Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

CERVICAL ROOT SYNDROME

BAB I
PENDAHULUAN
Perasaan nyeri di daerah servikal merupakan salah satu keluhan yang menyebabkan
seseorang datang berobat ke dokter atau tempat pelayanan kesehatan. Rasa nyeri ini dapat
bersifat subyektif tergantung nilai ambang nyeri seseorang sehingga menyulikan dokter untuk
membuat suatu batasan, namun demikian karakteristik nyeri seringkali membantu dalam hal
mencari penyebab nyeri. Pada daerah spinal salah satu keluhan nyeri musculo-skletal berupa
nyeri pada daerah leher (Cervical Root Syndrome). Nyeri spinal timbul akibat berbagai keadaan
yang mengenai tulang belakang serta berbagai jaringan di sekitarnya yang berkaitan langsung
atau bahkan nyeri pada daerah spinal merupakan nyeri alih dari tempat lain atau organ lain yang
jauh dari vertebra. Nyeri spinal bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya : Proses degenerasi,
infeksi, trauma, tumor dan kelainan sistemik.
Keluhan nyeri ini disebabkan oleh adanya iritasi dari radiks syaraf dalam foramen
intervertebral, spondilosis yang umumnya berkaitan dengan proses degeneratif. Awalnya keluhan
ini didahului dengan perasaan kaku pada leher. Sekitar 34% penduduk dunia pernah mengalami
keluhan ini, bahkan 14% diantaranya telah mengalaminya lebih dari 6 bulan. Keluhan nyeri atau
kelainan ini mulai dialami pasien yang berusia 25-29 tahun (25-30%) dan meningkat seiring
dengan pertambahan usia, bahkan mencapai 50% pada usia 45 tahun keatas.
Dua gejala utama dari keluhan nyeri daerah servikal ini adalah :
1. Nyeri servikal tanpa disertai nyeri radikuler dan defisit neurologis.
2. Nyeri servikal yang diikuti dengan nyeri radikuler dan defisit neurologis.
Beberapa gejala lain yang perlu diperhatikan adalah keluhan pseudo angina pectoris,
pandangan kabur, tinnitus, disfagia, dyspnea, palpitasi serta nausea. Hal ini tergantung tulang
belakang yang mengalami kelainan.
Dibawah ini akan dibahas nyeri pada daerah cervical atau yang lebih dikenal dengan sebutan
Cervical Root Syndrome yang merupakan bagian dari nyeri spinal yang banyak ditemukan di
masyarakat

BAB II
DEFINISI
Cervical Root Syndrome adalah sindroma atau kumpulan gejala dari berbagai keadaan
yang diakibatkan kompresi atau penekanan pada akar saraf cervical yang mengenai saraf
tersebut, ditandai dengan keluhan nyeri daerah telapak tangan berupa paraestesi, nyeri, rasa atau
sensasi seperti disiram air dingin dan juga kaku.
Salah satu contoh penyakitnya adalah syndrome radikulopati. Radikulopati berarti radiks
posterior dan anterior yang dilanda proses patologik. Gangguan itu dapat setempat atau
menyeluruh.
Dalam mempelajari tentang Cervical Root Syndrome, ada beberapa istilah yang perlu
diketahui sebagai berikut :
1. Anasthesia : hilang perasaan ketika dirangsang ; hipestesia
2. Hiperesthesia : perasaan terasa berlebihan jika dirangsang (kebalikan anasthesia)
3. Parasthesia : perasaan yang timbul secara spontan, tanpa dirangsang ; disebut juga
dengan istilah Kesemutan.
4. a. Gangguan sensori negative : perasaan abnormal tubuh yang dinamakan anesthesia dan
parasthesia.
b. Gangguan sensori positive : hasil perangsangan pada nosiceptor serta unsur-unsur saraf
yang menghantarkan impuls nyeri ke kortex cerebri.
5. Ataksia : gangguan lintasan proprioseptif.
6. Hipesthesia radikular : hipesthesia dermatomal.

BAB III
EPIDEMIOLOGI
Insidens nyeri servikal tidak sebanyak keluhan nyeri pinggang bawah, namun
penelusuran terhadap nyeri tersebut seringkali menyulitkan para klinisi. Pada umumnya keluhan
ini mulai menyerang pasien yang berusia antara 25-29 tahun (sekitar 25-30%). Prevalensi
kejadian tersebut meningkat seiring dengan bertambahnya usia, bahkan bisa meningkat sampai
50% pada mereka yang berusia diatas 45 tahun. Wanita lebih banyak mengalami keluhan ini
dibanding pria.
Suatu studi yang dikerjakan pada tahun 1979-1983 di Yogyakarta, dilaporkan bahwa
prevalence rate keluhan ini per 1000 penduduk pada kelompok umur 15-24 tahun adalah sekitar
9,76%, usia 25-49 tahun adalah 38,46% dan pada usia 50 tahun keatas 71,77%. Hal ini
sependapat dengan beberapa studi lain yang juga memperlihatkan adanya peningkatan
prevalence rate keluhan nyeri seiring dengan bertambahnya usia.

BAB IV
PATOFISIOLOGI
4.1. ANATOMI
Pada daerah leher, banyak terdapat jaringan yang bisa merupakan sumber nyeri. Biasanya
rasa nyeri berasal dari jaringan lunak atau ligament, akar saraf, faset artikular, kapsul, otot serta
duramater. Nyeri bisa diakibatkan oleh infeksi atau inflamasi, iritasi dan trauma. Selain itu perlu
juga diperhatikan adanya nyeri alih dari organ atau jaringan lain yang merupakan gambaran
distribusi dermatomal yang dipersyarafi oleh syaraf servikal.

Pars Cervicalis columna verteralis melengkung ke depan dan terdiri atas tujuh vertebra.
Vertebra cervicalis yang khas memiliki ciri berikut ini : Pada tiap processus tranversus
terdapat foramen processus tranversi untuk pembuluh-pembuluh vertebrae. (Perhatikan
A.Vertebralis yang hanya melalui processus tranversus C 1-6). Processus spinosus kecil dan
bifid. Corpusnya kecil dan ukuran ke sisi lebih besar daripada ukuran depan ke belakang;
terdapat sendi-sendi sinovial kecil pada masing-masing sisi. Foramen vertebralesnya besar dan
berbentuk segitiga. Processus articulari superior memiliki faset-faset artikular yang rata dan
kecil, menghadap ke belakang dan atas; processus articularis inferior memiliki faset-faset yang
menghadap ke bawah dan depan.
Vertebra cervicalis 1, 2, dan 7 bersifat atipis (tidak khas). Vertebrae cervicalis pertama,
atau atlas, tidak memiliki corpus dan processus spinosus. Hanya berupa cincin tulang, yang
4

terdiri atas arcus anterior dan posterior dan massa lateralis pada masing-masing sisinya. Tiap
massa lateralis memiliki permukaan sendi pada aspek atas dan bawahnya. Tulang ini
berartikulasi di atas dengan condylus occipitalis, tempat berlangsungnya gerakan mengangguk.
Di bawah, tulang ini berartkulasi dengan axis, membentuk artikulasio atlanto-axialis, tempat
berlangsungnya gerakan memutar kepala.
Vertebrae cervicalis yang kedua, atau axis, memiliki dens yang mirip pasak, terletak di
atas corpus dan dianggap mewakili corpus atlas yang menyat dengan axis.
Vertebra cervicalis ketujuh, atau vertebrae prominens, disebut demikian karena memiliki
processus spinosus paling panjang. Processus ini tidak bifid. Processus tranversusnya besar, nami
processus transversi kecil dan tidak dilalui A.Vertebralis.
Nn. Cervicales, setelah keluar dari foramen intervertebrae, bercabang menjadi ramus
ventralis dan dorsalis.
Ramus ventralis berjalan ke lateral di belakang A.Vertebralis dan juga di belakang
M.Longus capitis di sebelah atas dan M.Scalenus anterior di bawah. Plexus Cervicalis dibentuk
oleh rami ventralis C1-4. Cabang-cabangnya disatukan melalui cabang-cabang penghubung,
membentuk simpai, yang terletak di depan origo M. Levator Scapulae dan M. Scalenus medius.
Pleksus ini ditutupi oleh lamina pevertebralis fascia cervicalis profunda dan bersebelahan dengan
V. Jugularis interna di dalam vagina carotica.
Ramus dorsalis berjalan ke belakang, mengelilingi processus articularis dan disebarkan
ke otot dan kulit punggung. Ramus dorsalis C1 tidak mencapai kulit.
Plexus Bracialis dibentuk dari rami ventralis C5, 6, 7, dan 8 dan Th1. Terletak pada sudut
anferoinferior dari trigonum posterius. Untuk keperluan deskripsi plexus ini dapat dibedakan atas
radiks, trunkus, divisi, dan fasikulus.
Radices plexus brachialis memasuki trigonum posterior setelah muncul di celah diantara
M. Scalenus anterior dan M. Scalenus medius. Bersama A.Subclavia, pleksus ini diselubungi
oleh fascia axillaris yang berasal dari lamina prevertebralis.
Trunci plexus brachialis dibentuk sebagai berikut : Radix C5 dan C6 menyatu
membentuk truncus superior. Radix C7 berlanjut menjadi truncus medius. Sedangkan radix C8
dan Th1 membentuk tuncus inferior, yang terletak di belakang A. Subclavia bagian ketiga.
Divisiones plexus brachialis terbentuk dengan pembelahan setiap truncus menjadi cabang
ventral dan dorsal. Ini terjadi di trigonum omoclaviculare.
Fasciculi plexus brachialis dibentuk sebagai berikut : fasciculus lateralis terbentuk
dengan menyatunya divisi ventral truncus superior dan medius. Fasiculus posterior terbentuk
dengan menyatunya divisi dorsal dari truncus superior, medius, dan inferior. Sedangkan fasiculus
medialis terbentuk dari divisi ventral dari truncus inferior.
Fasikulus meninggalkan trigonum posterior setelah berjalan naik di belakang clavicula
dan masuk ke axilla.

Segala sesuatunya yang bisa merangsang serabut sensorik pada tingkat radiks dan
foramen intervertebral dapat menyebabkan nyeri radikuler, yaitu nyeri yang berpangkal pada
tulang belakang tingkat tertentu dan menjalar sepanjang kawasan dermatome radiks posterior
yang bersangkutan. Osteofit, penonjolan tulang karena faktor kongenital, nukleus pulposus atau
serpihannya, tumor dan sebagainya dapat merangsang satu atau lebih radiks posterior.
Pada umumnya, sebagai permulaan hanya satu radiks saja yang mengalami iritasi
terberat, kemudian yang kedua lainnya mengalami nasib yang sama karena adanya perbedaan
derajat iritasi, selisih waktu dalam penekanan, penjepitan dan lain sebagainya. Maka nyeri
radikuler akibat iritasi terhadap tiga radiks posterior ini dapat pula dirasakan oleh pasien sebagai
nyeri neurogenik yang terdiri atas nyeri yang tajam, menjemukan dan paraestesia.
Nyeri yang timbul pada vertebra servikalis dirasakan di daerah leher dan belakang kepala
sekalipun rasa nyeri ini bisa di proyeksikan ke daerah bahu, lengan atas, lengan bawah atau
tangan. Rasa nyeri di picu/diperberat dengan gerakan/posisi leher tertentu dan akan disertai nyeri
tekan serta keterbatasan gerakan leher.
4.2. PENYEBAB DAN UNDERLYING DISEASE
Cervical Root Syndrome bisa disebabkan/dicetuskan oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Proses Degeneratif
Diskus dan sendi-sendi leher sering mengalami perubahan degeneratif yang angka
prevalensinya meningkat seiring dengan pertambahan usia sehingga sangat
mempengaruhi kemampuan kerja seseorang.
2. Infeksi
Salah satu gejala awal dari penyakit gondok, encepahlitis dan poliomyelitis adalah
kekakuan dan sakit pada leher.
3. Trauma
Adanya trauma langsung atau tak langsung pada daerah leher akibat kerja atau olah
raga ataupun perkelahian bisa menyebabkan rasa sakit pada leher.
4. Kelainan Congenital
Bayi yang lahir dengan bentuk tulang belakang yang mengalami kelainan atau
sambungan yang lepas pada daerah leher bisa memicu terjadinya nyeri pada leher apabila
ruas-ruas tulang belakang mulai menekan spinal cord.

5.

Tumor

Adanya tumor atau pertumbuhan abnormal pada leher juga bisa memicu
timbulnya rasa nyeri terlebih lagi bila tumor tersebut cukup besar sehingga bisa menekan
spinal cord.
6. Herniasi Diskus
Adanya diskus yang keluar dari salah satu ruas tulang belakang tentunya juga bisa
menyebabkan rasa nyeri yang hebat pada daerah cervical.
7. Ketegangan otot dan tendon daerah leher dalam waktu lama
Sikap yang salah atau kurang benar ketika bekerja, tidur, atau sewaktu berolah
raga yang bisa menyebabkan terjadinya ketegangan kronis pada leher sehingga terjadi
peregangan pada ligament, otot leher menjadi lelah, sendi-sendi leher dan syaraf yang
tertekan bisa menimbulkan rasa nyeri daerah leher.
8. Faktor Psikososial
Faktor-faktor psikologis misalnya beban kerja yang banyak, suasana kerja yang
monoton juga bisa memicu timbulnya rasa nyeri daerah cervical ini.
Pada Cervical Root Syndrome, perlu dibedakan beberapa penyakit atau keadaan yang
dapat menyebabkan nyeri pada servikal, lesi yang menyebabkan nyeri servikal dan bahu, nyeri
servikal yang disertai penjalaran akibat lesi tertentu dan sebagainya. Pada tabel 1.1 diperlihatkan
berbagai penyakit yang dapat menimbulkan Cervical Root Syndrome.
Tabel 1.1 Penyebab Cervical Root Syndrome
Gangguan Lokal Pada Leher
1. Osteoarthritis
2. Artritis Reumatoid
3. Artritis Reumatoid Juvenilis
4. Tendinitis Sternokleidomastoideus
5. Strain Servikal Posterior Akut
6. Infeksi Farings
7. Limfadenitis Servikal
8. Osteomielitis
9. Meningitis
10. Spondilitis Ankilosa
11. Paget Disease
12. Tortikolis
13. Keganasan (Primer/Sekunder)
14. Neuralgia Oksipital
15. DISH (Diffuse Idiophatic Skeletal
Hyperostosis)
16. Demam Reumatik
17. Gout

Lesi yang mengakibatkan nyeri leher


bahu
1. Gangguan postural
2. Artritis Reumatoid
3. Sindroma Fibrositis
4. Trauma Muskuloligamentum
5. Osteoartritis
6. Spondilosis Servikalis
7. Osteoartritis Intervertebral
8. Thoracic outlet syndrome
9. Trauma pada saraf
Lesi yang mengakibatkan nyeri
disertai penjalaran nyeri
1. Spondilosis Servikalis
2. Artritis Reumatoid
3. Osteoartritis
4. Tumor medulla spinalis
5. Sindrom neurovaskular servikal

leher

Tidak semua penyakit akan dibahas dalam makalah ini, hanya beberapa penyakit yang
mendasari patofisiologi yang sering muncul di masyarakat yang akan dibahas, yaitu :
1. Spondilosis Servikal
Suatu keadaan ketidak cukupan fungsi dari serabut saraf diakibatkan perubahan
degeneratif dari diskus dan sendi yang didapat kebanyakan pada usia dewasa. Proses
ini mengakibatkan kompresi pada serabut saraf menghasilkan cervical arthritis
(disebut juga cervical spondilosis), yang mana belum dipahami sepenuhnya dan
sepertinya mempunyai banyak sebab.
Perubahan-perubahan pada spinal servikal ini mengkibatkan penyempitan dari
kanal spinal itu sendiri dan menyebabkan penebalan dari ligamen posterior
longitudinal dan munculnya formasi bone spur (osteophyte) yang mengkompresi
serabut saraf seringkali pada tingkat C4-C7. Hasil akhir dari kompresi kronik serabut
spinal dan serabut saraf mengakibatkan ketidakcukupan aliran darah dan defisit
neurologi menghasilkan kerusakan besr di dalam serabut spinal. Kondisi terkait yang
sering muncul didapati pada orang-orang non-Asia, yaitu Osifikasi Ligamen Posterior
Longitudinal (OPLL).

2. Spondilitis
Suatu keadaan yang muncul sebagai hasil perubahan sendi dari kolumna
vertebralis, kebanyakan karena diakibatkan oleh karena kelainan pada diskus antar
vertebra, yang menghasilkan keradangan pada tulang dan jaringan dari kolumna
vertebra. Biasanya pada orang lanjut usia, diskus antar vertebra mengering kemudian
8

menjadi kehilangan elastisitas dan menjadi lebih mudah tertekan. Deposit mineral,
biasanya kalsium, mulai terakumulasi pada diskus ini dan menyebabkan kekakuan
lalu dapat timbul keadaan peradangan.

3. Spondilolistesis
Suatu keadaan yang dapat didahului oleh spondilolisis yang dapat menyebabkan
terselipnya sebuah vertebra dengan vertebra yang lain di bawahnya.
4. Spondiloarthrosis.
Proses arthritis pada sendi-sendi di vertebra.

5. Spondilolisis.
Suatu keadaan patologis yang terjadi ketika retakan muncul di bony ring di
belakang kolumna spinalis. Sangat sering muncul pada punggung bagian bawah.
Pada kondisi ini, tulang yang melindungi serabut saraf retak sebagai hasil dari tarikan
yang berlebihan atau berulang-ulang. Area yang terkena efeknya disebut pars
interarticularis, jadi kadang-kadang dokter menyebutnya sebagai pars defect.

4.3. FAKTOR RESIKO

1.Sikap Tubuh
a. Abduksi dan foward flexion (kepala turun dan maju ke depan) lebih dari 30 dapat
meningkatkan faktor resiko terjadinya nyeri leher akibat penekanan otot supraspinatus >30
mmHg sehingga terjadi gangguan aliran darah.
b. Sakit leher banyak dijumpai pada pekerja-pekerja yang dituntut bekerja dalam satu sikap
tertentu dalam waktu yang cukup lama misalnya pada industri perakitan, orang yang bekerja
sebagai professional komputer, atlet sepeda, turis yang berpergian dengan posisi duduk dan
tidur dalam jangka waktu lama, operator telepon, dsb.

10

c. Sikap kerja yang baik pada posisi duduk yang tidak menyebabkan pengaruh buruk pada
tulang belakang adalah sikap duduk sedikit lordosa pada pinggang dan sedikit kifosa pada
punggung sehingga otot-otot punggung terasa lebih enak.
d. Sikap duduk yang baik adalah :
- Tidak menghalangi pernafasan.
- Tidak menghambat peredaran darah.
- Tidak menghalangi gerak otot atau menghalangi fungsi organ dalam tubuh.
e. Syarat bekerja pada posisi duduk :
- Pekerja merasa nyaman selama melaksanakan pekerjaannya.
- Tidak menimbulkan gangguan psikologis.

11

2. Getaran
Pegangan/handle suatu alat atau mesin yang menimbulkan getaran dapat
mempengaruhi kontraksi otot dalam upaya menstabilkan posisi tangan dari alat tersebut
sehingga dapat menimbulkan kelelahan pada leher.

3.

Gerakan trauma berulang pada pekerjaan


Gerakan berulang-ulang yang dilakukan oleh tangan akan meningkatkan
kebutuhan stabilisasi daerah leher dan bahu sehingga juga akan meningkatkan resiko
kekakuan leher. Dapat juga pada terjadi pekerjaan yang mengangkat beban dengan
menggunakan kepala, penari professional, dan atlet binaragawan.

4.

Organisasi Pekerjaan
Organisasi pekerjaan ini digambarkan sebagai distribusi pembagian tugas
pekerjaan, lama kerja, lama waktu istirahat/makan. Jangka waktu antara bekerja dan
istirahat mempunyai efek pada kelelahan jaringan dan masa penyembuhannya.
Faktor Psikologis dan Sosial
Beberapa studi telah menunjukkan adanya hubungan antara faktor psikologis
terhadap pekerjaan dan gangguan pada daerah leher. Misalnya tekanan psikologi yang
dirasakan, kontrol yang rendah dari sistem organisasi pekerjaan, hubungan yang kurang
harmonis dengan manajemen dan teman kerja serta permintaan yang tinggi akan tingkat
ketelitian, kecermatan dan kecepatan.
Faktor Individu

5.

6.

12

Karakteristik individu seperti umur, jenis kelamin, kekuatan otot dan daya tahan,
kebugaran fisik, ukuran tubuh, kepribadian, kecerdasan, kebiasaan waktu senggang
(aktivitas fisik, merokok, minum alkohol, pola makan), kerentanan terhadap
kemungkinan sakit otot. Pada beberapa kebanyakan sakit otot, resiko meningkat seiring
dengan bertambahnya usia. Wanita biasanya mempunyai resiko mengalami nyeri otot
dibanding pria.
Pada sponsilitis, ada beberapa laporan yang menunjukkan bahwa ada
kecenderungan munculnya spondilitis yang lebih besar pada beberapa keluarga, sehingga
diduga faktor genetik juga ikut mempengaruhi.

4.4. LOKASI
Nyeri alih dirasakan di daerah skapula medial, bahu atas/belakang dan bagian posterior
lengan bawah sampai siku. Nyeri bertambah dengan fleksi sevikal ke depan. Nyeri mielogenik
dapat berupa gelombang, merujuk ke bawah spinal sampai ke ekstremitas. Sedangkan nyeri
neurogenik tersa lebih tajam, sepeti tersengat atau terbakar. Penjalaran nyeri ke arah lengan
dalam daerah dermatom radiks saraf.
Adanya keterlibatan neurilogis perlu ditetapkan seperti sensasi kesemutan pada tangan
yang menunjukkan adanya iritasi radiks servikal C5, C6, C7, C8 dan refleks serta kekuatan otot.
Biasanya gangguan neurologis yang terjadi bersifat lower motor neuron.
Nyeriditengkukdapattimbulmendadakakibattraumaatauterjadiperlahanlahan.Rasa
nyeriseringmenjalarkebahuataulenganatas.Jikaterasadibagiandalamsukardilokalisasi.
Tekananpadaradicesmenyebabkanrasatebaldanparesthesia.Gerakanleherjaditerbatasdan
seringdisertaikrepitasidanrasanyeri.GangguanakibattekananmendadakpadaA.Vertebralis
dapatmenimbulkan,nyerikepala,vertigo,tinnitusataudropattacks.

13

14

BAB V
GEJALA
Gejala dari Cervical Root Syndrome bergantung dari serabut saraf mana yang terkena
keadaan patologisnya. Gejala-gejala sensoris yang dapat timbul antara lain tampak pada gambar
berikut :

15

BAB VI
PENATALAKSANAAN
5.1. PEMERIKSAAN
5.1.1. ANAMNESA
Penting ditentukan terlebih dahulu keluhan utama yang dirasakan pasien yang
menyebabkan ia datang berobat, misalnya : rasa nyeri, rasa baal, perasaan seperti disiram air es,
kelemahan serta lokasi keluhan itu dirasakannya. Ditanyakan juga faktor-faktor lain yang
mungkin bisa meningkatkan resiko terjadinya keluhan itu, seperti : pekerjaannya, aktivitas
sehari-hari, riwayat cedera, posisi kepala yang mungkin memperberat/mengurangi keluhan,
dugaan keganasan pada leher atau tempat lain serta gangguan-gangguan lainnya.
5.1.2. INSPEKSI
Memperhatikan postur tubuh pasien saat dilakukan anamnesis merupakan pemeriksaan
fisis awal yang dapat membantu diagnosis. Biasanya postur tubuh tersebut mencerminkan
keadaan sebenarnya. Perhatikan sikap tubuh pasien saat menyampaikan keluhannya, bagaimana
posisi kepala dan leher selama wawancara. Biasanya pasien menekukkan kepala menjauhi sisi
yang sakit dan leher terlihat kaku. Gerakan leher terbatas baik mendekati atau menjauhi sisi yang
cedera. Pada kondisi yang berat akan tampak adanya deformitas pada lengan.
5.1.3. PALPASI
Pada palpasi akan didapatkan kekakuan dan nyeri pada sisi otot atau radiks syaraf yang
terkena, dapat pula disertai hipertonus maupun spasme sisi otot yang nyeri.
1. Motorik
Pemeriksaan motorik sangat penting dilakukan untuk menilai tingkat radiks
servikal yang terkena sesuai dengan distribusi myotomal. Sebagai contoh : kelemahan
abduksi pundak menunjukkan radikulopati C5, kelemahan fleksi siku dan ekstensi
pergelangan tangan menunjukkan radikulopati C6, kelemahan ekstensi siku dan fleksi
pergelangan tangan menunjukkan radikulopati C7, kelemahan ekstensi ibu jari dan
deviasi ulnar pergelangan tangan menunjukkan radikulopati C8. Pemeriksan refleks
tendon sangat membantu menentukan tingkat radiks yang terkena, seperti refleks biseps
mewakili tingkat radiks C5-C6 dan refleks triseps mewakili radiks C7-C8.
2. Sensorik
Merupakan catatan penting apabila ditemukan atau ada gangguan sensorik dengan
batas jelas. Namun seringkali gangguan sensorik tidak sesuai dengan dermatomal atlas
anatomis. Hal ini disebabkan oleh adanya tumpang tindih daerah persyarafan. Selain itu,
pemeriksaan ini juga menunjukkan tingkat subyektifitas yang tinggi.
3. Tes Provokasi
Tes Spurling atau tes Kompresi Foraminal, dilakukan dengan cara posisi leher
diekstensikan dan kepala dirotasikan ke salah satu sisi, kemudian berikan tekanan ke
bawah pada puncak kepala. Hasil positif bila terdapat nyeri radikuler ke arah ekstremitas
ipsilateral sesuai arah rotasi kepala. Pemeriksaan ini sangat spesifik namun tidak sensitif
guna mendeteksi adanya radikulopati servikal. Pada pasien yang datang ketika dalam
keadaan nyeri, dapat dilakukan distraksi servikal secara manual dengan cara pasien dalam

16

posisi supinasi kemudian dilakukan distraksi leher secara perlahan. Hasil positif bila
nyeri servikal berkurang.
Gambar :

4. Tes Distraksi Kepala


Distraksi kepala akan menghilangkan nyeri yang diakibatkan oleh kompresi
terhadap radiks syaraf. Hal ini dapat diperlihatkan bila kecurigaan iritasi radiks syaraf
lebih memberikan gejala dengan tes kompresi kepala walaupun penyebab lain belum
dapat disingkirkan.
Gambar :

17

5. Tindakan Valsava
Dengan tes ini tekanan intratekal dinaikkan, bila terdapat proses desak ruang di
kanalis vertebralis bagian cervical, maka dengan di naikkannya tekanan intratekal akan
membangkitkan nyeri radikuler. Nyeri syaraf ini sesuai dengan tingkat proses patologis
dikanalis vertebralis bagian cervical. Cara meningkatkan tekanan intratekal menurut
Valsava ini adalah pasien disuruh mengejan sewaktu ia menahan nafasnya. Hasil positif
bila timbul nyeri radikuler yang berpangkal di leher menjalar ke lengan.
Gambar :

5.1.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1) Foto Polos Cervical
Pada foto polos dapat terlihat adanya penyempitan foramen intervertebral. Foto
polos servikal ini penting dilakukan untuk mengetahui adanya fraktur atau subluksasi
pasien dengan trauma daerah leher. Namun pemeriksaan ini masih kontroversial untuk
dilakukan sebagai alat screening awal kasus-kasus nyeri servikal non traumatic. Beberapa
studi menunjukkan bahwa kelainan servikal seperti spondilosis sering ditemukan pada
pasien tanpa keluhan bahkan pada usia relatif masih muda. Data menunjukkan bahwa
70% wanita dan 95% laki-laki tanpa mengalami keluhan antara usia 60-65 tahun terdapat
perubahan degeneratif pada foto polos servikal. Foto Rontgen dengan proyeksi AP,
lateraldanobliquedapatmemperlihatkanspondylosis,osteofitdanpenyempitanforamen
intervertebralis.Akantetapigambaranrontgenologistidakselalusesuaidengankeluhan
dangejalaklinis.

18

Keterbatasan penggunaan foto polos servikal juga terlihat pada salah satu studi
yang dilakukan dengan membandingkan antara foto polos servikal dengan gambaran
tulang servikal pada bedah kadaver yang menunjukkan foto servikal hanya mampu
mendeteksi 67% penyempitan diskus, 57% osteofit posterior yang besar dan 32%
degenerasi sendi faset. Heller dkk. menganjurkan sebaiknya pemeriksaan foto polos
servikal dilakukan hanya pada kasus-kasus kecurigaan klinik adanya keganasan, infeksi
pasca trauma dan kemungkinan adanya tindakan operatif.
2) CT-SCAN
Dengan pemeriksaan ini dapat ditemukan prolaps diskus atau penyempitan
foramen intervertebral dan juga memberikan visualisasi yang lebih baik atas komponen
tulang, juga sangat membantu mendeteksi adanya fraktur tulang belakang. Akurasi
pemeriksaan ini berkisar antara 72-91% dalam mendeteksi adanya herniasi diskus.
Akurasi meningkat sampai 96% bila dikombinasi dengan myelografi.

19

3) MRI (Magnetic Resonance Imaging)


Pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya penekanan akar syaraf spinal pada
midportion dari servikal. MRI dapat mendeteksi kelainan ligament maupun diskus.
Seluruh daerah medulla spinalis, radiks syaraf dan tulang belakang dapat
divisualisasikan.
Namun pada salah satu penelitian didapatkan adanya abnormalitas berupa herniasi diskus
pada sekitar 10% subyek tanpa keluhan, sehingga hasil pemeriksaan ini tetap harus
dihubungkan dengan riwayat perjalanan penyakit, keluhan maupun pemeriksaan klinis.

4) EMG (Electromyelography)
Pemeriksaan ini membantu mengetahui apakah suatu gangguan bersifat
neurogenetik atau tidak (pada kasus cervical root syndrome, akan terbaca adanya
pemanjangan impuls syaraf) karena pada kasus spasme otot dan arthritis juga mempunyai
gejala yang sama. Selain itu bisa juga digunakan untuk menentukan level dari
iritasi/kompresi radiks, membedakan lesi radiks dan lesi syaraf perifer serta untuk
membedakan adanya kasus iritasi atau kompresi.

5) Pemeriksaan Laboratorium
Pada kasus ini, pemeriksaan laboratorium seperti darah dan urine tidak mutlak
harus dilakukan mengingat kasus ini tidak bisa diidentifikasi secara spesifik. Hal yang
mungkin bisa ditemukan dari pemeriksaan laboratorium ini adalah penyakit-penyakit lain
yang mungkin bisa menjadi faktor pencetus timbulnya kasus ini, seperti misalnya adanya
20

infeksi, keganasan, penyakit-penyakit degeneratif lainnya atau mendeteksi adanya


osteoporosis.
5.2. PENGOBATAN
a. Obat

Obat penghilang nyeri atau relaksan otot dapat diberikan pada fase akut. Obatobatan ini biasanya diberikan selama 7-10 hari. Jenis obat-obatan yang banyak digunakan
biasanya dari golongan salisilat atau NSAID. Bila keadaan nyeri dirasakan begitu berat,
kadang-kadang diperlukan juga analgetik golongan narkotik seperti kodein, meperidin,
bahkan bisa juga diberikan morfin. Anksioloitik dapat diberikan pada mereka yang
mengalami ketegangan mental. Pada kondisi tertentu seperti nyeri yang diakibatkan oleh
tarikan, tindakan latihan ringan yang diberikan lebih awal dapat mempercepat proses
perbaikan. Kepala sebaiknya diletakkan pada bantal servikal sedemikina rupa yaitu
sedikit dalam posisi fleksi sehingga pasien merasa nyaman dan tidak mengakibatkan
gerakan kearah lateral. Istirahat diperlukan pada fase akut nyeri, terutama pada
spondilosis servikalis atau kelompok nyeri non spesifik.
Jenis obat-obatan yang banyak digunakan adalah golongan salisilat atau NSAID,
Analgetik narkotik serta Roborantia :
- Ibuprofen 400 mg tiap 4-6 jam (PO)
- Naproksen 200-500 mg tiap 12 jam (PO)
- Fenoprofen 200 mg tiap 4-6 jam (PO)
- Indometacin 25-50 mg tiap 8 jam (PO)
- Kodein 30-60 mg tiap jam (PO/Parentral)
- Vit B1, B6, B12
b. Fisioterapi
Tujuan utama penatalaksanaan adalah reduksi dan resolusi nyeri, perbaikan atau
resolusi defisit neurologis dan mencegah komplikasi atau keterlibatan medula spinalis.
1. Traksi Leher
Tindakan ini dilakukan apabila dengan istirahat keluhan nyeri tidak berkurang atau
pada pasien dengan gejala yang berat dan mencerminkan adanya kompresi radiks syaraf.
Traksi dapat dilakukan secara terus-menerus atau intermitten.

21

2. Cervical Collar
Pemakaian cervical colar lebih ditujukan untuk proses imobilisasi serta mengurangi
kompresi pada radiks syaraf, walaupun belum terdapat satu jenis collar yang benar-benar
mencegah mobilisasi leher. Salah satu jenis collar yang banyak digunakan adalah SOMI
Brace (Sternal Occipital Mandibular Immobilizer). Collar digunakan selama 1 minggu
secara terus-menerus siang dan malam dan penggunaannya diubah pada minggu II secara
intermitten atau bila mengendarai kendaraan. Harus diingat bahwa tujuan imobilisasi ini
bersifat sementara dan harus dihindari akibatnya yaitu diantaranya berupa atrofi otot serta
kontraktur. Jangka waktu 1-2 minggu ini biasanya cukup untuk mengatasi nyeri pada
nyeri servikal non spesifik. Apabila disertai dengan iritasi radiks syaraf, adakalanya
diperlukan waktu 2-3 bulan. Hilangnya nyeri, hilangnya tanda spurling dan perbaikan
defisit motorik dapat dijadikan indikasi pelepasan collar.

22

3. Terapi Panas
Terapi panas dapat juga digunakan untuk membantu menghilangkan nyeri. Modalitas
terapi ini dapat digunakan sebelum atau pada saat traksi servikal untuk relaksasi otot.
Kompres dingin dapat diberikan selama 15-30 menit 1-4 kali sehari, atau kompres
panas/pemanasan selama 30 menit 2-3 kali sehari jika dengan kompres dingin tidak
dicapai hasil yang memuaskan. Pilihan antara modalitas panas atau dingin sangatlah
pragmatik tergantung pada persepsi pasien terhadap pengurangan nyeri.

4. Parafin Bath
Digunakan untuk mengaplikasikan panas pada area spesifik dari tubuh dengan
menggunakan parafin wax. Area yang diterapi secara cepat dilingkupi oleh cairan parafin
wax yang sudah dipanaskan dan kemudian cairan tersebut akan ditarik kembali sehingga
wax akan menjadi padat. Prosedur tersebut diulang sampai terbentuk 5 sampai 10 mm
tebal lapisan, dan kemudian seluruh area dibungkus oleh semacam kain khusus. Teknik
ini sering dipergunakan untuk pasien dengan artritis dan reumatik atau keadaan sendi
lainnya.

23

5. USD

6. Tindakan Operatif
Tindakan operatif lebih banyak ditujukan pada keadaan yang disebabkan
kompresi terhadap radiks syaraf atau pada penyakit medula spinalis yang berkembang
lambat serta melibatkan tungkai dan lengan. Pada penanggulangan kompresi tentunya
harus dibuktikan dengan adanya keterlibatan neurologis serta tidak memberikan respon
dengan terapi medikamentosa biasa.

24

5.3. SARAN
Untuk mencapai kondisi pemulihan pasien sehingga bisa secepatnya kembali bekerja
adalah kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan lingkunan kerja yang baik.
Seluruh pasien nyeri leher sebaiknya diberitahukan mengenai masalah yang dihadapinya
serta memberikan gambaran pengobatan maupun instruksi yang harus dilakukan seperti posisi
saat duduk, mengendarai kendaraan dan posisi leher yang berkaitan dengan berbagai pekerjaan
atau aktifitas sehari-hari
Anjuran pertama yang diberikan apabila timbul kembali nyeri servikal adalah
menghindari semua kegiatan yang adapat menimbulkan rasa nyeri, disamping itu penguatan otototot servikal harus dilakukan selama minimal 3 bulan secara intensif tiap hari dan dilanjutkan
secara intemitten seumur hidup.
Untuk mencegah terjadinya nyeri tengkuk ada beberapa nasehat yang bermanfaat :
- Menghindari bekerja dengan posisi kepala terlalu turun atau satu posisi dalam waktu
yang lama, pegangan dan posisi yang sering berulang.
- Sikap tubuh yang baik dimana tubuh tegak, dada terangkat, bahu santai, dagu masuk
dan pada tingkatan kepala, leher merasa kuat, longgar dan santai.
- Tidur dengan bantal atau bantal Urethane.
- Memelihara sendi otot yang fleksibel dan kuat dengan latihan yang benar pada leher.

25

BAB VII
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.

Faiz, O & Moffat, D.; At Anda Glance ANATOMI ; Jakarta; Penerbit Erlangga; 2004.
McPhee, M.J., et all; 2008 CURRENT Medical Diagnosis & Treatment; United States of
America; McGrawHill; 2008.
Priguna, S.; Neurologi Klinis Dasar; Jakarta; Dian Rakyat; 2003.
Priguna, S.; Tata Pemeriksaan Klinis Neurologi; Jakarta; Dian Rakyat; 1999.
Priguna, S.; Neurologi Klinis Dasar Dalam Praktek Umum; Jakarta; Dian Rakyat; 2004.
Putz, R., Pabst, R.; Atlas Anatomi Manusia Sobotta, Jilid 1, Edisi 21; Jakarta; EGC;
2000.
Snell, R.S.; Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran, Bagian 3, Edisi 3; Jakarta;
EGC; 1997.
Sudoyo, A.W., dkk.; Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi IV; Jakarta; Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
http://en.wikipedia.org/wiki/Spondylolysis
http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.tomsriverxray.com/*site/scaledimages/web/images/ct_scan-jpg308x357.jpg&imgrefurl =http://www.tomsriverxray.com/
ct.nxg&h=357&w=308&sz=78&hl=id&start=22&tbnid=1eBnkjI8Oc64gM:&tbnh=121&
tbnw=104&prev=/images%3Fq%3Dct%2Bscan%26start%3D18%26gbv%3D2%26ndsp
%3D18%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official
%26sa%3DN
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/paraffin+bath
http://www.aafp.org/afp/20000515/3079.html
http://www.digital-doc.com/neckpain.htm
http://www.emedicine.com/pmr/topic25.htm
http://www.emedicine.com/pmr/topic564.htm
http://www.emedicine.com/radio/images/Large/336SPONDFIG5.JPG
http://www.emedicine.com/radio/images/Large/336SPONDFIG5.JPG
http://www.emedicine.com/radio/images/Large/3912RAD0651-05.JPG
http://www.emedicine.com/radio/images/Large/4465RAD0651-16.JPG
http://www.energycenter.com/grav_f/anatomy.html
http://www.physsportsmed.com/issues/1996/06_96/nissen.htm
http://www.sportsmedshop.com/catalog/browse.esiml?CID=7
www.allina.com/ahs/spineCommon.pdf
www.cup.edu/nu_upload/24 Cervical Spine Spec Tests 1.pdf
http://arthritis.ygoy.com/what-is-neck-arthritis/
www.ebme.co.uk/arts/emg/emg1.jpg
www.emedicine.com/SPORTS/byname/Cervical-Discogenic-Pain-Syndrome.htm
www.gulker.com/.../2006/10/chris_closed_MRI.jpg
www.necksolutions.com/images/traction-pump.jpg
www.spinalmedical.co.uk/back_pain_diagnosis.php

26

Anda mungkin juga menyukai