Anda di halaman 1dari 9

Pengaruh Corporate Governance dan Kualitas Audit Terhadap

Manajemen Laba
Randy Rakhmadiaz1), Nanik Lestari2)
1) Jurusan Manajemen Bisnis, Politeknik Negeri Batam, Batam 29461, email: ra k h mad iaz @yahoo.com
2) Jurusan Manajemen Bisnis, Politeknik Negeri Batam, Batam 29461, email: nanik@polibatam.ac.id
Abstrak Manajemen laba merupakan tindakan manajemen untuk memanipulasi pelaporan keuangan
perusahaan dengan tujuan memaksimalkan laba untuk kepentingan pribadi. Tindakan ini merupakan sebuah
penyimpangan karena dapat menyesatkan pihak yang mengunakan laporan. Penelitian ini bertujuan untuk
menguji pengaruh corporate governance yang diukur dengan frekuensi rapat dewan komisaris, proporsi latar
belakang pendidikan ekonomi atau keuangan komite audit, dan kualitas audit terhadap praktek manajemen laba.
Populasi penelitian ini adalah perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 20102013. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan metode purposive sampling, dan diperoleh 98
perusahaan yang menjadi sampel penelitian. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dan statistik
deskriptif untuk analisis data yang diolah dengan bantuan program eviews 8.1. Berdasarkan hasil hipotesis dalam
penelitian ini, menunjukkan bahwa (1) frekuensi rapat dewan komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap
manajemen laba. (2) latar belakang pendidikan komite audit berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
(3) kualitas audit tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Kata Kunci : Manajemen laba, Tata kelola perusahaan, Dewan komisaris, Komite audit, Kualitas audit
Abstract - Earnings management is manager effort in manipulating financial report in order to gain profit to
benefit their self. This behavior is considered as a fraud because it gives a mislead information to the financial
report use. This research aims to determine and analyze the effect frequency of meetings board commissioner,
proportion background study economy or financial audit committee, and quality audit against the practice of
earnings management. The population used in this study were non financial companies listed on the Stock
Exchange during 2010-2013. The sampling technique used in this research was purposive sampling method and
obtained 98 samples. In this study using multiple regression analysis and descriptive statistics for the analysis
of the data with the help of the program eviews 8.1. Based on the result of the hypothetical examination in this
research, it proved that (1) frequency of meetings board commissioner does not have a significant effect against
earnings management. (2) proportion background study economy or financial audit committee has a significant
effect against earnings management. (3) quality audit does not have a significant effect against earnings
management.
Keywords: Earnings management, Corporate governance, Board commissioner, Audit committee, Quality audit

1. PENDAHULUAN
Laporan keuangan adalah suatu cerminan
dari kondisi perusahaan karena memuat informasi
mengenai posisi keuangan, laporan kinerja
manajemen, laporan arus kas dan perubahan posisi
keuangan perusahaan. Laporan keuangan juga
menunjukkan seberapa besar kinerja manajemen dan
merupakan sumber dalam mengevaluasi kinerja
manajemen. Di dalam laporan keuangan yang
biasanya dijadikan parameter utama adalah besarnya
laba perusahaan. Dengan adanya penilaian kinerja
manajemen tersebut dapat mendorong timbulnya
perilaku menyimpang dari pihak manajemen
perusahaan, yang salah satu contohnya adalah
manajemen laba (earning management). Manajemen
laba merupakan langkah manajemen untuk memilih
kebijakan akuntansi dari suatu standar tertentu dengan

tujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan atau nilai


perusahaan.
Laba yang tidak menunjukkan informasi
yang sebenarnya tentang kinerja manajemen dapat
menyesatkan pihak yang mengunakan laporan. Jika
laba yang tidak sesuai dengan keadaan dan fakta
keuangan perusahaan digunakan oleh investor untuk
membentuk nilai perusahaan, maka laba tidak dapat
menjelaskan nilai pasar perusahaan yang sebenarnya
[40]. Tindakan manajemen laba telah menimbulkan
beberapa kasus antara lain Enron, Merck, World Com
dan mayoritas perusahaan lain di Amerika serikat [37]
dimana pihak manajemen telah melakukan berbagai
macam pelanggaran praktek bisnis yang tidak sehat
dengan melakukan deception, discrimination of
information, coercion, bribery, dan keluar dari prinsip
good
corporate
governance.
Kecenderungan
manajemen untuk melakukan praktik manajemen laba
dapat mempengaruhi kualitas laba yang dilaporkan.
Namun hal tersebut dapat diatasi dengan menerapkan

mekanisme tata kelola perusahaan yang baik (good


corporate governance). Corporate Governance
merupakan salah satu cara untuk mengeliminasi upaya
rekayasa manajemen yaitu dengan membuat peraturan
tentang
keharusan
bagi
perusahaan
untuk
mengungkapkan informasi-informasi tertentu secara
wajib (mandated disclosure) dan sukarela (voluntary
disclosure) , upaya ini dilakukan untuk meningkatkan
kualitas laporan keuangan yang dipublikasikan [28].

2. LANDASAN TEORI
2.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori agensi pertama kali dipopulerkan oleh
[64], dalam teori ini dinyatakan bahwa hubungan
keagenan muncul ketika satu orang atau lebih
(pemilik) mempekerjakan orang lain (manajemen)
untuk memberikan suatu jasa dan kemudian
mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan
kepada manajemen tersebut. Dalam hal ini pemegang
saham sebagai pemilik mempunyai asumsi bahwa
pemegang saham hanya tertarik pada hasil keuangan
yang bertambah atau investasi mereka di dalam
perusahaan. Sedangkan para manajemen diasumsikan
menerima kepuasan berupa kompensasi keuangan dan
syarat-syarat yang berlaku dalam hubungan tersebut.
2.1 Teori Akuntansi Positif
Teori akuntansi positif adalah sebuah teori
yang berusaha untuk menjelaskan dan memprediksi
fenomena akuntansi yang sebenarnya. Teori akuntansi
positif menggangap bahwa tujuan dari teori akuntansi
yaitu menjelaskan dan memprediksi praktik-praktik
akuntansi, sehingga teori akuntansi positif berupaya
menjelaskan
proses
dengan
menggunakan
kemampuan, pemahaman, pengetahuan akuntansi,
serta penggunaan kebijakan akuntansi yang paling
sesuai untuk menghadapi kondisi tertentu dimasa
depan. Dalam positive accounting theory terdapat tiga
hipotesis
yang
melatarbelakangi
terjadinya
manajemen laba [62], yaitu:

berdasarkan laba akuntansi, maka semakin besar


kemungkinan manajemen perusahaan memilih
prosedur akuntansi yang menggeser laba akuntansi
dari periode mendatang ke periode sekarang. Hal ini
untuk menjaga reputasi mereka dalam pandangan
pihak eksternal. Dalam suatu perusahaan yang
mempunyai rasio debt to equity cukup tinggi, maka
akan mendorong manajer perusahaan untuk cenderung
menggunakan metode akuntansi yang dapat
meningkatkan pendapatan atau laba. Perusahaan
dengan rasio debt to equity yang tinggi akan berakibat
menimbulkan kesulitan dalam memperoleh dana
tambahan dari pihak kreditor dan bahkan perusahaan
dapat terancam melanggar perjanjian utang.
3.The politcal cost hypothesis
Dalam suatu perusahaan besar yang memiliki
biaya politik tinggi, akan mendorong manajer untuk
memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba
yang dilaporkan dari periode sekarang ke periode
masa mendatang sehingga dapat memperkecil laba
yang dilaporkan. Adanya biaya politik dikarenakan
profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik
perhatian media dan konsumen. Teori keagenan
terdapat asumsi bahwa setiap individu semata-mata
termotivasi oleh kepentingan diri sendiri sehingga
akan dapat menimbulkan konflik kepentingan antara
principal dan agen. Sedangkan pemegang saham
sebagai pihak principal tentu akan mengadakan
kontrak dengan tujuan untuk memaksimumkan
kesejahteraan dirinya
sendiri
yakni
supaya
profitabilitas yang selalu meningkat.

1. The bonus plan hypothesis


Manajemen akan memilih metode akuntansi
yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang
tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus
besar
berdasarkan
earnings
lebih
banyak
menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan
laba yang dilaporkan. dalam suatu perusahaan yang
memiliki rencana pemberian bonus, maka seorang
manajer perusahaan akan melakukan penaikan laba
saat ini yakni dengan memilih metode akuntansi yang
mampu menggeser laba dari masa depan ke masa kini.
Tindakan ini dilakukan dikarenakan manajer
termotivasi untuk mendapatkan insentif yang lebih
tinggi untuk masa kini.

2.3 Manajemen Laba


Menurut [55], Earnings Management adalah
intervensi manajemen dalam proses penyusunan
laporan keuangan bagi pihak eksternal sehingga dapat
meratakan, menaikan, dan menurunkan pelaporan
laba, di mana manajemen dapat menggunakan
kelonggaran penggunaan metode akuntansi, membuat
kebijakan-kebijakan (discreationary) yang dapat
mempercepat atau menunda biaya-biaya dan
pendapatan, agar laba perusahaan lebih kecil atau
lebih besar sesuai dengan yang diharapkan. [60],
Manajemen laba adalah tindakan yang dilakukan oleh
manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba
yang dilaporkan yang bisa memberikan informasi
mengenai
keuntungan
ekonomis
(economic
advantage) yang sesungguhnya tidak dialami
perusahaan, yang dalam jangka panjang tindakan
tersebut bisa merugikan perusahaan. Sedangkan
Manajemen laba menurut [59], adalah tindakan
manajemen yang menaikan atau menurunkan laba
yang dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung
jawabnya, yang tidak mempunyai hubungan dagang
menaikan atau menurunkan profitabilitas perusahaan
untuk jangka panjang.

2. The debt covenant hypothesis


Semakin dekat suatu perusahaan untuk
menyimpang pada perjanjian hutang yang telah dibuat

2.4 Tata Kelola Perusahaan


Corporate
Governance
Pertama
kali
diperkenalkan oleh Cadbury Committee dengan

definisi sebagai berikut, A set a rules that define the


relationship between shareholder, manager, creditor,
government, employee and other internal and external
stakeholder in respect to the right and responsibility.
[33] Mendefinisikan corporate governance sebagai
suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ
perusahaan guna memberikan nilai tambah pada
perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka
panjang bagi pemegang saham, dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya,
berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang
berlaku
2.5 Dewan Komisaris
Dewan
komisaris
merupakan
suatu
mekanisme yang bertugas untuk mengawasi dan
memberi petunjuk kepada manajemen perusahaan.
Secara umum, dewan komisaris bertanggung jawab
mengawasi kinerja manajemen perusahaan, dan
terwujudnya akuntabilitas. Tugas dewan komisaris
adalah mensupervisi dan memberi nasihat kepada
dewan direksi, dan memastikan bahwa perusahaan
telah melaksanakan tanggung jawab kepada para
stakeholder.
Dewan komisaris bertujuan untuk
menyeimbangkan dalam pengambilan keputusan
khususnya dalam rangka perlindungan terhadap
pemegang saham minoritas dan pihak-pihak lain yang
terkait. Akan tetapi, pengangkatan dewan komisaris
oleh perusahaan mungkin hanya dilakukan untuk
pemenuhan regulasi saja tapi tidak dimaksudkan untuk
menegakkan Good Corporate Governance (GCG) di
dalam perusahaan [16].
2.6 Komite Audit
Komite
audit
sesuai
dengan
Kep.
29/PM/2004 adalah komite yang dibentuk oleh dewan
komisaris untuk melakukan tugas pengawasan
pengelolaan perusahaan. Keberadaan komite audit
sangat penting bagi pengelolaan perusahaan. Komite
audit merupakan komponen baru dalam sistem
pengendalian perusahaan. Selain itu komite audit
dianggap sebagai penghubung antara pemegang saham
dan dewan komisaris dengan pihak manajemen dalam
menangani masalah pengendalian. Komite audit
bertanggung jawab mengawasi laporan keuangan,
audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian
internal (termasuk audit internal). Selain itu dapat
mengurangi sifat opportunistic manajemen yang
melakukan earnings management dengan cara
mengawasi pelaksanaan audit eksternal [36]. [58]
menyatakan bahwa investor, analis dan regulator
menganggap komite audit memberikan kontribusi
dalam kualitas pelaporan keuangan. Hasilnya
mengindikasikan bahwa adanya komite audit memiliki
konsekuensi pada laporan keuangan yaitu: (1)
berkurangnya pengukuran akuntansi yang tidak tepat,
(2) berkurangnya pengungkapan akuntansi yang tidak
tepat, dan (3) berkurangnya tindakan kecurangan
manajemen dan tindakan illegal.

2.7 Kualitas Audit


Kualitas audit merupakan hal penting dalam
melaksanakan proses audit. Dengan memilih auditor
eksternal yang baik, tentu dewan komisaris
independen
berharap
independensi
dan
professionalisme
dalam
pemeriksaan
laporan
keuangan akan selalu terjaga. Kualitas auditor yang
baik juga akan membuat para stakeholder percaya
mengenai kevalidan hasil pemeriksaan laporan
keuangan. Informasi yang diungkap auditor juga dapat
memberikan pertimbangan mengenai keputusan yang
akan diambil oleh stakeholder. Perusahaan dengan
agency cost yang tinggi, akan cenderung
menggunakan KAP dengan kualitas yang lebih baik
[64]. Hal itu dikarenakan KAP yang lebih besar dan
terkenal cenderung mendorong perusahaan untuk
mengungkapkan lebih luas untuk mempertahankan
reputasi KAP dan juga menghindari biaya reputasi
yang akan dikenakan [44]. Kantor Akuntan Publik
yang termasuk dalam kategori big four dipercaya
memiliki reputasi yang terbaik, baik itu di Indonesia
maupun Internasional dikarenakan sudah dikenal dan
dipercaya oleh public [19].
2.8 Hipotesis
Pengaruh Frekuensi Rapat Dewan Komisaris
Terhadap Manajemen Laba
Rapat dewan komisaris merupakan hal
penting dalam menentukan efektivitas dewan
komisaris dalam melaksanakan pengawasan dan
pengendalian. Rapat dewan komisaris merupakan
media komunikasi dan koordinasi antara anggotaanggota dewan komisaris dalam melaksanakan
tugasnya sebagai pengawas manajemen. Dalam rapat
tersebut akan membahas mengenai arah dan strategi
perusahaan, evaluasi kebijakan yang telah diambil
oleh manajemen, serta mengatasi masalah benturan
kepentingan [49]. [35] menyatakan bahwa dewan yang
lebih sering mengadakan pertemuan dapat mengurangi
kemungkinan
terjadinya
kecurangan,
karena
pertemuan yang rutin memungkinkan dewan untuk
mengidentifikasi
dan
menyelesaikan
masalah
potensial, terutama yang terkait dengan kualitas
pelaporan keuangan. Dengan adanya evaluasi kinerja
dan pengawasan secara rutin diharapkan akan
membuat manajer sulit melakukan manipulasi data
keuangan sehingga praktik manajemen laba dapat
diminimalisir [13]. Berdasarkan uraian diatas, maka
dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H1a:Semakin banyak dewan komisaris melakukan
pertemuan (meeting) akan menurunkan praktek
manajemen laba.
Pengaruh Keahlian Ekonomi dan Keuangan
Komite Audit Terhadap Manejemen Laba
Kualitas laporan keuangan dipengaruhi oleh
kualitas dan karakteristik komite audit. Bapepam
(2004) menghendaki bahwa salah seorang dari
anggota komite audit memiliki latar belakang
pendidikan
akuntansi
atau
keuangan.
[46]

membuktikan bahwa dewan komisaris independen dan


komite audit yang aktif serta berpengetahuan di
bidang keuangan menjadi faktor penting untuk
mencegah kecenderungan manajer untuk melakukan
manajemen laba. Keahlian di bidang keuangan sama
pentingnya bagi komite audit karena fungsi utama dari
komite tersebut adalah mengawasi proses pelaporan
keuangan sebuah perusahaan. [46] dan Bryan [43]
menyatakan bahwa anggota komite audit yang
merupakan komisaris independen yang ahli di bidang
keuangan merupakan pihak yang efektif untuk
mengurangi manajemen laba. Dengan demikian, maka
dirumuskan hipotesis kedua yang akan diuji sebagai
berikut:
H1b:Semakin banyak proporsi anggota komite
audit berlatar belakang ekonomi dan keuangan
akan menurunkan praktek manajemen laba.
Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Manajemen
Laba
Ukuran KAP, misalnya Big 6/5/4, memiliki
kualitas audit yang lebih tinggi dibandingkan dengan
non-Big 6/5/4 dengan alasan bahwa KAP besar
memiliki pengetahuan, pengalaman teknis, kapasitas,
dan reputasi yang lebih superior dibandingkan KAP
(Kantor Akuntan Publik) yang lebih kecil. [52].
Berdasarkan argumentasi di atas, hipotesis yang akan
diuji adalah sebagai berikut:
H2:Terdapat
perbedaan
tingkat
praktek
manajemen laba pada perusahaan yang diaudit
oleh auditor Big four dan non Big four.
2.9 Metode Analisis Data
Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif merupakan
teknik deskriptif yang memberikan informasi
mengenai
data
yang
dimiliki
dan tidak
bermaksud menguji hipotesis. Analisis ini hanya
digunakan untuk menyajikan dan menganalisis data
disertai dengan perhitungan agar dapat memperjelas
keadaan atau karakteristik data yang bersangkutan.
Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Mean , standar deviasi, maksimum, dan
minimum. Mean digunakan untuk mengetahui ratarata data yang bersangkutan. Standar deviasi
digunakan untuk mengetahui seberapa besar data
yang bersangkutan bervariasi dari rata-rata.
Maksimum digunakan untuk mengetahui jumlah
terbesar data yang bersangkutan. Minimum
digunakan untuk mengetahui jumlah terkecil data
yang bersangkutan.
Analisis Regresi Linier Berganda
Dalam penelitian ini akan menggunakan
model penelitian regresi berganda Data panel
merupakan jenis data yang merupakan gabungan
antara data runtut waktu (time series) dengan data
seksi silang (cross section). Oleh karenanya,
pemodelan dengan data panel memiliki gabungan

karakteristik kedua jenis data time series dan cross


section. Maka pemodelan dengan data panel ini terdiri
atas beberapa objek dan meliputi beberapa periode
waktu [24]. Dalam data panel dengan menggunakan
metode GLS (Generalized Least Squares) sudah
memperhitungkan heterogenitas yang terdapat pada
variabel independent secara eksplisit sehingga metode
dengan GLS (Generalized Least Squares) ini mampu
menghasilkan estimator yang memenuhi kriteria
BLUE (best linear unbiased estimator), dengan
menggunakan data panel secara teknis sudah dapat
mengatasi
masalah
multikolinearitas
dan
heterokedastisitas dengan penggabungan data cross
section dan data time series sehingga pengujian data
panel tidak memerlukan uji asumsi klasik [47].
Dimana dalam analisis modelnya akan terdapat 3
pendekatan, yaitu: common effect model, fixed effect
model, dan random effect model.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Instrumen Penelitian dan Operasional Variabel
Variabel dependen dalam penelitian ini
adalah manajemen laba yang diukur dengan cara
menghitung
discretionary
accrual
dengan
menggunakan Modified Jones Model. Variabel
independen Frekuensi pertemuan dewan komisaris
diukur secara numeral, yaitu dilihat dari jumlah
nominal pertemuan yang dilakukan oleh dewan
komisaris dalam tahun berjalan. Variabel komite audit
diukur dengan cara mencari persentase (%) dari
jumlah anggota komite audit yang mempunyai latar
belakang pendidikan ekonomi dan/atau keuangan
terhadap jumlah anggota komite audit keseluruhan.
Kualitas audit diukur dengan menggunakan dummy
variable, dimana 1 jika perusahaan diaudit oleh KAP
(Kantor Akuntan Publik) BigFour dan 0 jika
perusahaan diaudit oleh KAP (Kantor Akuntan
Publik) non BigFour.
Variabel kontrol leverage diukur dengan
menggunakan rasio total hutang terhadap total aktiva,
Variabel kontrol size dengan menggunakan nilai log
total aset perusahaan pada akhir tahun, dan
profitabilitas dengan menggunakan return on assets
(ROA).

Variabel

Keterangan

Pengukuran

DAC

Discretionary
accruals
Boardmeeting
(Rapat)

Modified Jones
model
Jumlah pertemuan
antar dewan
komisaris dalam
satu tahun
Proporsi anggota
komite audit yang
berlatar belakang
di bidang
ekonomi dan
keuangan

BOARDMEETING

KA

Background
study komite
audit

QA

Quality Audit
(Kualitas Audit)

LEV

Leverage

SIZE

Size (Ukuran
perusahaan)
kinerja
perusahaan

PERF

Dummy variable:
dimana 1; jika
perusahaan
diaudit oleh KAP
Big4 dan 0; jika
lainnya.
Total Hutang/total
aktiva
Log (Ln) total
aset perusahaan.
Return on assets
(ROA)

Tabel 2 tersebut menunjukan nilai rata-rata


discretionary accrual (DAC) sebesar -.0.012 yang
menandakan bahwa perusahaan
bersangkutan
melakukan earning management, nilai rata-rata dewan
komisaris (DK) sebesar 5.12 menunjukkan rata-rata
jumlah rapat anggota dewan komisaris dalam setahun
adalah sebanyak 5-6 kali, nilai rata-rata presentase
komite audit (KA) sebesar 0,59%, nilai rata-rata
leverage (LEV) sebesar 0,43%, nilai rata-rata size
sebesar 14.786, dan nilai rata-rata profitabilitas
(PERF) sebesar 0,10%.

3.2 Deskripsi Objek Penelitian


Penelitian
ini
menggunakan
sampel
perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) selama periode 2010-2013. Sampel
diseleksi dengan menggunakan metode purposive
sampling. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan,
diperoleh sampel sebanyak 392 perusahaan.

Tabel 3. Frekuensi Kualitas Audit


Keterangan

Tabel 1
Identifikasi Perusahaan

Jumlah

Perusahaan sudah listing pada tahun 2010

413

Perusahaan bergerak dalam industri keuangan

(69)

Perusahaan yang mengalami kerugian

(123)

Perusahaan yang mengalami delisting selama


periode 2010-2013

(28)

Tidak mempublikasikan annual report secara


lengkap & pelaporan periode 31 Desember
2010-2013 dalam Bursa Efek Indonesia

(28)

Perusahaan yang menyajikan laporan keuangan


tidak dalam bentuk rupiah

(14)

Tidak memiliki data lengkap sesuai variabel


yang dibutuhkan dalam penelitian mengenai
jumlah rapat dan profil komite audit

(53)

Frequency

Percent

1 (jika Big 4)

188

48%

0 (jika lainnya)

204

52%

Total sampel (N)

392

100%

Dalam tabel frekuensi reputasi auditor


diketahui bahwa perusahaan non keuangan yang
diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) non big-4
adalah sebesar 52%, yaitu sebanyak 204 perusahaan
dan perusahaan yang diaudit oleh KAP big-4 adalah
sebesar 48%, yaitu sebanyak 188 perusahaan.
Tabel 4. Uji Chow

Effects Test

Statistic

d.f.

Prob.

Period F
Period Chi-square

0.832128
2.553401

(3,382)
3

0.04768
0.04657

Sumber: Data diolah dengan menggunakan Eviews 8.1

Perusahaan yang terpilih menjadi sampel

98

3.3 Pembahasan Hasil Penelitian

Uji Chow bertujuan untuk memilih antara


model common effect model dan fixed effect model.
Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai Chow
dengan F-stat. Dari hasil di atas menunjukkan baik Ftest maupun Chi-square signifikan (p-value= 0,0000
dan p-value = 0,04 lebih kecil dari = 0,05) sehingga
H0 ditolak, artinya model estimasi mengikuti model
Fixed Effect.

Tabel 2. Statistik Deskriptif

Mean
Maximum
Minimum
Std. Dev.

DK

KA

LEV

5.12
43.00

0.59
1.00

0.432
1.474

1.00

0.00

0.044

SIZE

PERF

DAC
14.786 0.1018 0.0129
19.181 0.7150 0.3903
8.0268 0.0014 1.5587

4.06937 0.25950 0.19836 1.57403 0.08928 0.1396

Observations 392
392
392
392
392
392
Cross
sections
98
98
98
98
98
98
Keterangan : Tabel ini mempresentasikan Hasil uji statistik.
Variabel Dependent adalah DACt dan Variabel Independent
Board Comissioner, Audit Committee dan Quality Audit.
Variabel kontrol berupa: Lev, Size, dan Perf.

Tabel 5. Uji Hausman


Chi-Sq.
Statistic

Test Summary
Cross-section random

Chi-Sq.
d.f.

15.647206

Prob.

4 0.0035

Uji ini dilakukan untuk menentukan model


mana yang terbaik antara fixed effects model dan
random effects model dalam metode Generalized
Least Square (GLS). Kesimpulan dari uji ini adalah
apabila hipotesis nol (H0) diterima, maka model yang
digunakan adalah Random effect model dan
sebaliknya apabila Hipotesis nol (H0) ditolak, maka
model yang digunakan adalah fixed effects model.
Dari hasil tabel di atas menunjukkan nilai p-value =
0,0035 lebih kecil dari = 0,05 sehingga H0 ditolak.
Maka diperoleh kesimpulan bahwa model estimasi
mengikuti model Fixed Effect.
Hasil Regresi
Hasil empiris pada keseluruhan variabel
dapat dilihat pada tabel 6 yang merupakan hasil
analisis uji regresi data panel dengan menggunakan
Fixed Effect Model.
Tabel 6. Hasil Pengujian Regresi
Variable

Pred
ictio
n

Coefficient

t-Statistic

P-Value

DK

-5.305827

-0.030326

0.1340

QA
KA
LEV

+/-

-0.003602
-0.052577
-0.108805

-0.213820
-1.924715
-2.989858

0.3771
**0.0597

SIZE

+/-

0.000552

0.106001

PERF
C
R-squared

+/-

0.067546
0.052383

0.836790
0.679120
0.401284

***0.003
0.9156
0.4032
0.4975

Adjusted
0.274571
R-squared
F-statistic
0.007095
N
392
Hasil Uji
Fixed Effect
Hausman
***Signifikan pada level 1%. **Signifikan pada level
5%.*Signifikan pada level 10%
Keterangan : Tabel ini mempresentasikan hasil pengujian
hipotesis. Variabel Dependent adalah DACt dan Variabel
Independent adalah Board Comissioner (DK), Quality Audit
(QA), Audit Committee (KA) dan Variabel kontrol berupa:
Lev, Size, dan Perf.
Sumber: Data diolah dengan menggunakan Eviews 8.1

Pada hasil tabel diatas, diketahui bahwa


dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap
manajemen laba. Hal ini menjelaskan bahwa

seringnya dewan komisaris mengadakan rapat


belumlah efektif dalam mengurangi manajemen laba.
Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian
dari [27], dan [30] namun hasil penelitian ini sesuai
dengan hasil penelitian yang dinyatakan oleh [31]
bahwa dewan komisaris tidak berpengaruh untuk
mengurangi manajemen laba pada perusahaan. [8]
menemukan sebab mengapa dewan komisaris tidak
dapat menekan manajemen laba dikarenakan dewan
komisaris merupakan badan yang bersifat paruh waktu
yang hanya bertemu sesekali dan tidak saling
mengenal dengan baik satu sama lain, dan dewan
komisaris kemungkinan tidak memiliki waktu dan
keahlian yang diperlukan untuk memahami secara
rinci bisnis perusahaan yang memungkinkan
manajemen untuk mengaburkan masalah.
Kualitas audit tidak berpengaruh terhadap
manajemen laba. Hasil penelitian ini tidak konsisten
dengan penelitian [41], yang menyatakan bahwa
semakin besar skala KAP maka kualitas audit yang
dihasilkan semakin tinggi. Namun hasil penelitian ini
konsisten dengan penelitian [38] KAP Big Four
ternyata belum mampu membatasi praktik manajemen
laba, Hal ini dimungkinkan praktik manajemen laba
terjadi karena perusahaan memiliki keinginan agar
kinerja keuangan perusahaan tampak bagus dimata
calon investor, namun mengabaikan keberadaan KAP
Big Four.
Komite audit berpengaruh terhadap manajemen
laba. Hasil Penelitian ini mendukung hasil penelitian
yang dilakukan [46], [45], dan [50] yang menyatakan
bahwa terdapat hubungan yang negatif antara
financial expertise dengan adanya manajemen laba.
Hal ini menandakan komite audit yang memiliki
keahlian di bidang akuntansi dan keuangan dapat
mengurangi manajemen laba yang opportunistik.

4. KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil penelitian tentang
pengaruh corporate governance dan kualitas audit
terhadap manajemen laba, dimana dengan mengambil
sampel pada perusahaan non keuangan di tahun 2010
sampai tahun 2013. Dengan mendapatkan jumlah
sampel 98 perusahaan selama 4 tahun dan
menghasilkan 392 observasi, maka dapat disimpulkan
bahwa dewan komisaris yang diukur dengan frekuensi
jumlah rapat tidak berpengaruh terhadap manajemen
laba. Komite audit yang diukur dengan latar belakang
pendidikan ekonomi dan/atau keuangan berpengaruh
terhadap manajemen laba. Kualitas audit yang diukur
dengan ukuran kantor akuntan publik (KAP) tidak
berpengaruh terhadap manajemen laba.
Hasil ini tidak dapat di generalisir untuk semua
perusahaan non financial di indonesia karena data
mengenai penelitian masih banyak yang tidak tersedia.
Penelitian
selanjutnya
diharapkan
dapat
menambahkan faktor-faktor lain yang terlihat akan
mempengaruhi manajemen laba. Cara pengukuran

yang dapat diubah pada variabel dewan komisaris dan


komite audit, seperti independensi, ukuran, dan
gender.

DAFTAR REFERENSI
[1] B. Sudibyo, "Rekayasa Akuntansi dan Permasalahannya di
Indonesia," Akuntansi, Juni, 1987.
[2] Gaffikin, "Redefining Accounting Theory," in Second South
East Asia University Accounting Teachers Conference, Jakarta,
21-23 Januari 1991.
[3] S. Alves, "The impact of audit committee existence and
external audit on earnings management," Journal of Financial
Reporting & Accounting, vol. Vol. 11 Iss 2, pp. pp. 143 - 165,
2013.
[4] G. S. Abiyoga, "Pengaruh Good Corporate Governance dan
Kinerja Perusahaan serta Reputasi Auditor Terhadap Nilai
Perusahaan pada Industri Manufaktur sub-sektor Otomotif
yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2011,"
2013.
[5] D. Augustia, "Pengaruh Faktor Good Corporate Governance
Terhadap Manajemen Laba," 2013.
[6] M. F. Widyawati, "Pengaruh Dewan Direksi, Komisaris
Independen, Komite Audit, Kepemilikan Manajerial dan
Kepemilikan Institusional," Jurnal Ilmu, vol. Manajemen Vol
No. 1 Januari 2013, pp. 239-241, 2013.
[7] F. Rezaei and M. Roshani, "Efficient or opportunistic earnings
management with regards to the role of firm size and corporate
governance practices," Interdisciplinary Journal Of
Contemporary Research In Business, Vols. 3, No 9, 2012.
[8] F. Aprianti, "Analisis Pengaruh Penerapan Good Corporate
Governance Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Go
Public yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Pada Periode
2009-2011," 2012.
[9] G. A. Nugroho, "Pengaruh Struktur Kepemilikan dan Leverage
Terhadap Manajemen Laba," 2011.
[10] Subhan, "Pengaruh Good Corporate Governance dan Leverage
Keuangan terhadap Manajemen Laba Perusahaan Perbankan
yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI)," Jurnal Bisnis
dan Akuntansi, Vols. 3, No.5, 2011.

[14] Welvin and Arleen, "Pengaruh Mekanisme Good Corporate


Governance, Independensi Auditor, Kualitas Audit, dan Faktor
Lainnya Terhadap Manajemen Laba," Jurnal Bisnis dan
Akuntansi, vol. 12, no. 1, 2010.
[15] I. D. Nurhayati, "Pengaruh Good Corporate Governance dan
Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba," 2010.
[16] A. Wawo, "Pengaruh Corporate Governance Dan Konsentrasi
Kepemilikan Terhadap Daya Informasi Akuntansi," Simposium
Nasional Akuntansi (SNA) 13 Purwokerto, 2010.
[17] K. Sunaryo, "Pengaruh Asimetri Informasi, Ukuran
Perusahaan dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Praktik
Manajemen Laba," Simposium Nasional Akuntansi VIII, vol. 5,
pp. 54-65, 2010.
[18] E. F. Brigham and H. Joel, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan
: Assetial Of Financial Management, Jakarta: Salemba Empat,
2010.
[19] R. Rusmin, "Auditor quality and earnings management:
Singaporean evidence," Managerial Auditing Journal, vol. 25,
no. 7, pp. 618-638, 2010.
[20] R. Ningsaptiti and T. Hidayat, "Analisis Pengaruh Ukuran
Perusahaan dan Mekanisme Corporate Governance Terhadap
Manajemen Laba (Studi empiris pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di BEI tahun 2006-2008)," 2010.
[21] N. Azlina, "Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen
Laba," Pekbis Jurnal, vol. 2, no. 3, 2010.
[22] I. F. IFAC, "International Good Practice Guidance Evaluating
and Improving," 2009.
[23] Zulfiqar, Butt, Hasan, "Corporate Governance and Earnings
Management an Empirical Evidence Form Pakistani Listed
Companies.," European Journals of Scientific Research ISSN
1450-216X, vol. 26 No.4 (200), pp. 624-638, 2009.
[24] W. W. Winarno, Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan
Eviews, Yogyakarta: UPP STIM YKPN edisi kedua, 2009.
[25] Suwardjono, Teori Akuntansi, Perekayasaan Pelaporan
Keuangan, Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, 2008.
[26] Tarjo, "Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan Institusional dan
Leverage terhadap Manajemen Laba, Nilai Pemegang Saham
serta Cost of Equity Capital.," Simposium Nasional Akuntansi
XI Pontianak, 2008.

[11] R. R. Panggabean, "Pengaruh Corporate Governance Terhadap


Praktek Manajemen Laba Pada Perusahaan Go Public di
Indonesia," 2011.

[27] R. Isnanta, "Pengaruh Corporate Governance dan Struktur


Kepemilikan Terhadap Manajemen Laba dan Kinerja," 2008.

[12] N. K. Muliati, "Pengaruh Asimetri Informasi, Leverage, dan


Ukuran Perusahaan Pada Manajemen Laba," 2011.

[28] S. Sulistyanto, Manajemen Laba Teori Dan Model Empiris,


Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2008.

[13] W. Aryani, "Mekanisme Corporate Governance dan


Manajemen Laba Melalui Manipulasi Aktivitas Rill," 2011.

[29] S. S. Harahap, Teori Akuntansi, Jakarta: Raja Grafindo, 2007.


[30] M. Nasution and D. Setiawan, "Pengaruh Corporate
Governance Terhadap Manajemen Laba di Industri

Perbankan," Simposium Nasional Akuntansi, 2007.


[31] M. A. Ujiyantho and B. A. Pramuka, "Mekanisme Corporate
Governance, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan (Studi
Pada Perusahaan go publik Sektor Manufaktur)," in Simposium
Nasional Akuntansi X, 2007.
[32] D. Nachrowi, Pendekatan Populer dan Praktis Ekonometrika
Untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan, Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2006.
[33] K. N. K. G. C. G. (KNKG), Pedoman Umum Good Corporate
Governance (GCG)., 2006.
[34] Komite Nasional Kebijakan Governance, Pedoman Good
Corporate Governance Indonesia, Jakarta, 2006.
[35] G. Chen, M. Firth, D. N. Gao and O. M. Rui, "Ownership
structure, corporate governance, and fraud: Evidence from
China," Journal of Corporate Finance, vol. 12, no. 3, pp. 424428, 2006.
[36] H. Siallagan and M. Machfoedz, "Mekanisme Corporate
Governance, Kualitas Laba, dan Nilai Perusahaan,"
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG, 2006.
[37] M. Cornet, Saunders and Tehranian, "Earnings Management,
Corporate Governance, and True Financial Performance.,"
2006.
[38] S. Veronica and S. Utama, "Pengaruh Struktur Kepemilikan,
Ukuran Perusahaan, dan Praktek Corporate Governance
terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Management)," in
Artikel yang Dipresentasikan pada Simposium Nasional
Akuntansi, 2005.
[39] J. Halim, C. Meiden and Tobing, "Pengaruh Manajemen Laba
pada Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan pada
Perusahaan Manufaktur yang Termasuk dalam Indeks LQ
45," Simposium Nasional Akuntansi VIII, 2005.
[40] B. S. Gideon, "Kualitas Laba : Studi Pengaruh Mekanisme
Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba dengan
Menggunakan Analisis Jalur," in Simposium Nasional
Akuntansi VIII, Solo, 2005.
[41] Y. C. Ken, L. L. Kuen and Z. Jian, "Audit Quality and Earning
Management for Taiwan IPO Firms," Managerial Auditing
Jurnal, vol. 20, no. 1, 2005.
[42] Khomsyiah, "Analisis Hubungan Struktur dan Indeks
Corporate Governance dengan Kualitas Pengungkapan," 2005.
[43] D. Bryan, M. Liu and S. Tiras, "The Influence of Independent
and Effective Audit Committees on Earnings Quality,"
Working Papers, 2004.
[44] K. Chalmers and J. M. Godfrey, "Reputation costs: the impetus
for voluntary derivative financial instrument reporting,
Accounting, Organizations and Society," vol. 29, no. 2, pp. 95125, 2004.

[45] L. J. Abbott, S. Parkers and G. Peters, "Audit committee


characteristics and restatements. Auditing," Journal of Practice
& Theory, vol. 23, pp. 69-87, 2004.
[46] B. Xie, W. N. Davidson and P. J. DaDalt, "Earnings
management and corporate governance: the role of the board
and the audit committee," Journal of Corporate Finance, vol.
9, no. 3, p. 295316, 2003.
[47] D. N. Gujarati, Basic Econometric, vol. 4th Edition, New
York, Mc Graw- Hill, 2003.
[48] L. d. A. N. Setiawati, "Manajemen Laba," Jurnal Ekonomi dan
Bisnis Indonesia, vol. Vol. 15, pp. 424-441, 2002.
[49] "Forum For Corporate Governance In Indonesia," in Corporate
Governance: Tata Kelola Perusahaan , Jakarta, 2001.
[50] T. DeZoort, D. Hermanson and R. Houston, "Audit
Committees: How Good Are They?," The Journal of
Corporate Accounting and Finance, pp. 53-59, 2001.
[51] A. U. Widyaningdyah, "Analisis Faktor-faktor Yang
Berpengaruh Terhadap Earnings Management Pada
Perusahaan Go Public di Indonesia," Jurnal Akuntansi &
Keuangan, vol. 3, no. 2, November 2001.
[52] B. Becker and M. Huselid, "High Performance Work Systems
and Firm Performance: A Synthesis of Research and
Managerial Implications," Research in Personnel and Human
Resources Management, vol. 16, pp. 53-101, 1998.
[53] S. Barnhart and S. Rosenstein, "Board Composition,
Managerial Ownership, and Firm Performance: An Empirical
Analysis," The Financial Review, vol. 33, no. 4, pp. 1-16,
1998.
[54] P. M. Healy and J. M. Wahlen, "A Review of the Earnings
Management Literature and its Implications for Standard
Setting," National Bureau of Economic Research, 1998.
[55] A. J. Scott, "The Cultural Economy of Cities," International
journal of urban and regional research, vol. 21 (2), pp. 323339, 1997.
[56] H. Van, Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan, Jakarta:
Salemba Empat, 1997.
[57] Shleifer and Vishny, "A survey of corporate governance.,"
Journal of Finance, vol. 52, pp. 737-783, 1997.
[58] D. McMullen, "Audit Committee Performance: An
Investigation of the Consequences Associated with Audit
Committees," A Journal of Practice and Theory, pp. 87-103,
1996.
[59] K. Roszenrwig and M. Fischer, "Attitudes of students and
accounting practitioners concerning the ethical acceptability of
earnings management," Journal of Business Ethics, vol. 14 (6),
pp. 433-444, 1995.

[60] K. Merchant and J. Rockness, "The ethics of managing


earnings: An empirical investigation. Journal of Accounting
and Public Policy," vol. 13, pp. 79-94, 1994.
[61] Dillard, "Accounting as a Critical Social Science," Accounting
Auditing & Accountability Journal, 1991.
[62] R. L. Watts and J. L. Zimmerman, Positive Accounting
Theory, New Jersey Prentice-Hall International Inc., 1990.
[63] K. M. Eisenhardt, "Agency Theory: An Assesment and
Review," Academy of Management Review, vol. 14, no. 1, pp.
57-74, 1989.

[64] M. C. Jensen and W. H. Meckling, "Theory of the Firm:


Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership
Structure," Journal of Financial Economics, vol. 3, no. 4, pp.
305-360, 1976.

Anda mungkin juga menyukai