Anda di halaman 1dari 10

GEOLOGI DAN ANALISI PETROGRAFI BATUAN VULKANIK

DI DAERAH JERUKLEGI DAN SEKITARNYA, KECAMATAN JERUKLEGI,


KABUPATEN CILACAP, PROVINSI JAWA TENGAH
GEOLOGY AND ANLYSIS PETROGRAPHIC VOLCANIC ROCK
AT JERUKLEGI AND ITS SURROUNDINGS AREAS JERUKLEGI DISTRICT,
CILACAP REGENCY, CENTRAL JAVA PROVINCE

Gabriel Pereira, S.T., Arie Noor Rakhman S.T, M.T.,dan Dr.Sri Mulyaningsih S.T, M.T.
Teknik Geologi IST AKPRIND, Jln. Kalisahak No. 28 Yogyakarta, Indonesia
Email : pereiraari20@yahoo.co.id, arie_akprind@yahoo.co.id
Intisari
Batuan vulkanik yang terdapat pada daerah lokasi penelitian tidak terlepas dari
tatanan tektonik penunjaman lempeng samudra di bawah lempeng benua. Salah satu
batuan vulkanik yang ada pada daerah penelitian tuf dan lava. Tuf merupakan salah satu
produk dari gunung api dengan tipe letusan eksplosif dan lava merupakan magama yang
mengalir mengikuti rekahan ke permukaan bumi dan mendingin dengan cepat karena
kontaminasi langsung dengan udara sehingga membeku secara cepat. Salah satu cara
untuk mengetahui struktur, tekstur dan komposisi dengan menganilisis di bawah
mikroskop sehingga untuk bisa menentukan struktur, tekstur dan komposisi.
Kata kunci : struktur, tekstur,komposisi.
Abstract
Volcanic rocks are found in the areas where research can not be separated from
the order tectonic subduction ocean under the continental plate. One of the volcanic
rocks that exist in the study area tuff and lava. Tuff is one of the products of the volcano
with the type of explosive eruptions and lava is flowing magama follow fractures to the
earth's surface and cools quickly due to direct contamination with air so rigid quickly. One
way to determine the structure, texture and composition with menganilisis under a
microscope so as to be able to determine the structure, texture and komposis.
Keywords: structure, texture, composition.

Pendahuluan
Penelitian dilakukan dengan
pemetaan
terlebih
dahulu
untuk
mengamati
aspek
stratigrafi,
geomorfologi, struktur geologi, sejarah
geologi. Adanya batuan vulkanik yang
tersebar luas di daerah penelitian yang
menunjukkan potensi minyak bumi,
maka tulisan ini menyajikan bahasan
permeabilitas batupasir formasi Kerek
sebagai reservoir minyak bumi, dari
hasil pengukuran permeabilitas yang

dilakukan
akan
diperoleh
seberapa baik batupasir formasi kerek
sebagai reservoir. Daerah penelitian
dibatasi oleh koordinat 07o3230 LS
07o3730 LS dan 109o 0000 BT 109 o
0500 BT, terletak dalam wilayah
pemerintahan Kabupaten Cilacap dan
Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa
Tengah (gambar 1).

Gambar .1 Peta indeks dan lokasi penelitian (penulis, 2015)


Geologi
1. Regional
Secara
regional
daerah
penelitian masuk didalam Peta Geologi
Regional Lembar Banyumas yang
terletak pada beberapa lajur fisiografi
yaitu
Lajur
Depresi
jawa
dan
Randublatung (Bemmelen, 1949).
Dalam
Geologi
Lembar
Banyumas, Jawa (Asikin dkk, 1992)
daerah pada lembar Banyumas dapat
dibedakan atas beberapa satuan
morfologi, yaitu dataran rendah, dataran
tinggi, perbukitan rendah dan perbukitan
bergelombang.
Dalam
Geologi
Lembar
Banyumas, Jawa (Asikin dkk, 1982)
batuan tertua yang tersingkap pada
daerah penelitian adalah Formasi
halang (Tmph) yang berumur Miosen
Tengah, yang terendapkan dalam
lingkungan darat, tersebar luas di
daerah penelitian Jeruklegi. Ciri litologi
terdiri dari napal dan tuf. Formasi ini
tidak selaras dengan satuan lava
andesit dan lava basalt yang berumur
Miosen Tengah-pliosen Awal, yang
terendapkan dalam lingkungan darat.
Formasi halang di daerah penelitan
adalah produk dari gunung api dengan
litilogi penyusun tuf halus ketebalan
225m, tuf sedang ketebalan 225m, lava
basalt dengan ketebalan 475m dan lava
andesit dengan ketebalan 175m.

2. Daerah penelitian
Geomorfologi daerah penelitian
berdasarkan Zuidam (1983) terdiri atas
3 satuan geomorfologi, yaitu: satuan
perbukitan struktural terdenudasi terdiri
dari 2 subsatuan yaitu Subsatuan
Geomorfik Blok Sesar (S1), Subsatuan
Geomorfik Gawir Sesar (S2), Satuan
Geomorfik Perbukitan Terkikis (D1),
Satuan Geomorfik Fluvial terdiri dari 3
yaitu Subsatuan Tubuh Sungai (F2),
Subsatuan Dataran Banjir (F7) dan
Subsatuan Geomorfik Dataran Alluvial
(F1).
(gambar 2). Stadia sungai di
daerah penelitian berumur mudadewasa dengan stadia daerah sampai
dewasa. Pola aliran daerah penelitian
yaitu subdendritik, subparalel dan
paralel.
Batuan daerah penelitian dibagi
menjadi 5 satuan batuan tidak resmi
(gambar 2) dari yang tua sampai yang
muda berdasarkan umur fosil yang
terdapat dalam batuan: satuan Lava
Andesit (Miosen Tengah-Pliosen Awal),
satuan Lava Basalt (Miosen AkhirPliosen Awal), satuan Tuf Sedang
(Miosen Tengah-Pliosen Awal), satuan
Tuf Halus (Miosen Tengah-Pliosen
Awal), dan Endapan Aluvial (gambar 2
dan 3).

Gambar 2. Peta geologi lokasi penelitian (penulis, 2015)


Struktur
geologi
daerah
penelitian melingkupi struktur sesarsesar mendatar (sesar mendatar kiri
arah tenggara-barat laut, timur laut-barat

daya dan utara selatan). dan lipatan


(sinklin dan antiklin arah timur barat)
yang dikontrol oleh gaya kompresi
dengan
arah
selatan-utara.

Gambar 3. Hubungan stratigrafi lokasi penelitian dengan stratigrafi regional

Dasar Teori
Kata gunung api atau vulkano
berasal dari bahasa Italia yaitu kata
vulcano yang berarti Dewa Api
(penjaga pada tubuh gunung api).
Dalam bahasa Belanda vulkaan yang
berarti gunung api. Dalam bahasa
Inggris: volkanologi berasal dari kata
volcanology, yaitu volcano (gunung
api) dan logos (ilmu). Jadi, di Indonesia
dapat menyebutnya ilmu gunung api,
vulkanologi atau volkanologi, namun
penyebutan harus secara konsisten
(Mulyaningsih, 2013).
Vulkanologi atau volkanologi
adalah salah satau ilmu dalam ilmu-ilmu
kebumian yang mempelajari seluk beluk
gunung
apian.
Ruang
lingkup
vulkanologi ini meliputi proses geologi
yang
membentuk
gunung
api,
mekanisme aktivitas gunung api, matrial
yang dihasilkan oleh gunung api, dan
implikasi (positif dan negatif) akibat
keberadaan gunung api.
Batuan beku adalah batuan
yang terbentuk dari pembekuan magma
di dalam permukaan bumi atau
pembekuan lava di permukaan bumi.
Secara genesa, batuan beku dapat
dibagi menjadi tiga yaitu batuan beku
yang membeku di dalam permukaan
bumi (plutonik), sebagai produk intrusi
minor (hipabisal), dan yang membeku di
permukaan bumi (vulkanik).
Salah satu yang menjadi pokok
bahasan disini adalah batuan vulkanik.
Berdasarkan proses pembekuannya
batuan vulkanik dikelompokan menjadi
dua bagian yaitu: batauan beku ekstrusi
batuan piroklastik. Berkaitan dengan
judul penelitian maka akan membahas
mengenai beberapa konsep dasar
batuan vulkanik. Batuan vulkanik adalah
batuan yang terbentuk sebagai hasil dari
kegiatan
gunungapi.
Kegiatan
gunungapi diartikan sebagai proses
keluarnya magma dari dalam bumi ke
permukaan. Batuan vulkanik dapat
dikenal melalui dari tekstur, struktur dan
komposisi mineral. Tekstur batuan
vulkanik
memberikan
informasi
mengenai proses pembekuan magma
dan struktur batuan vulkanik mencirikan
batuan tersebut intrusi atau ekstrusi,

sedangkan komposisi mineral pada


batuan vulkanik berkaitan dengan warna
batuan dan asal magma batuan.
Ciri fisik batuan gunung api
dengan keberadaan dari segala tatanan
tektonik lingungan pengendapan dari
berbagai lingkungan seperti pada
lingkungan laut maupun lingkungan
darat. Matrial gunung api yang di
endapkan di lingkungan laut memiliki ciri
fisik (struktur atau tekstur) dan
komposisi mineral tertentu, begitu pula
dengan material gunung api yang
diendapkan
di
lingkungan
darat.
Komposisi dan jenis material gunung api
dapat dilihat pada table
Tabel 1. Nama-nama hasil aktivitas gunung
api secara deskriptif Fisher dan Schmincke,
(1984) dalam Mulyaningsih, (2013)

Fasies gunung api dapat dikenal


dengan baik pada gunung api tipe
komposit atau gunung api yang dibentuk
oleh proses subduksi. Fasies gunung
api
dapat
dikelompokan
dengan
didasarkan
pada
aktivitas
dan
mekanisme
pengendapan
material
gunung api, tipe dan komposisi material
gunung api, serta geomorfologinya.
Menurut Bogie dan Mackenzie (1998)
dalam Mulyaningsih, (2013) gunung api
komposit dapat terbagi kedalam empat
fasies, yaitu
pusat gunung api,
proksimal, medial dan distal (gambar 4).
sesuai dengan batasan fasies gunung
api, yakni sejumlah ciri litologi batuan
gunungapi pada suatu lokasi tertentu.

lemnah-lembah yang begitu dalam.


Struktur yang berkembang pada fasies
ini dalah sesar-sesar turung dan litologi
yang tersusun adalah lava.
3.
Fasies medial berada pada
tubuh/lereng bagian bawah hingga kaki
gunung api. fosil gunung api, bagian ini
kadang-kadang telah hilang atau
tertutup oleh endapan/batuan yang lebih
muda, dari gunung api bawah laut.
Morfologi pada fasies ini dengan
kemiringan lereng 80-300, dan pola aliran
subparalel-subdentritik.
Sedangkan
struktur geologi yang pada fasies ini
adalah sesar-sesar mendatar hingga
oblik. Litologi penyusun adalah breksi
lahar perselingan dengan endapan abu
gunung api/tuf.
4.
Fasies distal berada pada
daerah kaki hingga daratan gunung api,
dengan kemiringan lereng yang sangat
landau, yaiti 00-80. Fosil gunung api
sudah tidak ada lagi karen sudah ditutup
oleh sedimen atau batuan yang
numpang diatasnya. Pola pengaliran
pada fasies ini adalah dentritik dengan
sungai yang mengalir sepanjang masa.
Litologi
yang
menyusun
adalah
umumnya berupa tuf.
Dalam
metode
analisis
petrografi batuan vulkanik penulis
menggunakan klasifikasi Travis (1955)
dimana dalam klasifikasi tersebut untuk
menentukan tekstur, struktur dan
komposisi mineral yang terkandung
dalam batuan tersebut, dan juga untuk
menentukan jenis plagioklas.
1.
Struktur batuan vulkanik
a.
Masif: padat dan ketat; tidak
menunjukkan adanya lubanglubang keluarnya gas; dijumpai
pada batuan lava andesit

Gambar 4. Pembagian fasies gunung api


kerucut berdasarkan material penyusunnya
(Bogie dan Mackenzie, 1998 dalam
Mulyaningsih 2013)

Model Fasies Gunung Api ini


dapat dipakai ke dalam tipe gunung api
komposit seperti gunung api muda
(Selamat) yang terdapat di daerah
penelitian.
Berdasarkan
stratigrafi,
gunung api dibagi menjadi 4 Fasies
yaitu:
1. Fasies pusat
2. Fasies proximal
3. Fasies medial
4. Fasies distal
1.
Fasies pusat gunung api berada
pada bagian pusat gunung api, adalah
lokasi aktivitas gunung api berlangsung.
Fasies pusat gunung api ini masih
lengkap dengan tubuhnya dan memiliki
geomorfologi kawah atau kaldera atau
kuba lava gunung api. litologi penyusun
adalah intrusi dangkal, batuan teraltrasi,
aglomerat
dan
breksi
koignibrit
(endapan jatuhan balistik), leher gunung
api (volcanic necks), sill, retas, dan
kubah
bawah
permukaan
(cryptodomes). Selain itu, karena daerah
bukaan mulai dari conduit atau diatrema
sampai dengan kawah merupakan
lokasi terbentuknya fluida hidrotermal,
maka
hal
itu
mengakibatkan
terbentuknya mineral ubahan atau
bahkan mineralisasi. Apabila erosi di
fasies ini sangat lanjut, batuan berumur
tua yang mendasari gunung api juga
dapat tersingkap.
2.
Fasies
proksimal
berada
tubuh/lereng bagian paling atas dari
kerucut gunung api. morfologi pada
fasies ini sangat miring, dengan
kemiringan lereng mencapai 600. Pola
aliran yang berkembang adalah paralel
dengan tubuh sungai intermiten dan

Gambar 5. Struktur masif sayatan petrografi


nikol sejajar LP 8 penulis (2015)

b.

Skoria: dijumpai lubang-lubang


keluarnya gas dengan susunan
yang tidak teratur; dijumpai pada
bagian luar batuan ekstrusi dan
intrusi dangkal, terutama batuan
vulkanik: andesit dan basalt

d.

Metode
analisis
sudut
pemadaman plagioklas yang mengikuti
Hukum Albit memiliki bidang kembaran
sejajar dengan bidang (010). Untuk
mengukur sudut pemedaman, carilah
kristal plagioklas yang terpotong tegak
lurus bidang (010) atau sejajar sumbu B,
yang dicirikan oleh:

Gambar 6. Struktur berongga sayatan


petrografi nikol sejajar LP 41 penulis (2015)

2.
a.

yang berada di antara / dalam


massa dasar gelas interstitial.
Tekstur ofitik yaitu tekstur batuan
beku yang dibentuk oleh mineral
plagioklas yang tersusun secara
acak dikelilingi oleh mineral
piroksen
atau
olivine.
Jika
plagioklasnya lebih besar dan
dililingi
oleh
mineral
ferromagnesian,
maka
membentuk tekstur subofitic

Tekstur batuan vulkanik


Tekstur porfiritik yaitu tekstur
batuan beku yang ditunjukkan
oleh susunan fenokris-fenokris
yang
tidak
sejenis
seperti
plagioklas;
piroksen
yang
tertanam dalam massa dasar
gelas.

1.

2.

Garis-garis perpotongan antara


bidang komposisi dengan bidang
sayatan (garis-garais kembaran)
nampak jelas dan tajam.
Bila garis kembaran diletakan
sejajar dengan benang silang
sama dan mergak maka semua
lembar kembaran memberikan
warna interferensi yang sama dan
merata.

Cara mencari sudut pemadaman:


1.

2.
Gambar 7. Tekstur porfiritik sayatan
petrografi nikol sejajar LP 41 penulis (2015)

b.

c.

Tekstur trakitik dicirikan oleh


susunan tekstur batuan beku
dengan kenampakan adanya
orientasi mineral arah orientasi
adalah arah aliran. Berkembang
pada batuan ekstrusi / lava, intrusi
dangkal seperti dike dan sill
Tekstur intersertal yaitu tekstur
batuan beku yang ditunjukkan
oleh susunan intersertal antar
kristal plagioklas; mikrolit plagiklas

3.

Posisi garis kembaran mineral


sejajar dengan benang silang
vertical, dalam kondisi warna
interferensi sama dan merata
catat skala noniusnya (X0).
Putar meja objek searah jarum
jam, sampai mineral dalam
keadaan gelap maksimum, catat
skala noniusnya (X1). (X0-X1 =
P).
Lakukan hal yang sama dengan
memutar meja objek berlawanan
dengan arah jarum jam, sampai
memdapat gelap maksimum (X2).
(X0-X2 = Q).
( 1) + ( 2)
=
2

4.

Masukan
harga
sudut
pemedaman (S) kedalam kurva
Michel Levy sebagai ordinatnya.
Kemudian Tarik garis horizontal
hingga memotong kurva yang ada
(Gambar 8).

yang
baku/internasional
dan
menggunakan alat bantu mikroskop
polarisasi.
Analisis
petrografi
ini
dilakukan untuk mengetahui mineral
yang menyusun batuan tersebut beserta
teksturnya
secara
akurat,
dalam
mengelompokkan dan penamaan suatu
batuan ke dalam kelompok tertentu.
Kemudian dibuat tabel dan untuk
visualisasi dibuat foto mikroskopik
sayatan
tipis
batuan
(lampiran
petrografi). Selanjutnya data tersebut di
atas diinterpretasi untuk menentukan
kelompok/jenis batuan atau klasifikasi
batuannya. Hasil analisis petrografi
kemudian digabungkan dalam bentuk
tabel beserta nama batuan, komposisi
mineral, dan urutan satuan batuan Tabel
17 berikut ini merupakan hasil analisis
petrografi batuan vulkanik.

Gambar 8. Kurva analisis plagioklas sayatan


ptrografi menurut Michel Levy (1983)

Hasil dan Pembahasan


Analisis petrografi merupakan
pendiskipsian
mineral
dengan
mengunakan sayatan tipis (thin section)
dengan standar pembuatan sayatan tipis
Tabel 2. Hasil sayatan petrografi daerah penelitian
Lp
Plagio Pirok Horn Kuars Olivin
Gelas
Opak
Kristal
klas
sen
blend
a

2
108
40
46
94
105
8
9
21
24
110
14
15
37
41

28%

28%

14%

50%
40%
56%
50%
57%
32%
46%
41%
46%

34%
89%
78%
89%
89%
89%
20%
26%
20%
19%
19%
28%
20%
35%
22%

3%
4%
2%
4%
3%
17%
18%
20%
20%
20%

7%
12%

12%
20%
17%
18%

8%
10%
8%

10%
8%
4%
9%
7%
8%
6%
4%
4%
11%
4%
4%
4%
7%
6%

56%

Nama
batuan

Crystal tuff
Virtic tuff
Virtic tuff
Virtic tuff
Virtic tuff
Virtic tuff
Basalt
Andesit
Basalt
Basalt
Basalt
Basalt
Basalt
Andesit
Andesit

Buluruempang, pada satuan lava basalt


LP 15 pada umumnya berstruktur masif.
Hal ini menunjukkan tidak ada aliran
dalam masa dasar batuan dan magma

Analisis struktur batuan


Dari analisis struktur batuan
vulkanik di daerah Jeruklegi Dusun

yang memiliki kandungan gas yang


rendah.
Analisis tekstur batuan
Dari hasil analisis batuan
vulkanik di daerah Jeruklegi Dusun
Bulurempang
satuan
lava
basalt
bertekstur porfiritik, derajat kristalisasi
hipokristalin, bentuk kristal subhedralanhedral dan hubungan antar kristal
inequigranular. Hal ini menunjukkan
bahawa proses kristalisasi magma yang
berjalan dengan lambat sehingga
fenokris yang terdapat dalam tekstur
porfiritik lebih besar dari pada masa
dasar seperti gelas.

Gambar 9. Syatan petrografi di daerah


Bulurempang LP 15 (Foto penulis, 2015)

Analisis struktur batuan


Dari analisis struktur batuan
vulkanik di daerah Jeruklegi Dusun
Tembelang, pada satuan lava basalt LP
9 dengan struktur masif. Hal ini
menunjukkan tidak ada aliran dalam
masa dasar batuan karena pelepasan
magma memiliki kandungan gas yang
rendah
Analisis tekstur batuan

Analisis komposisi batuan


Komposisi batuan vulkanik di
daerah penelitian Dusun Bulurempang
dengan komposisi mineral plagioklas
bytownite Ca, ortho piroksen (Mg, Fe)2
Si2 06 dan gelas vulkanik Si adalah
magma yang sifatnya basa karena
mineral-mineral yang di jumpai dalam
batuan vulkanik lava basalt yang kaya
akan Ca karena proses kristalisasi
magma berada di zona kovergen.
Batuan vulkanik yang terdapat pada
daerah penelitian umumnya magma
yang berkomposisi basa. Seperti yang
diketahui, bahwa pulau Jawa terletak
pada
zona
konvergen.
Yang
menghasilkan busur vulkanik atau
vulkanik arc di pulau jawa. Akibat dari
aktivitas tektonik tersebut, menghasilkan
magma
yang
sifatnya
Ca-Alkalin
(intermediet
basa).
Hal
ini
mengakibatkan banyaknya terbentuk
mineral-mineral
Ca-Alkalin
seperti
piroksen dan Ca plagioklas.
Sedangkan
pada
batuan
piroklastik pada umumnya berkomposisi
gelas dan Kristal, hal ini menunjukkan
bahwa akibat dari erupsi freatik, tubuh
lava yang menyusun tubuh gunung api
yang kaya akan komposisi gelas hancur
yang bercampur denga abu gunung api
sehingga menghasilkan tuf yang kaya
akan gelas dan Kristal.

Dari hasil analisis batuan


vulkanik di daerah Jeruklegi Dusun
Tembelang satuan lava basalt bertekstur
porfiritik, derajat kristalisasi hipokristalin,
bentuk kristal subhedral-anhedral dan
hubungan antar kristal inequigranular.
Bahwa proses kristalisasi magma yang
berjalan dengan lambat sehingga
fenokris yang terdapar dalam tekstur
porfiritik lebih besar dari pada masa
dasar seperti gelas.
Analisis komposisi batuan
Komposisi batuan vulkanik di
daerah penelitian Dusun Tembelang
dengan komposisi mineral plagioklas
andesine Ca, klino piroksen (Mg, Fe)2
Si2 06 dan gelas vulkanik Si adalah
magma yang sitanya basa karena
mineral-mineral yang di jumpai dalam
batuan vulkanik lava basalt yang kaya
akan Ca karena proses kristalisasi
magma berada di zona kovergen.
Batuan vulkanik yang terdapat pada
daerah penelitian umumnya magma
yang berkomposisi basa. Seperti yang
diketahui, bahwa pulau Jawa terletak
pada
zona
konvergen.
Yang

DISKRIPSI MIKROSKOPIS:
Sayatan tipis batuan beku,
warna abu-abu gelap, struktur massif,
tekstur porfiritik, ukuran mineral 0,081.5 mm, bentuk subhedra-anhedral,
terdiri dari plagioklas, piroksen, mineral
opak, dan gelas volkanik.

menghasilkan busur vulkanik atau


vulkanik arc di pulau jawa. Akibat dari
aktivitas tektonik tersebut, menghasilkan
magma
yang
sifatnya
Ca-Alkalin
(intermediet
basa).
Hal
ini
mengakibatkan banyaknya terbentuk
mineral-mineral
Ca-Alkalin
seperti
piroksen Ca plagioklas.

DISKRIPSI MINERAL:

Gambar 10. Syatan petrografi di dusun


Tembelang LP 9 (Foto penulis, 2015)

1.

Plagioklas (56%), sebagai kristal


(30%) putih-abu-abu, indek bias
n>nkb, relief, bentuk subhedralanhedral, An 88 (jenis Bytownite),
sebagai massa dasar (26%)
berukuran 0,08- 1.5 mm , An 86
(jenis Bytownite), tersebar merata
dalam sayatan.

2.

Piroksen klino (20%), sebagai


kristal (14%) coklat, abu-abu
kehijauan, indek bias n>nkb, relief
tinggi, pleokroisme lemah, bentuk
subhedral- anhedral, ukuran 0,080,7mm. hadir sebagai masa dasar
( 6%)

3.

Mineral opak
(4%),
hitam,
isotrop relief tinggi, ukuran <0,080,1 mm, subangular.

4.

Gelas volkanik (20%), tidak


bewarna, pengamatan dengan
cross nikol bewarna gelap,
dengan Keping gips bewarna
ungu muda berkabut.

3
1
2
4

Nama

: Basalt (Travis, 1955)

Keterangan : 1. Plagioklas 2 .Piroksen 3.


Min opak 4. Gelas Volkanik

1
2

Gambar 11 sayatan petrografi LP 12

Keterangan : 1. Kuarsa 2. Min opak 3.


Gelas vulkanik (hampir merata)

Daftar Pustaka
Asikin, dkk, 1992. Peta Geologi Lembar
Banyumas,
Jawa.
Skala
1:100.000. Puslitbang Geologi,
Bandung.
Mulyaningsih. S., 2013, Vulkanologi,
Jurusan Teknik Geologi IST
AKPRIND
Travis B.R. 1955. The Rock Bok.
QuarterlyofoThe Colorado Sch
ol of Mines.

Gambar 12 sayatan petrografi LP 94


Deskripsi Mikroskopis :
Warna abu-abu keputihan ,
tekstur klastik, ukuran butir debu- pasir
halus (0,01-0,08 mm), komposisi terdiri
dari gelas vulkanik, plagioklas, kwarsa
dan mineral opak. Tampak sebagian
besar gelas .

Zuidam, R.W. Van, 1983, Guide to


Geomorphologic
Aeral
Photographic Interpretation and
Mapping, Section of Geology
and
Geomorphology,
ITC,
Enschede, The Netherlands

Deskripsi Mineral :
1.
Kuarsa
(4%)
: abu-abu
keputihan, relief rendah, indeks
bias n>nkb, berukuran 0,05
0,07mm,
pemadaman
bergelombang, bentuk menyudut
tanggung.
2.

Mineral opak
(7%) : Warna
hitam, kedap cahaya, berukuran
(0,06-0,08) mm,
penyebaran
tidak merata.

3.

Gelas Vulkanik (89%) : abu-abu


kehitaman, nikol silang berwarna
gelap,
dengan
keping
gip,
berwarna violet, sebagian telah
lapuk menjadi lempung.
Nama Batuan
:
Vitric tuff
(Pettijohn, 1975)

Kesimpulan
Dari hasil analisis petrografi batuan
vulkanik
penulis
menggunakan
klasifikasi Travis (1955) dan Pettijohn
(1975). Dengan klasifikasi ini akan
menentukan
mineral-mineral
yang
terkandungan dalam batuan tersebut
sebagai acuan untuk menentukan nama
batuan.

10