Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Penyakit
a. Definisi
Tuberculosis tulang belakang atau disebut juga spondilitis tuberkulosa
merupakan peradangan granulose yang bersifat kronik destruktif oleh
mikrobakterium tuberkulosa ( Rasjad, 2007 ).
Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa
infeksi granulomatosis disebabkan oleh kuman spesifik yaitu mikrobakterium
tuberculosa yang mengenai tulang vertebra.
Spondilitis TB disebut juga penyakit Pott bila disertai paraplegi atau
defisit neurologis. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebra Th 8-L3
dan paling jarang pada vertebra C2. Spondilitis TB biasanya mengenai korpus
vertebra, sehingga jarang menyerang arkus vertebra (Mansjoer, 2000).
Spondilitis tuberculosis disebut juga penyakit pott. Spondilitis ini
sering ditemukan pada vertebra T8 - L3 dan paling jarang pada vertebra C1 C2
( Sjamsuhidajat, 1997 ).
Spondilitis tuberkulosa ialah suatu bentuk infeksi tuberculosis
ektrapulmoner yang mengenai tulang belakang (vertebra). Infeksi mulai dari
korpus vertebra menjalar ke diskus intervertebralis dan kemudiaan mencapai
alat-alat dan jaringan di dekatnya.
b. Etiologi
Tuberculosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosa
ditempat lain ditubuh, 90-95 % disebabkan oleh mikrobakterium tuberkulosis
tipik ( 2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin ) dan 5 10 % oleh
mikrobakterium atipik. Lokalisasi spondilitis tuberkulosaterutama pada daerah
vertebra torakal bawah dan lumbal atas, sehingga diduga adanya infeksi sekunder
dari suatu tuberculosis traktus urinarius, yang penyebarannya melalui fleksus
Batson pada vena paravertebralis. Kuman mikrobakterium tuberkulosa bersifat
tahan asam dan cepat mati apabila terkena matahari langsung ( Rasjad, 2007 ).
c. Patofisiologi
Spondilitis tuberkulosa merupakan kelanjutan dari penyebaran kuman
tuberkulosa yang sudah bermukim ditubuh, misalnya di paru atau kelenjar getah

bening. Penyebaran itu menyebar melalui darah arteri vertebralis. Kuman


tuberkulosa pertama bersarang di korpus vertebra. Infeksi berawal dari bagian
sentral, bagian depan, atau epifisial korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemi
dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan perlunakan korpus. Selanjutnya
terjadi kerusakan pada kortek epifise, diskus intervertebralis dan vertebra
sekitarnya. Kerusakan pada bagian korpus ini akan menyebabkan terjadinya
kiposis yang dikenal sebagai gibbus. Berbeda dengan infeksi lain yang cenderung
menetap pada vertebra yang bersangkutan, tuberkulosis akan terus menghancurkan
vertebra di dekatnya. Kemudian eksudat menyebar kedepan, dibawah ligamentum
longitudinal anterior dan mendesak aliran darah vertebra di dekatnya. Eksudat ini
dapat menembus ligamentum dan berekspansi keberbagai arah disepanjang
ligamen yang lemah.
Sebagai proses kelanjutan dapat berkembang abses yang pada mulanya
merupakan tempat hancurnya jaringan yang terkena proses tuberkulosa. Semakin
hancur maka terjadilah abses yang pada permulaan merusak ke anterior dan ke
samping korpus vertebra. Kemudian dapat terjadi perluasan ke bawah atau
merusak ke posterior di sela subdural. Abses pada daerah ini dapat menekan
medulla spinalis sehingga timbul paraplegi.
Perjalanan penyakit ini terbagi menjadi 5 stadium, yaitu:
a. Stadium Implantasi
Setelah bakteri berada di dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh
penderita menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang
berlangsung selama 6 8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah
paradiskus dan pada anak-anak umumnya pada daerah sentral vertebra.
b. Stadium destruksi awal
Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra
serta penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3-6
minggu.
c. Stadium destruksi lanjut
Pada stadium ini terjadi destruksi yang massif, kolaps vertebra dan terbentuk
massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin), yang terjadi
2-3 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuk
sekuestrum serta kerusakan diskus invertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang

baji terutama di sebelah depan (wedging anterior) akibat kerusakan korpus


vertebra, yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus.
d. Stadium gangguan neurologis
Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi,
tetapi terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Gangguan ini
ditemukan 10% dari seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa. Vertebra
torakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan
neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini. Bila terjadi gangguan
neurologis, maka perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia, yaitu:
Derajat I : Kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan
aktivitas atau setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi gangguan
saraf sensori.
Derajat II : Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita
masih dapat melakukan pekerjaannya.
Derajat III : Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi
gerak/aktivitas penderita serta hipoestesia/anesthesia.
Derajat IV : Terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan
defekasi dan miksi. Tuberkolosis paraplegia atau pott paraplegia dapat terjadi
secara dini atau lambat tegantung dari keadaan penyakitnya.
Pada penyakit yang masih aktif, paraplegia terjadi oleh karena tekanan
ekstradural dari abses paraventebral atau akibat kerusakan langsung sumsum
tulang belakang oleh adanya granulasi jaringan paraplegia pada penyakit yang
sudah tidak aktif/sembuh terjadi oleh karena tekanan pada jembatan tulang
kanalis spinalis atau oleh pembentukan jaringan fibrosis yang progresif dari
jaringan granulasi tuberkulosa. Tuberkulosis paraplegia terjadi secara perlahan
dan dapat terjadi destruksi tulang disertai angulasi dan gangguan vaskuler
vertebra.
e. Stadium deformitas residual
Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah timbulnya stadium
implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat permanen oleh karena kerusakan
vertebra yang masif disebelah depan ( Rasjad, 2007 ).
d. Manifestasi Klinis

Secara klinis gejala tuberculosis tulang belakang hampir sama dengan


tuberculosis pada umumnya, yaitu :

Badan lemah / lesu


Nafsu makan berkurang
Berat badan menurun
Suhu sedikit meningkat ( subfebris) terutama pada malam hari
Sakit pada punggung ( Rasjad, 2007 )

Adapun tanda-tanda spondilitis tulang belakang dengan tuberculosis adalah sebagai


berikut:
a) Pada leher, jika mengenai vertebra servikal penderita tidak suka memutar
kepalanya dan duduk dengan meletakan dagu ditangannya. Dia akan merasa nyeri
pada leher atau pundanya. Jika terjadi abses, pembengkakan dengan fluktasi yang
ringan akan tampak pada sisi yang sama pada leher di belakang otot
sternomastoid atau tonjolan pada bagian belakang mulut (faring).
b) Pada punggung bawah sampai iga terakhir (region torakalis). Dengan adanya
penyakit pada region ini, penderita memiliki punggung yang besar. Dalam
gerakan memutar dia lebih sering menggerakan kakinya daripada mengayun
punggungnya. Saat memungut sesuatu dari lantai dia menukuk lutut sementara
punggungnya tetap lurus. Kemudian akan terdapat pembengkakan atau lekukan
yang nyata pada tulang belakang (gibbus) diperlihatkan dengan korpus yang
terlipat.
c) Jika abses ini menjalar menuju dada bagian kanan dan kiri serta akan muncul
sebagai pembengkakan yang lunak pada dinding dada (abses dingin yang sama
dapat menyebabkantuberkulosis kelenjar getah bening interkosta). Jika menuju ke
punggung dapat menekan serabut saraf spinal menyebabkan paralisis.
d) Saat tulang belakang yang terkena lebih rendah dari dada (region lumbal), dimana
juga berada di bawah serabut saraf spinal, pus juga dapat menjalar pada otot
sebagaimana pada tingkat yang lebih tinggi. Jika ini terjadi akan tampak sebagai
pembengkakan lunak atas atau bawah ligamentum pada lipatan paha atau di
bawah tetap pada sisi dalam dari paha (abses psoas). Pada keadaan yang jarang
pus dapat berjalan menuju pelvis dan mencapai permukaan belakang sendi
panggul.

e) Pada pasien-pasien dengan malnutrisi akan didapatkan demam (kadang-kadang


demam tinggi), kehilangan berat badan dan kehilangan nafsu makan. Di beberapa
negara Afrika juga didapati pembesaran kelenjar getah bening, tuberkel subkutan,
pembesaran hati dan limpa.
f) Pada penyakit-penyakit yang lanjut mungkin tidak hanya terdapat gibus (angulasi
dari tulang belakang), juga dapat kelemahan dari anggota badan bawah dan
paralisis (paraplegi) akibat tekanan pada serabut saraf spinal atau pembuluh
darah.
e. Komplikasi
Paraplegi pott, menekan medulla spinalis
Immobilisasi
Komplikasi dari spondilitis tuberkulosis yang paling serius adalah Potts
paraplegia yang apabila muncul pada stadium awal disebabkan tekanan ekstradural
oleh pus maupun sequester, atau invasi jaringan granulasi pada medula spinalis dan
bila muncul pada stadium lanjut disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan
granulasi atau perlekatan tulang (ankilosing) di atas kanalis spinalis.
Mielografi dan MRI sangatlah bermanfaat untuk membedakan penyebab
paraplegi ini. Paraplegi yang disebabkan oleh tekanan ekstradural oleh pus ataupun
sequester membutuhkan tindakan operatif dengan cara dekompresi medulla spinalis
dan saraf.
Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah ruptur dari abses paravertebra
torakal ke dalam pleura sehingga menyebabkan empiema tuberkulosis, sedangkan
pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas membentuk psoas
abses yang merupakan cold abscess.
f. Diagnosis Banding
Diagnosis banding pada spondilitis tuberkulosa yaitu:
a) Infeksi piogenik (contoh : karena staphylococcal/suppurative spondylitis). Adanya
sklerosis atau pembentukan tulangbaru pada foto rontgen menunjukkan adanya
infeksi piogenik. Selain itu keterlibatan dua atau lebih corpus vertebra yang

berdekatan lebih menunjukkan adanya infeksi tuberkulosa daripada infeksi


bakterial lain.
b) Infeksi enterik (contoh typhoid, parathypoid). Dapat dibedakan dari pemeriksaan
laboratorium.
c) Tumor/penyakit

keganasan

(leukemia,

Hodgkinds

disease,

eosinophilic

granuloma, aneurysma bone cyst danEwingds sarcoma) Metastase dapat


menyebabkan destruksi dan kolapsnya corpus vertebra tetapi berbedadengan
spondilitis tuberkulosa karena ruang diskusnya tetap dipertahankan. Secara
radiologis kelainan karenainfeksi mempunyai bentuk yang lebih difus sementara
untuk tumor tampak suatu lesi yang berbatas jelas.
d) Scheuermannds disease mudah dibedakan dari spondilitis tuberkulosa oleh karena
tidak adanya penipisan korpusvertebrae kecuali di bagian sudut superior dan
inferior bagian anterior dan tidak terbentuk abses paraspinal.
g. Pemeriksan Penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium
a. Peningkatan laju endapan darah (LED) dan mungkin disertai mikrobakterium
b. Uji mantoux positif
c. Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan mikrobakterium
d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limpe regional
e. Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel
2) Pemeriksaan Radiologis
a. Foto thoraks untuk melihat adanya tuberculosis paru.
b. Foto polos vertebra ditemukan osteoporosis disertai penyempitan diskus
intervertebralis yang berada di korpus tersebut.
c. Pemeriksaan mieleografi dilakukan bila terdapat gejala-gejala penekanan
sumsum tulang.
d. Foto CT Scan dapat memberikan gambaran tulangsecara lebih detail dari lesi,
skelerosisi, kolap diskus dan gangguan sirkumferensi tulang.
e. Pemeriksaan MRI mengevaluasi infeksi diskus intervetebra dan osteomielitis
tulang belakang dan adanya menunjukan penekanan saraf ( Rasjad, 2007 ).
h. Penatalaksaan Medis
Pada prinsipnya pengobatan tuberculosis tulang belakang harus dilakukan
segera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah
paraplegia.
Pengobatan terdiri atas:
1. Terapi Konservatif berupa:

a) Tirah baring
b) Memperbaiki keadaan umum penderita
c) Pasang brance pada penderita, baik yang di operasi ataupun yang tidak di
operasi.
d) Pemberian obat anti tuberkulosa. Obat-obat yang diberikan terdiri atas:
Isonikotinik hidrosit (inti) dengan dosis oral 5 mg/kg BB perhari dengan
dosis maksimal 300 mg. Dosis oral pada anak-anak 10 mg/kg BB.
Asam paraamino salsilat. Dosis oral 8-12 mg/kg BB
Etambutol. Dosis oral 15-25 mg/kg BB perhari
Rifamfisin. Dosis oral 10 mg/kg BB diberikan pada anak-anak, pada orang
dewasa 300-400 mg perhari.
Standar pengobatan di indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah:

1) Kategori 1
Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA(-)/rontgen (+), diberikan
dalam 2 tahap :
- Tahap 1 : Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg dan
Pirazinamid 1.500 mg. Obat ini diberikan setiap hari selama 2 bulan
pertama (60 kali).
Tahap 2: Rifampisin 450 mg, INH 600 mg, diberikan 3 kali
seminggu (intermitten) selama 4 bulan (54 kali).
2). Kategori 2

Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat selama


sebulan, termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal yang
diberikan dalam 2 tahap yaitu :
- Tahap I : diberikan Streptomisin 750 mg , INH 300 mg, Rifampisin
450 mg, Pirazinamid 1500mg dan Etambutol 750 mg. Obat ini
diberikan setiap hari , Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60
kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90 kali).
- Tahap 2 : diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg dan Etambutol
1250 mg. Obat diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 5 bulan
(66kali).

Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita


bertambah baik, laju endap darah menurun dan menetap, gejala-gejala
klinis berupa nyeri dan spasme berkurang serta gambaran radiologik
ditemukan adanya union pada vertebra.
2. Terapi operatif
Indikasi operasi yaitu :
Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah
semakin berat. Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi dilakukan, setiap
spondilitis tuberkulosa diberikan obat tuberkulostatik.
Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka dan
sekaligus debrideman serta bone graft.
Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi

ataupun

pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada medulla


spinalis.
Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi penderita
tuberkulosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih memegang
peranan penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold abses (abses
dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia dan kifosis.
Abses Dingin (Cold Abses)
Cold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh karena dapat
terjadi resorbsi spontan dengan pemberian tuberkulostatik. Pada abses yang
dilakukan drainase besar bedah. Ada tiga cara menghilangkan lesi tuberkulosa,
yaitu:
a. Debrideman fokal
b. Kosto-transveresektomi
c. Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan.

Paraplegia
Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia, yaitu:
a. Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata
b. Laminektomi
c. Kosto-transveresektomi
d. Operasi radikal
e. Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang

Operasi kifosis
Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat,. Kifosis
mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak-anak. Tindakan
operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi radikal.
Operasi PSSW
Operasi PSSW adalah operasi fraktur tulang belakang dan pengobatan tbc
tulang belakang yang disebut total treatment.
Metode ini mengobati tbc tulang belakang berdasarkan masalah dan bukan
hanya sebagai infeksi tbc yang dapat dilakukan oleh semua dokter. Tujuannya,
penyembuhan TBC tulang belakang dengan tulang belakang yang stabil, tidak
ada rasa nyeri, tanpa deformitas yang menyolok dan dengan kembalinya fungsi
tulang belakang, penderita dapat kembali ke dalam masyarakat, kembali pada
pekerjaan dan keluarganya.

i. Prognosis
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit menahun dan apabila dapat
sembuh secara spontan akan memberikancacat pembengkokan pada tulang
punggung. Dengan jalan radikal operatif, penyakit ini dapat sembuh dalam

waktusingkat sekitar 6 bulan (Tachdjian, 2005).Prognosis dari spondilitis


tuberkulosa bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan ada tidaknya
komplikasineurologis. Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat,
prognosisnya baik

walaupun tanpa operasi. Penyakitdapat kambuh apabila

pengobatan tidak teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat karena
terjadi resistensiterhadap pengobatan (Lindsay, 2008).Untuk spondilitis dengan
paraplegia awal, prognosis untuk kesembuhan saraf lebih baik sedangkan
spondilitis denganparaplegia akhir, prognosis biasanya kurang baik. Apabila
paraplegia disebabkan oleh mielitis tuberkulosa prognosisnyaad functionam juga
buruk (Lindsay, 2008).
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan pelayanan asuhan
keperawatan dan juga sebagai alat dalam melaksanakan praktek keperawatan yang
terdiri dari lima tahap yang meliputi : pengkajian, penentuan diagnosa keperawatan,
perencanaan, implementasi dan evaluasi.
a. Pengkajian.
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan.
Pengkajian di lakukan dengan cermat untuk mengenal masalah klien, agar dapat
memeri arah kepada tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan
sangat tergantung pada kecermatan dan ketelitian dalam tahap pengkajian. Tahap
pengkajian terdiri dari tiga kegiatan yaitu : pengumpulan data, pengelompokan
data, perumusan diagnosa keperawatan.
Secara tehnis pengumpulan data di lakukan melalui anamnesa baik pada
klien, keluarga maupun orang terdekat dengan klien. Pemeriksaan fisik di lakukan
dengan cara , inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
1) Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status
perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, alamat, tanggal/jam MRS dan
diagnosa medis.
2) Riwayat penyakit sekarang.

Keluhan utama pada klien Spodilitis tuberkulosa terdapat nyeri pada


punggung bagian bawah, sehingga mendorong klien berobat kerumah sakit.
Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut.
Nyeri dirasakan meningkat pada malam hari dan bertambah berat terutama
pada saat pergerakan tulang belakang. Selain adanya keluhan utama tersebut
klien bisa mengeluh, nafsu makan menurun, badan terasa lemah, sumer-sumer
(Jawa) , keringat dingin dan penurunan berat badan.
3) Riwayat penyakit dahulu
Tentang terjadinya penyakit Spondilitis tuberkulosa biasany pada klien di
dahului dengan adanya riwayat pernah menderita penyakit tuberkulosis paru.
(Sjamsuhidajat,1997).
4) Riwayat kesehatan keluarga.
Pada klien dengan penyakit Spondilitis tuberkulosa salah satu penyebab
timbulnya adalah klien pernah atau masih kontak dengan penderita lain yang
menderita penyakit tuberkulosis atau pada lingkungan keluarga ada yang
menderita penyakit menular tersebut.
5) Riwayat psikososial
Klien akan merasa cemas terhadap penyakit yang di derita, sehingga kan
kelihatan

sedih,

dengan

kurangnya

pengetahuan

tentang

penyakit,

pengobatan dan perawatan terhadapnya maka penderita akan merasa takut


dan

bertambah

cemas

sehingga

emosinya

akan

tidak

stabil

dan

mempengaruhi sosialisai penderita.


6) Pola - pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.
Adanya tindakan medis serta perawatan di rumah sakit akan mempengaruhi
persepsi klien tentang kebiasaan merawat diri , yang dikarenakan tidak
semua klien mengerti benar perjalanan penyakitnya.Sehingga menimbulkan
salah persepsi dalam pemeliharaan kesehatan. Dan juga kemungkinan
terdapatnya riwayat tentang keadaan perumahan, gizi dan tingkat ekonomi
klien yang mempengaruhi keadaan kesehatan klien.

b. Pola nutrisi dan metabolisme.


Akibat dari proses penyakitnya klien merasakan tubuhnya menjadi lemah
dan

amnesia.

Sedangkan

kebutuhan

metabolisme

tubuh

semakin

meningkat, sehingga klien akan mengalami gangguan pada status


nutrisinya.

c. Pola eliminasi
Klien akan mengalami perubahan dalam cara eliminasi yang semula bisa
ke kamar mandi, karena lemah dan nyeri pada punggung serta dengan
adanya penata laksanaan perawatan imobilisasi, sehingga kalau mau BAB
dan BAK harus ditempat tidur dengan suatu alat. Dengan adanya
perubahan tersebut klien tidak terbiasa sehingga akan mengganggu proses
aliminasi.
d. Pola aktivitas
Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik dan nyeri pada punggung serta
penatalaksanaan perawatan imobilisasi akan menyebabkan klien membatasi
aktivitas fisik dan berkurangnya kemampuan dalam melaksanakan aktivitas
fisik tersebut.
e. Pola tidur dan istirahat
Adanya nyeri pada punggung dan perubahan lingkungan atau dampak
hospitalisasi akan menyebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan
tidur dan istirahat.
f. Pola hubungan dan peran
Sejak sakit dan masuk rumah sakit klien mengalami perubahan peran atau
tidak mampu menjalani peran sebagai mana mestinya, baik itu peran dalam
keluarga ataupun masyarakat. Hal tersebut berdampak terganggunya
hubungan interpersonal.
g. Pola persepsi dan konsep diri.

Klien dengan Spondilitis tuberkulosa seringkali merasa malu terhadap


bentuk tubuhnya dan kadang - kadang mengisolasi diri.
h. Pola sensori dan kognitif.
Fungsi panca indera klien tidak mengalami gangguan terkecuali bila terjadi
komplikasiparaplegi.
i. Pola reproduksi seksual
Kebutuhan seksual klien dalam hal melakukan hubungan badan akan
terganggu untuk sementara waktu, karena di rumah sakit. Tetapi dalam hal
curahan kasih sayang dan perhatian dari pasangan hidupnya melalui cara
merawat sehari - hari tidak terganggu atau dapat dilaksanakan.
j. Pola penaggulangan stress
Dalam penanggulangan stres bagi klien yang belum mengerti penyakitnya ,
akan mengalami stres. Untuk mengatasi rasa cemas yang menimbulkan
rasa stres, klien akan bertanya - tanya tentang penyakitnya untuk
mengurangi stres.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Pada klien yang dalam kehidupan sehari - hari selalu taat menjalankan
ibadah, maka semasa dia sakit ia akan menjalankan ibadah pula sesuai
dengan kemampuannya. Dalam hal ini ibadah bagi mereka di jalankan pula
sebagai

penaggulangan

stres

dengan

percaya

pada

tuhannya.

7) Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Pada klien dengan Spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah, pucat, dan
pada tulang belakang terlihat bentuk kiposis.
b. Palpasi
Sesuai dengan yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang belakang
terdapat adanya gibus pada area tulang yang mengalami infeksi.
c. Perkusi
Pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok.
d. Auskultasi

Pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak di temukan kelainan.


8) Hasil pemeriksaan medik dan laboratorium.
a. Radiologi
- Terlihat gambaran distruksi vertebra terutama bagian anterior, sangat
jarang menyerang area posterior.
- Terdapat penyempitan diskus.
- Gambaran abses para vertebral ( fusi form ).
b. Laboratorium
- Laju endap darah meningkat
c. Tes tuberkulin.
- Reaksi tuberkulin biasanya positif.
b. Analisa
Setelah data di kumpulkan kemudian dikelompokkan menurut data subjektif yaitu
data yang didapat dari pasien sendiri dalm hal komukasi atau data verbal dan
objektiv yaitu data yang didapat dari pengamatan, observasi, pengukuran dan
hasil pemeriksaan radiologi maupun laboratorium. Dari hasil analisa data dapat
disimpulkan masalah yang di alami oleh klien.
c. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan dari masalah klien yang nyata
ataupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yang pemecahannya
dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat untuk melakukannya. ( Tim
Departemen Kesehatan RI, 1991 : 17 ).
Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Spondilitis tuberkulosa adalah:
a. Gangguan mobilitas fisik
b. Gangguan rasa nyaman ; nyeri sendi dan otot.
c. Perubahan konsep diri : Body image.
d. Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah.

d. Perencanaan Keperawatan.
Perencanaan keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang
akan di laksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa
keperawatan yang telah di tentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien.
( Tim Departemen Kesehatan RI, 1991 :20 ).

Adapun perencanaan masalah yang penulis susun sebagai berikut :


a. Diagnosa Perawatan I
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal dan
nyeri.
Tujuan : Klien dapat melakukan mobilisasi secara optimal.
Kriteria hasil :

Klien dapat ikut serta dalam program latihan

Mencari bantuan sesuai kebutuhan

Mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal.

Rencana tindakan :
o Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.
o Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
o Memelihara bentuk spinal yaitu dengan cara :
- mattress
- Bed Board ( tempat tidur dengan alas kayu, atau kasur busa yang keras
yang
o

tidak menimbulkan lekukan saat klien tidur.

mempertahankan postur tubuh yang baik dan latihan pernapasan ;


- Latihan ekstensi batang tubuh baik posisi berdiri ( bersandar pada
tembok ) maupun posisi menelungkup dengan cara mengangkat
ekstremitas atas dan kepala serta ekstremitas bawah secara bersamaan.
- Menelungkup sebanyak 3 4 kali sehari selama 15 30 menit.

- Latihan pernapasan yang akan dapat meningkatkan kapasitas


pernapasan.
o monitor tanda tanda vital setiap 4 jam.
o Pantau kulit dan membran mukosa terhadap iritasi, kemerahan atau lecet
lecet.
o Perbanyak masukan cairan sampai 2500 ml/hari bila tidak ada kontra
indikasi.
o Berikan anti inflamasi sesuai program dokter. Observasi terhadap efek
samping : bisa tak nyaman pada lambung atau diare.
Rasional :
a) Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
b) Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.
c) Mempertahankan posisi tulang belakang tetap rata.
d) Di lakukan untuk menegakkan postur dan menguatkan otot otot
paraspinal
e) Untuk mendeteksi perubahan pada klien.
f) Deteksi diri dari kemungkinan komplikasi imobilisasi.
g) Cairan membantu menjaga faeces tetap lunak.
h) Obat anti inflamasi adalah suatu obat untuk mengurangi peradangan dan
dapat menimbulkan efek samping.
b. Diagnosa Keperawatan II
Gangguan rasa nyaman : nyeri sendi dan otot sehubungan dengan adanya
peradangan sendi.
- Tujuan :
a. Rasa nyaman terpenuhi
b. Nyeri berkurang / hilang
- Kriteria hasil :
a. klien melaporkan penurunan nyeri

b. menunjukkan perilaku yang lebih relaks


c. memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang dipelajari dengan
peningkatan keberhasilan.
- Rencana tindakan
a. Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri; observasi terhadap kemajuan nyeri
ke daerah yang baru.
b. Berikan analgesik sesuai terapi dokter dan kaji efektivitasnya terhadap
nyeri.
c. Gunakan brace punggung atau korset bila di rencanakan demikian.
d. Berikan dorongan untuk mengubah posisi ringan dan sering untuk
meningkatkan rasa nyaman.
e. Ajarkan dan bantu dalam teknik alternatif penatalaksanaan nyeri.
- Rasional.
a. Nyeri adalah pengalaman subjek yang hanya dapat di gambarkan oleh
klien sendiri.
b. Analgesik adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri dan bagaimana
reaksinya terhadap nyeri klien.
c. Korset untuk mempertahankan posisi punggung.
d. Dengan ganti ganti posisi agar otot otot tidak terus spasme dan tegang
sehingga otot menjadi lemas dan nyeri berkurang.
e. Metode alternatif seperti relaksasi kadang lebih cepat menghilangkan
nyeri atau dengan mengalihkan perhatian klien sehingga nyeri berkurang.
c. Diagnosa Keperawatan III
Gangguan citra tubuh sehubungan dengan gangguan struktur tubuh.
- Tujuan : Klien dapa mengekspresikan perasaannya dan dapat menggunakan
koping yang adaptif.
- Kriteria hasil :

Klien dapat mengungkapkan perasaan / perhatian dan menggunakan


keterampilan koping yang positif dalam mengatasi perubahan citra.
- Rencana tindakan :
a. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan. Perawat
harus mendengarkan dengan penuh perhatian.
b. Bersama sama klien mencari alternatif koping yang positif.
c. Kembangkan komunikasi dan bina hubungan antara klien keluarga dan
teman serta berikan aktivitas rekreasi dan permainan guna mengatasi
perubahan body image.
- Rasional :
a. meningkatkan harga diri klien dan membina hubungan saling percaya dan
dengan ungkapan perasaan dapat membantu penerimaan diri.
b. Dukungan perawat pada klien dapat meningkatkan rasa percaya diri klien.
c. Memberikan semangat bagi klien agar dapat memandang dirinya secara
positif dan tidak merasa rendah diri.
d. Diagnosa Keperawatan IV
Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang
penatalaksanaan perawatan di rumah.
- Tujuan
Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan di rumah.
- Kriteria hasil
a. Klien dapat memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset
b. Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan
c. Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana
pengobatan, dan gejala kemajuan penyakit.
- Rencana tindakan
a. Diskusikan tentang pengobatan : nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek

sampingnya.
b. Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.
c. Perbanyak diet nutrisi dan masukan cairan yang adekuat.
d. Tekankan pentingnya lingkungan yang aman untuk mencegah fraktur.
e. Diskusikan tanda dan gejala kemajuan penyakit, peningkatan nyeri dan
mobilitas.
f. Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.
e. Pelaksanaan
Yaitu perawat melaksanakan rencana asuhan keperawatan. Instruksi
keperawatan di implementasikan untuk membantu klien memenuhi kriteria
hasil.
Komponen tahap Implementasi:
a. tindakan keperawatan mandiri
b. tindakan keperawatan kolaboratif
c. dokumentasi tindakan keperawatan dan respon klien terhadap asuhan
keperawatan.
f. Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan hasil hasil yang di amati dengan kriteria hasil
yang dibuat pada tahap perencanaan komponen tahap evaluasi.
a. pencapaian kriteria hasil
b. ke efektipan tahap tahap proses keperawatan
c. revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan.
Adapun kriteria hasil yang di harapkan pada klien Spondilitis tuberkulosa
adalah:
1. Adanya peningkatan kegiatan sehari hari ( ADL) tanpa menimbulkan
gangguan rasa nyaman .
2. Tidak terjadinya deformitas spinal lebih lanjut.

3. Nyeri dapat teratasi


4. Tidak terjadi komplikasi.
5. Memahami cara perawatan dirumah