Anda di halaman 1dari 18

ABSTRAC

Colostomy can be described as an insection surgery from the colon to the outer
abdomen. Colostomy is performed to let the feses run from colon to the colostomy pocket.
Most of the feses will become softer and more fluid compared to the feses that comes out
naturally from the anus. The feses consistency depends on the position of the intestines
used in the colostomy performance. Indications of colostomy is the intestines
decompression on obstruction, temporary stoma for the infection of intestines reseccion
surgery, or perforation, and some part of anus after the distal intestines reseccion to
protect the distal anastomosys.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saluran pencernaan terdiri dari suatu saluran kontinyu yang berjalan dari mulut
sampai

anus. Fungsi utama dari sistem pencernaan adalah untuk memindahkan zat

gizi/nutrient, air, dan elektrolit dari makanan atau minuman ke lingkungan internal
tubuh.
Setelah makanan diabsorbsi maka tubuh akan membuang sisa dari makanan yang
tidak mampu dicerna oleh tubuh melalui usus besar. Mekanisme tersebut diperlukan
untuk detoksifikasi bagi tubuh karena sisa makanan yang tidak tercerna dapat menjadi
racun bagi tubuh yang harus segera dikeluarkan. Namun adakalanya karena suatu kondisi
baik yang bersifat bawaan maupun patologis menyebabkan sisa makanan yang
seharusnya dibuang melalui usus besar tidak dapat dikeluarkan dari dalam tubuh.
Maka dari itu, untuk penanganan gangguan pada kolon atau usus besar yang tidak
mampu ditangani melalui tindakan medis memerlukan pertolongan segera dengan suatu
prosedur pembedahan yaitu colostomy. Colostomy adalah pembuatan lubang buatan pada
dinding abdomen kemudian usus besar ditautkan dengan kulit sekitar abdomen. Dari
lubang tersebut kemudian kotoran dikeluarkan.

BAB II
TUJUAN DAN MANFAAT
1.2 Tujuan
1.
2.
3.
4.

Sebagai Tugas Mandiri dari mata kuliah Bedah Khusus.


Melatih Mahasiswa dalam mengdiagnosa penyakit Colostomi.
Mengetahui teknik operasi Colostomi.
Mengetahui cara penanganan pasca operasi Colostomi.

1.3 Manfaat
1. Mahasiswa mampu mengdiagnosis penyakit Colostomi.
2. Mahasiswa dapat mengetahui teknik operasi Colostomi.
3. Mahasiswa dapat mengetahui cara penanganan pasca operasi Colostomi.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Colostomi
3.1.1Pengertian

Colostomi dapat diartikan sebagai suatu pembedahan di mana suatu pembukaan


dilakukan dari kolon (atau usus besar) ke luar dari abdomen. Feses keluar melalui saluran
usus yang akan keluar di sebuah kantung yang diletakkan pada abdomen (Tresca, 2007 ;
Cowles, 2008). Colostomi merupakan prosedur pembedahan yang membawa porsio dari
usus besar melewati dinding abdomen untuk mengeluarkan feses. Colostomi adalah
kolokutaneostomi yang disebut juga anus preternaturalis yang dibuat untuk sementara
atau menetap. (Wim de Jong dan Sjamsuhidajat, 2005).
Pembedahan colostomi biasanya memakan waktu dua hingga empat jam,
tergantung dari tingkat kesulitan, adanya infeksi, atau beratnya trauma misalnya apabila
penyebabnya adalah trauma kolon. Colostomi dapat dibuat sementara ataupun permanen.
Colostomi sementara dapat digunakan ketika bagian kolon perlu diperbaiki/disembuhkan,
misalnya setelah trauma atau pembedahan. Setelah kolon membaik/sembuh, colostomi
dapat ditutup, dan fungsi usus dapat kembali normal. Colostomi permanen (disebut juga
end colostomy) biasanya diperlukan pada beberapa kondisi tertentu, termasuk sekitar
15% kasus kanker kolon. Jenis colostomi ini biasanya digunakan saat rektum perlu
diangkat akibat suatu penyakit ataupun kanker (Tresca, 2007).
Tindakan colostomi dilakukan untuk mengalirkan feses dari kolon ke kantung
colostomi. Sebagian besar feses akan lebih lunak dan lebih encer dibandingkan feses
yang keluar secara normal lewat anus. Konsistensi feses tergantung dari letak segmen
usus yang dipakai pada tindakan kolostomi. (Cowles, 2008)
Letak colostomi pada abdomen bisa dimana saja sepanjang letak kolon, namun
biasanya dilakukan pada bagian kiri bawah, di daerah kolon sigmoid. Namun dapat pula
dibuat dilokasi kolon asendens, transversum, dan desendens. Letak colostomi sebaiknya
dipilih dengan hati-hati sebelum tindakan operasi. Sebaiknya hindari lokasi yang
memiliki jaringan lemak yang tebal dan terdapat skar.
4

3.1.2 Anatomi dan Fisiologi


Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon dan rektum. Kolon dibagi lagi menjadi
kolon asendens, transversum, desenden dan sigmoid. Tempat dimana kolon membentuk
kelokan tajam yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut dinamakan fleksura
hepatika dan fleksura lienalis. Kolon sigmoid mulai setinggi Krista iliaka dan berbentuk
suatu lekukan berbentuk-S, lekukan bagian bawah membelok ke kiri waktu kolon
sigmoid bersatu dengan rektum, yang menjelaskan alasan anatomis meletakkan penderita
pada sisi kiri bila diberi enema. Bagian utama usus besar yang terakhir dinamakan rektum
dan terbentang dari kolon sigmoid sampai anus.
Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan sejalan dengan
suplai darah yang diterima. Arteria mesenterika superior memperdarahi belahan bagian
kanan (sekum, kolon asendens dan dua pertiga proksimal kolon transversum), dan arteria
mesenterika inferior memperdarahi belahan kiri (sepertiga distal kolon transversum,
kolon desendens dan sigmoid, dan bagian proksimal rectum). Aliran balik vena dari kolon
dan rektum superior melalui vena mesenterika superior dan inferior dan vena
hemoroidalis superior.( Brunicardi, 2006)
Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan perkecualian
sfingter eksterna yang berada di bawah kontrol volunter. Perangsangan simpatis
menyebabkan penghambatan sekresi dan kontraksi, serta perangsangan sfingter rektum,
sedangkan perangsangan parasimpatis mempunyai efek yang berlawanan.
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses
akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorbsi air dan
elektrolit, yang sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon sigmoid berfungsi
sebagai reservoir yang menampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi
berlangsung.
5

Kolon mengabsorpsi sekitar 600 ml air per hari, bandingkan dengan usus halus
yang mengabsorpsi sekitar 8.000 ml. Kapasitas absorpsi usus besar adalah sekitar 2.000
ml/hari. Sedikitnya pencernaan yang terjadi di usus besar terutama diakibatkan oleh
bakteri dan bukan karena kerja enzim (Price dan Lorraine, 1995).

3.1.3 Tujuan Kolostomy


Umumnya colostomi dilakukan pada pembedahan kanker, namun kadang-kadang
diperlukan pada penyakit infeksi usus dan penyakit divertikulum, dan pada pembedahan
yang darurat untuk perforasi atau obstruksi pada usus ( Burkitt dan Clive, 2002)
Indikasi colostomi ialah dekompresi usus pada obstruksi, stoma sementara untuk
bedah reseksi usus pada radang, atau perforasi, dan sebagai anus setelah reseksi usus
distal untuk melindungi anastomosis distal. (Wim de Jong dan Sjamsuhidajat,2005)

Konstruksi atau cara pembuatan colostomi untuk dekompresi usus :

Sayatan dilakukan pada lokasi usus yang diinginkan. Sayatan yang dibuat sekitar
5-6 cm.

Setelah peritoneum ditemukan, identifikasi segmen usus. Usus ditutupi oleh


omentum, namun beberapa pasien memiliki omentum yang cukup tipis sehingga
kolon dapat terlihat. Kemudian dilakukan aspirasi pada kolon.

Dilakukan penjahitan seromuskular dan peritoneal.

Kolon dibuka dengan insisi 5-6 cm sepanjang dinding kolon, biasanya lebih
dipilih untuk melakukan sayatan pada taenia. Kemudian dilakukan aspirasi yang
kuat pada usus. Selanjutnya lapangan operasi di irigasi dengan 0,1 % kanamycin
solution.
6

Penjahitan kemudian dilakukan antara fasia dan lapisan neuromuskular dari


dinding usus.

Stoma selesai dengan menjahit dinding usus dan kulit.

Pembuatan stoma selesai

Konstruksi atau cara pembuatan loop colostomi:

Memilih lokasi untuk membuat kolostomi. Sayatan yang dibuat sekitar 5-6 cm.

Identifikasi segmen usus. Usus ditarik keluar dari tempat insisi.

Dibuat jahitan pada fasia sehingga usus akan tertahan diluar dinding abdomen.
Kemudian diikuti dengan penjahitan kulit dinding abdomen.

Dibuat insisi pada kolon. Selanjutnya fiksasi dengan menjahit dinding usus pada
kulit..

3.1.4
A.

Pembagian Colostomy

Berdasarkan Penggunaannya (Tresca,2007)

Colostomi Permanen
Kolostomi permanen diperlukan ketika tidak terdapat lagi segmen usus

bagian distal setelah dilakukan reseksi atau untuk alasan tertentu usus tidak dapat
disambung lagi. Colostomi dibuat untuk menggantikan fungsi anus bila anus dan
rectum harus diangkat. Colostomi permanen harus hati-hati ditempatkan untuk
memudahkan dalam penganganan jangka panjang. Colostomi permanen biasanya
7

dibuat pada kolon kiri pada fossa iliaka kiri. Colostomi permanen dilakukan pada
beberapa kondisi tertentu, termasuk sekitar 15% oleh karena kasus kanker kolon.
Colostomi ini biasanya digunakan saat rektum perlu diangkat akibat suatu
penyakit ataupun kanker.

Colostomi Sementara
Colostomi sementara sering dilakukan untuk mengalihkan aliran feses dari

daerah distal usus. Setelah masalah pada usus bagian distal telah teratasi, maka
colostomi dapat ditutup kembali.
Colostomi sementara berguna untuk:
1. Mengatasi obstruksi pada operasi elektif maupun tindakan darurat. Colostomi
dilakukan untuk mencegah obstruksi komplit usus besar bagian distal yang
menyebabkan dilatasi bagian proksimal.
2. Melakukan proteksi terhadap anastomosis kolon setelah reseksi. Colostomi
sementara dibuat, misalnya pada penderita gawat abdomen dengan peritonitis
yang telah dilakukan reseksi sebagian kolon. Pada keadaan demikian, membebani
anastomosis baru dengan pasase feses merupakan tindakan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, untuk pengamanan anastomosis, aliran
feses dialihkan sementara melalui colostomi dua stoma yang disebut stoma double
barrel. Dengan cara Hartman, pembuatan anastomosis ditunda sampai radang di
perut telah reda.
3. Colostomi sementara dapat berguna untuk mengistirahatkan segmen usus
bagian distal yang terlibat pada proses inflamasi misalnya abses perikolik, fistula
anorektal.

B. Tipe Colostomi

Colostomi loop
Jenis colostomi ini didesain sehingga baik segmen distal maupun

proksimal usus terdapat pada permukaan kulit.


1. Colostomi double barrel
Pada kolostomi double barrel, dibuat dua stoma yang terpisah pada
dinding abdomen. Stoma bagian proksimal berhubungan dengan traktus
gastrointestinal yang lebih atas dan akan menjadi saluran pengeluaran feses.
Stoma bagian distal berhubungan dengan rectum. Colostomi double barrel
termasuk jenis colostomi sementara.
2. Colostomi devided
Colostomi ini sering dibuat pada sigmoid pada karsinoma rektum yang tak
dapat diangkat, sehingga karsinoma tersebut tidak teriritasi.
3. Colostomi terminal
Tipe ini dilakukan bila diperlukan untuk membuang kolon karena terlalu
membahayakan bila dilakukan anastomosis yang memudahkan timbulnya sepsis.
Kontinuitas dapat diperbaiki kemudian hari bila sepsis telah dapat diatasi dan
kondisi penderita lebih baik.
4. Sekostomi dengan pipa (tube)
Sekostomi merupakan colostomi sementara. Berguna untuk dekompresi
gas dalam usus. Sekostomi tidak cocok untuk diversi aliran feses. Saat ini
sekostomi jarang digunakan karena stoma sering tersumbat oleh feses dan
seringkali diperlukan irigasi untuk kembali melancarkan.

3.1.5 Komplikasi
1. Nekrosis kolostomi.
Hal ini diakibatkan tidak kuatnya suplai darah. Komplikasi ini biasanya
terlihat 12-24 jam setelah pembedahan dan biasa diperlukan pembedahan
tambahan untuk menanganinya.
2. Kolostomi retraksi
Disebabkan karena tidak cukupnya panjang stoma. Komplikasi ini dapat
ditangani dengan menyediakan kantong khusus. Memperbaiki stoma dapat pula
menjadi pilihan penanganan.
3. Parastomal hernia.
Keadaan ini dapat timbul akibat letak stoma pada dinding abdomen yang
lemah atau dibuat terbuka terlalu besar pada dinding abdomen
4. Prolaps
Keadaan ini sering diakibatkan pembukaan yang terlalu besar pada
dinding abdomen atau fiksasi usus yang tidak cukup kuat pada dinding abdomen.
Pembedahan ulang untuk mengatasi prolaps dengan mengambil vaskularisasi
yang melampaui segmen usus yang disuplai.
5. Obstruksi
Obstruksi dapat terjadi akibat udem ataupun timbunan feses.

10

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Colostomi
Adapun definisi colostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara
bedah dimana sebagian dari usus besar dibawa keluar melewati dinding abdomen untuk
mengeluarkan feses atau kotoran dari tubuh
Colostomy bisa dibuat sementara atau permanen. Colostomy sementara / temporer
dibuat untuk diversi feses oleh karena trauma atau penyakit pada sebagian usus besar
sehingga memungkinkan untuk istirahat dan sembuh.

Colostomy yang permanen

dikerjakan bila dibagian ujung usus ( usus yang paling jauh jaraknya) harus diangkat atau
tersumbat dan tidak dapat dilakukan operasi.
Ada tiga macam tipe colostomy bila dilihat dari segi pembedahan yaitu :

End colostomy yaitu fungsi ujung akhir dari usus dibawa keluar ke permukaan perut,
pembuatan stoma dilakukan dengan membalik usus dan dijahitkan kekulit,
permukaan stoma biasanya tampak lembab dan berwarna merah muda. Bagian distal
dari usus besar diangkat atau ditutup dengan dijahit dan ditinggalkan didalam perut.
11

End colostomy biasanya adalah stoma yang permanen, ini biasanya disebabkan oleh
karena trauma, kanker atau penyakit yang lain.

Double barrel colostomy. Colostomy ini termasuk pembuatan dua stoma yang
terpisah di dinding perut. Stoma yang proksimal adalah stoma yang berfungsi
mengeluarkan kotoran dan berhubungan dengan saluran pencernaan bagian atas.
Stoma yang distal berhubungan dengan rectum dan disebut mucous fistula,
mengalirkan sedikit material lendir. Stoma ini sering merupakan stoma yang temporer
yang dibuat untuk mengistirahatkan sebagian dari usus dan nantinya ditutup.

Loop colostomy. Colostomy ini dibuat dengan membawa lengkungan usus besar
(loop of bowel) melalui sebuah sayatan di dinding perut. Lengkungan usus ditahan
dengan diluar dinding perut dengan sebuah batang plastik yang diselipkan
dibawahnya. Sebuah sayatan dibuat di usus sehingga memungkinkan aliran kotoran
melewati colostomy. Tangkai penahan diangkat (diambil) setelah kira-kira 7-10 hari
setelah pembedahan, bila telah sembuh maka usus tidak akan tertarik kedalam perut.
Loop colostomy paling sering adalah untuk stoma yang temporer yang berguna untuk
diversi kotoran agar tidak melewati daerah usus yang obstruksi atau adanya sepsis
pelvis karena kanker usus, diverticulitis, trauma kolorektal, trauma radiasi atau
komplikasi penyakit peradangan usus besar. Dapat pula digunakan untuk proteksi
sambungan koloanal atau adanya fistula.

Preoperasi kolostomy dilakukan dengan diagnose fisik, klinis, maupun


radiologi terlebih dahulu. Hewan serta site operasi disiapkan secara aseptic. Anestesi
yang digunakan untuk kolostomy adalah anestesi umum dengan inhalasi atau injeksi.
Setelah hewan teranestesi, hewan dibaringkan dengan posisi rebah lateral. dan
selanjutnya dipasangi kain penutup operasi untuk pembedahan.

12

Operasi kolostomi (dalam hal ini dilakukan pada kolon descendens) dilakukan
melalui flank, dipilih daerah tanpa lipatan kulit. Kemudian diberi sayatan melingkar
berdiameter 4 cm agar rongga perut terlihat. Kolon dikeluarkan dari tempat insisi dan
dibuat jahitan pada fasia sehingga usus akan tertahan diluar dinding abdomen. Dibuat
insisi pada kolon. selanjutnya fiksasi dengan menjahit dinding usus pada kulit
menggunakan benang nilon dengan pola sederhana terputus..

Gambar 1. Perencanaan site Kolostomi

Gambar 2. Mukosa Kolon ditempatkan diatas kulit untuk meminimalkan kontak feses dengan
kulit

13

Gambar 3. Kantong serta perekat untuk stoma


Selama 8 hari setelah operasi hewan diberikan terapi antibiotic,cairan elektrolit
dan vitamin.(Penicilin G, Lactat Ringer, Vitamin B). Kantong untuk penutup stoma harus
diganti secara rutin agar tidak terjadi infeksi.

4.2 Contoh teknik operasi Colostomy pada kuda yang mengalami enterolith
Colostomy biasanya dilakukan untuk mengeluarkan benda asing, seperti
enterolith. Sebelum dilakukan operasi, hewan dipasangi infus, kemudian hewan di bius
dan dipasang endotrakheal tube. Fixasi hewan di meja operasi dan beri antiseptik pada
bagian disekitar kulit yang akan diinsisi. Abdomen di incisi pada ventral midline, yaitu
dari umbilicus ke caudal dengan tujuan eksplorasi abdomen, serta mengidentifikasi dan
mengeluarkan enterolith. Obstruksi biasanya terjadi di transverse colon dan kolon kecil,
operasi pengeluaran enterolith di bagian proksimal kolon kecil atau transverse colon
harus didahului sebelumnya dengan pengeluaran ingesta dari kolon besar melalui
14

enterotomy pada pelvic flexure untuk meminimalisir kontaminasi abdomen. Selang air
hangat kemudian dialirkan melalui rektum dan akan menggerakkan enterolith ke arah
kolon dorsal, enterolith kecil dapat mengalir ke sisi enterotomy kemudian dikeluarkan
enterolith yang lebih besar memerlukan enterotomy terpisah pada kolon dorsal kanan
untuk pengeluaran enterolith yang mempunyai sisi rata atau bentuk polihedral biasanya
lebih dari satu pemeriksaan adanya enterolith tambahan pada kolon besar dan kecil
sebelum menutup abdomen.
Enterolith pada kolon kecil harus dikeluarkan melalui enterotomy pada bagian
kolon yang terkena. Panjang irisan enterotomy dibuat secukupnya sehingga mudah
mengeluarkan enterolith. Enterotomy pada pelvic flexure dan evakuasi pada kolon besar
harus dilakukan sebelum enterotomy pada kolon kecil akan meminimalisir ingesta masuk
ke sisi enterotomy segera setelah masa operasi. Enterotomy kemudian ditutup dalam 2
layer menggunakan benang yang dapat diserap dengan jarum taper. Jahitan 1: semua
lapisan dinding usus dengan pola jahitan sederhana tunggal atau menerus. Jahitan 2: sero
muskuler dengan pola jahitan lambert atau cushing (Anggraeni, D. 2011)
Pola jahitan gastrointestinal antara lain:
1.

Lembert

2.

Halstead

3.

Connel

4.

Cushing

5.

Parker-Kerr

6.

Bell
Simpul jahitan

1.

Simpul awal, Granny knot, Surgeon knots, Triple knot.

2.

2. Square knot, Slipp knot.


Perawatan Pasca Operasi Colostomy

1.

Kuda dimonitor perkembangannya tiap 3 jam.


15

2.

Pemberian antibiotik spektrum luas sampai 48 jam setelah operasi.

3.

Pemberian nonsteroidal anti-inflamasi.

4.

Pemberian cairan intravena (40-60 ml/kg).


5. Diberi minum air hangat beberapa jam setelah operasi harus diulang tiap setengah
jam (maintenance : 20L /450 kg BB/hari).

6.

Jangan diberi makan 12-24 jam pasca operasi.


7. Pakan dalam jumlah sedikit dapat diberikan sesegera mungkin jika kuda sudah
mau makan dengan sendirinya.
8. Kuda yang sudah mau makan dapat diberi tambahan suplemen lemak tinggi untuk
meningkatkan kalori.

9.

Kuda dapat mulai exercise sedikit demi sedikit 30 hari setelah operasi

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kolostomi merupakan prosedur pembedahan yang membawa porsio dari usus
besar melewati dinding abdomen untuk mengeluarkan feses. Colostomy bisa dibuat
sementara atau permanen. Operasi kolostomi (dalam hal ini dilakukan pada kolon
descendens) dapat dilakukan melalui flank, dipilih daerah tanpa lipatan kulit. Ada tiga
macam tipe colostomy bila dilihat dari segi pembedahan yaitu End colostomy, double
Barrel Colostomy, dan Loop Colostomy.
16

5.2 Saran
Selama 8 hari setelah operasi sebaiknya hewan diberikan terapi antibiotic,cairan
elektrolit dan vitamin (Penicilin G, Lactat Ringer, Vitamin B). Kantong untuk penutup
stoma harus diganti secara rutin agar tidak terjadi infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, D. 2011. Kuliah Umum Enterolith dan colostomy. FKH UGM, Yogyakarta.
Brander, G.C., Pugh, D.M., Bywater, P.J. 1991. Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics. The
English Language Book Society, London.
Coumbe, K.M. 2001. The Equine Veterinary Nursing Manual, Blackwell Science Ltd, London.\
Hartiningsih, 2011. Kuliah Umum Persiapan Operasi, FKH UGM, Yogyakarta

17

Hindri, felis. 2011. Persiapan oprasi. Artikel veteriner. http://felishindri.wordpress.com/2011/05/


( diakses, 17 November 2013 )
Anonimus. Use of colostomy to manage rectal disease in dogs.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9232784 ( diakses, 17 November 2013)

18