Anda di halaman 1dari 3

Analisis Arus Purba pada Struktur Sedimen :

Diagram Rose Cerminkan Pola Arus Purba


Dalam menganalisa arus purba dari struktur sedimen adalah
dengan melihat dari struktur sedimen primer, dimana struktur dapat
menjelaskan arah dari arus purba pada masa lalu. Data data yang dapat
dihasilkan dari analisa arah arus purba ini adalah arah paleoslope, arah/
pola penyebaran sedimen, hubungan arus purba dengan geometri satuan
batuan dan lokasi daerah sumber sedimen sehingga dapat dimanfaatkan
untuk mengetahui pola penyebaran placer deposit.
Pada intepretasi arus purba yang harus diperhatikan adalah apakah
struktur sedimen tersebut, dikarenakan perbedaan penentuan struktur
sedimen dapat intepretasi yang dilakukan nantinya salah, semisal
perlapisan dan laminasi silang siur akan miring ke arah arus, akan tetapi
jika silang siur yang dihasilkan adalah climbing ripple maka struktur
tersebut akan miring berlawanan dengan arah arus.
Dalam melakukan pengukuran dan analisa arus purba yang harus
dilakukan adalah dengan menganalisa struktur struktur yang ada secara
3 dimensi sehingga dapat dikukur jurus atau strike dan kemiringan atau
dip sesungguhnya (true strike dan dip). Namun apabila yang bisa diukur
adalah apperent dip dan strike nya maka harus dilakukan langkah koreksi
denganstereographic net seperti wulf net. Pada prinsipnya arah arus
purba adalah tegak lurus dengan strike atau searah dengan dip. Untuk
struktur sedimen yang bersifat linier seperti pada groove cast dan gutter
cast, dll) yang dapat diukur adalah nilai plunge atau pitch struktur
sedimen tersebut.
Setelah dilakukan pengukuran pada arah arah jurus dan
kemiringan pada struktur sedimen untuk menentukan arah dari arus
purba dominan adalah dengan salah satunya membuat diagram mawar.
Dengan membuat diagram mawar kita bisa mengetahui arah dominan dari
arus purba, pembuatan arah dominan dari arus purba adalah dengan
membuat kelas kelas yang semakin banyak varian dari strike dip yang
ada maka semakin kecil nilai kelasnya, akan tetapi semisal yang ditemui
adalah struktur mega cross bed maka dapat dilakukan pengepolotan /
analisa secara individu arah arus purba pada daerah itu. Cara
pengeplotan/ analisa menggunakan diagram mawar memiliki kekurangan
dibandingkan dengan menggunakan stereographic netdimana pada
diagram rose tidak dapat dilakukan pengeplotan kemiringan sehingga
hanya dapat diketahui arah arus purba pada orientasi horizontal tidak
seperti pada stereographic net yang bisa hingga orientasi vertikal
(Collinsor & Thompson, 1982; Graham, 1988).
Penentuan arus purba dominan dapat digolongkan menjadi 3 jenis
yaitu unimodal, bimodal, dan polymodal, hal ini didasarkan dari jumlah
kelas yang dominan yang terdapat pada hasil pengeplotan pada diagram
mawar, jika didapatkan ada 1 kelas saja yang dominan maka hal ini
disebut unimoda, jika terdapat 2 kelas yang dominan dan terletak saling

berseberangan maka hal ini disebut sebagai sistem bimodal, sedangkan


jika terdapat lebih dari 2 maka disebut polimodal.

Gambar 6. Pola Arus Purba (Tucker, 1991).


Hasil analisa arus purba ini juga dapat dimanfaatkan unttuk
mengetahui banyak hal yang berhubungan dengan proses sedimentasi,
untuk mendapatkan hasil maksimum tentu saja hasil analisis arus purba
harus didukung oleh data data sekunder. Contohnya adalah dalam
menentukan hierarki bedforms pada lingkungan fluvial, dimana dalam
sistem fluvial bisa
terdapat
beberapa
hierarki, bedforms orde
1
adalah channel forms, orde 2 adalah gosong tepi, orde 3 adalah
gelembur dengan skala yang besar dan orde 4 adalah ripple skala kecil.
Orde orde dalambedforms ini menunjukkan tingkat variasi dari arah
arus purba dimana paling banyak adalah variasi orde 4 dan paling sedikit
variasinya adalah pada orde 1 (Graham, 1989). Selain untuk menentukan
morfologi yang terbentuk orde orde arus purba juga dapat untuk
menentukan lingkungan pengendapan.
Tabel lingkungan pengendapan, strukur sedimen direksional dan
pola penyebaran tipikalnya (Tucker, 1991) :

Sumber :

Nichols, Gary, 2009, Sedimentology and Stratigraphy 2nd ed., John Willey & Sons Ltd.,
Chinchester.
Surjono, Sugeng S., et al., 2010, Analisis Sedimentologi, Pustaka Geo, Yogyakarta.
Tucker, Maurice E., 2003, Sedimentary Rocks in the Field 3rd ed., John Willey & Sons Ltd.,
Chinchester.
Tucker, Maurice E., 2001, Sedimentary Petrology : An Introduction to the Origin of
Sedimentary Rocks 3rd ed., Blackwell Publishing Co., Malden.

Anda mungkin juga menyukai