Anda di halaman 1dari 5

Prosedur Tindakan pada Penyakit Respiratori

Spirometri merupakan komponen diagnosis penting dalam penegakan penyakit


obstruksi saluran respiratorik seperti asma, sekaligus dapat berperan sebagai alat untuk
memantau perkembangan penyakit asma. Spirometri merupakan metode pengukuran
perpindahan udara ke dalam atau ke luar paru selama manuver pernapasan tertentu. Hasil
pengukuran spirometer dapat berbentuk angka atau nilai yang dilukiskan dalam bentuk kurva
(grafik) yang disebut spirogram. Sebuah sensor pengukur deras aliran udara (gas) merupakan
jantung spirometer elektronik. Tanpa sensor ini, spirometer tidak dapat bekerja. Parameter
inti yang diukur dengan alat spirometer elektronik hanya satu, yaitu deras aliran udara (flow).
Karena waktu selama manuver (gerakan-gerakan) berlangsung dapat diukur, maka
berdasarkan flow dan waktu (time) dapat dilakukan komputasi untuk menghasilkan volume.
Selanjutnya, karena semua data dapat direkam secara digital di dalam komputer, maka
berdasarkan data tersebut dapat dilakukan komputasi untuk menghasilkan volume. Data yang
direkam secara digital di dalam komputer dapat dilukis dalam bentuk berbagai kurva,
berbagai parameter dan indeks, bahkan resume dan diagnosis spirometri juga dapat
ditampilkan.
Parameter yang sering digunakan adalah volume (V), kapasitas (capacity, C), aliran
udara (flow,F), tahanan paru (resistance), dan komplians paru (compliance). Sebagian besar
parameter tersebut dapat diukur dengan spirometer, kecuali tahanan dan komplians paru.
Selain itu, dengan spirometer juga dapat dihitung berbagai indeks atau konstanta serta grafik
spirometri yang sangat berguna untuk mempertajam diagnosis kelainan pernapasan. Untuk
kebutuhan diagnosis klinis, ada tiga macam spirometri yang digunakan yaitu:
1) Kapasitas Vital (KV)
2) Kapasitas Vital Paksa (KVP)
3) Maximal Voluntary Ventilation (MVV)
1. Manuver kapasitas vital (KV)
Manuver ini terutama bertujuan mengukur volume dan kapasitas paru, seperti volume
tidal, volume cadangan ekspirasi, volume cadangan inspirasi, dan kapasitas vital. Volume
residual merupakan satu-satunya volume yang tidak dapat diukur oleh spirometri. Manuver
KV terdiri dari beberapa manuver yang harus dilakukan sesuai urutan dan berkesinambungan,
mulai dari manuver volume tidal (tidal Volume= TV), volume cadangan ekspirasi (expiratory
reserve volume= ERV), volume cadangan inspirasi (inspiratory reserve volume= IRV), dan
kemuadian manuver kapasitas vital.
Manuver volume tidak harus dilakukan secara hati-hati mengingat manuver ini
merupakan inti dari pemeriksaaan ini. Pergerakan dasar dimulai dari inspirasi dan ekspirasi
senatural mungkin dengan ritme yang teratur dan kedalaman napas yang sama. Setelah itu
baru dilanjutkan dengan manuver-manuver selanjutnya. Parameter spirogram pada manuver
vital capacity adalah:

Kapasitas total paru (Total Lung Capacity = TLC), adalah hasil penjumlahan antara
VC dan RV.
Kapasitas Vital (Vital Capacity = VC) adalah volume udara yang di ekspirasi dengan
santai sejak posisi akhir inspirasi maksimal hingga posisi akhir ekspirasi maksimal;
merupakan nilai hasil penjumlahan TV, IRV, dan ERV.
Volume Residu (Residual Volume = RV) adalah sisa volume pada saat posisi akhir
ekspirasi maksimal.
Kapasitas Inspirasi (Inspiratory Capacity = IC) adalah volume udara yang dihisap
sejak posisi netral (akhir ekspirasi) hingga posisi akhir inspirasi maksimal; merupakan
penjumlahan TV dan IRV.
Kapasitas Residual Fungsional (Functional Residual Capacity = FRC) adalah hasil
penjumlahan ERV dan RV, volume sisa udara yang masih ada dalam keadaan
ekspirasi istirahat.
Volume Cadangan Inspirasi (Inspiraory Reserve Volume = IRV) adalah volume udara
yang dihisap sejak posisi akhir inspirasi pada manuver TV hingga posisi akhir
inspirasi maksimal.
Volume Cadangan Ekspirasi (Expiratory Reserve Volume = ERV) adalah volume
udara yang dikeluarkan sejak posisi akhir ekspirasi pada TV hingga posisi akhir
ekspirasi maksimal.
Volume Tidak (Tidal Volume = TV) adalah volume udara yang terhisap sejak posisi
netral (akhir ekspirasi) hingga posisi akhir inspirasi.
Ventilasi peremenit (Minute Ventilation = MV) adalah jumlah udara yang dihisap
dalam tempo satu menit; merupakan hasil perkalian nilai TV dengan frekuensi napas
dalam satu menit.

Gambar Spirogram manuver kapasitas vital.

2. Manuver kapasitas vital paksa

Manuver ini bertujuan terutama untuk mengukur deras aliran udara ekspirasi dan
panjangnya waktu inspirasi. Hasil pengukuran kemudian dikomputasi untuk menghasilkan
berbagai parameter lain yang lebih rinci dan sensitif untuk menganalisis berbagai kelainan
fungsi pernapasan. Gerakan utama manuver ini adalah melakukan inspirasi maksimal,
kemudian melakukan ekspirasi dengan cepat dan sekuat tenaga sampai udara terasa habis
semua.
Manuver ini sering dilakukan di klinik, untuk upaya diagnosis biasa maupun uji
provokasi. Selain itu, manuver ini relatif lebih mudah dilakukan dibandingkan manuver
lainnya, sehingga cukup banyak anak usia kurang dari 6 tahun dapat melakukannya.
Manuver ini sering digunakan untuk penelitian epidemiologi, misalnya prevalens asma
anak pada usia sekolah.
Langkah-langkah manuver KVP:
Subyek yang diperiksa duduk atau berdiri,
Kenakan penjepit hidung,
Masukkan sensor dengan pipa peniup (mouth-piece) ke dalam mulut,
Lakukan inspirasi sedalam-dalamnya,
Setelah inspirasi maksimal segera lakukan ekspirasi dengan sekuat-kuatnya dan
usahakan meniup sepanjang-panjangnya,
Dilakukan 3 kali untuk memilih hasil yang terbaik, jika peniupan belum optimal,
dapat dilakukan sampai 8 kali.
Dari manuver KVP dihasilkan dua macam grafik atau kurva, yaitu kurva Flow Volume
(Gambar 8.1.3) dan kurva FEV (Forced Expiratory Volume Curve) atau spirogram KVP
(Gambar 8.1.4).
Kurva F-V menggambarkan hubungan antara deras aliran udara (flow) dan volume
ekspirasi, sedangkan kurva FEV menggambarkan hubungan antara volume dan lamanya
ekspirasi (expiration time).

Gambar 8.1.3 Kurvavolume-time.

Gambar 8.1.4 Kurva flow-volume.


Parameter spirometer pada manuver FVC
Sensor pada spirometer elektronik mengukur deras aliran udara dan waktu ekspirasi.
Selanjutnya, kedua parameter ini digunakan untuk menghitung parameter lainnya, antara
lain sebagai berikut.
A. Volume dan kapasitas
FVC

: kapasitas vital paksa

FEV 0,5

: volume ekspirasi paksa dalam 0,5detik

FEV 1,0

: volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (Satuanliter atau mililiter)

B. Indeks yang berkaitan dengan volume


FEV 1,0%

: rasio FEV 1,0 terhadap FVC:


FEV 1,0% =

% VC

: rasio VC terhadap nilai baku VC (VC p)


% VC =

ATI

FEV 1,0
X 100
FVC

vc (terukur )
x 100
VC ( predicted)

: air trapping index, indeks emfisema


ATI =

VC FVC
X 100
VC

C. Aliran udara
Satuan: Liter/menit ataui Liter/detik
PEF
: peak expiratory flow; arus puncak ekspirasi atau PFR (peak flow
rate); rasio arus puncak.

V75

: deras arus ekspirasi pada volume paru 75% dari FVC

V50

: deras arus ekspirasi pada volume paru 50% dari FVC

V25

: deras arus ekspirasi pada volume paru 25% dari FVC

V10

: deras arus ekspirasi pada volume paru 10% dari FVC

MMEF 25-75% : maximum mid expiratory flow (rata-rata deras aliran udara ekspirasi)
pada volume paru antara 50% dan 75% terhadap FVC
MMEF 50-75% : maximum mid expiratory flow (rata-rata deras aliran udara ekspirasi)
pada volume paru antara 50% dan 75% terhadap FVC
D. Indeks yang berkaitan dengan flow
1. CS ( Curve Score) = skor kurva. Skor kurva menunjukkan derajat kecekungan
kurva F-V. Seperti telah diuraikan diatas bahwa pada kelainan paru obstruktif akan
terjadi kurva F-V yang cekung. Kecekungan tersebut dapat diukur berdasarkan
CS. Sebuah kurva F-V dikatakan cekung bilamana nilai CS lebih besar dari 10%.
Skor kurva dapat dilihat gambar .1.5.