Anda di halaman 1dari 2

Ide ini berawal dalam diskusi sederhana di kelas ketika ada seorang kawan mahasiswa

melontarkan ide sinting tentang hubungan investasi yang linear antara investasi dan
korupsi, dimana korupsi disangka memicu pergerakan investasi. dalam wilayah yang lebih
gres, sebelumnya, Amien Rais dan Econit (meskipun secara personal saya tidak begitu
menyukai keduanya) juga telah memuat pernyataan serupa namun sayang mereka hanya
mengungkapkan hubungan tersebut secara implisit dan dalam batas-batas tertentu. Artinya
hanya sebatas dugaan saja dan kekuatan argumentasinya hanya pada loncatan logika sesaat
saja tidak mendalam pada sisi-sisi faktual.
memang sebelumnya terdapat perdebatan yang cukup tajam antara mereka yang percaya
bahwa korupsi memicu investasi dan mereka yang percaya bahwa korupsi dan investasi
adalah dua institusi yang bertolak belakang, perdebatan ini menguat pada tahun 60-an, hanya
saja suara pertama tadi hilang ditelan jaman (saya rasa ini ada kaitannya dengan new world
order, tapi belum tahu seperti apa kaitannya yang jelas contohnya adalah developmentalism
ala marshal plan utowo tendensi kaum monetaris) setelah beberapa penelitian membuktikan
bahwasanya pandangan pertama adalah salah.
disinilah kita bisa mengerti mengapa rasionalitas itu buntu, karena pemahaman akan korupsi
dan investasi (yang dibuktikan dengan serangkaian penelitian empiris pada sejumlah sampel)
diangkat secara universal dan diterapkan secara umum. padahal dimensi korupsi di setiap
negara sangat berbeda jauh. sampel2 di timur tengah memang membenarkan bahwa korupsi
menyebabkan investasi anjlok. namun, hal itu tidak berlaku di Asia dimana feodalisme masih
kuat dan kentara. kita mengenalnya melalui Asia Paradoks.
di Indonesia, korupsi merupakan langkah taktis untuk mempercepat penyerapan dana FDI. kita
bisa melihat bagaimana PNS yang bergerilya untuk mencari tambahan penghasilan melalui
sogokan dan suap. selain itu bila kita lihat dari sisi yang berbeda, investor pun cenderung
melihat bahwa sogok dan suap merupakan langkah taktis untuk memanfaatkan profit maksimal.
coba direnungkan, ketika pasar membutuhkan sejumlah sumber daya dalam waktu dekat
namun investor tidak siap karena terjerat berbagai peraturan yang tumpang tindih, keuntungan
akibat pergolakan harga menghilang.
dampaknya, investasi meningkat secara signifikan (seperti yang akhir2 ini terjadi) namun
imbasnya tidak menyentuh pada wilayah yang sangat signifikan karena perputaran uang tidak
menyentuh pada titik yang paling krusial (dalam hal ini adalah masyarakat).
namun pada akhirnya pemikiran model ini akan berhadapan dengan dua kepentingan utama:
kapitalisme pribumi vis a vis kapitalisme asing. kita ingat, kita renungkan dan kita camkan,
bahwa kartel dan klient telah mendarah daging dalam bangsa ini. dan bahwa kepentingan
asing berupaya membongkar praktek tersebut agar modal asing lebih deras masuk ke koridor2
investasi.
mungkin sekian dulu pandangan ane tor...
jangan lupa tor di update, nanti kita bandingkan tulisan. sekalian riset sekalian pemetaan akan
dimasukkkan kemana artikel ini.
ndasku ngelu...
dah bacanya lom?
jangan tersepona gethu dung

ndasku ngelu
titik tendangnya artikel corruption and fast change di folder corruption