Anda di halaman 1dari 1

Pemanfaatan Ikan sebagai pengendali jentik nyamuk

Pemanfaatan Ikan sebagai pengendali jentik nyamuk

Nyamuk merupakan serangga dari anggota ordo Diptera yang sering berinteraksi
dengan manusia.Nyamuk lebih dikenal sebagai vektor penyakit. Penyakit menular dengan
perantara atau vector. Nyamuk hingga kini masih menjadi beban berat bagi sebagian
besar negara tropis termasuk Indonesia. Penyakit-penyakit menular yang dibawa oleh
nyamuk tersebut diantaranya seperti demam berdarah, DBD, malaria, filariasis, dan
chikungunya.

Nyamuk merupakan serangga dari anggota ordo Diptera yang sering berinteraksi
dengan manusia.Nyamuk lebih dikenal sebagai vektor penyakit. Penyakit menular dengan
perantara atau vector. Nyamuk hingga kini masih menjadi beban berat bagi sebagian
besar negara tropis termasuk Indonesia. Penyakit-penyakit menular yang dibawa oleh
nyamuk tersebut diantaranya seperti demam berdarah, DBD, malaria, filariasis, dan
chikungunya.

Kasus yang sedang terjadi di Kabupaten Bantul saat ini yaitu demam berdarah
yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Demam berdarah atau DBD adalah
penyakit yang membuat penderitanya mengalami rasa nyeri yang luar biasa,
seolah-olah terasa sakit hingga ke tulang. Informasi dari harianjogja.com, pada tahun
2015 (rekapan januari-Juli 2015) telah tercatat 1.115 kasus dengan korban tewas
sebanyak 9 orang.

Kasus yang sedang terjadi di Kabupaten Bantul saat ini yaitu demam berdarah
yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Demam berdarah atau DBD adalah
penyakit yang membuat penderitanya mengalami rasa nyeri yang luar biasa, seolah-olah
terasa sakit hingga ke tulang. Informasi dari harianjogja.com, pada tahun 2015 (rekapan
januari-Juli 2015) telah tercatat 1.115 kasus dengan korban tewas sebanyak 9 orang.

Aedes aegypti termasuk serangga yang mengalami metamofosis sempurna, yaitu


mulai dari telur, larva, pupa sampai dewasa. Aedes aegypti meletakkan telurnya pada air
tenang dan lebih menyukai air yang bersih. Sekali bertelur nyamuk betina akan
mengeluarkan 100-200 butir yang akan mengapung di atas permukaa air. Pada suhu 30
derajat Celsius, telur akan menetas setelah 1-3 hari dan pada suhu 16 derajat Celsius
akan menetas dalam waktu 7 hari. Setelah menetas, akan berubah menjadi larva (lebih
dikenal dengan jentik nyamuk) yang dapat dilihat jelas dengan mata karena
mengantung di permukaan air. Setelah 9 10 hari pada fase larva, selanjutnya akan
memasuki fase pupa selama 2 3 hari. Baru setelah itu menjadi nyamuk dewasa.
Terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi
nyamuk, misalnya memberantas sarang nyamuk, membasmi jentik-jentik (larva) untuk
memutuskan daur hidupnya atau membasmi nyamuk dewasa. Cara pengendalian
tersebut dapat dilakukan dengan cara kimiawi seperti fogging atau pemakaian bubuk
abate.
Selain hal tersebut, pengendalian populasi juga dapat menggunakan cara biologi
yaitu dengan menggunakan ikan. Ikan tersebut dapat digunakan sebagai pemakan jentik
nyamuk sehingga daur hidup nyamuk dapat terputus. Ikan yang kelihatannya tidak
berguna, ternyata memiliki manfaat yang cukup besar. Dengan berkurangnya jentik
nyamuk, tentunya nyamuk dewasa pun akan berkurang sehingga vektor penular penyakit
BD/DBD juga berkurang. Dengan berkurangnya vektor tersebut diaharapkan jumlah
penderita penyakit DBD pun akan semakin berkurang. Ikan pemakan jentik antara

lain ikan cere, ikan nila merah, ikan cupang (ikan laga), ikan kepala timah
juga merupakan ikan yang memakan jentik nyamuk. Ada baiknya
membiarkan ikan tersebut berada di bak mandi, kolam pembesaran ikan,
parit, rawa-rawa, atau genangan air lainnya yang sulit dikeringkan.
KKN UNY 1024

Aedes aegypti termasuk serangga yang mengalami metamofosis sempurna, yaitu


mulai dari telur, larva, pupa sampai dewasa. Aedes aegypti meletakkan telurnya pada air
tenang dan lebih menyukai air yang bersih. Sekali bertelur nyamuk betina akan
mengeluarkan 100-200 butir yang akan mengapung di atas permukaa air. Pada suhu 30
derajat Celsius, telur akan menetas setelah 1-3 hari dan pada suhu 16 derajat Celsius
akan menetas dalam waktu 7 hari. Setelah menetas, akan berubah menjadi larva (lebih
dikenal dengan jentik nyamuk) yang dapat dilihat jelas dengan mata karena
mengantung di permukaan air. Setelah 9 10 hari pada fase larva, selanjutnya akan
memasuki fase pupa selama 2 3 hari. Baru setelah itu menjadi nyamuk dewasa.
Terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi
nyamuk, misalnya memberantas sarang nyamuk, membasmi jentik-jentik (larva) untuk
memutuskan daur hidupnya atau membasmi nyamuk dewasa. Cara pengendalian
tersebut dapat dilakukan dengan cara kimiawi seperti fogging atau pemakaian bubuk
abate.
Selain hal tersebut, pengendalian populasi juga dapat menggunakan cara biologi
yaitu dengan menggunakan ikan. Ikan tersebut dapat digunakan sebagai pemakan jentik
nyamuk sehingga daur hidup nyamuk dapat terputus. Ikan yang kelihatannya tidak
berguna, ternyata memiliki manfaat yang cukup besar. Dengan berkurangnya jentik
nyamuk, tentunya nyamuk dewasa pun akan berkurang sehingga vektor penular penyakit
BD/DBD juga berkurang. Dengan berkurangnya vektor tersebut diaharapkan jumlah
penderita penyakit DBD pun akan semakin berkurang. Ikan pemakan jentik antara lain
ikan cere, ikan nila merah, ikan cupang (ikan laga), ikan kepala timah juga
merupakan ikan yang memakan jentik nyamuk. Ada baiknya membiarkan ikan
tersebut berada di bak mandi, kolam pembesaran ikan, parit, rawa-rawa, atau
genangan air lainnya yang sulit dikeringkan.
KKN UNY 1024