Anda di halaman 1dari 53

SISTEM MANUFAKTUR (SM)

Perencanaan SDM, Kebutuhan Material dan Manajemen


Pergudangan

Forum Kuliah TPL


http://

SISTEM MANUFAKTUR (SM)


Outline:
Perencanaan Kebutuhan SDM
Perencanaan Kebutuhan Material
Manajemen Pergudangan

Link materi kuliah


http://

SISTEM MANUFAKTUR (SM)


Tujuan Pembelajaran:

Memahami tujuan, fungsi dan tahapan


perencanaan SDM dan Kebutuhan Material serta
manajemen pergudangan

Forum Kuliah TPL


http://

Perencanaan SDM
Proses
perencanaan
SDM
beberapa faktor, antara lain:
Lingkungan eksternal
Perkembangan ekonomi
Kondisi sosial politik
Perkembangan teknologi
Persaingan bisnis

Kebijakan-kebijakan

perusahaan
Rencana strategik perusahaan
Faktor persediaan SDM

dipengaruhi

oleh

Perencanaan SDM
Manfaat perencanaan SDM, antara lain:
Optimalisasi SDM dalam rangka peningkatan
efektifitas kerja
Perkiraan kebutuhan SDM dimasa mendatang
Memberikan situasi pasar kerja yang tepat
Sebagai dasar penyusunan program-program
pengembangan SDM (pengembangan skill, promosi
jabatan, dlsb.)

Perencanaan SDM
Perencanaan SDM meliputi:
Inventarisir jumlah kebutuhan SDM
Inventarisir masa kerja karyawan
Inventarisir pengetahuan dan
keterampilan/keahlian karyawan
Inventarisir kebutuhan skill perusahaan (rekrut
karyawan baru atau pengembangan skill karyawan)

Perencanaan SDM
Penentuan jumlah kebutuhan SDM
Penghitungan jumlah kebutuhan tenaga SDM dapat dilakukan
dengan metode Workload Indicator of Staffing Need (WISN).
Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1. Menetapkan waktu kerja yang tersedia (WKT)
WKT = {A - (B+C+D+E)} X F
dimana,
A = Hari kerja yang mungkin dalam setahun

B = Cuti tahunan

C = Waktu pendidikan dan pelatihan D = Hari Libur Nasional


E = Ketidakhadiran kerja karena sakit, izin dan lain sebagainya
F = Waktu kerja dalam satu hari

Perencanaan SDM
Langkah-langkah yang dilakukan adalah (lanjutan):
2. Menetapkan unit kerja dan kategori SDM
3. Menyusun standar beban kerja (SBK)
SBK = WKT / (KJK WKP)
KJK = Ketentuan jam kerja, WKP = Waktu kegiatan pokok

4. Menyusun standar kelonggaran (SK)


5. Perhitungan kebutuhan SDM
Kebutuhan SDM = (KKP/SBK) + SK
KKP = kuantitas kegiatan pokok

Perencanaan Kebutuhan
Material

Perencanaan Kebutuhan
Material
Perencanaan

kebutuhan bahan (Material Resources


Planning, MRP) adalah suatu konsep dalam
manajemen produksi yang membahas cara yang
tepat dalam merencanakan kebutuhan bahan
dalam proses produksi.
Fungsi MRP:
Pengendalian persediaan material (bahan baku).
Sistem perencanaan dan pengendalian produksi

Perencanaan Kebutuhan
Material
Tujuan MRP:
Meminimalkan persediaan
MRP menentukan seberapa banyak dan kapan suatu
komponen diperlukan disesuaikan dengan jadwal induk
produksi
Mengurangi resiko karena keterlambatan produksi dan
pengiriman
MRP mengidentifikasikan banyaknya bahan dan
komponen yang diperlukan baik dari segi jumlahnya dan
waktunya dengan memperhatikan waktu tenggang produksi
maupun pengadaan komponen

Perencanaan Kebutuhan
Material
Tujuan MRP (lanjutan):
Komitmen yang realistis
Dengan MRP, jadwal produksi diharapkan dapat terpenuhi
sesuai dengan rencana, sehingga komitmen pengiriman barang
dilakukan secara lebih realistis.
Meningkatkan efisiensi MRP juga mendorong peningkatan
efisiensi karena jumlah persediaan, waktu produksi dan waktu
pengiriman barang dapat direncanakan lebih baik sesuai dengan
jadwal induk produksi
Jadwal induk produksi (JMaster production schedule, MPS) adalah suatu jadwal yang
akan menunjukkan jumlah produk yang akan dibuat dalam tiap-tiap periode dengan tujuan untuk
mengetahui kapasitas perusahaan dalam merencanakan produksi serta untuk menyusun budget

Perencanaan Kebutuhan
Material
Manfaat MRP:
Peningkatan pelayanan dan kepuasan pelanggan
Peningkatan pemanfaatan fasilitas dan tenaga kerja
Perencanaan dan penjadwalan persediaan yang lebih
baik
Tanggapan yang lebih cepat terhadap perubahan dan
kebutuhan pasar
Tingkat persediaan menurun tanpa mengurangi
pelayanan kepada konsumen

Perencanaan Kebutuhan
Material
Persyaratan model sistem persediaan
Jadwal induk produksi (apa yang akan dibuat dan kapan)
Spesifikasi atau daftar kebutuhan bahan (bahan dan
komponen yang diperlukan untuk membuat produk)
Ketersediaan persediaan (apa yang ada di persediaan)
Pesanan pembelian yang belum dipenuhi (apa yang
berada dalam pemesanan juga disebut tagihan yang
dipekirakan)
Waktu tunggu (berapa waktu yang dibutuhkan untuk
mendapatkan berbagai komponen)

Perencanaan Kebutuhan
Material
Jadwal

produksi induk adalah sebuah pernyataan


tentang apa yang akan diproduksi dan bukan perkiraan
permintaan
Jadwal produksi induk dapat dinyatakan dalam salah
satu istilah sbb:
Membuat berdasarkan pesanan/make to order (contoh:

percetakan, bengkel, restoran mewah)2. Merakit berdasarkan


pesanan atau perkiraan/assembler to order atau forecast
(contoh: motor, mobil, restoran siap saji)
Membuat simpanan berdasarkan perkiraan/stock to forecast
(contoh: baja, roti, lampu, surat kabar)

Perencanaan Kebutuhan
Material
Proses perencanaan kebutuhan bahan baku

Perencanaan Kebutuhan
Material
Daftar kebutuhan material (Bill of material, BOM)
BOM

merupakan suatu daftar barang atau material


yang diperlukan bagi perakitan, pencampuran, atau
pembuatan produk akhir dan menunjukkan berapa
banyak setiap komponen dari bagian produk yang akan
diperlukan serta merinci semua nama komponen, nomor
identifikasi, dan sumber bahan.
Informasi yang harus dilengkapi untuk setiap komponen
meliputi jenis komponen, jumlah yang dibutuhkan, dan
tingkat penyusunannya

Perencanaan Kebutuhan
Material

Daftar kebutuhan material (Bill of material,


BOM)
Struktur produk ini dapat digambarkan sebagai
sebuah pohon dengan cabang-cabangnya sebagai
berikut:
Produk A merupakan produk akhir

Level 0
Level 1
Level 2
Level 3

(level 0) terbentuk dari 2 sub


rakitan B dan 3 sub rakitan C
(level 1). Sub rakitan B terdiri dari
2 bagian D, 2 bagian E. Sub
rakitan C terdiri dari 2 bagian E
dan 2 bagian F (level 2).
Sedangkan sub rakitan F terdiri
dari 1 bagian G dan 2 bagian D
(level 3). Angka dalam kurung
menunjukkan jumlah unit
komponen yang bersangkutan

Perencanaan Kebutuhan
Material
Model
sistem
material

perencanaan

kebutuhan

Pengendalian Produksi
Fungsi dari perencanaan dan pengendalian produksi:
Meramalkan permintaan produk dalam bentuk jumlah produk

sebagai fungsi waktu.


Memonitor permintaan yang aktual, membandingkannya
dengan ramalan permintaan sebelumnya dan melakukan revisi
atas ramalan tersebut jika terjadi penyimpangan. Menetapkan
ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku
yang akan dibeli.
Menetapkan persediaan yang ekonomis. Menetapkan akan
kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentu.
Memonitor tingkat persediaan, membandingkannya dengan
rencana persediaan, dan elakukan revisi rencana produksi pada
saat yang ditentukan. Membuat jadwal produksi, penugasan,
serta pembebanan mesin dan tenaga kerja yang terperinci

Pengendalian Produksi
Dasar sistem perencanaan dan pengendalian produksi
Kerangka dasar sistem perencanaan dan pengendalian
produksi yang terintegrasi, mempunyai empat sub-sistem
yang berhubungan dan terintegrasi:
Perencanaan bisnis, perencanaan pemasaran, perencanaan agregat,

dan perencanaan sumber daya.


Perencanaan jadwal induk produksi, rough-cut capacity planning,
perencanaan kebutuhan bahan, dan perencanaan kebutuhan
kapasitas.
Perencanaan kegiatan produksi atau dikenal dengan nama
perencanaan sistem pengendalian kegiatan produksi
Perencanaan sumber daya operasional yang merupakan perencanaan
eksekusi.

Pengendalian Produksi
Tahapan perencanaan dan pengendalian
produksi

Pengendalian Produksi
Model sistem pengendalian produksi

Perencanaan Assembly
Perencanaan Assembly
Assembly planning adalah pemberian tugas ke
stasiun
kerja.
Tujuannya
adalah
untuk
menyeimbangkan semua lini produksi sehingga
waktu per-statsiun kerja (work station) hampir sama
untuk semua semua stasiun kerja.
Pendekatan ini meminimasi total waktu idle dari
sistem dan menghasilkan tingkat efisiensi yang
tinggi.

Perencanaan Assembly
Perencanaan Assembly

Perencanaan Assembly
Representasi model perakitan

Pada penentuan urutan perakitan, dibutuhkan suatu model yang


dapat digunakan untuk merepresentasikan perakitan. Model
perakitan ini berisikan semua informasi yang dibutuhkan oleh
perencana untuk membentuk rencana urutan perakitan. Modelmodel tersebut antara lain:
Menggunakan graph yang dapat dibentuk berdasarkan analisis geometri dari

perakitan akhir.
Model representasi khusus yang digunakan dalam bahasa pemrograman
tingkat tinggi yang biasanya digunakan untuk mengatur gerakan robot
perakitan.
Pengelompokan komponen pada perakitan akhir berdasarkan jenis pengencang
yang digunakan.
Klasifikasi komponen menggunakan teknologi kelompok yang didasarkan pada
proses perakitan yang dilakukan.

Sistem Manufaktur
Representasi model perakitan

Pada penentuan urutan perakitan, dibutuhkan suatu model yang

dimana:
k, l, m : nomor/nama komponen
Vk : volume komponen ke k
ak : vektor normal face komponen ke k yang kontak
bk : koordinat titik kontak komponen ke k
nkl : jumlah mating (koneksi) yang terjadi antar komponen k dan komponen l

Perencanaan Assembly
Perencanaan Sistem Perakitan

Warehousing Management

Warehousing Management

Tempat peynimpanan barang sementara (gudang) merupakan


salah satu bagian dari suatu organisasi pabrik yang
mempunyai peran sangat vital dalam menjamin kelancaran
proses produksi dan distribusi barang kepada konsumen.
Salah satu hal yang penting dalam mencapai kepuasan
pelanggan dan pemasaran adalah tersedianya barang yang
diminta oleh konsumen dengan kualitas yang sesuai, harga
yang murah dan waktu pengiriman yang cepat serta biaya
yang semurah mungkin.
Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan kemampuan untuk
mengelola manajemen distribusi khususnya yang berkaitan
dengan gudang atau pergudangan.

Warehousing Management
Sistem Manajemen Gudang

Warehousing Management
Operasional Gudang
Operasional gudang merupakan: Kelanjutan dari pergerakan fisik barang setelah barang itu diterima dari pemanufaktur atau pemasok.
Barang akan diletakkan pada gudang sesuai dengan sarana yang dimiliki (rak dan pallet atau pallet saja, bahkan ekstrimnya barang bisa diletakkan begitu saja di lantai), tentunya hal ini sesuai kebutuhan serta tergantung seberapa besarnya modal yang dimiliki perusahaan.

Warehousing Management
Operasional Gudang

Warehousing Management
Operasional Gudang

Warehousing Management
Operasional Gudang

Warehousing Management
Operasional Gudang

Warehousing Management
Operasional Gudang
Setelah barang diletakkan pada posisi tertentu, maka akan ada saatnya barang tersebut akan dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau berdasarkan adanya permintaan terhadap barang yang disimpan
Proses peletakkan barang dari penerimaan serta proses pengeluaran barang saat ini telah banyak memakai teknologi komputer. Misalkan saja proses Pick to light, Scanner, Barcode, RFID, Handheld, Optical character recognition, serta masih banyak proses lainnya.

Warehousing Management
Operasional Gudang

Warehousing Management
Operasional Gudang
Barang yang telah diterima akan masuk sebagai stock gudang, dan menjadi tanggung jawab kepala gudang.
Selanjutnya selain jumlah barang, penanganan yang baik juga merupakan hal yang penting.

Seberapa banyak gudang anda memiliki barang rusak yang diakibatkan kesalahan handling?

Handling barang sangat ditentukan volume, karakteristik barang serta perlengkapan yang dipakai (pallet, hand allet, forklift, conveyor, dll).
Besarnya produk rusak atau cacat tentunya membuat produktivitas rendah, konsep Lean Manufacturing yang dikombinasikan dengan Six Sigma yang terlahir pada konsep lean sigma bisa dipelajari oleh kepala gudang atau manajer gudang untuk mengetahui sistem atau konsep untuk mengurangi produk cacat/rusak.

Warehousing Management
Operasional Gudang
Jumlah pekerja gudang yang banyak dan berkualitas seadanya menjadi batasan bagi kepala gudang untuk mengawasi secara efektif, untuk itu perlu adanya personil-personil di bawah kepala gudang untuk mengawasi pekerja-perkerja dan memastikan operasional gudang berjalan dengan baik.
Selisih dari perhitungan stock merupakan kelalaian dari pekerja gudang, namun menghilangkan selisih stock dalam satu tahapan pelayanan stock dalam volume besar juga sangat sulit diterapkan. Pada beberapa bagian ada budget toleransi terhadapa hal tersebut, meskipun sebenarnya alini bukan merupakan pembenaran

terhadap kelalaian pekerja.

Warehousing Management
Trade-of dalam operasional gudang

Dalam lingkup gudang SDM yang dihadapi level pekerja kasar dan sulit diatur, sehingga diperlukan sebuah pendekatan yang personal dan unik dibandingkan kantoran.
Variabel yang ada sulit dikendalikan, sehingga kapasitas perlu diperbesar setiap hari dalam menangani masalah.
Gudang sebagai pusat logistik namun tidak memberi nilai tambah secara langsung, sehingga prestasi kerja tidak begitu Nampak. Jadi sesempurnanya sebuah gudang, memang begitulah seharusnya dan bukan sebuah prestasi. Misal, biaya gudang harus di bawah 5%, sangat sulit, tetapi ketika kita mencapainya tidak ada prestasi tersendiri, lumrah. Beda dengan Sales yang bisa sekreatif mungkin
memainkan angka-angka.
Barang rusak dan hilang nilainya tinggi jika tidak ada pengendalian-pengendalian yang di kelola secara professional.

Warehousing Management
Sistem Administrasi Gudang
Suatu kesatuan berbagai element dari sebuah tempat penyimpanan barang untuk kemudian dilakukan proses administrasinya baik komputerisasi maupun manual (dalam kaitannya dengan IT, berarti komputerisasi)

Warehousing Management

Peran gudang dalam industri

Warehousing Management
Perusahaan merupakan suatu lembagan yang diorganisir dan dijalankan untuk menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat dengan motif keuntungan.
Dalam usaha menyediakan barang dan jasa tersebut, perusahaan melakukan berbagai kegiatan seperti produksi, pembelanjaan bahan baku, pendistribusian barang, manajemen material, pengembangan SDM, riset
dan pengembangan, dan jasa dan lain sebagainya.
Produksi merupakan tulang punggung bagi perusahaan karena didalamnya dilakukan proses yang sangat panjang yang membutuhkan banyak sember daya, baik material, manusia, mesin, modal dan waktu kerja.

Warehousing Management
Untuk menjamin bawha proses produksi dapat berjalan secara kontinyu diperlukan kelancaran aliran material bahan baku, sparepart aatau suku cadang setiap saat. Kebutuhan bahan baku dalam suatu proses produksi tidak dapat
dipastikan kebutuhannya akan tetap sepanjang waktu melainkan bergantung pada banyak variable. Demikian juga halnya aliran material dan bahan baku tidak dipastikan tidak dapat memenuhi kebeutuhan produksi setiap saat
dibutuhkan.
Untuk mengatasi permasalahan pemenuhan kebutuhan material dalam proses produksi, perusahaan biasanya membuat kebijakan untuk mengadakan persediaan material berupa bahan baku dan sparepart yang disimpan digudang.

Warehousing Management
Pengadaan material untuk disimpan digudang secara ekonomik sangat tidak menguntungkan karena membutuhkan investasi yang tidak sedikit dan tidak dapat meningkatkan kualitas barang yang disimpan bahkan dapat mengakibatkan kerusakan.
Dari pandangan teknik produksi persediaan material dan sparepart harus diadakan untuk memastikan proses produksi berjalan dengan lancar.
Karena itu perlu ada kompromi antara bagian produksi dan bagian keuangan. Kompromi masalah pengadaan persediaan bahan baku dan sparepart di gudang inilah yang melahirkan konsep manajemen pergudangan atau warehousing management.

Warehousing Management

Pergudangan meliputi penerimaan dan penanganan, penyimpanan, pemeliharaan, pendistribusian, pengendalian bahan baku dan peralatan agar kualitas dan kuantitas produksi tetap terjamin.
Manfaat pergudangan adalah untuk:
Terjaganya kualitas dan kuantitas bahan baku dan peralatan.
Tertatanya bahan baku dan peralatan.
Peningkatan pelayanan pendistribusian.
Tersedianya data dan informasi yang lebih akurat, aktual dan akuntabel
Kemudahan akses dalam pengendalian dan pengawasan

Warehousing Management
Mekanisme pergudangan
Penerimaaan
Penerimaan merupakan proses penyerahan dan penerima an logistik dan peralatan di gudang. Dalam proses penyerahan dan pe nerimaan ini dilakukan:
Pendataan jumlah dan mutu logistik dan peralatan harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku/layak untuk diberikan kepada korban bencana.
Pencatatan administratif sebagai dokumen yang dapat dipertanggung jawabkan oleh petugas yang bersangkuta

Warehousing Management
Mekanisme pergudangan
Penyimpanan
Penyimpanan merupakan proses kegiatan penyimpanan logistik dan peralatan di gudang dengan cara menempatkan logistik dan peralatan yang diterima:

Penempatan

sesuai dengan denah.


dari pencurian.
dari gangguan fisik.
dari pencemaran secara kimiawi dan biologi yang dapat merusakkualitas dan kuantitas.
dari kebakaran.
Penataan sesuai dengan standar pergudangan.
Aman
Aman
Aman
Aman

Warehousing Management
Mekanisme pergudangan
Pemeliharaan
5R = Ringkas, Rapih, Resik (bersih), Rawat, Rajin (secara terus menerus).
First In First Out (FIFO), yaitu logistik dan peralatan yang pertama masuk adalah yang pertama harus keluar
First Expired Date First Out (FEFO) yaitu logistik dan peralatan yang pertama kadaluwarsa harus yang pertama keluar untuk didistribusikan.

Warehousing Management
Mekanisme pergudangan
Pendistribusian
Pendistribusian merupakan proses kegiatan pengeluaran dan penyaluran logistik dan peralatan dari gudang untuk diserahkan kepada yang berhak, melalui suatu proses serah terima yang dapat dipertanggung jawabkan, disertai dengan bukti serah terima. Hal ini dilakukan berdasarkan permintaan

Pengendalian
Pengendalian merupakan proses kegiatan pengawasan atas pergerakan masuk keluarnya logistik dan peralatan dari dan ke gudang agar persediaan dan penempatan dapat diketahui secara cepat, tepat dan akurat serta akuntabel.

Warehousing Management
Mekanisme pergudangan
Penghapusan
Penghapusan merupakan rangkaian kegiatan pemusnahan logistik dan peralatan dalam rangka pembebasan barang milik perusahaan dari tanggung jawab sesuai kebijakan perusahaan
Tujuan penghapusan adalah sebagai berikut :
Penghapusan merupakan bentuk pertanggung jawaban administrasi petugas terhadap logistik dan peralatan yang dikelola, yang sudah ditetapkan untuk dihapuskan/ dimusnahkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Menghindari pembiayaan (biaya penyimpanan, pemeliharaan, penjagaan dan lain-lain) atau barang yang sudah tidak layak untuk dipelihara.
Menjaga keselamatan agar terhindar dari pencemaran lingkungan