Anda di halaman 1dari 2

Raja Buduh Drama Gong, Gede Yudana Meninggal Dunia

Januari 21, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

pesan sponsor

http://www.mutiarabaliholidays.com/

cp : sdr mutiara 085810227858 /081220588820

Hari ini seperti biasa setiba di kantor saya langsung mengecek email, termasuk email dari milis
BBC (Bali Blogger Community). Setelah membaca satu persatu, saya tertarik dengan satu thread
yaitu tentang Bapak Gede Yudana meninggal dunia, salah satu seniman Drama Gong di Bali.
Sebagai salah satu penggemar drama gong sejak kecil, saya turut berduka cita yang sedalam-
dalamnya atas meninggalnya Bapak Gede Yudana.

Gede Yudana adalah salah satu pemain drama gong yang sangat tenar dijamannya, ketika drama
gong masih menjadi kesenian paling favorit bagi masyarakat Bali. Bersama dengan pemain-
pemain drama gong terkenal lainnya seperti Petruk, Dolar, Gangsar, Gingsir, Lodra (raja bagus),
Luh Mongkeg dan banyak lagi, Gede Yudana selalu berperan sebagai Raja Buduh alias raja yang
seperti orang gila, mudah dihasut oleh patih yang jahat.

Saya sendiri memang sejak kecil menyukai kesenian drama gong, apalagi ketika itu drama gong
sedang berada pada masa kejayaannya. Lihat saja setiap pementasan drama gong di Art Center
terutama pada ajang PKB (Pesta Kesenian Bali), khususnya grup Sancaya Dwipa yang terdiri
dari pemain-pemain tenar seperti Petruk, Dolar, Yudana dan lainnya, panggung terbuka Arda
Candra selalu penuh dengan penonton, bahkan sampai memanjat tembok dan berada di atas atap
toilet dan di atas pohon, penonton rela melakukan itu demi menonton aksi Petruk – Dolar.

Yang terasa paling ditunggu memang aksi Petruk – Dolar, bahkan waktu itu Petruk baru keluar
dan belum berkata apapun, penonton sudah tertawa dan riuh sekali. Jika tidak percaya, silahkan
cari saja VCD-VCD rekaman drama gong Sancaya Dwipa tahun 90-an.

Yang hebatnya, emosi dan perasaan penonton di jaman itu benar-benar terbawa dengan drama
yang dibawakan oleh pemainnya. Penonton akan tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi Petruk
– Dolar, tak jarang penonton meneteskan air mata ketika putri raja disakiti, bahkan pernah patih
jahat dilempari penonton karena perannya jahatnya. Seolah penonton tak bisa membedakan
bahwa itu hanya drama, mungkin ada yang itu karena penonton yang masih kolot, tapi menurut
saya itu karena penghayatan dan akting pemain drama gong yang begitu hebatnya.

Tapi kini drama gong bukan favorit lagi di Bali, masyarakat khususnya ibu-ibu lebih suka
sinetron dan anak muda lebih suka pergi ke bioskop. Untunglah masih ada kesenian wayang kulit
yang dulu dianggap tidak begitu menarik, tetapi wayang Cenk Blonk berhasil mengangkat
kesenian wayang kulit menjadi hiburan sekaligus kesenian yang digemari masyarakat Bali.
Tetapi sayang, masyarakat yang cepat bosan dan ditambah lagi dengan banyaknya peredaran
VCD bajakan membuat kesenian bali kembali meredup.

Semoga saja ke depan akan banyak lagi lahir seniman seperti Gede Yudana yang berhasil
membuat kesenian Bali makin disukai dan bukan hanya menjadi kesenian yang ekslusif tetapi
juga kesenian yang menghibur serta merakyat. Selamat jalan Bapak Gede Yudana..