Anda di halaman 1dari 14

Ungkapan Hati

Seorang Ayah
Anakku, ini Ayah…
Bagaimana kabarmu hari ini? Tetap sehat dan
bugar kan? Ayah berharap kau selalu menjadi
kebanggaan Ayah dan Bunda.
Nak,…
Saat Ayah pulang tadi, Bunda memberi tahu
bahwa kau sedang pergi keluar kota bersama
teman-teman kampus mu yang baru. Saat
ini, sedang apa kau di sana? Malam ini ketika
Ayah pulang dari mencari nafkah di luar
sana, tiba-tiba Ayah teringat kamu, Nak.
Masih terekam dengan baik dalam memori
otak Ayah ketika mendapat kabar dari Bunda
bahwa ia sedang mengandungmu. Betapa
gembiranya Ayah sampai-sampai Ayah tak
peduli kalau orang-orang di klinik semuanya
memandang ke arah Ayah yang berteriak
karena senang.
Sejak saat itu, Ayah merasakan ada sesuatu
yang membebani kaki ayah hingga begitu
berat melangkahkan kaki keluar rumah untuk
pergi mencari nafkah, Ayah ingin selalu
membelaimu, walaupun kau masih di dalam
perut Bunda.
Selama sembilan bulan sepuluh hari Ayah tak
pernah melewati momen-momen yang
terjadi pada Bunda bersama denganmu, Nak.
Hingga waktu itu akhirnya tiba juga. Bunda
melahirkanmu dengan selamat, dengan rasa
sakit yang tak tertahankan. Saat itu Ayah
selalu di sisi Bunda, tak pernah
meninggalkannya sedetik pun, Ayah sangat
tahu perjuangan Bunda mu saat itu.
Setelah kau hadir mengisi ruang-ruang sepi di
rumah, gantian Ayah yang berjuang untuk
bekerja lebih giat, mencari nafkah demi
menghidupi keluarga, termasuk kamu, Nak.
Ayah tak pernah merasa lelah meski harus
pulang lebih malam dari biasanya. Ayah ingin
kehidupanmu saat itu dan ke depannya
benar-benar terjamin. Kadang Bunda
menasehati Ayah agar jangan bekerja terlalu
keras, khawatir bisa sakit, namun Ayah tak
merasakannya, Ayah katakan pada Bunda
“Ayah senang melakukan ini semua, Bunda,
demi anak kita.”
Ketika kau memasuki usia sekolah, kau
berangkat dengan gembira, berpamitan
dengan Bunda dan pergi dengan
menggandeng tangan Ayah. Setelah kau
menginjak bangku SMP kau mulai malu
karena Ayah selalu mengantarmu, kau minta
agar Ayah tak perlu lagi mengantarmu
sampai di depan pintu gerbang sekolah.
Cukup kaget Ayah saat itu, namun Ayah tahu
bahwa kau sudah mulai beranjak lebih
dewasa.
Ayah selalu titip pesan agar setelah pulang
sekolah kau harus pulang dulu ke rumah
sebelum kau pergi lagi dengan teman-
temanmu. Namun, nasehat Ayah itu ternyata
hanya kau ‘iya kan’ lewat lisan, lewat Bunda
Ayah tahu bahwa kau selalu pulang
menjelang maghrib tanpa ada pesan. Kau
sudah membuat Ayah dan Bunda begitu
khawatir. Ayah memang sedikit keras saat
itu, Ayah memarahimu agar jangan
mengulang hal itu lagi, namun lagi-lagi Ayah
tahu dari Bunda bahwa kau masih
melakukannya.
Ayah kembali memarahimu. Namun, Bunda
lebih memanjakanmu. Ketika Ayah mulai bicara
kau selalu cuek bahkan pernah suatu kali kau
jalan melewati Ayah begitu saja, masuk ke
kamarmu, padahal kau tahu Ayah sedang bicara
denganmu. Ayah sempat berpikir dan
menyalahkan diri Ayah karena terlalu keras
kepadamu yang membuatmu menjadi kesal
dengan Ayah. Maafkan Ayah jika semua sikap
Ayah membuatmu kesal dengan Ayah. Semua
itu Ayah lakukan demi kebaikanmu, Nak.
Anakku…
Usiamu yang semakin dewasa, kebutuhanmu pun
semakin bertambah. Uang yang Ayah berikan
setiap minggu sekarang begitu cepat kau habiskan
hanya dalam waktu dua hari, sehingga kau
meminta uang lebih kepada Ayah. Ayah berharap
kau bisa mengerti kondisi Ayah, usia Ayah yang
semakin tua, pekerjaan yang bisa Ayah lakukan
pun semakin sedikit sehingga pendapatan Ayah
berkurang, ditambah usia Ayah yang mendekati
masa pensiun. Namun kau selalu membalas kata-
kata Ayah dengan nada lebih tinggi, “Ayah,
kebutuhanku semakin banyak dan uang yang biasa
Ayah kasih setiap minggu sudah tidak cukup lagi.
Aku minta uangnya ditambah tiga kali lipat!”
Nak, …
Ayah dan Bunda begitu merindukan sosok
dirimu seperti yang dulu. Ayah tahu kau akan
tumbuh dan berkembang, Ayah hanya minta
darimu agar kau bisa mengerti kondisi Ayah
dan menjadi anak yang penurut dan berbakti
kepada Ayah dan Bunda.
Nak, …
Belum pernah Ayah menangis seperti ini,
Ayah tidak menyadari tiba-tiba saputangan
Ayah saat ini telah basah dengan cucuran air
mata. Ayah kangen ingin bertemu denganmu,
Nak. Kapan kau pulang?
Ayah,
Yang selalu menyayangimu