Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN

KASUS
Oleh :
Luthfi Akhyar
102011101013

Pembimbing :
dr. Rosmarini ESH, M.Sc, Sp. KK.

Herpes Zoster

Reaktivasi virus varicella zoster yang terjadi


setelah infeksi primer yaitu varisela
Penyebaran dari penyakit ini sama seperti
penyebaran varisela.
Insiden meningkat pada lansia, dan pada kondisikondisi seperti Hodgkins disease, AIDS, dan
leukemia, serta kondisi melemahnya sistem imun
tubuh

Etiologi

Infeksi laten dari virus Varicella zoster yang


bersembunyi dalam ganglion sensoris pada
infeksi varisela terdahulu.
Merupakan virus dengan asam nukleat berupa
DNA, memiliki bentuk capsid icosahedral dan
berdiameter 150-200 nm.

Patogenesis

Infeksi pertama kali berupa varisela


Virus masuk ke dalam tubuh melalui mukosa
sistem pernapasan atas dan melalui konjungtiva
Replikasi pada limfonoduli regional
Viremia primer
Virus bereplikasi pada hepar dan lien.
Penyebaran virus melalui sel mononuclear yang
telah terinfeksi oleh virus menuju ke kulit dan
mukosa

Patogenesis

Bereplikasi pada stratum basale epidermis


Degenerasi dari sel-sel epitel dan akumulasi dari
cairan jaringan sehingga terbentuk vesikel
Virus bermigrasi pada nervus sensorik menuju
ganglion sensorik
Pada penurunan sistem imun, virus akan
bereplikasi pada ganglion sensoris

Patogenesis

Virus kemudian berjalan turun pada saraf sensoris


sehingga menyebabkan nyeri pada dermatom
diikuti dengan lesi pada kulit yang dipersarafi.
Kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi
yang setingkat dengan daerah persarafan
ganglion tersebut

Gambaran Klinis

Daerah paling sering adalah daerah torakal


Terdapat gejala prodromal sistemik dan lokal
Timbul eritema kemudian menjadi vesikel
berkelompok dengan dasar eritematosa dan
edema.
Vesikel ini dapat menjadi pustul dan krusta.
Herpes zoster oftalmikus dapat menimbukan
kelainan pada mata
Sindrom ramsay hunt
Neuralgia pasca herpetik

Diagnosis

gambaran klinis lesi yang muncul.


Tes awal yang dapat digunakan adalah apusan
sitologi (Tzanck smear)
direct fluorescent antigen assay
kultur virus
polymerase chain reaction

Diagnosis Banding
1. Herpes simpleks
2. Pada nyeri yang merupakan gejala prodromal
lokal sering salah diagnosis dengan penyakit
rematik maupun dengan angina pectoris
terutama jika nyeri terdapat pada daerah
setinggi jantung.
3. Dermatitis kontak
4. Varisela
5. Impetigo

Tatalaksana

Analgetik
Antiviral
o Asiklovir 5 x 800 mg sehari selama 7 hari
o Valasiklovir 3 x 1000 mg sehari selama 7 hari

Salisilic talk
Antibiotik
Neurovitamin

Neuralgia pascaherpetik
o Gabapentin, dosis awal 2 x 75 mg per hari. Jika setelah

3-7 hari nyeri tidak berkurang, dosis dapat dinaikkan


menjadi 2 x 150 mg per hari dengan dosis maksimum
600 mg per hari
o amitriptilin adalah 75 mg perhari, kemudian ditinggikan
hingga timbul efek terapetik, biasanya antara 150 300
mg perhari. Sedangkan dosis nortriptilin ialah 50 150
mg perhari.

Laporan Kasus
Identitas Pasien

Nama
: Ny. S
Usia
: 55 tahun
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Pernikahan : Sudah menikah
Alamat
: Jember

Anamnesis

Keluhan Utama
Gatal dan nyeri di daerah punggung kanan.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh gatal dan nyeri pada punggung kanan sejak 1
hari yang lalu. Gatal dan nyeri dirasakan terus-menerus dan
bertambah parah terutama jika berkeringat. Gatal dan nyeri hanya
terdapat pada daerah luka dan tidak meluas. Luka yang berada di
punggung ada yang mengeluarkan cairan.
Keluhan pasien diawali dengan keluhan demam, keringat
dingin dan pegal pada seluruh tubuh sejak 1 hari yang lalu.
Kemaren sore, pasien mengatakan mulai muncul lenting-lenting
berisi air di daerah dada kiri dan ketiak kiri yang pada malam
harinya pecah ketika pasien tidur. Keesokan harinya pasien
merasakan gatal dan nyeri pada di tempat lenting-lenting tersebut
pecah. Kemudian pasien merasa nyerinya bertambah parah dan

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit jantung dan diabetes mellitus
pada keluarga disangkal. Di keluarga pasien tidak
ada yang mengalami keluhan seperti pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien pernah menderita cacar air sewaktu SD

Riwayat Pengobatan
Pasien belum berobat sebelumnya

Pemeriksaan fisik
Status Generalis

Keadaan umum
: cukup
Kesadaran
: compos mentis
Nadi
: 79 x per menit
Respiration Rate
: 19 kali
T axila
: 36,7 C

Status Dermatologis

Pada regio thoraks posterior dextra terdapat


vesikula dengan ukuran terbesar 0,5 cm dan
terkecil 0,2 cm, berbatas tegas, dengan dasar
eritematosa tanpa disertai krusta.

Resume

Pasien wanita usia 55 tahun datang dengan keluhan gatal dan


nyeri pada punggung kanan atas. 1 hari yang lalu pasien merasa
demam, keringat dingin, dan pegal pada seluruh tubuh. Pasien
mengatakan muncul lenting-lenting berisi air sejak kemarin sore,
pada dada dan punggung kiri bagian atas yang kemudian pecah.
Pasien merasa gatal dan nyeri pada tempat tersebut.
Pasien merasa nyeri bertambah parah serta pasien merasa nyeri
jika luka tersebut tersentuh baju yang dipakainya, sehingga
pasien memutuskan untuk berhenti menggunakan obat dan
mencari pengobatan di rumah sakit. Pada waktu kecil, pasien
juga mengatakan bahwa ia pernah menderita cacar air.
Dari pemeriksaan yang dilakukan ditemukan pada regio thoraks
posterior dextra terdapat vesikula dengan ukuran terbesar 0,5
cm dan terkecil 0,2 cm, berbatas tegas, dengan dasar
eritematosa tanpa disertai krusta.

Diagnosis banding

Herpes zoster
Herpes simpleks
Varicella
Dermatitis kontak

Diagnosis Kerja

Herpes zoster

Penatalaksanaan

Acyclovir 5 x 800 mg sehari selama 7 hari


Asam mefenamat 3 x 500 mg sehari
Neurobion 3 x 1
Bedak salisil 2% untuk menjaga agar vesikel tidak
pecah

Edukasi

Memberikan penjelasan kepada pasien mengenai


penyakit yang dideritanya.
Hindari menggaruk lesi karena dapat menyebabkan
infeksi sekunder.
Boleh mandi, karena mandi dapat mengurangi
gatal.
Menghindari kontak dengan orang yang belum
pernah terinfeksi varisela karena dapat menularkan
virus ke orang yang belum pernah terinfeksi varisela
Menggunakan obat secara teratur dan sesuai
dengan anjuran

Prognosis

Dubia ad bonam

Terima
kasih