Anda di halaman 1dari 14

PAKET PENYULUHAN

MANAJEMEN NYERI INTRADIALISIS

OLEH :
MAHASISWA K3LN PSIK UNIV. BRAWIJAYA MALANG
MAHASISWA D3 UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI
MAHASISWA AKPER BONDOWOSO

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM (PKRS)


RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
2015

LEMBAR PENGESAHAN
SATUAN ACARA PENYULUHAN
MANAJEMEN NYERI INTRADIALISIS

Hari : Jumat
Tanggal : 17 April 2015

Mengetahui,
Pembimbing Klinik

Pembimbing Insttitusi

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Pokok Bahasan : Manajemen Nyeri Intradialisa
Sasaran

: Keluarga pasien di Ruang Hemodialisa

Tempat : Ruang Tunggu Hemodialisa RSU. Dr. Saiful Anwar Malang


Hari/Tanggal

: Jumat, 17 April 2015

Waktu

: 10.00-10.30 WIB

A LATAR BELAKANG
Berdasarkan data penyakit gagal ginjal kronik ( Chronic Kidney
Disease / CKD ) yang menjalani hemodialisa mengalami peningkatan dari
tahun ketahun. Penyakit gagal ginjal kronik utamanya diderita oleh pasien
pasien usia remaja sampai usia lanjut. Pasien pasien yang menjalani
hemodialisa itu, tidak cukup dilakukan sekali saja, ada yang menjalani
hemodialisa secara regular / rutin tiap minggu. Bahkan, ada pula yang
menjalani hemodialisa sampai dua kali dalam tiap minggunya. Hal ini tentu
saja akan menimbulkan berbagai dampak dan komplikasi yang dialami oleh
pasien pasien tersebut.
Pasien pasien yang menjalani hemodialisa tentu saja memiliki rasa
cemas dan khawatir mengenai tindakan itu. Oleh karena itu, selama
menjalani proses hemodialisa ada hal hal yang perlu diketahui oleh setiap
pasien dan keluarga, misalnya bagaimana mengatasi rasa nyeri yang muncul
akibat tindakan invasif pada proses hemodialisa. Sehingga keluarga juga
dapat memberikan dukungan pada pasien yang menjalani hemodialisa,
khususnya dalam manajemen nyeri yang dialami pasien.
B TUJUAN
Tujuan Instruksional
Setelah dilakukan penyuluhan selama 1 x 30 menit sasaran dapat
mengerti dan memahami tentang Manajemen Nyeri Intradialisa.

Tujuan Intruksional Khusus


1. Setelah diberikan penyuluhan pasien dan keluarga Ruang HD dapat
menyebutkan pengertian nyeri
2. Setelah diberikan penyuluhan pasien dan keluarga Ruang HD dapat
menyebutkan skala nyeri
3. Setelah diberikan penyuluhan pasien dan keluarga Ruang HD dapat
menjelaskan fisiologi nyeri
4. Setelah diberikan penyuluhan pasien dan keluarga Ruang HD dapat
menyebutkan tipe nyeri
5. Setelah diberikan penyuluhan pasien dan keluarga Ruang HD dapat
menjelaskan teori pengontrolan nyeri
6. Setelah diberikan penyuluhan pasien dan keluarga Ruang HD dapat
menjelaskan manajemen nyeri
C. MATERI TERLAMPIR
1. Pengertian Nyeri
2. Skala Nyeri
3. Fisiologi Nyeri
4. Tipe Nyeri
5. Teori Pengontrolan Nyeri
6. Manajemen Nyeri
D. METODE
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
E. MEDIA
LCD dan Leaflet

F RENCANA KEGIATAN

Tahap
Kegiatan
Pendahuluan

Pelaksanaan
a. Penyajian

Waktu

Kegiatan Perawat

5 menit 1. Memberi salam


2. Meperkenalkan
diri
3. Menjelaskan
tujuan umum dan
tujuan khusus
dari penyuluhan
4. Melakukan
kontrak waktu
5. Menyebutkan
materi
penyuluhan yang
akan diberikan
6. Mengenali
pengetahuan awal
audiens
20
- Menjelaskan
1.
2.
menit kepada audiens
3.
tentang :

Kegiatan Klien

Metode

Mendengarkan

Ceramah

dan menjawab
salam

Mendengarkan
Memperhatikan
Memahami

Ceramah

1. Pengertian Nyeri
2. Skala Nyeri
3. Fisiologi Nyeri
4. Tipe Nyeri
5. Teori Pengontrolan
Nyeri
6. Manajemen Nyeri

b.Diskusi

Menanyakan
materi yang
belum jelas

Membuka sesi tanya

Menanyakan
materi yang
belum jelas dan
menjawab
Meminta Menjawab
pertanyaan yang
pertanyaan
yang diberikan
pemateri
diajukan pemateri
a. Menyampaikan
Menjawab salam
5 menit
kesimpulan
b. Menutup
jawab

c.Evaluasi

Penutup

Pertemuan

Media

Ceramah

LCD

G. METODE EVALUASI
1 Evaluasi Struktur
- Kesiapan Materi
- Kesiapan SAP
- Kesiapan Media : LCD, leaflet
- Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Tunggu R.
-

Hemodialisa RSSA Malang


Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan
sebelumnya

Evaluasi Proses
- Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan
- Jumlah peserta yang hadir dalam penyuluhan minimal 10 orang
- Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
- Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara
-

benar
Suasana penyuluhan tertib
Peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan minimal 20%
Penyaji melakukan komunikasi 2 arah.

Evaluasi Hasil
Klien antusias dalam kegiatan penyuluhan dan dapat memberikan
timbal balik dalam :
- Menjelaskan Pengertian Nyeri
- Menjelaskan Skala Nyeri
- Menjelaskan Fisiologi Nyeri
- Menjelaskan Teori Pengontrolan Nyeri
- Menjelaskan Manajemen Nyeri

H. DAFTAR PUSTAKA
Team KDKK I. 2012. Ketrampilan Dasar Dalam Keperawatan I.

Yogyakarta: Stikes A Yani.


Potter, Patricia A dan Anne Griffin Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: Konsep, Proses Dan Praktek. Jakarta:EGC
3

Departemen Kesehatan. 2012. Pedoman Pelatihan. Jakarta.

MATERI PENYULUHAN
MANAJEMEN NYERI INTRADIALISIS

A. PENGERTIAN NYERI
Menurut International Association for Study of Plain (IASP), nyeri
adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang
didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Respon nyeri sangat subyektif tergantung dari ambang nyeri dari
setiap klien, koping klien, pengalaman nyeri, ansietas, budaya dari klien serta
dipengaruhi oleh gender dan usia. Oleh karena itu, untuk mengkaji nyeri,
perawat dapat melakukan observasi respon dan perubahan perilaku klien
diantarany ada lima kelompok umum respon klien terhadap nyeri.
1. Motor responses (twisting, wriggling, movement of body or its parts,
walking, jumping, clencing teeth).
2. Vocal responses (moaning, groaning, crying, screaming).
3. Verbal responses (complaining, cursing, talking about plain, asking for
help).
4. Social responses (withdrawl from people, changes in communication
patterns, changes in social manners or personal appearance)
5. The absence of manifest behavior (hiding of plain or suppressing external
sign of pain).
Respon seseorang terhadap nyeri bisa kombinasi antara beberapa respon
diatas.

B. SKALA NYERI
0
1
2
3
4
5
6
79
10
Keterangan :

SKALA NYERI
Tidak nyeri
Seperti gatal, tersetrum / nyut-nyut
Seperti melilit atau terpukul
Seperti perih
Seperti keram
Seperti tertekan atau tergesek
Seperti terbakar atau ditusuk-tusuk
Sangat nyeri tetapi dapat dikontrol oleh klien dengan
aktivitas yang biasa dilakukan.
Sangat nyeri dan tidak dapat dikontrol oleh klien.
1 3 (Nyeri ringan)
46

(Nyeri sedang)

79

(Nyeri berat)

10

(Sangat nyeri)

C. FISIOLOGI NYERI
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima
rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah
ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat
yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor,
secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada
juga yang tidak bermielien dari syaraf perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam
beberapa bagian tubuh yaitu pada kulit (kutaneus), somatik dalam (deep
somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah,
nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
1. Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal
dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan.
Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu : a)

Reseptor A delta yang merupakan serabut komponen cepat (kecepatan


tranmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang
akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan. b) Serabut C yang
merupakan serabut komponen lambat (kecepatan 0,5 m/det) yang terdapat
pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit
dilokalisasi.
2. Struktur reseptor nyeri somantik dalam meliputi reseptor nyeri yang
terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan
penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang
timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi.
3. Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi
organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya.
Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap
pemotongan organ, tetap sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia,
inflamasi.
D. TIPE NYERI
Beberapa tipe nyeri antara lain :
1. Somatic pain
2.

Neurophatic pain

3.

Surgery Pain

4.

Chemotherapeutik drugs

5. After rediation theraphy


E. TEORI PENGONTROLAN NYERI
Terdapat beberapa teori yang berusaha menggambarkan bagaimana
nosireseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal

berbagai teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul,


namun teori gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007).
Teori gate control dari Melzack dan Wall, mengusulkan bahwa impuls
nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang
sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat
sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan
tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori
menghilangkan nyeri.
Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol
desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C
melepaskan substansi C melepaskan substansi P untuk mentranmisi impuls
melalui mekanisme pertahanan. Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron
beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat melepaskan neurotransmiter
penghambat. Apabila masukan masukan yang dominan berasal dari serabut
beta-A, maka akan menutup mekanisme pertahanan.
Diyakini mekanisme penutupan ini dapat terlihat saat seorang perawat
menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan
menstimulasi mekanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal dari
serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan
klien mempersepsian sensasi nyeri. Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke
otak, terdapat pusat kortek yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri.
Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin,
suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh.
Neuromedulator

ini

menutup

mekanisme

pertahanan

dengan

menghambat pelepasan substansi P. Tehnik distraksi, konseling dan pemberian


plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endofrin (Potter, 2005).
F. MANAJEMEN NYERI
Dalam manajemen nyeri, terdapat empat teknik yang bisa digunakan, antara
lain :
-

Stimulus kutaneus

Merupakan teknik reduksi nyeri dengan melakukan stimulasi pada


kulit untuk menghilangkan nyeri. Beberapa teknik untuk stimulasi kulit
antara lain :
Kompres dingin
Analgetic ointments
Counteriritan, seperti plester hangat
Contralateral stimulation, yaitu massage kulit pada area yang berlawanan
dengan area nyeri

Distraksi
Merupakan teknik reduksi nyeri dengan mengalihkan perhatian
kepada hal lain sehingga kesadaran terhadap nyerinya berkurang. Teknik
distraksi dapat dilakukan diantaranya dengan cara :
Nafas dalam lambat dan berirama
Massage and slow, rhythmic breating
Rhythmic singing and tapping
Active listening
Guided imagery (kekuatan imajinasi klien bisa dengan mendengarkan

musik yang lembut)

Anticipatory Guidance
Merupakan teknik reduksi yang dilakukan oleh perawat dengan cara
memberikan informasi yang dapat mencegah terjadinya misinterpretasi dari

kejadian yang dapat menimbulkan nyeri dan membantu pemahaman apa


yang diharapkan. Informasi yang diberikan kepada klien diantaranya :
Penyebab nyeri
Proses terjadinya nyeri
Lama dan kualitas nyeri
Berat-ringannya nyeri
Lokasi nyeri
Informasi tentang keamanan yang akan diberikan kepada klien

Metode yang digunakan perawat pada klien untuk mengurangi


nyeri

Hal-hal yang diharapkan klien selama prosedur

Relaksasi
Teknik relaksasi terutama efektif untuk nyeri kronik dan
memberikan beberapa keuntungan, antara lain :

Relaksasi akan menurunkan ansietas yang berhubungan dengan


nyeri atau stres.

Menurunkan nyeri
Menolong individu untuk melupakan nyeri
Meningkatkan periode istirahat dan tidur
Meningkatkan keefektifan terapi nyeri lain

Menurunkan perasaan tak berdaya dan depresi yang timbul akibat


nyeri

Beberapa teknik relaksasi antara lain sebagai berikut :


Klien menarik nafas dalam dan menahannya di dalam paru

Secara perlahan-lahan keluarkan udara dan rasakan tubuh menjadi


kendor dan rasakan betapa nyaman hal tersebut

Klien bernafas dengan irama normal dalam beberapa waktu

Klien mengambil nafas dalam kembali dan keluarkan secara


perlahan - lahan, pada saat ini biarkan telapak kaki relaks. Perawat
minta kepada klien untuk mengkonsentrasikan pikiran pada
kakinya yang terasa ringan dan hangat.

Ulangi langkah diatas dan konsentrasikan pikiran pada lengan,


perut, punggung dan kelompok otot-otot yang lain.

Setelah klien merasa relaks, klien dianjurkan bernafas secara


perlahan. Bila nyeri menjadi hebat klien dapat bernafas secara
dangkal dan cepat.

Langkah-Langkah Dalam Mencuci Tangan


1. Pertama pastikan semua perhiasan dan jam tangan sudah terlepas, basuh
tangan dengan air mengalir, tuangkan sabun atau antiseptik ketelapak
tangan, lalu gosok dengan cara memutar ke arah ibu jari) agar berbusa.
2. Gosok punggung tangan kiri dan sela-sela tangan kiri dengan tangan kanan
dan lakukan sebaliknya.
3. Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari

4. Letakkan punggung jari pada telapak satunya dengan jari sering mengunci
5. Jempol kanan digosok memutar oleh telapak kiri dan sebaliknya
6. Jari kiri menguncup, gosok memutar ke kanan dan ke kiri pada telapak
kanan dan sebaliknya
*Saat membilas dengan air, ulangi langkah 1-6.
(Departemen Kesehatan, 2012).