Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan nasional kita masih menghadapi berbagai macam persoalan. Persoalan itu
memang tidak akan pernah selesai, karena substansi yang ditransformasikan selama
proses pendidikan dan pembelajaran selalu berada di bawah tekanan kemajuan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kemajuan masyarakat. Salah satu persoalan pendidikan kita
yang masih menonjol saat ini adalah adanya kurikulum yang silih berganti dan terlalu
membebani anak tanpa ada arah pengembangan yang betul-betul diimplementasikan
sesuai dengan perubahan yang diinginkan pada kurikulum tersebut.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan kurikulum selalu mengarah pada perbaikan
sistem pendidikan. Perubahan tersebut dilakukan karena dianggap belum sesuai dengan
harapan yang diinginkan sehingga perlu adanya revitalisasi kurikulum. Usaha tersebut
mesti dilakukan demi menciptakan generasi masa depan berkarakter, yang memahami jati
diri bangsanya dan menciptakan anak yang unggul, mampu bersaing di dunia
internasional.
Kurikulum sifatnya dinamis karena selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan
dan tantangan zaman. Semakin maju peradaban suatu bangsa, maka semakin berat pula
tantangan yang dihadapinya. Persaingan ilmu pengetahuan semakin gencar dilakukan
oleh dunia internasional, sehingga Indonesia juga dituntut untuk dapat bersaing secara
global demi mengangkat martabat bangsa. Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan
yang akan menimpa dunia pendidikan kita, ketegasan kurikulum dan implementasinya
sangat dibutuhkan untuk membenahi kinerja pendidikan yang jauh tertinggal dengan
negara-negara maju di dunia.
Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat
mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi
penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi
tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang jaman.
Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu
unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses
berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Pengembangan dan pelaksanaan
kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi pembangunan pendidikan
nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
1

tentang Sistem Pendidikan Nasional. Berdasarkan Peraturan Mentri Pendidikan dan


Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Pasal 1 Ayat 1 menyatakan bahwa Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) Pendidikan Dasar dan Menengah digunakan sebagai acuan
utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar
pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan
standar pembiayaan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apakah pengertian kurikulum?
2. Bagaimana hierarki tujuan kurikulum?
3. Apakah fungsi kurikulum?
4. Apa saja komponen-komponen penyusun kurikulum?
5. Apakah manfaat kurikulum bagi sistem pendidikan nasional?
6. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penyusunan makalah adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian kurikulum.
2. Mengetahui hierarki tujuan kurikulum.
3. Mengetahui fungsi kurikulum.
4. Mengetahui komponen-komponen kurikulum.
5. Mengetahui manfaat kurikulum bagi sistem pendidikan nasional.
6. Mengetahui yang dimaksud dengan pembelajaran.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Bagi penulis
a. Menambah pengetahuan mengenai kurikulum dan pembelajaran baik mengenai
pengertian, tujuan, fungsi,

komponen-komponen kurikulum, dan keterkaitan

antara kurikulum dengan pembelajaran.


b. Sebagai bekal nanti ketika terjun di dunia pendidikan sebagai pendidik yang
paham tentang perkembangan kurikulum dan pembelajaran.
2. Bagi pembaca
a. Mengetahui lebih dalam mengenai kurikulum dan pembelajaran.
b. Membantu para calon pendidik dalam memahami kurikulum dan pembelajaran.
c. Menambah wawasan mengenai pentingnya kurikulum bagi keberlangsungan
pendidikan di Indonesia.
2

1.5 Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi literatur dan kepustakaan digital,
yaitu penulis mengkaji dan menyusun materi dari buku-buku dan internet berupa literaturliteratur yang sesuai dan mendukung pembahasan makalah.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kurikulum


Kata kurikulum berasal dari bahasa Latin curere, yang berarti lapangan perlombaan
lari. yang berarti jarak yang harus ditempuh. Kurikulum juga bisa berasal dari kata
curriculum yang berarti a running course, dan dalam Bahasa Prancis dikenal dengan
carter yang berarti to run (berlari) (BMPM, 2005:1). Dari dunia atletik istilah ini dipakai
dalam dunia pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran tertentu yang harus
ditempuh atau sejumlah pengetahuan yang harus dikuasai untuk mencapai suatu tingkat
atau ijazah (Nasution, 1986).

Secara singkat menurut Nasution kurikulum adalah suatu rencana yang disusun
untuuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan atau tanggung jawab
sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya (Nasution, 1986:5).
Secara terminologi, kurikulum berarti suatu program pendidikan yang berisikan
berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan
dirancangkan secara sistematika atas dasar norma-norma yang berlaku dan dijadikan
pedoman dalam proses pembelajaran bagi pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan
(Dakir, 2004:3). Menurut Dakir kurikulum itu memuat semua program yang dijalankan
untuk menunjang proses pembelajaran. Program yang dituangkan tidak terpancang dari
segi administrasi saja tetapi menyangkut keseluruhan yang digunakan dalam proses
pembelajaran.
Pengertian kurikulum di atas dianggap terlalu sempit karena membatasi pengalaman
anak kepada situasi belajar di dalam kelas dan tidak menghiraukan pengalamanpengalaman edukatif di luar kelas. Dengan demikian pandangan ini (yang termasuk
pandangan tradisional) memandang kurikulum tidak lebih dari sekadar rencana pelajaran
di suatu sekolah, tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Dewasa ini kurikulum
diartikan sebagai segala hal yang berhubungan dengan upaya pendidikan.
Dalam perkembangan selanjutnya kurikulum mendapat pengertian yang lebih luas,
seperti yang dikemukakan oleh para ahli berikut ini.
1. Menurut John Dewey kurikulum sesungguhnya tidak lain dari pengalaman,
pengalaman ras, dan pengalaman anak yang direkonstruksi terus-menerus menjadi
sejumlah pengetahuan atau bidang studi.
2. Menurut Franklin Bobbit kurikulum dirumuskan (a) sebagai keseluruhan pengalaman,
baik pengalaman langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan
perkembangan kesanggupan-kesanggupan individu, (b) serangkaian pengalaman
pendidikan yang dipergunakan oleh sekolah untuk menyempurnakan perkembangan
anak.
3. Menurut Caswell dan Campbell kurikulum adalah semua pengalaman yang dimiliki
anak di bawah bimbingan guru.
4. Menurut Ralph Tyler kurikulum sebagai semua pengalaman belajar yang
direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.
5. Menurut Krug kurikulum terdiri dari semua alat pengajaran yang dipakai sekolah
untuk memberi kesempatan belajar kepada siswa menuju tujuan belajar yang
dikehendaki.
6. Menurut Hilda Taba kurikulum tersusun dari unsur-unsur tertentu. Suatu kurikulum
biasanya terdiri dari pernyataan-pernyataan mengenai tujuan (umum dan spesifik),

seleksi dan organisasi bahan, strategi belajar maupun mengajar, dan suatu program
evaluasi.
7. Menurut Johnson kurikulum suatu rangkaian hasil belajar yang diinginkan.
Kurikulum mengantisipasi hasil pengajaran bukan mengantisipasi alat untuk
mencapai tujuan.
8. Menurut Robert Gagne kurikulum sebagai suatu rangkaian unit bahan yang disusun
sedemikian rupa sehingga setiap unit dipelajari secara utuh, dengan syarat kecakapan
dan kemampuan yang terdapat dalam tujuan unit sebelumnya harus dikuasai oleh
anak terlebih dahulu.
9. Menurut Harnack kurikulum meliputi semua pengalaman belajar dan mengajar yang
terpimpin dan diarahkan oleh sekolah.
10. Menurut Hass kurikulum adalah semua pengalaman individu anak dari suatu program
pendidikan yang tujuannya mencapai tujuan umum maupun tujuan yang spesifik yang
direncanakan dalam rangka teori, riset atau praktik profesional masa lalu dan sekarang
(Kaber, 1988:3-5).
Di samping pengertian-pengertian kurikulum yang dipaparkan di atas di dalam UU
Pendidikan No.2 tahun 1989 disebutkan kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat diketahui bahwa

pandangan baru tentang

kurikulum dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah program pendidikan yang


disediakan oleh sekolah untuk siswa. Melalui program yang direncanakan itu siswa
melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga mendorong perkembangan dan
pertumbuhannya sesuai dengan pendidikan yang telah ditentukan. Melalui program
kurikuler, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa untuk berkembang. Oleh karena
itu, kurikulum disusun sedemikian rupa agar memungkinkan siswa melakukan berbagai
ragam kegiatan. Kurikulum tidak terbatas hanya pada mata pelajaran-mata pelajaran saja,
tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti
bangunan sekolah, alat-alat pelajaran, perlengkapan, perpustakaan, karyawan tata usaha,
halaman sekolah, dan lain-lain (Wiryokusumo, 1988:6).
Ragam kurikulum dapat ditinjau dari beberapa segi. Secara umum Goodlad (dalam
Kaber, 1988) membedakan lima jenis kurikulum, seperti berikut ini.
1. Kurikulum Ideal, yaitu kurikulum sebagaimana diharapkan oleh ahli dan guru yang
mencerminkan pengetahuan yang diakumulasikan berzaman-zaman.
2. Kurikulum Formal, yaitu kurikulum yang direstui dan disahkan oleh pemerintah.
3. Kurikulum Bayangan, yaitu kurikulum yang ada dalam pikiran yang diinginkan
oleh orang tua dan guru.
5

4. Kurikulum Operasional, yaitu kurikulum yang dilaksanakan di dalam kelas.


5. Kurikulum Pengalaman, yaitu kurikulum yang dialami oleh anak didik.
Sedangkan Galtthorn membedakan kurikulum menjadi tujuh jenis, seperti berikut ini.
1. Kurikulum Rekomendasi, yaitu kurikulum yang direkomendasi para ahli, asosiasi
professional, komisi pembaruan pendidikan, dan juga yang berdasarkan kebijakan
pemerintah.
2. Kurikulum Tertulis, yaitu kurikulum yang sudah disetujui oleh pemerintah. Kurikulum
ini merupakan pengendali untuk menjamin tujuan pendidikan. kurikulum tertulis lebih
komprehensif dan lebih spesifik bila dibandingkan dengan kurikulum rekomendasi.
Biasanya memuat dasar-dasar pertimbangan yang mendukung kurikulum, tujuan yang
harus dicapai, sasaran yang harus dikuasai, sekuen yang harus dituruti, kegiatan
belajar yang harus dilakukan, dan bagaimana evaluasinya.
3. Kurikulum Dukungan, kurikulum ini dibentuk dari sumber-sumber yang dialokasi
untuk menunjang kurikulum. Ada beberapa macam sumber atau bentuk dukungan,
yaitu (a) alokasi waktu yang digunakan untuk mata pelajaran tertentu, (b) alokasi
waktu yang dipergunakan guru untuk aspek tertentu, (c) alokasi personel, banyaknya
guru yang diperlukan, dan (d) bahan, alat, dan buku teks yang disediakan.
4. Kurikulum yang diajarkan, yaitu kurikulum yang diajarkan guru dalam kelas yang
seharusnya didasarkan pada kurikulum yang tertulis. Namun, dalam kenyataannya
sering terjadi penyimpangan. Guru datang ke kelas dengan latar belakang
pengetahuan pribadi yang berbeda. Mereka dipengaruhi oleh situasi, teori-teori yang
mereka pelajari, kondisi sosial, dan pengalaman yang berbeda. Banyak faktor yang
mempengaruhi guru, seperti pengetahuan guru dalam mata pelajaran, persepsi guru
terhadap anak, persepsi guru terhadap kurikulum tertulis, buku teks, proses belajar
mengajar, dan sistem ujian. Demikian apa yang diajarkan guru adakalanya agak
menyimpang dari kurikulum tertulis.
5. Kurikulum yang diuji, yaitu kurikulum yang terdiri dari serangkaian bahan
pelajaran/kegiatan belajar yang dinilai melalui tes, baik yang dibuat oleh guru maupun
tes yang baku atau tes yang disusun oleh panitia wilayah. Bagaimana hubungan
kurikulum ini dengan kurikulum yang tertulis? Jawabannya dapat bermacam-macam.
Sering tes yang dibuat guru tidak sejalan dengan yang diajarkan. Guru tidak mampu
menyusun tes yang baik dan kebanyakan tes tersebut berorientasi pada kemampuan
mengerti dan mengingat. Tes yang dibuat panitia wilayah juga sering hanya mengukur
tingkat tujuan yang rendah. Begitu pula tes baku sering tidak serasi dengan apa yang
diajarkan guru.

6. Kurikulum yang dipelajari, yaitu kurikulum yang merupakan hasil belajar, seperti
perubahan nilai, persepsi dan tingkah laku yang terjadi dari pengalaman belajar.
Kurikulum ini merupakan apa yang dimengerti, dipelajari, diingat anak didik baik dari
kurikulum yang diinginkan maupun dari kurikulum yang tersembunyi.
7. Kurikulum yang tersembunyi, yaitu kurikulum yanh tidak terwujud, namun
berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku anak didik. Ada dua aspek yang perlu
diingat dalam kurikulum ini, yaitu aspek yang relatif tetap, seperti ideologi,
keyakinan, nilai bufaya masyarakat yang mempengaruhi sekolah, dan aspek yang
dapat berubah-ubah, seperti variabel organisasi meliputi bagaimana guru mengelola
kelas, bagaimana pelajaran diberikan, sedangkan variabel sistem sosial berkaitan
dengan pola hubungan sosial dalam kelas dan sekolah, bagaimana hubungan anak
didik dan guru, bagaimana hubungan kepala sekolah dengan guru dan staf tata usaha
(Kaber, 1988).
2.2 Hierarki Tujuan Kurikulum
Tujuan kurikulum dibagi menjadi empat yaitu:
1. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN)
TPN adalah tujuan umum yang sarat dengan muatan filosofis. TPN merupakan
sasaran akhir yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan artinya
setiap lembaga dan penyelenggaraan itu baik pendidikan yang diselenggarakan oleh
lembaga pendidikan formal, informal, maupun non formal tujuan pendidikan umum
biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan
hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk
undang-undang. TPN merupakan sumber dan pedoman dalam usaha penyelenggaraan
pendidikan.
Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari sistem nilai Pancasila
dirumuskan dalam undang-undang No.20 Tahun 2003 Pasal 3 yang merumuskan
bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan seperti dalam rumusan di atas merupakan rumusan tujuan yang
sangat ideal yang sulit untuk direalisasikan dan diukur keberhasilannya. Memang sulit
untuk mencari ukuran dari tujuan yang ideal. Oleh karena kesulitan itulah, maka
tujuan pendidikan yang bersifat umum perlu dirumuskan lebih khusus.
7

2. Tujuan Institusional (TI)


Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga
pendidikan. Dengan kata lain tujuan ini dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang
harus dimiliki oleh setiap siswa setelah mereka menempuh atau menyelesaikan
program di suatu lembaga tertentu. Seperti misalnya standar kompetensi lulusan
pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi.
3. Tujuan Kurikuler (TK)
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau
mata pelajaran. Tujuan kurikuler dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus
dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam
suatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler pada dasarnya merupakan tujuan untuk
mencapai tujuan lembaga pendidikan. dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus
dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan konstitusional.
4. Tujuan Pembelajaran atau Instruksional (TP)
Tujuan pembelajaran atau instruksional merupakan tujuan yang paling khusus.
Tujuan pembelajaran adalah kemampuan atau keterampilan yang diharapkan dapat
dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses merupakan syarat mutlak bagi
guru (Sanjaya, 2009).
Menurut Bloom dalam bukunya Taxonomy of Educational Objectives yang terbit
pada tahun 1965. Bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat
digolongkan ke dalam tiga klasifikasi atau tiga domain (bidang) yaitu kognitif, afektif,
dan psikomotor.
1) Domain Kognitif
Domain kognitif adalah tujuan pendidikan yang berhubungan dengan
kemampuan intelektual atau kemampuan berfikir seperti kemampuan mengingat dan
kemampuan memecahkan masalah. Adapun domain kognitif terdiri dari enam
tingkatan yaitu:
a. Pengetahuan (Knowledge)
b. Pemahaman (Comprehension)
c. Penerapan (Application)
d. Analisis (Analyses)
e. Sintesis (Synthesis)
f. Evaluasi (Evaluation)
2) Domain Afektif
Domain afektif berkenaan dengan sikap, nilai-nilai dan apresiasi. Domain ini
merupakan bidang tujuan pendidikan kelanjutan dari domain kognitif artinya
seseorang hanya akan memiliki kemampuan kognitif tingkat tinggi. Domain afektif
mempunyai lima tingkatan:
8

a.
b.
c.
d.
e.

Penerimaan (Receiving)
Menanggapi (Responding)
Menilai (Valuing)
Mengorganisasi (Organizing)
Karakterisasi nilai (Asrohah, 2010).

3) Domain Psikomotor
Domain psikomotor adalah tujuan yang berhubungan dengan kemampuan
keterampilan seseorang (Haryati, 2007). Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar
keterampilan dapat diukur melalui:
a. Pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses
pembelajaran praktik berlangsung.
b. Memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan,
dan sikap.
Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar
psikomotor mencakup:
a. Kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja
b. Kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urutan-urutan
pengerjaan
c. Kecepatan mengerjakan tugas
d. Kemampuan membaca gambar dan atau symbol
e. Keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang ditentukan.
2.3 Fungsi Kurikulum
Secara umum fungsi kurikulum itu sangat luas yang dapat dikaitkan dengan sekolah,
anak didik, dan masyarakat. Bagi sekolah fungsi kurikulum dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu (1) bagi sekolah yang bersangkutan yang berfungsi sebagai (a) alat untuk mencapai
tujuan, (b) pedoman bagi guru dalam menyusun dan mengorganisasikan pengalaman
belajar siswa, serta sebagai pedoman mengevaluasi perkembangan siswa, (c) pedoman
supervise bagi kepala sekolah yaitu untuk memperbaiki situasi belajar, serta sebagai
pedoman

dalam

pengembangan

kurikulum.

Disamping

itu

sebagai

pedoman

mengevaluasi kegiatan belajar mengajar, (2) bagi sekolah tingkat diatasnya, kurikulum
berfungsi (a) untuk keseimbangan proses pendidikan, dan (b) penyiapan tenaga baru.
Fungsi kurikulum bagi anak didik, diharapkan mereka akan mendapat sejumlah
pengetahuan dan kecakapan yang baru yang dapat dikembangkan dan melengkapi bekal
hidup mereka setelah terjun dalam masyarakat.
Sedangkan fungsi kurikulum bagi masyarakat, yaitu orangtua anak didik serta
pemakai lulusan adalah sebagai berikut. Dengan memahami kurikulum, orangtua akan
mengetahui program-program apa saja yang akan dilaksanakan oleh sekolah. Untuk
memperlancar pelaksanaan program tersebut orang tua perlu juga memikirkan sarana apa
9

saja yang diperlukan. Demi keberhasilan anak-anaknya orang tua bersedia membantu
sekolah untuk mengadakan sarana-sarana tersebut di bawah koordinasi ketua komite
sekolah (dahulu BP3), sedangkan bagi pemakai lulusan dengan memahami kurikulum
yang sedang dilaksanakan tidak segan-segannya ikut memperlancar pelaksanaan program
dan akan memberikan kritik/saran untuk menyempurnakan program pendidikan yang
sedang direncanakan/dilaksanakan.
Di samping macam-macam fungsi kurikulum yang telah disebutkan di atas, marilah
kita pahami fungsi kurikulum menurut Alexander Inglis yang dikutip oleh Iskandar
Wiryokusumo (1996:8-12) berikut ini.
1. The adjustive of adaptive function atau fungsi penyesuaian adalah penyesuaian anak
didik terhadap lingkungannya. Anak didik adalah individu yang hidup dalam
masyarakat. Oleh karena itu, anak didik harus dapat menyesuaikan diri dengan
masyarakat lingkungannya di mana dia hidup. Lingkungan masyarakat yang bersifat
dinamis yang selalu berubah menurut perkembangan zaman harus diikuti oleh
kedinamisan hidup setiap anggota masyarakat. Dengan demikian, kurikulum harus
mampu menata keadaan masyarakat agar dapat dibawa ke lingkungan sekolah untuk
dijadikan objek pelajaran para siswa.
2. The integrating function atau fungsi pemaduan adalah terciptanya kepaduan pribadi
anak didik. Anak didik merupakan anggota sosial masyarakat. Pengaruh kelompok
terhadap tingkah laku anak didik dapat bersifat positif atau negatif. Pengaruh yang
baik diperoleh anak didik melalui kerja sama yang baik, harmonis, serta ada upaya
pemecahan masalah bersama. Perasaan saling bergantung, saling menghormati,
menghargai diri sendiri, human relation akan mempengaruhi perkembangan
kepribadian anak didik. Oleh karena itu, kurikulum harus mampu menyiapkan
pengalaman belajar yang dapat mendidik pribadi yang terintegrasi karena individuindividu yang berada di sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang harus
mampu melakukan pengintegrasian sesuai dengan norma-norma masyarakatnya.
3. The differentiating function atau fungsi pembedaan, maksudnya kurikulum harus
mampu melayani perbedaan-perbedaan individu anak didik. Perbedaan-perbedaan
individu tersebut harus menjadi dasar pertimbangan dalam memberikan pelayanan.
Perbedaan individu itu mungkin disebabkan oleh latar belakang ekonomi sosial yang
berbeda di samping perbedaan potensi yang dimiliki oleh setiap anak didik. Jadi, jelas
bahwa kurikulum harus mampu melayani pengembangan-pengembangan potensi
individu yang akan hidup terjun di lingkungan masyarakat.

10

4. The prapaedetic function atau fungsi penyiapan, yaitu kurikulum harus mampu
menyiapkan anak didik untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap anak
didik pasti mempunyai cita-cita dan keinginan menjangkau pengetahuan yang lebih
tinggi. Untuk itu fungsi kurikulum dalam kaitannya dengan hal ini harus mampu
mempersiapkan anak didik agar dapat melanjutkan studi atau meraih ilmu
pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih mendalam dengan jangkauan yang luas.
5. The selective function atau fungsi pemilihan berhubungan dengan pemilihan program.
Dalam usaha memuaskan kebutuhan akan perkembangan bakat dan minat anak didik,
sekolah

harus

berupaya

menyiapkan

program

yang

mampu

mendukung,

mengembangkan bakat masing-masing anak didik.


6. The diagnostic function atau fungsi diagnostik ini berhubungan dengan pelayanan
terhadap anak didik agar dia memahami akan dirinya sendiri. Upaya untuk melakukan
pelayanan terhadap anak didik harus sampai pada tingkat mengarahkan agar mereka
mampu memahami diri mereka, mampu mengarahkan diri mereka sendiri, mampu
mengembangkan diri, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, sekolah,
keluarga, maupun masyarakat. Selain itu mampu memecahkan masalah dalam
lingkungan keluarga dan masyarakat serta menyadari akan kelemahan-kelemahan
yang dimiliki sehingga anak didik dapat memperbaiki dirinya sendiri dengan
bimbingan dan pengarahan guru (Solchan, 2011).
2.4 Komponen Kurikulum
Ada empat unsur komponen kurikulum yaitu tujuan, isi (bahan pelajaran), strategi
pelaksanaan (proses belajar mengajar), dan penilaian (evaluasi).
1. Komponen Tujuan
Kurikulum merupakan suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan
pendidikan. Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan
yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur
dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam setiap
kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkian tujuan-tujuan pendidikan yang
akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan

pada

tataran

makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan


pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan
pendidikan tertentu.
Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan
tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan
umum pendidikan berikut.
11

a. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan,


kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut.
b. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut.
c. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
d. Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan
kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran
yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.
2. Komponen Isi/Materi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik
dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum
meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing
bidang studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang
maupun jalur pendidikan yang ada. Kriteria yang dapat membantu pada perancangan
kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu antara lain:
a. Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
b. Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
c. Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
d. Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas.
e. Isi kurikulum dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
Materi kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan
disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topik-topik
pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.
b. Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran.
c. Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
3. Komponen Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang
digunakan dalam pengajaran. Tetapi pada hakikatnya strategi pengajaran tidak hanya
terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tergambar dari cara yang
ditempuh dalam melaksanakan pengajaan, mengadakan penilaian, pelaksanaan
bimbingan dan mengatur kegiatan, baik yang secara umum berlaku maupun yang
bersifat khusus dalam pengajaran.
Strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu
dilaksanakan di sekolah. Kurikulum merupakan rencana, ide, harapan, yang harus
12

diwujudkan secara nyata di sekolah, sehingga mampu mampu mengantarkan anak


didik mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum yang baik tidak akan mencapai hasil
yang maksimal, jika pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak didik.
Komponen strategi pelaksanaan kurikulum meliputi pengajaran, penilaian, bimbingan
dan penyuluhan, dan pengaturan kegiatan sekolah.
4. Komponen Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas,
evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan
pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan
dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa
kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja
yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi,
efisiensi, dan kelaikan (feasibility) program.
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi
kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum.
Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem
kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut.
Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan
dengan proses dan hasil belajar siswa.
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan
pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum
itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang
kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan
menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model
kurikulum yang digunakan.
Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala
sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu
perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat
bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Evaluasi merupakan suatu komponen kurikulum, karena dengan evaluasi dapat
diperoleh informasi akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan
belajar siswa. Berdasarkan informasi tersebut dapat dibuat keputusan tentang
kurikulum itu sendiri, pembelajaran kesulitan dan upaya bimbingan yang perlu di
lakukan (Wahyudin, 2011).
2.5 Manfaat Kurikulum
13

Manfaat kurikulum dibagi menjadi lima yaitu:


1. Manfaat kurikulum bagi guru
a. Kurikulum sebagai pedoman bagi guru dalam merancang, melaksanakan, dan
b.
c.
d.
e.

menilai kegiatan pembelajaran.


Membantu guru untuk memperbaiki situasi belajar.
Membantu guru menunjang situasi belajar kea rah yang lebih baik.
Membantu guru dalam mengadakan evaluasi kemajuan kegiatan belajar mengajar.
Memberikan pengertian dan pemahaman yang baik bagi guru untuk menjalankan

tugas sebagai pengajar yang baik di kelas.


f. Mendorong guru untuk lebih kreatif dalam penyelenggaraan program pendidikan.
2. Manfaat kurikulum bagi sekolah
a. Kurikulum dijadikan sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, baik
itu dalam tujuan nasional, institusional, kurikuler, maupun dalam tujuan
instruksional. Dengan adanya suatu kurikulum maka tujuan-tujuan pendidikan
yang diinginkan oleh sekolah tertentu dapat dicapai.
b. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan.
c. Memberi peluang kepada sekolah-sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang
sesuai dengan kebutuhan (kurikulum 2013).
3. Manfaat kurikulum bagi masyarakat
a. Sebagai acuan untuk berpartisipasi dalam membimbing putra/putrinya di sekolah
(dalam hal ini orang tua menjadi bagian dalam masyarakat).
b. Dengan mengetahui suatu kurikulum sekolah, masyarakat dapat berpartisipasi
dalam rangka memperlancar program pendidikan, serta dapat memberikan kritik
dan saran yang membangun dalam penyempurnaan program pendidikan di
sekolah.
4. Manfaat kurikulum bagi orang tua
a. Sebagai bentuk adanya partisipasi orang tua dalam membantu usaha sekolah
dalam memajukan putra-putrinya. Bantuan yang dimaksud dapat berupa
konsultasi langsung dengan sekolah/guru mengenai masalah yang menyangkut
anak-anak mereka.
b. Orang tua dapat mengetahui pengalaman belajar yang diperlukan anak-anak
mereka sehingga partisipasi orang tua ini pun tidak kalah pentingnya dalam
menyukseskan proses belajar mengajar di sekolah.
5. Manfaat kurikulum bagi siswa itu sendiri
a. Keberadaan kurikulum sebagai organisasi belajar tersusun merupakan suatu
persiapan bagi anak didik. Anak didik diharapkan mendapatkan sejumlah
pengalaman baru yang dikemudian hari dapat dikembangkan seirama dengan
perkembangan anak agar dapat memenuhi bekal hidupnya nanti.
2.6 Pengertian Pembelajaran

14

Istilah pembelajaran merupakan perkembangan dari istilah pengajaran. Pembelajaran


adalah upaya yang dilakukan oleh seorang guru atau yang lain untuk membelajarkan
siswa yang belajar (Hasanah, 2012).
Secara garis besar, terdapat empat pola pembelajaran. Pertama, pola pembelajaran
guru dengan siswa tanpa menggunakan alat bantu. Kedua, pola guru, alat bantu, dan
siswa. Ketiga, guru, media, dengan siswa. Keempat, pola media dengan siswa atau pola
pembelajaran jarak jauh menggunakan media atau bahan pembelajaran yang disiapkan.
Berdasarkan pola-pola belajar di atas, maka pembelajaran bukan hanya sekadar
mengajar dengan pola satu, akan tetapi lebih dari itu. Seorang guru harus mampu
menciptakan pola pembelajaran yang bervariasi. Makna pembelajaran ditunjukan oleh
beberapa ciri sebagai berikut:
a. Pembelajaran adalah proses berpikir
Belajar menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan
melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Asumsi yang mendasari
pembelajaran berpikir adalah bahwa pengetahuan itu tidak datang dari luar, akan
tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognitif yang dimilikinya. La
Costa (1985) mengklasifikasikan mengajar berpikir menjadi tiga yakni, teaching of
thinking, adalah

proses

pembelajaran

yang

diarahkan untuk pembentukan

keterampilan berpikir kritis , berpikir kreatif, dan sebgainya. Teaching for thinking,
proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang
dapat mendorong terhadap pengembangan kognitif. Teaching about thinking,
pembelajaran yang diarahkan untuk membantu siswa lebih sadar terhadap proses
berpikirnya (metodologinya).
b. Proses pembelajaran adalah proses pemanfaatan otak
Otak manusia terdiri dari dua bagian otak kiri dan otak kanan. Proses berpikir
otak kiri bersifat logis, skuensial, linier, dan rasional sedangkan ota kanan bersifat
noverbal, kesadaran spasial, pengenalan, bentuk, seni, kerativitas, dan visualisasi.
Keduabelahan otak tersebut pellu dikembangkan secara seimbang dan optimal.
c. Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat
Belajar adalah proses yang terus menerus, yang tidak pernah berhenti dan
tidak terbatas pada dniding kelas. Prinsip belajar sepanjang hayat sejalan dengan
empat pilar pendidikan universal:
1) Learnig to know atau Learning to learn, belajar itu pada dasarnya tidak dapat
berorientasi pada produk atau hasil, akan tetapi juga berorientasi pada pada proses
belajar. Dalam proses belajar siswa bukan hanya sadar akan apa yang harus
dipelajari akan tetapi juga memilki kesadaran dan kemampuan bagaiman cara
mempelajari yang harus dipelajari.
15

2) Learning to do, belajar itu bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan
tujuan akumulasi pengetahuan akan tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan
akhir penguasaan kompetensi.
3) Learning to be, belajar adalah membentuk manusia yang menjadi dirinya sendiri
dengan kata lain belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu
yang memilki tanggung jawab sebagai manusia.
4) Learning to live together adalah belajar untuk bekerja sama. Dalam kontek ini
termasuk juga pembentukan masyarakat demokratis yang memahami dan
menyadari akan adanya setiap perbedaan pandangan antara individu.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Simpulan yang diperoleh dari pembahasan mengenai kurikulum dan pembelajaran ini
adalah:
1. Kurikulum berarti suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan

pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara


sistematika atas dasar norma-norma yang berlaku dan dijadikan pedoman dalam
proses pembelajaran bagi pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan (Dakir,
2004:3).
2. Kurikulum mempunyai komponen-komponen yang mempunyai tujuan utama atau

tujuan dari kurikulum tersebut. Karena komponen-komponen tersebut saling berkaitan


dan menunjang untuk mencapai tujuan dari kurikulum maka disebutlah kurikulum
sebagai suatu sistem.
3. Kurikulum mempunyai tujuan yang dibagi menjadi empat yaitu Tujuan Pendidikan

Nasional (TPN), Tujuan Institusional (TI), Tujuan Kurikuler (TK), Tujuan


Pembelajaran atau Instruksional (TP).

Menurut Bloom (1965) tujuan kurikulum

digolongkan ke dalam tiga domain (bidang) yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.

16

4. Fungsi kurikulum menurut Alexander Inglis diantaranya fungsi penyesuaian, fungsi

pemaduan, fungsi pembedaan, fungsi penyiapan, fungsi pemilihan, dan fungsi


diagnostic.
6. Manfaat bagi guru, kurikulum bermanfaat sebagai pedoman dalam merancang,
melaksanakan, dan menilai kegiatan pembelajaran. Bagi sekolah, kurikulum dijadikan
sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Bagi masyarakat, dapat
memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penyempurnaan program
pendidikan di sekolah. Bagi orang tua, kurikulum sebagai bentuk adanya partisipasi
orang tua dalam membantu usaha sekolah dalam memajukan putra-putrinya. Bagi
siswa, siswa diharapkan mendapatkan sejumlah pengalaman baru yang dikemudian
hari dapat dikembangkan seirama dengan perkembangan anak agar dapat memenuhi
bekal hidupnya nanti.
5. Pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh seorang guru atau yang lain untuk

membelajarkan siswa yang belajar (Hasanah, 2012).


3.2 Saran
1. Kebutuhan pendidikan kini semakin kompleks, begitu pula dengan kebutuhan kurikulum yang
ada juga semakin berkembang, maka disarankan agar tiap sekolah atau lembaga pendidikan
menerapkan suatu sistem kurikulum yang sesuai dengan keadaan lingkungan sekolahnya,
karena sesuai dengan ketetapan pemerintah kurikulum yang digunakan saat ini adalah
kurikulum 2013.
2. Sudah selayaknya pihak pengembang kurikulum mengembangkan kurikulum sesuai dengan
potensi negaranya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan
dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di
masyakarakat.
3. Oleh karena kurikulum 2013 ini masih tergolong baru, diharapkan para guru dan calon guru
dapat memahami konteks isi, tujuan, manfaat, dan pedoman kurikulum 2013 melalui berbagai
pelatihan-pelatihan tentang kurikulum 2013 guna tercapainya tujuan pendidikan nasional.

17

DAFTAR PUSTAKA
http://www.slideshare.net/sriwidayati79/kurikulum-dan-pembelajaran-17218231
http://www.slideshare.net/dewikurnia9085/kurikulum-pembelajaran-ppt
https://iliskhoeriyah.wordpress.com/artikel-umum/perencanaan-pembelajaran-dengan-pengembangankurikulum/
https://nalida24.wordpress.com/2011/06/09/kurikulum-dan-pembelajaran/
http://whendikz.blogspot.com/2013/09/definisi-pendidikan-kurikulum-dan_22.html
https://www.scribd.com/doc/241574012/isi-makalah-kurikulum-dan-pembelajaran
http://ceritabersama-tati.blogspot.com/

18

LAMPIRAN:
Masalah-masalah Kurikulum dan Pembelajaran
Begitu banyak masalah-masalah kurikulum dan pembelajaran yang dialami Indonesia. Masalahmasalah ini turut andil dalam dampaknya terhadap pembelajaran dan pendidikan Indonesia.
Berikut ini adalah beberapa masalah kurikulum (menurut sudut pandang penulis) :
1. Kurikulum Indonesia Terlalu Kompleks
Jika dibandingkan dengan kurikulum di negara maju, kurikulum yang dijalankan di Indonesia
terlalu kompleks. Hal ini akan berakibat bagi guru dan siswa. Siswa akan terbebani dengan
segudang materi yang harus dikuasainya. Ssiswa harus berusaha keras untuk memahami dan
mengejar materi yang sudah ditargetkan. Hal ini akan mengakibatkan siswa tidak akan memahami
seluruh materi yang diajarkan. Siswa akan lebih memilih untuk mempelajari materi dan hanya
memahami sepintas tentang materi tersebut. Dampaknya, pengetahuan siswa akan sangat terbatas
dan siswa kurang mengeluarkan potensinya, daya saing siswa akan berkurang.
Selain berdampak pada siswa, guru juga akan mendapat dampaknya. Tugas guru akan
semakin menumpuk dan kurang maksimal dalam memberikan pengajaran. Guru akan terbebani
dengan pencapaian target materi yang terlalu banyak, sekalipun masih banyak siswa yang
mengalami kesulitan, guru harus tetap melanjutkan materi. Hal ini tidak sesuai dengan peran guru.
2. Seringnya Berganti Nama
Kurikulum di Indonesia sering sekali mengalami perubahan. Namun, perubahan tersebut
hanyalah sebatas perubahan nama semata. Tanpa mengubah konsep kurikulum, tentulah tidak
akan ada dampak positif dari perubahan kurikulum Indonesia. Bahkan, pengubahan nama
kurikulum mampu dijasikan sebagai lahan bisnis oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung
jawab.
Pengubahan nama kurikulum tentulah memerlukan dana yang cukup banyak. Apabila diluhat
dari sudut pandang ekonomi, alangkah baiknya jika dana tersebut digunakan untuk bantuan
pendidikan yang lebih berpotensi untuk kemajuan pendidikan.
19

3. Kurang Lengkapnya Sarana dan Prasarana


Berjalannya suatu kurikulum akan sangat bergantung pada sarana dan prasarana pendidikan
yang dimiliki. Sementara, apabila kita terjun langsung ke tempat, maka akan kita dapati masih
banyaknya sekolah yang masih belum memiliki sarana yang lengkap.
Sarana prasarana tersebut seperti laboratorium, perpustakaan, komputer, dan lain-lain.
Mungkin sekolah-sekolah di perkotaan sudah banyak yang memiliki sarana dan prasarana
tersebut. Namun bagaimana dengan sekolah yang ada di pedesaan dan daerah-daerah terpencil?
Masih jarang sekali kita temui sekolah di daerah terpencil yang memiliki sarana seadanya.
4. Kurangnya Pemerataan Pendidikan
Meninjau mengenai sarana dan prasarana, hal ini berkatan dengan kurangnya pemerataan
yang dilakukan Mendiknas. Selain itu, pemerataan pendidikan juga ditinjau dari segi Satuan
Tingkat Perdidikannya. Hal ini berkaitan dengan materi yang diajarkan di sekolah pada Tingkat
Satuan Pendidikan tertentu.
Pada tingkat Sekoalh Dasar, siswa diajarkan seluruh konsep dasar seperti membaca, menulis,
menghitung dan menggambar. Pada tingkat ini siswa cenderung hanya diajarkan saja, tida
mengena pada pemaknaanya. Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah
Atas, pelajaran yang diajukan cenderung hanya berkonsep pada tujuan agar anak mampu
mengerjakan soal bukan konsep agar siswa mampu memahami soal.
5. Kurangnya Partisipasi Siswa
Siswa kurang mampu mengeluarkan potensi dan bakatnya. Hal ini karena siswa cenderung
pada ketakutan akan guru karena pengenalan selintas materi tanpa berusaka mengembangkan
materi (pasif). Siswa hanya terpaku pada materi yang diajarkan oleh guru tanpa adanya rasa ingin
berusaha untuk mengembangkan potensinya.

20

Solusi
Dari masalah-masalah yang telah diuraikan sebelumnya, tentu akan ada solusi yang mampu untuk
memecahkannya.
Berikut ini adalah beberapa solusi yang dapat dilakukan :
1. Mengubah paradigma dari pengajaran yang berbasis sistetik-materialistik menjadi religius.
Solusi ini menunjukan akan berkurangnya kemerosotan moral. Dimana tidak akan ada lagi
siswa cirdas yang tidak bermoral.
2. Mengubah konsep awal paradigma kurikulum menjadi alur yang benar untuk mencapai suatu
tujuan yang sebenarnya.
3. Melakukan pemerataan pendidikan melalui pemerataan sarana dan prasarana ke sekolah terpencil,
sehingga tidak akan ada lagi siswa di daerah terpencil yang terbelakang pendidikan.
4. Melakukan pengajaran bermakna, dimana guru tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga
memberikan pemaknaan mengenai materi tersebut. Hal ini juga harus berkaitan dengan
kemampuan siswa.
5. Memberikan motivasi kepada siswa yang berprestasi agar mampu mengembangkan bakat dan
potensi yang dimilikinya.
6. Menjalankan kurikulum dengan sebaik mungkin.
7. Membersihkan organ-organ kurikulum darin oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Kesimpulan
Indonesia mengalami kemerosotan di bidang pendidikan. Jika dibandingkan dengan negara
lain, Indonesia menduduki peringkat di bawah negara-negara di Asia. Hal ini sangat berkatan dengan
masalah-masalah kurikulum yang dihadapi Indonesia. Masalah kurikulum di Indonesia dapat
diselesaikan tidak cukup dengan mengganti namanya saja, melainkan harus melakukan perombakan
secara menyeluruh dari kurikulum.
Masalah kurikulum juga terletak dari sarana dan prasarana yang kurang merata. Selain itu,
kurikulum Indonesia yang terlalu kompleks dan membebani siswa beserta guru yang berkaitan
menjadikan kurang maksimalnya pembelajaran.

Dikutip dari http://ceritabersama-tati.blogspot.com/

21