Anda di halaman 1dari 8

Di Balik Buku

Jarum jam masih terus bergerak, menghitung setiap detik dan menit yang ada.
Dan jarum pendek jam itu akhirnya berhenti di angka tiga.
Jam tiga siang.
Apa yang spesial dari jam tiga siang? Bukan hanya sekedar jam yang pas untuk
tidur. Jam tiga siang adalah jam yang cocok untuk dipakai membaca buku. Itu dalam
opini Odi. Tapi ternyata bukan hanya Odi yang berpikir seperti itu.
Dan jam tiga siang adalah jam dimana Odi harus menahan nafas. Ketika melihat
sosok sederhana itu datang. Sel-sel otaknya seakan menyuruhnya untuk terus
memandang gadis yang memiliki biusan pesona tidak kasat mata.
Sosok itu selalu datang setiap hari, pada pukul tiga siang. Tetap dengan seulas
senyum kecil di bibir, rambut bergelombang yang diikat, pakaian rapi serta sederhana,
dan…
Mata yang menatap dunia dengan penuh keinginan untuk mengeksplor lebih,
lebih, dan lebih lagi.
Mata yang membuat Odi belajar bahwa dunia penuh dengan berbagai macam
matahari.
Gadis itu salah satu dari matahari itu.
***

April berjalan menelusuri lorong rak buku perpustakaan bagian filsafat dan
analogi. Jari-jarinya bergerak menyentuh judul-judul buku. Matanya menatap tajam
segala jenis susunan buku tersebut. Dan tangannya berhenti pada sebuah buku
bersampul merah.
Analogi Cinta.
Ia mendesah kecil, lalu membetulkan letak kacamata yang melorot dari pangkal
hidungnya. Perlahan ia keluarkan buku tersebut dari rak dan membuka sampulnya.
Dahinya mengernyit saat ia menemukan sesuatu di dalamnya.
Ada secarik kertas di bagian depan sampul tersebut.
Penasaran, ia membaca pesan tersebut dan menutup mulutnya dengan tangan.
Gosh. Ia melirik ke arah kursi duduk untuk para pengunjung perpustakaan.
Pesan singkat itu tidak mungkin salah kirim, karena namanya tercantum dalam pesan
tersebut. Tetapi pengirimnya… Anonim.
Dear April,
Turn the paper, don’t close the book. Never know what’s next if you don’t try it,
right?
“April? Kamu nggak apa-apa?”
April tersedak. Ia buru-buru membalik badan sambil terbatuk-batuk, sementara
Bapak Fendi, penjaga perpustakaan sekolahnya, menatapnya bingung.
“Hei hei, kamu kenapa, Pril? Kok tiba-tiba kaget begitu?”
Tangan April terjulur, menandakan meminta Bapak Fendi menunggu sebentar
untuk jawabannya seraya menghirup nafas panjang untuk menghilangkan batuknya.
Lalu ia menghela nafas.
“Nggak, Pak. Nggak apa-apa.”
“Kamu mau pinjam buku itu?”
Mata April tertuju pada buku yang ia pegang. Perlahan-lahan semburat-
semburat merah muncul di wajahnya, membuahkan tawa geli dari Pak Fendi. April jadi
malu sendiri. Kesannya kok ia desperate banget atau lagi patah hati, sampai ambil buku
bacaan… eng… Analogi Cinta? Doh, dangdutnya.
“Nggak, nggak jadi, Pak!” April buru-buru mengembalikan buku itu ke rak seraya
mengambil sepucuk pesan itu dari bagian dalam sampul. Dengan tergesa, ia meraih
tasnya dan berlari keluar perpustakaan.
“Loh, April? April! Kamu nggak pinjem?” Pak Fendi menyapa April yang sedang
membuka pintu perpustakaan. April menggeleng cepat lalu berlari keluar.
Meninggalkan Pak Fendi yang bengong karena heran.
“Kenapa lagi itu si April?”
“Dia kan suka begitu, Pak.” Sahut Erin, salah satu anak OSIS. “Cewek aneh,
freak. Kutu buku pula.”
“April nggak aneh.” Odi menyela tiba-tiba. “Dia hanya labil.”
Lo kenapa lagi sih, Pril?

***
“Aprillia Widiani!!”
“EH IYA?!” April tersentak kaget mendengar nama lengkapnya dipanggil.
Otomatis ia mengacungkan tangan, membuahkan tawa geli dari Tri dan Siska.
“Lo ngapain sih, Pril? Otak lo lagi di alam mana coba?” Saskia cekikikan. Ia
menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir akan polah sahabatnya yang sudah
ia kenali selama 2 tahun terakhir. Tetapi 2 tahun itu tidak juga membuat Saskia bisa
mengerti akan tingkah April yang memang selalu aneh-aneh saja.
“Bengong, Pril?” Pertanyaan Tri jauh lebih aneh dari Saskia, menurut April.
“Enggak. Tidur!” cetus April jutek. “Ya emang lo kira gue ngapain?”
“Yee… Marah.” Cibir Tri. “Udah bagus ditanyain. Lagian gue heran, dari tadi lo
baca buku di situ-situ aja…” Ia melirik ke arah halaman buku yang dibaca April. “…
halaman 18 dalam 15 menit? Lo kemasukan setan apaan sih?”
“Setan bengong, mungkin.”
Tri melirik April kesal. “Gue serius, Pril.”
“Lo kira gue bercanda?” Dengusan keras April menandakan ia tidak ingin bicara
lagi. Kedua sahabatnya memutuskan untuk diam, walaupun di dalam hati mereka gatal
ingin menguak rahasia kecil, ataupun besar, yang disembunyikan April.
Secarik kertas kecil jatuh dari balik sampul buku yang sedang dibaca April.
Dear April,
Loser is the name of people who follow the trends.
But you just be one of the people who make the trends.
You are you.
“Hah?”
“Hah apaan, Pril?” Saskia mendongakan kepala. Matanya berpindah dari
halaman buku ke arah ekspresi April, yaitu secarik kertas kecil di atas meja.
Tri mengambil kertas itu cepat sehingga April tidak sempat menahannya. Setelah
beberapa detik ia menatap kertas itu, Tri mendesah. “So sweet.”
Dengan cepat Saskia balik merebut kertas kecil yang ada di tangan Tri. Saskia
ikut mendesah pelan. “Sounds so gentle.”
Tatapan April masih melambangkan rasa terpana yang amat sangat. Kemudian ia
menggeleng kecil. “Thought so cheesy.”
“HEY!” ujar Tri tidak setuju. “Untuk kasus ini jangan sok rasional begitu dong,
Pril. Ini sweet banget! Emang lo dapet pesen ini darimana, dari siapa, kapan?” Tri
melontarkan pertanyaan secara berentet, membuat Saskia ikut-ikutan penasaran dan
April gelagapan.
“Aduh, satu-satu kek!”
“Oke, dari mana lo dapet pesan itu?”
“Itu… dari balik sampul buku.”
“Hah?” kata Saskia bolot dan langsung dianugerahi tatapan keki dari Tri.
Walaupun Tri sejujurnya tidak begitu mengerti, tapi ia ingin mendengar kisah April
secara jelas terlebih dahulu. Tanpa diskon, tanpa korting.
“Terus? Siapa yang ngirim?”
“Ngirim?” April menggumam bingung. Ia memutar kedua bola matanya. “Entah.
Lebih tepatnya mungkin ‘siapa yang nyelipin’. Itu nggak dikirim ke gue kok!”
“Tapi ada nama lo!” Saskia berseru pelan. “Tanpa ada nama pengirim.”
“Solve it as… Anonim.” Kata April enteng. Ia melanjutkan kehanyutannya dalam
buku yang sedang ia baca.
“Nggak bisa, nggak bisa!” Tri ngomel sewot, membuat April melotot ke arahnya.
“Ini kasus besar! Ini pasti ditujukan buat lo. Orang ada nama lo-nya! Siapa lagi makhluk
di sekolah ini yang namanya April selain lo???”
“Salah kirim… mungkin.” April mengangkat bahu. “Buat apa dia ngirim ke gue
lagian?”
“Si pengirimnya itu pangeran dengan kuda putih!” Saskia menjerit senang.

Seluruh perpustakaan itu langsung hening. Bola mata April hampir keluar dari
kelopaknya saking lebarnya pelototannya pada Saskia.
“Ups.” Saskia menutup mulutnya dengan tangan. “I mean, such a gentle boy who
falling in love with you.”
“L-O-V-E?” April mengejanya sinis. “Oh-ho. I have learn it from books, not it
life. And I am such a person who use ratio for this kind of cheesy-thing. At least, I get a
life, not living in my dream.”
Tri menyenggol April dengan mimik lucu. “Admit it. Penasaran kan loooo?”
Mau tidak mau, karena wajah April sudah terlanjur berubah menjadi warna
kepiting rebus, ia mengangguk kecil. Tri cengengesan geli, ia menutup buku yang ia
baca dan mengembalikannya ke rak. Kemudian Tri berkacak pinggang, menatap April
yang mendadak jadi gugup diliatin begitu.
“I know who is the prince. He is crazy about you, Aprillia.”
***
Ini sudah ke-empat belas kali April mendapat pesan misterius tersebut. Pesan
ketiga ia dapat di dalam buku yang sudah ia incar selama seminggu terakhir: Totto-
Chan’s Children. Smile, the world isn’t as small as you seek from the window.
Pesan ke-empat dalam buku Leo Tolstoy – War and Peace. As the title, you give
the peace in the war of my life. Your eyes solve it all.
I don’t use ring to ask you for the commitment. If I ask you with my heart,
would you? Pesan di dalam buku Committed – Elizabeth Gilbert.
If I don’t want to use a sweet chocolate or flower, you have your own beauty
that different than the sweet things. Dare to be different! Ini adalah salah satu pesan
favorit April yang ia dapat dalam buku Persuasion – Jane Austen.
April tidak habis pikir.
Masih ada beberapa pesan berikutnya yang seakan dapat membaca hati April,
seakan mengerti apa yang April rasakan, seakan…
Menganggap April adalah segalanya.
Helaan nafas April semakin panjang. Perasaannya galau. Siapa orang anonim
ini? Kenapa dia terus ada setiap hari walaupun tidak ada sosoknya?
I Love You.
Telinga April seakan digelitik oleh 3 kata itu. Ia menggeleng kecil. Aku nggak
mau jatuh cinta.
Kamu sendirian.
Aku nggak sendirian kok.
Kamu jadiin buku sebagai pelarian.
Aku hanya cinta buku-buku ini, ini memang hobiku.
Kamu sebenarnya ingin lebih menatap dunia dari buku-buku itu bukan?
Kamu mau jendelamu berbeda bukan?
Kamu mau menapaki langkah berikutnya?
Spontan April menutup kedua telinganya dengan tangan agar suara-suara itu
berhenti menganggunya. Ia berlari kecil menuju rak ‘New Books’ dan mengambil
sebuah buku. Ia memejamkan matanya sesaat, mencoba merenungi apa yang
menimpanya akhir-akhir ini.
Pesan. Perhatian. Pengertian.
Cinta.
Jari-jari April membuka lembaran demi lembaran buku yang ia ambil. Tapi tidak
ada pesan seperti biasa di dalamnya. Nihil.
Apa dia tidak tau buku apa yang akan kuambil hari ini? Apa instingnya mulai
melemah? Apa…
Aku tau.
Suara berbalasan seakan menggaung di otak April. Ia menutup buku itu seraya
mencoba menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang hinggap di kepalanya. ‘Tolong
jangan ganggu aku.” Bisik April lemah. “Aku hanya ingin sendirian.”
“Tapi hatimu tidak, Aprillia.”
April mendongak, dan mendapati seorang pemuda berambut agak gondrong dan
berkacamata berdiri di hadapannya. Dengan senyum mengembang. Sebuah ekspresi
yang jarang dilontarkan oleh seseorang terhadap April. Alis April naik beberapa senti.
“Odi?”
“Oh, so you’ve already know my name?” Odi tersenyum lembut sambil
mengambil tempat duduk di samping April. April bergeser pelan, menatap Odi dengan
penuh tanda tanya di kepalanya.
“Apa mau kamu?”
“Apa kamu selalu sarkatis terhadap semua orang, Pril?” Odi terkekeh geli. “Aku
hanya mau kamu.”
DEG.
Jantung April seakan berhenti berdetak mendengar ucapan Odi yang singkat itu.
“Maksud kamu apa?”
Senyum simpul muncul di bibir Odi. Ia meraih buku yang dipegang April, lalu
menunjuk judulnya. “Baca saja ini.”
Mata April berpindah ke sampul buku.
APRIL
Sebuah novel karya: Riodi Sarman
Hanya untuk kamu, dan berharap buku ini bukan sebatas jendela ilmu.
Berharap buku ini jendela menuju hati kamu.

Mata April mengerjap beberapa kali, lalu ia menoleh ke arah Odi. “Kamu…?”
“Yes April. This book is made just for you.” Suara Odi menjadi bernada lebih
rendah dan pelan. “And you’re the inspiration.”
April menelan ludahnya. “Di, kamu serius?”
“Kenapa kamu nanya begitu?”
“Kamu…” April melirik buku itu. “Membuat itu untuk seorang kutu buku?”
Wajah Odi mendekat ke telinga April, membuat nafas gadis itu menjadi tidak
teratur. “Karena kutu buku itu kamu, makanya aku membuat itu.”
“Apa yang spesial dari aku?”
“Pertanyaan itu selalu aja terlontar dari kamu.” Odi menepuk kepala April
perlahan. “Karena kesederhanaan kamu, ketulusan kamu, dan tidak ada spesialisasinya
kamu…” Odi menghela nafas pendek. “… Membuat kamu spesial.”
April menahan nafas.
“So, would you be my girlfriend, Aprillia?”
Jari-jari April menelusuri lembaran novel buatan Odi tersebut.
“How if I read this novel first to know what do you want to said?”
“I dare to tell you now.”
Dan April merasakan ada getaran yang merasuki tubuhnya. Sebuah kecupan
lembut di bibirnya. Dari Odi.
I learn that don’t judge a book by it’s cover.
But feel to choose it with your heart.
And maybe you will given a heart to fitted in.

“You are not alone. I think that’s the 15th notes, April.”
April mendongak, menatap Odi yang memberikan secarik kertas kecil di
tangannya.
Happy 15th Birthday, my April.
4 April 2009.
Semburat rona merah muncul di kedua pipi April.
A birthday behind a book.