Anda di halaman 1dari 126

Laserasi kelopak mata(3b)

Merupakan suatu kondisi dimana terjadinya robekan pada kelopak mata,


kondisi ini dapat disebabkan oleh trauma dari benda tumpul ataupun benda
tajam. Kondisi ini dapat terjadi pada semua kalangan usia. Kondisi ini merupakan
kondisi gawat darurat. Jika menemukan kasus seperti ini, yang terpenting
dilakukan adalah pemastian penyebabnya.
Jika penyebabnya adalah kecelakaan, perhatikan benda
asing yang
tertinggal dan jika penyebabnya adalah gigitan hewan, pastikan hewan
tersebut apa, sebab yang ditakutkan adalah penularan infeksi.
Pemeriksaan
ABC, pastikan tidak ada cidera pada cervical, periksa vital sign dari pasien,
lalu menilai pada bagian mata pasien.
Pada bagian mata pasien, yang dilakukan dahulu adalah penilaian apakah terjadi
ruptur dari bola mata ataukah tidak. Jika tida terjadi ruptur, maka basuh
fornix jika dibutuhkan. Jika terjadi bengkak pada kelopak mata, dapat
digunakan Desmarres retractors.
Atau juga dapat digunakan paper clips, jika alat terbatas. Hal ini dilakukan untuk
memastikan apakah masih ada benda asing yang tertinggal atau tidak?
Tatalaksana:
A. Bedah ( Penjahitan dari luka tersebut)
B. Farmakologis untuk mencegah komplikasi lanjut
Obat yang sering digunakan adalah steroid topikal dan antibiotik
Contoh obatnya :
Neomycin, Polymixin B dan Dexamethasone

Gambar : Desmarres retractors.


Cara menggunakannya :

Trikiasis
Kondisi dimana terjadinya kelainan bulu mata, yaitu bulu mata tumbuh
kearah bola mata.
Sering terjadi disebabkan oleh banyak faktor. contohnya adalah terjadinya
entropion (kelopak mata menekuk ke arah dalam).
Terapi:
pembedahan
Selain itu juga, pemberian lubrikan seperti airmata buatan dan salep
mata, dapat mengurangi iritasi dari mata.
Jika penyebab dari trikiasis adalah penyakit yang serius (contohnya : SJS ),
maka obati penyebab tersebut terlebih dahulu.
Selain itu juga dapat diberikan azithromycin untuk mengurangi tingkat
kekambuhan parah dari post operasi selama rata-rata 1 tahun.

Blefaritis

Hordeolum

Hordeolum merupakan infeksi akut yang umumnya disebabkan oleh bakteri


Staphylococcus pada kelenjar palpebra. Hordeolum terbagi atas hordeolum
eksterna yang merupakan infeksi pada kelenjar yang lebih kecil dan superfisial
(Zeis atau Moll) dan hordeolum interna dimana infeksi terjadi pada kelenjar
Meibom. Hordeolum sering dihubungkan dengan diabetes, gangguan pencernaan
dan jerawat. 1,3
Staphylococcus aureus adalah agent infeksi pada 90-95% kasus hordeolum.
Gejala Klinis
tampak adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau bawah,
berwarna kemerahan dan nyeri.
Hordeolum eksterna adalah infeksi pada kelenjar Zeis dan kelenjar Moll.
Benjolan nampak dari luar pada kulit kelopak mata bagian luar (palpebra).
Hordeolum interna adalah infeksi yang terjadi pada kelenjar Meibom. Pada
hordeolum interna ini benjolan mengarah ke konjungtiva (selaput kelopak
mata bagian dalam).
Benjolan akan nampak lebih jelas dengan membuka kelopak mata. Hordeolum
internum biasanya berukuran lebih besar dibanding hordeolum eksternum.

Gejala rasa sakit , pembengkaan.


(yang membedakan dengan kalazion : hordeulum karena infeksi dan
ada rasa sakit kalazion bukan karena infeksi dan tidak ada rasa sakit )
PENATALAKSANAAN
Terapi: kompres hangat 2-3 x/hari, AB tetes dan salep (3-4x/hari), Insisi
R/ Doxyciclin I: 1200 mg
II: 1x100mg
As. Mefenamat 3x500mg
C. Xytrol zalf 3 dd 1 qs OS
KOMPLIKASI
celulitis, abses (dari slide)

Kalazion (granulomatous inflammation)

Kalazion adalah suatu lipogranuloma yang terjadi akibat sumbatan pada


kelenjar Meibom, menyebabkan terbentuknya suatu nodul pada palpebra
yang bersifat keras dan tidak nyeri.
Kausa tidak diketahui (abstruksi)
Higiene yang buruk pada palpebra dan faktor stress juga sering dikaitkan
dengan terjadinya kalazion.
Gejala klinis
Pasien biasanya datang dengan riwayat singkat adanya keluhan pada
palpebra baru-baru ini, diikuti dengan peradangan akut (misalnya merah,
pembengkakan, perlunakan). Seringkali terdapat riwayat keluhan yang sama
pada waktu yang lampau, karena kalazion memiliki kecenderungan kambuh
pada individu-individu tertentu.

Kalazion lebih sering timbul pada palpebra superior, di mana jumlah kelenjar
Meibom terdapat lebih banyak daripada palpebra inferior. Penebalan dari saluran
kelenjar Meibom juga dapat menimbulkan disfungsi dari kelenjar Meibom. Kondisi
ini tampak dengan penekanan pada kelopak mata yang akan menyebabkan
keluarnya cairan putih seperti pasta gigi, yang seharusnya hanya sejumlah kecil
cairan jernih berminyak.
Kalazion dihubungkan dengan disfungsi kelenjar sebasea dan obstruksi di kulit
(seperti komedo, wajah berminyak). Juga mungkin terdapat akne rosasea berupa
kemerahan pada wajah (facial erythema), teleangiektasis dan spider nevi pada
pipi, hidung, dan kulit palpebra.
Penatalaksanaan
Perawatan Medis:

kalazion yang kecil dan tanpa disertai nyeri dapat diabaikan.


Pengobatan secara konservatif seperti pemijatan pada palpebra, kompres
hangat, dan steroid topikal ringan biasanya dapat berhasil dengan baik.
Pada sebagian besar kasus, pembedahan hanya dilakukan bila
pengobatan selama berminggu-minggu tidak membuahkan hasil.
Jika isi kalazion tidak dapt dikeluarkan, lakukan insisi/ curettage distal
kalazion dan isinya dikerok.

Penatalaksanaan dari kalazion terinfeksi (misalnya hordeolum interna) meliputi


pemanasan, serta antibiotik topikal dan atau sistemik. Pada beberapa kasus
mungkin diperlukan insisi dan drainase. Yang dikeluarkan hanyalah pus, kuretase
atau kerokan yang berlebihan dapat memperluas infeksi dengan rusaknya
jaringan. Steriod topikal diperlukan untuk mencegah terjadinya reaksi
peradangan kronis yang dapat menimbulkan sikatrik.

KONJUNGTIVITIS
DEFINISI
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan penyakit ini adalah penyakit
mata yang paling umum di dunia.
JENIS

Konjungtivitis bakteri:
infeksi yang disebabkan oleh bakteri, seperti stafilokokus, streptokokus atau
haemophilus. Mata biasanya mengeluarkan sekret mata kuning/kuning kehijauan yang
mungkin menyebar hingga bulu mata dan menyebabkan kelopak mata lengket, terutama di
pagi hari.

Konjungtivitis virus:
infeksi yang disebabkan oleh virus yang disebut adenovirus, sering berkaitan dengan
flu biasa. Jenis konjungtivitis sangat menular antar manusia dan dapat menyebabkan epidemi.
Mata kemerahan dan mungkin mengeluarkan cairan yang encer. Seringkali kelopak mata

membengkak. Jenis konjungtivitis ini juga dapat menyebar ke kornea dan menyebabkan
penglihatan kabur.

Konjungtivitis alergi:
disebabkan alergi terhadap benda seperti serbuk sari, tungau, atau debu. Mata terasa
gatal dan kemerahan yang mungkin disertai banyak air mata, pengerasan kulit kelopak
mata dan fotofobia (mata silau). Kondisi ini dapat terjadi pada waktu tertentu dalam
setahun, misalnya selama kemarau ketika banyak serbuk sari dan debu beterbangan di udara.
Anak-anak yang memiliki konjungtivitis alergi seringkali memiliki riwayat penyakit atopik
lain seperti rhinitis alergi, eksim atau asma.
Konjungtivitis iritasi:
disebabkan oleh klorin di kolam renang, asap, atau uap.
Penjelasan
Konjungtivitis Bakteri
A. Definisi
Konjungtivitis Bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri.
Pada konjungtivitis ini biasanya pasien datang dengan keluhan mata merah, sekret pada
mata dan iritasi mata (James, 2005).
B. Etiologi dan Faktor Resiko
Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk, yaitu hiperakut, akut,
subakut dan kronik. Konjungtivitis bakteri hiperakut biasanya disebabkan oleh N
gonnorhoeae, Neisseria kochii dan N meningitidis. Bentuk yang akut biasanya disebabkan
oleh Streptococcus pneumonia dan Haemophilus aegyptyus. Penyebab yang paling sering
pada bentuk konjungtivitis bakteri subakut adalah H influenza dan Escherichia coli,
sedangkan bentuk kronik paling sering terjadi pada konjungtivitis sekunder
atau pada pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis (Jatla, 2009).
Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata kemudian mengenai mata
yang sebelah melalui tangan dan dapat menyebar ke orang lain. Penyakit ini biasanya
terjadi pada orang yang terlalu sering kontak dengan penderita, sinusitis dan keadaan
imunodefisiensi (Marlin, 2009).
C. Gejala Klinis
-Injeksi konjungtiva baik segmental ataupun menyeluruh.
-Sekret kongjungtivitis bakteri biasanya lebih purulen daripada konjungtivitis jenis
lain
-Pada kasus yang ringan sering dijumpai edema pada kelopak mata
-Ketajaman penglihatan biasanya tidak mengalami gangguan pada konjungtivitis
bakteri namun mungkin sedikit kabur karena adanya sekret dan debris pada lapisan
air mata
-Sedangkan reaksi pupil masih normal.
-Gejala khas adalah kelopak mata yang saling melekat pada pagi hari sewaktu
bangun tidur. (James, 2005).
D. Diagnosis

Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia, karena mungkin saja
penyakit berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh pada pasien yang lebih tua. Pada
pasien yang aktif secara seksual, perlu dipertimbangkan penyakit menular seksual dan
riwayat penyakit pada pasangan seksual. Perlu juga ditanyakan durasi lamanya
penyakit, riwayat penyakit yang sama sebelumnya, riwayat penyakit sistemik, obatobatan, penggunaan obat-obat kemoterapi, riwayat pekerjaan yang mungkin ada
hubungannya dengan penyakit, riwayat alergi dan alergi terhadap obat-obatan, dan riwayat
penggunaan lensa-kontak (Marlin, 2009).
E. Penatalaksanaan
Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada temuan agen mikrobiologiknya.
Terapi dapat dimulai dengan antimikroba topikal spektrum luas. Pada setiap konjungtivitis
purulen yang dicurigai disebabkan oleh diplokokus gram-negatif harus segera dimulai terapi
topical dan sistemik .
Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis harus dibilas dengan
larutan saline untuk menghilangkan sekret konjungtiva (Ilyas, 2008).
Konjungtivitis bakterial diobati dengan tetes mata antibiotika (polymyxin, bacitracin,
garamycin) beberapa kali untuk 2-3 hari.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

R/ Gentamisin 0,3 % eye drops 5ml fl no I


S 4 dd gtt I-II OD et OS

Konjungtivitis Virus
A. Definisi
Konjungtivitis viral adalah penyakit umum yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis
virus, dan berkisar antara penyakit berat yang dapat menimbulkan cacat hingga infeksi ringan
yang dapat sembuh sendiri dan dapat berlangsung lebih lama daripada konjungtivitis
bakteri (Vaughan, 2010).
B. Etiologi dan Faktor Resiko
Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis virus, tetapi adenovirus adalah
virus yang paling banyak menyebabkan penyakit ini, dan herpes simplex virus yang paling
membahayakan. Selain itu penyakit ini juga dapat disebabkan oleh virus Varicella zoster,
picornavirus (enterovirus 70, Coxsackie A24), poxvirus, dan human immunodeficiency
virus
Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering kontak dengan penderita dan dapat
menular melalu di droplet pernafasan, kontak dengan benda-benda yang menyebarkan virus
(fomites) dan berada di kolam renang yang terkontaminasi (Ilyas, 2008)
C. Gejala Klinis
Gejala klinis pada konjungtivitis virus berbeda-beda sesuai dengan etiologinya. Pada
keratokonjungtivitis epidemik yang disebabkan oleh adenovirus biasanya dijumpai demam
dan mata seperti kelilipan, mata berair berat dan kadang dijumpai pseudomembran.

Selain itu dijumpai infiltrat subepitel kornea atau keratitis setelah terjadi konjungtivitis
dan bertahan selama lebih dari 2 bulan (Vaughan & Asbury, 2010).
Pada konjungtivitis ini biasanya pasien juga mengeluhkan gejala pada saluran
pernafasan atas dan gejala infeksi umum lainnya seperti sakit kepala dan demam
(Senaratne & Gilbert, 2005).
Pada konjungtivitis herpetic yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV) yang
biasanya mengenai anak kecil dijumpai injeksi unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri,
fotofobia ringan dan sering disertai keratitis herpes.
D. DIAGNOSIS
Pada anamnesis penting juga untuk ditanyakan onset, dan juga apakah hanya sebelah
mata atau kedua mata yang terinfeksi (Gleadle, 2007).
Konjungtivitis virus sulit untuk dibedakan dengan konjungtivitis bakteri berdasarkan
gejala klinisnya dan untuk itu harus dilakukan pemeriksaan lanjutan, tetapi pemeriksaan
lanjutan jarang dilakukan karena menghabiskan waktu dan biaya (Hurwitz, 2009).
E. PENATALAKSANAAN

Konjungtivitis virus yang terjadi pada anak di atas 1 tahun atau pada orang dewasa
umumnya sembuh sendiri dan mungkin tidak diperlukan terapi, namun antivirus topikal atau
sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya kornea (Scott, 2010).
Pasien konjungtivitis juga diberikan instruksi hygiene untuk meminimalkan
penyebaran infeksi (James, 2005).

TANDA DAN GEJALA :

Hiperemis konjungtiva bulbi (Injeksi konjungtiva). Kemerahan paling nyata


didaerah forniks dan berkurang ke arah limbus, disebabkan dilatasi arteri konjungtiva
posterior akibat adanya peradangan. Warna merah terang mengesankan konjungtivitis
bakterial, dan warna keputihan mirip susu mengesankan konjungtivitis alergi.
Mata berair (Epiphora). Sekresi air mata diakibatkan oleh adanya sensasi benda
asing atau karena gatal.
Eksudasi (Sekret), terutama pada pagi hari. Pada konjungtivitis sekret dapat bersifat:
Serous-mukous, kemungkinan disebabkan infeksi virus akut
Mukous (bening, kental), kemungkinan disebabkan alergi
Purulent/ Mukopurulen, kemungkinan disebabkan infeksi bakteri
Pseudoptosis, yaitu turunnya palpebra superior akibat kelopak mata bengkak.
Terdapat pada konjungtivitis berat seperti trachoma dan keratokonjungtivitis epidemik.
Tanda lainnya adalah hipertrofi papila, kemosis konjungtiva, folikel (khas terdapat pada
konjungtivitis virus), pseudomembran dan membran, flikten, dan limfadenopati preaurikuler.
DIAGNOSIS BANDING

Gatal
Mata merah
Hemoragi

Virus
+
+

Bakteri
++
+

Alergi
++
+
-

Toksik
+
-

Sekret

Kemosis
Lakrimasi
Folikel
Papil
Pseudomembra
n
Pembesaran
kelenjar limfe
Panus
Bersamaan
dengan keratitis
Demam
Sitologi

Serous
mucous

Viscus

++
+

Purulen,
kuning,
krusta
++
+
+

++
+
+
+
-

++

Granulosit

Eosinofil

Limposit,
monosit

Sel epitel,
granulosit

Uveitis Anterior

Glaukoma Kongestif
Akut

Konjungtivitis

Keratitis

Visus

Normal

Tergantung letak
infiltrat

Hiperemi

konjungtiva

perikornea

Siliar

Mix injeksi

Epifora, fotofobia

Sekret

Banyak

Palpebra

Normal

Normal

Normal

Edema

Kornea

Jernih

Bercak infiltrat

Gumpalan sel
radang

Edema, suram (tidak


bening), halo (+)

COA

Cukup

cukup

Sel radang (+)

dangkal

H. Aquous

Normal

normal

Sel radang (+), flare


(+), tyndal efek (+)

Kental

Iris

Normal

normal

Kadang edema
(bombans)

Kripta menghilang
karena edema

Pupil

Normal

normal

Miosis

Mid midriasis

Menurun perlahan,
tergantung letak Menurun mendadak
radang

(d:5mm)
Lensa

Normal

normal

Sel radang
menempel

Keruh

PROGNOSIS
Konjungtivitis bakterial akut hampir selalu sembuh sendiri. Tanpa diobati, infeksi
dapat berlangsung 10-14 hari, jikadiobati dengan memadai 1-3 hari, kecuali konjungtivitis
stapilokokus (dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis dan memasuki tahap menahun)
dan konjungtivitis gonokokus yang bila tidak diobati akan menyebabkan perforasi kornea dan
endoftalmitis). Kornea konjungtiva gerbang masuk meningokokus kedalam darah dan
meninges, hasil akhir adalah septikemia dan meningitis.

GAMBAR
Konjungtivitis Bakterial
Injeksi konjungtiva pada konjungtivitis

Konjungtivitis Viral

Keratitis
Definisi
Keratitis sendiri diartikan sebagai

peradangan pada kornea yang ditandai

dengan adanya infiltrasi sel radang dan edema kornea pada lapisan kornea
manapun yang dapat bersifat akut atau kronis yang disebabkan oleh berbagai
faktor antara lain bakteri, jamur, virus atau karena alergi.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis, gejala klinik dan hasil
pemeriksaan mata. Dari hasil anamnesis sering diungkapkan riwayat trauma,
adnya riwayat penyakit kornea, misalnya pada keratitis herpetic akibat infeksi
herpes simpleks sering kambuh, namun

erosi yang kambuh sangat sakit dan

keratitis herpetic tidak, penyakit-penyakit ini dapat dibedakan dari gejalanya.


Anamnesis mengenai pemakaian obat lokal oleh pasien, karena mungkin telah
memakai kortikosteroid, yang dapat merupakan predisposisi bagi penyakit
bakteri, fungi, atau virus terutama keratitis herpes simpleks. Juga mungkin
terjadi imunosupresi akibat penyakit-penyakit sistemik, seperti diabetes, AIDS,
dan penyakit ganas, selain oleh terapi imunosupresi khusus.
Pasien dengan keratitis biasanya datang dengan keluhan iritasi ringan, adanya
sensasi benda asing, mata merah, mata berair, penglihatan yang sedikit
kabur, dan silau (fotofobia) serta sulit membuka mata (blepharospasme).
Penderita akan mengeluh sakit pada mata karena kornea memiliki banyak
serabut nyeri, sehingga amat sensitif. Kebanyakan lesi kornea superfisialis
maupun yang sudah dalam menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit
diperberat oleh kuman kornea bergesekan dengan palpebra. Karena kornea
berfungsi sebagai media untuk refraksi sinar dan merupakan media pembiasan
terhadap sinar yang masuk ke mata maka lesi pada kornea umumnya akan
mengaburkan penglihatan terutama apabila lesi terletak sentral pada kornea.
Fotofobia yang terjadi biasanya terutama disebabkan oleh kontraksi iris yang
meradang.

Dilatasi

pembuluh

darah

iris

adalah

fenomena

refleks

yang

disebabkan iritasi pada ujung serabut saraf pada kornea. Pasien biasanya juga

berair mata namun tidak disertai dengan pembentukan kotoran mata yang
banyak kecuali pada ulkus kornea yang purulen.
Dalam mengevaluasi peradangan kornea penting untuk membedakan apakah
tanda yang kita temukan merupakan proses yang masih aktif atau merupakan
kerusakan dari struktur kornea hasil dari proses di waktu yang lampau. Sejumlah
tanda dan pemeriksaan sangat membantu dalam mendiagnosis dan menentukan
penyebab dari suatu peradangan kornea seperti: pemeriksaan sensasi kornea,
lokasi dan morfologi kelainan, pewarnaan dengan fluoresin, neovaskularisasi,
derajat defek pada epithel, lokasi dari infiltrat pada kornea, edema kornea,
keratik presipitat, dan keadaan di bilik mata depan. Tanda-tanda yang
ditemukan ini juga berguna dalam mengawasi perkembangan penyakit dan
respon terhadap pengobatan.
Pemeriksaan diagnosis yang biasa dilakukan adalah :
1.
2.
3.

Ketajaman penglihatan
Tes refraksi
Pemeriksaan slit-lamp (biomikroskop), penting untuk pemeriksaan kornea
dengan benar; jika tidak tersedia, dapat dipakai kaca pembesar dan

pencahayaan yang terang.


4.
Respons reflex kornea
5.
Goresan ulkus untuk analisis dan kultur
6.
Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi, dapat memperjelas lesi epitel
superficial yang tidak mungkin terlihat bila tidak dipulas.

Karena kornea memiliki banyak serabut nyeri, kebanyakan lesi pada kornea baik
yang bersifat dangkal atau superficial maupun dalam menimbulkan rasa sakit
dan fotofobia. Lesi pada kornea juga mempunyai makna diagnostik yang penting
(Tabel.1). Lesi pungtata pada kornea dapat dimana saja tapi biasanya pada
daerah sentral. Daerah lesi biasanya meninggi dan berisi titik-titik abu-abu yang
kecil. Keratitis epitelial sekunder terhadap blefarokonjungtivitis stafilokokus
dapat dibedakan dari keratitis pungtata superfisial karena mengenai sepertiga
kornea bagian bawah. Keratitis epitelial pada trakoma dapat disingkirkan karena
lokasinya dibagian sepertiga kornea bagian atas dan ada pannus. Banyak
diantara keratitis yang mengenai kornea bagian superfisial bersifat unilateral
atau dapat disingkirkan berdasarkan riwayatnya. 3
Berikut ini adalah jenis keratitis dan bentuknya:
No.
1.

Jenis keratitis
Keratitis stafilokok

2.

Keratitis herpetik

3.

Keratitis varicellazoster
Keratitis adenovirus

4.
5.

Keratitis sindrom
Sjorgen

6.

Keratitis terpapar
akibat lagoftalmus
atau eksoftalmus
Keratokonjungtuvitis
vernal

7.

8.

9.

10.
11.

Keratitis trofiksekuele HS, HZ dan


destruksi ganglion
gaseri
Keratitis karena
obat-terutama
antibiotika
spectrum luas
Keratitis superficial
punctata (SPK)
Keratokonjungtivitis
limbic superior

Bentuk keratitis
Erosi kecil-kecil terputus fluorescin;
terutama sepertiga bawah kornea
Khas dendritik (kadang-kadang bulat
atau lonjong) dengan edema dan
degenerasi
Lebih difus dari lesi HSK; kadang-kadang
linear (pseudosendrit)
Erosi kecil-kecil terpulas fluorecein; difus
namun paling mencolok di daerah pupil
Epitel rusak dan erosi kecil-kecil,
pleomorfik, terpulas fluorescein;
filament epithelial dan mukosa khas;
terutama belahan bawah kornea
Erosi kecil-kecil tidak teratur, terpulas
fluorescein; terutama di belahan bawah
kornea
Lesi mirip-sinsisium, yang keruh dan
berbercak-bercak kelabu, paling
mencolok di daerah pupil atas. Kadangkadang membentuk bercak epithelium
opak
Edema epitel berbercak-bercak; difus
namun terutama di fissure palpebrae,
pukul 9-3
Erosi kecil-kecil terpulas fluorescein
dengan edema seluler berbintik-bintik;
lingkaran epitel
Focus sel-sel epithelial sembab, bulat
atau lonjong; menimbul bila penyakit
aktif
Erosi kecil-kecil terpulas fluorescein di
sepertiga atas kornea; filament selama

12.
13.
14.

Keratitis rubeola,
rubella dan parotitis
epidemika
Trachoma
Keratitis defisiensi
vitamin A

eksaserbasi; hiperemi bulbar, limbus


berkeratin menebal, mikropanus
Lesi tipe virus seperti pada SPK; di
daerah pupil
Erosi epitel kecil-kecil terpulas
fluorescein pada sepertiga atas kornea
Kekeruhan berbintik kelabu sel-sel epitel
akibat keratinisasi partial; berhubungan
dengan bintik-bintik bitot

MANIFESTASI KLINIS
1. Inflamasi bola mata yang jelas
2. Terasa benda asing di mata
3. Cairan mokopurulen dengan kelopak mata saling melekat saat bangun
4. Ulserasi epitel
5. Hipopion (terkumpulnya nanah dalam kamera anterior)
6. Dapat terjadi perforasi kornea
7. Ekstrusi iris dan endoftalmitis
8. Fotofobia
9. Mata berair
10.Kehilangan penglihatan bila tidak terkontrol
(Brunner dan Suddarth, 2001)
TANDA DAN GEJALA
Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrat di kornea. Infiltrat
dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan menetapkan diagnosis dan pengobatan
keratitis.

Pada

peradangan

yang

dalam,

penyembuhan

berakhir

dengan

pembentukan jaringan parut (sikatrik), yang dapat berupa nebula, makula, dan
leukoma. Adapun gejala umum adalah :

Keluar air mata yang berlebihan

Nyeri

Penurunan tajam penglihatan

Radang pada kelopak mata (bengkak, merah)

Mata merah

Sensitif terhadap cahaya (Mansjoer, 2001).

Differential Diagnoses (medscape)

Keratitis, Bacterial

Keratitis, Herpes Simplex

Keratitis, Interstitial

Keratopathy, Neurotrophic

Prognosis
Prognosis quo ad vitam pada pasien keratitis adalah bonam. Sedangkan
prognosis fungsionam pada keratitis sangat tergantung pada jenis keratitis
itu sendiri. Jika lesi pada keratitis superficial berlanjut hingga menjadi
ulkus kornea dan jika lesi pada keratitis tersebut telah melebihi dari epitel
dan membran bowman maka prognosis fungsionam akan semakin buruk.
Hal ini biasanya terjadi jika pengobatan yang diberikan sebelumnya
kurang adekwat, kurangnya kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi
yang sudah dianjurkan, terdapat penyakit sistemik lain yang dapat
menghambat proses penyembuhan seperti pada pasien diabetes mellitus,
ataupun dapat juga karena mata pasien tersebut masih terpapar secara
berlebihan oleh lingkungan luar, misalnya karena sinar matahari ataupun
debu.
Pemberian kortikosteroid topikal untuk waktu lama dapat memperpanjang
perjalanan

penyakit

hingga

bertahun-tahun

serta

dapat

pula

mengakibatkan timbulnya katarak dan glaukoma yang diinduksi oleh


steroid.
Terapi Medik

1. Pemberian antibiotik, air mata buatan.


2. Pada keratitis bakterial diberikan gentacimin 15 mg/ml, tobramisin 15
mg/ml, seturoksim 50 mg/ml. Untuk hari-hari pertama diberikan setiap 30
menit kemudian diturunkan menjadi 1 jam dan selanjutnya 2 jam bila
keadaan mulai membaik. Ganti obatnya bila resisten atau keadaan tidak
membaik.
3. Perlu diberikan sikloplegik untuk menghindari terbentuknya sinekia
posterior dan mengurangi nyeri akibat spasme siliar
4. Pada terapi jamur sebaikna diberikan ekanazol 1 % yang berspektum luas.
5. Antivirus,anti inflamasi dan analgesik
(Brunne dan Suddarth, 2001)
1. Keratitis Mikrobial
Pasien dengan infeksi kornea berat dirawat untuk pemberian berseri (kadang
sampai tiap 30 menit sekali) tetes anti mikroba dan pemeriksaan berkala oleh
ahli optalmologi.Cuci tangan secara seksama. Harus memakai sarung tangan
setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata. Kelopak mata harus dijaga
kebersihannya dan perlu diberi kompres dingin. Diperlukan asetaminofen untuk
mengontrol nyeri. Dan diresepkan sikloplegik dan midriatik untuk mengurangi
nyeri dan inflamasi
1. Keratitis Pemajanan
Memplester kelopak mata atau membalut dengan ringan mata yang telah diberi
pelumas. Pada yang mengalami penurunan perlindungan sensori terhadap
kornea. Dapat dipasang lensa kontak lunak tipe-balutan. Lensa kontak lunak tipebalutan dipasang sesuai ukuran. Hal ini untuk mempertahankan permukaan
kornea, mempercepat penyembuhan efek epitel dan memberikan rasa nyaman.
Perisai kolagen bisa dipergunakan untuk perlindungan kornea jangka pendek
(Brunne dan Suddarth, 2001)
Iritis

Iritis (juga dikenal sebagai iridocyclitis atau uveitis) adalah peradangan pada
lapisan dalam mata yang berpigmen (uvea), iris, atau keduanya.
penyebab
Iritis bisa terjadi setelah trauma tumpul pada mata atau akibat terpapar
bahan kimia, biasanya dalam 3 hari. Meskipun begitu, iritis bisa juga terjadi
tanpa luka.
gejala
Gejala dapat berupa mata berair, merah, dan terasa nyeri. Biasanya
penderita mengalami penglihatan yang agak buram atau rasa nyeri ketika
terpapar cahaya yang terang (fotofobia).
diagnosa
Diagnosa dibuat berdasarkan riwayat penyakit (adanya trauma tumpul atau
terpapar bahan kimia), gejala-gejala yang ada, dan hasil pemeriksaan mata.
DD
konjungtivitis,Keratitis atau keratokonjungtivitis dan Glukoma akut. Pada
konjunctivitis penglihatan tidak kabur, respon pupil normal, dan umumnya tidak
ada rasa sakit, fotofobia, atau injeksi ciliar.
Pada keratitis atau keratokonjunctivitis, penglihartan dapat kabur dan ada
rasa sakit dan fotofobia. Beberapa penyebab keratitis seperti herpes simplek dan
zoster dapat mengenai uveitis anterior sebenarnya. Pada glaucoma akut, pupil
melebar, tidak ada synekia posterior, dan korneanya beruap
TTL
Pengobatan iritis

adalah tidak spesifik, pada umumnya menggunakan

kortikosteroid topical dan cycloplegics agent. Cycloplegic mempunyai tiga tujuan


dalam pengobatan uveitis anterior, yaitu untuk mengurangi nyeri dengan

memobilisasi iris, mencegah terjadinya perlengketan iris dengan lensa anterior


( sinekia posterior ), yang akan mengarahkan terjadinya iris bombe dan
peningkatan tekanan intraocular, menstabilkan blood-aqueous barrier dan
mencegah terjadinya protein leakage (flare) yang lebih jauh. Agent cycloplegics
yang biasa dipergunakan adalah atropine 0,5%, 1%, 2%, homatropine 2%, 5%,
Scopolamine 0,25%, dan cyclopentolate 0,5%, 1%, dan 2%.
Kortikosteroid

tetes

mata

dapat

berbentuk

solutio

dan

suspensi.

Keuntungan bentuk suspensi adalah penetrasi intra okular lebih baik daripada
bentuk solutio karena bersifat biphasic, tapi kerugiannya bentuk suspensi ini
memerlukan

pengocokan

terlebih

dahulu

sebelum

dipakai.

Beberapa

kortikosteroid topikal yang tersedia adalah prednisolon acetate 0,125% dan 1%,
prednisolone sodium phospat 0,125% , 0,5%, dan 1%, deksamentason alcohol
0,1%, deksamethasone sodium phospat 0,1%, fluoromethasone 0,1% dan 0,25%,
dan medrysone 1%.
Adakalanya steroid atau nonsteroidal anti inflammatory ( NSAIDs) oral
dipergunakan.

Namun

obat-obatan

steroid

dan

imunosupresan

lainnya

mempunyai efek samping yang serius, seperti gagal ginjal, peningkatan kadar
gula darah, hipertensi, osteoporosis, dan galukoma, khususnya pada steroid
dalam bentuk pil.
Follow-up awal pasien uveitis anterior harus terjadwal antara 1 7 hari,
tergantung pada keparahannya. Yang dinilai pada setip follow-up adalah visual
aquity, pengukuran tekanan intraocular, pemeriksaan dengan menggunakan
slitlamp, assasment cel dan flare, dan evaluasi respon terhadap terapi.
Prognosis: baik jika ditangani segera.
(C, Kathryn. Traumatic Iritis and Chemical Iritis. Merck Manual Home Health
Handbook. 2013.)
Dakriosistitis
peradangan pada sakus lakrimalis akibat adanya obstruksi pada duktus
nasolakrimalis. Obstruksi pada anak-anak biasanya akibat tidak terbukanya
membran nasolakrimal, sedangkan pada orang dewasa akibat adanya
penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung.

Dakriosistitis Akut

Dakriosistitis Kongenital

GEJALA
Dakriosistitis dapat terjadi tiba-tiba (akut) atau untuk waktu lama (kronis). Pada
infeksi akut, daerah di sekitar kantong air mata terasa nyeri, berwarna
merah, dan membengkak. Daerah di sekitar mata menjadi merah dan
mata berair, serta bisa mengeluarkan nanah. Penekanan ringan pada kantong
air mata dapat mendorong cairan kental atau nanah keluar dari punktum
lakrimal, yaitu lubang pada sudut mata kelopak mata bagian dalam di dekat
hidung.
Umumnya infeksi yang terjadi ringan. Tetapi terkadang, dapat terjadi infeksi
berat dan menyebabkan timbulnya demam. Kumpulan nanah dapat terbentuk
dan pecah melalui kulit.
Infeksi berulang bisa menyebabkan penebalan dan kemerahan diatas kantong air
mata. Jika infeksi ringan atau infeksi berulang berlangsung lama maka sebagian
besar gejala mungkin dapat menghilang, tetapi pembengkakan ringan bisa
menetap. Kadang infeksi menyebabkan tertahannya air mata di dalam kantong
air mata sehingga terbentuk kantong yang berisi cairan (mukokel) di bawah kulit.
Diagnosis Banding3
a. Selulitis Orbita
Selulitis orbita merupakan peradangan supuratif jaringan ikat longgar
intraorbita di belakang septum orbita. Selulitis orbita akan memberikan gejala
demam, mata merah, kelopak sangat edema dan kemotik, mata proptosis, atau
eksoftalmus diplopia, sakit terutama bila digerakkan, dan tajam penglihatan

menurun bila terjadi penyakit neuritis retrobulbar. Pada retina terlihat tanda
stasis pembuluh vena dengan edema papil.

b. Hordeolum
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Dikenal
bentuk hordeolum internum dan eksternum. Horedeolum eksternum merupakan
infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum merupakan infeksi
kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Gejalanya berupa kelopak yang
bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah dan nyeri bila ditekan.
Hordeolum eksternum atau radang kelenjar Zeis atau Moll akan menunjukkan
penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak.
TTL
Pengobatan dakriosistitis pada anak (neonatus) dapat dilakukan dengan masase
kantong air mata ke arah pangkal hidung. Dapat juga diberikan antibiotik
amoxicillin/clavulanate atau cefaclor 20-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam
tiga dosis dan dapat pula diberikan antibiotik topikal dalam bentuk tetes
(moxifloxacin 0,5% atau azithromycin 1%)

17

atau menggunakan

sulfonamid 4-5 kali sehari 8.


Pada orang dewasa, dakriosistitis akut dapat diterapi dengan melakukan
kompres hangat pada daerah sakus yang terkena dalam frekuensi yang
cukup sering

8,17

. Amoxicillin dan chepalosporine (cephalexin 500mg p.o. tiap 6

jam) juga merupakan pilihan antibiotik sistemik yang baik untuk orang dewasa
17

. Untuk mengatasi nyeri dan radang, dapat diberikan analgesik oral

(acetaminofen atau ibuprofen), bila perlu dilakukan perawatan di rumah sakit


dengan pemberian antibiotik secara intravena, seperti cefazoline tiap 8 jam

17

Bila terjadi abses dapat dilakukan insisi dan drainase 8. Dakriosistitis kronis pada
orang dewasa dapat diterapi dengan cara melakukan irigasi dengan antibiotik.
Sumbatan duktus nasolakrimal dapat diperbaiki dengan cara pembedahan jika
sudah tidak radang lagi.
Prognosis
Dakriosistitis sangat sensitif terhadap antibiotika namun masih berpotensi
terjadi kekambuhan jika obstruksi duktus nasolakrimalis tidak ditangani secara
tepat, sehingga prognosisnya adalah dubia ad malam. Akan tetapi, jika dilakukan

pembedahan baik itu dengan dakriosistorinostomi eksternal atau


dakriosistorinostomi internal, kekambuhan sangat jarang terjadi sehingga
prognosisnya dubia ad bonam
Barathi, Ramakrishnan, Maneksha, Shivakumar, Nithya dan Mittal. 2007.
Comparative Bacteriology of Acute and Chronic Dacryocystitis. [serial
online]. http://www.eye.com/. [7 November 2010].
DAKRIOADENITIS

Peradangan kelenjar lakrimal , penyakit ini jarang ditemukan dan dapat


terjadi satu sisi mata atau pada kedua mata.
Penyakit ini dapat berupa proses akut atau kronis( lebih dari sebulan).
Penyebab:
Virus: herpes zoster, cytomegalovirus, parotitis.
Bakteri: Staphylococcus aureus, streptokokus, gonokokus.
Jamur: histoplasmosis, aktinomises, blastomikosis, nokardiosis, sporotrikosis.
Sarkoid. Idiopatik (belum diketahui penyebabnya)
Pada pasien dakroadenitis menahun sekunder, dapat terjadi akibat penyakit
Hodgkin,Tuberculosis, mononukleosis infeksiosa, leukimia limfatik dan
limfosarkoma.
Keluhan dakroadenitis akut :
- Sakit pada daerah glandula lakrimal(di bagian temporal atas rongga orbita)
disertai dengan kelopak mata yang bengkak, konjungtiva kemotik dengan
belek. Pada infeksi akan terlihat bila mata bengkak akan memberikan sakit
dengan pembesaran kelenjar preaurikuler.
Yang penting : itu membedakan dengan selulitis orbita adalah dengan biopsi
kelenjar preaurikuler. Bila kelopak mata dibalik tampak pembengkakan
berwarna merah dibawah kelopak mata atas temporal.
Pada keadaan menahun terdapat gambaran yang hampir sama dengan keadaan
akut tetapi tidak disertai rasa nyeri.
Pengobatan::
- Kompres Hangat, antibiotik sistemik dan jika ada abses dilakukan insisi.

Pada orang dewasa, dakriosistitis akut dapat diterapi dengan melakukan


kompres hangat pada daerah sakus yang terkena dalam frekuensi yang cukup
sering 8,17. Amoxicillin dan chepalosporine (cephalexin 500mg p.o. tiap 6 jam)
juga merupakan pilihan antibiotik sistemik yang baik untuk orang dewasa 17.
Untuk mengatasi nyeri dan radang, dapat diberikan analgesik oral
(acetaminofen atau ibuprofen), bila perlu dilakukan perawatan di rumah sakit
dengan pemberian antibiotik secara intravena, seperti cefazoline tiap 8
jam(Terapi ini sama dengan terapi dakriosistitis)
Diagnosis banding::
Kalazion, konjungtivitis adenovirus, selulitis preseptal, selulitis orbita, dan
keganasan kelenjar lakrimal.

MIOPI
1. Penjelasan Penyakit :
Derajat beratnya miopi :
- Miopi ringan : 1-3 dioptri
- Miopi sedang
: 3-6
dioptri
- Miopi berat : > 6 dioptri
(Buku Mata FK UI)

(google book NELSON)


2. Tanda dan Gejala
- Melihat jelas bila dekat.
Sedangkan melihat jauh akan kabur (rabun jauh).
- Adanya sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak
sempit.
- Penderia punya kebiasaan mengerinyitkan matanya.
3. Pengobatan
Menggunakan lensa positif yang disesuaikan kondisi mata.

HIPERMETROPIA
1. Penjelasan penyakit

Hipermetropia atau rabun dekat merupakan keadaan gangguan kekuatan


pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik
fokusnya terletak di belakang retina. Pada hipermetropia sinar sejajar difokuskan
di belakang macula lutea. (FK UI)
2. Gambar
*ada di gambar bagian miop
3. Tanda dan gejala
Gejala yang ditemukan pada hipermetropia adalah penglihatan dekat dan
jauh menjadi kabur, sakit kepala, silau, kadang rasa juling / lihat
ganda. Aka ada keluhan matanya lelah dan sakit (karena terus menerus
harus berakomodasi untuk melihat atau memfokuskan bayangan yang
terletak di belakang macula agar terletak di daerah macula lutea. (FK UI)

(NELSON)
4. DD: Presbiopi
5. Pengobatan + resep
Menggunakan lensa positif yang disesuaikan kondisi mata.
XEROPHTALMIA
1. Penjelasan Penyakit
Kata xerophtalmia berasal dari bahasa Yunani yang berarti mata gagal
memproduksi air mata atau dikenal sebagai mata kering (dry eyes)
[ Xeros = kering; ophthalmos= mata].
Xerophthalmia berhubungan dengan:
penyakit sistemik seperti sindrom Sjogren, SLE (systemic
lupuserythematosus),rheumatoid arthritis, skleroderma,
sarkoidosis,amiloidosis, dan hipotiroidisme.
Defisiensi vitamin A
Penggunaan beberapa jenis obat-obatan termasuk antihistamin,dekongestan
nasal, obat penenang dan obat anti depresi.
Faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia
adalah:
a. Konsumsi makanan yang kurang / tidak mengandung cukup Vitamin A atau
pro vitamin A untuk jangka waktu lama.
b. Bayi tidak mendapatkan ASI Eksklusif.
c. Gangguan penyerapan vitamin A.

d. Tingginya angka infeksi pada anak (gastroenteritis/diare).


2. Gambar

3. Tanda dan gejala


Sebelum terdeteksi menderita xeropthalmia, biasanya penderita akan
mengalami buta senja (tampak anak tidak dapat melihat pada pencahayaan
yang redup,dapat membentur benda-benda sekitar dan/atau kecepatan
berjalanmenurun).
Gejala xeropthalmia terlihat pada kekeringan pada selaput lendir
(konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata. Kekeringan berlarut-larut
menyebabkan konjungtiva menebal, berlipat-lipat, dan berkerut.
Selanjutnya pada konjungtiva akan tampak bercak putih seperti busa
sabun (bercak Bitot). Terdapat juga penurunan ketajaman penglihatan.
4. Pengobatan
a. Berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral atau 100.000 IU Vitamin A
injeksi.
b. Hari berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
c. 1 2 minggu berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
d. Obati penyakit infeksi yang menyertai
e. Obati kelainan mata, bila terjadi
f. Perbaiki status gizi
PRESBIOPI
Presbiopi merupakan kondisi mata dimana lensa kristalin kehilangan fleksibilitasnya sehingga
membuatnya tidakdapat fokus pada benda yang dekat. Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan
refraksi, dimana makin berkurangnyakemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin
meningkatnya umur.
Presbiopi adalah cacat mata yang menyebabkan seseorang tidak dapat melihat benda baik pada
jarak jauh maupun jarak dekat. Titik dekat penderita akan bertambah dan titik jauhnya berkurang.
Presbiopi disebabkan karena keadan fisik lensa mata sudah tidak dapat memipih dan mencembung
atau tidak dapat berakomodasi seoptimal mungkin, sehingga
a. Bila melihat benda pada jarak jauh, bayangan yang dibentuk lensa mata jatuh di depan retina.
b. Bila melihat benda pada jarak dekat, bayangan yang dibentuk lensa mata jatuh di belakang retina.
Mata presbiopi dapat ditolong dengan kacamata berlensa rangkap yaitu lensa negatif berada di atas
dan lensa positifnya di bagian bawah.
ETIOLOGI
a. Terjadi gangguan akomodasi lensa pada usia lanjut

b. Kelemahan otot-otot akomodasi


c. Lensa mata menjadi tidak kenyal, atau berkurang elastisitasnya akibat kekakuan (sklerosis)
lensa.
Gambar kondisi mata yang mengalami presbiopi.

PATOFISIOLOGI
Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi mata karenaadanya
perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul sehingga lensa menjadi cembung.
Dengan meningkatnya umur maka lensa menjadi lebih keras (sklerosis)dan kehilangan elastisitasnya
untuk menjadi cembung. Dengan demikian kemampuan melihat dekat makin berkurang.

KLASIFIKASI
a. Presbiopi Insipien tahap awal perkembangan presbiopi, dari anamnesa didapati pasien
memerlukan kaca mata untuk membaca dekat, tapi tidak tampak kelainan bila dilakukan tes, dan
pasien biasanya akan menolak preskripsi kaca mata baca
b. Presbiopi Fungsional Amplitud akomodasi yang semakin menurun dan akan didapatkan kelainan
ketika diperiksa
c. Presbiopi Absolut Peningkatan derajat presbiopi dari presbiopi fungsional, dimana proses
akomodasi sudah tidak terjadi sama sekali
d. Presbiopi Prematur Presbiopia yang terjadi dini sebelum usia 40 tahun dan biasanya berhungan
dengan lingkungan, nutrisi, penyakit, atau obat-obatan
e. Presbiopi Nokturnal Kesulitan untuk membaca jarak dekat pada kondisi gelap disebabkan oleh
peningkatan diameter pupil

GEJALA
a. Kesulitan membaca tulisan dengan cetakan huruf yang halus / kecil

b. Setelah membaca, mata menjadi merah, berair, dan sering terasa pedih. Bisa juga disertai
kelelahan mata dan sakit kepala jika membaca terlalu lama
c. Membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca atau menegakkan punggungnya karena tulisan
tampak kabur pada jarak baca yang biasa (titik dekat mata makin menjauh)
d. Sukar mengerjakan pekerjaan dengan melihat dekat, terutama di malam hari
e. Memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca
f. Terganggu secara emosional dan fisik
g. Sulit membedakan warna
DD: Presbiopi OC S/D, Miopi OC S/D, Hipermiopi OC S/D
DIAGNOSIS PRESBIOPI
1.

Anamnesis gejala-gejala dan tanda-tanda presbiopi

2.

Pemeriksaan Oftalmologi

a.

Visus Pemeriksaan dasar untuk mengevaluasi presbiopi dengan menggunakan Snellen


Chart

b.

Refraksi Periksa mata satu per satu, mulai dengan mata kanan. Pasien diminta untuk
memperhatikan kartu Jaeger dan menentukan kalimat terkecil yang bisa dibaca pada kartu.
Target koreksi pada huruf sebesar 20/30.

c.

Motilitas okular, penglihatan binokular, dan akomodasi termasuk pemeriksaan duksi dan
versi, tes tutup dan tes tutup-buka, tes Hirschberg, amplitud dan fasilitas akomodasi, dan
steoreopsis

d.

Penilaian kesehatan okular dan skrining kesehatan umum untuk mendiagnosa penyakitpenyakit yang bisa menyebabkan presbiopia.

e.

Pemeriksaan ini termasuk reflek cahaya pupil, tes konfrontasi, penglihatan warna, tekanan
intraokular, dan pemeriksaan menyeluruh tentang kesehatan segmen anterior dan posterior
dari mata dan adnexanya. Biasanya pemeriksaan dengan ophthalmoskopi indirect
diperlukan untuk mengevaluasi segmen media dan posterior

PENATALAKSANAAN PRESBIOPI
1.

Digunakan lensa positif untuk koreksi presbiopi. Tujuan koreksi adalah untuk
mengkompensasi ketidakmampuan mata untuk memfokuskan objek-objek yang dekat

2.

Kekuatan lensa mata yang berkurang ditambahan dengan lensa positif sesuai usia dan hasil
pemeriksaan subjektif sehingga pasien mampu membaca tulisan pada kartu Jaeger 20/30

3.

Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka adisi +3.00 D adalah lensa positif terkuat yang
dapat diberikan pada pasien. Pada kekuatan ini, mata tidak melakukan akomodasi bila

membaca pada jarak 33 cm, karena tulisan yang dibaca terletak pada titik fokus lensa
+3.00D
Usia (tahun)
40
45
50
55
60

Kekuatan Lensa Positif yang dibutuhkan


+1.00 D
+1.50 D
+2.00 D
+2.50 D
+3.00 D

4.
Selain kaca mata untuk kelainan presbiopi saja, ada beberapa jenis lensa lain yang digunakan
untuk mengkoreksi berbagai kelainan refraksi yang ada bersamaan dengan presbiopia. Ini termasuk:
a.

Bifokal untuk mengkoreksi penglihatan jauh dan dekat. Bisa yang mempunyai
garis horizontal atau yang progresif

b.

Trifokal untuk mengkoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh. Bisa yang
mempunyai garis horizontal atau yang progresif

c.

Bifokal kontak - untuk mengkoreksi penglihatan jauh dan dekat. Bagian bawah
adalah untuj membaca. Sulit dipasang dan kurang memuaskan hasil koreksinya

d.

Monovision kontak lensa kontak untuk melihat jauh di mata dominan, dan lensa
kontak untuk melihat dekat pada mata non-dominan. Mata yang dominan umumnya
adalah mata yang digunakan untuk fokus pada kamera untuk mengambil foto

e.

Monovision modified lensa kontak bifokal pada mata non-dominan, dan lensa
kontak untuk melihat jauh pada mata dominan. Kedua mata digunakan untuk melihat
jauh dan satu mata digunakan untuk membaca.

5.
Pembedahan refraktif seperti keratoplasti konduktif, LASIK, LASEK, dan keratektomi
fotorefraktif
Penatalaksanaan tidak diintervensi secara farmakologi, selain karena merupakan aging process,
presbiopi ini terjadi secara fisiologis dalam kehidupan fisik seseorang.
PROGNOSIS: Dubia ad bonam (baik)
DAFTAR PUSTAKA
Ilyas S. Kelainan Refraksi dan Kacamata. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 1997
Sumber Tambahan: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2125790-pengertian-mata-tua
presbiopi/#ixzz2ormOybO5 , http://ryan-koko.blogspot.com/2012/05/presbiopi.html

BUTA SENJA
Rabun senja atau rabun ayam (nyctalopia) adalah sebuah penyakit mata yang menyebabkan
penderitanya kesulitan melihat jika kekurangan sumber cahaya. Penyakit ini bisa disebabkan
karena luka, malnutrisi (kekurangan vitamin A) atau sejak lahir.

Buta senja terjadi pada defisiensi vitamin A yang berat. Bila jumlah total vitamin A di dalam darah
sangat berkurang, jumlah vitamin A, retinal dan rodopsin di dalam sel batang, dan juga zat kimia peka
cahaya berwarna di dalam sel kerucut, semuanya berkurang jadi menurunkan kepekaan sel batang dan
kerucut. Keadaan ini disebut buta senja karena pada waktu malam, jumlah cahaya yang tersedia
sangat sedikit untuk memungkinkan penglihatan yang memadai, meskipun di siang hari tersedia
cukup untuk merangsang batang dankerucut meskipun jumlah zat fotokimia ini berkurang. Untuk
terjadinya buta senja ini, orang harus sering mempunyai diet kurang vitamin A selama berbulan-bulan,
karena biasanya vitamin A disimpan dalam jumlah besar didalam hati bagi bagian tubuh lain yang
memerlukannya, tetapi bila buta senja telah timbul kadang-kadang ia dapat disembuhkan sama sekali
dalam waktu setangah jam atau lebih dengan suntikan vitamin A intravena. Ini disebabkan oleh
cepatnya perubahan vitamin A menjadi retinal dan kemudian menjadi rodopsin.
http://www.scribd.com/doc/118378859/Buta-Senja

TANDA DAN GEJALA


Rabun senja terjadi akibat gangguan pada sel batang retina. Tanda dan gejala pada penderita rabun
senja adalah pada daya pandang menurun, terutama pada senja hari atau saat ruangan keadaan
ringan, sel batang retina sulit beradaptasi di ruang remang-remang atau kurang setelah lama berada di
cahaya terang. Penglihatan menurun pada senja hari, yaitu penderita tidak dapat melihat di lingkungan
yang kurang cahaya, sehingga disebut juga buta senja. Terjadi kekeringan mata, dan bagian putih
menjadi suram, dan sering pusing (Wijayakusuma 2008).
Rabun senja dapat dideteksi jika anak sudah bisa berjalan, anak tersebut akan sering membentur atau
menabrak benda yang berada di depannya karena tidak dapat melihat maka dapat dicurigai bahwa
anak tersebut menderita rabun senja. Jika anak belum dapat berjalan, agak susah mendeteksinya.
Dalam keadaan ini biasanya anak diam memojok bila didudukkan ditempat kurang cahaya karena
tidak dapat melihat benda atau makanan di depannya (Sommer 1978).
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah
DD : Katarak, Miopia OC D/S, Presbiopi OC D/S, Retinitis pigmentosa
DIAGNOSIS
1.
Anamnesa terpimpin. Kurang buah dan sayur hijau, kuning, jingga dan

kurang makan hati


2.
Pemeriksaan fisik atau gejala klinik ;Gejala fungsional : adaptasi gelap,
fotofobia, hemeralopi.
3.
Laboratorium
a.
Kadar vitamin A plasma kurang konklusif
b.
Pemeriksaan PA garukan epitel konjungtiva (diagnosis dini)
tampak keratinisasi epitel konjungtiva
4.
Pemeriksaan fundus okuli: Xeroftalmia fundus = bercak-bercak putih
fundus

5.
Uji adaptasi gelap, Tes adaptasi gelap dapat membantu dalam
diagnosis defisiensi vitamin A. Xerosis konjungtiva dapat dideteksi dengan
pemeriksaan biomikroskopik pada konjungtiva. Konsentrasi karoten plasma
turun dengan cepat tapi penurunan vitamin A lebih lambat.
PENGOBATAN
Umumnya kebutuhan sehari-hari vitamin A dapat dipenuhi dengan
pemberian diet yang mengandung telur, susu, mentega, hati, sayuran berupa
daun atau yang berwarna kuning (wortel dan sebagainya), buah-buahan yang
berwarna kuning (tomat, pepaya, dan sebagainya).
Pemberian vitamin A dengan tujuan mengobati defisiensi vitamin A dan
menambah persediaan vitamin A dalam hepar. Preparat yang dianjurkan
adalah :
a.
Oral : oil based solution retinol palmitat atau asetat sebagai kapsul
sengan/tanpa tambahan vitamin E.

b.

Intramuskular : water miscible retinol palmitat


Pengobatan xeroftalmia :
a.
setelah dibuat diagnosa
110 mg retinol palmitat atau 66 mg retinol asetat (200.000 SI) per oral atau
55 mg retinol palmitat ( 100.000 SI) intravena
b.
Hari berikutnya
110 mg retinol palmitat atau 66mg retinol asetat (200.000 SI) per oral
c.
Sebelum dipulangkan/klinis memburuk/2-4 minggu kemudian
110 mg retinol palmitat atau 66mg retinol asetat (200.000 SI) per oral
PROGNOSIS
Kekurangan vitamin A diobati dengan pemberian vitamin A tambahan
sebanyak 20 kali dosis harian yang dianjurkan selama 3 hari. lalu diikuti
dengan pemberian sebanyak 3 kali dosis harian yang dianjurkan selama 1
bulan. setelah itu diharapkan semua gejala sudah hilang . Untuk rabun senja
sendiri secara umum Prognosisnya dubia ad bonam (baik).
PENCEGAHAN
Pencegahan defisiensi vitamin A sudah bisa dilakukan pada bayi saat
usianya 6 bulan. Di usia ini, anak sudah perlu asupan gizi di samping ASI
seperti makanan yang berasal dari hewan (susu, daging ayam, hati, telur)
atau dari sayuran hijau daerta buah berwarna merah dan kuning (mangga,
pepaya)." Kapsul vitamin A warna biru diberikan kepada anak usia 6-11
bulan, sedangkan anak balita diberi kapsul vitamin A berwarna
merah. Vitamin A dosis tinggi, baik yang biru maupun merah, tidak diperjual
belikan dan diberikan secara gratis diposyandu. Jadi, selain untuk
meningkatkan kesehatan mata, intervensi ini pun dimaksudkan untuk

menurunkan tingkat kematian anak. Oleh karena itu, orang tua harus paham
tentang gizi dan memperhatikan kebutuhan gizi anak karena anak belum
dapat memilih makanan yang baik untuk dirinya.
http://dokter-ichigo.blogspot.com/2012/05/refarat-defisiensi-vitamin.html

ASTIGMATISME
Maria Ayu
DEFINISI
Astigmatisme adalah suatu keadaan dimana sinar yang sejajar tidak
dibiaskan dengan kekuatan yang sama pada seluruh bidang pembiasan
sehingga fokus pada retina tidak pada satu titik. Umumnya setiap orang
memiliki astigmatisme ringan. Pada astigmatisme dapat dilihat berbagai
faktor di bawah ini :
1. Lengkungan jari-jari pada satu meridian kornea lebih panjang
dibanding jari- jari meridian yang tegak lurus padanya.
2. Pembiasan sinar pada mata tidak sama pada semua bidang atau
meridian.
3. Astigmatisme disebabkan karena pembiasan sinar yang tidak sama
pada berbagai sumbu penglihatan mata.
4. Keadaan dimana terjadi mata lebih rabun jauh pada salah satu
sumbu (misal 90 derajat) dibanding sumbu lainnya (180 derajat).
ETIOLOGI
Astigmatisme merupakan akibat bentuk kornea yang oval seperti telur,
makin lonjong bentuk kornea makin tinggi astigmatisme mata tersebut.
Astigmatisme biasanya bersifat diturunkan atau terjadi sejak lahir.
Astigmatisme
biasanya berjalan bersama dengan miopia dan
hipermetropia
dan
tidak
banyak
terjadi
perubahan
selama
hidup.Astigmatisme juga dapat terjadi akibat jaringan parut pada kornea
atau setelah pembedahan mata. Jahitan yang terlalu kuat pada bedah
mata dapat mengakibatkan perubahan pada permukaan kornea. Bila
dilakukan pengencangan dan pengenduran jahitan pada kornea maka
dapat terjadi astigmatisme akibat terjadi perubahan kelengkungan
kornea.
KLASIFIKASI

Astigmatisme regular

Adalah suatu keadaan refraksi dimana terdapat dua kekuatan pembiasan


yang saling tegak lurus pada sistem pembiasan mata. Hal ini diakibatkan
kornea yang mempunyai daya bias berbeda-beda pada berbagai meridian
permukannya. Astigmatisme ini memperlihatkan kekuatan pembiasan

bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu


meridian ke meridian berikutnya. Bayangan yang terjadi pada
astigmatisme regular dengan bentuk teratur dapat berbentuk garis,
lonjong, atau lingkaran.

Astigmatisme iregular

Yaitu astigmatisme yang terjadi tidak mempunyai 2 meridian saling tegak


lurus. Astigmatisme ireguler dapat terjadi akibat ke lengkungan kornea
pada meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi iregular.
Astigmatisme iregular terjadi akibat infeksi kornea, trauma dan distrofi,
atau akibat kelainan pembiasan.

Astigmatisme lazim (astigmat with the rule)

Adalah suatu keadaan kelainan refraksi astigmatisme regular dimana


koreksi dengan silinder negatif dengan sumbu horizontal (45-90 derajat).
Keadaan ini lazim didapatkan pada anak atau orang muda akibat
perkembangan normal dari serabut-serabut kornea.

Astigmatisme tidak lazim (astigmat against the rule)

Adalah suatu keadaan kelainan refraksi astigmatisme regular dimana


koreksi dengan silinder negatif dilakukan dengan sumbu tegak lurus (60120 derajat) atau dengan silinder positif sumbu horizontal (30-150
derajat). Keadaan ini terjadi akibat kelengkungan kornea pada meridian
horizontal lebih kuat dibandingkan kelengkungan kornea vertikal. Hal ini
sering ditemukan pada usia lanjut

PATOFISIOLOGI

Pada mata normal, permukaan kornea


yang
melengkung
teratur
akan
memfokuskan sinar pada satu titik. Pada
astigmatisma, pembiasan sinar tidak
difokuskan pada satu titik.Sinar pada
astigmatisma dibiaskan tidak sama pada
semua arah sehingga pada retina tidak
didapatkan satu titik fokus pembiasan.
Sebagian sinardapat terfokus pada bagian
depan retina sedang sebagian sinar lain
difokuskan di belakang retina Jatuhnya fokus sinar dapat dibagi menjadi 5
yaitu :

1.Astigmaticus miopicus composites : dimana 2 titik jatuh didepan retina


2.Astigmaticus hipermetropicus composites : dimana 2 titik jatuh di
belakang retina
3.Astigmaticus miopicus simplex : dimana 2 titik masing-masing jatuh di
depan retina dan satunya tepat pada retina
4.Astigmaticus hipermetropicus simplex : dimana 2 titik masing-masing
jatuh di belakang retina dan satunya tepat pada retina
5.Astigmaticus mixtus : dimana 2 titik masing-masing jatuh didepan retina
dan belakang retina
MANIFESTASI KLINIS

Penglihatan kabur
Melihat ganda dengan satu atau kedua mata
Bentuk benda yang dilihat berubah (missal bulat menjadi lonjong)
Mengecilkan celah kelopak mata
Sakit kepala
Mata tegang dan pegal
Astigmatisme tinggi (4 8 D) yang selalu melihat kabur sering
mengakibatkan ambliopia.

PEMERIKSAAN

Untuk menentukan adanya astigmatisme terlebih dahulu dilakukan


pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen. Periksa
kelainan refraksi miopia atau hipermetropia yang ada.

Cakram Placido
Keadaan
astigmatism
yang
irregular pada kornea dapat dilihat
dengan mengobservasi distorsi
bayangan di kornea . Bayangan
akan terlihat pada lubang di tengah
piringan yang akan mengalami
perubahan bentuk. Dengan alat ini
dapat dilihat kelengkungan kornea
yang regular (konsentris), iregular kornea, dan adanya astigmatisme
kornea.

Juring atau kipas astigmatisme


Yaitu garis berwarna hitam yang
disusun radial dengan bentuk
semisirkular dengan dasar yang
putih,
dipergunakan
untuk
pemeriksaan subjektif ada dan
besarnya
kelainan
refraksi
astigmatisme.

Keratometer
Adalah alat yang dipergunakan untuk
mengukur jari-jari kelengkungan kornea
anterior.
Perubahan
astigmatisma
kornea
dapat
diketahui
dengan
mengukur jari jari kelengkungan kornea
anterior,
meridian
vertical
dan
horizontal,
sebelum
dan
sesudah
operasi.
Untuk
mengetahui
kelengkungan setiap meridian kornea
dilakukan dengan keratometri, dengan
mengingat hukum Javal .Hukum Javal untuk keratometer, dimana
disebut pada setiap penilaian keratometer harus diingat :
1.Pada astigmat with the rule (penderita dengan silinder minus
sumbu 180), tambahkan astigmatisme yang ditemukan dengan
25% dari nilai nya dan kurangi dengan 0,50 D untuk koreksi
astigmatismenya.
2.Pada astigmat against the rule(penderita dengan silinder minus
sumbu 90), tambahkan astigmatisme yang ditemukan dengan 25%
dari nilai nya dan tambahkan dengan 0,50 D untuk koreksi
atigmatismenya.

TATALAKSANA

Astigmatisme ringan yang tidak mengalami gangguan ketajaman


penglihatan (0,5D atau kurang) tidak perlu dilakukan koreksi. Pada
astigmatisme yang berat dipergunakan kacamata silinder,lensa kontak
maupun pembedahan.
1. Kacamata silinder
Pada astigmatism against the rule , koreksi dengan silinder negative
dilakukan dengan sumbu tegak lurus (60-90derajat) atau dengan silinder
positif dengan sumbu horizontal (30-150derajat). Pada astigmatism with
the rula diperlukan koreksi silinder negative dengan sumbu horizontal (30150derajat) atau bila dikoreksi dengan silinder positif sumbu vertical (60120derajat).
Pada
koreksi
astigmatisme
dengan
keratometri
menggunakan hukun javal
2. Lensa kontak
Pada penderita astigmatisme diberikan lensa rigid yang dapat menetralisir
astigmatisme yang terjadi di permukaan kornea
3. Pembedahan
Untuk mengkoreksi astigmatisme yang berat dapat dipergunakan :
a. Photorefractife keratectomy (PRK) : laser digunakan untuk
membentuk kurvatur kornea
b. Laser in situ karatomileusis (lasik) : laser digunakan untuk merubah
kurvatur kornea dengan membuat flap ( potongan laser) pada kedua
sisi kornea
c. Radial keratotomy : insisi kecil dibuat secara dalam di kornea

GLAUKOMA

DEFINISI
Glaukoma merupakan kelompok penyakit yang biasanya memiliki satu
gambaran berupa kerusakan nervus optikus yang bersifat progresif
yang disebabkan karena peningkatan tekanan intraokular. Sebagai
akibatnya akan terjadi gangguan lapang pandang dan kebutaan.Glaukoma
biasanya menimbulkan gangguan pada lapang pandang perifer pada tahap awal
dan kemudian akan mengganggu penglihatan sentral. Glaukoma ini dapat tidak
bergejala karena kerusakan terjadi lambat dan tersamar. Glaukoma dapat
diobati jika dapat terdeteksi secara dini.
ETIOLOGI
Glaukoma terjadi akibat adanya ketidak seimbangan antara proses
produksi dan ekskresi aqueous humor. Pada sebagian besar kasus, tidak
terdapat penyakit matalain (glaukoma primer). Sedangkan pada kasus lainnya,
peningkatan tekananintraokular, terjadi sebagai manifestasi penyakit mata lain
(glaukoma sekunder).Beberapa faktor resiko yang dapat memicu terjadinya
glaukoma adalah tekanan darah yang tinggi, diabetes melitus, miopia,
ras kulit hitam, pertambahan usia dan pascabedah.
KLASIFIKASI
1. Glaukoma Sudut Terbuka
Glaukoma yang sering ditemukan adalah glaukoma sudut terbuka. Glaukoma
sudut terbuka terjadi karena pembendungan terhadap aliran keluar
aqueous humor,sehingga menyebabkan penimbunan. Hal ini dapat memicu
proses degenerasi trabecular meshwork , termasuk pengendapan materi
ekstrasel di dalam anyaman dan di bawah lapisan endotel kanalis Schlemm.

Sering glaukoma ini tidak memberikan gejala. Penglihatan biasanya


baik dan tidak terdapat rasa sakit pada mata. Akan tetapi bila proses
berjalan lanjut maka pasien akanmerasakan penglihatannya
menurun.
Pa d a keadaan ini lapang penglihatan secara
perlahan-lahan menyempit. Bila keadaan ini berlanjut penglihatan
akan terus berkurang sehingga dapat menjadi buta sama sekali.
2. Glaukoma Sudut Tertutup
Glaukoma sudut tertutup terjadi apabila terbentuk sumbatan sudut kamera
anterior oleh iris perifer. Hal ini menyumbat aliran aqueous humordan
tekanan intraokular meningkat dengan cepat, menimbulkannyeri hebat,
kemerahan, dan penglihatan yang kabur.Serangan akut sering dipresipitasi oleh
dilatasi pupil, yang terjadi spontan di malam hari, saat pencahayaan kurang

Glaukoma Sudut Tertutup Akut

Pada glaukoma sudut tertutup akut terjadi peningkatan tekanan bola mata
dengan tiba-tiba akibat penutupan pengaliran keluar aqueous humor secara
mendadak. Ini menyebabkan rasa sakit hebat, mata merah, kornea keruh

dan edematus, penglihatan kabur disertai halo (pelangi disekitar


lampu). Glaukomasudut tertutup akut merupakan suatu keadaan darurat.

Glaukoma Sudut Tertutup Kronis.

Pada glaukoma tertutup kronis, iris berangsur-angsur menutupi jalan keluar


tanpa gejala yang nyata , akibat terbentuknya jaringan parut antara iris dan jalur
keluar aqueous humor. Glaukoma sudut tertutup biasanya bersifat herediterdan
lebih sering pada hipermetropia. Pada pemeriksaan didapatkan bilik mata
depan dangkal dan pada gonioskopi terlihat iris menempel pada tepi
kornea
3. Glaukoma Kongenital
Glaukoma kongenital adalah bentuk glaukoma yang jarang ditemukan. Glaukoma
inidisebabkan oleh kelainan perkembangan struktur anatomi mata yang
menghalangi aliran keluar aqueous humor. Kelainan tersebut antara lain
anomali perkembangan segmen anterior dan aniridia (iris yang tidak
berkembang). Anomali perkembangan segmen anterior dapat berupa sindrom
Rieger/ disgenesis iridotrabekula, anomali Peters/ trabekulodisgenesis
iridokornea, dan sindrom Axenfeld
4. Glaukoma Sekunder
Glaukoma sekunder merupakan glaukoma yang timbul akibat adanya
penyakit mata yang mendahuluinya. Beberapa jenis glaukoma sekunder antara
lain glaukoma pigmentasi, pseudoeksfoliasi, dislokasi lensa, intumesensi lensa,
fakolitik, uveitis, melanoma traktus uvealis, neovaskular, steroid, trauma dan
peningkatan tekanan episklera.
5. Glaukoma Tekanan-Normal
Beberapa pasien dapat mengalami glaukoma tanpa mengalami peningkatan
tekanan intraokuli, atau tetap dibawah 21 mmHg. Patogenesis yang mungkin
adalah kepekaan yang abnormal terhadap tekanan intraokular karena
kelainan vaskular atau mekanis di kaput nervus optikus, atau bisa juga murni
karena penyakit vaskular. Glaukoma jenis ini sering terjadi di Jepang. Secara
genetik, keluarga yang memiliki glaukoma tekanan-normal memiliki kelainan
pada gen optineurin kromosom 10. Sering pula dijumpai adanya perdarahan
diskus, yang menandakan progresivitas penurunan lapangan pandang
PATOFISIOLOGI

Cairan aqueus diproduksi dari korpus siliaris, kemudian mengalir melalui pupil
ke kamera okuli posterior (COP) sekitar lensa menuju kamera okuli
anterior (COA) melalui pupil. Cairan aqueus keluar dari COA melalui jalinan
trabekula menuju kanal Schlemms dan disalurkan ke dalam sistem vena.
Beberapa mekanisme peningkatan tekanan intraokuler

Korpus siliaris memproduksi terlalu banyak cairan bilik mata, sedangkan


pengeluaran pada jalinan trabekular normal
Hambatan pengaliran pada pupil sewaktu pengaliran cairan bilik mata
belakang ke bilik mata depan
Pengeluaran di sudut bilik mata terganggu.

Glaukoma sudut terbuka ditandai dengan sudut bilik mata depan yang
terbuka, dan kemampuan jalinan trabekula untuk mengalirkan cairan
aqueus menurun .Glaukoma sudut tertutup ditandai dengan tertutupnya
trabekulum oleh iris perifer, sehingga aliran cairan melalui pupil tertutup dan
terperangkap di belakang iris dan mengakibatkan iris mencembung ke depan.
Hal ini menambah terganggunya aliran cairan menuju trabekulum.

M
ekanisme utama kehilangan penglihatan pada glaukoma adalah apoptosis sel
ganglion retina. Optik disk menjadi atropi, dengan pembesaran cup
optik. Efek dari peningkatan tekanan intraokuler dipengaruhi oleh waktu dan
besarnya peningkatan tekanan tersebut. Pada glaukoma akut sudut tertutup,
Tekanan Intra Okuler (TIO) mencapai 60-80 mmHg, mengakibatkan iskemik
iris, dan timbulnya edem kornea serta kerusakan saraf optik. Pada

glaukoma primer sudut terbuka, TIO biasanya tidak mencapai di atas 30


mmHg dan kerusakan sel ganglion retina berlangsung perlahan, biasanya dalam
beberapa tahun.
MANIFESTASI KLINIS
Pasien dengan glaukoma primer sudut terbuka (glaukoma kronik sudut terbuka)
dapat tidak memberikan gejala sampai kerusakan penglihatan yang berat terjadi.
Berbeda pada glaukoma akut sudut tertutup, peningkatan tekanan TIO berjalan
cepat dan memberikan gejala mata merah, nyeri dan gangguan penglihatan
a. Peningkatan TIO
Normal TIO berkisar 10-21 mmHg (rata-rata 16 mmHg).Tingginya TIO
menyebabkan kerusakan saraf optik tergantung beberapa faktor, meliputi
tingginya TIO dan apakah glaukoma dalam tahap awal atau lanjut. Secara
umum, TIO dalam rentang 20-30 mmHg biasanya menyebabkan kerusakan
tahunan. TIO yang tinggi 40-50 mmHg dapat menyebabkan kehilangan
penglihatan yang cepat dan mencetuskan oklusi pembuluh darah retina
b.Halo sekitar cahaya dan kornea yang keruh
Kornea akan tetap jernih dengan terus berlangsungnya pergantian cairan oleh
sel-sel endotel. Jika tekanan meningkat dengan cepat (glaukoma akut sudut
tertutup), kornea menjadi penuh
air,menimbulkan halo di sekitar
cahaya
c.Nyeri
d.Penyempitan lapang pandang
Tekanan yang tinggi pada serabut saraf
dan iskemia kronis pada saraf optik
menimbulkan kerusakan dari serabut
saraf retina yang biasanya menghasilkan
kehilangan lapang pandang (skotoma). Pada glaukoma stadium akhir kehilangan
lapang penglihatan terjadi sangat berat (tunnel vision), meski visus pasien masih
6/6
e.Perubahan pada diskus optik.
Kenaikan TIO berakibat kerusakan optik berupa penggaungan dan degenerasi
papil saraf optik
f.Oklusi vena
g.Pembesaran mata
Pada dewasa pembesaran yang signifikan tidak begitu tampak. Pada anak-anak
dapat terjadi pembesaran dari mata (buftalmus)

PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Tonometri
Pemeriksaan tekanan intraokuli dapat dilakukan dengan
menggunakan tonometri. Yang sering dipergunakan
adalah tonometri aplanasi Goldmann, yang dilekatkan ke
slitlamp dan mengukur gaya yang diperlukan untuk
meratakan daerah kornea tertentu. Rentang tekanan
intraokuli yang normal adalah 10-21 mmHg. Namun,
pada usia yang lebih tua tekanan intraokulinya lebih
tinggi sehingga batas atasnya adalah 24 mmHg. Pada
glaukoma sudut terbuka primer, 32-50% individu yang
terkena
akan
menunjukkan
tekanan
intraokular yang normal saat pertama kali
diperiksa,
sehingga
diperlukan
pula
pemeriksaan diskus optikus glaukomatosa
ataupun pemeriksaan lapangan pandang
2. Pemeriksaan Gonioskopi.
Pada pemeriksaan gonioskopi, dapat dilihat
struktur sudut bilik mata depan. Lebar
sudut bilik mata depan dapat diperkirakan
dengan pencahayaan oblik bilik mata depan.

Apabila keseluruhan trabecular meshwork, scleral spur dan prosesus


siliaris dapat terlihat, sudut dinyatakan terbuka.
Apabila hanya Schwalbes line atau sebagian kecil dari trabecular
meshwork yang dapat terlihat, dinyatakan sudut sempit.
Apabila Schwalbes line tidak terlihat, sudut dinyatakan tertutup

3. Penilaian Diskus Optikus


Diskus optikus normal memiliki cekungan di bagian tengahnya (depresi sentral).
Atrofi optikus akibat glaukoma menimbulkan kelainan-kelainan diskus khas yang
terutama ditandai oleh pembesaran cawan diskus optikus dan pemucatan
diskus di daerah cawan. Selain itu, dapat pula disertai pembesaran konsentrik
cawan optik atau pencekungan (cupping) superior dan inferior dan disertai
pembentukan takik (notching) fokal di tepi diskus optikus. Kedalaman cawan
optik juga meningkat karena lamina kribrosa tergeser ke belakang dan terjadi
pergeseran pembuluh darah di retina ke arah hidung. Hasil akhirnya adalah
cekungan bean-pot, yang tidak memperlihatkan jaringan saraf di bagian
tepinya.Pada penilaian glaukoma, rasio cawan-diskus adalah cara yang
berguna untuk mencatat ukuran diskus optikus. Apabila terdapat kehilangan
lapangan pandang atau peningkatan tekanan intraokuli, rasio cawan-diskus lebih
dari 0,5 atau terdapat asimetri yang bermakna antara kedua mata sangat
diindikasikan adanya atrofi glaukomatosa

4. Pemeriksaan Lapangan Pandang


Gangguan lapangan pandang akibat glaukoma terutama mengenai 30 derajat
lapangan pandang bagian sentral. Perubahan paling dini adalah semakin
nyatanya bintik buta. Alat-alat yang dapat digunakan untuk melakukan
pemeriksaan
lapangan
pandang
pada
glaukoma
adalah
automated
perimeter(misalnya Humphrey, Octopus, atau Henson), perimeter Goldmann,
Friedmann field analyzer, dan layar tangent.
5. Oftalmoskopi
Oftalmoskopi yaitu pemeriksaan untuk menentukan adanya kerusakan saraf
optik berdasarkan penilaian bentuk saraf optik. Rasio cekungan diskus (C/D)
digunakan untuk mencatat ukuran diskus otipus pada penderita glaukoma.
Apabila terdapat peninggian TIO yang signifikan, rasio C/D yang lebih besar dari
0,5
atau
adanya
asimetris
yang
bermakna
antarakedua
mata,
mengidentifikasikan adanya atropi glaukomatosa
6. Biomikroskopi
Untuk menentukan kondisi segmen anterior mata, dengan pemeriksaan ini dapat
ditentukan apakah glaukomanya merupakan glaukoma primer atau sekunder
TATALAKSANA
A.Medikamentosa
1.Penekanan pembentukan humor aqueus, antara lain:
* adrenegik bloker topikal seperti timolol maleate 0,25 - 0,50 % 2 kali sehari,
betaxolol 0.25% dan 0.5%, levobunolol 0.25% dan 0.5%, metipranolol 0.3%, dan
carteolol 1% . Kontraindikasi utama pemakaian obt-obat ini adalah penyakit
obstruksi jalan napas menahun terutama asma dan defek hantaran jantung.
Untuk betaksolol, selektivitas relatif reseptor 1-dan afinitas keseluruhan
terhadap semua reseptor yang rendah-menurunkan walaupun tidak
menghilangkan risiko efek samping sistemik ini. Depresi, kacau pikir dan rasa
lelah dapat timbul pada pemakaianobat penghambat beta topikal
*
apraklonidin
adalah
suatu
agonis
menurunkan pembentukanhumor akueus

adrenergik

2baru

yang

tanpa efek pada aliran keluar. Epinefrin dan dipivefrin memiliki efek pada
pembentukan humor akueus.
* inhibitor karbonik anhidrase seperti asetazolamid (diamox) oral250 mg 2 kali
sehari , diklorofenamid , metazolamid . Inhibitor karbonat anhidrasesistemikasetazolamid adalah yang paling banyak digunakan, tetapi terdapat alternatif
yaitu diklorfenamid dan metazolamid-digunakan untuk glaukoma kronik apabila
terapi topikal tidak memberi hasilmemuaskan dan pada glaukoma akut dimana
tekanan intraokular yang sangat tinggi perlu segera dikontrol. Obat-obat ini
mampu menekan pembentukan humor akueus sebesar 40-60%. Asetazolamid
dapat diberikan per oral dalam dosis 125-250 mgsampai tiga kali sehari atau
sebagai Diamox Sequels 500 mg sekali atau dua kali, ataudapat diberikan secara
intravena (500 mg). Inhibitor karbonat anhidrase menimbulkan efek samping
sistemik yang membatasi penggunaan obat-obat ini untuk terapi jangka panjang.
2.Meningkatkan aliran keluar humor aqueus
Obat parasimpatomimetik meningkatkan aliran keluar humor akueus dengan
bekerja pada jalinan trabekular melalui kontraksi otot siliaris. Obat pilihan adalah
pilokarpin,larutan 0,5-6% yang diteteskan beberapa kali sehari atau gel 4% yang
diteteskansebelum tidur. Karbakol 0,75-3% adalah obat kolinergik alternatif.
Obat-obatantikolinesterase ireversibel merupakan obat parasimpatomimetik
yang bekerja palinglama. Obat-obat ini adalah demekarium bromide 0,125 dan
0,25% dan ekotiopatiodide 0,03-0,25% yang umumnya dibatasi untuk pasien
afakik atau pseudofakik karena mempunyai potensi kataraktogenik.
Perhatian: obat-obat antikolin esterase ireversibel akan memperkuat efek
suksinilkolin yang diberikan selama anastesia danahli anestesi harus diberitahu
sebelum tindakan bedah. Obat-obat ini jugamenimbulkan miosis kuat yang dapat
menyebabkan penutupan sudut pada pasiendengan sudut sempit. Pasien juga
harus diberitahu kemungkinan ablasio retina.Semua obat parasimpatomimetik
menimbulkan miosis disertai meredupnya penglihatan terutama pada pasien
katarak dan spasme akomodatif yang mungkinmengganggu pada pasien muda.
Epinefrin 0,25-2% diteteskan sekali atau dua kali sehari, meningkatkan aliran
keluar humor akueus dan disertai sedikit penurunan pembentukanhumor
akueus.Terdapat sejumlah efek samping okular eksternal, termasuk vasodilatasi
konjungtivareflek, endapan adrenokrom, konjungtivitis folikularis dan reaksi
alergi.efek sampingintraokular yang dapat tejadi adalah edema makula sistoid
pada afakik danvasokonstriksi ujung saraf optikus. Dipivefrin adalah suatu
prodrug epinefrin yangdimetabolisasi secara intraokular menjadi bentuk aktifnya.
Epinefrin dan dipivefrin jangan digunakan untuk mata dengan sudut kamera
anterior sempit.
3.Penurunan volume korpus vitreum
Obat-obat hiperosmotik menyebabkan darah menjadi hipertonik sehingga
air tertarik keluar dari korpus vitreum dan terjadi penciutan korpus vitreum.
Selain itu,terjadi penurunan produksi humor akueus. Penurunan volume korpus

vitreum bermanfaat dalam pengobatan glaukoma sudut tetutup akut dan


glaukoma malignayang menyebabkan pergeseran lensa kristalina ke depan
(disebabkan oleh perubahan volume korpus vitreum atau koroid) dan
menyebabkan penutupan sudut (glaucoma sudut tertutup sekunder).Gliserin
(gliserol)oral, 1 mL/kg berat dalam larutan 50% dingin dicampur sarilemon
adalah obat yang paling sering digunakan, tetapi pemakaian pada
penderitadiabetes harus berhati-hati. Pilihan lain adalah isosorbin oral dan urea
atau manitol intravena.
4.Miotik, midriatik dan siklopegik
Kontriksi pupil sangat penting dalam penatalaksanaan glaukoma sudut
tertutupakut primer dan pendesakan sudut pada iris plateau. Dilatasi pupil
penting dalam pengobatan penutupan sudut akibat iris bombe karena sinekia
posterior.Apabila penutupan sudut disebabkan oleh pergeseran lensa ke
anterior,siklopegik (siklopentolat dan atropine) dapat digunakan untuk
melemaskan ototsiliaris sehingga mengencangkan apparatus zonularis dalam
usaha untuk menarik lensa ke belakang.
B. Terapi bedah dan laser
1. Iridektomi dan iridotomi perifer
Sumbatan pupil paling baik diatasi dengan membentuk komunikasi langsung
antara kamera anterior dan posterior sehingga beda tekanan di antara
keduanyamenghilang. Hal ini dapat dicapai dengan laser neodinium:YAG atau
argon (iridotomi perifer) atau dengan tindakan iridektomi perifer. Walaupun lebih
mudah, terapi laser memerlukan kornea yang relatif jernih dan dapat
menyebabkan peningkatan tekanan intraokular yang cukup besar, terutama
apabila terdapat penutupan sudut akibatsinekia luas. Iridotomi perifer secara
bedah mungkin menghasilkan keberhasilan jangka panjang yang lebih baik,
tetapi juga berpotensi menimbulkan kesulitanintraoperasi dan pascaoperasi.
Iridotomi laser YAG adalah terapi pencegahan yangdigunakan pada sudut sempit
sebelum terjadi serangan penutupan sudut.
2.Trabekuloplasti laser
Penggunaan laser (biasanya argon) untuk menimbulkan luka bakar melaluisuatu
goniolensa
ke
jaringan
trabekular
dapat
mempermudah
aliran
ke
luar humor akueus karena efek luka bakar tersebut pada jaringan trabekular dan
kanalis Schlemmserta terjadinya proses-proses selular yang meningkatkan fungsi
jaringan trabekular.Teknik ini dapat diterapkan untuk berbagai macam bentuk
glaukoma sudut terbukadan hasilnya bervariasi tergantung pada penyebab yang
mendasari. Penurunantekanan biasanya memungkinkan pengurangan terapi
medis dan penundaan tindakan bedah glaukoma. Pengobatan dapat diulang.
Penelitian-penelitian terakhir memperlihatkan peran trabekuloplasti laser untuk
terapi awal glaukoma sudut terbuka primer.
3.Bedah drainase galukoma

Tindakan bedah untuk membuat jalan pintas dari mekanisme drainase


normal,sehingga terbentuk akses langsung humor akueus dari kamera anterior
ke jaringansubkonjungtiva atau orbita dapat dibuat dengan trabekulotomi atau
insersi selangdrainase. Trabekulotomi telah menggantikan tindakan tindakan
drainase full-thickness(misalnya sklerotomi bibir posterior, sklerostomi termal,
trefin).Penyulit utama trabekulotomi adalah kegagalan bleb akibat fibrosis
jaringan epikslera. Hal inilebih mudah terjadi pada pasien berusia muda, berkulit
hitam dan pasien yang pernahmenjalani bedah drainase glaukoma atau tindakan
bedah lain yang melibatkan jaringan episklera. Terapi ajuvan dengan
antimetabolit misalnya fluorourasil danmitomisin berguna untuk memperkecil
risiko kegagaln bleb.Penanaman suatu selang silikon untuk membentuk saluran
keluar permanen bagi humor akueusadalah tindakan alternatif untuk mata yahg
tidak membaik dengantrabekulektomi atau kecil kemungkinannya berespon
terhadap trabekulektomi. Pasiendari kelompok terakhir adalah mereka yang
mengidap glaukoma sekunder, terutamaglaukoma neovaskular, glaukoma yang
berkaitan
dengan
uveitis
dan
glaukoma
setelahtindakan
tandur
kornea.Sklerostomi laser holmium adalah tindakan baru yang menjanjikan
sebagaialternatif bagi trabekulektomi.Goniotomi adalah suatu teknik yang
bermanfaat mengobati glaukomakongenital primer yang tampaknya terjadi
sumbatan drainase humor akueus di bagiandalam jalinan trabekular.
4.Tindakan Siklodestruktif
Kegagalan
terapi
medis
dan
bedah
dapat
menjadi
alasan
mempertimbangkantindakan destruksi korpous siliaris dengan laser atau bedah
untuk mengontrol tekananintraokular. Krioterapi, diatermik, ultrasonografi
frekuensi tinggi dan yang palingmutakhir terapi laser neodinium:YAG
termalmode, dapat diaplikasikan ke permukaanmata tepat di sebelah posterior
limbus untuk menimbulkan kerusakan korpus siliarisdi bawahnya. Juga sedang
diciptakan energi laser argon yang diberikan secaratrasnpupilar dan transvitreal
langsung ke prosesus siliaris. Semua teknik siklodestruktif tersebut dapat
menyebabkan ftisis dan harus dicadangkan sebagaiterapi untuk glaukoma yang
sulit diatasi.

KATARAK
DEFINISI
Katarak adalah keadaan dimana lensa mengalamin kekeruhan yang dapat
diakibatkan karena hidrasi (penambahan cairan) pada lensa , denaturasi
protein , maupun kedua nya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata
dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam
waktu yang lama. Kekeuruhan ini menyebabkan sulitnya cahaya untuk
mencapai retina, sehingga penderita katarak mengalami gangguan
penglihatan dimana objek terlihat kabur.
ETIOLOGI

Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau


bertambahnya usia seseorang.Usia rata-rata terjadinya katarak adalah
pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak dapat pulaterjadi pada
bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda.Penyebab
katarak lainnya meliputi:
a.Faktor keturunan : berperan dalam insiden, onset umur, dan maturasi
katarak senilis pada keluaraga yang berbeda
b.Cacat bawaan sejak lahir
c.Masalah kesehatan, misalnya diabetes
d.Pengguanaan obat tertentu, khususnya steroid
e.Gangguan pertumbuhan
f.Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup
lama
g.Merokok : mengakibatkan akumulasi molekul 3 hidroksikinurinin
berpigmen dan kromofor yang dapat menyebabkan warna kekuningan.
Sianat pada rokok menyebabkan karabamilasi dan denaturasi protein
lensa.
h.Operasi mata sebelumnya
i.Trauma (kecelakaan) pada mata
j. radiasi ultraviolet : banyak studi epidemiologi menunjukkan peranan
paparan sinar ultraviolet terhadap lebih awalnya onset dan maturitas dari
katarak senilis.
k.Faktor diet; defisiensi protein tertentu, asam amino, vitamin (riboflavin,
vitamin E, vitamin C), dan elemen esensial diduga mempercepat onset
dan maturitas katarak senilis.
l. Krisis dehidrasi; adanya episode dehidrasi sebelumnya (misalnya diare,
kolera) juga dihubungkan dengan cepatnya onset dan maturitas katarak.
PATOFISIOLOGI
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih,transparan,
berbentuk seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan refraksiyang
besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona
sentralterdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi
keduanya adalah kapsul anterior dan posterior.

Terdapat beberapa teori yang menyebabkan terjadinya katarak yaitu:


1.Teori hidrasi terjadi kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitel lensa
yang berada di subkapsular anterior, sehingga air tidak dapatdikeluarkan
dari lensa. Air yangbanyak ini akan menimbulkan bertambahnya tekanan
osmotik yangmenyebabkan kekeruhan lensa.
2.Teori sklerosis lebih banyak terjadi pada lensa manula dimana serabut
kolagen terus bertambah sehingga terjadi pemadatan serabut kolagen di
tengah. Makin lama serabut tersebut semakin bertambah banyak
sehingga terjadilah sklerosis nukleus lensa.
3. Komposisi lensa sebagian besar berupa air dan protein yaitu kristalin.
Kristalin dan adalah chaperon, yang merupakan heat shock protein.
Heat shock protein berguna untuk menjaga keadaan normal dan
mempertahankan molekul protein agar tetap inaktif sehingga lensa tetap
jernih. Lensa orang dewasa tidak dapat lagi mensintesis kristalin untuk
menggantikan kristalin yang rusak, sehingga dapat menyebabkan
terjadinya kekeruhan lensa.
KLASIFIKASI
Beberapa jenis katarak menurut usia yaitu :

Katarak congenital ( usia<1thn)

Untuk mengetahui penyebabnya diperlukan pemeriksaan riwayat prenatal


infeksi ibu seperti rubella pada kehamilan trimester pertamadan
pemakaian obat obatan selama kehamilan. Kadang pada ibu hamil
terdapat riwayatkejang,tetani,ikterus,hepatosplenomegali. Pada pupil bayi
akan terlihat bercak putih atau lekokoria. Pemeriksaan leukokoria bisa
dengan melebarkan pupil.

Katarak juvenile ( usia>1thn)

Biasanya pada orang muda yang mulai terbentuk pada usia kurang dari 9
tahun dan lebih dari 3 bulan. Biasanya merupakan kelanjutan dari katarak
congenital. Merupakan penyulit penyakit metabolic dan penyakit lain nya
seperti :
~katarak metabolic
~katarak traumatic
~katarak komplikata
~otot (distorfi miotonik)

Katarak senilis (usia >50thn)

Katarak senilis atau biasa juga disebut age-related cataract merupakan


katarak dapatan yang paling sering, mengenai umur lebih dari 50 tahun.
Setelah umur 70 tahun, lebih dari 90% individu mengalami katarak senilis.
Kondisi ini biasanya bilateral, tetapi pada tahap awal hampir selalu satu
mata yang terlibat.Secara morfologi katarak senilis terjadi dalam dua
bentuk, yaitu kortikal (katarak lunak) dan nuklear (katarak keras). Katarak
senil kortikal dapat berawal dari katarak kuneiformis atau kupuliformis.
Berdasarkan letaknya dikenal ada 3 bentuk katarak senilis, yaitu :

1. Katarak Nuklear
Katarak yang lokasinya terletak pada bagian tengah lensa atau
nukleus Biasanya mulai timbul sekitar usia 60-70 tahun dan
progresivitasnya lambat. Bentuk ini merupakan bentuk yang paling
banyak terjadi. Terjadi proses sklerotik dari nukleus lensa. hal ini
menyebabkan lensa menjadi keras dan kehilangan daya akomodasi.
Maturasi pada katarak senilis nuklear terjadi melalui proses sklerotik,
dimana lensa kehilangan daya elastisitas dan keras, yang mengakibatkan
menurunnya kemampuan akomodasi lensa, dan terjadi obtruksi sinar
cahaya yang melewati lensa mata. Maturasi dimulai dari sentral menuju
perifer. Perubahan warna terjadi akibat adanya deposit pigmen. Sering

terlihat gambaran nukleus berwarna coklat (katarak brunesens) atau


hitam (katarak nigra) akibat deposit pigmen dan jarang berwarna merah
(katarak rubra).

2. Katarak Kortikal Katarak menyerang lapisan yang mengelilingi


nukleus atau korteks. Biasanya mulai timbul sekitar usia 40-60 tahun
dan progresivitasnya lambat. Terdapat wedge-shape opacities/cortical
spokes atau gambaran seperti ruji. Banyak pada penderita DM. Keluhan
yang biasa terjadi yaitu penglihatan jauh dan dekat terganggu,
penglihatan merasa silau
3. Katarak Subkapsularis Posterior atau kupuliformis
Bentuk ini terletak pada bagian belakang dari kapsul lensa. Katarak
subkapsularis posterior lebih sering pada kelompok usia lebih muda
daripada katarak kortikal dan katarak nuklear. Biasanya mulai timbul
sekitar usia 40-60 tahun dan progresivitasnya cepat. Bentuk ini lebih
sering menyerang orang dengan diabetes, obesitas atau pemakaian
steroid jangka panjang. Katarak ini menyebabkan kesulitan membaca,
silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang.
Berdasarkan stadium perjalanan
digolongkan menjadi 4 stadium:

penyakitnya,

katarak

senilis

1.Stadium Insipien
Pada stadium ini belum menimbulkan gangguan visus. Visus pada
stadium ini bisa normal atau 6/6 6/20. Dengan koreksi, visus masih
dapat 5/5 5/6. Kekeruhan terutamaterdapat padabagian perifer
berupa bercak-bercak seperti baji (jari-jari roda), terutama mengenai
korteksanterior, sedangkan aksis masih terlihat jernih. Gambaran ini
disebutSpokes of wheel, yang nyata bila pupil dilebarkan.
2.Stadium Imatur

Sebagian lensa keruh tetapi belum mengenai seluruh lapis lensa. Visus
pada stadium ini 6/60 1/60. Kekeruhan ini terutama terdapat dibagian
posterior dan bagian belakang nukleus lensa. Kalau tidak ada kekeruhan
di lensa, maka sinar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang
dipantulkan.Oleh karena kekeruhan berada di posterior lensa, maka sinar
oblik yang mengenai bagian yang keruh ini, akan dipantulkan lagi,
sehingga pada pemeriksaan terlihat di pupil, ada daerah yang terang
sebagai reflek pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan
daerah yang gelap,akibat bayangan iris pada bagian lensa yang keruh.
Keadaan ini disebut shadow test (+).Pada stadium ini mungkin terjadi
hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa menjadi cembung, sehingga
indeks refraksi berubah karena daya biasnya bertambah dan mata
menjadi miopia. Keadaan ini dinamakan intumesensi. Dengan
mencembungnya lensa iris terdorong kedepan, menyebabkan sudut bilik
mata depan menjadi lebih sempit, sehingga dapat menimbulkan
glaukoma sebagai penyulitnya.
3.Stadium Matur
Kekeruhan telah mengenai seluruh massa lensa, sehingga semua
sinar yang melalui pupil dipantulkan kembali ke permukaan anterior lensa.
Kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan klasifikasi
lensa. Visus pada stadium ini 1/300. Bilik mata depan akan berukuran
kedalaman normal kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang
keruh, sehingga uji bayangan iris negatif (shadow test (-) . Di pupil
tampak lensa seperti mutiara.
4.Stadium Hipermatur
Pada stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut yang dapat
menjadi keras atau lembek dan mencair. Massa lensa yang berdegenerasi
keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, bewarna
kuning
dan kering. Visus pada stadium ini 1/300 1/~.
Padapemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa.
Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga berhubungan
dengan zonula zinii menjadi kendur. Bila proses kekeruhan berjalan lanjut
disertai kapsul yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak
dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai
sekantung susu disertai dengan nukleusyang terbenam di dalam korteks
lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut katarak morgagni.

MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinis yang dirasakan pasien katarak pada umumnya serupa :
1.
Silau (glare) Salah satu gangguan penglihatan yang terjadi dini
pada katarak adalah rasa silau atau ketidakmampuan menoleransi cahaya
terang. Derajat silau tergantung pada lokasi dan ukuran kekeruhan lensa.
Biasanya pada pasien katarak subkapsular posterior dan katarak kortikal.
2.
Poliopia uniokular. Dapat berupa melihat dua atau tiga bayangan
objek. Hal ini juga merupakan gejala dini dari katarak yang disebabkan
oleh refraksi yang tidak beraturan akibat indeks refraktif yang bervariasi
sebagai hasil dari proses kekeruhan lensa.

3.
Halo berwarna. Hal ini mungkin dirasakan oleh beberapa pasien
sebagai cahaya putih yang terpecah menjadi spektrum warna akibat
adanya droplet air di lensa.
4.
Bintik hitam di depan mata. Bintik hitam yang stasioner dapat
dirasakan oleh beberapa pasien.
5.
Perubahan warna pupil. Pupil yang normal nya hitam akan
nampak abu abu kekuningan maupun putih
6.
Pandangan kabur, ditorsi gambar, dan pandangan berkabut
dapat terjadi pada stadium awal katarak. Penurunan atau hilangnya
penglihatan. Kemunduran visus akibat katarak senilis mempunyai
beberapa gambaran tipikal. Penglihatan yang menurun atau hilang
secara perlahan tanpa diseratai rasa nyeri. Pasien dengan kekeruhan
sentral (misalnya pada katarak kupuliformis) merasa mengalami
kemunduran penglihatan lebih awal. Penglihatan dirasakan lebih baik
ketika pupil midriasis pada malam hari dengan cayaha yang suram (day
blindness). Pada pasien dengan kekeruhan lensa di bagian perifer
(misalnya pada katarak kuneiformis) kemunduran penglihtan lambat
terjadi dan penglihatan dirasakan lebih baik pada cahaya terang ketika
pupil miosis. Pasien dengan sklerosi nuklear, penglihatan jauh mengalami
kemunduran akibat miop indeks yang progresif. Pasien tersebut dapat
membaca dekat tanpa memakai kacamata presbiop. Perbaikan
penglihatan dekat ini disebut second sight.
PEMERIKSAAN
Beberapa pemeriksaan yang diperlukan untuk melihat tanda dari katarak:
1.

Pemeriksaan ketajaman penglihatan

Ketajaman penglihatan dapat bervariasi mulai dari 6/9 sampai hanya


persepsi cahaya, tergantung pada lokasi dan maturitas katarak.
2.

Iluminasi oblik

Pemeriksaan iluminasi oblik dapat memperlihatkan warna lensa di daerah


pupil yang bervariasi dari setiap jenis katarak.
3.

Tes iris shadow

Ketika cahaya disinarkan ke pupil, akan terbentuk bayangan bulan


sabit (crescenteric shadow) di tepi pupil pada lensa yang keruh keabuan,
selama masih ada korteks yang jernih dianatara kekeruhan dan tepi pupil,
sebagaimana digambarakan seperti berikut ini: Ketika lensa jernih atau

keruh secara keseluruhan, maka tidak terbentuk iris shadow. Iris shadow
tersebut merupakan tanda dari katarak imatur.
4.

Pemeriksaan oftalmoskop langsung

Pada media tanpa kekeruhan akan tampak refleks fundus yang


berwarna kuning kemerahan, sedangkan pada lensa dengan
kekeruhan parsial akan tampak bayangan hitam yang berlawanan
dengan cahaya kemerahan tersebut pada area yang keruh. Dan pada
lensa dengan kekeruhan total akan tampak bayangan hitam
keseluruhan.
5.

Pemeriksaan slit-lamp

Pemeriksaan dengan slit-lamp dilakukan dengan dilatasi pupil.


Pemeriksaan ini memberikan gambaran menegenai morfologi kekeruhan
(lokasi, ukuran, bentuk, pola warna, dan kepadatan dari nukleus).
Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat derajat kekeruhan lensa
apakah sesuai dengan visus pasien
a.Derajat 1: Nukleus lunak, biasanya visus masih lebih baik dari
6/12, tampak sedikit kekeruhan dengan warna agak keputihan.
Reflek fundus masih mudah diperoleh. Usia penderita biasanya
kurang dari 50 tahun
b.Derajat 2: Nukleus dengan kekerasan ringan, biasanya visus antara
6/12 6/30, tampak nucleus mulai sedikit berwarna kekuningan.
Reflek fundus masih mudah diperoleh dan paling sering memberikan
gambaran seperti katarak subkapsularis posterior.
c.Derajat 3: Nukleus dengan kekerasan medium, biasanya visus
antara 6/30 3/60, tampak nucleus berwarna kuning disertai
kekeruhan korteks yang berwarna keabuabuan.
d.Derajat 4: Nukleus keras, biasanya visus antara 3/60 1/60,
tampak nukleus berwarna kuning kecoklatan. Reflek fundus sulit
dinilai.
e.Derajat 5: Nukleus sangat keras, biasanya visus biasanya hanya
1/60 atau lebih jelek. Usia penderita sudah di atas 65 tahun.
Tampak nucleus berwarna kecoklatan bahkan sampai kehitaman .
katarak ini sangat keras dan disebut juga sebagai Brunescence
cataract atau Black cataract

TATALAKSANA
Intra Capsular Cataract Extraction (ICCE)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa
bersama kapsul. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan
cryophake dan dipindahkan dari mata melalui incisi korneal superior yang
lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa
subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder
dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer.ICCE
tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari
40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit
yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis,
endoftalmitis, dan perdarahan.Sudah jarang dilakukan
Extra Capsular Cataract Extraction ( ECCE )
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan
pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa
anterior sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui

robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien


dengan kelainan endotel, implantasi lensa intra ocular posterior,
perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan
dilakukan bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya
prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami prolap badan
kaca, ada riwayat mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular
edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat
melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit
yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak
sekunder.Sering dilakukan
Phacoemulsification
Phakoemulsifikasi (phaco)
adalah teknik untuk membongkar
dan memindahkan kristal lensa.
Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat
kecil (sekitar 2-3mm) di kornea.
Getaran
ultrasonic
akan
digunakan
untuk
menghancurkan
katarak,
selanjutnya mesin PHACO akan
menyedot massa katarak yang
telah hancur sampai bersih.
Sebuah lensa Intra Okular yang
dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi
yang kecil maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya,
yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan
aktivitas sehari-hari.Tehnik ini bermanfaat pada katarak kongenital,
traumatik, dan kebanyakan katarak senilis
KOMPLIKASI :
Komplikasi yang dapat terjadi pada katarak tergantung stadiumnya. Pada
stadium imatur dapat terjadi glaukoma sekunder akibat lensa yang
mencembung, sehinnga mendorong iris dan terjadi blokade aliran aqueus
humor. Sedangkan pada stadium hipermatur dapat terjadi glaukoma
sekunder akibat penymbatan kanal aliran aquous humor oleh masa lensa
yang lisis, dan dapat juga terjadi uveitis fakotoksi.Komplikasi juga dapat
diakibatkan pasca operasi katarak, seperti ablasio retina, astigmatisma,
uveitis, endoftalmitis, glaukoma, perdarahan, dan lainnya.
EDUKASI :

Bila telah berusia 60 thn rajin cek mata setahun sekali

Pola makan yang sehat


Kurangi merokok
Hindari sinar UV berlebihan
Menjaga kesehatan dari penyakit lain yang dapat memicu katarak

Pterigium (3A)

Deskripsi :

kondisi degenaritif dan bersifat invasif dari jaringan ikat konjungtiva


(jaringan fibrovaskular)

Dinduksi oleh sinar uv, udara panas, debu, dan berkaitan dengan
penambahan usia

Biasanya merupakan perubahan transisi dari pinguecula. Mudah


terjadi radang

Bukan bentuk keganasan (maligna), tetapi diduga neoplasma

Tanda dan gejala :

Mata merah, gatal, bengkak, iritasi, pandangan kabur, ada lesi


peningkatan jaringan ikat di konjungtiva dan mencapaikornea di
kedua / salah satu mata

DD:

Pinguecula, squamous cell carcinoma, pseudopterigium, pannus, kista


dermoid

Obat:
R/ eye drops Tetrahidrozolin 0,05%. 15ml. No I
S.p.r.n. Gtt. 2. OD et OS* (kalau terkena kedua matanya. Bisa juga hanya
salah satu. Penulisan menyesuaikan)
Kalau ada tanda radang gunakan obat tetes steroid untuk pertolongan pertama

R/ eye drops. Prednisolone 1%. 5ml.No I


S.3.d.d.gtt.1. OD et OS
Kompetensi 3A -> pertolongan pertama dan rujuk keSp. M untuk tindakan
selanjutnya. Bisa dengan pembedahan untuk menghilangkan jaringan ikat
Prognosis : terapi bedah prognosis baik. Rasa tidak nyaman muncul dihari-hari
pertama pascaoperasi. Kebanyakan pasien bisa beraktivitas seperti biasa pada
48 jam setelah operasi

Dry Eye Syndrome / Mata Kering (4A)


Deskripsi:

Keringnya permukaan kornea & konjungtiva diakibatkan berkurangnya


fungsi air mata

Tanda dan gejala:

Gatal, mata seperti berpasir, silau, penglihatan kabur. Mata akan


memberikan gejala sekresi mukus yang berlebihan, sukar
menggerakan kelopak mata, mata tampak kering, dan terdapat
erosi kornea, konjungtiva bulbi edema, hiperemik menebal, dan
kusam

DD:

Keratokonjungtivitis, konjungtivitis alergika, bells palsy

Obat
R/ eye drops. Tetrahidrozolin 0,05%. 15ml. No I
S.p.r.n. Gtt. 2. OD et OS
Atau
R/ eye drops. Na Hyaluronat 0,1%. 10ml. No I
S.6.d.d. Gtt. 1. OD et OS (lebih baik dari obat yg pertama, tapi lebih mahal.
40rban sebotol)
Prognosis: tergantung penyebab. Dengan obat tetes lubrikan dapat meredakan
simptom yang muncul

Perdarahan subkonjungtiva / hematoma subkonjungtiva (4A)


Deskripsi:

Terjadi pada keadaan pembuluh darah rapuh (umur, hipertensi,


aterosklerosis), konjungtivitis hemoragik, anemia, pemakaian
antikoagulan, bisa juga karena trauma langsung maupun tidak
langsung.

Tanda dan gejala

Warna merah pada konjungtiva (bisa sebagian atau seluruhnya), tidak


nyeri, warna merah dapat berubah hitam setelah beberapa lama

DD:

Viral conjungtivitis, dry eye syndrome

Obat : tidak perlu obat untuk kasus perdarahan biasa, hanyakontrol saja.
Tetapi, bila ditemukan kenaikan TIO atau ada kecurigaan hipertensi okular
dapat diberi timolol maleat
R/ eye drops. Timolol Maleat 0,5%. 5ml. No I
S.2.d.d. Gtt. 1. OD et OS
Prognosis: absorbsi spontan biasanya terjadi dalam beberapa hari. Prognosis baik
bila tidak ada trauma pada mata dan tidak ada pandangan kabur atau
penurunan visus

Anisometropia
(smbr : ilmu kesehatan mata (ugm))
Merupakan keadaan dimana didapatkan perbedaan status refraksi
pada kedua
mata. Derajat perbedaan nya bisa kecil sampai besar (missal : OD
emetropia dan
OS ametropia)
Gambar penyakit :

Anisometropia is a functional defect of the eyes, where unequal refractive


errors in the two eyes result in unequal vision. A brighter right reflex
indicates
the need for glasses.
Tanda dan gejala ;
masih terdapat penglihatan binokular tunggal (kedua mata bisa focus
melihat satu objek)
jika terdapat perbedaan yang sangat besar sehingga mata dipakai
bergantian atau satu mata tidak dipakai sama sekali (di sebut
penglihatan monokular)
gejala penting : astenopia (kelelahan bola mata)
aniseikonia : karena berbeda kekuatan refraksi, terjadi perbedaan
ukuran bayangan yang jatuh di retina.
anisometropia bisa memiliki berbagai akibat :
bisa di temukan anisoforia : perbedaan derajat heteroforia pada
berbagai lirikan posisi bola mata.
Heteroforia : merupakan defiasi bola mata saat melihat lurus pada
penglihatan binokular
Esoforia : bola mata cenderung adduksi
Exoforia : bola mata cenderung abduksi
Hiperforia : bola mata cenderung supraduksi
Hipoforia : bola mata cenderung infraduksi
Pengobatan dan penulisan resep
Kacamata di perlukan supaya mata yang ametro tidak menjadi rusak
karena
tidak di pakai (ambliopia ex anopsia) dan untuk menghindarkan
astenopia. Kalau
perbedaan tidak begitu besar (12D) dan ada penglihatan binokular, dapat
diberikan koreksi penuh. Pada perbedaan refraksi ang besar, koreksi
penuh
dapat memberikan perasaan tak nyaman, dalam hal ini diberikan koreksi
sebagian dari mata yang paling ametrop. (missal: OD S 1 dan OS S6D,
maka S
6D pada OS sedikit2 dikurangi sampai tidak menimbulkan keluhan pada
penderita).

EPISKLERITIS
Adalah suatu kondisi yang relatif umum yang dapat mempengaruhi pada satu atau kedua
mata. Episcleritis terjadi pada perempuan lebih banyak daripada laki-laki dan paling sering terjadi
antara usia 40 dan 50 tahun.
Ada dua jenis episkleritis.

Episkleritis simple. Ini adalah jenis yang paling umum dari episkleritis. Peradangan
biasanya ringan dan terjadi dengan cepat. Hanya berlangsung selama sekitar tujuh sampai 10
hari dan akan hilang sepenuhnya setelah dua sampai tiga minggu. Pasien dapat mengalami
serangan dari kondisi tersebut, biasanya setiap satu sampai tiga bulan. Penyebabnya seringkali
tidak diketahui.
Episkleritis nodular. Hal ini sering lebih menyakitkan daripada episkleritis simple dan
berlangsung lebih lama. Peradangan biasanya terbatas pada satu bagian mata saja dan
mungkin terdapat suatu daerah penonjolan atau benjolan pada permukaan mata. Ini sering
berkaitan dengan kondisi kesehatan, seperti rheumatoid arthritis, colitis dan lupus.

TANDA & GEJALA

Sakit mata dengan rasa nyeri atau sensasi terbakar

Mata merah pada bagian putih mata

Kepekaan terhadap cahaya


Tidak mempengaruhi visus

Jika pasien mengalami episkleritis nodular, pasien mungkin memiliki satu atau lebih benjolan kecil
atau benjolan pada daerah putih mata. Pasien mungkin merasakan bahwa benjolan tersebut dapat
bergerak di permukaan bola mata.

PENYEBAB
Hingga sekarang para dokter masih belum dapat mengetahui penyebab pasti dari episkleritis. Namun,
ada beberapa kondisi kesehatan tertentu yang selalu berhubungan dengan terjadinya episkleritis.
Kondisi- kondisi tersebut adalah penyakit yang mempengaruhi tulang, tulang rawan, tendon atau
jaringan ikat lain dari tubuh, seperti:

rheumatoid arthritis
ankylosing spondylitis
lupus (systemic lupus erythematosus)
inflammatory bowel diseases seperti Crohns disease and ulcerative colitis
gout
bacterial atau viral infection seperti Lyme disease, syphilis atau herpes zoster
beberapa penyakit lain yang kurang umum, penyebab episkleritis termasuk jenis kanker
tertentu, penyakit kulit, gangguan defisiensi imun dan, yang pasling jarang berhubungan
adalah gigitan serangga.

DIAGNOSIS BANDING
Konjungtivitis Alergika
Herpes Zoster
Karsinoma sel skuamosa pada konjungtiva
TERAPI

Episkleritis biasanya akan hilang sendiri dalam waktu sekitar 10 hari dan biasanya tidak
memerlukan pengobatan apapun
Air mata buatan (misalnya hypromellose) dapat berguna dalam menghilangkan gejala mata
kering.

Obat-obat
Jika gejala semakin parah atau bertahan lama, dokter mungkin akan meresepkan beberapa obat
berikut:

NSAID, indometasin 100 mg per hari, atau ibuprofen 300 mg per hari.. Obat ini akan
membantu meredakan nyeri dan bengkak dan mengurangi peradangan.

PROGNOSIS
Prognosis akhirnya baik karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 minggu, dan
tidak akan mempengaruhi visus.

SKLERITIS
Skleritis adalah radang kronis granulomatosa pada sklera yang ditandai dengan dekstrusi kolagen ,
infiltrasi sel dan vaskulitis.Biasanya bilateral dan lebih sering terjadi pada wanita.

ETIOLOGI
Sebagian besar disebabkan reaksi hipersensivitas tipeIII dan IV yang berkaitan dengan penyakit sistemik.
MANIFESTASI KLINIS
Rasa sakit yang menyebar ke dahi,alis,dan dagu secara terus menerus
Mata merah berair
Fotofobia
Penglihatan menurun
Terlihat sklera bengkak
Konjungtivita kemosis
Injeksi sklera profunda, dan terdapat benjolan berwarna sedikit lebih biru jingga.
Sering terjadi bersama iritis atau siklitis dan koroiditis anterior.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dengan penetesan epinefrin 1:1000 atau fenilefrin 10% tidak akan terjadi vasokonstriksi. Pemeriksaan foto
rontgen orbita dilakukan untuk menghilangkan kemungkinan adanya benda asing,juga dapat dilakukan
pemeriksaan imunologi serum.
DIAGNOSIS BANDING

Konjunctivitis alergika
Episkleritis
Herpes zoster
Rosasea okular
Karsinoma sel skuamosa pada konjunctiva
Karsinoma sel skuamosa pada palpebra
Uveitis anterior nongranulomatosa

PENATALAKSANAAN
Dengan antiinflamasi nonsteroid sistemik berupa indometasin 50-100 mg/hari atau ibuprofen 300
mg/hari,biasanya terjadi penurunan gejala dengan cepat.Bila tidak ada reaksi dalam 1-2 minggu,harus diberikan
terapi steroid sistemik dosis tinggi,misalnya prednisolon 80 mg/hari,dan diturunkan dalam 2 minggu sampai
dosis pemeliharaan 10 mg/hari.Dapat pula dipakai obat-obatan imunosupresif.Steroid topikal tidak efektif tapi
mungkin berguna untuk edema dan nyeri.Jika penyebabnya infeksi,harus di berikan antibiotik yang
sesuai.Pembedahan diperlukan bila terjadi perforasi kornea
PROGNOSIS
Prognosis skleritis tergantung pada penyakit penyebabnya. Pada skleritis dengan perforasi kornea
prognosisnya akan lebih buruk.

Trauma akustic akut.


(sumber slide kuliah , melet, buku ajar UI)
Energi suara yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan sel di telinga
dalam
Jika terpapar hanya sebentar terjadi penurunan ambang
dengar sementara bisa recovery
Jika terpapar lama dan berulang terjadi kerusakan permanen
sel di telinga dalam
Gambar penyakit :
___
tanda dan gejala :
Pada anamnesa : pernah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan
bising
dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya 5 tahun / lebih
Otoskopik : tak ditemukan kelainan
Px audiologi : tes penala Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga
yg
pendengaran baik, Schwabach memendek kesan jenis ketulian
sensorineural
Px audiometri nada murni tuli sensorineural pd frek ant. 3000
6000 Hz
disertai takik (notch) pd frek 4000 Hz
Kurang pendengaran di sertai dengan tinnitus.
Jika cukup berat didapat keluahan sukar menangkap percakapan
dengan
kekrasan biasa dan bila sudah lebih berat percakapan yg keras sukar
untuk dimengerti.
DD :
Presbikusis (tuli sensorineural koklea akibat proses penuaan) [dilihat
umurnya]
Tuli sensori neural koklea (penderita tuli sensori neural sering
merasa
terganggu oleh bisisng latar belakang , sehingga jika penderita
berkomunikasi di tempat yang ramai akan mengalami kesulitan
mendengar dan mengerti pembicaraan.)
Pengobatan dan penulisan resep :
____
Prognosis :
Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli
sensorineural
koklea yang sifatnya menetap, dan tidak dapat diobati dengan obat
maupun
pembedahan, maka prognosisnya kurang baik.
*tambahan (semoga bermanfaat)
64

penatalaksaan :
sesuai dengan penyebab ketulian penderita sebaiknya dipindahkan
kerjanya dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin di pindahkan bisa
menggunakan alat pelindung telinga : ear plug (sumbat teliga,) ear
muf
(tutup telinga,) helmet (pelingdung kepala )

65

OTOSKLEROSIS
Otosklerosis adalah suatu penyakit pada tulang pada bagian telinga tengah khususnya
pada stapes yang disebabkan pembentukan baru tulang spongiosus dan sekitar
jendela ovalis sehingga dapat mengakibakan fiksasi pada stapes.

Etiologi
Beberapa penyebab terjadinya otosklerosis :
1. Idiopatik
2. Pendapat umumnya diturunkan secara autosom dominan
3. Bukti ilmiah yang menyatakan adanya virus measles yang mempengaruhi otosklerosis
4.Beberapa pendapat bahwa infeksi kronik measles di tulang merupakan presipitasi pasien
untuk terkena otosklerosis. Materi virus dapat ditemukan di osteoblas pada lesi sklerotik.
Epidemiologi
1. Faktor Keturunan
2.Gender: Otosklerosis sering dilaporkan 2 kali lebih banyak pada wanita dibanding pria.
3.Sejarah keluarga
4.Usia: Onset klinikal berkisar antara umur 15-35 tahun
5.Predileksi: tempat yang paling sering terkena Otosklerosis adalah fissula ante fenestram
yang terletak di anterior jendela oval (80%-90%).
Area dari lesi otosklerosis yaitu :
a. Tepi dari tempat beradanya fenestra rotundum
b. Dinding medial bagian apeks dari koklea
c. Area posterior dari duktus koklearis
d. Region yang berbatasan dengan kanalis semisirkularis
e.Kaki dari stapes sendi
Patofisiologi
Lesi utama dari otosklerosis adalah adanya multifokal area sklerosis diantara tulang
endokondral temporal. Ada 2 fase patologik yang dapat diidentifikasi dari penyakit ini yaitu :
1. Fase awal otospongiotic
Osteosit mulai masuk ke pusat tulang disekitar pembuluh darah sehingga menyebabkan
pelebaran lumen pembuluh darah dan dilatasi dari sirkulasi. Perubahan ini dapat terlihat
sebagai gambaran kemerahan pada membran timpani. Schwartze sign berhubungan
dengan peningkatan vascular dari lesi yang mencapai daerah permukaan periosteal.
66

Dengan keterlibatan osteosit yang semakin banyak, daerah ini menjadi kaya akan substansi
dasar amorf dan kekurangan struktur kolagen yang matur dan menghasilkan pembentukkan
spongy bone. Penemuan histologik ini dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin dikenal
dengan nama Blue Mantles of Manasse.Gambaran histologis: terdiri dari histiosit, osteoblas,
osteosit yang merupakan grup sel paling aktif.
2. Fase akhir otosklerotik
Fase otosklerotik dimulai ketika osteoklas secara perlahan diganti oleh osteoblas dan tulang
sklerotik yang lunak dideposit pada area resorpsi sebelumnya. Ketika proses ini terjadi pada
kaki stapes akan menyebabkan fiksasi kaki stapes pada fenestra ovale sehingga
pergerakan stapes terganggu dan oleh sebab itu transmisi suara ke koklear terhalang.
Hasil akhirnya adalah terjadinya tuli konduktif.
Terjadinya tuli sensorineural pada otosklerosis dihubungkan dengan kemungkinan
dilepaskannya hasil metabolisme yang toksik dari luka neuroepitel, pembuluh darah yang
terdekat, hubungan langsung dengan lesi otosklerotik ke telinga dalam. Semuanya itu
menyebabkan perubahan konsentrasi elektrolit dan mekanisme dari membran basal.
7 kriteria untuk mengidentifikasi pasien yang menderita tuli sensorineural akibat koklear
otosklerosis (sedikit tambahan):
1.Tanda Schwartze (gambaran kemerahan karena pelebaran pembuluh darah promontorium)
yang positif pada salah satu/ke dua telinga
2.Adanya keluarga yang mempunyai riwayat otosklerosis
3. Tuli sensorineural progressive pendengaran secara simetris, dengan fiksasi stapes pada
salah satu telinga
4.Adanya diskriminasi terhadap ambang dengar untuk tuli sensorineural murni
5.Onset kehilangan pendengaran pada usia yang sama terjadinya fiksasi stapes dan
berjalan tanpa etiologi lain yang diketahui
6.CT-scan pada pasien dengan satu atau lebih kriteria yang menunjukan demineralisasi dari
kapsul koklear
7.Pada timpanometri ada fenomena on-off.
Jenis otosklerosis
1 Otosklerosis Stapedial
Otosklerosis stapedial disebabkan karena fiksasi stapes, pada kasus ini banyak terjadi tuli
konduktif. Jenis osteosklerosis tipe ini adalah fokus anterior, fokus posterior,
sirkumferential, tipe biskuit dan tipe obliteratif.

67

F o k u s a n t e r i o r . ( B ) F o k u s p o s t e r i o r . ( C ) Sirkumperensial. (D) tipe


biskuit. (E) Obliteratif.
Otosklerosis Koklear
Otosklerosis koklear melibatkan region sekitar oval window dan bisa menyebabkan tuli
sensorineural. Kemungkinan disebabkan material toksik di dalam cairan telinga dalam.
Otosklerosis Histologis
Tipe otosklerosis ini merupakan gejala sisa dan tidak dapat menyebabkan tuli konduktif
dan tuli sensorineural.

Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala otosklerosis :
1.
Pedengaran menurun secara progresif
2.
Tinitus
3.
Vertigo
4.
Sulit mendengar suara yang lembut dan nada rendah (tuli 30-40 db)
Penegakan Diagnosis
1.
Anamnesa
Ditemukan keluhan Kehilangan pendengaran dan tinnitus sebagai gejala yang utama.
Penurunan pendengaran berlangsung secara progressif tanpa adanya penyebab trauma
atau infeksi. Tinnitus biasanya berlangsung menjadi lebih parah seiring dengan derajat
tingkat penurunan pendengaran. Umumnya dizziness dapat terjadi. Pasien mungkin
mendeskripsikan seperti vertigo, pusing yang berputar, mual dan muntah. Riwayat
keluarga pasien yang terkena otosklerosis dapat ditemukan.
2. Pemeriksaan Fisik
- Pada pemeriksaan ditemukan membran timpani utuh, kadang-kadang tampak
promontorium agak merah jambu, terutama bila membran timpaninya transparan.
Gambaran tersebut dinamakan tanda schwartze yang menandakan adanya fokus otosklerosis
yang sangat vaskuler.
- Pada pemeriksaan dengan garpu tala menunjukkan uji Rinne negatif. Uji weber sangat
membantu dan akan positif pada telinga dengan otosklerosis unilateral atau pada telinga
dengan ketulian konduktif yang lebih berat.

68

3. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan audiometri menunjukkan tipikal tuli konduktif ringan sampai sedang
yang menunjukkan adanya penurunan hantaran udara pada frekuensi rendah.
Air bone gap lebih lebar pada frekuensi rendah. Dalam beberapa kasus tampak adanya
cekungan pada kurva hantaran tulang. Hal ini berlainan pada frekuensi yang beda
namun maksimal pada 2000 Hz yang disbeut dengan Carhats notch (5 dB pada 500
Hz, 10dB pada 1000 Hz, 15 dB pada 2000 Hz dan 5 dB pada 4000 Hz) . P ad a
os t eo s k le ro s i s da pa t di j u mp ai ga mba r an Ch ar ha t s n ot ch .

G a mba r C ha rh a t s N o tc h
- Tympanometri
Pada masa pre klinik dari otosklerosis, tympanometri mungkin menunjukan on-off
effect, dimana ada penurunan abnormal dari impedance pada awal dan akhir eliciting
signal. Ketika penyakit berlanjut, adanya on-off ini memberi gambaran dari absennya
reflek stapedial. Gambaran timpanogram biasanya adalah tipe A dengan compliance
yang rendah. Walaupun jarang, gambaran tersebut dapat juga berbentuk kurva yang
memendek yang dirujuk ke pola tipe As.
Gambaran mengenai timpanogram:

69

Diagnosa Banding
1.Fiksasi kepala malleus
2.Congenital fixation of stapes
3.Otitis Media Supuratif Kronis
4.Timpanosklerosis
5.Osteogenesis imperfecta (van der Hoeve de Kleyn Syndrome
Tatalaksana
1. Amplifikasi
Alat Bantu dengar baik secara unilateral atau bilateral dapat merupakan terapi yang efektif.
Beberapa pasien yang bukan merupakan kandidat yang cocok untuk operasi dapat
menggunakan alat bantu dengar ini.
2.Terapi Medikamentosa
- Sodium Flouride dengan dosis 30-60 mg/hari . Fungsi dari sodium fluoride adalah untuk
meningkatkan aktivitas osteoblast dan meningkatkan volume tulang.
- Penggunaan fluoride dikombinasi dengan 400 U vitamin D dan 10 mg Calcium
Carbonate karena vitamin D dan CaCO3 akan memperlambat lesi dari otosklerosis.
3. Terapi Bedah
Pembedahan akan membutuhkan penggantian seluruh atau sebagian dari fiksasi stapes.
Seleksi pasien kandidat utama stapedectomy adalah yang mempunyai kehilangan
pendengaran dan menganggu secara sosial, yang dikonfirmasi dengan garputala dan
audiometric menunjukan tuli konduktif atau campur. Speech discrimination harus baik.
Secara umum, pasien dengan penurunan pendengaran lebih dari 40 db dan Bone conduction
lebih baik dari Air Conduction pada pemeriksaan garputala akan memperoleh keuntungan
paling maksimal dari operasi. Pasien harus mempunyai resiko anaestesi yang minimal dan
tidak memiliki kontraindikasi.
4. Indikasi bedah
1. Tipe otosklerosis oval window dengan berbagai variasi derajat fiksasi stapes
2. Otosklerosis atau fiksasi ligamen anularis oval window pada otitis media kronis (sebagai
tahapan prosedur)
3.Osteogenesis imperfekta
4.Beberapa keadaan anomali kongenital
70

5.Timpanosklerosis di mana pengangkatan stapes diindikasikan (sebagai tahapan operasi)


Prognosis
- Dua persen dari pasien yang menjalani operasi stapedektomi mengalami penurunan
f un gs i pe nd en g ar an ti p e sensorineural hearing loss
- P e n u r u n a n p e n d e n g a r a n s e t e l a h stapedektomi diperkirakan muncul pada
rata-rata 3,2 dB dan 9,5 dB per dekade

Benda asing telinga (kompetensi 3A)


a. Penjelasan
Benda mati(batu batere), serangga, komponen tumbu-han atau mineral
masuk dalam Meatus Acusticus Externa
b. Gambar

c.

d.

e.

Tanda dan Gejala


Rasa ada yang bergerak di liang telinga
tersumbat di telinga
Merasa tidak enak ditelinga: karena benda asing yang masuk pada
telinga, tentu saja membuat telinga merasa tidak enak, dan banyak orang
yang malah membersihkan telinganya, padahal membersihkan akan
mendorong benda asing yang masuk ke dalam jadi masuk lagi.
Pendengaran terganggu: Biasanya dijumpai tuli konduktif
Rasa nyeri telinga / otalgia. Nyeri dapat berarti adanya ancaman
komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter
atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak.
Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi telinga akibat benda
asing.
Pemeriksaan
Inspeksi =Aurikula,Pre aurikula D/S,Retroaurikula =Baik
Palpasi=Tidak nyeri
Otoskop=terlihat benda asing, MAE tampak hiperemis membran
timpani masih baik /perforasi (biasanya hewan),
DD
71

Benda asing pada telinga


Serumen wax
f. Pengobatan
Mengeluarkan benda asing harus hati-hati dengan menggunakan
pinset ,jika tidak hati2 akan beresiko trauma pd m. timpani atau struktur
telinga tengah
Bila benda asing berupa serangga hidup(binatang) harus dimatikan
dulu dengan :
memasukan tampon basah dimasukkan ke liang telinga + ditetesi cairan
mis. Larutan Rivanol/Obat anesetesi lokal +- 10 mnt
Setelah binatang mati serangga dikeluarkan dng pinset atau irigasi dng air
hangat.
Benda asing Baterai jangan dibasahi > menimbulkan efek korosif
Benda asing dapat dirigasi ,kecuali ada riwayat perforasi lubang membran
timpani
Resepnya apa y?hehehe butuh analgetik kah?
g. Prognosis
Baik
Sinusitis(3A)
a. Penjelasan
Inflamasi mukosa sinus paranasal
umumnya disertai/ dipicu rinitis sehingga sering disebut rinosinusitis
Penyebab utama= selesma(common cold) yang merupakan infeksi virus
yang selanjutnya dikuti infeksi bakteri,EX=
ISPA akibat virus, rinitis alergi, polip hidung, deviasi septum, hipertrofi konka,
sumbatan kompleks ostio-meatal (KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan
imuno-logik, diskinesia silia pd sindroma Karta-gener
Faktor resiko=
lingkungan berpolusi,
udara dingin & kering,
merokok
Paling sering= sinus ethmoid & maxilla
Jarang=sinus frontal,sinus spenoidale
Sinus maxilla disebut juga antrum Highmore , letak dekat akar gigi rahang
atas > infeksi gigi mudah menyebar ke sinus > sinusitis dentogen

Konsensus th 2004
akut =sampai 4 minggu
subakut = 4 minggu 3 bulan
kronik = > 3 bulan

b. Gambar

72

<<Post Nasal Drip

c. Tanda dan Gejala


i. akut
1. Keluhan utama=hidung tersumbat + nyeri/ rasa tekanan di wajah
,ingus purulen + post nasal drip, gejala sistemik(demam dan lesu)
2. Khas=Rasa tekanan di daerah sinus,kadang ada nyeri alih\
a. nyeri pipi>> sinusitis maksilla,,kadang terdapat nyeri alih ke
telinga dan gigi
b. nyeri di antara/ belakang mata>>sinusitis ethmoid
c. nyeri di dahi >> sinusitis frontal
d. nyeri di verteks, oksipital, belakang bola mata & daerah mastoid >>
sinusitis sfenoid
3. gejala lain = hiposmia/ anosmia, halitosis, post nasal drip yang
menyebabkan batuk & sesak pd anak
ii. Kronik=keluhan tidak khas(SULIT Di Diagnosis)
1. 1 atau 2 gejala berikut :
a. sakit kepala kronik,
b. post nasal drip
c. batuk kronik
d. gangguan tenggorok
e. gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba eustachius,
73

f. bronkitis (sino-bronkitis),
g. serangan asma yang MENINGKAT
h. Pd anak > mukopus tertelan > gastroenteritis
b. Pemeriksaan
i. pemeriksaan fisik
1. Palpasi/perkusi daerah sinus=nyeri
2. Rhinoskopi anterior=
a. pus di meatus medius (sinusitis maksilla, ethmoid anterior & frontal)
b. pus di meatus superior (sinusitis ethmoid posterior & sfenoid),
c. Sinusitis akut = mukosa oedem & hiperemis
3. transiluminasi sinus = Sinus yang sakit akan tampak gelap atau
suram
ii. pemeriksaan penunjang
1. foto polos
a. posisi waters, PA & lateral ,umumnya hanya mampu menilai
sinus besar (maksilla & frontal)
b. Kelainan akan TAMPAK=Perselubungan,Batas udara-cairan(air fluid level)
atau penebalan mukosa
2. CT scan sinus (gold standard)
a. Mampu menilai anatomy hidung dan sinus
b. Karena harganya mahal hanya dikerjakan pada sinusitis kronis dan pada pra
operasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus
c. CT scan sinus gold standard, transiluminsai sinus sudah jarang
digunakan
3. Pemeriksaan mikrobiologi dan tes resistensi
a. Mengambil sekret pada meatus medius dan superior >> untuk mendapatkan
antibiotik yang tepat
c. DD

1.Sinusitis
2.Rhinitis allergi
3.Rhinitis vasomotor

d. Pengobatan
i. Tujuan
mempercepat penyembuhan
mencegah komplikasi
mencegah perubahan menjadi kronik
ii. Prinsip
membuka sumbatan di KOM sehingga drainase & ventilasi sinus pulih
iii. sinusitis akut bakterial
1. antibiotik = amoksisilin, amoksisilin-klavulanat, sefalosporin gen 2 (1014 hr meski gejala klinik sudah hilang)
R/ Amoksisilin Tab 500 mg no.XLII
S 3dd tab 1 pc
2. dekongestan,
R/Pseudoephedrine Tab 30 mg no.XXVIII
S 2dd tab 1 pc (padi dan malam)
iv. sinusitis kronik
74

antibiotik untuk gram negatif & anaerob


v. terapi lain
1. analgetik
2. mukolitik, steroid topikal/ oral
3. pencucian rongga hidung dng NaCl dan diatermi (pemanasan)
4. Antihistamin generasi ke- 2
vi. operasi = sinusitis kronik yg tidak membaik setelah terapi adekuat
e. Prognosis
1. Infeksi sinus biasanya dapat disembuhkan dengan perawatan dini dan
tindakan perawatan medis.
2. Jika mengalami kekmabuhan, harus diperiksa untuk penyebab seperti polip
hidung atau masalah lain, seperti alergi.

Komplikasi (Meskipun sangat jarang terjadi, komplikasi dapat mencakup)


1
2
3
4

Abses
Tulang infeksi (osteomyelitis)
Meningitis
Kulit infeksi di sekitar mata (orbital selulitis)

Perforasi membran timpani(kompetensi 3A)

(LIHAT pada penjelasan :OMA supuratif stadium perforasi dan OM supuratif


kronik)

75

Otitis Media Akut


Peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau tiba-tiba.
faktor penyebab utama: sumbatan atau peradangan pada tuba
eustachii.
faktor pencetus: infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Sering pada anakanak karena mereka memiliki tuba eustachius yg pendek, lebar, dan letak
agak horizontal.
Penyebab bisa virus maupun bakteri. Bakteri penyebab OMA tersering adalah
Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenza (anak <5 th).
kira2 gini tmen2..
Radang di mukosa hidung dan
nasofaring karena ISPA
berlanjut ke mukosa tuba eustachius
mukosa tuba eustachius mengalami
edema
menyempitkan lumen tuba
eustachius
fungsi tuba eustachius terganggu (fungsi ventilasi dan
drainase)
menyebabkan berkurangnya pemberian oksigen ke dalam cavum
tympani berkurang (hipotensi) sehingga terjadi peningkatan
permeabilitas pembuluh darah dan limfe, peningkatan permeabilitas
dinding sel, proliferasi sel kelenjar mukosa.
perembesan cairan kedalam cavum tympani
(transudasi)

76

Stadium:

Stadium oklusi (penyumbatan) tuba eustachius:


o penarikan/ retraksi membran timpani pada telinga ke arah
dalam akibat tekanan negatif yang ditimbulkan oleh sumbatan
(absorbsi udara)
o membran timpani warna normal atau keruh pucat
o keluhan: telinga terasa penuh (seperti kemasukan air),
pendengaran terganggu, nyeri telinga (otalgia), tinnitus
Stadium Hiperemis:
o tampak pembuluh darah yang melebar di membran timbani
atau seluruh membran timpani.
o Hiperemis, oedem.
o Demam tinggi, pendengaran menurun.
o Pada tes garputala tuli konduksi (tes swabach memanjang,
tes rinne: negatif, tes webber: sakit)

Stadium Supurasi:
o bengkak yang hebat pada selaput permukaan telinga tengah dan
hancurnya sel-sel di dalam telinga tengah menyebabkan cairan
yang kental tertimbun di telinga tengah
o membrane tympani menonjol (bulging) kearah liang telinga luar.
o Terjadi tromboflebitis karena ada penekanan (penyumbatan)
o Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, otalgia
bertambah hebat.
o kemungkinan untuk ruptur BESAR! lakukan miringotomi agar luka
insisi dapat menutup kembali dgn baik
o Pada pemeriksaan otoskopi: MAE tidak ada sekret, membran
timpani tampak hiperemi, cembung kea rah lateral
(bombans), Terkadang tampak adanya pulsasi (keluar nanah
dari lubang perforasi sesuai dengan denyutan nadi)

77

Stadium Perforasi:
o pecahnya membrane timpani, dan keluar cairan putih
o jenis: perforasi sentral, marginal, atik, subtotal, dan total
o nyeri yang dirasakan penderita berkurang.
o penurunan pendengaran (tuli konduktif) dan keluhan infeksi
saluran nafas atas masih di rasakan
o otoskopi meatus externus masih didapati banyak mukopus dan
setelah dibersihkan akan tampak membrane tympani yang
hiperemis dan perforasi paling sering terletak di sentral

Stadium Resolusi:
o perlahan-lahan membrane timpani akan menyembuh jika
robekan tidak terlalu lebar, tetapi jika robekan lebar, stadium
perforasi dapat menetap dan berubah menjadi Otitis Media
Supuratif Kronik.
o Kebanyakan masih dirasakan adanya gangguan pendengaran,
keluhan sebelumnya sudah tidak dirasakan lagi.
o otoskopi meatus akustikus externus bersih dari secret,
membrane tympani warnanya sudah kembali lagi seperti
mutiara, yang masih tampak adalah perforasi pars tensa.

Tanda dan gejala:


gejala awal otitis media: echo (bergema di telinga)
anak anak umumnya: rasa nyeri di telinga dan demam. Biasanya ada
riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya.
remaja atau orang dewasa: nyeri, gangguan pendengaran dan telinga
terasa penih.
DD:
-

Otitis Media Serosa (karena virus)


Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK)

Tatalaksana:
stadium oklusi:
untuk melebarkan kembali saluran eustachius
HCl efedrin 1% dlm larutan fisiologik (obat tetes hidung dekongestan)
Antibiotik jika penyebab kuman
78

R/ nasal drops efedrin 1% 5cc


S2dd gtt III m et v
R/ tab amoksisilin 250mg no
XXI
so8h tab I (habiskan)
stadium hiperemis:
antibiotik (penisilin, ampisilin, atau eritromisim)
minimal 7 hari, anti radang, dan anti nyeri.
R/ tab amoksisilin 250mg no
XXI
so8h tab I (habiskan)
atau diganti eritromisin:
R/ tab eritromisin 250mg no
XXVIII
so6h tab I (habiskan)
antinyeri:
R/ tab paracetamol 500mg
sprn 3dd tab I (nyeri)
stadium supurasi:
antibiotik (sama seperti di atas)
rujuk spesialis THT utuk miringotomi (perobekan pada sebagian kecil
membran timpani)
stadium perforasi:
obat cuci telinga: H2O2 3% 3-5 hr
antibiotik 3 minggu
R/ sol H2O2 3% lag I
s.i.m.m
R/ tab amoksisilin 250mg no
LXIII
so8h tab I (habiskan)
stadium resolusi:
bila tidak terjadi resolusi, antibiotik dilanjutkan sampai 3 minggu
perforasi menetap, sekret keluar OMSK
Prognosis:
79

Prognosa umumnya baik jika pasien berobat teratur, belum timbul komplikasi
dan gangguan pendengaran masih ringan.

Otitis Media Serosa


Otitis media serosa adalah keadaan terdapatnya sekret nonpurulen di telinga
tengah dengan membran timpani utuh tampa adanya tanda tanda infeksi.
Apabila efusi tersebut encer disebut otitis media serosa dan apabila efusi
tersebut kental seperti lem disebut otitis media mukoid (glue ear).

akibat adanya transudat atau plasma yang mengalir dari pembuluh darah
ke telinga tengah yang sebagian besar terjadi akibat adanya perbedaan
tekanan hidrostatik.
Sering pada orang yg bepergian dengan pesawat, atau menyelam

OMS dibagi 2 jenis : otitis media serosa akut dan otitis media serosa kronik (glue
ear)
1.

Otitis Media Serosa Akut (barotrauma)

Disebabkan oleh gangguan fungsi tuba. Penyebabnya antara lain sumbatan tuba
(barotrauma), virus, alergi dan idiopatik. Sekret terjadi tiba2 disertai rasa nyeri.
Gejala:

pendengaran berkurang (garputala tuli konduktif)


rasa tersumbat pada telinga atau suara sendiri terdengar lebih nyaring
atau berbeda pada telinga yang sakit.
Kadang terasa seperti ada cairan yang bergerak di dalam telinga dengan
perubahan posisi.
Rasa nyeri relative.
Vertigo kadang dalam bentuk ringan.
Dengan otoskop terlihat retraksi membrane timpani. Kadang tampak
gelembung udara atau permukaan cairan dalam kavum timpani.

DD:

Otitis Media Akut


Otitis Media Supuratif kronis

Tatalaksana:

tetes hidung (vasokontriktor lokal), anti histamine, serta perasat


valsava.
Bila gejala masih menetap setelah 12 minggu, dilakukan miringotomi,
dan apabila belum membaik dengan miringotomi dapat ditambahkan
pemasangan pipa ventilasi
R/ nasal drops efedrin 1% 5cc
S2dd gtt III m et v
80

Prognosis:
Tergantung penanganan. Prognosis baik bila terapi adekuat.

2. Otitis Media Serosa Kronik (Glue Ear)


Sekret terjadi bertahap tanpa rasa nyeri dan kronik (berlangsung lama).
Lebih sering pada anak. Sekret kental seperti lem. Penyebab lain: infeksi virus,
alergi, gangg.mekanisme tuba.
Gejala:

perasaan tuli lebih menonjol (karena sekret lebih kental)


otoskopi: m.timpani utuh, retraksi, suram, kuning kemerahan

DD:

Otitis Media Akut


Otitis Media Supuratif kronis

Tatalaksana:

Rujuk miringotomi untuk mengeluarkan sekret


Kalau masih kasus baru, kadang berhasil dengan tetes hidung
dekongestan. (ikut resep obat yg tadi di OMSA.

Prognosis:
Tergantung penanganan. Prognosis baik bila terapi adekuat.

Otitis Media Kronik


Otitis media kronik ditandai dengan adanya supuratif (bernanah) yang
merupakan lanjutan dari OMA yang mengalami pecah gendang telinga dan tidak
menutup setelah 6 minggu.

81

OMSK (otitis media supuratif kronis):

perforasi m.timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus
menerus atau hilang timbul.
Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah
faktor penyebab: terapi OMA yg terlambat diberikan, terapi yg tidak
adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh rendah, atau hygiene
buruk.

OMSK dibagi :

Tipe aman/ mukosa/ benigna


o Perforasi sentral
o Tidak ada kolesteatoma
Tipe bahaya/ tulang/ maligna
o Perforasi marginal atau atik
o Disertai kolesteatoma
o tanda klinis lain: abses atau jar.granulasi di liang telinga luar yg
berasal dari dalam telinga tengah. Sekret nanah dan berbau khas
(aroma kolesteatoma)
o Rontgen mastoid: ada bayangan kolesteatom

DD:

Otitis media serosa kronik (glue ear)


OMA stadium perforasi

Tatalaksana:
Tipe aman:

bila sekret keluar terus: obat pencuci telinga H 2O2 3% selama 3-5 hari
(resep sama dengan di atas). Setelah sekret berkurang, beri obat tetes
telinga yg mengandung antibiotika dan kortikosteroid 1-2 mggu.
antibiotik (gol ampisilin atau eritromisin)
R/ tab eritromisin 250mg no
XXVIII
so6h tab I (habiskan)

82

bila sekret kering, perforasi menetap selama 2 bulan: miringoplasti,


timpanoplasti (rujuk spesialis)

Tipe bahaya:

Mastoidektomi (rujuk spesialis)

Prognosis:

OMSK tipe aman: jarang komplikasi


OMSK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom.
Kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis,
abes otak, prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal.
Sehingga OMSK tipe maligna harus diobati secara aktif sampai proses
erosi tulang berhenti
Fistula Preauricular (3A)

Fistula preaurikular merupakan lubang berbentuk bulat lonjong dengan ukuran


seujung pensil. Dapat ditemukan di depan tragus. Merupakan kelainan yang
bersifat herediter dominan.
Etiologi dan patogenesis
o

Gangguan perkembangan pada masa embrional

Gejala Klinis
o
Terdapat muara fistula di depan tragus
o
Dari muaranya keluar sekret yang berasal dari kelenjar sebasea
o
Pasien biasanya datang dengan keluhan obstruksi fistula dan infeksi.
Diagnosis
o
Anamnesis tentang riwayat keluarga
o
Pada PF, inspeksi ditemukan muara fistula
o
Pemeriksaan radiologi = untuk tentukan panjang vistula
Tatalaksana
o
Bila tidak ada keluhan => dibiarkan saja
o
Operasi bila :
o
Sering infeksi dan keluar sekret berkepanjangan
o
Cegah rekurensi
83

Komplikasi: Infeksi
Prognosis
o
Bila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan komplikasi, maka
prognosisnya akan baik.
Pola pikir
o
Bila ada pasien dengan fistula preaurikuler => periksa dan anamnesis
keluhan infeksi atau obstruksi => bila tidak ada => dapat dibiarkan =>
namun bila rekurensi tinggi dan keluar sekret terus menerus => tindakan
bedah dengan mengangkat fistula
INFLAMASI AURICULA
DEFINISI
Inflamasi aurikula merupakan suatu reaksi tubuh terhadap invasi bahan
infeksi, antigen atau karena cedera fisik (Gina, 2004) terdapat pada kulit,
kartilago serta lapisan jaringan ikat sekitarnya atau perikondrium aurikula
(Nurcahyo, 2007).

MANIFESTASI KLINIS
Impetigo ( infeksi kulit yang menyebabkan lepuhan lepuhan kecil)
Impetigo tidak disertai gejala umum, lebih sering terjadi pada anak-anak
(Djuanda, 2007). Impetigo umumnya ditularkan ke telinga melalui jari yang
kotor. Untuk alasan ini, bentuk lesi awal ditemukan pada pintu masuk
kanalis eksterna. Tidak seperti furunkulosis, impetigo merupakan infeksi
yang menyebar pada daerah superficial yang mana dapat meluas sampai ke
choncha bahkan seluruh aurikula. Lesi awal terbentuk suatu bula kecil yang bila
ruptur atau pecah akan mengeluarkan eksudat infektif berwarna
kekuningan. Eksudat mengering menjadi krusta keemasan. Seiring dengan
penyebaran infeksi, daerah yang terkena meluas dan terlihat krusta (Jahn dan
Hawke, 1990).
Erysipelas
Bentuk klinis erysipelas adalah nyeri dan pembengkakan. Lesi berupa
penyebaran selulitis yang berwarna merah dengan suatu perimeter iregular yang
meninggi dan berbatas jelas dari kulit normal disekitarnya. Bila erysipelas mulai
pada MAE atau pada aurikula, lesi secara khusus menyebar pada anterior wajah
tanpa terpengaruh batasan-batasan anatomis (Jahn dan Hawke, 1990).
Erysipelas disertai gejala konstitusi seperti pasien merasa sakit, menggigil,
demam dan malaise (Djuanda, 2007). Keterlibatan sistemik tidak terlihat pada
banyak infeksi superfisial (Jahn dan Hawke, 1990).
Herpes Zoster Otikus
Gejala awal berupa nyeri terbakar pada salah satu telinga, yang mungkin disertai
sakit kepala, malaise dan demam selama 2 hari. Vesikel umumnya muncul pada
hari ke 3 sampai hari ke 7 setelah onset nyeri, dan biasanya timbul pada
84

antiheliks, concha dan posterior lateral MAE. Infeksi pada ganglion genikulatum
juga dapat muncul disertai parese facialis atau paralisis komplit (Underbrink,
2001).
Eczema
Pada umumnya penderita dermatitis mengeluh gatal. Pada stadium akut kelainan
kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula erosi dan eksudasi, sehingga
tampak basah (madidans). Stadium subakut, edema dan eritema berkurang,
eksudat mengering menjadi krusta. Sedang pada stadium kronis lesi tampak
kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenifikasi, mungkin juga terdapat
erosi atau ekskoriasi karena garukan. Stadium tersebut tidak selalu berurutan,
biasanya suatu dermatitis sejak awal memberi gambaran klinis berupa kelainan
kulit stadium kronis (Sularsito dan Djuanda, 2007).
Ot hemathoma
Pada ot hemathoma aurikula dapat terbentuk penumpukan bekuan darah
diantara perikondrium dan tulang rawan. Bila bekuan darah ini tidak segera
dikeluarkan maka dapat terjadi organisasi dari hemathoma, sehingga tonjolan
menjadi padat dan permanen (Sosialisman dan Helmi, 2004).
Perichondritis
Tampak daun telinga membengkak, merah, panas, dirasakan nyeri, dan nyeri
tekan. Pembengkakan ini dapat menjalar ke bagian belakang daun telinga,
sehingga sangat menonjol. Terdapat demam, pembesaran kelenjar linfe regional
dan leukositosis. Serum yang terkumpul dilapisan subperikondrial menjadi
purulen, sehingga terdapat fluktuasi difuse atau terlokalisasi (Mansjoer et al,
2000).
DIAGNOSA
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, dimana penderita akan
mengeluhkan adanya gejala konstitusi seperti demam, sakit, malaise dll. Apakah
pasien mengeluh rasa gatal, nyeri atau tidak pada daun telinga. Dan keluhankeluhan khusus yang mengarah ke diagnosa impetigo, erysipelas, herpes zoster
otikus, eczema, ot hematoma dan perikondritis. Kedua berdasarkan inspeksi,
dimana akan kita dapatkan adanya effloresensi yang spesifik seperti
eritematous, edema, krusta, nodula, vesikel, bula dan sebagainya yang
mengarah ke diagnosa etiologi inflamasi aurikula. Ketiga yaitu dengan palpasi
untuk menemukan adanya fluktuasi dan untuk memastikan tidak adanya nyeri
tekan. Terakhir kita lakukan tindakan pengambilan sekret untuk dilakukan kultur
dan sensitivitas kuman pada kecurigaan infeksi dan aspirasi untuk mendapatkan
adanya cairan serohemoragis pada ot hematoma.
DIAGNOSA BANDING
Impetigo dapat didiagnosa banding dengan furunkulosis, vesikula eksem,
otomikosis, herpes zoster otikus dan varicella (Cole dan Gazewood, 2007).
Erysipelas didiagnosa banding dengan ot hematoma, perikondritis, erisypeloid,
dermatitis kontak, polychondritis, tuberculoid leprosy. Ot Hematoma dapat
didiagnosa banding dengan perichondritis dan erysipelas. Untuk perikondritis
dapat didiagnosa banding dengan erysipelas, ot hematoma, relapsing
polykondritis, frosbite, furunkulosis, leprosi daun telinga dan dermatitis daun
telinga (Subagio, 2006). Eczema didiagnosa banding dengan psoriasis dan
85

infeksi pada kulit. Suatu reaksi kulit akibat kepekaan terhadap neomisin dapat
tampil dengan pola yang mirip dengan eczematosa (Boies, 1997). Beberapa
diagnosa banding dari herpes zoster otikus antara lain adalah furunkulosis,
vesikula eksem dan impetigo (Deepak, 2005).
KOMPLIKASI
Impetigo umumnya tidak berbahaya, namun kadang-kadang dapat memberikan
komplikasi Poststreptococcal glomerulonephritis (PSGN), Cellulitis, dan infeksi
Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (Cole dan Gazewood, 2007).
Komplikasi erysipelas yang paling sering adalah limfangitis yang lebih sering
muncul daripada keadaan patologis yang lain. Komplikasi erysipelas yang lain
yaitu abses, flegmon, tropic ulcer dan nekrosis kulit (Liviu, 2008).
Infeksi virus varisella zoster pada ganglion genikulatum dapat muncul disertai
parese facialis atau paralisis komplit (Underbrink, 2001). Pada eczema bila
stadium akut tidak diatasi, maka dapat terjadi perubahan-perubahan kronik yang
ditandai dengan penebalan kulit dan bahkan stenosis pada MAE. Pada kasus
demikian, mungkin ada baiknya berkonsultasi dengan ahli kulit (Boies, 1997).
Komplikasi infeksi daun telinga sangat ditakuti karena dapat menyebabkan
seluruh daun telinga terkena infeksi dan mengubah bentuk daun telinga menjadi
Cauliflower ear (Soekirman, 1997).
TERAPI
Impetigo
Impetigo pada telinga sebaiknya dirawat dengan debridement pada daerah yang
terkena. Hal ini dapat dikerjakan dengan menggunakan lidi kapas yang sudah
dibasahi dengan cairan antiseptik atau hidrogen peroksidase. Daerah yang
terinfeksi kemudian ditutup dengan salep antibiotik. Salep yang mengandung
neomycin sangat berguna, juga mucopirin (bactroban), suatu salep single-agent
dengan aktifitas anti-Stafilokokkus. Antibiotik sistemik umumnya tidak
diperlukan, walaupun daerah yang terinfeksi meluas. Bila impetigo gagal diatasi
dengan terapi lokal, perlu dikonsulkan pada bagian dermatologi (Jahn dan
Hawke, 1990).
Erysipelas
Terapi erysipelas meliputi antibiotik topikal dan sistemik. Obat anti-streptokokkal
dosis tinggi dapat dicoba, tapi bila pasien gagal menunjukkan respon yang
signifikan dalam 48 jam, harus disadari pemberian antibiotik intravena yang
efektif melawan sterptokokkus (Jahn dan Hawke, 1990).
Herpes Zoster otikus
Oral steroid secara umum diberikan dan di tappering of bila diberikan diatas 1014 hari. Pengobatan dengan acyclovir, famcyclovir dan valacyclovir telah
ditunjukkan keevektifannya dalam memperpendek fase penyebaran virus dan
mengurangi otalgia (Underbrink, 2001).
Eczema
Pengobatan yang tepat didasarkan kausa, yaitu menyingkirkan penyebabnya.
Tetapi, karena eczema disebabkan oleh multi faktorial, kadang juga tidak
86

diketahui dengan pasti. Jadi pengobatan bersifat simptomatis yaitu dengan


mengurangi atau menghilangkan gejala dan keluhan, dan menekan keradangan
(Sularsito dan Djuanda, 2007). Bila aurikula terlibat cukup luas dan lesi
tampaknya meluas, maka dapat dianjurkan kompres basah larutan solusio
Burowi selama 24-48 jam, setelah itu gunakan salep dan solusio steroid
fluorinasi. Dengan sendirinya bila infeksi dicurigai, dapat diberikan antibiotik
topikal (Boies, 1997).
Ot Hematoma
Mengeluarkan isi hematoma yaitu bisa secara aspirasi atau insisi. Aspirasi
dilakukan dengan jarum aspirasi nomor 18 untuk mencegah reakumulasi dari
hematoma. Prinsip selanjutnya setelah dilakukan aspirasi atau insisi dilakukan
penekanan untuk mencegah reakumulasi antara lain dengan cara: pembalutan
seperti pemasangan perban, penekanan paksa mastoidektomi, penekanan lokal
dengan bloster yang dijahit. Menggunakan penekanan gips yang dipasang di
depan dan dibelakang. Menggunakan perban gipsona yang melingkari daun
telinga. Disamping kedua tahap ini, juga penting pemberian antibiotik yang
adekuat (Fariz, 2006).
Perikondritis
Kasus mild perikondritis dapat diterapi dengan debridement dan antibiotik
topikal atau oral (Underbrink, 2001). Tetapi pengobatan dengan antibiotik sering
gagal karena kuman yang dituju yaitu, Pseudomonas aeruginosa sering resisten
terhadap sebagian besar antibiotik. Yang paling efektif adalah Tobramisin
diberikan bersama-sama Tikarsilin secara sistemik, selama 2 minggu, dengan
memantau fungsi ginjal (Mansjoer et al, 2000) Bila infeksi menyebar mengenai
jaringan ikat dan jaringan linfe regional, pasien harus dirawat dan diberikan
antibiotik parenteral. Bila terjadi infeksi subakut atau kronis pada perikondrium
atau kartilago dan tetap berlanjut walaupun sudah diberi perawatan, intervensi
surgical dibawah kontrol dapat diindikasikan. Pembedahan meliputi eksisi
jaringan nekrotik, kemudian dilakukan lokal skin flap. Irigasi dengan drain kecil
sebaiknya ditempatkan dibawah flaps dan diirigasi dengan cairan antibiotik tiga
kali sehari. Drain dapat diteruskan sesuai perbaikan kondisi (Underbrink, 2001).
PROGNOSA
Pada umumnya prognosis inflamasi aurikula ini baik bila diagnosa ditegakkan
secara tepat dan penatalaksanaan diberikan secara dini.
EDUKASI
Untuk pencegahan infeksi, higienisitas yang baik seperti mencuci tangan secara
teratur dapat mencegah terjadinya inflamasi aurikula (Lewis, 2007). Pasien harus
dilarang menyentuh telinganya. Kuku harus dipotong pendek (Jahn dan Hawke,
1990) dan untuk mencegah penularan pada keluarga hendaknya menggunakan
sabun antibakteri dan memiliki handuk yang terpisah. Pisahkan sprai yang
terinfeksi handuk, baju dari anggota keluarga yang lainnya dan cuci dengan air
hangat (Lewis, 2007). Untuk para pegulat perlu diingatkan untuk memakai
pelindung kepala, juga pada saat berlatih (Boies, 1997)

HERPES ZOSTER OTIKUS

87

Herpes zoster opticus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus
varicella

zoster.Virus

kranial.Dapat

ini

mengenai

menyerang
saraf

satu

atau

trigeminus,ganglion

lebih

dermatom

genikulatum,dan

saraf
radiks

servikalis bagian atas.Keadaan ini disebut juga sindroma Ramsay Hunt.


Patogenesis
Masa tunasnya 7-12 hari masa aktif penyakit berupa lesi baru dan yang tetap
timbul berlagsung kira 1-2 minggu virus berdiam diganglion posterior susunan
saraf tepi dan ganglion kranialis.Sering berhubungan dengan orang yang daya
tahan tubuhnya menurun,stress emosional,suatu keganasan,kemoterapi.
I.

Manifestasi klinis:
Gejala prodromal :Gejala sistemik seperti demam,pusing,malaise,mual
muntah.
Stadium :Timbul atau plakat berbentuk urtika setelah 1- 2 hari akan
berubah menjadi gerombolan vesikel dengan dasar kulit yang eritematous
dan edema vesikel air berisi cairan yan jernih,nyeri yang hebat pada
daerah telinga,dapat timbul paralisis saraf fasialis.
Jika
virus
mengenai
ganglion
---Hiperakusis,gangguan

sekresi

kelenjar

genikulatum

lakrimalis,gangguan

sekresi kelenjar liur.


Jika mengenai korda timpani -kelumpuhan otot wajah unilateral.
Jika mengenai bagian yg lebih proksimal pons sampai meatus
II.
III.

akustikus -strabismus,gangguan pendengaran&keseimbangan.


Diagnosis banding : Otitis eksterna dan bells palsy
Prognosis : Diagnosis yg ditegakkan lebih cepat dan mendapatkan terapi
sebelum 72 jam setelah onset memberikan hasil yg lebih baik.Pasien yg
mengalami vertigo dan tuli sensorineural maka prognosisnya jelek

IV.

terutama pada pada pasien dengan umur tua.


Pengobatan&resep :
Standar lini pertama adalah anti viral
Acyclovir 5X200 mg/hari selama 5-7 hari,tiap 4 jam
Valacyclovir 3X1000 mg (selama 7 hari ) --obatnya mahal banget
Terapi simtomatis -anti inflamasi dan analgetik
Resep
R/Acyclovir tab 200 mg No.XXX
S 5 dd tab.I p.c

88

(gambar dari Medscape)


Sumber :
Buku THT FKUI,MIMMS,Divisi THT USU,Medscape.
RINITIS KRONIS
I.

Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa

I.

yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi.


Rinitis Alergi
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi
alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan
allergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika
terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut.
Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu :
1. Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak
dengan allergen hingga 1 jam setelahnya.
2. Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua
hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan

II.

dapat berlangsung hingga 24 jam.


Manifestasi Klinis :
1. Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi
hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali).
2. Hidung tersumbat.
3. Hidung meler. Cairan yang keluar

dari

hidung

meler

yang

disebabkan alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi


kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang
menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.
4. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan
tenggorok.
5. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
6.Pada
rinoskopi
anterior
maka
akan
edema,basah,pucat,disertai
III.
IV.

banyak

sekret

dijumpai

mukosa

encer,diluar

serangan

banyak mukosa kembali normal.


Diagnosis banding
1. Rinitis infeksi
2. Common cold
Prognosis
89

Harus membutuhkan penanganan segera karena dapat menimbulkan


komplikasi berupa polip hidung,otitis media,sinusitis paranasal.
V.

Pemeriksaan penunjang --
Pemeriksaan pelengkap : sitologi hidung ,ditemukan eosinofil banyak
menunjukkan adanya alergi inhalan.
Pemeriksaan lebih bermakna : ELISA atau RAST
Pengobatan dan terapi
1. Hindari kontak dengan alergen
2. Medikamentosa :
A. Anti histamin
Antihistamin yg dipilih adalah generasi 2 karena realtif

VI.

non sedatif contohnya :terfenadin,fexofenadine,loratadine


B. Dekongestan
Dapat dipakai untuk mengatasi sumbatan hidung,karena
beberapa penderita mengeluh sesak nafas dan mungkin
tidak dapat tidur karena susah bernafas.
Contohnya : Pseudoefedrin HCL
Resep :
R/Loratadine tab 10 mg No.XX
S.3dd.tab 1.pc
R/Pseudoefedrin HCL tab 30 mg No.XX
S 3dd tab I .dC
Sumber : MIMMS,THT FKUI,Buku ajar BOIES
TULI
Dibedakan menjadi 2 :
1. Tuli Perseptif/Tuli sensori
2. Tuli Konduktif
Ingat temen2 pemeriksaan ketulian.
Tes

Tes weber

Tes Schwabach

Diagnosis

Rinne
+

Tidak ada lateralisasi

Sama

Normal

I.

Lateralisasi ke telinga
Sakit
Lateralisasi ke telinga
Sehat

pemeriksa
Memanjang
Memendek

dng

Tuli
Konduktif
Tuli
Sensorineural

TULI KONDUKTIF
Tuli kondusif adalah kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah,
hingga menghambat bunyi-bunyian yang akan masuk ke dalam telinga.
Kelainan pada telinga luar yang menyebabkan tuli kondusif adalah
otalgia, atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna
sirkumskripta, otitis eksterna maligna, dan osteoma liang teliga.

90

Kelainan pada telinga tengah yang menyebabkan tuli kondusif ialah


sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanisklerosia,
hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran.
Penanganan ---karena penyebabnya banyak maka penanganannya
disesuaikan dengan penyebab tersebut.Contoh :Jika penyebab karena
serumen prop
Serumen Prop
Meneteskan telinga dengan H202 3%-->tunggu 10-15 menit--setelah
II.

itu semprot dengan Nacl hangat.


Tuli sensorineural/perseptif
Kompetensi SKDI 2
a. Tuli sensorineural adalah ketidakmampuan fungsi pendengaran
karena kerusakan telinga dalam. Tuli sensorineural disebut juga
tuli saraf atau tuli perseptif. Tuli sensorineural terbagi atas tuli
sensorineural koklea dan retrokoklea.
b. Tuli sensorineural koklea disebabkan

aplasia,

labirintitis,

intoksikasi obat ototoksik atau alkohol. Dapat juga disebabkan


tuli mendadak, trauma kapitis, trauma akustik, dan pemaparan
bising.
Tuli sensorineural retrokoklea disebabkan neuroma akustik,
tumor sudut pons-serebelum, mieloma multipel, cedera otak,
perdarahan otak, atau kelainan otak lainnya.
c. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi Klinik
* Gejala gejala prebiskusis : berkurangnya kemampuan
mendengar pada kedua telinga, berkurangnya kemampuan
mengerti

percakapan

karena

berkurangnya

kemampuan

membedakan suku kata yang hampir mirip, telinga sakit bila


lawan bicara memperkeras suara, dan tinnitus.
* Gejala gejala tuli saraf congenital : anak tidak merespon
bila diberi bunyi, proses perkembangan bicara anak terhambat,
keterbelakangan mental, dan gangguan emosional.
* Gejala gejala tuli saraf karena obat : kurang pendengaran,
vertigo, tinitus yang kuat dan bernada tinggi antara 4-6 KHz.
Terkadang tinnitus menetap.
* Gejala gejala tuli saraf karena suara bising: kurang
pendengaran, dapat tinnitus atau tidak, Coctail party deafness
( kesulitan mendengar serta memahami pembicaraan di tempat
keramaiian ).Bila sudah cukup berat , maka akan terjadi

sukar

menangkap percakapan dengan kekerasan biasa ,.Bila sudah


lebih berat maka percakapan yang keraspun sukar dimengeri.

91

* Gejala gejala tuli saraf karena penyakit lain : timbulnya


tergantung

perjalanan

penyakit

yang

mendasari,

tinnitus,

vertigo dan kurangnya pendengaran.


* Gejala gejala tuli saraf karena tumor : tergantung besar
dan

letak

serta

Keseimbangan

penyebaran

tubuhi

tidak

tumor.

Tuli

semakin

stabil.

Tekanan

parah.

intracranial

meningkat akibatnya kepala pusing dan muntah. Dan lain lain.


* Gejala gejala tuli saraf karena trauma : timbul mendadak ,
kadang kadang bersifat sementara atau

menetap,

dapat

unilateral atau bilateral, tinnitus dan vertigo.


* Gejala gejala tuli saraf tiba tiba : timbul mendadak ,
kadang kadang bersifat sementara atau berulang dalam
serangan atau

biasanya menetap, dapat unilateral atau

bilateral, tinnitus dan vertigo.


d. Diagnosis
Diagnosa awal dilakkan dengan

anamnesa

pasien.

Lalu

melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.


Pemeriksaan fisik dan penunjang berupa audiologi dasar dan
audiologi khusus, dan dibantu dengan CT SCAN, MRI untuk
menegakkan diagnosa tuli sensorineural yang disebabkan oleh
tumor.
Untuk membedakan

tuli

konduktif

dan

tuli

neurisensorik

dibutuhkan audiologi dasar. Audiologi dasar ialah pengetahuan


mengenai nada murni , bising, ganngguan pendengaran serta
cara

pemeriksaannya

-Audiologi

dasar

Tes

Rinne,weber,schawabach
DIAGNOSIS BANDING
1. Tuli konduktif
2. Sindroma meniere
Tatalaksana ---------- Rujuk Ke SMF THT-KL
Sumber : Buku ajar THT BOIES
KOLESTEATOMA
KOLESTEATOMA adalah epital kulit yang berada pada tempat yang salah atau
karena adanya epitel kulit yang terperangkap (contohnya : serumen padat yang
berada lama di liang telinga akan menyebabkan epitel kulit yang medial dari
serumen seakan tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk
kolesteatoma.
Penyebab :

92

1. cacat bawaan lahir


2. infeksi kronis pada bagian telinga tengah
3. tekanan negatif di dalam telinga bagian tengah yang dikarenakan oleh
fungsi tuba eustachius. Akibat flu atau alergi, juga sering pada pasien
dengan kelainan paru kronik, seperti bronkiektasis, juga pada pasien
sinusitis
Patogenesis kolesteatoma adalah : teori invaginasi, teori imigrasi, teori metaplasi
dan teori implantasi.
Tanda dan Gejala :
1. Otorrhea tanpa rasa nyeri, terus-menerus, sering berulang. Sekret hijau
kebiruan = pseudomonas, sekret kuning pekat = staphylococcus, sekret
berbau busuk = golongan anaerob
2. Gangguan pendengaran
3. Pusing. Ini adalah gejala yang mengkhawatirkan karena pertanda dari
perkembangan komplikasi yang lebih serius
4. Pada pemeriksaan fisik, kanalis akustikus eksternus penuh terisi pus
mukopurulen dan jaringan granulasi
Terapi :
1. Curiga pseudomonas : Kortrimokasazol, siprofloksasin atau ampisilinsulbaktam
2. Curiga anaerob : metronidazol, klindamisin, atau kloramfenikol
3. Jika sulit menentukan kuman penyebab : dapat pakai campuran
trimetoprim-sulfametoksazol atau amoksisilin-klavulanat. Antibioltik
topikal yang paling aman dipakai adalah golongan quinolon.
4. Penggunaan ofloksasin haru s sangat hati-hati pada anak kurang dari 12
tahun
5. Pembersihan liang telinga dapat menggunakan larutan antiseptik seperti
asam asetat 1-2%, hidrogen peroksida 3%, providon-iodine 5%, atau
larutan garam fisiologis. Larutan harus dihangatkan dulu sesuai dengan
suhu tubuh (agar tidak mengiritasi) setelah itu dikeringkan dengan lidi
kapas
*jadi prinsipnya sebenrnya adalah pembedahan (mastoidektomi dengan atau
tanpa timpanoplasti). Terapi medikamentosa hanyalah terapi sementara sebelum
dilakukan pembedahan. Jika ada abses subperiosteal retroaurikuler, perlu
dilakukan insisi abses sebelum mastoidektomi.
Prognosis :
Menghilangkan kolesteatoma hampir selalu berhasil, tapi mungkin memerlukan
pembedahan beberapa kali, karena dapat kambuh. Meskipun demikian, karena
osikular dan/atau membran tympani tidak selalu dapat sepenuhnya direstorasi
kembali normal, jadi kolesteatoma tetaplah menjadi penyebab umum relatif tuli
konduktif permanen
Diferensial Diagnosis:
93

1.
2.
3.
4.
5.

chronic otitis media with efussion


acoustic neuroma
middle ear osteoma
tympanosclerosis
labyrinthitis

MASTOIDITIS
Mastoiditis adalah infeksi tulang mastoid tengkorak. Mastoid ini terletak tepat di
belakang telinga.

94

Gejala :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Drainage dari telinga


Nyeri Telinga atau tidak nyaman pada telinga
Demam, bisa tinggi atau tiba2 meningkat
Sakit kepala
Pendengaran menurun
Kemerahan pada telinga (di belakang telinga)
Bengkak pada telinga

Terapi
Mastoiditis mungkin sulit diobati menggunakan obat karena obat tidak dapat
mencapai cukup jauh ke dalam tulang mastoid sehingga perlu pengobatan
panjang.
Obat utama yang digunakan dalam pengobatan mastoiditis adalah antibiotik.
Obat lain meliputi analgesik, antipiretik, dan kombinasi antibiotik-steroid topikal.
Infeksi diobati dengan antibiotik melalui injeksi, kemudian antibiotik melalui
oral.
Jika operasi mastoid terbuka tidak dilakukan, penggunaan tunggal, dosis tinggi
intravena (IV) steroid dibenarkan untuk mengurangi pembengkakan mukosa dan
drainage.
Mastoidektomi : mungkin diperlukan jika terapi antibiotik tidak berhasil.
Myringotomy : mungkin diperlukan untuk mengobati infeksi telinga tengah
Prognosis
Mastoiditis dapat disembuhkan dengan pengobatan. Namun, mungkin sulit untuk
mengobati dan dapat datang kembali.
Diferensial Diagnosis:
1. Otitis Externa
2. Otitis Media
3. Wegener Granulomatosis

95

RHINITIS ACUTE
Adalah radang pada mukosa hidung yang berlangsung akut kurang dari 12
minggu, dapat disebabkan karena infeksi virus, bakteri, ataupun iritan. Sering
ditemukan karena manifestasi dari rinitis simplek (common cold), influenza,
penyakit eksantem (seperti morbili, variola, varixela, pertusis), penyakit spesifik,
serta sekunder dari iritasi lokal atau truma.
Penyakit ini dapat juga timbul sebagai reaksi sekunder akibat iritasi lokal atau
trauma, khususnya yang berhubungan dengan organ penciuman kita.
Klasifikasi :
1. Rhinitis Virus
- Rhinitis Simplek (Pilek, Selema, Common Cold, Coryza). Masa inkubas
1-4 hari dan berakhir dalam 2-3 minggu.
- Rhinitis Influenza. Gejala mirip dengan common cold.
- Rhinitis Eksantematous. Sekitar 2-3 hari.
2. Rhinitis Bakteri
- Infeksi Non-Spesifik. Bisa primer (pada anak dan biasa akibat infeksi
pneumococcus, streptococcus atau staphyococcus; membran putih
keabu-abuan yang lengket dapt terbentuk pada rongga hidung, yang
jika diangkat bisa menyebabkan perdarahan). Sekunder (akibat dari
infeksi bakteri pada rhinitis viral akut)
- Rhinitis Difteri. Disebabkan Cornybacterium diphteriae. Dugaan
adanya hal ini harus dipikirkan pada penderita dengan riwayat
imunisasi tidak lengkap
3. Rhinitis Iritan. Disebabkan oleh paparan debu, asap, atau gas yang
bersifat iritatif seperti ammonia, formalin, gas asam dll. Atau bisa juga
disebabkan oleh trauma yang mengenai mukosa hidung selama masa
manipulasi intranasal, contohnya pada pengangkatan corpus alienum.
Tanda dan Gejala :
1. Stadium prodromal, pada hari pertama :
- Rasa panas dan kering pada cavum nasi
- Bersin-bersin
- Hidung Tersumbat
- Sekret encer jernih seperti air
- Pemeriksaan rhinoskopi anterior : cavum nasi sempit, sekret serous,
mukosa edema dan hiperemis
2. Stadium akut, hari kedua-keempat :
- Bersin-bersin berkurang
96

Obstruksi nasi bertambah, akibat obstruksi nasi akut terjadi hiposmia,


gangguan gustateris, rasa makanan tidak enak
Sekret kental kuning
Badan tidak enak
Pemeriksaan : Cavum nasi lebih sempit, sekret mukopurulen, mukosa
lebih edema dan hiperemis

3. Stadium Penyembuhan (Resolusi), hari kelima-ketujuh :


- Gejala diatas berkurang (edema dan hiperemis berkurang, obstruksi
berkurang, sekret berkurang). Kadang-kadang rhinitis akut didahului
gejala nasofaring sehingga timbul gejala panas, batuk, dan pilek. Tetapi
adanya faringitis atau laringitis akut tidak selalu didahului oleh rhinitis
akut.
*pemeriksaan : Test alegi (-), IgE negatif, ada riwayat keluarga yang memiliki
penderitaan sama,
*rhinitis akut pada dasarnya sulit dibedakan dengan tipe ainnya. Memiliki gejala
rasa paas, kering, gatal di dalam hidung. Bersin, hidung tersumbat, dan terdapat
ingus yang encer hingga mukopurulen, mukosa hidung dan konka berubah warna
menjadi hiperemis dan edema. Biasanya diiukuti dengan gejala sistemik seperti
demam, malaise dan sakit kepala. Pada rhinitis influenza. Gejala sistemik
umumnya lebih berat disertai sakit pada otot. Pada rhinitis eksantematous,
gejala terjadi sebelum tanda karakteristik atau ruam muncul. Pada rhinitis iritan,
ingus sangat banyak dan bersin.

Terapi :
Rhinitis akut ini bisa sembuh sendiri
secara spontan setelah 12 minggu
sehingga terapi yag diberikan lebih
bersifat simptomatis, seperti analgesik,
antipiretik, nasal dekongestan dan
antihistamin disertai istirahat yang
cukup. Terapi khusus tidak diperlukan
kecuali bila ada komplikasi seperti infeksi
sekunder bakteri berikan antibiotik
-

Dekongestan oral : menguragi


sekret hidung yang banyak,
membuat pasien merasa lebih nyaman, tapi tidak menyembuhkan
Tetes hidung efedrin 1% : sangat menolong hidung yang tersumbat
Pemberian obat simtomatik oral sangat efektid dengan diberikan 4 jam
sekali, suatu kapsul yang terdiri dari :
Efedrin sulfat
15 mg
Pentobarbital
Asam asetil salisilat**

15 mg
300 mg
97

** dapat diganti dengan 30mm mg asetaminofen

Prognosis :
Merupakan self limiting disease umumnya sembuh dalam 7-10 hari Tapi dapat
lebih lama 3 minggu jika ada faringitis, laringitis atau komplikasi lain.

Diferensial Diagnosis:
1. Sinusitis
2. Faringitis
3. Laringitis

98

SERUMEN PROP

Serumen prop adalah gangguan pada telinga yang disebabkan oleh penumpukan serta pengerasan
serumen.
Faktor yang menyebabkan serumen terkumpul dan mengeras di liang telinga, sehingga
menyumbat antara lain ialah:
1. Dermatitis kronis liang telinga luar
2. Liang telinga sempit
3. Produksi serumen banyak dan kental
4. Adanya benda asing di liang telinga
5. Adanya eksostosis (pertumbuhan jinak dari permukaan tulang) liang telinga

99

6. Serumen terdorong oleh jari tangan atau ujung handuk setelah mandi, atau kebiasaan mengorek
telinga.
Tanda dan Gejala
Rasa telinga tersumbat, sehingga pendengaran berkurang. Rasa nyeri dapat timbul apabila
serumen keras membatu, dan menekan dinding liang telinga. Telinga berdengung (tinitus) dan
pusing dapat timbul apabila serumen telah menekan membran timpani, terkadang dapat disertai
batuk, oleh karena rangsangan nervus vagus melalui cabang aurikuler.

DD :
Otomikosis (infeksi jamur di liang telinga yang disebabkan oleh jamur Pityrosporum, Aspergillus,
Candida albicans, dll)
Otitis media (Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,
tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid yang disebabkan oleh bakteri atau virus dan
biasanya terdapat riwayat batuk sebelumnya)
Resep
R/ Auric drops Karbogliserin 10% lag I
S.3.d.d.gtt V (telinga yang sakit selama 3 hari)

Penjelasan Resep : Teteskan karbogliserin pada telinga yang sakit (tersumbat oleh serumen) 3
kali dalam sehari sebanyak 5 tetes setiap kali pemberian. Pemberian tetes telinga ini diberikan
selama 3 hari. Kemudian pasien disuruh kembali ke dokter untuk dibersihkan serumen nya..Fungsi
dari karbogliserin adalah melunakkan serumen.
Edukasi : Pembersihan serumen yang terlalu sering, justru merangsang produksi
serumen lebih banyak dan jangan membersihkan serumen terlalu dalam karena akan
membuat serumen terdesak masuk ke dakam telinga (pembersihan pada bagian luar
aja)
Prognosis : baik

OTITIS EKSTERNA
radang telinga akibat infeksi bakteri, jamur dan virus
Predesposisi : membersihkan telinga dengan cotton bud ph teling menurun
proteksi terhadap infeksi menurun
OE Sirkumskripta (Furunkel/Bisul)

100

Kulit 1/3 luar liang telinga mengandung adnexa kulit infeksi di pilosebaseus
furunkel karena kuman
Tanda dan gejala: nyeri hebat akibat kulit liang teling menekan
perikondrium; gangguan pendengaran jika furunkel besar
Terapi :
Antibiotik setelah diaspirasi (topikal) + Analgetik
Jika furunkel tebal di insisi dan dipasang drain
DD : Otomikosis jamur menyebabkan adanya furunkel
Resep
R/ Salep Bacitracin 500iu/g 5g tube 1
s.b.dd.m.et.v. u.e
R/ Tab. As. Mefenamat 500mg no. X
s.prn. tab 1. Pc (nyeri)
Prognosis : baik
OE Difus terjadi pada telinga perenang

kulit 2/3 luar telinga


Tanda Gejala :

101

Nyeri tekan tragus, liang telinga sempit, gendang telinga tidak terlihat
(bengkak), kelenjar getah bening regional membesar, nyeri tekan da nada secret
yang berbau.
Terapi :
KGB besar antibiotic sistemik
Masukan tampon mengandung anti biotik
Resep
R/ Auric drops Polimixin B Sulfate 10000iu/5ml 10ml lag I
s.t.d.d. gtt.III. AD et AS
R/ Kap. Eritromicin 250mg no. XV
s.4dd. tab.1 a.c KGB Besar
Prognosis : baik

Motion Sickness
mabuk kendaraan akibat ketidak sesuaian informasi vestibular dan visual
pada lingkungan yang bergerak
gejala : mual, muntah, berkeringat, pucat
Terapi : Dipenhydramine
DD : BPPV vertigo bisa posisi kepala berubah, disertai mual muntah
Resep :
R/ Dipenhydramine HCL 12,5 mg/5ml 60ml lag I
S3dd.1 cth II p.c
Prognosis : baik

102

Sinusitis Kronis
Sinusitis kronis adalah sinusitis yang berlangsung lebih dari 3 bulan
Etiologi:
1. Sinusitis akut berulang
2. Sinusitis akut yang sembuh tidak sempurna
3. Gangguan drainase: Gangguan drainase dapat disebabkan obstruksi mekanik dan
kerusakan silia.
4. Perubahan mukosa: Perubahan mukosa dapat disebabkan alergi, defisiensi
imunologik, dan kerusakan silia.
5. Mikrobiologik:
Aerob S. Aureus, S. Viridans dan H. Influenza
Patogenesis
Pada dasarnya patofisiologi dari sinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu obstruksi
drainase sinus (sinus ostia), kerusakan pada silia, dan kuantitas dan kualitas mukosa.
Sebagian besar episode sinusitis disebabkan oleh infeksi virus. Virus tersebut sebagian
besar menginfeksi saluran pernapasan atas seperti rhinovirus, influenza A dan B,
parainfluenza, respiratory syncytial virus, adenovirus dan enterovirus. Infeksi virus akan
menyebabkan terjadinya udem pada dinding hidung dan sinus sehingga menyebabkan
terjadinya penyempitan atau obstruksi pada ostium sinus, dan berpengaruh pada
mekanisme drainase dalam sinus. Selain itu inflamasi, polyps, tumor, trauma, scar,
anatomic varian, dan nasal instrumentation juga menyebabkan menurunya patensi sinus
ostia. Virus tersebut juga memproduksi enzim dan neuraminidase yang mengendurkan
mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan mukosilia. Hal ini menyebabkan
silia menjadi kurang aktif dan sekret yang diproduksi sinus menjadi lebih kental, yang
merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri patogen. Silia yang
kurang aktif fungsinya tersebut terganggu oleh terjadinya akumulasi cairan pada sinus.
Terganggunya fungsi silia tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
kehilangan lapisan epitel bersilia, udara dingin, aliran udara yang cepat, virus, bakteri,
environmental ciliotoxins, mediator inflamasi, kontak antara dua permukaan mukosa,
parut, primary cilliary dyskinesia (Kartagener syndrome). Adanya bakteri dan lapisan
mukosilia yang abnormal meningkatkan kemungkinan terjadinya reinfeksi atau
reinokulasi dari virus. Konsumsi oksigen oleh bakteri akan menyebabkan keadaan
hipoksia di dalam sinus dan akan memberikan media yang menguntungkan untuk
berkembangnya bakteri anaerob. Penurunan jumlah oksigen juga akan mempengaruhi
pergerakan silia dan aktivitas leukosit. Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh fungsi
lapisan mukosilia yang tidak adekuat, obstruksi sehingga drainase sekret terganggu, dan
terdapatnya beberapa bakteri patogen. Menurut teori,patogenesis pasien di atas
disebabkan oleh deviasi septum. Deviasi septum tersebut didapatkan dari pemeriksaan
fisik.
Manifestasi Klinis:

Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pasca nasal (post nasal drips).

Gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok.

Gejala telinga, berupa pendengaran terganggu karena tersumbatnya tuba eustachius.

103

Adanya nyeri/sakit kepala:Nyeri kepala pada sinusitis kronis biasanya terjadi pada
pagi hari, dan akan berkurang atau hilang setelah siang hari. Penyebabnya belum
diketahui dengan pasti tetapi mungkin karena pada malam hari terjadi penimbunan
ingus dalam rongga hidung dan sinus serta adanya statis vena.

Gejala mata oleh karena penjalaran infeksi melaui duktus nasolakrimalis.

Gejala saluran nafas berupa batuk dan kadang-kadang terdapat komplikasi di paru,
berupa bronchitis atau bronchiectasis atau asma bronchial, sehingga terjadi penyakit
sinobronkhial.

Gejala di saluran cerna, oleh karena muko-pus yang tertelan menyebabkan


gastroenteritis, sering pada anak.
gejala tertentu yang timbul berdasarkan sinus yang terkena :
- Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat dibawah mata, sakit gigi dan sakit
kepala
- Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi
- Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit
kepala di dahi.
- Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan
bisa dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang
menyebabkan sakit telinga dan sakit leher.
Pemeriksaan
Anamnesis
Sinusitis kronik lebih sulit didiagnosis dibandingkan dengan sinusitis akut. Dalam
menggali riwayat pasien harus cermat, jika tidak maka sering salah diagnosis. Gejala
seperti demam dan nyeri pada wajah biasanya tidak ditemukan pada pasien sinusitis
kronik.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaaan fisik pasien sinusitis kronik ditemukan beberapa hal seperti, Pada
pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan sekret kental purulen di meatus nasi
medius dan meatus nasi superior. Sekret purulen juga ditemukan di nasofaring dan
dapat turun ke tenggorok. Pemeriksaan transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus
frontal, yakni pada daerah sinus yang terinfeksi terlihat suram atau gelap
Pemeriksaan Imaging : Pemeriksaan radiologik, posisi rutin yang dipakai adalah
posisi Waters, PA dan Lateral. Posisi Waters, maksud posisi Waters adalah untuk
memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila, yakni
dengan cara menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu
menyentuh permukaan meja. Posisi ini terutama untuk melihat adanya kelainan di
sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus frontal
dan posisi lateral untuk menilai sinus frontal, sphenoid dan etmoid.
Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa :
1. Penebalan mukosa,
2. Opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi)
3. Gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada
foto waters.
Diagnosis Banding
- FUO, Rhinitis alergi, benda asing
Tata Laksana
104

1. Farmakoterapi
- Pemberian antibiotik spektrum luas selama 10 14 hari: Amoxicillin
- Obat dekongestan (obat tetes hidung) untuk memperlancar drenase secret
dari s i n u s d a n h i d u n g . D e k o n g e s t a n o r a l : pseudoefedrin 3x50mg
- Obat anti alergi atau antihistamin. Contoh : Loratadine
2. Pungsi dan irigasi, untuk mengeluarkan secret dengan cara memakai trokar
yangditusukkan di meatus inferior dengan diarahkan ke tepi atas daun telinga.
Setelahdi pungsi, dilanjutkan dengan irigasi menggunakan larutan garam fisiologik.
Dilakukan setiap 2 kali seminggu.
3. Antrostomi intranasal, yaitu tindakan membuat lubang pada maetus inferior yang
me ng hu bu ng k an ro ng ga h id un g d an s in us ma k s i l a u nt uk dr en as e
s e cr e t d an ventilasi sinus maksila.
4. Pembedahan Radikal: Bila pengobatan konservatif gagal, dilakukan terapi radikal,
yaitu mengangkat mukosa yang patologik dan membuat drainase dari sinus yang
terkena. Untuk sinus maksila dilakukan operasi Caldwell-Luc, sedangkan untuk sinus
ethmoid dilakukan ethmoidektomi yang bisa dilakukan dari dalam hidung (intranasal)
atau dari luar (ekstranasal).
Prognosis
Prognosis untuk sinusitis kronik yaitu jika dilakukan pengobatan yang dini maka akan
mendapatkan hasil yang baik.
Resep
R/ pseudoefedrin 50 mg NO XXX
s.3.d.d I tab d.c
R/ Loratadine 50 mg NO XXX
s.1.d.d 1 tab d.c
R/ Amoxicillin 500 mg NO XXX
s.o.8.h 1 tab

105

Deviasi Septum Hidung


Penjelasan sakit:
Dalam keadaan normal, septum nasi berada lurus di tengah tetapi pada orang dewasa biasanya septum
nasi tidak lurus sempurna di garis tengah. Deviasi septum dapat menyebabkan obstruksi hidung jika
deviasi yang terjadi berat. Kecelakaan pada wajah merupakan faktor penyebab deviasi septum
terbesar pada orang dewasa.
Deviasi septum dibagi atas beberapa klasifikasi berdasarkan letak deviasi, yaitu:
1. Tipe I; benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara.
2. Tipe II; benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara, namun masih belum
menunjukkan gejala klinis yang bermakna.
3. Tipe III; deviasi pada konka media (area osteomeatal dan turbinasi tengah).
4. Tipe IV, S septum (posterior ke sisi lain, dan anterior ke sisi lainnya).
5. Tipe V; tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi lain masih normal.
6. Tipe VI; tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral, sehingga menunjukkan rongga
yang asimetri.
7. Tipe VII; kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI.

Tanda dan Gejala:


Gejala yang sering timbul biasanya adalah sumbatan hidung yang unilateral atau juga bilateral,
sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. Keluhan lain ialah rasa nyeri di kepala dan sekitar mata
serta penciuman juga bisa terganggu.

106

DD:
- Abses Septum
- Sinusitis Maksilla
Pengobatan dan Resep Obat :
R/ Paracetamol tab 500mg no.XV
S.3.d.d tab I. p.c
Lalu segera rujuk ke spesialis THT untuk dilakukan operasi.
Prognosis:
Baik jika ditangani sesegera mungkin.

Furunkel Hidung
Penjelasan sakit :
Furunkel adalah peradangan pada folikel rambut dan jaringan subkutan
sekitarnya yang sering terjadi pada daerah bokong, aksila, dan badan. Furunkel
dapat terbentuk pada lebih dari satu tempat. Jika lebih dari satu tempat disebut
furunkulosis. Furunkulosis dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain
akibat iritasi, kebersihan yang kurang, dan daya tahan tubuh yang kurang.
Infeksi dimulai dengan adanya peradangan pada folikel rambut dikulit
(folikulitis), kemudian menyebar kejaringan sekitarnya.

Tanda dan gejala :


- Nyeri, terutama pada yang akut, besar, di hidung,
lubang telinga luar.
- Gejala konstitusional yang sedang (panas badan,
malaise, mual).
- Dapat satu atau banyak dan dapat kambuhkambuh.
- Tempat predileksi : muka, leher, lengan,
pergelangan tangan dan jari-jari tangan, pantat
dan daerah anogenital.
DD :
- Impetigo dari Bock-hart - Hedradenitis
- Herpes simplex - Myasis
- Akne stadium pustule
Pengobatan dan Resep obat :
R/ Paracetamol tab 500mg no.XV
107

S.3.d.d. tab I. p.c


R/ Ampicillin tab 500mg no.XXV
S.4.d.d. tab I.
Obat diberikan hanya untuk membunuh bakteri, jika diperlukan sebaiknya dilakukan insisi.
Prognosis
Baik jika di operasi secepatnya.

Rhinitis Alergica
1. Penjelasan penyakit
Penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang
sebelumnya sudah tersensitasi dengan allergen yang sama serta
dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan
allergen spesifik tersebut.
Jadi, penyakit ini adalah suatu inflamasi atau peradangan yang diawali dengan
tahap sensitasi dan reaksi alergi.
(sumber : THT UI)
2. Gambar penyakit

pembengkakan konka inferior


produksi mucus meningkat dan menurunnya patensi nasal

108

nasal endoskopi rhinitis alergi yang tidak ditangani dengan baik

nasal endoskopi pada pasien dengan rhinitis alergi. Keterangan :


IT = inferiot turbinate (konka nferior); T = tail of inferior turbinate (ekor dari
konka inferior); N = nasofaring; V = vomer; R = root pf nasofaring (akar
dari nasofaring)

Bandingkan dengan yang normal (non alergika) di bawah ini :

(sumber : http://www.drrahmatorlummc.com/rhinitisallergy.htm)

109

3. Tanda dan gejala


- Gejala : bersin-bersin terutama di pagi hari atau terpapar allergen,
rhinorrhea (encer yah cairannya), rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar allergen. Kadang-kadang disertai sakit kepala. Pada anakanak bisa disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dan gangguan
pencernaan. Nah, biasanya keluhan utama pasien adalah hidung
tersumbat.
Allergen itu bisa berupa tepungsari (pollen) dan spora jamur. Tapi di Indonesia
tidak dikenal allergen ini, soalnya allergen ini hanya ada di Negara dengan 4
musim. Kalo di Indonesia itu ada allergen dalam rumah maupun di luar rumah,
lalu ada allergen yang inhalan, contohnya adalah debu dan allergen ingestan
atau yang dimakan.
Selain itu, ada pula gejala/tanda khas pada rhinitis alergi (meskipun tidak
selalu ditemukan), yaitu:
a. Allergic shiner = warna kehitaman pada daerah infra orbita yang terjadi
karena adanya stasis dari vena yang mengakibatkan edema mukosa
hidung dan sinus
b. Allergic solute = sering mengusap hidung dengan punggung tangan ke
atas karena gatal
c. Allergic crease = timbulnya garis melintang di dorsum nasi bagian 1/3
bawah, karena kebiasaan mengusap hidung
- Berdasarkan waktu, dibagi menjadi 2, yaitu :
Intermitten (kadang-kadang) bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang
dari 4 minggu
Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu
4. DD
- Sinusitis akut
- Sinusitis kronik
(sumber : http://emedicine.medscape.com/article/134825-diferential)
5. Pengobatan dan penulisan resep
Pengobatan dengan menggunakan antihistamin H-1, ada banyak golongan.
Contoh nya adalah klorfeniramin maleat.
Penulisan :
R/ klorfeniramin maleat kapl 4 mg no.XV
s.3.dd.kapl I.pc
(sumber : THT UI dan ISO hal.65)
6. Prognosis
Umumnya baik.
(http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000813.htm)
Tambahan :
Pemeriksaan pada rhinitis alergica :
a. Anamnesis
Adanya gejala-gejala seperti yang sudah disebutkan di atas tadi dan biasanya
terdapat riwayat alergi dalam keluarga.
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan rinoskopi anterior : mukosa hidung yang bervariasi dari tampak
normal sampai edema, basah, berwarna pucat atau keabuan disertai
rhinorrhea encer dengan jumlah bervariasi.

110

Pemeriksaan ini juga meliputi allergic shiner, allergic solute, dan allergic
crease yaaa (sudah dijelaskan di atas)
c. Pemeriksaan penunjang
- Yang paling sering dilakukan adalah skin prick test.
- Pada hitung eosinophil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat.
- Pemeriksaan IgE total dapat normal, kecuali bila tanda alergi pasien lebih
dari satu macam penyakit.
(sumber : THT UI)

Trauma Auricular
Adanya trauma pada telinga
A. Hematoma
Biasanya pada orang-orang yang suka boxing atau wrestling (sumber : buku
Fundamental of Sports Injury Management)
1. Penjelasan penyakit
Terdapat kumpulan darah di antara perikondrium & tulang rawan
(sumber : THT UI)
2. Gambar penyakit

- Warna merah pada telinga menunjukkan adanya kumpulan darah


(sumber : kuliah dr.Gatot)
3. Tanda dan gejala
Adanya rasa sakit, ketidaknyamanan, pembengkakan, pembentukan jaringan
parut tampak seperti kembang kol (cauliflower) bila sudah terjadi infeksi
dan perikondritis
(sumber : http://www.rockwood.k12.mo.us)
4. DD
- Seromas = kumpulan jaringan serous yang memiliki kecenderungan untuk
kambuh (tapi masih jinak)
- Pseudokista
(sumber: http://www.shahfacialplastics.com/articles/bilateral-auricularseromas-case-report-and-review-literature.html)
5. Pengobatan dan penulisan resep
Tatalaksana : dikeluarkan secara steril guna mencegah terjadinya infeksi yang
nantinya dapat menyebabkan terjadinya perikondritis.
*nahh, kalo dari sumber kan berkata demikian, dan kompetensi dokter umum
untuk trauma auricular ini adalah 3B (mampu memberikan penanganan awal

111

pada keadaan gawat) maka kita bisa merujuk pasien untuk dibawa ke spesialis
THT
Untuk mencegah terjadinya infeksi, dapat diberikan antibiotika.
R/ amoksisilin tab 250 mg no.XV
s.3.dd.tab I.pc
(sumber : ISO hal. 94-95. Penggunaan amoksisilin dengan indikasi untuk kulit
dan jaringan lunak)
Untuk mengurangi rasa nyeri, dapat digunakan analgesic
R/ kalium diklofenak tab 25 mg no.XV
s.3.dd.tab I.pc
(sumber : ISO hal. 2. Penggunaan dengan indikasi pengobatan jangka pendek
kondisi akut pada nyeri, inflamasi, pembengkakan, rematik non artikuer)
6. Prognosis
Apabila dapat ditangani dengan baik maka prognosis akan baik. Bila terjadi
infeksi dapat menyebabkan perikondritis
Perikondritis
1. Penjelasan penyakit
Radang pada tulang rawan yang menjadi kerangka daun telinga
(sumber : kuliah dr. Gatot)
2. Gambar penyakit

- Bila pengobatan dengan antibiotika gagal dapat timbul komplikasi berupa


mengerutnya daun
telinga akibat hancurnya tulang rawan yang menjadi kerangka daun telinga
(cauliflower)
(sumber : kuliah dr. Gatot)
3. Tanda dan gejala
Telinga tampak merah (gejala paling umum) dan sakit. Awalnya infeksi akan
terlihat seperti infeksi kulit (cellulitis), tapi dengan cepat memburuk dan
melibatkan perikondrium. Kemerahan biasanya mengelilingi area cedera,
seperti memorong atau mengikis. Ada juga mungkin demam dan dalam kasus
yang lebih parah adalah adanya cairan yang mengalir dari wajah. Terdapat
pembengkakan di sekitar konka. Limfonodi nyeri dan membesar.
(sumber : Basic Othorhinolaryngology)
4. DD
- Inflamasi seperti eczema dan dermatitis
- Infeksi seperti cellulitis dan herpes zoster
112

- (sumber : Basic Othorhinolaryngology)


5. Pengobatan dan penulisan resep
Antibiotic yang berguna untuk melawan bakteri stafilokokus
R/ amoksisilin tab 250 mg no.XV
s.3.dd.tab I.pc
NSAID
R/ kalium diklofenak tab 25 mg no.XV
s.3.dd.tab I.pc
(sumber : Basic Othorhinolaryngology)
6. Prognosis
Bila segeri ditangani prognosis baik. Penanganan bisa diberikan antibiotic
untuk mencegah infeksi. Pada kasus yang lebih berat diperlukan pembedahan
agar bentuk telinga kembali menjadi normal.
(sumber
:
http://www.nytimes.com/health/guides/disease/perichondritis/overview.html)
Barotrauma/Aerotitis
1. Penjelasan penyakit
Keadaan dengan terjadinya perubahan tekanan yang tiba-tiba di luar
telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau menyelam, yang
menyebabkan tuba gagal untuk membuka.
(sumber : THT UI)
2. Gambar penyakit

113

- Waktu nyari gambarannya, ini yang muncul temen-temen. Tapi namanya


otitic barotrauma
3. Tanda dan gejala
Kurang dengar, rasa nyeri dalam telinga, autofoni, perasaan ada air dalam
telinga dan kadang-kadang tinnitus dan vertigo
(sumber : THT UI)
4. DD
- Otitis eksterna
- Otitis media
(sumber : http://emedicine.medscape.com/article/768618-diferential)
5. Pengobatan dan penulisan resep
Pengobatan dengan cara konservatif, dengan memberikan dekongestan
local atau dengan melakukan perasat valsavaselama tidak terdapat infeksi
di jalan napas atas. Bila cairan atau cairan yang bercampur darah menetap
di telinga sampai beberapa minggu, maka dianjurkan untuk tindakan
miringotomi dan bila perlu memasang pipa ventilasi (grommet)
(sumber : THT UI)
6. Prognosis
Pada umumnya baik
Epitaksis
Epistaksis atau perdarahan dari hidung, adalah keluhan umum. Hal ini jarang mengancam
kehidupan tetapi dapat menyebabkan keprihatinan yang signifikan, terutama di kalangan
orang tua dari anak-anak kecil. [1] Kebanyakan perdarahan hidung adalah jinak, sembuh
dengan sendirinya, dan spontan, tetapi beberapa dapat berulang. Banyak penyebab jarang
juga dicatat.
Epistaksis dapat dibagi menjadi 2 kategori, pendarahan anterior dan posterior , berdasarkan
tempat di mana perdarahan berasal

anterior : dari pleksus kisselbach di septum anterior atau dari ateri edmoidalis
anterior biasanya epitaksis anterior itu ringan paling karena trauma aja
Posterior : berasal dari edmoidalis posterior atau ateri splenopalatina lebih hebat
dan jarang berhenti sendiri sering pada pasien hipertensi, dan pasien dengan
gangguan kardiovaskuler

Etiologi :
Penyebab epistaksis dapat dibagi menjadi penyebab lokal (misalnya, trauma, iritasi mukosa,
kelainan septum, penyakit inflamasi, tumor), penyebab sistemik (misalnya, diskrasia darah,
arteriosklerosis, hemoragik herediter telangiectasia), dan penyebab idiopatik. Trauma lokal
adalah penyebab paling umum, diikuti oleh trauma wajah, benda asing, hidung atau infeksi
sinus, dan inhalasi berkepanjangan udara kering. Anak-anak biasanya hadir dengan
epistaksis karena iritasi lokal atau infeksi saluran pernapasan atas terbaru (URI).

Trauma
cuaca kering dan kelembaban rendah
obat obat hidung topikal yang mengandung antihistamin dan kortikostreoidiritasi
mukosaepitaksis ...NSAID juga bisa
114

devisiasi septum kebanyakan perdarahannya di anterior


Inflamasi :Bakteri, virus, dan alergi rinosinusitis menyebabkan peradangan mukosa
dan dapat menyebabkan epistaksis. Perdarahan pada kasus ini biasanya kecil dan
sering bermanifestasi sebagai nasal discharge darah-streaked.Penyakit
granulomatosis seperti sarkoidosis, granulomatosis Wegener, TBC, sifilis, dan
rhinoscleroma sering menyebabkan pengerasan kulit dan mukosa rapuh dan dapat
menjadi penyebab epistaksis berulang.
tumor :Tumor jinak dan ganas dapat bermanifestasi sebagai epistaksis. Pasien yang
terkena mungkin hadir dengan tanda-tanda dan gejala sumbatan hidung dan
rhinosinusitis, sering unilateral. Intranasal rhabdomyosarcoma, meskipun jarang,
sering dimulai pada hidung, orbital, atau daerah sinus pada anak-anak. Angiofibroma
Juvenile hidung pada laki-laki remaja dapat menyebabkan pendarahan hidung berat
sebagai gejala awal.
kelainan vaskuler dan hipertensi

pemeriksaan
Ajukan pertanyaan spesifik tentang tingkat keparahan , frekuensi , durasi, dan laterality dari
mimisan tersebut .
Menanyakan tentang mempercepat dan memperparah faktor dan metode yang digunakan
untuk menghentikan pendarahan .
Sebuah nasal discharge unilateral menunjukkan adanya benda asing . kalo hidup bakal
bau busuk
Selain memperoleh riwayat kepala dan leher dengan penekanan pada gejala hidung ,
memperoleh riwayat medis umum mengenai kondisi yang relevan medis , obat-obatan saat
ini , dan merokok dan kebiasaan minum juga penting
hisap darah dari hidung agar mudah dilihat letak sumber perdarahannya

menggunakan spekulum hidung jika letaknya anterior biasanya berasal dari


septum atau fleksus kiselbach
Jika sumber anterior tidak dapat divisualisasikan , jika perdarahan adalah dari kedua
lubang hidung , atau jika menetes konstan darah dan terlihat darah dalam faring
posterior , pendarahan mungkin dari posterior .
periksa tanda vital terutama tekanan darah
takikardi yang persisten menunjukan kehilangan darah yang serius yang
membutuhkan tranfusi

Jika memang dibutuhkan langsung pasang tampon hidung.....biar gak ngocor terus..kalo
yang anterior coba tekan aja hidungnya dari luar 10-15 menit.. biasanya berhasil..kalo udah
parah ya kasih tampon aja..oya kalo posterior beri tampon posterior...cara pasanganya ada
di slide kuliah...
Tatalaksananya diberi tampon (tampon sementara kapas + adrenalin 1/50001/10000+pantocain/lidocain 2%)
Prognosis

115

Baik dengan penangganan yang tepat dan kontrol terhadap penyebab yang mendasari.
Edukasi
Tindakan pencegahan berikut harus disampaikan kepada pasien:

Gunakan nasal semprot saline.


Hindari keras bertiup hidung atau bersin.
Bersin dengan mulut terbuka.
Hindari makanan panas dan pedas.
Hindari mandi air panas.
Hindari aspirin dan NSAID lainnya.

Berikut petunjuk sederhana untuk pengobatan mandiri untuk epistaksis kecil :

Terapkan tekanan jari yang kuat selama 5-10 menit.


Gunakan kompres es.
Praktek dalam, bernapas santai.
Gunakan vasokonstriktor topikal.

Differential Diagnoses

Allergic Rhinitis
Barotrauma in Emergency Medicine
Cocaine Toxicity in Emergency Medicine
Coumarin Plant Poisoning
Disseminated Intravascular Coagulation in Emergency Medicine
Endometriosis in Emergency Medicine
Nonsteroidal Anti-inflammatory Agent Toxicity
Nose Foreign Bodies
Pediatric Osler-Weber-Rendu Syndrome
Rodenticide Toxicity
Salicylate Toxicity in Emergency Medicine
Sinusitis Imaging
Type A Hemophilia
Type B Hemophilia
von Willebrand Disease
Warfarin and Superwarfarin Toxicity

116

Tatalaksana

setelah perdarahan diatasi dengan tampon, sekarang cari penyebabnya


pemeriksaan lab darah lengkap
fungsi hepar dan ginjal
gula darah
hemostasis
foto polos/ct scan dicurigai sinusitis
konsulkan ke sp.pd atau ke sp.A jika pasien anak.

NBF (Nasal Foreign Bodies)


Benda asing dapat diklasifikasikan sebagai organik atau anorganik. Bahan
anorganik biasanya plastik atau logam. Contoh umum termasuk manik-manik
dan bagian-bagian kecil dari mainan. Bahan-bahan ini sering asimtomatik dan
dapat ditemukan secara kebetulan. Benda asing organik, termasuk makanan,
karet, kayu, dan spons, cenderung lebih mengiritasi mukosa hidung dan dengan
demikian dapat menghasilkan gejala awal. Kacang polong, buncis, dan kacangkacangan adalah salah satu NFBs organik yang lebih umum.
letaknya biasanya di konka anterior atau dibawah konka inferior, dan biasanya
unilateral

komplikasi
117

Pendarahan adalah komplikasi yang paling umum dilaporkan pada pasien


dengan benda asing nasal, meskipun bersifat minimal dan menyelesaikan
dengan tekanan sederhana.
Benda asing itu sendiri dapat menyebabkan iritasi pada pasien, namun
morbiditas terutama disebabkan oleh peradangan yang dihasilkan, kerusakan
mukosa, dan perluasan ke dalam struktur yang berdekatan. Komplikasi
Dilaporkan meliputi:

radang dlm selaput lendir


Otitis media akut
Nasal septum perforasi
selulitis periorbital
radang selaput
epiglotitis akut
difteri
tetanus

Peradangan lokal dari NFBs dapat mengakibatkan tekanan nekrosis. Hal ini,
pada gilirannya, dapat menyebabkan ulserasi mukosa dan erosi ke dalam
pembuluh darah, menghasilkan epistaksis. Pembengkakan dapat
menyebabkan obstruksi drainase sinus dan menyebabkan sinusitis sekunder.
Benda asing organik cenderung membengkak dan biasanya lebih gejala
daripada benda asing anorganik.
Keterlambatan dalam diagnosis komplikasi NFBs, seperti sinusitis dan otitis
media akut, dapat menyebabkan morbiditas berkepanjangan. Hal ini dapat
dihindari dengan melakukan pemeriksaan menyeluruh dan dengan mengkaji
ulang rongga hidung setelah penghapusan NFB. (Lihat gambar di bawah.)
Foreign body is shown in the left nasal cavity with
surrounding inflammation.

View of the nasal cavity after removal of the foreign


body. Note the rust from screw

118

Foreign body was removed in its entirety

No additional foreign body noted on completion of


nasal endoscopy. There can always be additional
foreign bodies, so it is imperative to take a "second
look" after initial removal. Image courtesy of Brian
Reilly, MD.

Tombol baterai, magnet, dan hidup benda asing dapat sangat merusak. Misalnya,
baterai tombol kecil mungkin, dalam beberapa jam sampai hari, menyebabkan
luka bakar kimia, ulserasi, dan liquifaksi nekrosis, perforasi mengarah ke septum.
nah kalo dapat bahan logam terutama baterai harus diperiksa secara
keseluruhan ya ke saluran-slauran setelahnya tauktnya bahan kimia spt akali
sudah bocor ok..
Button battery in the right floor of nose causing electrical burn with necrosis
of the inferior turbinate and septum. Image courtesy of Brian Reilly, MD

.Close-up of necrosis. Image courtesy of Brian Reilly, MD.

119

keadaan klinis yang paling umum adalah nasal


discharge unilateral. Namun demikian, dokter harus mengali diagnosis NFB pada
semua pasien dengan iritasi hidung, epistaksis, bersin, mendengkur, sinusitis,
stridor, mengi, atau demam. Beberapa ada yang melaporkan menemukan NFBs
sebagai etiologi presentasi pasien lebih tidak biasa, seperti mudah marah,
halitosis (bau napas yang tidak menyenangkan), atau bromhidrosis umum (bau
tak sedap tubuh).
Pemeriksaan fisik
pemeriksaan fisik sama dengan pemeriksaan hidung dengan menggunakan
lampu dan spekulum hidung. biasanya akan nampak kerusakan lokal ataupun
benda pada lokasi yang sudah dijelaskan diatas.
Selain pemeriksaan yang memadai dari rongga hidung , menilai komplikasi dari
benda asing hidung penting . Memvisualisasikan membran timpani untuk tandatanda otitis media akut , menilai untuk sinusitis , dan auskultasi dada dan leher
untuk mengi atau stridor , yang mungkin merupakan petunjuk dari aspirasi
benda asing .
DD

radang dlm selaput lendir


polip
tumor
Infeksi saluran pernapasan atas (URI)
Atresia choanal unilateral

nah untuk tatalaksana nya kita belum dikasih tau triknya..nih aku kasih
situs,didalamnya ada videonya
http://emedicine.medscape.com/article/763767-overview#showall

Rhinitis Vasomotor
Penjelasan : keadaan idiopatik yg didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi,
eosinofilia, perubahan hormonal (kehamilan dan hipertiroid), pajanan obat

120

(kontrasepsi oral, antihipertensi, B-blocker, aspirin, klorpromazine dan obat


topical hidung dekongestan)
Nama lain : vasomotor catarrh, vasomotor rinorhea, nasal vasomotor instability,
non-alergic perennial rhinitis.
Gejala :
Dpt dicetuskan oleh berbagai rangsangan non-spesifik seperti asap/rokok,
bau yang menyengat, parfum, minuman beralkohol, makanan pedas, udara
dingin, pendingin ruangan, perubahan kelembaban dan suhu.
Mirip dg gejala alergi, namun gejala yg dominan adalah hidung
tersumbat, bergantian kiri dan kanan, bergantung posisi pasien, juga
terdapat rinore mukoid atau serosa. Keluhan jarang disertai dg gejala
mata. Gejala dapat memburuk di pagi hari waktu bangun tidur krn perubahan
suhu yg ekstrem, udara lembab.
3 golongan gejala yg menonjol dan pemberian obat nya : golongan bersin
(sneezer) memberi respon yg baik pd Tx antihistamin dan glukokortikosteroid
topical, golongan rinore(runners) antikolinergik kortikal, golongan tersumbat
(blocker) glukokortikosteroid topical dan vasokonstriktor oral
Dx :
Pada rhinoskopi anterior gambaran khas edema mukosa hidung, konka
berwarna merah gelap/tua tapi dpt pula pucat, permukaan konka dpt
licin/benjol2 (hipertrofi), terdapat rinorea di rongga hidung (klo mukoid
jumlahnya sedikit, klo serosa biasanya banyak)
Dilakukan tes lab utk menyingkirkan kemungkinan rhinitis alergi, ditemukan
eosinophil pd secret hidung dlm jumlah sedikit, tes alergi kulit (-), kadar IgE
spesifik tidak meningkat.
DD : rhinitis alergi, rhinitis medikamentosa
Pengobatan :
Farmako pengobatan simptomatis : dekongestan oral, cuci hidung dengan
garam fisiologis, kortikosteroid topical 100-200 mg/ml (hasil nampak setelah
pemakaian min.2 minggu)
Pada rinorea yg berat dapat ditambahkan antikolinergik topical (ipratropium
bromida)
Non-farmako menghindari stimulus/faktor pencetus, operasi
Resep :
1. dekongestan oral
R/ Pseudoefedrin tab 30 mg No. X
121

S.3.d.d.tab I.p.c
2. kortikosteroid topical : antiradang
R/ Collun Mometason Furoat lag.I 60 ml 50 mcg
S.1.d.d.gtt II (agak gay akin nih, bentuknya obat semprot hidung, cara pakenya
hrsnya bkn gtt = tetesmaaf ya )
Prognosis :
Pengobatan pada obstruksi lebih baik daripada golongan rinore, krn gol.rinorea
sangat mirip dengan alergi shg harus hati2 saat anamnesis dan px utk dx
pastinya
Gambar :

Rhinitis Medikamentosa
Penjelasan : suatu kelainan hidung berupa gangguan respons normal
vasomotor yg diakibatkan oleh pemakaian vasokonstriktor topical (tetes
hidung/semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga
menyebabkan sumbatan hidung yg menetap. (dpt dikatakan drug abuse)
Tanda dan gejala :

Hidung tersumbat terus menerus dan berair


Pada pemeriksaan : edema/hipertrofi konka dengan secret hidung
berlebihan, jika diberi tampon adrenalin edema konka tdk berkurang

DD : rhinitis alergi, rhinitis vasomotor


Pengobatan :
Farmako hentikan pemakaian obat tetes ato semprot vasokonstriktor hidung,

122

Utk atasi sumbatan berulang : kortikosteroid oral dosis tinggi dan


jangka pendek, dosis diturunkan 5 mg perhari (entah berapa hari tdk
dijelaskan), atau bisa juga kortikosteroid topical 2 minggu
Obat dekongestan oral (mengandung pseudoefedrin)
Resep :
R/ Pseudoefedrin tab 30 mg No. X
S.3.d.d.tab I.p.c
Alasanku cuma kasi 1 obat : krn apa egk sebaiknya minimalkan penggunaan
obat? apalagi ni rhinitis medikamentosa..trs, ga aku kasi kortikosteroid soalnya
katanya nih kortikosteroid justru menyebabkan virus berkembang makanya
hati2 anamnesis klo etio-nya virus malah bisa jd bertambah parah.. nah diliat aja
klo 3 minggu tdk membaik sama sekali rujuk ke THT dah- V(^^)V
Prognosis :
Apabila dg cara2 tsb tdk ada perbaikan setelah 3 minggu rujuk THT
Gambar :

3. Presbiakusis (tuli saraf pada geriatri)


Penjelasan : tuli sensorineural frekuensi tinggi, umumnya terjadi pd usia >65
th, simetris pada telinga kanan dan kiri, mulai dari frekuensi 100 Hz atau lebih
Gejala : KU berkurangnya pendengaran secara perlahan-lahan dan progresif,
simetris, kapan mulainya tdk diketahui secara pasti
KP telinga berdenging (tinnitus nada tinggi), pasien dapat mendengar suara
percakapan tapi sulit utk memahaminya, terutama klo diucapkan dg cepat dan
dengan latar belakang yg bising (cocktail party deafness)
Bila intensitas suara ditinggikan timbul rasa nyeri di telinga, karena faktor
kelelahan saraf
Dx : px otoskopik tampak membrane timpani suram, mobilitasnya berkurang
Tes pelana tuli sensorineural
123

Px audiometri nada murni tuli saraf nada tinggi, bilateral dan simetris
DD : serumen prop (penumpukan seruman/tuli konduktif), tuli campur
Tata laksana : pemasangan alat bantu (hearing aid)
Latihan membaca ujaran (speech reading), latihan mendengar (auditory training)
dengan speech therapist.
Resep : - (non-farmako)
Prognosis : Sumber : buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher FK UI,
ISO

Otomikosis
Otomikosis adalah infeksi jamur pada liang telinga luar
Gejala:

otore (keluar cairan dari telinga)

otalgia (sakit pada telinga)

perasaan penuh pada telinga.

Kadang-kadang juga ditemukan adanya cairan.

penurunan pendengaran dan mendengar bunyi mendenging (tinitus).

Diagnosis

Sesuai gejala

Otoskopi: menunjukkan adanya kumpulan kotoran (debris), tampak


meradang (eritema) dan pembengkakan liang telinga. Jika penyebabnya
adalah Aspergillus niger sering ditemukan adanya spora berwarna
kehitaman.

Penyakit ini terutama terjadi di daerah tropis dan berudara panas. Sering juga
disebut sebagai Singapore ear, Hongkong ear, tropical ear, hot weather
ear atau otitis eksterna jamur akut.
Penyebab:
terutama disebabkan oleh jamur spesies Aspergillus dan juga disebabkan spesies
Candida. Aspergillus niger merupakan spesies jamur yang paling sering
menimbulkan infeksi. Infeksi campuran antara bakteri dan jamur juga sering
terjadi.
124

DIAGNOSA BANDING:

otitis eksterna yang disebabkan oleh bakteri


dermatitis pada liang telinga

Pengobatan:

Dengan mengeluarkan kotoran liang telinga.

Antimikotik topikal akan lebih efektif dalam bentuk bubuk atau dalam
bentuk salep seperti nystatin dan triamcinolone.Antimikotik topikal dapat
digunakan selama 4-6 minggu.

Antimikotik oral seperti flukonazol dapat digunakan pada kasus-kasus


yang sulit disembuhkan.

Pengobatan telinga dengan berjamur umumnya agak lama, umumnya


selama 2 minggu dan jika tidak dilakukan pencegahan hal ini dapat timbul
berulang.

Otomikosis akibat penggunaan antibiotik yang berlebihan sebagai obat tetes


adalah sulit untuk diobati. Antibiotik dan steroid tidak dapat membantu
menyembuhkan otomikosis tetapi akan meningkatkan pertumbuhan jamur
khususnya Candida.

Edukasi

Jika ingin membersihkan telinga jangan terlalu dalam dan terlalu keras,
yang dapat mengakibatkan lecet pada kulit, sehingga menjadi lembab dan
berair, jika berlangsung lama maka timbullah jamur.

Jangan membersihkan telinga terlalu sering dan dalam dengan cotton bud
apalagi dengan alat-alat pengait yang terbuat dari logam/besi
125

126