Anda di halaman 1dari 4

BPK RI Temukan 3.

293 Masalah Senilai Rp14,74 Triliun


07 April 2015
Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) dan Laporan
Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2014, Badan Pemeriksa
Keuangan RI (BPK RI) mengungkapkan 7.950 temuan yang terdiri atas
7.789 masalah ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
senilai Rp40,55 triliun, dan 2.482 masalah kelemahan Sistem
Pengendalian Intern (SPI). Dari masalah ketidakpatuhan tersebut,
sebanyak 3.293 masalah berdampak pada pemulihan keuangan
negara/daerah/perusahaan atau berdampak finansial senilai Rp14,74
triliun.
Masalah berdampak finansial tersebut terdiri atas masalah yang
mengakibatkan kerugian Rp1,42 triliun, potensi kerugian Rp3,77 triliun,
dan kekurangan penerimaan Rp9,55 triliun. Selain itu, terdapat 3.150
masalah ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakekonomisan,
ketidakefisienan, dan ketidakefektifan senilai Rp25,81 triliun. Hal tersebut
diungkapkan oleh Ketua BPK RI,Harry Azhar Azis, saat penyerahan IHPS
dan LHP Semester II Tahun 2014 kepada DPR RI pada Selasa (7/4) di
Gedung Sidang Paripurna Nusantara II DPR RI, Jakarta.
Dari pemeriksaan Semester II Tahun 2014, BPK RI menemukan masalah
yang perlu mendapat perhatian pemerintah pusat. Masalah tersebut
antara lain persiapan pemerintah pusat belum sepenuhnya efektif untuk
mendukung penerapan Sistem Akuntansi Pemerintah (SAP) berbasis
akrual pada 2015.
BPK RI juga menemukan masalah penerimaan pajak dan migas senilai
Rp1,12 triliun yang terdiri atas potensi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
migas terutang minimal sebesar Rp666,23 miliar dan potensi kekurangan
penerimaan PBB migas Tahun 2014 minimal sebesar Rp454,38 miliar. BPK
RI juga menemukan ketidakpatuhan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS)
terhadap ketentuan cost recovery, yang mengakibatkan kekurangan
penerimaan negara senilai Rp6,19 triliun.
Ketua BPK RI juga mengungkapkan masalah lain yang dihadapi oleh
pemerintah pusat adalah mengenai belanja infrastruktur di Kementerian
ESDM. BPK RI menemukan 137 kontrak proyek pembangunan transmisi
dan gardu induk yang terhenti. Dengan berhentinya proyek tersebut
mengakibatkan hasil proyek yang belum selesai senilai Rp5,38 triliun tidak
dapat dimanfaatkan. Selain itu, terdapat kerugian negara senilai Rp562,66

miliar atas sisa uang muka yang tidak dikembalikan oleh para penyedia
barang/jasa.
Khusus pemeriksaan kinerja, BPK RI juga melakukan pemeriksaan kinerja
atas efektivitas layanan paspor pada Kementerian Hukum dan HAM. Dari
pemeriksaan tersebut, BPK RI menemukan adanya masalah dalam
perubahan mekanisme pembayaran berupa pembayaran elektronik
dengan Payment Gateway. Implementasi Payment Gatewaymengabaikan
risiko hukum, antara lain pemilihan vendor Payment Gateway dilakukan
pada saat tim E-Kemenkumham belum memiliki kewenangan dan rekening
bank untuk menampung PNBP tidak memiliki izin dari Kementerian
Keuangan.
Selain itu, BPK RI juga melakukan pemeriksaan kinerja atas program
penanggulangan kemiskinan. Salah satu yang diperiksa adalah
penyaluran subsidi beras untuk masyarakat miskin (raskin). BPK RI
menyimpulkan pelaksanaan program penyaluran subsidi raskin belum
sepenuhnya efektif untuk mencapai tujuan-tujuan program. Hal ini
disebabkan karena data penerima manfaat yang mutakhir tidak memadai
sehingga sebagian penerima program raskin berisiko tidak tepat sasaran,
mekanisme pengujian kualitas beras raskin belum jelas.
Dihadapan anggota DPR RI, Ketua BPK RI mengatakan bahwa pada
periode 2010-2014, BPK RI telah menyampaikan 215.991 rekomendasi
senilai Rp77,61 triliun kepada entitas yang diperiksa, dan baru
ditindaklanjuti 55,54% atau sebanyak 120.003 rekomendasi. BPK RI juga
telah menyampaikan temuan pemeriksaan yang mengandung unsur
pidana kepada instansi yang berwenang atau penegak hukum sebanyak
227 surat yang memuat 442 temuan senilai Rp43,83 triliun.
BPK Menemukan Potensi Kerugian Daerah Senilai Rp1,29 Triliun
09 April 2015
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan ketidakpatuhan yang
mengakibatkan kerugian daerah senilai Rp285,78 miliar yang terjadi di 68
pemerintah daerah (pemda). Hal tersebut disampaikan oleh Ketua
BPK, Harry Azhar Azis saat penyerahan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan
Semester (IHPS) II Tahun 2014 kepada Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI
dalam Sidang Paripurna Luar Biasa di Gedung Nusantara V, Komplek
DPR/MPR, Jakarta, Rabu (8/4). BPK juga menemukan potensi kerugian
daerah senilai Rp1,29 triliun yang terjadi di pemda. Dalam masalah ini,

Kota Palangka Raya mengalami potensi kerugian paling besar, senilai


Rp1,18 triliun, ungkap Ketua BPK.
Selain itu, dalam pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT), BPK
menemukan kekurangan penerimaan di 27 pemda senilai Rp132,23 miliar
dan temuan senilai Rp275,52 miliar dalam pengelolaan belanja daerah.
Ketua BPK mengatakan, bahwa dalam lima tahun terakhir , opini atas
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) semakin baik. Pada tahun
2009, pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota masing-masing
memperoleh opini WTP sebanyak 3%, 2%, dan 7%. Pada tahun 2013,
masin-masing meningkat menjadi 48%, 26%, dan 38%.
Namun, Ketua BPK mengungkapkan bahwa, masih ada keterlambatan
penyampaian LKPD. Jumlah pemerintah daerah sampai dengan Semester
II tahun 2014 adalah 542, namun dari jumlah tersebut, yang telah
menyusun LKPD Tahun 2013 hanya 524 pemerintah daerah, ungkap
Ketua BPK. Hal tersebut menjadi perhatian BPK dan BPK akan terus
mendorong kepada pemda untuk bisa menyelesaikan laporan keuangan
tepat waktu.
Sementara itu, Ketua DPD RI Irman Gusman menegaskan permalahan
administrasi keuangan di daerah yang makin kompleks menuntut respons
cepat. Ketua DPD RI menghimbau kepada anggota DPD RI agar berbagai
temuan tersebut dijadikan sebagai catatan penting bahan pelaksanaan
tugas di daerah. "Dengan laporan yang ada diharapkan setiap anggota
DPD RI dapat bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti
rekomendasi dari BPK demi terwujudnya tata kelola keuangan pemerintah
yang transparan dan akuntabel," kata Ketua DPD RI.
Di sisi lain, Ketua BPK menyampaikan, pada periode 2010-2014, BPK
menyampaikan 215.991 rekomendasi senilai Rp77,61 triliun kepada
entitas yang diperiksa. Dari data tersebut diketahui bahwa, sebanyak
120.003 rekomendasi senilai Rp26,30 triliun telah ditindaklanjuti sesuai
rekomendasi, sebanyak 58.770 rekomendasi senilai Rp36,97 triliun belum
sesuai dan/atau dalam proses tindak lanjut, dan sebanyak 36.865
rekomendasi senilai Rp13,83 triliun belum ditindaklanjuti, sedangkan 353
rekomendasi senilai Rp516,67 miliar tidak dapat ditindaklanjuti.
Selain itu, BPK juga memantau 24.294 kasus kerugian Negara/daerah
senilai Rp4,01 triliun pada periode 2003 s.d. semester I tahun 2014. Dari
pemantauan tersebut diperoleh bahwa, 6.328 kasus telah diangsur senilai
Rp332,71 miliar, 9.750 kasus telah dilunasi senilai Rp210,68 miliar, dan

127 kasus dihapuskan senilai Rp7,42 miliar. Sehingga sampai dengan


Semester I 2014 masih terdapat sisa kerugian Negara/daerah sebanyak
15.170 kasus senilai Rp3,46 triliun.
Opini :
Yang menjadi permasalahan di Indonesia saat ini adalah, tingkat korupsi
yang sangat memprihatinkan. Lalu bagaimanakah cara pemerintah
menanggulangi tindak korupsi di Indonesia yang semakin hari semakin
marak saja. Selain usaha dari pemerintah, juga diharapkan kepada rakyat
untuk mengkoreksi diri sendiri, menumbuhkan rasa sadar diri untuk
menghilangkan potensi korupsi sekecil apapun itu dari diri sendiri.
Diharapka juga untuk para auditor, agar menjadi auditor yang independen
dalam menjalankan tugasnya. Berusaha semaksimal mungkin dalam
menangani kasus yang ada, agar tidak terjadi kesalah pahaman dan
terdapat salah satu pihak yang dirugikan. Jika memang benar ada tindak
kecurangan, maka harus diusut dengan baik dan penuh pertimbangan.
Dengan demikian, dana-dana yang seharusnya dapat disalurkan guna
pembangunan-pembangunan fasilitas untuk rakyat dapat terealisasi
dengan baik. Hal ini juga dilakukan guna menjaring para koruptor yang
telah merugikan negara dengan membelanjakan dana atas nama instansi
yang bersangkutan padahal hanya untuk kepentingan pribadi.
Lanjutkan terus perjuangan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa
Keuangan, semoga menjadi jalan yang terang bagi masa depan Indonesia.
Referensi :
http://www.bpk.go.id/news/bpk-menemukan-potensi-kerugiandaerah-senilai-rp129-triliun
http://www.bpk.go.id/news/bpk-ri-temukan-3293-masalah-senilairp1474-triliun