Anda di halaman 1dari 7

Penerapan Teknologi Dalam Pengaturan Air Untuk Pertanian di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Ratusan ribu hektare tanaman
pangan, terutama padi, di Pulau Jawa terancam. Luas lahan padi yang potensial gagal panen
terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang berubah pola.
Perubahan iklim, para ahli mengaitkannya dengan gejala pemanasan global menyebabkan
musim hujan dan kemarau di Indonesia bergeser. Musim kemarau yang biasanya terjadi pada
periode April sampai Oktober, tahun ini baru dimulai pada Juli. Demikian juga dengan musim
hujan yang bergeser dari November sampai Maret ke Februari hingga Juni. Total luas
tanaman padi yang kekeringan selama Januari-Juli 2007 mencapai 268.518 hektare.
Kawasan tropis diperkirakan akan menderita pukulan produksi pangan akibat besarnya
variabilitas iklim menjelang 2030. Itu berarti kerawanan pangan akan sering terjadi.
Kekhawatiran ini cukup beralasan. Karena meski bencana kekeringan sudah mengancam dan
melanda sentra-sentra produksi beras di Jawa, pemerintah malah membantah terjadi bencana
kekeringan nasional pada musim kemarau sekarang ini. Petani di daerah pantai utara
(pantura) Jawa Barat dan Jawa Tengah padahal sudah berteriak sawah mereka kering.
Pemerintah harus menanggapi masalah ini dengan serius karena menyangkut produksi beras
nasional. Pemerintah harus cepat menangani bencana alam yang sudah di depan mata.
Berdasarkan hasil analisis data historis yang disampaikan Direktur PLA Deptan, kekeringan
kali ini selain merupakan kejadian musiman biasa, juga akumulasi dan interaksi tiga faktor
penyebab lainnya, yaitu degradasi lingkungan dan sumber daya air, tata kelola air yang
memburuk, dan dampak perubahan iklim global. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah
harus mengantisipasi dengan cepat dan tepat faktor ini.
1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan malakalah ini adalah agar mengetahui pentingnya ketersediaan air bagi
pertanian. Selain itu untuk mengetahui dan mencari solusi dalam mengatasi permasalahan
kekurangan air bagi pertanian lahan kering pada musim kemarau terutama daerah dengan
curah hujan kecil dengan berbagai sistem irigasi. Dengan dilakukan tinjauan terhadap
literatur diharapkan mampu mencarikan solusi dari permasalahan tersebut.
1.3. Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasikan masalah yang akan dibahas yaitu :
- Sumber air bagi sektor pertanian?
- Seberapa penting ketersediaan air bagi kehidupan khususnya sektor pertanian?
- Keadaan Indonesia saat ini, permasalahan daerah dengan curah hujan kecil, pertanian lahan
kering di musim kemarau, dan dampak perubahan iklim (bergesernya waktu musim hujan
dan kemarau) bagaimana solusinya?
- Beberapa sistem pengairan (irigasi), mampukah menjadi solusi permasalahan yang dihadapi
Indonesia saat ini?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Air demikian penting bagi kehidupan manusia, berbagai sektor dan kepentingan lainnya.
Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah air pengairan, yang sering bahkan menimbulkan
berbagai masalah bagi berbagai kehidupan, jika tidak mampu melestarikannya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor: 1/PRT/M/2004,
Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas ataupun di bawah permukaan tanah,
termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang berada di
darat.
Irigasi adalah usaha penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air
irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa,
irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Ada beberapa pengertian tentang
irigasi diantaranya menurut Kartasapoetra : 94 bahwa irigasi adalah kegiatan penyediaan dan
pengaturan air untuk memenuhi kepentingan pertanian dengan memanfaatkan air permukaan
dan air tanah.
Menurut UU no.11 tahun 1974, pengairan suatu bidang pembinaan terhadap air, sumber air,
termasuk kekayaan alam hewani yang terkandung di dalamnya, baik yang alamiah maupun
yang telah diusahakan oleh manusia.
2.2. Sumber Air
Air permukaan dan air tanah merupakan sumber air utama yang digunakan masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan pertanian, dan lain-lain. Namun demikian saat ini sebagian besar
kebutuhan masih mengandalkan dari sumber air permukaan oleh karena itu, sumber air
permukaan perlu dikelola dengan baik sehingga mampu memberikan manfaat bagi
pengembangan sektor pertanian.
Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah (sungai, danau, mata
air, terjunan air). (Direktur Pengelolaan Air)
Air permukaan baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa) dan
sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir
di laut. Proses perjalanan air di daratan tersebut terjadi dalam komponen-komponen siklus
hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS).
Sampai saat ini, air permukaan sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan
pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik dan keperluan domestik lainnya. Penggunaan
air tanah umumnya masih terbatas untuk minum, rumah tangga, sebagian industri, usaha
pertanian pada wilayah dan musim-musim tertentu. Sumberdaya air merupakan sumberdaya
yang terbaharuinamun demikian ketersediaannyatidak selalu sesuai dengan waktu, ruang,
jumlah dan mutu yang dibutuhkan. Tujuan kegiatan pengembangan air permukaan adalah :
- memanfaatkan potensi sumber air permukaan untuk irigasi
- meningkatkan ketersediaan air irigasi sehingga dapat menjamin pasokan air dalam usaha

tani
- meningkatkan luas areal tanam, indeks pertanaman dan produktivitas usaha tani
- meningkatkan produksi pertanian, pendapatan dan kesejahteraan petani.
2.3. Peranan Air Bagi Pertanian
Dalam kegiatan budidaya pertanian baik dalam pengembangan tanaman pangan, holtikultura,
peternakan maupun perkebunan; ketersediaan air merupakan faktor yang sangat strategis.
Tanpa adanya dukungan ketersediaan air yang sesuai dengan kebutuhan baik dalam dimensi
jumlah, mutu, ruang maupaun waktunya, maka dapat dipastikan kegiatan budidaya tersebut
akan berjalan dengan tidak optimal. Selain itu yang paling penting adalah manusia sangat
membutuhkan air untuk memenuhi segala kebutuhannya. Oleh karena itu, perlu dilakukannya
pengembangan sumber-sumber air.
Sebagaimana diketahui, setiap daerah di Indonesia tidak seluruhnya mendapatkan curah
hujan yang sama, dengan demikian akan terdapat dua daerah ada yang curah hujannya telah
mampu mencukupi kebutuhan pengairan dan ada daerah dengan lahan yang memerlukan
pengairan (irigasi) bagi pertaniannya. Untuk itu, diperlukan pengelolaan air agar air yang
tersedia mampu digunakan seefektif dan seefisien mungkin agar mampu memenuhi
kebutuhan pertanian, dll.
2.4. Keadaan Pertanian di Indonesia
Lahan kering di Indonesia, 33,3 juta Ha (BPS, 1997), dengan sebagian besar lahan tersebut
beriklim kering tipe D dan E berdasarkan klasifikasi zona iklim Oldeman.
Selain fakta tersebut, saat ini kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Indonesia.
Ratusan ribu hektare tanaman pangan, terutama padi, di Pulau Jawa terancam. Luas lahan
padi yang potensial gagal panen terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang
berubah pola.
Para ahli mengaitkannya dengan gejala pemanasan global yang menyebabkan musim hujan
dan kemarau di Indonesia bergeser. Musim kemarau yang biasanya terjadi pada periode April
sampai Oktober, tahun ini baru dimulai pada Juli. Demikian juga dengan musim hujan yang
bergeser dari November sampai Maret ke Februari hingga Juni. Total luas tanaman padi yang
kekeringan selama Januari-Juli 2007 mencapai 268.518 hektare. Kawasan tropis ditengarai
akan menderita pukulan produksi pangan akibat besarnya variabilitas iklim menjelang
2030. Itu berarti kerawanan pangan akan sering terjadi. Kekhawatiran ini cukup beralasan.
Karena meski bencana kekeringan sudah mengancam dan melanda sentra-sentra produksi
beras di Jawa, pemerintah malah membantah terjadi bencana kekeringan nasional pada
musim kemarau sekarang ini. Petani di daerah pantai utara (pantura) Jabar dan Jateng padahal
sudah berteriak sawah mereka kering. Pemerintah harus menanggapi masalah ini dengan
serius karena menyangkut produksi beras nasional. Pemerintah harus cepat menangani
bencana alam yang sudah di depan mata.
Berdasarkan hasil analisis data historis yang disampaikan Direktur PLA Deptan, kekeringan
kali ini selain merupakan kejadian musiman biasa, juga akumulasi dan interaksi tiga faktor
penyebab lainnya, yaitu degradasi lingkungan dan sumber daya air, tata kelola air yang
memburuk, dan dampak perubahan iklim global. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah
harus mengantisipasi dengan cepat dan tepat faktor ini.
Dari permasalahan tersebut maka dibutuhkan suatu sistem pengaturan air/pengairan (irigasi)
yang mampu memenuhi kebutuhan tanaman pertanian akan air pada saat-saat air hujan tidak
dapat lagi diharapkan.
2.5. Sistem Irigasi
Kemarau datang, keresahan petani lahan kering semakin meningkat. Terbatasnya persediaan

air irigasi untuk usaha taninya selalu menjadi masalah. Salah satu kendala pada daerah ini
adalah terbatasnya air untuk tanaman, oleh karena itu dibutuhkan sistem irigasi pada saat
terjadi saat-saat kering.
Untuk mengantisipasi dampak kemarau atas ketersediaan air untuk pertanian, penerapan
beberapa Teknologi Tepat Guna akan sangat membantu diantaranya adalah sistem irigasi
mikro, Teknologi Embung, Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir), dan Sistem Irigasi
Kendi.
2.5.1. Sistem Irigasi Mikro
Irigasi mikro adalah salah satu terobosan yang bisa dilakukan. Teknologi ini adalah suatu
istilah bagi sistem irigasi yang mengaplikasikan air hanya di sekitar zona penakaran tanaman.
Irigasi mikro ini meliputi irigasi tetes (drip irrigation), microspray dan mini-sprinkler.
BBP Mekanisasi Pertanian telah melakukan pengembangan sistem irigasi mikro. Lokasi
pengembangan pertama dilakukan di kebun percobaan BBP Mektan Serpong. Pengembangan
sistem irigasi tetes (drip) diterapkan untuk budidaya cabai dan jagung manis. Sistem irigasi
sprinkler diterapkan pada tanaman kacang tanah. Pengujian kinerja terhadap sistem irigasi
tetes diperoleh bahwa tingkat keseragaman tetesan untuk tanaman cabai mencapai 82.82%
(SU) dan 88.74% (DU) sedangkan untuk tanaman jagung 83.46% (SU) dan 88.21% (DU).
Dengan hasil uji tersebut dapat dikatakan bahwa sistem irigasi tetes yang digunakan untuk
tanaman cabai dan jagung termasuk dalam katagori BAIK. Faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkat keseragaman tersebut antara lain adalah: kondisi filter air, kondisi lubang emitter yang
tersumbat oleh tanah, perubahan koefisien gesek pada pipa lateral karena tumbuhnya lumut
dsb.
Sedangkan untuk sistem irigasi curah diperoleh hasil tingkat keseragamannya mencapai
89.91% (CU). Dengan demikian sistem irigasi curah yang digunakan untuk tanaman kacang
tanah termasuk kategori BAIK menurut standard Christiansen. Hasil ubinan tanaman cabai
rata-rata pada lahan irigasi tetes adalah 4.4 ton/ha. Menurut Kusuma Inderawati (1982),
potensi hasil yang dapat dicapai oleh tanaman cabai mencapai 6.21 ton/ha bila dilakukan
perlakuan yang tepat terhadap jarak tanam, pH tanah 6 dan pemberian air yang tepat waktu
dan kebutuhan. Hasil biji jarak petak sampel bervariasi karena tingkat keseragaman tetesan
juga bervariasi. Hasil maksimum yang mampu dicapai adalah 5.55 ton/ha pada tingkat
keseragaman 91.50%. Hasil ubinan tanaman kacang tanah rata-rata adalah 2.46 ton/ha. Hasil
panen ubinan diperoleh bahwa produksi tanaman kacang tanah bervariasi mulai dari yang
terendah 1.68 ton/ha sampai tertinggi 3.13 ton/ha. Hasil biji pada petak sampel bervariasi
karena tingkat keseragaman curahan juga bervariasi. Kenampakan fisik tanaman di lapangan
mendukung tingkat keseragaman distribusi curahan lebih baik dibanding irigasi tetes.
Hasil ubinan panen jagung untuk pemberian air dengan irigasi tetes mencapai 6,6 ton/ha.
Hasil yang dicapai oleh irigasi tersebut hampir sama dengan rata-rata hasil potensial jagung
varietas Semar yaitu 6 8 ton/ha. Selisih hasil yang dicapai antara penelitian di Serpong dan
hasil potensialnya diperkirakan karena total air yang diberikan dalam satu periode musim
tanam untuk metode irigasi tetes adalah 336,39 mm. Untuk mencapai kondisi potensial hasil
diperlukan total air minimal 420 mm/musim serta syarat agronomis yang baik. Hasil
maksimum yang mampu dicapai 7.8 ton/ha. Sehingga diduga hasil panen jagung masih dapat
ditingkatkan lagi dengan meningkatkan tingkat keseragaman curahan sistem irigasi yang
digunakan.
Lokasi pengembangan berikutnya adalah di lahan pasang surut Kalimantan Selatan yang
dilaksanakan tahun anggaran 2006. Sistem irigasi yang diterapkan adalah irigasi tetes (drip)
dengan menggunakan komponen emiter yang lebih murah (bekas tutup botol aqua). Hal ini
merupakan terobosan baru untuk menjawab penggunaan teknologi tepat guna.
Atas dasar beberapa terobosan baru yang telah dilakukan oleh BBP Mektan, diharapkan

mampu mengurangi kesulitan petani di musim kemarau. Juga disadari bahwa terobosan
penerapan irigasi mikro di lahan kering membutuhkan investasi awal yang mahal. Untuk
mengurangi beban petani, peran pemerintah dan dinas terkait sangat diperlukan dalam
pendampingan kelembagaan. Penguatan kelembagaan di tingkat petani harus segera
dilakukan, karena dengan kelembagaan yang kuat dapat mengelola sistem irigasi mikro
dengan baik. Diharapkan petani di lahan kering dapat memanfaatkan salah satu sistem irigasi
dalam pertaniannya.
2.5.2. Embung
Untuk mengantisipasi dampak kemarau atas ketersediaan air untuk pertanian, penerapan
beberapa Teknologi Tepat Guna akan sangat membantu diantaranya adalah: Teknologi
Embung. Teknologi ini pernah digalakkan beberapa tahun lalu dan telah terbukti berhasil
pada daerah Semi Arid Tropic di dunia.
Di beberapa tempat di Indonesia teknologi ini sudah diterapkan. Embung adalah kolam
penampung air hujan untuk mensuplai air di musim kemarau, menurunkan volume aliran
permukaan sekaligus meningkatkan cadangan air tanah, dan mengurangi kecepatan aliran
permukaan hingga daya kikis dan daya angkutnya menurun.
Teknologi Embung dapat meningkatkan intensitas tanah dan hasil usaha tani. Di Yogyakarta
penanaman dapat dilakukan sepanjang tahun dengan pola padi, tembakau, jagung. Nilai usaha
tani pada sawah tadah hujan meningkat dari Rp 4,3 juta/ha/tahun menjadi Rp 11,7
juta/ha/tahun. Pada lahan kering, maka usaha tani meningkat dari Rp 3,5 juta menjadi Rp 8,3
juta/ha/tahun.
Selain itu, Embung juga dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan, dan air embung dapat
pula dimanfaatkan untuk minum bagi ternak. Dengan penerapan teknologi ini, dalam jangka
panjang diharapkan muka air tanah naik sehingga dapat dibuat sumur untuk keperluan rumah
tangga. Lokasi yang sesuai untuk konstruksi umum bagi teknologi embung adalah :
1) Lapisan tanah bagian bawah kedap air,
2) kemiringan lahan kurang dari 40%,
3) tidak langsung dilalui oleh saluran pembuangan air utama.
2.5.3. Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir)
Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir), Sistem irigasi dam parit adalah sistem yang
memanfaatkan aliran sungai dengan cara memotong aliran sungai dan mengumpulkan air dari
aliran sungai tersebut untuk didistribusikan ke saluran irigasi yang ada. Dengan sistem ini,
aliran permukaan dapat dikurangi sehingga dapat digunakan sebagai cara untuk
penanggulangan banjir. Di samping itu, sistem ini dapat mengurangi sedimentasi dan
pendangkalan sungai akibat sedimentasi karena berkurangnya laju aliran permukaan, dan
meningkatkan permukaan air tanah. Sistem ini dikembangkan oleh Pusat Penelitian Tanah
dan Agroklimat Badan Litbang Pertanian.
2.5.4. Sistem Irigasi Kendi
Guna mendapatkan sistem irigasi yang hemat air untuk daerah lahan kering dan ancaman
kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia setiap tahun Setiawan et al (1998)
telah mengembangkan sistem irigasi kendi di Indonesia sejak tahun 1996. dengan sistem ini
air irigasi diberikan langsung pada zona perakaran tanaman dan penanaman tanaman lain di
sekitar zona pembasahan. Sistem Irigasi Kendi. Ini adalah salah satu bentuk pemberian air
pada tanaman melalui zona per-akaran tanaman. Irigasi kendi ini dapat menghemat
penggunaan air dengan cara mengatur melalui sifat porositas kendi.
Mondal (1974) dan Stein (1990) memasukkan sistem irigasi kendi ke dalam sistem irigasi
bawah permukaan. Selanjutnya Stein (1990) menggolongkannya lagi ke dalam irigasi lokal

(Local Irrigation), karena rembesarn air irigasi terjadi secara lambat dengan volume yang
rendah (kecil) pada zona perakaran tanaman, sehingga hanya sebagian tanah yang terbasahi,
maka sistem irigasi ini mampu mengurangi evaporasi dan perkolasi (Modal, 1978).
Teknologi tersebut sudah pernah diujicobakan di lapangan dengan hasil memuaskan di
beberapa daerah yaitu, NTB, NTT, Lombok Timur, Sukabumi, dan Bogor. Prof. DR. Budi
Indra Setiawan yang melakukan penelitian tersebut, mengatakan bahwa lahan kering kini bisa
menjadi lahan produktif terutama untuk budidaya hortikultura dengan menerapkan teknologi
irigasi hemat air dan pupuk yaitu dengan teknologi irigasi kendi. Dijelaskan pula, penerapan
teknologi tepat guna ini mampu meningkatkan pendapatan petani di desa-desa tertinggal yang
pada umumnya berlokasi di lahan-lahan kering. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan
air dan pupuk pada budidaya tanaman di lahan terbuka, rumah kaca ataupun tanaman sela di
antara tanaman perkebunan seperti cabai, lemon, melon, tomat dan lainnya. Dengan
menggunakan kendi yang dirancang khusus agar dapat mengeluarkan keringat apabila diisi
dengan air, bila kendi tersebut ditanam dalam tanah, maka air dalam kendi akan merembes
melalui dindingnya kemudian membasahi tanah langsung ke daerah perakaran.
Sementara itu mengenai cara penggunanaanya, volume air dalam kendi dijaga agar selalu
terisi air dengan menerapkan teknologi pemberian air bertekanan tetap yang dirancang
khusus terbuat dari tangki air. Dengan demikian, pemberian air dan pupuk cair dapat
dilakukan secara terpusat dan terkendali sehingga meringankan petani dalam mengairi
tanamannya.
Secara operasional, kendi ditanam di bawah tanah dekat dengan zona perakaran tanaman.
Jumlah kendi yang ditanam tergantung pada jenis tanaman, kebutuhan air tanaman, suplai air
serta porositas tanah dan kendi.
Mekanisme pengisian air ke dalam kendi adalah dengan memasukkan air yang berasal dari
air hujan atau sumber air lainnya melalui selang air. Pada waktu musim kering dimana
ketersediaan air di dalam tanah berkurang, maka air dalam kendi akan mengalir ke luar
melalui pori-pori kendi sesuai dengan prinsip hukum keseimbangan tekanan air di dalam
tanah.

BAB III
KESIMPULAN
Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Ratusan ribu hektare tanaman
pangan, terutama padi, di Pulau Jawa terancam. Luas lahan padi yang potensial gagal panen
terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang berubah pola.
Perubahan iklim, para ahli mengaitkannya dengan gejala pemanasan global menyebabkan
musim hujan dan kemarau di Indonesia bergeser. Musim kemarau yang biasanya terjadi pada
periode April sampai Oktober, tahun ini baru dimulai pada Juli. Demikian juga dengan musim
hujan yang bergeser dari November sampai Maret ke Februari hingga Juni. Total luas
tanaman padi yang kekeringan selama Januari-Juli 2007 mencapai 268.518 hektare.
Air demikian penting bagi kehidupan manusia, berbagai sektor dan kepentingan lainnya.
Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah air pengairan, yang sering bahkan menimbulkan
berbagai masalah bagi berbagai kehidupan, jika tidak mampu melestarikannya. Kemarau
datang, keresahan petani lahan kering semakin meningkat. Terbatasnya persediaan air irigasi
untuk usaha taninya selalu menjadi masalah. Salah satu kendala pada daerah ini adalah
terbatasnya air untuk tanaman, oleh karena itu dibutuhkan sistem irigasi pada saat terjadi
saat-saat kering.
Untuk mengantisipasi dampak kemarau atas ketersediaan air untuk pertanian, penerapan
beberapa Teknologi Tepat Guna akan sangat membantu diantaranya adalah sistem irigasi
mikro, Teknologi Embung, Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir), dan Sistem Irigasi
Kendi.