Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Hiperplasia prostat jinak adalah pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa
majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai
proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa.
( Price, 2005 )
Hiperplasia prostat benigna adalah perbesaran atau hipertrofi prostat, kelenjar
prostat membesar, memanjang kearah depan kedalam kandung kemih dan
menyumbat aliran keluar urine dapat mengakibatkan hidronefrosis dan hidroureter.
( Brunner & Suddarth, 2000 )
Hiperplasia prostat benigna adalah pembesaran prostat yang mengenai uretra,
menyebabkan gejala urinaria dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari
bulu-buli. ( Nursalam, 2006 )
Hiperplasia prostat benigna adalah suatu keadaan dimana kelenjar periuretra
mengalami hiperplasia sedangkan jaringan prostat asli terdesak ke perifer menjadi
kapsul bedah.
Dari beberapa definisi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa hiperplasia
prostat benigna adalah perbesaran atau hipertrofi prostat, kelenjar prostat membesar,
memanjang kearah depan kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar
urine sehingga menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan
aliran urinarius.

B. Patofisiologi
Ketika seorang berusia diatas 50 tahun, maka semakin besar kemungkinan
untuk terjadinya gangguan atau kerusakan pada organ-organ tubuh. Pada pria ketika
menginjak usia 50 tahun keatas maka terjadi penurunan fungsi testis. Akibatnya
adalah ketidakseimbangan hormon testosteron dan dehidrotestosteron sehingga
memacu pertumbuhan atau pembesaran prostat ( dalam hal ini prostat dapat mencapai
60-100 gram atau bahkan lebih ). Pembesaran kelenjar prostat dapat meluas ke arah
atas (bladder) sehingga mempersempit saluran uretra yang pada akhirnya akan
menyumbat urine dan menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan didalam bladder.

Sebagai kompensasi terhadap tekanan uretra prostatika maka otot-otot destrusor dan
buli-buli berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan ini. Kontraksi secara terus
menerus menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli. Tekanan intravesikel yang
tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara
ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini akan menimbulkan aliran balik urine dari
buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko ureter. Jika keadaan ini berlangsung
terus menerus dapat menyebabkan gagal ginjal. Pada klien benigna prostat hiperplasia
urine yang dikeluarkan tidak tuntas sehingga tersisalah urine di dalam buli-buli saat
proses miksi, sehingga seseorang cenderung mengejan untuk mengeluarkan urine
tersebut dan menyebabkan meningkatnya tekanan intra abdomen sehingga dapat
menimbulkan hernia dan hemoroid.
Pembesaran prostat ini akan menimbulkan keluhan atau tanda dan gejala seperti sulit
memulai miksi, nokturia ( bangun tengah malam untuk berkemih ), sering berkemih
anyang-anyangan, abdomen tegang, pancaran urine menurun dan harus mengejan saat
berkemih, aliran urine tidak lancar, dribling ( urine menetes terus setelah berkemih ),
rasa seperti kandung kemih tidak kosong dengan baik, sakit atau nyeri ketika
berkemih, retensi urine akut ( bila lebih dari 60 ml urine tetap berada dalam kandung
kemih setelah berkemih ), anoreksia, mual dan muntah.
Apabila tidak segera ditangani, dapat menimbulkan komplikasi antara lain gagal
ginjal, hemoroid dan hernia bahkan kematian.
C. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada klien benigna prostat hiperplasia terdiri dari
penatalaksanaan medis, penatalaksanaan keperawatan dan penatalaksanaan diit.
1. Penatalaksanaan medis
a. Pemberian obat-obatan antara lain Alfa 1-blocker seperti : doxazosin, prazosin
tamsulosin dan terazosin. Obat-obat tersebut menyebabkan pengenduran otot-otot
pada kandung kemih sehingga penderita lebih mudah berkemih. Finasterid, obat ini
menyebabkan meningkatnya laju aliran kemih dan mengurangi gejala. Efek samping
dari obat ini adalah berkurangnya gairah seksual. Untuk prostatitis kronis diberikan
antibiotik.

a.

Pembedahan

1) Trans Urethral Reseksi Prostat ( TUR atau TURP ) prosedur pembedahan yang
dilakukan melalui endoskopi TUR dilaksanakan bila pembesaran terjadi pada lobus
tengah yang langsung melingkari uretra. Sedapat mungkin hanya sedikit jaringan
yang mengalami reseksi sehingga pendarahan yang besar dapat dicegah dan
kebutuhan waktu untuk bedah tidak terlalu lama. Restoskop sejenis instrumen hampir
serupa dengan cystoscope tapi dilengkapi dengan alat pemotong dan couter yang
disambungkan dengan arus listrik dimasukan lewat uretra. Kandung kemih dibilas
terus menerus selama prosedur berjalan. Pasien mendapat alat untuk masa terhadap
shock listrik dengan lempeng logam yang diberi pelumas yang ditempatkan pada
bawah paha. Kepingan jaringan yang halus dibuang dengan irisan dan tempat tempat
pendarahan dihentikan dengan couterisasi. Setelah TUR dipasang folley kateter tiga
saluran ( three way cateter ) ukuran 24 Fr yang dilengkapi balon 30-40 ml. Setelah
balon kateter dikembangkan, kateter ditarik kebawah sehingga balon berada pada fosa
prostat yang bekerja sebagai hemostat. Kemudian ditraksi pada kateter folley untuk
meningkatkan tekanan pada daerah operasi sehingga dapat mengendalikan
pendarahan. Ukuran kateter yang besar dipasang untuk memperlancar membuang
gumpalan darah dari kandung kemih.
2) Prostatektomi suprapubis adalah salah satu metode mengangkat kelenjar prostat
dari uretra melalui kandung kemih..
3) Prostatektomi perineal adalah mengangkat kelenjar prostat melalui suatu insisi
dalam perineum yaitu diantara skrotum dan rektum.
4) Prostatektomi retropubik adalah insisi abdomen mendekati kelenjar prostat, yaitu
antara arkus pubis dan kandung kemih tanpa memasuki kandung kemih.
5) Insisi prostat transuretral (TUIP) adalah prosedur pembedahan dengan cara
memasukkan instrumen melalui uretra.
6) Trans Uretral Needle Ablation ( TUNA ), alat yang dimasukkan melalui uretra
yang apabila posisi sudah diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk
adenoma dan mengalirkan panas sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum yang
menancap dijaringan prostat.

2. Penatalaksanaan keperawatan menurut Brunner and Suddart, (2000)


a.

Mandi air hangat

b.

Segera berkemih pada saat keinginan untuk berkemih muncul.

c.

Menghindari minuman beralkohol

d.

Menghindari asupan cairan yang berlebihan terutama pada malam hari.

e. Untuk mengurangi nokturia, sebaiknya kurangi asupan cairan beberapa jam


sebelum tidur.

3. Penatalaksanaan diit menurut Brunner and Suddart, (2000)


Klien dengan benigna prostat hiperplasia dianjurkan untuk menghindari minuman
beralkohol, kopi, teh, coklat, cola, dan makanan yang terlalu berbumbu serta
menghindari asupan cairan yang berlebihan terutama pada malam hari.

D. Pengkajian
Pengkajian pada klien benigna prostat hiperplasia menurut Doenges, (1999)
dan Brunner and Suddart (2000) diperoleh data sebagai berikut :
1. Sirkulasi
Tanda : Peninggian TD ( efek pembesaran ginjal )
2. Eliminasi
Gejala : Penurunan kekuatan/dorongan aliran urine ; tetesan.
Keragu-raguan pada berkemih awal.
Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih.
Nokturia, disuria, hematuria.
Infeksi saluran kemih berulang, riwayat batu, Konstipasi.
Tanda : Distensi kandung kemih, nyeri tekan kandung kemih.
3. Makanan/cairan

Gejala : Anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan.


4. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : Nyeri suprapubis, panggul atau punggung dan rasa tidak nyaman pada
abdomen, kolik renalis.
5. Keamanan
Gejala : Demam
6. Seksualitas
Gejala : Masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksual.
Takut Inkontinensia/menetes selama hubungan intim.
Penurunan kekutan kontraksi ejakulasi.
Tanda : Pembasaran, nyeri tekan prostat.
7. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal.
Penggunaan antihipertensif atau antidepresan, antibiotik urinaria.

Pemeriksaan diagnostik
1. Urinalisa

: Warna kuning, coklat gelap, merah gelap atau terang ( berdarah);

penampilan keruh; pH 7 atau lebih besar ( menunjukkan infeksi ).


2. Kultur urine : Dapat menunjukkan Staphylococcus aureus, Proteus, Klebsiella,
pseudomonas, atau Escherichia coli.
3. Sitologi urne

: Untuk mengesampingkan kanker kandung kemih.

4. BUN/kreatinin

: Meningkat bila fungsi ginjal dipengaruhi.

5. Asam fosfat serum/antigen khusus prstatik : Peningkatan karena pertumbuhan


selular dan pengaruh hormonal pada kanker prostat.
6. SDP

:Mungkin lebih besar dari 11 000/ul ( infeksi )

7. Penentuan kecepatan aliran urine : mengkaji derajat obstruksi kandung kemih.

8. IVP dengan film pasca berkemih : Menunjukkan pelambatan pengosongan


kandung kemih, membedakan derajat obstruksi kandung kemih dan adanya
pembesaran prostat, divertikuli kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung
kemih.
9. Sistouretrografi berkemih : digunakan sebagai ganti IVP untuk memvisualisasi
kandung kemih dan uretra.
10. Sistogram : Mengukur tekanan dan volume dalam kandung kemih untuk
mengidentifikasi disfungsi yang tak berhubungan dengan BPH.
11. Sistouretroskopi

: Untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan

perubahan dinding kandung kemih.


12. Ultrasound transrektal : Mengukur ukuran prostate dan jumlah residu urine,
dalam hal ini residu urine menjadi patokan yaitu dibagi menjadi beberapa derajat
antara lain :
1.Derajat I, sisa urine < 50 ml.
2.Derajat II, sisa urine 50-150 ml.
3.Derajat III, sisa urine > 150 ml.
4.Derajat IV, retensi urine total.
13. Rectal touch/pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan konsistensi
system perdarahan unit vesiko uretra dan besarnya prostat.
Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :
a. Derajat I, beratnya 20 gram.
b.Derajat II, beratnya antara 20-40 gram.
c. Derajat III, beratnya > 40 gram.
14. PSA (Prostatik Spesifik Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya
keganasan.
15. Pemeriksaan Uroflowmetri, Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya
pancaran urine dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian :
a. Flow rate maksimal > 15 ml/dtk = non obstruktif.
b. Flow rate maksimal 10-15 ml/dtk = border line
6

c. Flow rate maksimal < 10 ml/dtk = obstuktif.


16. USG ( Ultrasonografi ), digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan
besar prostat juga keadaan buli-buli termasuk residual urine.
17. MRI ( Magnetic Resonance Imaging )
E. Diagnosa keperawatan
Setelah data dikumpulkan dilanjutkan dengan analisa data untuk menentukan
diagnosa keperawatan. Menurut Doenges, (1999) dan Tucker, (1998) sebagai berikut
:
Diagnosa pre operasi
1.

Retensi

urine

(akut/kronik)

berhubungan

dengan

Obstruksi

mekanik;

pembesaran prostat.
2.

Nyeri akut berhubungan dengan Iritasi mukosa; distensi kandung kemih, kolik

ginjal; infeksi urinaria; terapi radiasi.


3.

Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasca

obstuksi diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara
kronis.
4.

Ketakutan/ansietas

berhubungan

dengan

perubahan

status

kesehatan:

kemungkinan prosedur bedah/malignansi.


5.

Potensial terhadap infeksi berhubungan dengan penggunaan kateter dan/atau

retensi urine.
6.

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan

berhubungan dengan kurang informasi.


Diagnosa post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah, spasme kandung kemih, dan retensi urine.
2. Perubahan eliminasi perkemihan berhubungan dengan reseksi pembedahan dan
irigasi kandung kemih.
3. Potensial terhadap infeksi yang berhubungan dengan adanya kateter dikandung
kemih dan insisi bedah.

4. Potensial kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan darah


berlebihan.
5. Disfungsional seksual yang berhubungan dengan perubahan pola seksual.
6. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang rutinitas
pascaoperasi.
F. Perencanaan
Setelah diagnosa keperawatan ditemukan, dilanjutkan dengan menyusun perencanaan
untuk masing-masing diagnosa yang meliputi prioritas diagnosa keperawatan,
penetapan tujuan dan kriteria evaluasi sebagai berikut :
Diagnosa Pre operasi
1. Retensi urine (akut/kronik) berhubungan dengan Obstruksi mekanik;
pembesaran prostat.
Tujuan : Berkemih dengan jumlah adekuat tanpa distensi kandung kemih.
Kriteria evaluasi : 1). Berkemih dengan jumlah yang cukup tak teraba distensi
kandung kemih. 2).Menunjukkan residu pasca-berkemih kurang dari 50 ml, dengan
tak adanya tetesan/kelebihan aliran.
Intervensi :1). Dorong klien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba
dirasakan. 2). Tanyakan klien tentang inkontinensia stres. 3). Observasi aliran urine,
perhatikan ukuran dan kekuatan. 4). Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap
berkemih. 5). Perkusi/palpasi area suprapubik 6). Dorong masukan cairan sampai
3000 ml sehari, dalam toleransi jantung, bila diindikasikan. 7). Awasi tanda vital
dengan ketat. 8). Kolaborasi dengan pemberian obat Antiposmadik (menghilangkan
spasme kandung kemih sehubungan dengan iritasi oleh kateter) sesuai indikasi.
2. Nyeri akut berhubungan dengan Iritasi mukosa; distensi kandung kemih,
kolik ginjal; infeksi urinaria; terapi radiasi.
Tujuan

: nyeri berkurang atau hilang.

Kriteria evaluasi

1. Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol.


2. Postur dan wajah rileks.
3. Mendemonstrasikan keterampilan relaksasi, modifikasi perilaku untuk
menghilangkan nyeri.
4. Mengekspresikan perasaan nyaman.
8

Intervensi :
1.
2.
3.
4.

Kaji nyeri, perhatikan lokasi,intensitas ( skala (0-10 ), lamanya.


Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen.
Pertahankan tirah baring bila diindikasikan.
Bantu klien dalam melakukan posisi nyaman dan ajarkan teknik relaksasi

napas dalam.
5. Kolaborasi dengan pemberian obat penghilang rasa nyeri sesuai indikasi.

3. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasca


obstuksi diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara
kronis.
Tujuan : Kebutuhan volume cairan klien terpenuhi.
Kriteria evaluasi :
1.
2.
3.
4.

Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil.


Nadi perifer teraba.
Pengisian kapiler baik.
Membran mukosa lembab.

Intervensi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Awasi keluaran dengan hati-hati, tiap jam bila diindikasikan.


Dorong peningkatan pemasukan oral.
Awasi TD, nadi dengan sering.
Tingkatkan tirah baring dengan kepala tinggi.
Awasi elektrolit, khususnya natrium.
Kolaborasi dengan pemberian cairan IV sesuai kebutuhan.

4. Ketakutan/ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan:


kemungkinan prosedur bedah/malignansi.
Tujuan

: klien menunjukkan ekspresi rileks

Kriteria evaluasi

1. Klien tampak rileks dan mengatakan ansitas berkurang pada tingkat yang
dapat diatasi.
2. Mendemontrasikan keterampilan pemecahan masalah.
Intervensi

1. Kaji tingkat ansietas klien.


2. Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur.
3. Berikan kesempatan klien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi.

4. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk


sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhannya.
5. Potensial terhadap infeksi berhubungan dengan penggunaan kateter dan/atau
retensi urine.
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria evaluasi :
1. Suhu dalam rentang normal.
2. Urine jernih, warna kuning, tanpa bau.
3. Tidak terjadi distensi kandung kemih.
Intervensi :
1.
2.
3.
4.

Periksa suhu tiap 4 jam.


Tuliskan karakter urne; laporkan bila keruh atau bau busuk.
Bila ada kateter uretral, pertahankan sistem drainase gravitasi tertutup.
Gunakan teknik steril untuk kateterisasi intermiten selama perawatan di rumah

sakit.
5. Pantau abdomen atau kandung kemih terhadap distensi.
6. Pantau dan laporkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih.
7. Gunakan teknik cuci tangan yang baik.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan

: mengatakan pengertiannya tentang kondisi dan tindakan medis yang

dilakukan.
Kriteria evaluasi

1. Klien mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan tindakan.


2. Melakukan kembali perubahan gaya hidup.
Intervensi

1. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis serta pembatasan kegiatan


seperti menghindari mengemudikan kendaraan dalam periode waktu yang
cukup lama.
2. Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri untuk berdiri,
mengangkat, dan menggunakan sepatu penyokong.
3. Diskusikan mengenai pengobatan dan efek sampingnya, seperti halnya
beberapa obat yang menyebabkan kantuk yang sangat berat ( analgetik,
relaksan otot ).

10

4. Anjurkan menggunakan papan/matras yang kuat, bantal kecil yang agak datar
dibawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan, hindari posisi
telungkup.
5. Diskusikan mengenai kebutuhan diit.
6. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama.
7. Anjurkan untuk melakukan kontrol medis secara teratur.
Diagnosa Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah, spasme kandung kemih, dan retensi
urine.
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
Kriteria evaluasi : Nyeri berkurang atau hilang dan ekspresi wajah tampak rileks
Intervensi :
1. Kaji nyeri, perhatikan lokasi,intensitas ( skala 0-10 ), lamanya dan faktor
pencetus.
2. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan.
3. Bantu klien dalam melakukan posisi nyaman dan ajarkan teknik relaksasi
napas dalam.
4. kolaborasi dengan pemberian obat penghilang rasa nyeri sesuai indikasi.
2. Perubahan eliminasi perkemihan . berhubungan dengan reseksi pembedahan
dan irigasi kandung kemih.
Tujuan : Berkemih tanpa aliran berlebihan.
Kriteria evaluasi : keteter berada pada posisi yang tetap dan tidak ada sumbatan.
Intervensi :
1. Kaji posisi kateter.
2. Kaji warna, karakter dan aliran urine serta adanya bekuan melalui kateter tiap
2 jam.
3. Catat jumlah irigan dan haluaran urine.
4. Kaji kandung kemih terhadap retensi.
5. Kaji dengan sering lubang aliran keluar urine. 6). Masukkan larutan irigasi
melalui lubang terkecil dari kateter.
3. Potensial terhadap infeksi yang berhubungan dengan adanya kateter
dikandung kemih dan insisi bedah.
Tujuan : infeksi tidak terjadi

11

Kriteria evaluasi :
1. Suhu dalam rentang normal.
2. Urine jernih, warna kuning, tanpa bau.
3. Tidak terjadi distensi kandung kemih.
Intervensi :
1.
2.
3.
4.

Periksa suhu tiap 4 jam.


Tuliskan karakter urine; laporkan bila keruh atau bau busuk.
Bila ada kateter uretral, pertahankan sistem drainase gravitasi tertutup.
Gunakan teknik steril untuk kateterisasi intermiten selama perawatan di rumah

sakit.
5. Pantau abdomen atau kandung kemih terhadap distensi.
6. Pantau dan laporkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih.
7. Gunakan teknik cuci tangan yang baik.
4. Potensial kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan
darah berlebihan.
Tujuan : Tidak ada tanda-tanda kemerahan, bengkak dan panas.
Kriteria evaluasi : TTV dalam batas normal, urine berwarna jernih, tidak ada
kemerahan, bengkak dan peningkatan suhu.
Intervensi :
1.
2.
3.
4.

Pantau tanda dan gejala hemorragi.


Pantau uretra dan suprapubis terhadap pendarahan yang berlebihan.
Pertahankan traksi pada kateter bila diprogramkan.
Pantau Hb dan Ht.

5. Disfungsional seksual yang berhubungan dengan perubahan pola seksual.


Tujuan : Klien dapat mengungkapkan perasaannya tentang seksualitas.
Kriteria evaluasi : Klien dapat mengungkapkan perasaannya tentang seksualitas
Intervensi : 1). Berikan kesempatan untuk diskusi tentang seksualitas antara pasien
dan orang terdekat. 2). Beri informasi tentang harapan kembalinya fungsi seksual. 3).
Berikan informasi tentang konseling seksual.

6. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang


rutinitas pascaoperasi.
Tujuan : Klien mengerti tentang rutinitas pascaoperasi.

12

Kriteria evaluasi : Klien mengerti tentang rutinitas pascaoperasi, gejala yang harus
dilaporkan kedokter dan perawatan dirumah, serta instruksi evaluasi dan dapat
mendemostrasikan ulang latihan perineum dan perawatan luka insisi.
Intervensi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Instruksikan pada klien untuk menghindari duduk terlalu lama


Lakukan latihan perineal 10 sampai 20 menit tiap jam setelah kateter dilepas.
Pertahankan diet dan hindari konsumsi kopi, teh dan cola serta alkohol.
Hindari latihan yang membutuhkan kekuatan otot
Hindari aktivitas seksual selama 1 bulan.
Instruksikan klien untuk menghindari konstipasi.
Ajarkan cara perawatan dan mengganti balutan.

G. Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan komponen dari proses keperawatan untuk mencapai tujuan
dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan yang dilakukan dan diselesaikan
oleh perawat secara mandiri atau kerjasama dengan tim kesehatan lainnya. Tindakan
yang dilakukan dapat berupa tindakan mandiri maupun kolaborasi. Dalam
pelaksanaan langkah-langkah yang dilakukan adalah mengkaji kembali keadaan
klien, validasi rencana keperawatan, menentukan kebutuhan dan bantuan yang
diberikan serta menetapkan strategi tindakan yang akan dilakukan. Selain itu juga
dalam pelaksanaan tindakan semua tindakan yang dilakukan pada klien dan respon
klien

pada

setiap

tindakan

keperawatan

didokumentasikan

dalam

catatan

keperawatan. Dalam pendokumentasian yang perlu didokumentasikan adalah waktu


tindakan dilakukan, tindakan dan respon klien serta diberi tanda tangan sebagai aspek
legal dari dokumentasi yang dilakukan.

H. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh
diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
(Nursalam, 2001). Tujuannya adalah untuk melihat kemampuan klien dalam
mencapai tujuan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan dalam mengakhiri
rencana tindakan keperawatan ( klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan ),
memodifikasi rencana tindakan keperawatan ( klien mengalami kesulitan untuk
mencapai tujuan pertama ), meneruskan rencana tindakan keperawatan ( klien
memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan ). Proses evaluasi terdiri
dari 2 tahap yaitu tahap mengukur pencapaian tujuan klien yang terdiri dari

13

komponen kognitif, afektif, psikomotor, perubahan fungsi tubuh dan gejala.


Sedangkan tahap kedua adalah tahap penentuan keputusan pda tahap evaluasi. Dalam
tahap yang kedua ini terdapat 2 komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan
keperawatan yaitu proses ( formatif ) dan hasil ( sumatif ).
1). Proses ( formatif )
Fokus evaluasi tipe evaluasi ini adalah aktivitas dari proses keperawatan dan hasil
kualitas pelayanan tindakan keperawatan. Evaluasi proses baru dilaksanakan segera
setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifitasan
terhadap tindakan dan harus dilakukan terus menerus sampai tujuan yang telah
dilakukan tercapai.

2). Hasil ( Sumatif )


Fokus evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atas status kesehatan pada akhir
tindakan keperawatan.
Adapun langkah-langkah evaluasi keperawatan :
1. Mengumpulkan data perkembangan pasien.
2. Menafsirkan ( menginteprestasikan ) perkembangan pasien.
3. Membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan
menggunakan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
4. Mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar norma yang
berlaku.
Seorang perawat harus mampu menafsirkan hasil evaluasi dari masalah keperawatan
klien yaitu sebagai berikut :
1. Tujuan tercapai
Bila klien menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan sesuai
dengan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
2. Tujuan tercapai sebagian
Bila klien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagian dari
kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

14

3. Tujuan tidak tercapai


Bila klien menunjukkan tidak ada perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan
atau bahkan timbul masalah baru.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Nursing Care Plans and Dokumentation : Nursing
Diagnosis and Collaboration Problems. (Monica Ester, Penerjemah). Eight
Edition.Philadelphia : Lippincott-Raven Publisher. (sumber asli diterbitkan 1995)
Doonges, Marilynn E. (1999). Nursing Care Plans ( I Made K, penerjemah ) Third
Edition.Jakarta : EGC. (sumber asli diterbitkan 1993)
Lyer, Patricia W. (2004). Nursing Documentation : A Nursing Approach (Sari K,
Penerjemah) Third Edition. Flemington : Mosby inc. (sumber asli diterbitkan 1999)

15

Potter, Patricia A. (2005). Fundamentals of Nursing : Concept, Processand


Practise(Yasmin Asih, Penerjemah) Volume I Fourth Edition. Saint Louis : Mosby
Year Book inc. (sumber asli diterbitkan 1997)
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Brunner & Suddarths Textbook of Medical Surgical
Nursig. (dr. H. Y. Kuncara, Penerjemah) Volume II Eight Edition. Philadelphia :
Lippincott-Raven Publisher. (sumber asli diterbitkan 1996

16