Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Skizofrenia adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani; Schizein,
yang berarti terpisah atau pecah dan phrenia yang berarti jiwa. Arti dari katakata tersebut menjelaskan tentang karateristik utama dari gangguan Skizofrenia, yaitu
adanya pemisahan antara pikiran, emosi, dan perilaku dari orang yang mengalaminya.
Gangguan Skizofrenia tergolong pada gangguan psikotik, yang ciri utamanya antara
lain adalah kegagalan dalam reality testing (Fausiah, 2005).
Skizofrenia merupakan kelompok gangguan psikosis atau psikotik yang
ditandai terutama oleh distorsi-distorsi mengenai realitas, juga sering terlihat adanya
perilaku menarik diri dari interaksi sosial, serta disorganisasi dan fragmentasi dalam
hal persepsi, pikiran dan kognisi (Wiramihardja, 2005).
Skizofrenia merupakan gangguan yang benar-benar membingungkan atau
menyimpan banyak teka-teki. Pada suatu saat orang-orang dengan Skizofrenia
berfikir dan berkomunikasi dengan sangat jelas, memiliki pandangan yang tepat dan
realita, dan berfungsi secara baik dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang lain,
pemikiran dan kata-kata mereka terbalik-balik, mereka kehilangan sentuhan (touch)
dengan realita, dan mereka tidak mampu memelihara diri mereka sendiri, bahkan
dalam banyak cara yang mendasar (Wiramihardja, 2005).

Masih terdapat gejala-gejala yang mengharuskan adanya

perbedaan

perbincangan antara Skizofrenia pada anak-anak dengan Skizofrenia pada orang


dewasa. Hal ini terjadi karena pada anak-anak gejala-gejala itu tidak tampak jelas,
sedangkan pada orang dewasa tampak lebih jelas. Meskipun gambaran klinis dapat
sangat bervariasi pada orang-orang yang di diagnosis Skizofrenia, organisasi
pengalaman yang mencirikan episode-episode Skizofrenia selama fase psikotik dapat
dilukiskan secara jelas (Wiramihardja, 2005).
Waham adalah suatu kepercayaan palsu yang menetap yang tak sesuai dengan
fakta dan kepercayaan tersebut mungkin aneh (misalnya: mata saya adalah
komputer yang dapat mengontrol dunia) atau bisa pula tidak aneh (hanya sangat
tidak mungkin, misalnya: FBI mengikuti saya) dan tetap dipertahankan meskipun
telah diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya, waham sering
ditemui pada gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering
ditemukan pada Skizofrenia (Utama, 2010).
Waham adalah keyakinan yang keliru, yang tetap dipertahankan sekalipun
dihadapkan dengan cukup bukti tentang kekeliruannya, dan tidak serasi dengan latar
belakang pendidikan dan sosial budaya orang yang bersangkutan (Fausiah, 2005).
Menurut (PPDGJ III, 2001), memenuhi kriteria umum diagnosis Skizofrenia,
waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of
control), dipengaruhi (delusion of influence), atau passivity (delusion of passivity),
dan keyakinan yang dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas. Dan
ternyata pada Skizofrenia paranoid, waham itu gejala yang dominan dan khas.

Prevalensi penderita Skizofrenia di Amerika Serikat diperkirakan 1-1,5 % dari


populasi. Tidak ditemukan perbedaan prevalensi berdasarkan jenis kelamin pada
gangguan Skizofrenia, artinya jumlah penderita pria dan wanita diperkirakan
seimbang. Perbedaan antara pria dan wanita terjadi pada onset dan bentuk penyakit,
diaman onset gangguan muncul lebih awal pada pria adalah 15-25 tahun, sementara
pada wanita 25-35 tahun. Sedangkan onset Skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau
setelah usia 50 tahun sangat jarang terjadi (Fausiah, 2005).
Perkiraan resiko Skizofrenia pada suatu waktu tertentu 0,5-1 persen. Sekitar 15
persen penderita yang masuk rumah sakit jiwa merupakan pasien skizofrenia, 45 persen
populasi rumah sakit jiwa adalah pasien skizofrenia, dan sebagian besar pasien
skizofrenia akan tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama. Pria lebih sering
daripada wanita dan kebanyakan dimulai sebelum usia 30 tahun (Ingram, 1993).
Menurut

dr.Danardi

Sosrosumihardjo,

Sp.KJ

dari

Kedokteran

Jiwa

FKUI/RSCM prevalensi penderita Skizofrenia di Indonesia tahun 2000 adalah 0,3-1%


dan biasanya timbul pada usia sekitar 18-45 tahun, namun ada juga yang baru
berusia 11-12 tahun sudah menderita Skizofrenia. Apabila penduduk Indonesia sekitar
200 juta jiwa, maka diperkirakan sekitar 2 juta jiwa menderita Skizofrenia.
Berdasarkan keterangan di atas oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan
penelitian yang berjudul Penderita Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala Waham
Kebesaran Dan Waham Kejar Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Provinsi Sumatera Utara Pada Periode Januari-Maret Tahun 2014 karena tingkat
prevalensi memiliki angka kejadian yang cukup tinggi yaitu 93,9% di Rumah Sakit

Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara tahun 2013. Secara keseluruhan jumlah
penderita Skizofrenia dan gangguan waham berjumlah 2.130 orang.

1.2 Rumusan Masalah


Berapa jumlah Penderita Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala Waham
Kebesaran Dan Waham Kejar Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Provinsi Sumatera Utara Pada Periode Januari - Maret Tahun 2014.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1

Tujuan Umum
Untuk mengetahui jumlah Penderita Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala
Waham Kebesaran Dan Waham Kejar Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit
Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Pada Periode Januari - Maret Tahun
2014.

1.3.2

Tujuan Khusus
1.

Untuk

mengetahui

karateristik

usia,

jenis

kelamin,

status

perkawinan, dan suku penderita waham pada Skizofrenia Paranoid


yang dirawat inap di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera
Utara.
2.

Untuk mengetahui tipe-tipe waham.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1. Masyarakat
Sebagai tambahan informasi tentang waham kebesaran dan waham kejar
pada penderita Skizofrenia.
1.4.2. Peneliti
Menambah ilmu pengetahuan peneliti semua tentang waham kebesaran
dan waham kejar pada penderita skizofrenia dan membuat karya tulis
ilmiah baik dan benar.
1.4.3. Pembaca
Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk
dikembangkan dalam penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Skizofrenia

2.1.1 Definisi
Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama
dalam pikiran, emosi, dan perilaku pikiran yang terganggu, dimana berbagai
pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian yang keliru,
afek yang datar atau tidak sesuai, dan berbagai, gangguan aktivitas motorik yang
bizam. Pasien Skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali
masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi dan merupakan
salah satu dari berbagai psikopatologi paling berat (Davison, 2010).
Skizofrenia adalah suatu penyakit kronis dan terdiri dari atas lebih dari satu
episode psikosis. Semakin banyak gambaran klinisnya, semakin mungkin
diagnosisnya adalah Skizofrenia. Sering disertai periode prodromal kemunduran
penampian (misalnya, di sekolah, universitas, tempat kerja) disertai penarikan sosial
(Hibbert, 2008).

2.1.2 Epidemiologi

Prevalensi Skizofrenia di Amerika Serikat sekitar 1% selama seumur


hidupnya yang berarti bahwa kurang lebih dari 100 orang akan mengalami
Skizofrenia selama masa hidupnya. Studi Epidemiologic Catchment Area (ECA)
yang disponsori National Institute of Mental Health (NIMH) melaporkan
prevalensi seumur hidup sebesar 0,6 sampai 1,9 %. Menurut DSM-IV-TR, insiden
tahunan Skizofrenia berkisar antara 0,5 sampai 5,0 per 10.000 dengan beberapa
variasi geografik (contoh, insidens lebih tinggi pada orang yang lahir didaerah
perkotaan di negara maju). Skizofrenia ditemukan pada semua masyarakat dan
area geografis dan angka insidens serta prevalensinya secara kasar merata di
seluruh dunia. Kurang lebih 0,05% populasi total di Amerika Serikat menjalani
pengobatan untuk Skizofrenia setiap tahun dan hanya sekitar setengah dari semua
pasien Skizofrenia mendapatkan pengobatan, meskipun penyakit ini termasuk
berat (Sadock, 2010).
Prevalensi Skizofrenia adalah 15-30 kasus baru per 100.000 populasi
pertahun, dengan usia awitan rata-rata lebih awal pada laki-laki daripada perempuan.
Rasio jenis kelamin sama yaitu Skizofrenia sama seringnnya terjadi pada laki-laki dan
perempuan dan prevalensi lebih tinggi pada yang belum menikah (Puri, 2012).

2.1.3 Etiologi
Menurut (Fitri Fausiah, 2005), etiologi dari Skizofrenia dibagi atas empat
yakni:
2.1.3.1 Model Diatesis Stres

Merupakan integrasi faktor biologis, faktor psikososial, faktor


lingkungan. Model ini mengatakan bahwa seseorang mungkin memiliki
suatu kerentanan spesifik (diatesis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh
lingkungan yang menimbulkan stress, memungkinkan perkembangan
Skizofrenia.
Komponen lingkungan mungkin biologikal (seperti infeksi) atau
psikologis (misal kematian orang terdekat). Sedangkan dasar biologikal dari
diatesis selanjutnya dapat terbentuk oleh pengaruh epigenetik seperti
penyalahgunaan obat, stress psikososial, dan trauma.
2.1.3.2 Faktor Neurobiologi
Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien Skizofrenia ditemukan
adanya kerusakan pada bagian otak tertentu. Namun sampai kini belum
diketahui bagaimana hubungan antara kerusakan pada bagian otak tertentu
dengan munculnya simptom Skizofrenia.
Terdapat beberapa area tertentu dalam otak

yang berperan dalam

membuat seseorang menjadi patologis, yaitu sistem limbik, korteks frontal,


cerebellum dan ganglia basalis. Keempat area tersebut saling behubungan,
sehingga disfungsi pada satu area mungkin melibatkan proses patologis
primer pada area yang lain. Dua hal yang menjadi sasaran penelitian adalah
waktu dimana kerusakan neuropatologis muncul pada otak, dan interaksi
antara kerusakan tersebut dengan stressor lingkungan dan sosial.

2.1.3.3 Faktor Genetika


Skizofrenia mempunyai komponen yang diturunkan secara bermakna,
kompleks dan poligen. Sesuai dengan penelitian hubungan darah
(konsanguinitas). Skizofrenia adalah gangguan yang bersifat keluarga
(misalnya, terdapat dalam kelurga). Semakin dekat hubungan kekerabatan
semakin tinggi risiko. Pada penelitian anak kembar, kembar monozigot
mempunyai risiko 4-6 kali lebih sering menjadi sakit bila di bandingkan
dengan kembar dizigot. Penelitian pada kembar monozigotik yang diadopsi
menunjukkan bahwa kembar yang diasuh oleh orang tua angkat mempunyai
Skizofrenia dengan kemungkinan yang sama besarnya seperti saudara
kembarnya yang dibesarkan oleh orang tua kandungnya. Temuan tersebut
menyatakan bahwa pengaruh genetik melebihi pengaruh lingkungan. Untuk
mendukung lebih lanjut dasar genetika adalah pengamatan bahwa semakin
parah skizofrenia., semakin mungkin kembar adalah sama-sama menderita
gangguan. Satu penelitian yang mendukung model diatesis stress
menunjukkan bahwa kembar monozigotik yang diadopsi yang kemudian
menderita Skizofrenia kemungkinan telah diadopsi oleh keluarga yang tidak
sesuai secara psikologis.

2.1.3.4 Faktor psikososial

10

1. Teori Tentang Individu Pasien


a. Teori Psikoanalitik
Secara umum, dalam pandangan psikoanalitik tentang skizofrenia,
kerusakan ego mempengaruhi interprestasi terhadap realitas dan
kontrol terhadap dorongan dari dalam, seperti seks dan agresi.
Gangguan tersebut akibat distorsi dalam hubungan timbal balik ibu
dan anak.
Berbagai symptom dalam Skizofrenia memiliki makna simbolis bagi
masing-masing pasien. Misalnya fantasi tentang hari kiamat
mungkin mengindikasikan persepsi individu bahwa dunia dalamnya
telah hancur. Halusinasi mungkin merupakan subtitusi dari
ketidakmampuan pasien untuk menghadapi realitas yang obyektif
dan mungkin juga merepresentasikan ketakutan atau harapan
terdalam yang dimilikinya.
b. Teori Psikodinamik
Menurut pendekatan psikodinamik, symptom positif diasosiasikan
dengan inset akut sebgai respon terhadap faktor pemicu/pencetus,
dan erat kaitannya dengan adanya konflik. Simptom negatif
berkaitan erat dengan faktor biologis, dan karakteristiknya adalah
absennya perilaku/fungsi tertentu. Sedangkan gangguan dalam
hubungan interpersonal mungkin timbul akibat konflik intrapsikis,

11

namun mungkin juga berhubungan dengan kerusakan ego yang


mendasar.
Tanpa

memandang

model

teoritisnya,

semua

pendekatan

psikodinamik dibangun berdasarkan pemikiran bahwa simptomsimptom psikotik memiliki makna dalam skizofrenia. Misalnya
waham kebesaran pada pasien mungkin timbul setelah harga dirinya
terluka. Selain itu, menurut pendekatan ini, hubungan dengan
manusia diangap merupakan hal yang menakutkan bagi pengidap
Skizofrenia.
c. Teori Belajar
Menurut teori ini, orang menjadi Skizofrenia karena pada masa
kanak-kanak ia belajar pada model yang buruk. Ia mempelajari
reaksi dan cara pikir yang tidak rasional dengan meniru dari
orangtuanya, yang sebenarnya juga memiliki masalah emosional.
2. Teori Tentang Keluarga
Beberapa pasien Skizofrenia sebagaimana orang yang mengalami
nonpsikiatrik berasal dari keluarga dengan disfungsi, yaitu perilaku
keluarga yang patologis, yang secara signifikan menungkatkan stress
emosional yang harus dihadapi oleh pasien Skizofrenia.
3. Teori Sosial
Beberapa teori menyebutkan bahwa industrialisasi dan urbanisasi
banyak berpengaruh dalam menyebabkan skizofrenia. Meskipun ada

12

data pendukung, namun penekanan saat ini adalah dalam mengetahui


pengaruhnya terhadap waktu timbulnya onset dan keparahan penyakit.
2.1.4 Gejala Klinis
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III,
2001), adapun gejala klinis dari Skizofrenia yakni sebagai berikut :
1.
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas
(dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau
kurang jelas) :
a) Thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya
sama, namun kualitasnya berbeda.
1) Thought Insertion Or Withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar
masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil
keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal)
2) Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang
lain atau umum mengetahuinya.
b) delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar
1) delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh
suatu kekuatan tertentu dari luar
2) delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan
pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar, (tentang dirinya : secara

13

jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau pikiran,


tindakan, atau penginderaan khusus).
3) delusion perception : pengalaman inderawi yang tak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjijat.
c) Halusinasi auditorik :
1) Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap
perilaku pasien.
2) Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara
berbagai suara yang berbicara).
3) Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari slaah satu bagian tubuh.
d) Waham waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan
diatas manusia biasa (misalnya mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi
dengan makhluk asing dari dunia lain).
Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara
jelas :
a) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide ide berlebihan

14

(over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjai setiap hari selama
berminggu minggu atau berbulan bulan terus menerus.
b) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolatin), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme.
c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativism, mutisme,
dan stupor.
d) Gejala- gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang,
dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.
2.

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung


selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase

nonpsikotik prodromal).
3.
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna
dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi
(personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed
attitude), dan penarikan diri secara sosial.

15

Menurut (Davidson, 2006), gejala yang tampak dari suatu Skizofrenia dibagi
dalam 3 dimensi, yaitu:
1.

Symptom positif
Symptom positif mencakup hal hal yang berlebihan dan khas, meliputi
waham, halusinasi, disorganisasi pembicaraan dan disorginasi perilaku seperti
katatonia / agitasi

2.

Symptom negative
Symptom negative terdiri dari 5 tipe gejala, yaitu :
a. Avolition merupakan kondisi kurangnya energi dan ketiadaan minat atau
ketidakmampuan untuk tekun melakukan apa yang biasanya merupakan
aktifitas rutin.
b. Alogia merupakan suatu gangguan negatif, alogia dapat terwujud dalam
beberapa bentuk.
c. Anhedonia ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan disebut
anhedonia. Ini tercermin dalam kurangnya minat dalam berbagai aktifitas
rekresional, gagal untuk mengembangkan hubungan dekat dengan orang
lain dan kurangnya minat dalam hubungan seks.
d. Afek datar, yang memiliki afek datar hampir tidak ada stimulasi dapat
memunculkan respon emosional. Pasien menatap dengan pandangan
kosong, otot otot wajah kendur, dan mata mereka tidak hidup
e. Asisialitas, mengalami ketidakmampuan parah dalam hubungan sosial.

3.

Symptom disorganisasi

16

Mencakup disorganisasi pembicaraan dan perilaku aneh, juga dikenal sebagai


gangguan positif formal. Disorganisasi pembicaraan merujuk pada masalah
dalam organisasi berbagai pemikiran dan dalam berbicara sehingga pendengar
dapat memahaminya.
Awitan skizofrenia dapat muncul tiba- tiba atau bertahap, tetapi kebanyakan
klien mengalami perkembangan tanda dan gejala yang lambat dan bertahap, misalnya
menarik diri dari masyarakat, perilaku yang tidak lazim, kehilangan minat untuk
sekolah atau bekerja, dan sering kali mengabaikan hygiene (Videbeck, 2008).

2.1.5 Jenis Jenis Skizofrenia


Menurut (PPDGJ III, 2001), jenis jenis Skizofrenia dibagi menjadi :
1.

Skizofrenia Paranoid
a) Memunuhi kriteria umum diagnosis Skizofrenia
b) Sebagai tambahan :
1) Halusinasi dan atau waham harus menonjol
(a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa
bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa
(laughing)
(b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual,
atau lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi
jarang menonjol.

17

(c) Waham dapat berupa hamper setiap jenis, tetapi waham


dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau passivity (delusion of passivity), dan keyakinan
dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas
2) Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala
katatonik secara relative tidak nyata atau tidak menonjol.
2.

Skizofrenia Hebefrenik
a.

Memenuhi kriteria umum diagnosis Skizofrenia


1) Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia
remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun)
2) Kepribadian premorbid menunjukkan cirri khas, pemalu dan senang
menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan
diagnosis
3) Untuk diagnosis hebefrenia yang menyakinkan umumnya diperlukan
pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, unutk memasikan
bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :
-

Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta
mannerisme, ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary),
dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan.

Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate),


sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri
(self-satisfied), senyum sendiri (self-absorbed smiling), atau oleh

18

sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces),


mannarisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondriakal, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reitered
phrases).
-

Proses piker mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak


menentu (rambling) serta inkoheren.

b.

Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan


proses pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada
tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions and
hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan
(determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku
penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless)
dan tanpa maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang
dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan terra abstrak
lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.

3.

Skizofrenia Katatonik
a.

Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Skizofrenia.

b.

Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran
klinisnya

19

1)

Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap


lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme
(tidak berbicara);

2)

Gaduh-gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak


bertujuan, yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)

3)

Menampilkan

posisi

tubuh

tertentu

(secara

sukarela

mengambil dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak


wajar atau aneh);
4)

Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif


terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau
pergerakan kearah yang berlawanan);

5)

Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk


melawan upaya menggerakkan dirinya);

6)

Fleksibilitas

cerea/"waxy

flexibility"

(mempertahankan

anggota gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar);
dan
7)

Gejala-gejala lain seperti "command automatism" (kepatuhan


secara otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta
kalimat-kalimat.

c.

Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari


gangguan katatonik, diagnosis Skizofrenia mungkin harus ditunda sampai
diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain.

20

Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk


diagnostik untuk Skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh
penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta
dapat juga terjadi pada gangguan afektif.

4.

Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated)


a.

Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Skizofrenia.

b.

Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis Skizofrenia paranoid,


hebefrenik, atau katatonik;

c.

Tidak memenuhi kriteria untuk Skizofrenia residual atau depresi pastaskizofrenia.

5.

Depresi Pasca-skizofrenia
Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau
a. Pasien telah menderita Skizofrenia (yang memenuhi kriteria umum
Skizofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;
b. Beberapa gejala Skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi
mendominasi gambaran'klinisnya); dan
c. Gejala-gejala depresif menonjol dan mengganggu, memenuhi paling
sedikit kriteria untuk episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu
paling sedikit 2 minggu.

21

Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala Skizofrenia, diagnosis menjadi


Episode Depresif. Bila gejala Skizofrenia masih jelas dan menonjol, diagnosis
harus tetap salah satu dari subtipe Skizofrenia yang sesuai.

6.

Skizofrenia Residual
Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus
dipenuhi semua
a. Gejala "negatif' dari Skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan
psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan
ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan,
komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak
mata, modulasi suara, clan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial
yang buruk;
b. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau
yang memenuhi kriteria untuk diagnosis Skizofrenia;
c. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas
dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat
berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom "negatif dari Skizofrenia;
d. Tidak terdapat dementia atau penyakit/gangguan otak organik lain, depresi
kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif
tersebut.

22

7.

Skizofrenia Simpleks
Diagnosis Skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena
tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan
progresif dari :
a. Gejala "negatif yang khas dari Skizofrenia residual, tanpa didahului
riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari eposide psikotik, dan
b. Disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna,
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat
sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.
Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan sub tipe
skizofrenia lainnya.

2.1.6 Diagnosis Banding


Menurut (Sadock, 2010), diagnosis banding dari Skizofrenia adalah :
1.

Gangguan Psikotik Sekunder


Serangkaian besar medis nonpsikiatrik serta berbagai zat dan dapat
menginduksi gejala psikosis dan katatonia. Diagnosis yang paling cepat untuk
psikosis atau katatonia semacam itu adalah gangguan psikotik akibat kondisi
medis umum, gangguan katatonik akibat medis umum atau gangguan psikotik
terinduksi zat. Manifestasi psikiatrik berbagai kondisi medis nonpsikiatrik
dapat muncul pada awal gejala penyakit, sering kali sebelum berkembangnya
gejala lain. Oleh sebab itu, klinis harus mempertimbangkan serangkaian luas

23

kondisi medis nonpsikiatrik pada diagnosis banding psikosis, bahkan pada


keadaan tidak adanya gejala fisik yang nyata. Pasien dengan gangguan
neurologis umumnya lebih memiliki tilikan terhadap penyakitnya dan lebih
menderita akibat gejala psikiatrik daripada pasien Skizofrenia. Fakta ini dapat
membantu klinisi membedakan kedua kelompok pasien tersebut.
Saat mengevaluasi pasien dengan gejala psikotik, klinisi seyogianya
mengikuti pedoman umum untuk mengkaji kondisi nonpsikiatrik. Pertama,
klinis sebaiknya secara agresif mencari suatu kondisi medis nonpsikiatrik
yang belum terdiagnosis ketika pasien menunjukkan adanya gejala yang tak
lazim atau jarang maupun setiap variasi tingkat kesadaran. Kedua, klinis
sebaiknya mencoba memperoleh riwayat keluarga yang lengkap, termasuk
riwayat gangguan medis, neurologis, dan psikiatrik. Ketiga, klinis sebaiknya
mempertimbangkan kemungkinan kondisi medis nonpsikiatrik, bahkan pada
pasien yang sebelumnya didiagnosis Skizofrenia. Pasien Skizofrenia memiliki
kemungkinan yang sama seperti pasien nonpsikiatrik, bahkan pada pasien
yang sebelumnya didiagnosis Skizofrenia. Pasien Skizofrenia memiliki
kemungkinan yang sama seperti pasien nonskizofrenik untuk mengalami
tumor otak yang menimbulkan gejala psikotik.
2.

Berpura-pura (malingering) dan gangguan buatan


Pada Pasien yang meniru gejala Skizofrenia namun sebenarnya tidak
mengidap gangguan tersebut, berpura-pura atau gangguan buatan mungkin

24

merupakan diagnosis yang sesuai. Orang dapat memalsukan gejala skizofrenik


dan dimasukkan serta dirawat di rumah sakit prikiatrik.
Kondisi pasien yang sepenuhnya dapat mengendalikan produksi gejala
mereka mungkin memenuhi syarat untuk diagnosis berpura-pura, pasien
semacam ini biasanya mempunyai suatu alasan hokum atau financial yang
jelas utnuk dapat dianggap menderita sakit jiwa. Kondisi pasien yang tidak
terlalu dapat mengendalikan pemalsuan mereka akan gejala psikotiknya
mungkin sesuai untuk diagnosis gangguan buatan. Meski demikian, sejumlah
pasien Skizofrenia dapat memalsukan keluhan eksaserbasi gejala psikotik
untuk memperoleh peningkatan keuntungan pendampingan atau untuk dapat
kembali dirawat inap.
3.

Gangguan psikotik lain


Gejala psikotik pada Skizofrenia dapat identik dengan gangguan
skizofreniform, gangguan psikotik singkat, gangguan skizoakfektif, dan
gangguan waham. Gangguan skizofreniform berbeda dari Skizofrenia berupa
gejala yang berdurasi setidaknya 1 bulan tapi kurang dari 6 bulan. Gangguan
psikotik singkat merupakan diagnosis yang sesuai bila gejala berlangsung
setidaknya 1 hari tapi kurang 1 bulan dan bila pasien tidak kembali kekeadaan
fungsi pramobidnya dalam waktu tersebut. Jika suatu sindrom manic atau
depresif terjadi bersamaaan dengan gejala utama Skizofrenia, gangguan
skizoafektif adalah diagnosis yang tepat. Waham nonbizar yang timbul selama

25

sekurangnya 1 bulan tanpa gejala Skizofrenia lain atau gangguan mood patut
didiagnosis sebagai gangguan waham.
4.

Gangguan mood
Diagnosis banding antara Skizofrenia dan gangguan mood mungkin
sulit dilakukan namun harus dibuat karena tersedianya pengobatan spesifik
dan efektif untuk mania dan depresi. Dibandingkan durasi gejala primer,
gejala afektif atau mood pada Skizofrenia semestinya singkat. Sebelum
membuat diagnosis Skizofrenia yang terlalu dini, dan tanpa informasi
tambahan selain yang diperoleh dari satu pemeriksaan status mental saja.
Klinisi seyogianya menunda diagnosis akhir atau sebaliknya mengasumsikan
adanya gangguan mood.

5.

Gangguan kepribadian
Berbagai gangguan kepribadian mungkin memiliki sebagian
gambaran

yang

sama

dengan

Skizofrenia.

Gangguan

kepribadian

skizotipal, skizoid, dan ambang adalah gangguan kepribadaian dengan


gejala yang paling mirip. Gangguan kepribadian obsesif kompulsif yang
parah dapat menyamarkan suatu proses skizofrenik yang mendasari. Tak
seperti Skizofrenia, gangguan kepribadian memiliki gejala ringan dan
riwayat terjadi seumur hidup pasien, gangguan ini juga tidak memiliki
tanggal awitan yang dapat diidentifikasi.

2.1.7 Terapi

26

Apabila dicurigai skizofrenia, pemeriksaan psikiatri harus segera dilakukan.


Diagnosis ditegakkan dari pemeriksaan status mental. Terapinya adalah dengan obat
antipsikotik, yang menghambat reseptor dopamine subtype D1 dan D2 dan atau jalur
serotonin dalam SSP. Obat obat tersebut menghilangkan gejala positif, namun
efeknya terhadap gejala negatif lebih sedikit (Davey, 2005).
Terapi obat bergantung pada diagnosis pastinya. Gangguan waham biasanya
diobati dengan antipsikotika, walaupun keberhasilannya masih meragukan (Sadock,
1998).
Menurut (Sadock, 2010) Tiga pengamatan dasar tentang Skizofrenia yang
memerlukan perhatian saat pertimbangan pengobatan gangguan, yaitu :
1. Terlepas dari penyebabnya, Skizofrenia terjadi pada seseorang yang
mempunyai sifat individual, keluarga, dan sosial psikologis yang unik.
2. Kenyataan bahwa angka kesesuaian untuk Skizofrenia pada kembar
monozigotik adalah 50% telah diperhitungkan oleh banyak peneliti untuk
menyarankan bahwa faktor lingkungan dan psikologis yang tidak diketahui
tetapi kemungkinan spesifik telah berperan dalam perkembangan gangguan.
3. Skizofrenia adalah suatu gangguan kompleks, dan tiap pendekatan terapeutik
tunggal jarang mencukupi untuk menjawab secara memuaskan gangguan yang
memliki berbagai segi.
Secara umum pengobatan Skizofrenia meliputi:
1.

Perawatan di Rumah Sakit


a) Untuk tujuan diagnostik

27

b) Menstabilkan medikasi
c) Keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh
d) Perilaku sangat kacau atau tidak sesuai
e) Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar
2. Terapi somatik dengan antipsikotik
Skizofrenia diobati dengan Antipsikotika (AP). Obat ini dibagi dalam 2
kelompok, berdasarkan mekanisme kerjanya yaitu Dopamine Receptor
Antagonist (DRA) atau Antipsikotika Generasi I (APG I) dan Serotonin
Dopamine Antagonist (SDA) atau Antipsikotika Generasi II (APG - II). Obat
APGI (Antipsikotik Generasi II) disebut juga antipsikotika kompesional atau
tipikal sedangkan, APGII ( Antipsikotik Generasi II) disebut juga
antipsikotik baru atau atipikal.

Prinsip prinsip terapetik :


a) Klinis harus secara cermat menetukan gejala sasaran yang akan diobati
b) Suatu antipsikotik yang telah bekerja dengan baik dimasa lalu pada pasien
harus digunakan lagi.
c) Lama minimal percobaan antipsikotik adalah 4 6 minggu pada dosis
yang adekuat.
d) Penggunaan pada lebih dari 1 medikasi antipsikotik pada satu waktu
adalah jarang diindikasikan.

28

e) Pasien harus dipertahankan pada dosis yang efektif yang serendah


mungkin yang diperlukan untuk mencapai pengendalian gejala selama
periode psikotik.
f) Obat antipsikotik cukup aman jika diberikan selama periode waktu yang
cukup singkat. Dalam situasi gawat, obat ini dapat diberikan kecuali
clozapine , tanpa melakukan pemeriksaan fisik atau laboratorium pada diri
pasien. Pada pemeriksaan biasa harus didapatkan hitung darah lengkap
dengan indeks sel darah putih, sel fungsi hati, dan ECG khususnya pada
wanita yang berusia lebih dari 40 tahun dan laki laki yang berusia lebih
dari 30 tahun.

Kontraindikasi antipsikotik :
a) Riwayat respon alergi yang serius
b) Kemungkinan bahwa pasien telah mengingesti zat yang telah berinteaksi
dengan antipsikotik sehingga menyebabkan depresi system saraf pusat.
c) Resiko tinggi untuk kejang dari penyebab organic atau ideopatik
d) Adanya glukoma sudut sempit jika digunakan suatu antipsikotik dengan
aktifitas antikolinergik yang bermakna
Kegagalan pengobatan :
a) Ketidakpatuhan dengan antipsikotik merupakan alasan utama untuk
terjadinya relaps dan kegagalan percobaan obat
b) Waktu percobaan tidak mencukupi.

29

Terapi somatik lainnya :


a) ECT Terapi
Elektro Convulsyf Terapi atau ECT dapat diindikasikan pada pasien
katatonik dan pasien yang karena suatu alasan tidak dapat menggunakan
antipsikotik (kurang aktif). Pasien yang telah sakit selama kurang dari 1
tahun adalah yang paling mungkin berespon.
b) Terapi perilaku kognitif
Terapi prilaku kognitif telah digunakan pada pasien skizofrenik untuk
memperbaiki distorsi kognitif, mengurangi distrakbilitas, serta mengoreksi
kesalahan daya nilai.
c) Terapi berorientasi keluarga
Pusat dari terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk
mengindentifikasi

dan

menghindari

situasi

yang

kemungkinan

menimbukkan kesulitan. Jika masalah memang timbul pada pasien


.didalam keluarga, pusat terapi harus pada pemecahan masalah secara
cepat. Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas
dalam terapi keluarga adalah proses pemulihan khususnya lama dan
kecepatannya.

2.1.8 Prognosis

30

Dahulu bila diagnosis Skizofrenia ditegakkan, maka ini berarti bahwa sudah
tidak ada lagi harapan bagi orang yang bersangkutan, bahwa kepribadiannya selalu
akan menuju kemunduran mental (deteorisasi mental) dan bila seseorang dengan
Skizofrenia kemudian menjadi sembuh maka diagnosanya harus diragukan. Sekarang
dengan pengobatan modern ternyata, bahwa bila penderita datang berobat dengan
tahun pertama setelah serangan pertama maka kira kira sepertiga dari mereka akan
sembuh sama sekali (full remission atau recovery). Sepertiga yang lain dapat
dikembalikan kepada masyarakat walaupun masih didapati cacat sedikit dan mereka
harus sering diperiksa atau diobati selanjutnya (social recovery). Yang sisanya
biasanya mempunyai prognosa yang jelek, mereka tidak dapat berfungsi didalam
masyarakat dan menuju kemunduran mental, sehingga mungkin menjadi penghuni
tetap di Rumah Sakit Jiwa (Sadock, 2010).

2.2 Skizofrenia Paraniod

2.2.1 Definisi
Skizofrenia Paranoid adalah bentuk yang makin sering ditemukan, didominasi
oleh gejala positif yang jelas, yaitu waham dan halusinasi. Penderita sering merasa iri
hati, cemburu, curiga, dan sangat apatis (Teifion, 2009). Gangguan afek, minat,
pembicaraan, dan gejala katatonik tidak ada atau relative tidak jelas (Bastaman,2004).

31

Menurut PPDGJ III ( Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di


Indonesia III) menempatkan skizofrenia paranoid pada kode F20.0 (Maslim, 2011).

Skizofrenia paranoid merupakan tipe yang paling stabil dan paling sering terjadi,
onsetnya terjadi belakangan bila dibandingkan dengan bentuk-bentuk skizofrenia
lainnya. Gejala yang ditunjukkan penderita harus terlihat sangat konsisten, sering
paranoid, dan penderita dapat atau tidak bertindak sesuai dengan wahamnya.
Penderita sering tak kooperatif, sulit untuk mengadakan kerjasama, suka
berargumentasi, mudah tersinggung, suka menyendiri, agresif, marah, menjaga jarak
dan kurang percaya pada orang lain, tetapi penderita jarang sekali memperlihatkan
perilaku inkoheren atau disorganisasi. Waham dan halusinasi menonjol sedangkan
afek dan pembicaraan hamper tidak terganggu (Elvira, 2010; Maramis, 2009; Tomb,
2003).
Pada penderita skizofrenia paranoid secara mencolok tampal berbeda karena
waham (delusi) dan halusinasinya. Waham biasanya adalah waham kejar atau waham
kebesaran, atau keduanya, tetapi waham dengan tema lain (misalnya waham
kecemburuan, keagamaan, atau somatisasi) bisa juga muncul. Tema waham kejar bisa
menjadi predisposisi bagi individu untuk bunuh diri, dan kombinasi antara waham
kejar dengan waham kebesaran dengan disertai kemaraham bisa menjadi predisposisi
bagi tindak kekerasan. Halusinasi juga biasanya berkaitan dengan tema pembicaraan,
keterampilan kognitif dan afek mereka juga masih relative utuh. Mereka biasanya
memiliki prognosis yang lebih baik (Arif, 2006; Durand, 2007)

32

2.2.2 Pedoman Diagnostik


Pedoman diagnostik menurut PPDGJ III :
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Sebagai tambahan :
a.

Halusinasi dan/ waham harus menonjol :


a1. Suara-suara halusinasi yang mengancam penderita atau member perintah,
atau halusinasi pendengaran tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit
(whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing);
a2. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau
lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang
menonjol;
a3. Waham dapat berupa hamper setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), dipengaruhi (delusion og influence), atau passivity
(delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam,
adalah yang paling khas;

b. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik


secara relative tidak nyata/tidak menonjol.

2.3 Waham

2.3.1 Definisi

33

Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan
kenyataan atau tidak cocok dengan intelegansi dan latar belakang kebudayaannya,
meskipun dibuktikan kemustahilan itu (Maramis, 2005).
Menurut (David A. Tomb, MD, 2008) dikutip dari

Gangguan waham

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV), pasien ini tidak
memperlihatkan gangguan pikiran dan mood yang pervasive seperti yang ditemukan
pada kondisi psikotik lain. Tidak ada afek datar atau afek tidak serasi, halusinasi yang
menonjil atau waham aneh yang nyata. Pasien memiliki satu atau beberapa waham,
sering berupa waham kejar, dan ketidaksetiaan dan dapat juga berbentuk waham
kebesaran, somatik, atau erotomania yang :
1. Biasanya spesifik (contoh, melibatkan orang, kelompok, tempat atau waktu
tertentu, atau aktivitas tertentu).
2. Biasanya terorganisasi dengan baik (contoh, orang jahat ini mengumpulkan
alasan-alasan tentang sesuatu yang sedang dikerjakannya, yang dapat
dijlaskan secara rinci).
3. Biasanya waham kebesaran (contoh, sekelompok yang berkuasa tertarik hanya
kepadanya)
4. Wahamnya tidak cukup aneh untuk mengesankan Skizofrenia.

2.3.2

Tipe Waham
Menurut (Sadock, 2010), waham terbagi menjadi 7 yaitu :

1.

Waham Kejar

34

Waham kejar adalah gejala klasik gangguan waham; waham kejar dan
waham cemburu mungkin adalah dua bentuk yang paling sering dijumpai ahli
psikiatri. Kebalikan dengan waham kejar pada Skizofrenia, kejernihan, logika,
dan elaborasi sistematik terhadap masalah penganiayaan pada gangguan
waham meninggalkan cap yang nyata pada keadaan ini. Tidak adanya
psikopatologi lain, seperti gangguan kepribadian, atau gangguan pada
sebagian besar kemampuan berfungsi.

2.

Waham Cemburu
Gangguan waham dengan tipe ketidaksetiaan disebut juga paranoia
conjugal (contoh: waham bahwa pasangan tidak setia). Eponym sindrom
Othello telah digunakan untuk menjelaskan kecemburuan abnormal yang
dapat timbul dari banyak pertimbangan. Waham biasanya mengenai laki-laki,
seringnya mereka yang tidak memiliki penyakit psikiatri lain. Keadaan
tersebut dapat tampak mendadak dan dapat menjelaskan kejadian saat ini dan
masa lalu yang dialami pasien yang melibatkan perilaku pasangan. Keadaan
tersebut sulit ditangani dan hanya dikurangi dengan berpisah, bercerai, atau
kematian pasangan.
Kecemburuan yang nyata (biasa disebut kecemburuan patologis atau
sakit) merupakan suatu gejala pada banyak gangguan yang termasuk Skizofrenia
(pasien perempuan lebih sering memperlihatkan gejala tersebut), epilepsy,
gangguan mood, penyalahgunaan obat, dan alkoholisme (pengobatan ditujukan

35

pada gangguan primer. Cemburu adalah emosi yang kuat; bila terjadi pada
gangguan waham atau sebagai bagian keadaan lain, secara potensial sangat
berbahaya dan menyebabkan kekerasan, baik membunuh maupun bunuh diri.
Aspek forensik gejala telah dicatat secara berulang, terutama peran sebagai suatu
motif pembunuhan. Namun, penyiksaan secara verbal dan fisik diantara orangorang dengan gejala ini terjadi lebih sering daripada tindakan yang ekstrim.
Perawatan dan kehati-hatian dalam penanganan gejala ini penting bukan hanya
untuk diagnosis, tetapi juga dari sudut pandang keamanan.

3.

Waham Erotomania
Pasien erotomania mengalami waham kekasih rahasia. Paling sering
dialami perempuan, tetapi laki-laki juga rentan terhadap waham tersebut.
Pasien percaya bahwa pelamar (yang biasanya secara social lebih menonjol
dari pada dirinya) jatuh cinta padanya. Waham menjadi focus sentral
eksistensi pasien, dan awitan dapat mendadak.
Erotomania, psychose passionelle, juga disebut sindrom declerambault
untuk menekan kejadiannya pada gangguan yang berbeda, selain menjadi
gejala kunci pada beberapa kasus gangguan waham, keadaan tersebut juga
diketahui terjadi pada Skizofrenia, gangguan mood, dan gangguan organic
lain.
Pasien erotomania sering memperlihatkan cirri khas tertentu, mereka
biasanya tetapi tidak selalu perempuan, penampilan tidak menarik, bekerja
ditingkat rendah, menarik diri, kesepian hidup sendiri, dan mempunyai sedikit

36

kontak seksual. Mereka memilih kekasih rahasia yang sangat berbeda dengan
dirinya. Mereka memperlihatkan konduksi paradoksal, fenomena waham yang
menginterpretasikan semua penyangkalan cinta, tidak perduli bagaimana
jelasnya, sebagai penegasan cinta rahasia. Perjalanan gangguan dapat kronik,
rekuren atau singkat. Dipisahkan dari objek cinta dapat menjadi satu-satunya
tindakan intervensi yang memuaskan. Meskipun kurang sering mengalami
keadaan ini daripada perempuan, laki-laki lebih agresif dan mungkin
bertindak kasar dalam mengejar cinta. Oleh karena itu, pada populasi forensic,
laki-laki dengan keadaan gtersebut lebih dominan. Objek agresi mungkin
bukan orang yang dicintai tetapi teman atau pelindung objek yang dianggap
menjadi penghalang mereka. Kecenderungan melakukan kekerasan pada lakilaki dengan erotomania dapat membuat pasien yang awalnya berurusan
dengan polisi bukan dengan ahli psikiatri. Pada kasus tertentu, kemarahan
sebagai respons terhadap tidak adanya reaksi dari semua bentuk komunikasi
cinta dapat meningkat ketitik yang objeknya berada dalam bahaya. Orangorang yang disebut pengejar, yang secara kontinu mengikuti (yang dianggap)
kekasihnya, sering mempunyai waham. Meskipun kebanyakan pengejar
adalah laki-laki tetapi dapat juga perempuan, dan kedua kelompok jenis
kelamin tersebut berpotensi tinggi melakukan kekerasan.
4.

Waham Somatik

37

Gangguan

waham

somatik

disebut

psikosis

hipokondriasis

monosimtomatik. Tingkat gangguan realita pada keadaan tersebut berbeda


dari keadaan gejala hipokondriasis. Pada gangguan waham, waham menetap,
tetapi dapat dibantah, dan sangat kuat, karena pasien secara total diyakinkan
oleh sifat fisik gangguan. Sebaliknya, pasien hipokondriasis sering mengakui
bahwa ketakutan mereka terhadap penyakitnya tidak berdasar. Isi waham
somatic sangat bervariasi untuk setiap kasus. Terdapat tiga tipe utama : (1)
waham infestasi (termasuk parasitosis); (2) waham dismorfofobia, seperti
bentuk tidak indah, merasa diri jelek, atau ukuran tubuh bertambah besar
(kategori tersebut tampaknya menyerupai gangguan dismorfik tubuh); dan (3)
waham bau tubuh yang tidak sedap atau halitosis. Kategori terakhir, kadangkadanf disebut sindrom refrensi olfaktorius, tampaknya berbeda dengan
kategori waham infestasi pada pasien yaitu pasien dengan waham infestasi
memiliki usia awitan yang lebih dini (rata-rata 25 tahun), sebagian besar lakilaki, status bujangan dan tidak ada riwayat pengobatan psikiatri. Sebaliknya
meskipun secara individual prevalensi rendah, ketiga keadaan tersebut
tampaknya tumpang tindih.
Frekuensi keadaan ini rendah, tetapi dapat tidak terdiagnosis karena
pasien lebih sering dating ke ahli dermatologi, bedah plastic, dan spesialis
penyakit infeksi daripada ke ahli psikiatri ketika mencari pengobatan kuratif
utnuk kasus yang tidak mengalami remisi.
Pasien dengan keadaan tersebut mempunyai prognosis buruk tanpa
pengobatan. Perhitungan kasar keadaan tersebut menyerang kedua jenis

38

kelamin sama banyaknya. Jarang ditemukan riwayat penyakit terdahulu atau


riwayat keluarga yang menderita gangguan psikotik. Pada pasien yang lebih
muda, sering terjadi riwayat kecanduan zat atau cedera kepala. Meskipun
kemarahan dan kekerasan biasa terjadi, rasa malu, depresi, dan perilaku
menghindar lebih khas. Bunuh diri, yang dimotivasi oleh penderitaan berat
tidak jarang terjadi.
5.

Waham Kebesaran
Waham kebesaran (megalomania) telah menarik perhatian selama
bertahun-tahun. Waham tersebut dijelaskan pada paranoia kraepelin dan
merupakan keadaan yang cocok dengan deskripsi gangguan waham.

6.

Waham Campuran
Kategori waham campuran diterapkan pada pasien dengan dua atau
lebih tema waham. Namun, diagnosis tersebut harus dipersiapkan untuk
kasus-kasus tanpa satu tipe waham apapun yang menonjol.

7.

Waham yang Tak Terinci


Kategori tipe ini digunakan untuk kasus dengan waham yang
menonjol tidak dapat disubgolongkan dalam kategori sebelumnya. Contoh
yang mungkin adalah suatu waham yang salah mengindentifikasi, misalnya,
sindrom capgras, diberi nama sesuai ahli psikiatri prancis yang menjelaskan
illusion des sosies atau ilusi ganda. Waham pada sindrom capgras adalah

39

keyakinan bahwa orang yang dikenal telah digantikan oleh penipu yang lihai.
Pendapat lain menerangkan varian sindrom capgras, yaitu waham bahwa
penyiksa

atau orang yang dikenal dapat berkedok sebagai orang asing

(fenomena fregoli) dan waham yang sangat langka bahwa orang-orang yang
dikenal dapat merubah diri mereka menjadi orang lain sewaktu-waktu
(intermetamorfosis). Setiap gangguan tidak hanya jarang terjadi tetapi dapat
disebabkan oleh Skizofrenia, demensia, epilepsy, dan gangguan organic lain.
Kasus yang dilaporkan lebih menonjol pada perempuan, mempunyai
gambaran paranoid, dan termasuk rasa depersonalisasi atau derealisasi.
Waham dapat berlangsung singkat, rekuren, atau persisten. Tidak jelas apakah
gangguan waham dapat tampak dengan waham seperti ini. Yang pasti, waham
fregoli dan intermetamorfosis mempunyai isi yang aneh dan tidak sama, tetapi
waham pada sindrom capgras sangat mungkin merupakan gangguan waham.
Peran halusinasi atau gangguan persepsi pada keadaan tersebut perlu
ditegaskan. Kasus muncul setelah kerusakan otak mendadak.
Pada skizofrenia paranoid, waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi
waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau
passivity (delusion og passivity), dan keyakinan yang dikejar-kejar yang beraneka
ragam, adalah yang paling khas. Dan ternyata pada skizofrenia paranoid, waham itu
gejala yang dominan dan khas.
Menurut Sadock 1998 waham yang sering menonjol pada Skizofrenia
paranoid adalah waham kebesaran, dan waham kejar.

40

1. Waham kebesaran
Waham

kebesaran

(delusion

of

grandiosty).

Penderita

mempunyai

kepercayaan bahwa dirinya merupakan orang penting dan berpengaruh,


mungkin mempunyai kelebihan kekuatan yang terpendam, atau benar-benar
merupakan figur orang kuat sepanjang sejarah (misal : Jendral Sudirman,
Napoleon, Hitler).
2. Wahan kejar
Seorang penderita gangguan ini merupakan penderita yang yakin dirinya
dikejar-kejar

orang,

sehingga

memunculkan

perilaku

yang

sering

bersembunyi, ketakutan.

2.4

Kerangka Konsep

Waham

SKIZOFRENIA
PARANOID

Kebesaran

Kejar

1. Usia
2. jenis kelamin
3. suku
4. status perkawinanan

41

42

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dan pendekatan
digunakan dengan Desain Cross Sectional Study. Penelitian untuk Penderita
Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala Waham Kebesaran Dan Waham Kejar Yang
Dirawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Pada Periode
Januari - Maret Tahun 2014. Cross Sectional adalah suatu penelitian untuk
mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara
pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time
approach) (Notoatmodjo, 2010).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.2.1.

Lokasi
Lokasi penelitian akan dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi
Sumatera Utara Medan.

3.2.2.

Waktu
Waktu penelitian akan dilakukan pada bulan Juni 2014 dan dilanjutkan
dengan pengolahan data serta penyusunan hasil laporan penelitian.

3.3 Sumber Data

43

Data yang dipakai adalah data sekunder yang didapat dari rekam medik
Penderita Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala Waham Kebesaran Dan Waham Kejar
Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Pada
Periode Januari - Maret Tahun 2014.
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita Skizofrenia yang
dirawat inap di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan
pada Periode Januari - Maret Tahun 2014.
3.4.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah penderita yang didiagnosa menderita
Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala Waham Kebesaran Dan Waham Kejar
Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara
Pada Periode Januari - Maret Tahun 2014 yang memenuhi kriteria sebagai
berikut :
1)

Kriteria Inklusi
a. Data rekam medik Penderita Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala
Waham Kebesaran Dan Waham Kejar Yang Dirawat Inap Di Rumah
Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Pada Periode Januari Maret Tahun 2014.
b. Mempunyai data rawat inap yang lengkap.

2)

Kriteria Eksklusi

44

a. Tidak mempunyai data rawat inap yang lengkap


b. Penderita yang rawat jalan
c. Penderita yang bukan jenis Skizofrenia paranoid

3.5 Teknik Sampling


Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling,
yaitu pengambilan semua data rekam medik Penderita Skizofrenia Paranoid Dengan
Gejala Waham Kebesaran Dan Waham Kejar Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit
Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Pada Periode Januari - Maret Tahun 2014.

3.6 Teknik Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu dengan
mengumpulkan data rekam medik Penderita Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala
Waham Kebesaran Dan Waham Kejar Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa
Daerah Provinsi Sumatera Utara Pada Periode Januari - Maret Tahun 2014.

3.7 Definisi Operasional Penelitian


3.7.1.

Rekam Medik
Berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain identitas penderita, hasil
pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan
lain yang telah diberikan kepada Penderita Skizofrenia Paranoid Dengan

45

Gejala Waham Kebesaran Dan Waham Kejar Yang Dirawat Inap Di Rumah
Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Pada Periode Januari - Maret
Tahun 2014.
3.7.2.

Waham
Waham yang sering menonjol pada skizofrenia paranoid adalah waham
kebesaran dan waham kejar.

3.7.3.

Skizofrenia Paranoid
Seseorang yang memenuhi kriteria diagnosis Skizofrenia dengan waham
dan halusinasi menonjol menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa (PPDGJ III).

3.7.4.

Usia
Usia yang tertera dalam rekam medik penderita berdasarkan tanggal
kelahiran atau momen penting yang diingatnya berdasarkan informasi
keluarga. Dikategorikan menjadi jarak usia antara 15-24 tahun, 25-44
tahun, 45-64 tahun, dan usia >65 tahun.

3.7.5.

Jenis Kelamin
Jenis kelamin dibuat kategori laki laki dan perempuan

3.7.6.

Suku
Suku dibuat kategori Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Nias,
Cina, Jawa, Aceh.

3.7.7.

Status Perkawinan

46

Status perkawinan dibuat kategori kawin, tidak kawin, dan tidak ada
keterangan. Kriteria tidak kawin meliputi penderita belum kawin dan telah
cerai.

3.8 Alat dan Bahan Penelitian


Alat dan bahan dalam penelitian ini adalah data rekam medik Penderita
Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala Waham Kebesaran Dan Waham Kejar Yang
Dirawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Pada Periode
Januari - Maret Tahun 2014.

3.9 Cara Kerja


1. Mengambil sampel semua penderita Skizofrenia paranoid dari bagian rekam
medik.
2. Kemudian diambil data penderita Skizofrenia paranoid dengan gejala waham
kebesaran dan waham kejar.

3.10

Pengolahan dan Analisis Data


Teknik pengolahan data statistik dilakukan secara manual yang kemudian

diinterpretasikan dalam bentuk table dengan analisi data univariate (analisis


deskriptif).