artinya, semakin asam suatu makanan, semakin kuat pula
sensasi asam yang terbentuk.
Rasa Asin
Rasa asin dihasilkan dari garam yang terionisasi, terutama karena konsentrasi ion
natrium. Kualitas rasanya berbeda-beda antara garam yang satu dengan yang lain, karena
beberapa garam juga menghasilkan sensasi rasa selain rasa asin. Kation garam, khususnya
kation natrium, terutama berperan membentuk rasa asin, tetapi anion juga ikut berperan
walaupun lebih kecil.
Rasa Manis
Rasa manis tidak dibentuk oleh satu golongan zat kimia saja. Beberapa tipe zat kimia
yang menyebabkan rasa ini mencakup gula, glikol, alcohol, aldehid, keton, amida, ester,
beberapa asam amino, beberapa protein kecil, asam sulfonat, asam halogenasi, dan garamgaram anorganik dari timah dan berilium. Perubahan yang sangat kecil pada struktur kimia,

seperti penambahan radikal sederhana, seringkali dapat mengubah zat dari rasa manis
menjadi pahit.
Sebagian besar zat yang terasa manis adalah zat organik. Sukrosa, maltose, laktosa,
dan glukosa adalah contoh yang laing dikenal, tetapi polisakarida, gliserol, sebgian besar
alcohol dan keton, serta sejumlah senyawa yang tampaknya tidak memiliki kaitan dengan
senyawa-senyawa tadi, misalnya kloroform, garam berilium, dan berbagai amida asam
aspartat, juga terasa manis. Pemanis buatan misalnya sakarin dan aspartame sering dicari
untuk pemanis dalam diet penurun berat karena zat-zat ini menghasilkan rasa manis dalam
jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan jumlah sukrosa yang kaya kalori, yang
diperlukan agar menimbulkan rasa manis setara.
Dua protein yang diisolasi dari buah arbei Afrika, taumatin dan morelin, terasa
100.000 kali lebih manis daripada sukrosa dengan molar yang sama. Struktur kedua protein
ini sangat berbeda, tetapi antibody terhadap salah satu protein ini akan berekasi silang dengan
protein satunya. Dengan demikian, keduanya semestinya memiliki semacam kesamaan dalam
struktur 3 dimensi, dan struktur yang sama nilah yang berikatan dengan reseptor manis.
Rasa Pahit
Rasa pahit, seperti rasa manis, tidak dibentuk hanya oleh satu tipe agen kimia. Zat
yang memberikan rasa pahit hampir seluruhnya merupakan substansi organic. Dua golongan
substansi tertentu yang cenderung menimbulkan rasa pahit adalah sustansi organik rantai
panjang yang mengandung nitrogen dan alkaloid. Alkaloid meliputi banyak obat yang
digunakan dalam obat-obatan, seperti kuinin, kafein, striknin, dan nikotin. Beberapa substansi
yang mula-mula terasa manis juga dapat berubah menjadi pahit sesudahnya. Ini berlaku untuk
sakarin, sehingga membuat zat ini tidak disukai oleh beberapa orang.
Rasa pahit, bila timbul dengan intensitas yang tinggi biasanya akan membuat manusia
membuang makanan tersebut. Sensasi rasa pahit ini tidak diragukan lagi merupakan fungsi
yang penting, karena banyak toksin mematikan yang ditemukan dalam tanaman beracun
merupakan alkaloid, dan semua ini dapat menimbulkan rasa yang sangat pahit, yang biasanya
diikuti dengan membuang makanan tersebut.
Zat yang sering digunakan untuk menguji rasa pahit adalah kina sulfat. Senyawa ini
dapat dideteksi dalam konsentrasi 8 mol/L. Senyawa organik lain, terutama morfin, nikotin,
kafein, dan ureum, terasa pahit. Garam-garam anorganik seperti magnesium, ammonium, dan

kalsium juga terasa pahit. Rasa ini disebabkan oleh adanya kation. Dengan demikian, tidak
terdapat struktur molekul zat tertentu yang menyebabkan timbulnya rasa pahit.

2.5 Mekanisme kerja lidah


Tiap kuncup pengecap tersusun dari sel-sel yang memiliki rambut berukuran mikro
yang sensitif, disebut mikrovilli. Rambut-rambut super mini ini pada saat berkontak dengan
makanan akan mengirimkan pesan ke otak, lalu otak akan menerjemahkan sinyal yang
diberikan tersebut dan menentukan rasa dari makanan yang kita makan. Ada beberapa hal
yang dapat membuat reseptor kuncup pengecap menjadi kurang sensitif. Bila kita mengemut
es batu sebelum makan,dinginnya es dapat membuat kuncup pengecap menjadi kurang
sensitif. Begitu juga kalau lidah kita terkena makanan yang terlalu panas, dapat menyebabkan
tongue burning dan biasanya baru akan pulih dalam 1-2 hari. Lidah yang kebersihannya
tidak terjaga juga dapat menyebabkan kesensitifan lidah berkurang, karena banyaknya plak
yang terkumpul di permukaan lidah. Selain itu, produksi air liur yang berkurang dan
menyebabkan keadaan mulut kering (xerostomia) juga membuat lidah tidak bekerja
maksimal. Saat kita terkena influensa, biasanya makanan apapun terasa hambar. Itu karena
lidah tidak bekerja sendirian. Proses pengecapan rasa tidak hanya digawangi oleh lidah tapi
juga dibantu oleh hidung. Hidung membantu untuk pengecapan makanan dengan
membauinya sebelum makanan dikunyah dan ditelan. Bau yang kuat dari suatu makanan
dapat mempengaruhi kuncup pengecap. Secara skema dapat ditulis bahwa makanan dan
minuman merangsang ujung-ujung syaraf-syaraf pengecap yg terdapat di papilla ( rangsang
diteruskan ke otak ( otak memproses dan kita merasakan berbagai rasa pada makanan ).
Tetapi tidak seperti kelenjar saliva yang istirahat pada saat kita tidur sehingga produksi
saliva menurun, lidah tetap beraktivitas meskipun kita sedang tidur. Lidah mendorong saliva
ke tenggorokan supaya bisa ditelan. Hal ini menguntungkan, karena kalau tidak di bantal
akan terbentuk pulau-pulau besar setiap kali kita tidur.
Kelainan pada lidah adalah kanker lidah. Penyebab kanker lidah salah satunya rokok,
jangan remehkan asap rokok. Asap yang lama mengepul di rongga mulut dan terkena lidah
bisa memicu kanker lidah. penyebab terbesar terjadinya kanker lidah karena merokok,
terutama yang lebih dari 2 pak per hari. Risiko tersebut akan meningkat jika mengonsumsi
alkohol.

Penyebab lainnya karena tambalan atau gigi yang tajam yang menimbulkan trauma
pada lidah. Asap rokok yang mengumpul di rongga mulut ternyata memicu kanker. Lidah
bisa mengering karena paparan asap rokok. Gejala: pada stadium awal, kanker lidah ditandai
dengan lesi atau kelainan prakanker. Kelainan prakanker atau lesi tersebut berbentuk bercak
putih pada mukosa atau lapisan dalam rongga mulut berupa pengerasan, yang disebut
leukoplakia. Umumnya, kelainan ini akan menjadi kanker rongga mulut.
Cegah Kanker lidah dengan mulut yang bersih dengan salah satu caranya adalah rajin
menyikat gigi Pengobatan diilakukan dengan operasi, radiasi, sinar-X dan kemoterapi.

10

BAB III
PEMBAHASAN

Menurut teori ada 4 pengecap dasar yang digunakan untuk mengetahui lokasi reseptor
dan variasi waktu sensasinya, Dimana pada bagian ujung lidah lebih sensitif terhadap rasa
manis, pada bagian tepi depan lidah lebih sensitif terhadap rasa asin, bagian tepi belakang
lidah lebih sensitif terhadap rasa asam dan pada bagian pangkal lidah lebih sensitif terhadap
rasa pahit.
Pengecapan adalah sensasi yang dirasakan oleh kuncup kecap, yaitu reseptor yang
terutama terletak pada lidah (terdapat kurang lebih 10.000 kuncup kecapa pada lidah
manusia) dan dalam jumlah yang lebih kecil pada polatum mole dan permukaan laringeal dari
epiglottis. Kuncup kecap terbenam dari epitel berlapis dari papilla sirkumvalata, papilla
foliota, papilla fungiformis. Bahan kimia masuk melalui pori pengecap, yaitu lubang kecil
menuju ke sel-sel reseptor. Penyebaran kuncup kecap berada pada seluruh permukaan lidah
sehingga setiap lidah dapat merasakan rasa pada penjuru lidahnya. Tetapi kuncup kecap
menunjukkan adanya penyebaran berkelompok yaitu untuk reseptor rasa manis berada di
ujung lidah, reseptor rasa pahit di pangkal lidah reseptor reasa asin di tepi lidah depan
sedangkan reseptor rasa asam di tepi lidah belakang (Junqueira, 1995).
Tingkat sensitivitas lidah seseorang juga mempengaruhi kemampuannya mengecap
suatu rasa. Ada beberapa hal yang mempengaruhi sensitivitas ini. Sensitivitas mungkin
disebabkan struktur dari lidah itu sendiri yang rusak atau tidak bagus akibat dari pola makan
seseorang. Hal lain yang mempengaruhi sensitivitas adalah proses pengantaran rangsang dari
organ menuju otak, hal tersebut biasanya terjadi pada orang uang kondisi tubuhnya lemah
(sakit) sehingga daya tanggap terhadap rangsang sedikit terganggu. Cepat lambatnya
seseorang dalam mengecap rasa dapat dipengaruhi oleh kecepatan penghantaran rangsang
yang diberikan jika dalam penyampaian rangsang tersebut terjadi gangguan maka dapat
mempengaruhi waktu sensasi yang dihasilkan. Selain itu jenis kelamin juga kemungkinan
mempengaruhi sensasi reseptor pengecap. (Jalmo, 2007).
Sensasi rasa dipengaruhi oleh saliva (air liur). Hal ini disebabkan karena saliva akan
melarutkan dan mengkatalis zat yang masuk ke dalam mulut. Kuncup kecap hanya akan
dapat terstimulasi bila zat tersebut telah dikatalis oleh saliva (chemoreseptor), sehingga

11

apabila konsentrasi saliva terlalu rendah maka dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk
mengkatalis zat-zat tersebut, dan semakin lambat pula respon rasa tersebut (Jalmo, 2007).
Faktor lain yang mempengaruhi reseptor perasa adalah suhu dan usia. Suhu kurang
dari 20 atau lebih dari 30 akan mempengaruhi sensitifitas kuncup rasa (taste bud). Suhu
yang terlalu panas akan merusak sel-sel pada kuncup rasa sehingga sensitifitas berkurang,
10karena sel yang rusak akan cepat diperbaiki
namun keadaan ini cenderung berlangsung cepat
dalam beberapa hari. Suhu yang terlalu dingin akan membius kuncup lidah sehingga
sensifitas berkurang (Jalmo, 2007).
Usia mempengaruhi sensitifitas reseptor perasa. Menurut Sunariani (2007), pada
orang yang berusia lanjut terdapat penurunan sensitifitas dalam menraskan rasa asin. Hal ini
disebabkan pada orang berusia lanjut karena berkurangnya jumlah papilla sirkumvalata
seiring dengan bertambahnya usia dan penurunan fungsi transmisi kuncup rasa pada lidah
sehingga mengurangi sensasi rasa (Jalmo,2007).
Berdasarkan data tersebut setiap praktikan memiliki sensari reseptor yang berbedabeda hal tersebut terjadi adanya perbedaan genetik setiap orang yang menyebabkan
berbedanya jumlah kuncup kecap di permukaan lidah. Kuncup kecap adalah salah satu sel
reseptor yang menerima impuls berupa senyawa kimia rasa yang akan diteruskan ke system
saraf pusat untuk diterjemahkan (Jalmo, 2007).
Reseptor perasa merespon stimulasi rasa dengan berbeda-beda. Rasa manis
mendepolarisasi sel kecap dengan membuka channel Na+. Channel ini tertutup oleh amiloride
dan biasa ditemukan pada ginjal dan sel epitel. Selain itu, juga dengan menaktikan adenylate
cyclase. cAMP akan diprduksi oleh adenylate cyclase untuk menutup channel K+. Susbtansi
perasa pahit akan menstimulasi produksi IP3, yang selajutnya akan meningkatkan level Ca2+
yang akan melepaskan trasmiter sinapsis dan mengaktifasi saraf gustatory. Substansi perasa
mendepolarisasi sel kecap dengan menaktifkan channel amiloride-sensitive Na+. Substansi
rasa masam akan mendepolarisasi sel kecap secara langsung dengan menaikkan konsentrasi
ion H+ yang menutup channel K+ (Jalmo,2007).
Rasa manis dimulai dengan melekatnya molekul gula pada porus perasa. Kemudian
hal ini akan mengaktifkan stimulator yang terdapat pada sitoplasma yang terdapat pada
membran. Stimulator (protein G) akan teraktivasi selanjutnya akan mengaktifkan enzim
adenilat siklase. Enzim ini akan mengaktifkan pembentukan Camp dari ATP. Terjadinya
peningkatan camp akan mengakibatkan terstimulasinya enzim sitoplasma lainnya. Hal ini
akan membuat ion K dapat keluar sehingga mengakibatkan depolarisasi pada puting

12

pengecap. Hal ini akan mengakibatkan terlepasnya neotransmiter ke sinaps dan selanjutnya
akan diteruskan ke otak (Anonim c, 2012).
Rasa asin disebabkan masuknya ion Na. Masuknya ion Na mengakibatkan tertutupnya
saluran keluar ion K. Depolarisasi mengakibatkan neotransmiter keluar, dan impuls bisa
diterima oleh otak. Transtan pahit akan berikatan dengan reseptor pada membran. Pelekatan
ini akan mengakibatkan teraktivasinya protein G lainnya yang kemudian akan mengaktifkan
enzim fosfolipase. Enzim ini akan membuat IP3 yang merupakann senyawa yang larut dalam
sitoplasma yang terdapat dalam RE. Berikatan IP3 dengan reseptor akan membuat terbukanya
ion Ca. Maka ion Ca akan keluar menuju Sitoplasma. Peningkatan ion Ca akan membuat
saluran K terbuka dan terjadi sinaps. Tidak sepeti rasa manis dan pahit, rasa asam terjadi
karena konsentrasi proteon atau ion H. Membran sanyat permeable terhadap proton ini.
Masuknya proton akan membuat depolarisasi akibatnya neotransmiter dilepaskan ke sinaps.
(Anonim c, 2012).

13

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.

Lidah merupakan organ panca indera yang terdiri atas otot dengan adanya reseptor

pengecap sebagai taste bud untuk menerima impuls kimia pada makanan yang kemudian
akan diteruskan ke system saraf pusat untuk diterjemahkan.
2.

Manusia memiliki 4 macam modalitas cita rasa dasar yang spesifik, yaitu: manis pada

ujung lidah, asin pada tepi depan, asam pada tepi belakang, dan pahit pada pangkal lidah,
akibat dari taste bud yang berbeda-beda.
3.

Waktu sensasi reseptor setiap orang adalah berbeda-beda, hal tersebut terjadi akibat

sensitivitas taste bud dalam menerima impuls dari zat kimia serta perbedaan genetis setiap
orang.
4.

Setiap orang memiliki lokasi reseptor yang berbeda-beda. Secara umum kuncup kecap

ditemukan pada seluruh permukaan lidah tetapi untuk rasa manis didominasi di daerah ujung
lidah, rasa asin di tepi depan lidah, rasa asam di tepi belakang lidah dan untuk rasa pahit di
bagian pangkal tengah lidah.
5. Tingkat sensitivitas lidah seseorang mempengaruhi kemampuannya mengecap suatu rasa.
Sensitivitas disebabkan struktur dari lidah itu sendiri yang rusak atau tidak bagus akibat dari
pola makan seseorang.
5.2 SARAN
Dalam pengembangan ilmu , pembaca perlu melakukan penelitian lanjutan untuk
lebih mengetahui tentang indra pengecap.

13

14

DAFTAR PUSTAKA

Amerongen AV Nieuw. 1991. Ludah dan Kelenjar Ludah. Abyono R. Percetakan


Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. hlm. 6-7, 173-8.
Boron WF, Boulpeap EL. 2005. Medical Physiology. Update Ed. Sounders Comp.
America. p. 327.
Budi Riyanto Wreksoatmodjo. 2004. Aspek Neurologik Gangguan Rasa Pengecapan.
Majalah Kedokteran Atma Jaya. 3(3). hlm. 155-6.
Campbell, N.A.,J.B. Reece, & Mitchell. 200. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Diah Savitri Ernawati. 1997. Kelainan Jaringan Lunak Rongga Mulut Akibat Proses
Menua. Majalah Kedokteran Gigi (Dental Jurnal). 3(3). hlm. 112.
Frandson, Boron WF & Boulpeap EL. 1992. Medical physiology. Jakarta: Penerbit EGC.
Ganong WF. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Widjajakusuma MJ. Ed. ke-17.
Penerbit EGC. Jakarta. hlm. 183-5.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.

Irawati S. Ed. ke-9.

Penerbit EGC. Jakarta. hlm. 841-3. Hendra


Wasjudi Nugroho. 2000. Keperawatan Gerontik. Ed. ke-2. Penerbit EGC. Jakarta.
hlm. 1, 13, 16-20.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Irawati S. Ed. ke-9.
Jakarta: Penerbit EGC.
Jalmo, Tri. 2007. Buku Ajar Fisiologi Hewan. Bandar Lampung: Unila
Junqueira, L. Carlos, Jose Carneiro &Robert Kelley. 1995. Histologi Dasar.
Jakarta: Penerbit EGC.
Nukmal, Nismah. 2012. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Bandar Lampung:
Unila.
Pearce, E.C, 2000, Anatomi & Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta: PT. Gramedia.
Savitri, Diah Ernawati. 1997. Kelainan Jaringan Mulut. Jakarta: Majalah Kedokteran
Gigi.
Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia. Ed. ke-2. Jakarta: Penerbit EGC.

15

Widiastuti, Sri. 2002. Indera Pengecap. http://sriwidii.blogspot.com. Diakses tanggal


15 Desember 2012