Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

ii

BAB I Pendahuluan
1. Latar Belakang

2. Rumusan Masalah

3. Manfaat Penelitia

4. Metode Penelitian

5. Hipotesis _____________________________________________
6. Teori Permasalahan Sosial________________________________
7. Hasil_________________________________________________
8. Kesimpulan____________________________________________

A. Latar Belakang
Dampak dari Kriminalitas (studi kasus narkoba)
Narkotika dan obat terlarang serta zat adiktif / psikotropika dapat menyebabkan efek dan dampak
negatif bagi pemakainya. Danmpak yang negatif itu sudah pasti merugikan dan sangat buruk
efeknya bagi kesehatan mental dan fisik.
DAMPAK FISIK
Adaptasi biologis tubuh kita terhadap penggunaan narkoba untuk jangka waktu yang lama bisa
dibilang cukup ekstensif, terutama dengan obat-obatan yang tergolong dalam kelompok downers.
Tubuh kita bahkan dapat berubah begitu banyak hingga sel-sel dan organ-organ tubuh kita
menjadi tergantung pada obat itu hanya untuk bisa berfungsi normal.
Salah satu contoh adaptasi biologis dapat dilihat dengan alkohol. Alkohol mengganggu pelepasan
dari beberapa transmisi syaraf di otak. Alkohol juga meningkatkan cytocell dan mitokondria
yang ada di dalam liver untuk menetralisir zat-zat yang masuk. Sel-sel tubuh ini menjadi
tergantung pada alcohol untuk menjaga keseimbangan baru ini.
Tetapi, bila penggunaan narkoba dihentikan, ini akan mengubah semua susunan dan
keseimbangan kimia tubuh. Mungkin akan ada kelebihan suatu jenis enzym dan kurangnya
transmisi syaraf tertentu. Tiba-tiba saja, tubuh mencoba untuk mengembalikan keseimbangan
didalamnya. Biasanya, hal-hal yang ditekan/tidak dapat dilakukan tubuh saat menggunakan
narkoba, akan dilakukan secara berlebihan pada masa Gejala Putus Obat (GPO) ini.
Misalnya, bayangkan efek-efek yang menyenangkan dari suatu narkoba dengan cepat berubah
menjadi GPO yang sangat tidak mengenakkan saat seorang pengguna berhenti menggunakan
narkoba seperti heroin/putaw. Contoh: Saat menggunakan seseorang akan mengalami konstipasi,
tetapi GPO yang dialaminya adalah diare, dll.
GPO ini juga merupakan momok tersendiri bagi para pengguna narkoba. Bagi para pecandu,
terutama, ketakutan terhadap sakit yang akan dirasakan saat mengalami GPO merupakan salah
satu alasan mengapa mereka sulit untuk berhenti menggunakan narkoba, terutama jenis
putaw/heroin. Mereka tidak mau meraskan pegal, linu, sakit-sakit pada sekujur tubuh dan

persendian, kram otot, insomnia, mual, muntah, dll yang merupakan selalu muncul bila pasokan
narkoba kedalam tubuh dihentikan.
Selain ketergantungan sel-sel tubuh, organ-organ vital dalam tubuh seperti liver, jantung, paruparu, ginjal,dan otak juga mengalami kerusakan akibat penggunaan jangka panjang narkoba.
Banyak sekali pecandu narkoba yang berakhiran dengan katup jantung yang bocor, paru-paru
yang bolong, gagal ginjal, serta liver yang rusak. Belum lagi kerusakan fisik yang muncul akibat
infeksi virus {Hepatitis C dan HIV/AIDS} yang sangat umum terjadi di kalangan pengguna
jarum suntik.
Dampak positif narkotika bagi kehidupan manusia
Walaupun begitu, setiap kehidupan memiliki dua sisi mata uang. Di balik dampak negatif,
narkotika juga memberikan dampak yang positif. Jika digunakan sebagaimana mestinya,
terutama untuk menyelamatkan jiwa manusia dan membantu dalam pengobatan, narkotika
memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Berikut dampak positif narkotika:
1. Opioid
Opioid atau opium digunakan selama berabad-abad sebagai penghilang rasa sakit dan untuk
mencegah batuk dan diare.
2. Kokain
Daun tanaman Erythroxylon coca biasanya dikunyah-kunyah untuk mendapatkan efek stimulan,
seperti untuk meningkatkan daya tahan dan stamina serta mengurangi rasa lelah.
3. Ganja (ganja/cimeng)
Orang-orang terdahulu menggunakan tanaman ganja untuk bahan pembuat kantung karena serat
yang dihasilkannya sangat kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai bahan pembuat minyak.
DAMPAK MENTAL

Selain ketergantungan fisik, terjadi juga ketergantungan mental. Ketergantungan mental ini lebih
susah untuk dipulihkan daripada ketergantungan fisik. Ketergantungan yang dialami secara fisik
akan lewat setelah GPO diatasi, tetapi setelah itu akan muncul ketergantungan mental, dalam
bentuk yang dikenal dengan istilah sugesti. Orang seringkali menganggap bahwa sakaw dan
sugesti adalah hal yang sama, ini adalah anggapan yang salah. Sakaw bersifat fisik, dan
merupakan istilah lain untuk Gejala Putus Obat, sedangkan sugesti adalah ketergantungan
mental, berupa munculnya keinginan untuk kembali menggunakan narkoba. Sugesti ini tidak
akan hilang saat tubuh sudah kembali berfungsi secara normal.
Sugesti ini bisa digambarkan sebagai suara-suara yang menggema di dalam kepala seorang
pecandu yang menyuruhnya untuk menggunakan narkoba. Sugesti seringkali menyebabkan
terjadinya 'perang' dalam diri seorang pecandu, karena di satu sisi ada bagian dirinya yang sangat
ingin menggunakan narkoba, sementara ada bagian lain dalam dirinya yang mencegahnya.
Peperangan ini sangat melelahkan... Bayangkan saja bila Anda harus berperang melawan diri
Anda sendiri, dan Anda sama sekali tidak bisa sembunyi dari suara-suara itu karena tidak ada
tempat dimana Anda bisa sembunyi dari diri Anda sendiri dan tak jarang bagian dirinya yang
ingin menggunakan narkoba-lah yang menang dalam peperangan ini. Suara-suara ini seringkali
begitu kencang sehingga ia tidak lagi menggunakan akal sehat karena pikirannya sudah terobsesi
dengan narkoba dan nikmatnya efek dari menggunakan narkoba. Sugesti inilah yang seringkali
menyebabkan pecandu relapse. Sugesti ini tidak bisa hilang dan tidak bisa disembuhkan, karena
inilah yang membedakan seorang pecandu dengan orang-orang yang bukan pecandu. Orangorang yang bukan pecandu dapat menghentikan penggunaannya kapan saja, tanpa ada sugesti,
tetapi para pecandu akan tetap memiliki sugesti bahkan saat hidupnya sudah bisa dibilang normal
kembali. Sugesti memang tidak bisa disembuhkan, tetapi kita dapat merubah cara kita bereaksi
atau merespon terhadap sugesti itu.
Dampak mental yang lain adalah pikiran dan perilaku obsesif kompulsif, serta tindakan
impulsive. Pikiran seorang pecandu menjadi terobsesi pada narkoba dan penggunaan narkoba.
Narkoba adalah satu-satunya hal yang ada didalam pikirannya. Ia akan menggunakan semua
daya pikirannya untuk memikirkan cara yang tercepat untuk mendapatkan uang untuk membeli
narkoba. Tetapi ia tidak pernah memikirkan dampak dari tindakan yang dilakukannya, seperti

mencuri, berbohong, atau sharing needle karena perilakunya selalu impulsive, tanpa pernah
dipikirkan terlebih dahulu.
Ia juga selalu berpikir dan berperilaku kompulsif, dalam artian ia selalu mengulangi kesalahankesalahan yang sama. Misalnya, seorang pecandu yang sudah keluar dari sebuah tempat
pemulihan sudah mengetahui bahwa ia tidak bisa mengendalikan penggunaan narkobanya, tetapi
saat sugestinya muncul, ia akan berpikir bahwa mungkin sekarang ia sudah bisa mengendalikan
penggunaannya, dan akhirnya kembali menggunakan narkoba hanya untuk menemukan bahwa ia
memang tidak bisa mengendalikan penggunaannya! Bisa dikatakan bahwa dampak mental dari
narkoba adalah mematikan akal sehat para penggunanya, terutama yang sudah dalam tahap
kecanduan. Ini semua membuktikan bahwa penyakit adiksi adalah penyakit yang licik, dan
sangat berbahaya.
DAMPAK EMOSIONAL
Narkoba adalah zat-zat yang mengubah mood seseorang (mood altering substance). Saat
menggunakan narkoba, mood, perasaan, serta emosi seseorang ikut terpengaruh. Salah satu efek
yang diciptakan oleh narkoba adalah perubahan mood. Narkoba dapat mengakibatkan
ekstrimnya perasaan, mood atau emosi penggunanya. Jenis-jenis narkoba tertentu, terutama
alkohol dan jenis-jenis narkoba yang termasuk dalam kelompok uppers seperti Shabu-shabu,
dapat memunculkan perilaku agresif yang berlebihan dari si pengguna, dan seringkali
mengakibatkannya melakukan perilaku atau tindakan kekerasan. Terutama bila orang tersebut
pada dasarnya memang orang yang emosional dan bertemperamen panas.
Ini mengakibatkan tingginya domestic violence dan perilaku abusive dalam keluarga seorang
alkoholik atau pengguna Shabu-shabu. Karena pikiran yang terobsesi oleh narkoba dan
penggunaan narkoba, maka ia tidak akan takut untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap
orang-orang yang mencoba menghalaginya untuk menggunakan narkoba. Emosi seorang
pecandu narkoba sangat labil dan bisa berubah kapan saja. Satu saat tampaknya ia baik-baik saja,
tetapi di bawah pengaruh narkoba semenit kemudian ia bisa berubah menjadi orang yang seperti
kesetanan, mengamuk, melempar barang-barang, dan bahkan memukuli siapapun yang ada di
dekatnya. Hal ini sangat umum terjadi di keluarga seorang alkoholik atau pengguna Shabu-

shabu. Mereka tidak segan-segan memukul istri atau anak-anak bahkan orangtua mereka sendiri.
Karena melakukan semua tindakan kekerasan itu di bawah pengaruh narkoba, maka terkadang ia
tidak ingat apa yang telah dilakukannya.
Saat seseorang menjadi pecandu, ada suatu kepribadian baru yang muncul dalam dirinya, yaitu
kepribadian pecandu atau kepribadian si junkie. Kepribadian yang baru ini tidak peduli terhadap
orang lain, satu-satunya hal yang penting baginya adalah bagaimana cara agar ia tetap bisa terus
menggunakan narkoba. Ini sebabnya mengapa ada perubahan emosional yang tampak jelas
dalam diri seorang pecandu. Seorang anak yang tadinya selalu bersikap manis, sopan, riang, dan
jujur berubah total mejadi seorang pecandu yang brengsek, pemurung, penyendiri, dan jago
berbohong dan mencuri.
Adiksi terhadap narkoba membuat seseorang kehilangan kendali terhadap emosinya. Seorang
pecandu acapkali bertindak secara impuls, mengikuti dorongan emosi apapun yang muncul
dalam dirinya. Dan perubahan yang muncul ini bukan perubahan ringan, karena pecandu adalah
orang-orang yang memiliki perasaan dan emosi yang sangat mendalam. Para pecandu seringkali
diselimuti oleh perasaan bersalah, perasaan tidak berguna, dan depresi mendalam yang seringkali
membuatnya berpikir untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Perasaan-perasaan ini pulalah yang membuatnya ingin terus menggunakan, karena salah satu
efek narkoba adalah mematikan perasaan dan emosi kita. Di bawah pengaruh narkoba, ia dapat
merasa senang dan nyaman, tanpa harus merasakan perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan.
Tetapi perasaan-perasaan ini tidak hilang begitu saja, melainkan terkubur hidup-hidup di
dalam diri kita. Dan saat si pecandu berhenti menggunakan narkoba, perasaan-perasaan yang
selama ini mati atau terkubur dalam dirinya kembali bangkit, dan di saat-saat seperti inilah
pecandu membutuhkan suatu program pemulihan, untuk membantunya menghadapi dan
mengatasi perasaan-perasaan sulit itu.
Satu hal juga yang perlu diketahui adalah bahwa salah satu dampak buruk narkoba adalah
mengakibatkan pecandu memiliki suatu retardasi mental dan emosional. Contoh seorang
pecandu berusia 16 tahun saat ia pertama kali menggunakan narkoba, dan saat ia berusia 26
tahun ia berhenti menggunakan narkoba. Memang secara fisik ia berusia 26 tahun, tetapi

sebenarnya usia mental dan emosionalnya adalah 16 tahun. Ada 10 tahun yang hilang saat ia
menggunakan narkoba. Ini juga sebabnya mengapa ia tidak memiliki pola pikir dan kestabilan
emosi seperti layaknya orang-orang lain seusianya.
DAMPAK SPIRITUAL
Adiksi terhadap narkoba membuat seorang pecandu menjadikan narkoba sebagai prioritas utama
didalam kehidupannya. Narkoba adalah pusat kehidupannya, dan semua hal/aspek lain dalam
hidupnya berputar di sekitarnya. Tidak ada hal lain yang lebih penting daripada narkoba, dan ia
menaruh kepentingannya untuk menggunakan narkoba di atas segala-galanya. Narkoba menjadi
jauh lebih penting daripada istri, suami, pacar, anak, orangtua, sekolah, pekerjaan, dll.
Ia berhenti melakukan aktivitas-aktivitas yang biasa ia lakukan sebelum ia tenggelam dalam
penggunaan narkobanya. Ia tidak lagi melakukan hobi-hobinya, menjalani aktivitas normal
seperti sekolah, kuliah, atau bekerja seperti biasa, bila sebelumnya ia termasuk rajin beribadah
bisa dipastikan ia akan menjauhi kegiatan yang satu ini, apalagi dengan khotbah agama yang
selalu didengar bahwa orang-orang yang menggunakan narkoba adalah orang-orang yang
berdosa.
Ini menyebabkan pecandu seringkali hidup tersolir, ia hidup dalam dunianya sendiri dan
mengisolasi dirinya dari dunia luar, yaitu dunia yang tidak ada hubungannya dengan narkoba. Ia
menjauhi keluarga dan teman-teman lamanya, dan mencari teman-teman baru yang dianggap
sama dengannya, yang dianggap dapat memahaminya dan tidak akan mengkuliahinya tentang
penggunaan narkobanya.
Narkoba dianggap sebagai sahabat yang selalu setia menemaninya. Orangtua bisa memarahinya,
teman-teman mungkin menjauhinya, pacar mungkin memutuskannya, bahkan Tuhan mungkin
dianggap tidak ada, tetapi narkoba selalu setia dan selalu dapat memberikan efek yang
diinginkannya.
Secara spiritual, Narkoba adalah pusat hidupnya, dan bisa dikatakan menggantikan posisi Tuhan.
Adiksi terhadap narkoba membuat penggunaan narkoba menjadi jauh lebih penting daripada

keselamatan dirinya sendiri. Ia tidak lagi memikirkan soal makan, tertular penyakit bila sharing
needle, tertangkap polisi, dll.
Adiksi adalah penyakit yang mempengaruhi semua aspek hidup seorang manusia, dan karenanya
harus disadari bahwa pemulihan bagi seorang pecandu tidak hanya bersifat fisik saja, tetapi juga
harus mencakup ketiga aspek lainnya sebelum pemulihan itu dapat dianggap sebagai suatu
pemulihan yang sebenarnya

B. Rumusan Masalah
1. Mengapa penyalahgunaan narkoba bisa terjadi?
2. Apa dampak yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba?
3. Bagaimana cara mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan narkoba?
4. Adakah bahaya narkoba terhadap generasi penerus bangsa ?

C. Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Secara teoritis
a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan engembangan ilmu
hukum terutama di bidang hokum pidana.
b. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi penelitian
selanjutnya mengenai penyalahgunaan Narkotika.
2. Secara praktis
a. Memberikan masukan mengenai persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pemasalahan
yang terdapat dalam penelitian ini.
b. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat mengembankan ilmu pengetahuan di
bidang hukum yang didasarkan pada fakta di lapangan dan disertai dengan teori-teori
maupun peraturan-peraturan hukum positif.
c.Sebagai stimulan serta sumbangan bagi masyarakat ilmiah pada umumnya untuk mencari,
meneliti, menemukan dan memecahkan masalah-masalah hukum yang terjadi dalam
kehidupan masyarakat, khususnya masalah Narkotika.

D. Metode Penelitian
Metode Kualitatif
Metode ini mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang diperoleh. Metode ini
dipakai apabila data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka atau dengan ukuran lain
yang bersifat eksak. Istilah penelitian kualitatif dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang
temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.
Contohnya penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, di samping juga
tentang peranan organisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik. Sebagian datanya
dapat dihitung sebagaimana data sensus, namun analisisnya bersifat kualitatif.

E. Hipotesis
1. Terdapat 3 faktor (alasan) yang dapat dikatakan sebagai pemicu seseorang dalam
penyalahgunakan narkoba. Ketiga faktor tersebut adalah faktor diri, faktor lingkungan,
dan faktor kesediaan narkoba itu sendiri.
A. Faktor Diri
a.Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau brfikir panjang tentang
akibatnya di kemudian hari.
b.Keinginan untuk mencoba-coba kerena penasaran.
c.Keinginan untuk bersenang-senang.
d.Keinginan untuk dapat diterima dalam satu kelompok (komunitas) atau lingkungan
tertentu.
e.Workaholic agar terus beraktivitas maka menggunakan stimulant (perangsang).
f.Lari dari masalah, kebosanan, atau kegetiran hidup.
g.Mengalami kelelahan dan menurunya semangat belajar.
h.Menderita kecemasan dan kegetiran.
i.Kecanduan merokok dan minuman keras. Dua hal ini merupakan gerbang ke arah
penyalahgunaan narkoba.
j.Karena ingin menghibur diri dan menikmati hidup sepuas-puasnya.
k.Upaya untuk menurunkan berat badan atau kegemukan dengan menggunakan obat
penghilang rasa lapar yang berlebihan.
l.Merasa tidak dapat perhatian, tidak diterima atau tidak disayangi, dalam lingkungan
keluarga atau lingkungan pergaulan.
m.Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
n.Ketidaktahuan tentang dampak dan bahaya penyalahgunaan narkoba.
o.Pengertian yang salah bahwa mencoba narkoba sekali-kali tidak akan menimbulkan
masalah.
p.Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok
pergaulan untuk menggunakan narkoba.
q.Tidak dapat atau tidak mampu berkata TIDAK pada narkoba.
B. Faktor Lingkungan

a.Keluarga bermasalah atau broken home.


b.Ayah, ibu atau keduanya atau saudara menjadi pengguna atau penyalahguna atau bahkan
pengedar gelap nrkoba.
c.Lingkungan pergaulan atau komunitas yang salah satu atau beberapa atau bahkan semua
anggotanya menjadi penyalahguna atau pengedar gelap narkoba.
d.Sering berkunjung ke tempat hiburan (caf, diskotik, karoeke, dll.).
e.Mempunyai banyak waktu luang, putus sekolah atau menganggur.
f.Lingkungan keluarga yang kurang / tidak harmonis.
g.Lingkungan keluarga di mana tidak ada kasih sayang, komunikasi, keterbukaan, perhatian,
dan saling menghargai di antara anggotanya.
h.Orang tua yang otoriter,.
i.Orang tua/keluarga yang permisif, tidak acuh, serba boleh, kurang/tanpa pengawasan.
j.Orang tua/keluarga yang super sibuk mencari uang/di luar rumah.
k.Lingkungan sosial yang penuh persaingan dan ketidakpastian.
l. Kehidupan perkotaan yang hiruk pikuk, orang tidak dikenal secara pribadi, tidak ada
hubungan primer, ketidakacuan, hilangnya pengawasan sosial dari masyarakat,kemacetan
lalu lintas, kekumuhan, pelayanan public yang buruk, dan tingginya tingkat kriminalitas.
m.Kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan keterlantaran.
C. Faktor Ketersediaan Narkoba.
Narkoba itu sendiri menjadi faktor pendorong bagi seseorang untuk memakai narkoba
karena :
a.Narkoba semakin mudah didapat dan dibeli.
b.Harga narkoba semakin murah dan dijangkau oleh daya beli masyarakat.
c.Narkoba semakin beragam dalam jenis, cara pemakaian, dan bentuk kemasan.
d.Modus Operandi Tindak pidana narkoba makin sulit diungkap aparat hukum.
e.Masih banyak laboratorium gelap narkoba yang belum terungkap.
f.Sulit terungkapnya kejahatan computer dan pencucian uang yang bisa membantu bisnis
perdagangan gelap narkoba.
g.Semakin mudahnya akses internet yang memberikan informasi pembuatan narkoba.

h.Bisnis narkoba menjanjikan keuntugan yang besar.


i. Perdagangan narkoba dikendalikan oleh sindikat yagn kuat dan professional. Bahan dasar
narkoba (prekursor) beredar bebas di masyarakat.
2. Penyalahgunaan narkoba yang terus-menerus dan melebihi takaran dapat menimbulkan
ketergantungan terhadap penggunanya. Kecanduan/ketergantungan ini yang akan
mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis.
3. Cara mencegah penyalahgunaan narkoba dapat dilakukan dengan menjaga
ketaqwaan/keimanan dan juga menjaga pergaulan
4. Tidak ada masyarakat yang bilang kalau narkoba itu adalah barang (obat) yang baik,
sebaliknya narkoba itu adalah obat yang merusak akal generasi penerus bangsa.

F. Teori Permasalahan Sosial


1. Teori Konflik
Teori ini dibangun dalam rangka untuk menentang teori Fungsionalisme Struktural. Karena
itu tidak mengherankan apabila proposisi yang dikemukakan oleh penganutnya bertentangan
dengan proposisi yang terdapat adalah Teori Fungsionalisme Struktural. Tokoh utama Teori
Konflik adalah Ralp Danrendorf.
Jika menurut Teori Fungsionalisme Struktural masyarakat berada dalam kondisi statis atau
tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan, maka menurut Teori Konflik malah
sebaliknya. Kalau menurtu Teori Fungsionalisme Struktural setiap elemen satau setiap
institusi memberikan dukungan terhadap stabilitas, maka Teori Konflik melihat bahwa setiap
elemen atau institusi memberikan sumbangan terhadap disintegerasi sosial. Kontras lainnya
adalah bahwa penganut Teori Fungsionalisme Struktural melihat anggota masyarakat terikat
secara informal oleh norma-norma, nilai-nilai dan moralitas umum, maka Teori Konflik
menilai keteraturan yang terdapat dalam masyarakat itu hanyalah disebabkan karena adanya
teknan atau pemaksaan kekuasaan atas golongan yang berkuasa.
Dahrendorf membedakan golongan yang terlibat konflik itu atas dua tipe. Kelompok semu
(quasi group) dan kelompok kepentingan (interest group). Kelompok semu merupakan
kumpulan dari para pemegang kekuasaan atau jabatan dengan kepentingan yang sama yang
terbentuk karena munculnya kelompok-kelompok kepentingan. Sedangkan kelompo dua,
yakni kelompok kepentingan terbentuk dari kelompok semu yang lebih luas. Kelompok
kepentingan ini mempunyai struktur, organisasi, program, tujuan serta anggota yang jelas.
Kelompok kepentingan inilah yang menjadi sumber nyata timbulnya konflik dalam
masyarakat.
Adapun mengenai fungsi dari adanya konflik, Berghe mengemukakan ada empat hal:
1)

Sebagai alat untuk solidaritas.

2)

Membantu menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lain.

3)

Mengaktifkan peranan individu yang semula terisolasi.

4)

Fungsi komunikasi. Sebelum sebuah konflik kelompok tertentu mungkin tidak

mengetahui posisi lawan. Tapi dengan adanya konflik, posisi dan batas antara kelompok
menjadi lebih jelas. Individu dan kelompok tahu secara pasti di mana mereka berdiri, dan
karena itu dapat mengambil keputusan lebih baik untuk bertindak dengan lebih tepat.
Singkatnya, Teori Konflik ini ternyata terlalu mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang
memang ada dalam masyarakat dalam masyarakat di samping konflik itu sendiri. Masyarakat
selalu dipandangnya dalam kondisi konflik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai yang
berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Masyarakat
seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan pertentangan.
2. Teori Fungsionalisme Struktural
Teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik serta perubahan
dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah: fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi
manifest, dan keseimbangan (equilibrium).
Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian
atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang
terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Penganut
teori ini cenderung untuk melihat hanya kepada sumbangan satu sistem atau peristiwa
terhadapa sistem yang lain dan karena itu mengabaikan kemungkinan bahwa suatu peristiwa
atau suatu sistem dapat menentang fungsi-fungsi lainnya dalam suatu sistem sosial. Secara
ekstrim penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan semua struktur adalah
fungsional bagi suatu masyarakat. Maka jika terjadi konflik, penganut teori fungsionalisme
struktural memusatkan perhatiannya kepada masalah bagaimana cara menyelesaikannya
sehingga masyarakat tetap dalam keseimbangan.
Singkatnya adalah masyarakat menurut kaca mata teori (fungsional) senantiasa berada dalam
keadaan berubah secara berangsur-angsur dengan tetap memelihara keseimbangan. Setiap
peristiwa dan setiap struktur fungsional bagi sistem sosial itu. Demikian pula semua institusi
yang ada, diperlukan oleh sosial itu, bahkan kemiskinan serta kepincangan sosial sekalipun.
Masyarakat dilihat dalam kondisi: dinamika dalam keseimbangan.

3. Teori Interaksi Simbolis


Pemikiran-pemikiran Geroge Herbert Mead mula-mula dipengaruhi oleh teori evolusi
Darwin yang menyatakan bahwa organisme terus-menerus terlibat dalam usaha
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. George Herbert Mead berpendapat
bahwa manusia merupakan makhluk yang paling rasional dan memiliki kesadaran akan
dirinya. Di samping itu, George Herbert Mead juga menerima pandangan Darwin yang
menyatakan bahwa dorongan biologis memberikan motivasi bagi perilaku atau tindakan
manusia, dan dorongan-dorongan tersebut mempunyai sifat sosial. Di samping itu, George
Herbert Mead juga sependapat dengan Darwin yang menyatakan bahwa komunikasi adalah
merupakan ekspresi dari perasaan George Herbert Mead juga dipengaruhi oleh idealisme
Hegel dan John Dewey. Gerakan adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang
dalam hubungannya dengan pihak lain. Sehubungan dengan ini, George Herbert Mead
berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menanggapi diri sendiri secara
sadar, dan kemampuan tersebut memerlukan daya pikir tertentu, khususnya daya pikir
reflektif. Namun, ada kalanya terjadi tindakan manusia dalam interaksi sosial munculnya
reaksi secara spontan dan seolah-olah tidak melalui pemikiran dan hal ini biasa terjadi pada
binatang.
Bahasa atau komunikasi melalui simbol-simbol adalah merupakan isyarat yang
mempunyai arti khusus yang muncul terhadap individu lain yang memiliki ide yang sama
dengan isyarat-isyarat dan simbol-simbol akan terjadi pemikiran (mind).
Manusia mampu membayangkan dirinya secara sadar tindakannya dari kacamata orang
lain; hal ini menyebabkan manusia dapat membentuk perilakunya secara sengaja dengan
maksud menghadirkan respon tertentu dari pihak lain.
Tertib masyarakat didasarkan pada komunikasi dan ini terjadi dengan menggunakan
simbol-simbol. Proses komunikasi itu mempunyai implikasi pada suatu proses pengambilan
peran (role taking). Komunikasi dengan dirinya sendiri merupakan suatu bentuk pemikiran
(mind), yang pada hakikatnya merupakan kemampuan khas manusia.

Konsep diri menurut George Herbert Mead, pada dasarnya terdiri dari jawaban individu
atas pertanyaan "Siapa Aku". Konsep diri terdiri dari kesadaran individu mengenai
keterlibatannya yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung.
Kesadaran diri merupakan hasil dari suatu proses reflektif yang tidak kelihatan, dan individu
itu melihat tindakan-tindakan pribadi atau yang bersifat potensial dari titik pandang orang
lain dengan siapa individu ini berhubungan. Pendapat Goerge Herbert Mead tentang pikiran,
menyatakan bahwa pikiran mempunyai corak sosial, percakapan dalam batin adalah
percakapan antara "aku" dengan "yang lain" di dalam aku. Untuk itu, dalam pikiran saya
memberi tanggapan kepada diri saya atas cara mereka akan memberi tanggapan kepada saya.
"Kedirian" (diri) diartikan sebagai suatu konsepsi individu terhadap dirinya sendiri dan
konsepsi orang lain terhadap dirinya Konsep tentang "diri" dinyatakan bahwa individu adalah
subjek yang berperilaku dengan demikian maka dalam "diri" itu tidaklah semata-mata pada
anggapan orang secara pasif mengenai reaksi-reaksi dan definisi-definisi orang lain saja.
Menurut pendapatnya diri sebagai subjek yang bertindak ditunjukkan dengan konsep "I" dan
diri sebagai objek ditunjuk dengan konsep "me" dan Mead telah menyadari determinisme
soal ini. Ia bermaksud menetralisasi suatu keberatsebelahan dengan membedakan di dalam
"diri" antara dua unsur konstitutifis yang satu disebut "me" atau "daku" yang lain "I" atau
"aku". Me adalah unsur sosial yang mencakup generalized other. Teori George Herbert Mead
tentang konsep diri yang terbentuk dari dua unsur, yaitu "I" (aku) dan "me" (daku) itu sangat
rumit dan sulit untuk di pahami.

G. Hasil

Roy Marten Bicara Soal Kasus Narkoba


Roger Danuarta

Jakarta Artis senior yang juga pernah tersandung kasus narkoba, Roy Marten mengaku bersyukur
Roger Danuarta ditangkap kepolisian beberapa hari lalu. Roy mengatakan, dengan
tertangkapnya Roger, maka kesempatan untuk sembuh akan terbuka lebar.
"Setahu saya heroin itu sesuatu zat yang sangat berbahaya. Dan kalau sekarang Roger
tertangkap, tentu ada rasa sedih dan ada rasa bersyukur karena dengan cara in i sehingga dia
akan mengalami kesembuhan," ujar Roy saat ditemui di kawasan Epicentrum, Kuningan,
Jakarta Selatan, Rabu (19/2/2014).
Menurut Roy yang dulu juga pernah terjerumus ke dalam dunia hitam narkoba, semua orang

bisa saja terkena godaan barang haram tersebut. Ayah dari Gading Marten itu mengatakan,
pengedar narkoba tak pernah memandang bulu dalam mencari mangsa.
"Seorang bandar dan pengedar nggak peduli kamu itu siapa, mau polisi, jaksa, artis, atau
siapapun yang punya uang pasti ditawari," tuturnya.
Lebih lanjut, Roy juga mengimbau untuk semua pihak agar menjauhi narkoba. "Pesan untuk
sahabat, anak-anakku, adik-adikku, siapa saja, memang kalau ngomong gampang, praktiknya
yang susah," katanya.
"Tapi ingat tidak ada ruang menang untuk pemakai narkoba. Berhenti sekarang untuk
membuka diri sendiri, buat ruang pemenangan. Tidak ada jalan lain," tutup Roy.

Roy Marten, duta narkoba yang pernah


'tersandung' sabu
Reporter : Novita Intan Sari | Sabtu, 2 Februari 2013 11:12

Merdeka.com - Para selebriti menjadi salah satu pihak yang paling disorot selain tokoh politik
di tanah air. Segala tingkah laku mereka selalu menjadi pusat perhatian bagi masyarakat kapan
saja dan di mana saja mereka berada.
Sebagian masyarakat bahkan sangat menggemari celotehan sampai isu miring yang menerpa
mereka. Tak jarang di antara mereka terjerat kasus hukum, salah satunya narkoba. Salah satunya
adalah Raffi Ahmad.

Artis asal Bandung itu belakangan menjadi buah bibir karena ditetapkan menjadi tersangka oleh
Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam kasus penggunaan narkoba. Selain Raffi, sejumlah artis
tanah air juga pernah berurusan dengan hukum karena barang haram tersebut, salah satunya
adalah artis senior Roy Marten.
Kasus yang menimpa Roy Marten ini terjadi lima tahun yang lalu atau tepatnya pada 2 Februari
2006. Roy ditangkap karena membawa narkoba jenis sabu seberat tiga gram. Roy ditetapkan
menjadi tersangka dan diancam pasal 62 UU No 5/1997, tentang Psikotropika dan dakwaan
subsider pasal 60 ayat (5) Undang-undang yang sama.
Roy diancam hukuman penjara maksimal lima tahun. Namun, akhirnya Roy hanya mendapatkan
vonis sembilan bulan subsider tiga bulan, setelah divonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Setelah menjalani hukuman, Roy akhirnya dibebaskan pada 1 Oktober 2006. Roy mengaku
kapok dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya lagi. Roy kemudian kerap kali diundang oleh
BNN sebagai pembicara kampanye anti-narkoba.
Namun, ayah dari presenter, Gading Marten ini mengingkari janjinya. Roy kembali tertangkap
pada 13 November 2007. Saat itu Roy tertangkap dengan ketiga temannya di kamar 364 Hotel
Novotel Surabaya karena tengah menggunakan sabu.
Dari lokasi, polisi menemukan sejumlah barang bukti, yakni 1 gram dan 1 ons sabu. Di kamar
berbeda, yaitu kamar 465, polisi juga mendapati seperangkat alat hisap (bong) dan sisa di
aluminium foil SS 0,5 ons.
Tragisnya, Roy ternyata ditangkap usai memberikan testimoni di acara yang digelar BNN. Roy,
datang ke Surabaya untuk memberi testimoni di acara penandatangan MoU BNN dengan sebuah
harian di Ruang Semanggi lantai V Graha Pena Jalan Ahmad yani 88 Surabaya.
MoU tersebut dibuat dalam rangka pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran
gelap narkotika (P4GN). Acara tersebut dihadiri oleh Kapolri saat itu, Jenderal Pol Sutanto dan
beberapa pengusaha serta kaum profesional yang peduli narkoba.
Roy akhirnya dijatuhi vonis tiga tahun penjara serta denda Rp 10 juta dengan subsider tiga bulan
kurungan. Vonis tersebut lebih ringan dari dari tuntutan JPU (Jaksa Penuntut Umum) yakni tiga
tahun enam bulan (3,5 tahun) dan denda Rp 10 juta subsider tiga bulan kurungan.
Roy akhirnya kembali menghirup udara bebas pada 18 Agustus 2009.
[dan]

Roy Marten Tertangkap Lagi

indosiar.com, Jakarta - Aktor senior Roy Marten kembali harus berurusan dengan hukum. Roy
bersama keempat temannya ditangkap petugas disebuah hotel di Surabaya karena kasus narkoba.
Petugas menemukan barang bukti 1,5 ons shabu-shabu. Ironisnya Roy berada di Surabaya
memberikan testimoni atau pengakuan dalam sebuah acara yang diselenggarakan badan
narkotika nasional.
Kabarnya yang mengajak Roy adalah mantan pembalap, Alex Asmasoebrata. Menurut ayah
pembalap Alexandra ini, kemungkinan besar Roy dijebak. Namun menurut keterangan polisi,
setelah dilakukan tes mereka terbukti positif mengkonsumsi narkoba.
Menurut Kombes Pol Anang Iskandar selaku Kapolwiltabes Surabaya "Yang pertama kali
ditangkap adalah Ahong dan dikembangkan kemudian ada 4 orang yang ditangkap, semuanya
sedang nyabu dan hasilnya positif."
"Saat itu Roy sedang tidur saat ada penggeledahan dan tidak bawa barang apa-apa bahkan
tamunya yang membawa barang cukup banyak, kemungkinan besar Roy dijebak sama temantemannya," kata sahabat Roy Marten, Alex Asmasoebrata.
Kabar tertangkapnya Roy jelas mengejutkan. Pasalnya ia pernah mendekam selama 8 bulan
dalam tahanan dalam kasus narkoba. Maka bisa dimengerti jika pihak keluarga cukup shock
mendengar kabar ini. Anna Maria, istri Roy konon sempat histeris mendengar suaminya
tertangkap lagi. Anna belum bisa ditemui tapi ketiga putra putri Roy mengaku tak menyangka
sang ayah tersangkut masalah narkoba kembali.
"Kita sekeluarga awalnya sempat shock dan setelah tahu kabar yang sebenarnya, kita baik-baik
saja," jawab putra Roy Marten, Galih kecewa.
"Saya shock banget dan sempat SMSan sama papa, kita semua support papa," kata putri Roy
Marten bermimik sedih, Monique.
"Saya tidak menyangka peristiwa ini terjadi lagi berarti kita semua kehilangan papa karena sudah
2 kali kejadian yang sama dan papa jauh lagi di Surabaya," seru putra Roy, Gibran.
(Aozora/Devi)
Roy Marten Juga Dua Kali Dipenjara karena Narkoba
Rabu, 19 Februari 2014 - 15:33 wib |

Rama Narada Putra - Okezone

JAKARTA - Tidak hanya Revaldo yang dua kali dipenjara karena narkoba, aktor
kawakan Roy Marten juga dua kali merasakan dinginnya hotel prodeo karena
barang haram itu.
Narkoba tampaknya tidak hanya lekat dengan kaum muda, Roy juga ikut terjerumus
dalam kelamnya dunia hitam itu. Bahkan, dia tidak kapok meski telah dua kali
berurusan dengan hukum karena narkoba.
Ayah Gading Marten tersebut ditangkap di Novotel Hotel Surabaya, 13 November
2007. Roy kedapatan memiliki 1,5 ons sabu-sabu, tiga alat penghisap (bong), korek
api, alumunium foil, dan sedotan dalam jumlah banyak. Padahal saat itu, dia baru
mengikuti acara antinarkoba di Surabaya.
Atas perbuatannya itupun Roy divonis tiga tahun penjara dan denda Rp10 juta
dengan subsider tiga bulan kurungan. Vonis tersebut lebih ringan dari dari tuntutan
JPU (Jaksa Penuntut Umum) yakni tiga tahun enam bulan (3,6 tahun) dan denda
Rp10 juta subsider tiga bulan kurungan.
Sementara sebelumnya, pada 2 Febuari 2006, Roy Marten juga tertangkap atas
kepemilikan 3 gram sabu-sabu. Karena kasus itu, Roy dipenjara selama sembilan
bulan. (ram)
(uky)

Roy Marten Bicara Soal Kasus Narkoba Roger Danuarta

Dicky Ardian - detikhot


Rabu, 19/02/2014 13:53 WIB
Jakarta Artis senior yang juga pernah tersandung kasus narkoba, Roy Marten mengaku
bersyukur Roger Danuarta ditangkap kepolisian beberapa hari lalu. Roy
mengatakan, dengan tertangkapnya Roger, maka kesempatan untuk sembuh akan
terbuka lebar.
"Setahu saya heroin itu sesuatu zat yang sangat berbahaya. Dan kalau sekarang
Roger tertangkap, tentu ada rasa sedih dan ada rasa bersyukur karena dengan cara
in i sehingga dia akan mengalami kesembuhan," ujar Roy saat ditemui di kawasan
Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/2/2014).
Menurut Roy yang dulu juga pernah terjerumus ke dalam dunia hitam narkoba,
semua orang bisa saja terkena godaan barang haram tersebut. Ayah dari Gading
Marten itu mengatakan, pengedar narkoba tak pernah memandang bulu dalam
mencari mangsa.
"Seorang bandar dan pengedar nggak peduli kamu itu siapa, mau polisi, jaksa, artis,
atau siapapun yang punya uang pasti ditawari," tuturnya.
Lebih lanjut, Roy juga mengimbau untuk semua pihak agar menjauhi narkoba.
"Pesan untuk sahabat, anak-anakku, adik-adikku, siapa saja, memang kalau
ngomong gampang, praktiknya yang susah," katanya.
"Tapi ingat tidak ada ruang menang untuk pemakai narkoba. Berhenti sekarang
untuk membuka diri sendiri, buat ruang pemenangan. Tidak ada jalan lain," tutup
Roy.

http://hot.detik.com/read/2014/02/19/135329/2502097/230/roy-marten-bicara-soalkasus-narkoba-roger-danuarta
Source: http://hot.detik.com/read/2014/02/19/135329/2502097/230/roy-martenbicara-soal-kasus-narkoba-roger-danuarta
Source: http://celebrity.okezone.com/read/2014/02/19/535/943355/roy-marten-jugadua-kali-dipenjara-karena-narkoba
Source: http://www.merdeka.com/peristiwa/roy-marten-duta-narkoba-yang-pernah039tersandung039-sabu.html
Source: http://www.indosiar.com/gossip/roy-marten-tertangkap-lagi_65990.html