Anda di halaman 1dari 63

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Visi pembangunan kesehatan Indonesia, seperti yang tercantum dalam
Undang-Undang Kesehatan RI No.36 Tahun 2009 yakni : Meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi sumber
daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi. Makna yang
terkandung dari pernyataan tersebut adalah bahwa setiap upaya pembangunan
harus berkontribusi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat,
diantaranya adalah program pencegahan dan pemberantasan penyakit reproduksi
(Notoatmodjo, 2012).
Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera
baik fisik, mental dan sosial secara utuh, yang tidak hanya bebas
dari penyakit/ kecacatan, dalam semua hal yang berkaitan
dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya (Depkes
RI, 2009). Dalam konferensi kependudukan di Kairo pada tahun
2009, definisi kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat yang
menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental dan sosial dan bukan
hanya bebas dari penyakit atau gangguan di segala hal yang

berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi maupun sistim


reproduksi tersebut (WHO, 2009 ).
Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari
masa kanak-kanak kemasa dewasa (Hurlock, 2010). Periode
transisi tersebut ditandai dengan perubahan fisik dan psikis
yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku remaja, serta
menimbulkan persoalan dan permasalahan remaja. Salah satu
perubahan yang dialami remaja adalah perubahan pada organ
reproduksi yaitu terjadi kematangan seksual yang meliputi
tanda-tanda primer dan sekunder. Pada anak perempuan akan
terjadi kematangan seksual yang ditandai dengan perubahan
bertahap dari tanda-tanda kelamin sekunder yaitu pertumbuhan
rambut pubis serta datangnya menstruasi yang pertama kali
atau menarche (Narendra, 2008).
Menstruasi adalah perdarahan secara periodic dan siklik
dari

uterus,

disertai

dengan

pelepasan

(deskuamasi)

endometrium yang merupakan bagian dari proses regular yang


mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan
(Winkjosastro, 2007). Walaupun menstruasi datang setiap bulan
pada

usia

reproduksi,

banyak

wanita

yang

mengalami

ketidaknyamanan fisik atau merasa tersiksa saat menjelang

atau selama haid berlangsung, salah satu ketidaknyamanan fisik


saat menstruasi yaitu dismenore.
Dismenore adalah kram, nyeri dan ketidaknyamanan yang
di

hubungkan

dengan

menstruasi.

Kebanyakan

wanita

mengalami tingkat kram yang bervariasi, pada beberapa wanita


hal itu muncul dalam bentuk rasa tidak nyaman ringan dan letih,
sedangkan beberapa yang lain menderita rasa sakit yang
mampu menghentikan aktifitas sehari-hari. Namun waspadalah
bila nyeri haid terjadi terus menerus setiap bulannya dalam
jangka waktu lama karena kondisi itu merupakan salah satu
gejala endometriosis (penyakit kandungan yang disebabkan
timbulnya jaringan otot non-kanker sejenis tumor fibroid di luar
rahim). Dismenore dikelompokkan sebagai dimenorea primer
saat tidak ada sebab yang dapat dikenal dan dismenore
sekunder

saat

ada

kelainan

jelas

yang

menyebabkannya

(Sastrowardoyo,2007).
Rata-rata siswi setingkat SMA berusia 15-19 tahun yang
merupakan usia remaja yang mempunyai kondisi kejiwaan labil
sebagai salah satu faktor penyebab dan faktor resiko terjadinya
dismenorea khusunya dismenorea primer. Stress psikis atau
sosial yang dialami saat pembelajaran ataupun interaksi antar

teman

juga

sebagai

salah

satu

faktor

resiko

terjadinya

dismenorea primer (Winkjosastro, 2010).


Angka kejadian nyeri menstruasi primer di Indonesia
mencapai 54,89% sedangkan sisanya adalah penderita tipe
sekunder, yang menyebabkan mereka tidak mampu melakukan
kegiatan apapun dan ini akan menurunkan kualitas hidup pada
masing-masing individu (Proverawati & Misaroh,2009). Dari hasil
penelitian Jusmita (2011) mahasiswa STIKes Bhakti Husada
Bengkulu, nyeri menstruasi menyebabkan gangguan aktivitas
sehari-hari dan harus absen dari sekolah 1-7 hari setiap
bulannya pada 15% responden berusia 1517 tahun. Remaja
yang mengalami nyeri menstruasi berat mendapat nilai yang
rendah (6.5%), menurunnya konsentrasi (87.1%) dan absen dari
sekolah

(80.6%)

(Tangchai,

2012).

Namun

yang

berobat

kepelayanan kesehatan sangatlah sedikit, yaitu hanya 1% - 2%


(Abidin, 2007).
Akibat yang dapat ditimbulkan dari Dismenore yaitu
terganggunya

aktifitas

ketidaknyamanan

fisik

sehari
bahkan

hari

dapat

dan

mengalami

berlanjut

menjadi

infertilitas karena beberapa faktor yang menyertai misalnya


adanya endometriosis. Sehingga perlu diadakan penjelasan dan

diskusi

mengenai

cara

hidup,

pekerjaan

makanan

sehat,

istirahat yang cukup dan lingkungan penderita. Pemeriksaan dan


konsultasi dengan dokter perlu dilakukan untuk mengantisipasi
adanya kemungkinan yang kurang baik (Iqvita, 2010).
Upaya penanganan dismenore saat menstruasi, terdapat
beberapa terapi farmakologi

dengan menggunakan obat-obat

anti sakit (analgetic). Obat-obat penghambat pengeluaran


hormon prostaglandin seperti aspirin, endomethacin, asam
mafenamat.

Selain

menggunakan

terapi

farmakologi,

penanganan dismenore dapat juga dilakukan dengan terapi nonfarmakologi, yaitu dengan teknik relaksasi, distraksi, bio umpan
balik, teory gate control, akupuntur, hipnotis, terapi sentuhan
(Brunner & suddarth, 2008).
Distraksi merupakan salah satu teknik yang mencakup
memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selain pada nyeri,
dapat menjadi strategi yang sangat berhasil dan mungkin
merupakan mekanisme yang bertanggung jawab terhadap
teknik kognitif efektif lainnya. Hal ini disebabkan distraksi
diduga dapat menurunkan persepsi nyeri dengan menstimulus
sistem kontrol desensen, yang mengakibatkan lebih sedikit
stimuli nyeri yang ditransmisikan ke otak. Adapun teknik

distraksi

yang

paling

efektif

adalah

salah

satunya

mendengarkan musik (Brunner & suddarth, 2008).


Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada tanggal 2427 November 2014, terdapat 123 remaja putri siswi kelas I-3 di
SMA Muhammadiyah 1 kota Bengkulu. Catatan yang didapat di
ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) SMA Muhammadiyah 1
Kota Bengkulu pada bulan januari 2015 siswi yang datang ke
ruang UKS dengan keluhan nyeri haid ada 40 orang, diantaranya
25 orang siswi pernah absensi dan izin pulang kerumah karena
tidak mampu untuk mengikuti pembelajran kelas dan 15 orang
siswi lainnya hanya mengoleskan minyak kayu putih dan balsam
didaerah nyeri.
Saat

orang

siswi

di

wawancarai,

diantaranya

menyatakan mengalami kejadian nyeri menstruasi (dismenore).


Diantaranya ada 3 siswi yang izin untuk tidak mengikuti
pelajaran dan dirawat di UKS (Unit Kesehatan Siswa). Sebaliknya
ada 1 siswi yang tetap memaksakan diri untuk mengikuti proses
pelajaran, walaupun teramat sakit dan 1 siswi lagi hanya membiarkan nyeri
tersebut. Hasil wawancara langsung dengan salah satu guru juga menyatakan
bahwa siswinya banyak yang tidak masuk ataupun izin pulang dikarenakan
dismenore, guru juga menyatakan bahwa dismenore sangat mengganggu aktifitas

belajar dan mempengaruhi tingkat kehadiran presentase siswa. Upaya


penanganan dismenore yang dilakukan oleh sebagian siswi diantaranya 2 siswi
hanya mengoleskan minyak kayu putih atau balsem pada daerah yang nyeri, 3
orang siswi berbaring di UKS, dan minum obat pengurang rasa sakit. Belum ada
siswi yang menggunakan teknik terapi non-farmakologi seperti distraksi, bio
umpan balik, teory gate control, akupuntur, hipnotis, terapi sentuhan.
Berdasarkan

uraian

di

atas

peneliti

tertarik

untuk

melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Pemberian Teknik


Distraksi Terhadap Penurunan Dismenore pada siswi SMA
Muhammadiyah 1 Kota Bengkulu .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah
didapat masih banyaknya siswi yang mengalami nyeri haid
(dismenore) yang terganggu aktivitasnya dan belum ada siswi
yang menggunakan teknik non-farmakologi seperti distraksi di
SMA Muhammadiyah 1 bengkulu.
C. Pertanyaan Penelitian
Apakah terdapat pengaruh distraksi terhadap penurunan
dismenore pada siswi SMA Muhammadiyah 1 Kota Bengkulu?
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh distraksi terhadap penurunan
dismenore pada siswi SMA Muhammadiyah 1 kota Bengkulu.
2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui skala nyeri sebelum diberikan tindakan


distraksi

pada

siswi

SMA

Muhammadiyah

kota

Bengkulu.
b. Mengetahui skala nyeri sesudah diberikan tindakan
distraksi

pada

Bengkulu.
c. Mengetahui

siswi

pengaruh

SMA

Muhammadiyah

distraksi

terhadap

kota

penurunan

dismenore pada siswi SMA Muhammadiyah 1 kota


Bengkulu.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Prodi Keperawatan STIKes Bhakti Husada Bengkulu
Hasil
penelitian
ini
mampu
menambah
kepustakaan/referensi, yang dapat di manfaatkan oleh
mahasiswa

untuk

meningkatkan

pengetahuan

bimbingan

yang

berhubungan

dengan

dan

kejadian

dismenore.
b. Menjadi landasan untuk penelitian sejenis selanjutnya
yang terkait dengan dismenore.
c. Memberikan informasi tentang

pengaruh

terhadap penurunan dismenore.


2. Manfaat Praktis
a. Institusi
1) SMA Muhammadiyah 1 Kota Bengkulu
Hasil penelitian ini dapat menjadi
pelaksanaan

program

kegiatan

distraksi

landasan
bimbingan,

pembinaan dan konseling dalam upaya penanganan

siswi untuk menangani penurunan dismenore di SMA


Muhammadiyah 1 Bengkulu.
2) Mahasiswa
Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam
pembelajaran di bidang kesehatan mahasiswa/I yang
bersangkutan

dapat

memahami

penurunan

dari

dismenore tersebut.
3) Profesi kesehatan
Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi tenaga
kesehatan

meningkatkan

kesehatan

reproduksi

pemberian

wanita,

asuhan

khususnya

di

lingkungan sekolah.
F. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan penelitian belum ada yang melakukan
penelitian tentang Pengaruh distraksi terhadap penuruanan
dismenora pada siswi SMA Muhammadiyah 1 Kota Bengkulu
tetapi sudah ada yang melakukan penelitian dengan variable
yang sama, tempat dan waktu dilakukan oleh: Jusmita (2011)
dengan judul Hubungan Pengetahuan Tentang Dismenore
dengan Tingkat Kecemasan Saat Mengalami Dismenorea pada
Remaja Putri Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 01, 02, 03, 04,
dan 05 Negeri Kota Bengkulu.

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dismenore
1. Definisi
Dismenore adalah rasa nyeri yang timbul menjelang
dan selama menstruasi, ditandai dengan gejala kram pada
abdomen bagian bawah. Gejala ini disebabkan karena
tingginya

produksi

hormon

Prostaglandin.

Dismenore

merupakan rasa nyeri yang hebat yang dapat mengganggu


aktivitas sehari-hari (Wijayanti, 2009).
Proverawati & Misaroh (2009), dismenore adalah nyeri
menstruasi yang memaksa wanita untuk istirahat atau
berakibat pada menurunnya kinerja dan berkurangnya
aktifitas sehari-hari. Istilah Dismenore (dysmenorrhoea)
berasal dari bahasa Greek yaitu dys (gangguan atau nyeri
hebat/ abnormalitas), meno (bulan) dan rrhoea yang artinya
flow (aliran). Jadi dismenore adalah gangguan aliran darah
menstruasi atau nyeri menstruasi.

11

Dismenore adalah nyeri haid yang merupakan suatu


gejala dan bukan suatu penyakit tumbul akibat kontraksi
disritmik miomentrium yang menampilkan satu atau lebih
gejala mulai dari ringan sampai berat pada perut bagian
bawah, bokong, dan nyeri spamodik pada sisi medial paha.
(Nurmasitoh, 2008).

2. Klasifikasi
Ada dua tipe-tipe dari dismenore primer dan sekunder:
a. Dismenore primer
Dismenore primer adalah nyeri haid yang sangat
dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genetal yang
nyata. Dismenore primer terjadi beberapa waktu setelah
menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh
karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama
setelah menarche umumnya berjenis anovulatior atau
bersama-sama dengan permulaan haid dan berlangsung
untuk beberapa jam, walaupun pada beberapa kasus
dapat berlangsung beberapa hari. Sifat rasa nyeri ialah
kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada perut
bawah, tetapi dapat menyebar kedaerah pinggang dan
paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat di jumpai rasa

12

mual,

muntah,

sakit

kepala,

diare,

iritabilitas,

dan

sebagainya (Simanjuntak, 2007).


Disebut dismenore primer jika tidak ditemukan
penyebab yang mendasarinya dan dismenore sekunder
jika

penyebabnya

adalah

kelainan

kandungan.

Dismenore primer sering terjadi, kemungkinan lebih daro


50%

wanita

mengalaminya

dan

15%

diantaranya

mengalami nyeri pada saat menstruasi hebat. Biasanya


dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar
2-3 tahun setelah menstruasi pertama. Nyeri pada
dismenore primer juga diduga berasal dari kontraksi
rahim yang dirangsang oleh prostaglandin. Nyeri yang
dirasakan semkin hebat ketika bekuan atau potongan
jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher
rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit. Faktor
lainnya yang bisa memburuk dismenore adalah:
1) Rahim yang menhadap kebelakang (retrovesi)
2) Kurang berolah raga
3) Stres psikis atau stres sosial
Pertambahan
umur
dan
kehamilan

akan

menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini


diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim
akibat penuaan dan hilannya sebagaian saraf pada akhir
kehamilan. Perbedaan beratnya nyeri saat menstruasi

13

tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang


mengalami dismenore/nyeri menstruasi memiliki kadar
prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan

wanita

yang

tidak

mengalami

dismenore.

Dismenore sangat mirip dengan nyeri yang dirasakan


oleh

wanita

hamil

yang

mendapatkan

suntikan

prostaglandin untuk merangsang persalinan. Dismenore


primer juga disebabkan faktor perilaku dan psikologis.
Meskipun faktor-faktor ini belum meyakinkan di buktikan,
mereka harus dipertimbangkan jika pengobatan mesis
gagal.
b. Dismenore sekunder
Dismenore sekunder

(DS)

adalah

nyeri

saat

menstruasi yang disebabkan oleh kelainan ginekologi


atau kandungan. Pada umunya terjadi pada wanita yang
berusia lebih dari 25 tahun. Tipe nyeri dapat pula
menyerupai nyeri menstruasi dismenore primer, namun
lama nyeri dirasakan melebihi periode menstruasi dan
dapat

pula

Pemberian

terjadi
terapi

bukan
analgesic

antiinflamasi nonsteroid
memberikan

banyak

pada

saat

menstruasi.

non-narkotik,

obat

dan pil kontrasepsi tidak


manfaat.

Nyeri

haid

yang

14

disebabkan oeh patologi pelvis secara anatomis atau


mikroskopis dan terutama terjadi pada wanita berusia 3045 tahun. Pengertian yang lain menyebutkan definisi
dismenore sekunder sebagai nyeri yang muncul saat
menstruasi namun disebabkan oleh adanya penyakit lain.
Penyakit
sekunder

lain

yang

antara

adenomyosis

sering

lain

uterin,

menyebabkan

endometriosis,
dan

(Simanjuntak, 2007).
Dismenore sekunder

dismenore

fibroid

uterin,

inflamasi

pelvis

kronis

disebabkan

oleh

kondisi

latrogenik dan patalogis yang beraksi uterus, tuba falopi,


ovarium, atau pelvis peritoneum. Secara umum, nyeri
datang ketika terjadi proses yang mengubah tekanan
didalam

atau

disekitar

pelvis,

perubahan

atau

terbatasnya aliran darah, atau karena iritasi peritoneum


pelvis. Proses ini berkombinasi dengan fisiologi normal
dari

menstruasi

sehingga

menimbulkan

ketidaknyamanan. Ketika gejala ini terjadi pada saat


menstruasi, proses ini menjadi sumber rasa nyeri.
Penyebab dismenore sekunder dapat diklasifikasikan
dalam 2 golongan, yaitu penyebab intrauterin dan
penyebab ekstrauterin (Smith, 2003).

15

Tanda dan gejala pada dismenore sekunder dan


nyeri pelvis dapat beragam dan banyak. Umunya gejala
tersebut sesuai dengan penyebabnya. Keluhan yang
biasa

muncul

kesulitan

adalah

berkemih,

gejala

dan

pada

masalah

gastrointestinal,
pada

punggung.

Keluhan menstruasi berat disertai nyeri menandakan


adanya perubahan kondisi uterus seperti adenomyosis,
myomas, atau polip. Penyebab dari dismenore primer
antara lain infeksi, adenomiosis, mioma uteri, salpingitis
kronis, stenosis servisis uteri, kista ovarium, polip uteri
dan lain-lain. Faktor-faktor risiko DS antara lain infeksi
pelvis, penyakit menular seksual, dan endometriosis.
Terapi

dismenore

sekunder

berdasarkan

penyakit

dasarnya. Selain obat-obatan, terkadang perlu dilakukan


tindakan

bedah.

Bila

anda

mengalami

nyeri

saat

menstruasi, segera ketahui tipe nyeri anda. Karena,


mungkin saja itu adalah salah satu gejala awal terdapat
kelainan ginekologik pada anda (Smith, 2007).
3. Penyebab Dismenore
a. Dismenore primer
Banyak teori yang telah dikemukakan
menerangkan
patofisiologinya

penyebab
belum

dismenore
jelas

di

primer,

mengerti.

untuk
tetapi

Menurut

16

Simanjuntak (2007), beberapa faktor memegang peranan


sebagai penyebab dismenore primer antara lain:
1) Faktor kejiwaan: pada gadis-gadis yang

secara

emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak


mendapat penerangan yang tidak baik tentang
proses haid, mudah timbul dismenore.
2) Faktor konstitusi: faktor ini, yang erat hubungannya
dengan

faktor

tersebut

di

atas,

dapat

juga

menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktorfaktor

seperti

sebagainya

anemia,
dapat

penyakit

menahun,

mempengaruhi

dan

timbulnya

dismenore.
3) Faktor obstruksi kanalis servikalis: salah satun teori
yang paling tua untuk menerangkan terjadinya
dismenore primer ialah stenosis kanalis servikalis.
Pada wanita dengan uterus dalam hiperanteflekasi
mungkin dapat terjadi stenosis kanalis servikalis,
akan tetapi hal ini sekarang tidak dianggap sebagai
faktor yang penting sebagai penyebab dismenore.
Mioma

submukosum

bertangkai

atau

polip

endometrium dapat menyebabkan dismenore karena


otot-otot uterus berkontraksi keras dalam usaha
untuk mengeluarkan kelainan tersebut.

17

4) Faktor endokrin: pada umumnya ada anggapan


bahwa kejang yang terjadi pada dismenore primer
disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan.
Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan soal
tonus dan kontraksilitas otot usus.
5) Faktor alergi: teori ini dikemukakan

setelah

memperhatikan adanya asosiasi antara dismenore


dengan

migrane

atau

asma

bronkhiale.

Smith

menduga bahwa alergi ialah toksin haid.


b. Dismenore sekunder
Simanjuntak (2007), nyeri mulai pada saat haid dan
meningkatkan bersamaan dengan keluarnya darah haid.
Dapat disebabkan oleh antara lain:
1) Endometriosis
2) Fibroid
3) Adenomiosis
4) Peradangan tuba falopi
5) Perlengkapan abnormal antara organ didalam perut
6) Pemakain IUD
Seperti disebutkan suatu kanal leher rahim yang
sempitnya tidak biasa cenderung untuk meningkatkan
kejang-kejjang menstruasi. Faktor anatomi lain nya di
perkirakan

untuk

kontribusipada

kejang-kejang

menstruasi adalah suatu kemiringan yang memutar


kembali dari kandungan (retroverted uterus).
Telah lama diperkirakan bawha faktor-faktor
psikologis juga memainkan suatu peran. Contohnya,

18

adalah diterima secara luas bahwa stress emosi dapat


meningkatkan ketidaknyamanan dari nyeri menstruasi.
4. Gejala dismenorea (nyeri menstruasi)
Menurut Simanjuntak (2007), gejala dismenore
menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa
menjalar kepunggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri
dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai
nyeri tumpul yang terus menerus ada.
Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau
selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24
jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenore juga
sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit, atau diare
dan sering berkemih.
Gejala utama adalah nyeri dismenore terkonsentrasi di
perut bagian bawah, di daerah umbilikalis atau dareah
suprapubik perut.hal ini sering dirasakan di perut kanan
atau kiri. Hal itu dapat memancarkan ke paha dan punggung
bawah. Gejala lain mungkin termasuk mual dan muntah,
diare atau sembelit, sakit kepala, pusing, disorientasi,
hipersensitivitas

terhadap

suara,

cahaya,

bau,

dan

sentuhan, pingsan, dan kelelahan.


Oleh karena itu, hampir semua wanita mengalami rasa
tidak enak di perut bagian bawah sebelum dan selama haid
dan seringkali rasa mual, maka istilah dismenore hanya

19

dipakai jika nyeri haid sedemikian hebatnya, sehingga


memaksa

penderita

untuk

istirahat

dan meninggalkan

pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari, untuk beberapa


jam atau beberapa hari.
Kejang-kejang

dismenore

dapat

secara

ilmiah

ditunjukkan dengan mengukur tekanan didalam kandungan


dan angka dan frekuensi dari kontraksi-kontraksi kandungan.
Sewaktu suatu periode menstruasi normal, wanita rata-rata
mempunyai kontraksi-kontraksi dari suatu tekanan yang
rendah (50-80mmHg), yang berlangsung 15-30 detik pada
suatu frekuensi dari 1-4 kontraksi-kontraksi setiap 10 menit.
Ketika seorang wanita mempunyai kejang-kejang dismenore,
kontraksi-kontraksinya adalah dari suatu tekanan yang lebih
tinggi (mereka mungkin melewati 400 mmHg), berlangsung
lebih lama 900 detik, dan seringkali terjadi kurang dari 15
detik terpisah.
B. Nyeri
1. Definisi
Nyeri
merupukan

faktor

untuk

menghambat

kemampuan dan keinginan individu untuk pulih dari suatu


penyakit (Potter & Perry, 2006).
Kusnadi (2013), mengatakan bahwa nyeri adalah persepsi
sensori dari rangsangan psikis atau fisik maupun lingkungan

20

yang diinterpretasikan oleh otak sehingga menimbulkan


reaksi terhadap rangsangan tersebut.
Nyeri
adalah
bentuk
suatu

rasa

sensorik

ketidaknyamanan yang bersifat subyektif dan pengalaman


emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan
kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang
dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan
(Andarmoyo,2013)
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang
tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan aktual
atau pootensial (Smeltrzer,2005)
2. Mekanisme Nyeri
Nyeri

merupakan

suatu

mekanisme

perlindungan

tubuh untuk melindungi dan memberikan tanda bahaya


tentang adanya gangguan ditubuh. Mekanisme nyeri adalah
sebagai berikut rangsangan diterima oleh reseptor nyeri,
diubah dalam bentuk impuls yang dihantarkan kepusat nyeri
di korteks otak. Setelah diproses dipusat nyeri, impuls
dikembalikan

ke

perifer

dalam

bentuk

persepsi

nyeri

(Saputra, 2012).
Rangsangan yang diterima oleh reseptor nyeri berasal
dari berbagai faktor dan dikelompokkan 3 (tiga) bagian,
yaitu:

21

a. Rangsangan Mekanik : Nyeri yang disebabkan karena


pengaruh mekanik seperti tekanan, tusukan jarum,
irisan pisaudan lain-lain.
b. Rangsangan Termal : Nyeri disebabkan karena pengaruh
suhu, Rta-rata manusia akan merasakan nyeri jika
menerima panas diatas 45derajat C, dimana mulain
pada

suhu

kerusakan.
c. Rangsangan
kerusakan

tersebut

jaringan

akan

mengalami

Kimia

Jaringan

yang

mengalami

akan

membebaskan

zat

yang

disebut

mediator yang dapat berkaitan dengan reseptor nyeri


antara lain: bradikinin, serotonin, histamin, asetilkolin
dan prostaglandin. Bradikinin merupakan zat byang
paling

berperan

dalam

meinmbulkan

nteri

karena

kerusakan jaringan.
3. Klasifikasi Nyeri
Smeltzer (2005), nyeri dapat diklasifikasikan menjadi 2
(dua) adalah sebagai berikut:
a. Nyeri akut biasanya awitannya tiba-tiba dan umumnya
berkaitan

dengan

cedera

spesifik.

Nyeri

akut

mengindikasikan bahwa kerusakan atau cedera telah


terjadi. Hal ini menarik perhatian pada kenyataan
bahwa nyeri ini benar terjadi dan mengajarkan kepada

22

kita untuk menghindari situasi serupa yang secara


potensial menimbulkan nyei. Jika kerusakan tidak lama
terjadi dan tidak ada penyakit sistematik, nyeri akut
biasanya

menurun

sejalan

dengan

terjadinya

penyembuhan, nyeri ini umumnya terjadi kurang dari


enam bulan dan biasanya kurang dari satu bulan. Untuk
tujuan definisi, nyeri akut dapat dijelaskan sebagai nyeri
yang berlangsung beberapa detik hingga enam bulan.
b. Nyeri kronik adalah nyerti konstan atau intermiten yang
menetap sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini
berlangsung

diluar

waktu

penyembuhan

yang

diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan


penyebab atau cedera spesifik. Nyeri kronis dapat tidak
mempunyai awitan yang ditetapkan dengan tetap dan
sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak
memberikan

respons

terhadap

pengobatan

yang

diarahkan pada penyebabnya. Mesti nyeri akut dapat


menjadi signal yang sangat penting bahwa sesuatu
tidak berjalan sebagaimana mestinya, nyeri kronis
biasanya menjadi masalah dengan sendirinya.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri

23

Potter

&

Perry

(2006),

faktor-faktor

yanga

mempengaruhi nyeri adalah sebagai berikut:


a. Usia
Usia

merupakan

variabel

penting

yang

mempengaruhi nyeri, khususnya pada anak-anak dan


lansia.

Perbedaan

diantara

kelompok

perkembangan,
usia

ini

yang

dapat

ditemukan

mempengaruhi

bagaimana anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri.


Anak yang masih kecil mempunyai kesulitan memahami
nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang
menyebabkan nyeri. Nyeri bukan merupakan bagian
dari proses menuaan yang tidak dapat dihindari. Pada
lansia

yang

mengalami

nyeri,

perlu

dilakukan

pengkajian, diagnosis, dan penatalaksanaan secara


agresif.
b. Jenis Kelamin
Secara umum, pria dan wanita tidak berbeda
secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri.
Toleransi

nyeri

sejak

lama

telah

menjadi

subjek

penelitian yang melibatkan pria dan wanita. Akan


tetapi, toleransi nyeri dipengaruhi oleh faktor-faktor
biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap
individu, tanpa memperhatikan jenis kelamin.

24

c. Kebudayaan
Keyakinan

dan

nilai-nilai

kebudayaan

mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Individu


mempelajari apa

yang

diharapkan dan apa

yang

diterima oleh kebudayaan mereka. Hal ini meliputi


bagaimana bereaksi terhadap nyeri.
d. Makna Nyeri
Makna seseorang yang berkaitan dengan nyeri
mempengaruhi

pengalamanan

nyeri

dan

cara

seseorang beradaptasi terhadap nyeri. Hal ini juga


dikaitkan secara dekat dengan latar belakang budaya
individu

tersebut.

Individu

mempersepsikan

nyeri

dengan cara yang berbeda-beda, apabila nyeri tersebut


memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman,
tantangan.
e. Perhatian
Tingkat seseorang klien memfokuskasn perhatian
pada

nyeri

Perhatian

dapat
yang

mempengaruhi
meningkat,

persepsi

sedangkan,

nyeri.
upaya

pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan respon nyeri


yang menurun.
f. Ansietas
Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat
kompleks. Ansietas seringkali meningkatkan persepsi
nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu

25

perasaan ansietas. Sistem limbik dapat memproses


reaksi emosi terhadap nyeri, yakni memperburuk atau
menghilangkan nyeri.
g. Keletihan
Keletihan meningkatkan perserpsi nyeri. Rasa
kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif
dan menurunkan kemampuan koping. Hal ini dapat
menjadi masalah umum pada setiap individu yang
menderita penyakit dalam jangka lama.
h. Pengalaman Sebelumnya
Apabila individu sejak lama sering mengalami
serangkaian episode nyeri berat maka ansietas atau
bahkan rasa takut dapat muncul. Sebaliknya apabila
individu mengalami nyeri dengn jenis yanag sama
berulang-ulang,

akan

lebih

mudah

bagi

individu

tersebut untuk menginterprestasikan saensasi nyeri


akibatnya, akliaen akan lebih siap untuk melakukan
tindakan-tindakan yang perlu untuk menghilangkan
nyeri.
i. Gaya Koping
Nyeri dapat menyebabkan ketidakmampuan, baik
sebagian maupun keseluruhan/total. Klien sering kali
menenukan

berbagai

cara

untuk

mengembankan

koping terhadap efek fisik dan psikologis nyeri. Penting

26

untuk memahami sumber-sumber koping klien selama


ia mengalami nyeri.
j. Dukungan Keluarga dan Sosial
Faktor lain yang bermakna

mempengaruhi

respons nyeri ialah kehadiran orang-orang terdekat


klien dan bagaimana sikap mereka terhadap klien.
Individu yang mengalami nyeri sering kali tergantung
pada

anggota

keluarga

atau

teman

dekat

untuk

memperoleh dukungan, bantuan, atau perlindungan.


5. Penilaian Respon Intensitas Nyeri
Andarmoyo (2013), intesietas nyeri merupakan
gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh
individu, pengukuran intesitas nyeri sangat subjektif dan
individual

serta

kemungkinan

nyeri

dalam

intesitas

yangsama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang


berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif
yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik
tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran
dengan teknik ini juga tigdak dapat memberikan gambaran
pasti tentang nyeri itu sendiri.
Potter & Perry (2006), pengukuran intensitas nyeri
dapat

dilakukan

berikut:
a. Skala numerik

dengan

menggunakan

skala

sebagai

27

Skala penilaian numerik (numerical reating scales,


NRS)

lebih

digunakan

sebagai

pengganti

alat

pendiskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri


dengan menggunakan skala 0-10. Hasil pengukurannya
adalah 0 termasuk kategori tidak ada nyeri, skor 1-3
termasuk pada skala nyeri ringan, skor 4-6 termasuk
nyeri sedang, 7-10 termasuk kategori nyeri berat. Skala
paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri
sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila
digunakan

skala

untuk

menilai

nyeri,

maka

direkomendasikan patokan 10 cm.


Gambar 2.2
Numerik rating scales (NRS)
0
8

1
9

10

Tidak

Nyeri ringan

Nyeri sedang

Nyeri hebat
Nyeri
b. Skala deskriptif
Skala deskriptif

merupakan

alat

pngukuran

tingkat keparahan nyeri yang lebih objektif. Skala


pendeskripsi verbal (verbal descriptor scale, VDS)

28

merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai


lima kata pendiskripsi yang tersusun dengan jarak yang
sama di sepanjang garis, pendeskripsi ini diranking dari
tidak terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahan.
Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta
klien untuk memilih intensitas nyeri terbaru yang ia
rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri
terasa paling menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan
klien

memilihkan

sebuah

kategori

untuk

mendiskripsikan nyeri.
Gambar 2.3
Verbal Descriptor Scale (VDS)

Tidak
Nyeri

Nyeri

Nyeri

Nyeri

Nyeri Paling
Ada nyeri

Ringan

Sedang

Hebat

Sangat Hebat

Hebat
c. Skala analog visual
Smeltzer (2005), skala

analog visual (Visual

analog scale, VAS) adalah suatu garis lurus atau


horizontal sepanjang 10 cm, yang mewakili intensitas

29

nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada


setiap ujungnnya. Pasien diminta untuk menunjukkan
titik pada garis yang menunjukkan letak nyeri terjadi
sepanjang

garis

tersebut.

Ujung

kiri

biasanya

menandakan tidak ada dan tidak nyeri, sedangkan


ujung kanan biasanya menandakan berat atau nyeri
yang

paling

buruk.

Untuk

menilai

hasil,

sebuah

penggaris diletakkan sepanjang garis dan jarak yang


dibuat pasien pada garis dari tidak ada nyeri diukur
dan di tulis dalam centimeter.
Skala ini memberikan klien kebebesan penuh
untuk mengidenfikasikan pekarahan nyeri. VAS dapat
merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih
sensitive karena klien dapat mengidenfikasikan setiap
titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih salah
satu kata atau angka.
Gambar 2.4
Visual analog scale (VAS)
Tidak
Nyeri
Nyeri
Sangat

30

Hebat
6. Strategi penatalaksanaan nyeri farmakologi dan
nonfarmakologi
kusnadi (2013),

strategi

penatalaksanaan

nyeri

nonfarmakologi adalah sebagai berikut:


1. Relaksasi
Relaksasi adalah teknik pelemasan otot sehingga
akan mengurangi tekanan pada otot dalam menurunkan
atau meredakan nyeri. Pertama, dengan menggepalkan
jari ketika mengambil napas dalam. Setelah menahan
nafas beberapa waktu, klien menghembuskan nafas
sembari membiarkan tubuh melemas. Siklus ini diikuti
oleh nafas dalam dan perlahan, hyang mirip seperti
menguap.
2. Distraksi
Distraksi adalah memfokuskan perhatian pasien
pada sesuatu selain nyeri, atau dapat diartikan lain
bahwa distraksi adalah suatu tindakan pengalihan
perhatian

pasien

ke

hal-hal

diluar

nyeri.

Dengan

demikian, harapan pasien tidak berfokus pada nyeri lagi


dan dapat menurunkan kewaspadaan pasien terhadap
nyeri bahkan meningkatkan toleransi terhadap nyeri
(Andarmoyo, 2013).
Andarmoyo (2013), jenis distraksi antara lain :

31

a. Distraksi visual atau penglihatan


Distraksi visual atau penglihatan

adalah

pengalihan perhatian selain nyeri yang diarahkan


kedalam

tindakan-tindakan

visual

atau

pengamatan. Misalnya melihat pertandingan olah


raga, menonton televisi, membaca Koran, melihat
pemandangan atau gambar yang indah.
b. Distraksi audio atau pendengaran
Pengalihan perhatian selain nyeri

yang

diarahkan kedalam tindakan-tindakan melalui organ


pendengaran. Misalnya, mendengarkan musik yang
disukai atau mendengarkan suara kicauan burung
serta gemercik air. Saat mendengarkan musik,
individu dianjurkan untuk memilih musik yang
sesuai dan musik tenang seperti musik klasik dan
diminta untuk berkosentrasi pada lirik dan irama
lagu.

3. Bio umpan balik


Terdiri dari

sebuah

program

latihan

yang

bertujuan untuk membantu seseorang mengendalikan


aspek tertentu sistem saraf otonom.
4. Teory gate control

32

Serabut saraf kulit merupakan saraf berdiameter


besar yang menghantarkan impuls ke susunan saraf
pusat. Apabila terkenarangsangan misalnya pemijatan,
maka diduga bahwa rasa nyeri dapat dikendalikan
dengan menutup pintu gerbang disubstansia gelatinosa
medulla spinals sehingga nyeri tidak sampai ke otak.
5. Akupuntur
Suatu teknik tusuk jarum yang menggunakan
jarum-jarumkecil, panjang untuk menusuk ke bagianbagian

tertentu

dalam

tubuh

untuk

menghasilkan

ketidakpekaan terhadap rasa nyeri.


6. Hipnotis
Reaksi seseorang akan yeri dapat diubah dengan
signifikan melalui hipnotis. Hipnotis berbasis pada
sugesti, disosiasi, dan proses memfokuskan perhatian.
7. Terapi sentuhan
Terpi sentuhan telah digunakan untuk beberapa
gangguan sakit kepala. Terapi ini merupakan turunan
dari meletakkan tangan. Tubuh manusia dipercaya
memili sumber energi yang mengekspesikan pola yang
menyimpang ketika sistem tubuh terganggu.
Andarmoyo (2013), strategi penatalaksanaan nyeri
mencakup pendekatan farmakologi. Salah satu pendekatan
farmakologis

yang

biasa

digunakan

adalah

analgesic.

33

Analgesic merupakan metode yang paling umum untuk


mengatasi nyeri walaupun analgesikdapat menghilangkan
nyeri dengan efektif. Ada 3 jenis analgesic antara lain:
a. Analgesik

non-narkotik

dan

obat

antiinflamasi

nonsteroid (NSAID)
NSAID non-narkotik umumnya menghilangkan nyeri
ringan dan nyeri sedang, seperti nyeri yang terkait
dengan arthritis rheumatoid, prosedur pengobatan gigi,
dan prosedur bedah minor, episiatomi, dan masalah
punggung bagian bawah. Satu pengecualian yaitu
ketorolak
pertama

(toradol),
yang

dapat

merupakan

agens

analgesic

dibandingkan dengan

(Potter & Perry, 2006).


b. Analgesic narkotik atau opiate
Analgesic
narkotik
atau

opiate

morfin

umumnya

diresepkan dan digunakan untuk nyeri sedang sampai


berat,

seperti

pasca

operasi

dan

nyeri

maligna.

Analgesic ini bekerja pada sistem saraf pusat untuk


menghasilkan

kombinasi

efek

mengespresikan

dan

menstimulasi.
c. Obat tambahan (adjuvan)
Adjuvan seperti sadatif, anti cemas, dan relaksasi
otot meningkatkan kntrol nyeri atau menghilangkan
gejala lainyang terkait dengan nyeri seperti mual, dan

34

muntah. Agen tersebut diberikan dalam bentuk atau


disertai dengan analgesik, sadatif seringkali diresepkan
untuk menderita nyeri kronik. Obat-obatan ini dapat
menimbulkan rasa kantuk dan kerusakan koordinasi,
keputusan, dan kewaspadaan mental.
C. Distraksi Pendengaran
1. Definisi
Distraksi adalah memfokuskan perhatian pasien pada
sesuatu selain nyeri, atau dapat diartikan lain bahwa
distraksi adalah suatu tindakan pengalihan perhatian pasien
kehal-hal diluar nyeri. Dengan demikian, diharapkan pasien
tidak berfokus pada nyeri lagi dan dapat menurunkan
kewaspadaan pasien terhadap nyeri bahkan meningkatkan
toleransi terhadap nyeri.
Distraksi pendengaran yaitu mendengarkan musik
yang disukai, suara burung, atau gemercik air. Klien
dianjurkan untuk memilih musik yang disukai dan musik
yang tenang, seperti musik klasik. Klien diminta untuk
berkonsentrasi pada lirik dan irama lagu . klien juga
diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama
lagu, seperti bergoyang, mengetukkan jari tau kaki (Tamsuri,
2007).
Musik terbukti menunjukan efek yaitu menurunkan
tekanan darah, dan mengubah persepsi waktu. Perawat

35

dapat menggunakan musik dengan kreatif di berbagai


situasi klinik, pasienumunya lebih menyukai melakukan
suatu kegiatan memainkan alat musik, menyanyikan lagu
atau mendengarkan musik. Musik yang sejak awal sesuai
dengan suasana hati individu, merupakan pilihan yang
paling baik (Potter & Perry, 2006).
Setyoadi (2011), terapi musik adalah teknik yang
digunakan untuk penyembuhan suatu penyakit dengan
menggunakan bunyi atau irama tertentu.
Terapi
musik
adalah
suatu

proses

yang

menggabungkan antara aspek penyembuhan musik itu


sendiri dengan kondisi dan situasi, fisik/tubuh, emosi,
mental, spiritual, kognitif dan kebutuhan social seseorang
(Natalina, 2013).
Terapi musik adalah keahlian menggunakan musik
atau elemen musik untuk meningkatkan, mempertahankan,
serta mengembalikan kesehatan mental, fisik, emosional,
dan spiritual (Setyoadi, 2011).
2. Jenis Terapi Musik
Natalina (2013), Terapi musik terdiri dari dua jenis:
a. Aktif kreatif
Terapi musik diterapkan dengan melibatkan klien
secara langsung untuk ikut aktif dalam sebuah sesi terapi
melalui cara:

36

1) Menciptakan lagu (composing), klien diajak untuk


menciptakan lagu sederhana ataupun membuat lirik
dan terapis yang akan melengkapi secara harmoni.
2) Improvisasi, klien membuat musiksecara spontan
dengan menyanyi ataupun bermain musik pada saat
itu juga atau membuat improvisasi dari musik yang
diberikan

oleh

terapis.

Improvisasi

dapat

juga

sebagai ungkapan perasaan klien akan moodnya,


situasi yang dihadapi maupun perasaan terhadap
seseorang.
b. Pasif reseptif
Dalam sesi reseptif, klien akan mendapatkan terapi
dengan mendengarkan musik. Terapi ini menekankan
pada

physical,

emotional

intellectual,

aesthetic

or

spiritual dari musik itu sendiri sehingga klien akan


merasakan

ketenangan

atau

relaksasi.

Musik

yang

digunakan dapat bermacam jenis dan style tergantung


dengan kondisi yang dihadapi klien.
3. Manfaat Terapi Musik
Terapi musik merupakan pengobatan secara holistik
yang langsung menuju pada symptom penyakit. Terapi ini
akan berhasil jika ada kerja sama antara klien dengan
terapis. Menurut Natalina (2013), terapi musik memiliki
beberapa manfaat, diantaranya:

37

a. Musik pada bidang kesehatan


1) Menurunkan tekanan darah melalui ritmik musik
yang stabil memberi irama teratur pada sistem
jantung manusia.
2) Menstimulasi kerja

otak

mendengarkan

musik

dengan harmoni yang baik akan menstimulasi otak


untuk

melakukan

tersebut.
3) Meningkatkan

proses

imunitas

analisa
tubuh

terhadap
suasana

lagu
yang

ditimbulkan oleh musik akan mempengaruhi sistem


kerja hormone manusia, jikakita mendengar musik
yang

baik

atau

meningkatkan

positif

maka

imunitas

tubuh

hormone
juga

yang
akan

memproduksi.
4) Memberi keseimbangan pada detak jantung dan
denyut nadi.
b. Musik meningkatkan kecerdasan
1) Daya ingat- menyanyi dengan menghafalkan lirik
lagu, akan melatih daya ingat
2) Konsentrasi- saat terlibat dalam bermusik(menyayi,
bermain

instrumen)

akan

menyebabkan

otak

berkerja secara terfokus


3) Emosiomal- musik mampu memberikan pengharuh
secara emosional terhadap makhluk hidup

38

c. Musik meningkatkan kerja otot- mengaktifkan motorik


kasar

dan

halus.

Musik

untuk

tubuh(menari, olahraga dll)


d. Musik meningkatkan produktifitas,

kegiatan
kreatifitas,

gerak
dan

imajinasi
e. Musik menyebabkan tubuh menghasilkan hormone betaendorphine ketika mendengar suara kita sendiri yang
indah maka hormon kebahagian (beta-endorphine)
akan berproduksi
f. Musik membentuk sikap seseorang- meningkatkan mood.
Karakteristik makhluk hidup dapat terbentuk melalui
musik, rangkaian nada yang indah akan membangkitkan
perasaan bahagia/semangat positif.
g. Musik mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan
sosialisasi- bermusik akan menciptakan sosialisasi karena
dalam bermusik dibutuhkan komunikasi.
h. Meningkatkan visualisasi melalui warna musik- musik
mampu

membangkitkan

imajinasi

melalui

rangkaian

nada-nada harmonisasinya.
4. Teknik terapi musik
Setyoadi (2011), teknik dalam terapi musik adalah
anatara lain :
a. Persiapan
Persiapan alat dan lingkungan:

39

1) Mp3 jenis musik yang digunakan


2) Lingkungan yang tenang, nyaman, dan bersih
Persiapan klien :
1) Jelaskan tujuan, manfaat, prosedur pelaksanaan, serta
meminta persetujuan klien untuk mengikuti terapi
musik
2) Posisikan tubuh klien secara nyaman dan rileks
b. Prosedur
1) Memberikan kesempata klien memilih jenis musik
2) Mengaktifkan Mp3 jenis musik dan mengatur volume
suara sesuai dengan selera klien
3) Mempersilakan klien mendengarkan musik selama 15
menit
4) Saat klien mendengarkan musik arahkan untuk focus
dan

rileks

terhadap

lagu

yang

melepaskan semua beban yang ada


5) Setelah
musik
berhenti
klien

didengar

dan

mempersilakan

mengungkapkan perasaan yang muncul saat musik


tersebut diputar, serta perubahan yang terjadi dalam
dirirnya
D. Pengaruh Teknik Distraksi Terhadap Penurunan
Dismenore
Distraksi merupakan perhatian dijauhkan dari sensai
nyeri atau rangsangan emosional negatif yang dikaitkan
dengan episode nyeri. Penjelasan teoritis yang utama adalah
bahwa seseorang mampu untuk memfokuskan perhatiannya
pada

jumlah

fosi

yang

terbatas.

Dengan

memfokuskan

40

perhatian secara aktif pada tugas kognitif dianggap adapat


membatasi

kemampuan

seseorang

untuk

memperhatikan

sensasi yang tidak menyenangkan. Agar efektif, aktivitas


distraksi memerlukan upaya kognitif yang cukup. Latihan
distraksi yang terlalu mudah secara cepat mudah menjadi
otomatis atau melibatkan respons monoton yang berulang
cenderung tidak efektif (Reni, 2013).
Teknik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori
bahwa aktivitas retikuler menghambat stimulus nyeri. Jika
seseorang

menerima

input

sensori

berlebihan

dapat

menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri


berkurang atau tidak dirasakan oleh klien). Stimulus yang
menyenangkan dari luar juga dapat merangsang sekresi
endofrin, sehingga stimulus nyeri yang dirasakan oleh klien
berkurang. Peredaan nyeri secara umum berlangsung dengan
partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas sensori yang
digunakan dan minat individu dalam stimulus. Oleh karena itu,
stimulus pendengaran, memungkinkan lebih efektif untuk
menurunkan nyeri (Tamsuri, 2007).
Intervensi dapat dilakukan dengan pemberian modalitas
yang bervariasi yang memerlukan klien untuk terlibat dalam
aktivitas mental yang menyenangkan dan memerlukan fokus

41

yang tinggi. Teknik yang umum sering dilakukan termasuk


mendengarkan musik favorit. Teknik distraksi akan lebih efektif
jika

melibatkaan

klien

dalam

aktifitas.

Sebagai

contoh,

mendengarkan musik sambil mengetukkan jari mengikuti ritme


akan lebih efektif daripada mendengarkan secara pasif saja.
Strategi kognitif perlu untuk disesuaikan dengan pilihan pribadi
klien (Reni, 2013).
Setyoadi (2011), musik merupakan sebuah rangsangan
pendengaran yang terogarnisasi, terdiri atas melodi, ritme,
harmoni,warna (timbre), bentuk, dan gaya. Musik memiliki
kekuatan untuk mengobati penyakit dan ketidakmampuan yang
dialami oleh seseorang. Ketika musik diaplikasikan menjadi
sebuah terapi, musik dapat meningkatkan , memulihkan,
memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, social, dan
spiritual dari setiap individu. Hal ini dikarenakan musik memiliki
beberapa

kelebihan,

seperti

bersifat

universal,

nyaman,

menyenangkan, dan terstruktur . sebagai contoh naafas, detak


jantung pulsasi semuanya berulang dan berirama. Intervensi
menggunakan terapi musik dapat mengubah ambang otak
yang dalam keadaan stress menjadi lebih adaptif secara
fisiologis dan efektif.

42

Semua jenis musik dapat digunakan sebagai terapi


seperti lagu-lagu rileksasi, lagu popular, maupun klasik. Musik
terbukti

menunjukkan efek menurunkan tekanan darah dan

mengubah persepsi waktu. Perawat dapat menggunakan musik


dengan kreatif di berbagai situasi klinik, pasien umumnya lebih
suka menyukai melakukan suatu kegiatan memainkan alat
musik, menyanyikan lagu atau mendengarkan musik. Musik
yang

sejak

awal

sesuai

dengan

suasana

hati

individu,

merupakan pilihan yang paling baik (Potter & Perry, 2006).


Hasil Penelitian Devynatalia Mathius (2012), tentang
pengaruh terapi musik instrument mozart terhadap penurunan
nyeri dismenore pada siswi SMK kesehatan Samarinda dapat
disimpulkan bahwa terapi musik memiliki pengaruh yang
bermakna terhadap perubahan respon fisiologis dan respon
prilaku pada klien yang sedang mengalami nyeri dismenore.

E. Kerangka konsep
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, maka
kerangka konsep tentang pengaruh pemberian teknik distraksi

43

terhadap penurunan dismenore pada siswi SMA Muhammadiyah


1 kota Bengkulu pada penelitian ini adalah :
Variabel Independent

Variabel

Teknik Distraksi
Dependent

Penurunan
Dismenore

Bagan 1. Kerangka Konsep


F. Hipotesis
Ada pengaruh

antara

teknik

distraksi

dengan

penurunan

dismenore pada siswi SMA Muahammadiyah 1 kota Bengkulu


tahun 2015.

44

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah desain Quasi Eksperimen dengan
rancangan sebelum dan sesudah intervensi pada satu kelompok (one group pretest
and postest ).

O1

O2

Keterangan :
O1 : Nyeri sebelum dilakukan distraksi
O2 : Nyeri sesudah dilakukan distraksi
X : Tindakan : distraksi
B. Kerangka Penelitian
Pola kerangka penelitiann ini dapat dilihat bahwa penelitian ini melalui pre
dan post intervensi
Pre test

eksperimen

Nyeri
Distraksi
sebelum
C. Definisi
Operasional
distraksi
Variabe
Definisi
Alat
Operasiona
l
ukur
l

Post test
Nyeri
sesudah
distraksi
Cara
Hasil
ukur

ukur

Skal
a

45

Terapi
distraksi

Dismeno
re

Terapi
distraksi
dengan
mengalihkan
pikiran
sdengan
mendengark
an
musik
yang disukai
oleh
responden
(Pop, Klasik,
dan
lainlain)selama
15 menit
Nyeri yang
disrasakan
oleh
siswi
dengan
karakteristik
nyeri
abdomen
bagian
bawah

Mp3

observasi

NRS
(Numeri
cal
rating
scales)

Responde
n diminta
menunjuk
kan
tingkat
nyeri
pada alat
pengukur
nyeri/
NRS

0 = tidak Inter
nyeri
1-3
= val
nyeri
ringan
4-6
=
nyeri
sedang

D. Tempat dan waktu penelitian


Penelitian ini dilakukan di ruang UKS SMA Muhammadiyah
1 kota Bengkulu. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei
2015.
E. Populasi dan sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek/subjek

yang

mempunyai

kualitas

karakteristik

tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan

46

kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2013). Populasi


dalam

penelitian

ini

adalah

seluruh

siswi

SMA

Muhammadiyah 1 Kota Bengkulu berjumlah 123 orang


siswi.
2. Sampel
Sampel adalah bagian polulasi yang akan diteliti atau
sebagian

jumlah dari karakteristik

yang

dimiliki oleh

populasi (Sugiyono, 2013). Untuk penelitian eksperimen


yang sederhana , jumlah anggota sampel adalah 10 sampai
dengan 20 responden (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian
ini peneliti mengambil sampoel yaiti 10 orang siswi yang
menderita dismenore. Sampel yang diambil menggunakan
teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel
dengan pertimbangan tertentu sesuai yang dikehendaki
peneliti (Setiadi, 2007).
kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :
a. Siswi yang mengalami dismenore atau nyeri haid skala
sedang.
b. Siswi yang bersedia menjadi responden.
kriteria eksklusi :
a. Siswi yang tidak mengalami dismenore.
b. Menolak menjadi responden.
F. Teknik Pengambilan Data
1. Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan
data sekundee yang diperoleh langsung dari UKS SMA
Muhammadiyah 1 Bengkulu.

47

2. Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan


data primer (jumlah siswi yang mengalamu dismenore)
yang

diperoleh

langsung

dari

responden.

Instrument

menggunakan lembar observasi sebelum dan sesudah


dilakukan distraksi. Langkah-langkah pengambilan data
primer dalam penelitian ini adalah :
a. Melakukan pengkajian karakteristik responden
b. Lingkungan yang nyaman, tenang, dan bersih.
c. Penelitian menjelaskan tujuan, manfaat, prosedur
pelaksanaan dan instrument pengkajian NRS.
d. Karakteristikresponden dikaji oleh peneliti.
e. Responden diminta menunjukkan nyerinya pada skala
0-10 yang ada pada instrument pengkajian NRS untuk
menilai skala nyeri pasien sebelum diberikan terapi
distraksi.
f. Responden memilih musik yang disukai dari mp3 atau
memilih daftar pilihan musik yang diberikan oleh
peneliti.
g. Responden mulai mendengarkan musik arahkan untuk
focus dan rileks terhadap lagu yang didengar.
h. Terapi dilakukan selama 15 menit.
i. Setelah dilakukan terapi distraksi pendengaran,
peneliti

memperlihatkan

kembali

alat

ukur

nyeri/Numerical ratting scales (NRS).


j. Responden diminta menunjukkan nyerinya pada skala
0-10 yang ada pada instrument pengkajian NRS untuk

48

menilai skala nyeri pasien sesudah diberikan terapi


distraksi pendengaran.
G. Pengelolahan Data
Pengelolahan data yang telah dikumpulkan dilakukan
dengan computer, melalui beberapa tahap antara lain:
1. Editing
Yaitu memeriksa data yang terkumpul tentang kelengkapan
isisan, sehingga bila ternyata ada yang belum lengkap bias
diulang kesumber yang bersangkutan.
2. Coding
Yaitu pemberian kode-kode tertentu pada masing-masing
jawaban menurut macamnya untuk memudahkan dalam
tahap pengelolahan data yaitu dengan memberikan kode
angka.
3. Entering
Memasukkan

data

yang

telah

diedit

dan

dikoding

menggunakan fasilitas komputer dengan program komputer.


4. Tabulating
Yaitu pengelompokan data kedalam table yang dibuat sesuai
dengan maksud dan tujuan peneliti.
5. Cleaning
Pada tahap inio data yang telah dimasukkan kedalam
tabel/komputer sebelum dianalisis dilakukan pengecekan
kembali, jika ditemukan kesalahan pada entry data sehingga
dapat diperbaiki dan dinilai.
H. Teknik Analisa Data
1. Uji Hipotesis

49

Uji t adalah test statistik yang dapat dipakai untuk


menguji

perbedaan,

persamaan

kedua

kondisi

atau

perlakuan yang berbeda dengan prinsip memperbandingkan


rata-rata. (Subana, 2000).
Adapun
rumus
t-tes

yang

digunakan

dengan

menggunakan SPSS for windows release version 16 adalah :


T=
Md
X2d
N(N-1)
Keterangan:
Md = Mean dari perbedaan pretest dan postes
Xd = Deviasi masing-masing subjek (d-Md)
X2d= Jumlah kuadrat deviasi
N
= Subjek sampel
(Arikunto, 2010)
2. Koefisien Determinasi
Untuk mengetahui kontribusi dari variabel independen
(teknik distraksi) terhadap variabel dependen (penurunan
dismenore), menggunakan rumus :

KD = r2 x 100%
Keterangan :
KD = koefisien determinasi
R = koefisien korelasi
(Subana, 2000)

50

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitaian
1. Jalannya Penelitian
Penelitian dilakukan di SMA Muhammadiyah 1 Kota
Bengkulu. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh
pemberian teknik distraksi terhadap penurunan dismenore.
Penelitian dilakukan dari tanggal 22 April 2015 sampai 22 Mei
2015. Langkah awal dilakukan adalah mengurus surat izin
penelitian

di

STIKes

Bhakti

Husada

Bengkulu,

Kantor

Pelayanan Perizinan Terpadu (KP2T) provinsi.


Untuk mengambil sampel dalam penetian ini digunakan
teknik purpossiv sampling, dengan kriteria insklusi yaitu siswi
yang mengalami disminore yang sesuai dengan kriteria
peneliti. Pengumpulan data yang dilakukan penelitian dengan
menggunakan data primer (jumlah siswi yang mengalami
dismenore) yang diperoleh langsung dari responden dengan

51

metode wawancara secara singkat. Data primer dengan


menggunakan

lembar

observasi

sebelum

dan

sesudah

dilakukan distraksi.
Setelah didapat siswi yang sesuai kriteria, peneliti
membuat kesepakatan kepada responden mengenai waktu
untuk mulai melakukan penelitian yaitu saat responden
mengalami dismenore. Langkah pertama, setelah responden
setuju

untuk

dilakukan

distraksi

pendengaran,

peneliti

menanyakan tingkat nyeri yang dirasakan responden dengan


menggunakan format skala nyeri 0-10. Langkah kedua,
peneliti memberikan posisi responden senyaman mungkin.
Lalu peneliti memberikan terapi distraksi pendengaran yaitu
musik yang disukai siswi selama 15 menit. Saat musik
dimainkan,

dengarkan

dengan

seksama

instrumennya,

seolah-olah pemainnya sedang ada di ruangan memainkan


musik bias memilih duduk lurus di depan speaker, atau
bisajuga

menggunakan

terpentingbiarkan

musik

headphone
mengalir

dan

yang

keseluruh

tubuh.

Bayangkan gelombang suara itu datang dari speaker atau


headphone dan mengalir keseluruh tubuh dan rasakan secara
fisik tapi juga fokuskan dalam jiwa. Fokuskan ditempat mana
yang ingin disembuhkan, dan suara mengalir ke sana.

52

Dengarkan,

sembari

membayangkan

alunan

musik

itu

mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapikembali selsel, lapisan tipis tubuh dan organ dalam. Setelah terapi
diberikan peneliti menanyakan kembali tingkat nyeri yang
dirasakan responden dengan menggunakan format skala
nyeri 0-10. Jika nyeri yang dirasakan pasien belum ada
penurunan,

peneliti

kembali

dengan waktu yang sama.


Setelah diberikan
dilakukan

dilakukan

melakukan

teknik

pengkajian

terapi

distraksi
tingkat

distraksi

pendengaran,

nyeri

dismenore

setelah diberikan perlakuan. Dalam penelitian ini peneliti


menggunakan asisten penelitian untuk membantu kegiatan
penelitian. Data yang telah diperoleh dari penelitian kemudian
ditabulasi sesuai dengan keperluan peneliti dan data diolah
melalui analisis univariat dan analisis bivariat.
Hasil penelitian disajikan dalam analisis univariat dari
variabel independent dan variabel dependent, analisis bivariat
bertujuan untuk meneliti pengaruh teknik distraksi terhadap
penurunan disminore.
2. Hasil pengukuran
Tabel 2
Pengukuran Pemberian Teknik Distraksi Terhadap
Penurunan Disminore pada Siswi Muhammadiyah 1
Kota Bengkulu

53

NO

INISIAL
RESPONDEN

PENURUNAN DISMENORE
Pre test

Post test

1.

Nn. A

2.

Nn. W

3.

Nn. M

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Nn. S
Nn. H
Nn. T
Nn. L
Nn. R
Nn. A
Nn. S

6
5
5
6
6
6
6

2
3
3
2
2
2
3

3. Deskripsi pretest posttest


Mean

Std.Deviasi

Kategori

Pre Test

5,70

0,483

Nyeri Sedang

Post Test

2,60

0,516

Nyeri Ringan

Dapat dilihat peningkatan yang terjadi pada saat pre test


dan post test. Pada data pre test terlihat jumlah mean sebesar
5,70 dengan standar deviasi sebesar 0,483 berada pada
kategori nyeri sedang. Sedangkan pada data post test terlihat
jumlah mean sebesar 2,60 dengan standar deviasi sebesar
0,516 berada pada kategori nyeri ringan. Dengan demikian
terdapat pengaruh yang signifikan setelah diberikan perlakuan

54

menggunakan teknik disetraksi terhadap penurunan dismenore


pada siswa.
4. Uji Normalitas
5.

Kolmogoro
v- Smirnov
T

Sig.

Keterangan

Pre
Test

1,368

0,057

(Data Berdistribusi Normal)

Post
Test

1,204

0,110

(Data Berdistribusi Normal)

Hasil uji normalitas yang diuji menggunakan Software


Statistical Packages for Social Science (SPSS) for Window
Release 16,00 dapat dilihat pada kolom Kolmogorov Smirnov
dengan nilai signifikansi sebesar 0,057 pada data pre-test dan
0,110 pada data post-test yang menunjukkan data pre-test dan
post-test lebih besar dari 0,05 (p>0,05). Berdasarkan hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa data tersebut memenuhi
asumsi normal atau berdistribusi normal.
6. Hasil Uji Paired Samples t-test

Pre test

Sig.

11.196

0,000

Post test
Terlihat pada nilai t = 11.196 dengan tingkat signifikansi
0,000 yang berarti menunjukkan bahwa p<0,05 maka ada
pengaruh yang signifikan antara pemberian teknik distraksi
terhadap penurunan dismenore.
7. Koefisien Determinasi

55

Pre test

Corelation

Sig

10

0.535

0,111

Post test
Dengan rumus koefisien determinasi maka :
KD = r2 x 100% = (0,535)2 x 100% = 28,6%
Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara teknik
distraksi terhadap penurunan dismenore pada siswa sebesar
28,6%.
B. Pembahasan
1. Teknik Distraksi Pendengaran
Hasil

penelitian

didapatkan

bahwa

siswi

SMA

Muhammadiyah 1 Kota Bengkulu Pada data pre test terlihat


jumlah mean sebesar 5,70 dengan standar deviasi sebesar
0,483 berada pada kategori nyeri sedang. Sedangkan pada
data post test terlihat jumlah mean sebesar 2,60 dengan
standar deviasi sebesar 0,516 berada pada kategori nyeri
ringan. Penelitian dengan teknik distraksi pendengaran siswi
yang mengalami disminore dapat menjadi lebih santai dengan
mendengarkan alunan musik kesukaan pasien yang dapat
menenangkan pikiran dan mengalihkan rasa nyeri yang
sedang dirasakan. Suasana lingkungan pun menjadi lebih
nyaman dirasakan dengan mendengarkan musik terlebih lagi
orang yang suka mendengarkan musik.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui uji normalitas
nilai signifikansi sebesar 0,057 pada data pre-test dan 0,110
pada data post-test yang menunjukkan data pre-test dan
post-test lebih besar dari 0,05 (p>0,05). Berdasarkan hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa data tersebut memenuhi
asumsi normal atau berdistribusi normal.

56

Tamsuri (2010), menjelaskan bahwa musik merupakan


salah

satu

teknik

distraksi

yang

efektif,

musik

dapat

menurunkan nyeri fisiologis, stress, dan kecemasan dengan


mengalihkan perhatian seseorang dan nyeri. Musik terbukti
menunjukkan efek antara lain menurunkan frekuensi denyut
jantung, mengurangi kecemasan dan depresi, menghilangkan
nyeri, menurunkan tekanan darah, dan mengubah persepsi
waktu. Stimulus sensori yang menyenangkan menyebabkan
pelepasan endorphin. Endorphin adalah neuropeptide yang
dihasilakn

tubuh

dihasilkan

diotak

pada
dan

saat

relaksi/tenang.

susunan

syaraf

tulang

Endorphin
belakang.

Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami


yang diproduksi otak yang melahirkan rasa nyaman dan
meningkatkan

kadar

endorphin

dalam

tubuh

untuk

mengurangi rasa nyeri pada saat kontraksi.


Terlihat pada nilai t = 11.196 dengan tingkat signifikansi
0,000 yang berarti menunjukkan bahwa p<0,05 maka ada
pengaruh yang signifikan antara pemberian teknik distraksi
terhadap penurunan dismenore. Maka dapat disimpulkan
bahwa

ada

pengaruh

antara

teknik

distraksi

terhadap

penurunan dismenore pada siswa sebesar 28,6%.


Elizabeth (2010), memeberikan penjelasan bahwa
perasaan rileks akan dialami oleh wanita ketika merasakan
alunan musik, hal ini disebabkan karena irama dan vibrasi
yang ditangkap oleh indera pendengaran akan transmisikan
ke otak yang diterjemahkan oleh korteks cerebri untuk
kemudian mempengaruhi ritme internal untuk berespon
dengan cara mengembangkan gerak otomatisnya mengikuti
irama musik yang disukai wanita

57

.
2. Pengaruh

Teknik

Distraksi

Terhadap

Penurunan

Dismenore
Setelah peneliti melakukan penelitian dapat dilihat
bahwa nyeri merupakan sesuatu hal yang bersifat objektif
dan berbeda pada setiap orang, sehingga tingkat nyeri setiap
orang pun berbeda. Perbedaan

ini menyebabkan respon

setiap orang terhadap nyeri pun berbeda pula.


Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa teknik
distraksi pendengaran lebih efektif. Hal ini dapat disebabkan
karena dengan teknik distraksi pendengaran siswi yang
mengalami disminore dapat menjadi lebih santai dengan
mendengarkan alunan musik kesukaan pasien yang dapat
menenangkan pikiran dan mengalihkan rasa nyeri yang
sedang dirasakan. Suasana lingkungan pun menjadi lebih
nyaman dirasakan dengan mendengarkan musik terlebih lagi
orang yang suka mendengarkan musik.
Berdasarkan

hasil penelitian di dapatkan pengaruh

nyeri disminore pada siswi SMA Muhammadiyah 1 kota


Bengkulu sebelum dan sesudah diberikan teknik distraksi
didapatkan , pada data pre test terlihat jumlah mean sebesar
5,70 dengan standar deviasi sebesar 0,483 berada pada
kategori nyeri sedang. Sedangkan pada data post test terlihat
jumlah mean sebesar 2,60 dengan standar deviasi sebesar
0,516 berada pada kategori nyeri ringan. Dengan demikian
terdapat

pengaruh

yang

signifikan

setelah

diberikan

perlakuan menggunakan teknik disetraksi terhdap penurunan


dismenore pada siswi.

58

Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Tamsuri (2010),


menjelaskan bahwa musik merupakan salah satu teknik
distraksi
fisiologis,

yang

efektif.

stress,

Musik

dan

dapat

kecemasan

menurunkan

dengan

nyeri

mengalihkan

perhatian seseorang dan nyeri. Musik terbukti menunjukkan


efek antara lain menurunkan frekuensi denyut jantung,
mengurangi kecemasan dan depresi, menghilangkan nyeri,
menurunkan tekanan darah, dan mengubah persepsi waktu.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pengaruh
distraksi terhadap penurunan dismenore dapat dibuat
kesimpulan sebagai berikut :
1. Tingkat nyeri sebelum diberikan tindakan distraksi terlihat
jumlah mean sebesar 5,70 dengan standar deviasi sebesar
0,483 berada pada kategori nyeri sedang.
2. Tingkat nyeri sesudah diberikan tindakan distraksi jumlah
mean sebesar 2,60 dengan standar deviasi sebesar 0,516
berada pada kategori nyeri ringan.
3. Tingkat nyeri dismenore setelah diberikan teknik distraksi
dengan nilai t = 11.196 dengan tingkat signifikansi 0,000
yang berarti menunjukkan bahwa p<0,05
Nilai signifikansi sebesar 0,057 pada data pre-test dan 0,110
pada data post-test yang menunjukkan data pre-test dan posttest lebih besar dari 0,05 (p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut
dapat disimpulkan bahwa data tersebut memenuhi asumsi

59

normal atau berdistribusi normal. Dengan demikian terdapat


pengaruh yang signifikan setelah diberikan perlakuan
menggunakan teknik disetraksi terhadap penurunan dismenore
pada siswa.
B. SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan
adapunsaran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :
1. Bagi Akademik
Hasil penelitian ini hendaknya bermanfaat untuk
memperluas wawasan dan pengalaman belajar dalam
meningkatkan kemampuan dibidang penelitian khususnya
tentang penanganan terhadap dismenore diharapkan hasil
penelitian ini dapat dijadikan tamabahan pengetahuan dan
wawasan bagi peneliti lain, serta sebagai inspirasi untuk
melakukan penelitian lebih lanjut tentang penanganan
masalah nyeri disminore dengan variabel penelitian yang
berbeda, seperti teknik akupresur, terapi panas dingin
dengan metode, desain, seperti eksperimen murni dengan
analisis yang berbeda pula, seperti uji t- independent atau
annova. Hendaknya peneliti selanjutnya melakuakan
penelitian dilakukan sendiri tidak menggunakan pembantu
peneliti, karena bias menyebabkan perbedaan persepsi
antara pembantu dengan peneliti.
2. Bagi SMA Muhammadiyah 1 Kota Bengkul
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan
khususnya pada UKS untuk tidak selalu memberikan obat
penahan nyeri pada siswi yang mengalami disminore.
Penwlitian ini juga dapat menjadi alterrnatif penanganan
terhadap , teknik ini tidak memerlukan biaya yang mahal

60

dan mudah untuk di nlakukan oleh setiap siswi SMA


Muhammadiyah 1 Kota Bengkulu sehingga dapat membantu
mengurangi disminore agar tidak menganggu konsentrasi
belajar dan mengajar, UKS diharapkan menyediakan radio
tape sebagai alat mendengarkan musik untuk melakukan
teknik distraksi.
Pada distraksi pendengaran sebaiknya dipersiapkan
tempat nyaman, tenag yang memang mendukung untuk
keberhasilan dalam penanganan disminore karna pada
distraksi dibutuhkan kosentrasi klien untuk mendengarkan
musik yang diberikan.

Sebelum Dilakukan Distraksi

61

Saat Dilakukan Distraksi

62

63